alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
This is Why I Need You (mbak Adele)
4.85 stars - based on 75 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b434705de2cf286128b456a/this-is-why-i-need-you-mbak-adele

THIS IS WHY I NEED YOU

This is Why I Need You (mbak Adele)

.

.

.


Spoiler for Baru 2 post, udah Top Threads lagi.:

Spoiler for Baru 10 post, belum 2 bulan, udah masuk Hot Threads lagi.:

Permisi bapak ibu sekalian. Udah lama juga baca-baca di thread ini dari semenjak SK2H, akhirnya baru sekarang nyoba bikin cerita. Monggo silakan duduk, silakan mendirikan tenda.

Cerita yang akan saya share kali ini menceritakan tentang cowok yang tinggal di kostan cewek.
Dibaca kalau kalian lagi nggak ada kerjaan aja.

Cerita ini cocok untuk semua umur.
Remaja, Dewasa, Anak SMA, bahkan baik juga untuk pertumbuhan janin.

Dari sini, kalian akan belajar beberapa hal penting mengenai sisi lain dunia perkuliahan dan anak-anak kost yang mungkin tidak pernah kalian tau sebelumnya. Hanya karena kalian tidak pernah lihat, bukan berarti hal itu tidak ada.

Monggo~
Selamat mendirikan tenda di sini.
Rulesnya ya ngikutin yang sudah ada saja. Diupdate tiap hari Jumat malem ya selepas akika beres kerja.

Akhir kata,
Wabillahi Taufiq Wal Hidayah,
Wassalamualaikum

*qomat*



Index Cerita

.











Diubah oleh: Shootgun
Halaman 1 dari 40
This is Why I Need You (mbak Adele)



Seperti biasa, kalau sudah hampir memasuki jam delapan malam kaya gini, tempat ini perlahan menjadi semakin penuh. Dua tahun gue kerja di sini, gue sudah cukup hapal sama beberapa pelanggan yang biasanya menclok di jam-jam segini. Kebanyakan sih cowok paruh baya atau kisaran di atas umur 25, dandanan agak necis, rambutnya diolesin pomade banyak banget sampe nginclong kaya ubin mushola, terus datang ke sini ya buat cari cewek-cewek buat diajak hangout dan nggak jauh akan berakhir di kamarnya masing-masing.

Gak jarang juga ada tante-tante menor yang kalau duduk selalu ngambil meja paling pojok sambil nyender di tembok. Senengnya di pojokan, mirip kaya botol dukun.

"Mas Ian, pesenan meja 5 udah?" Tiba-tiba seorang gadis mungil mengagetkan gue yang dari tadi lagi ngelamun sambil terus ngelapin gelas yang sebenernya sudah kinclong ini.

"Oh, udah kok udah." Gue langsung mengambil tatakan gelas warna hijau di bawah rak kayu lalu sekalian menaruh gelas di atasnya. "Nih bawa gih." Lanjut gue.

"Oke oce, mas Ian.." Tukasnya seraya menyambar gelas yang gue suguhi tadi.

"Eh, Jes!" Belum jauh dia pergi, gue langsung memanggilnya lagi.

Dia nengok, menaikan dagu seperti sedang bertanya ada apa.

"Kalau dah nganterin yang itu, tolong botol di kulkas refill sekalian ya. Udah mau abis." Teriak gue.

Dia tidak menjawab dan hanya mengangguk saja sebelum kemudian berbalik dan pergi ke meja nomer lima.

Nama dia Jessica, umurnya lebih muda empat tahun dari gue, oleh sebab itu dia memanggil gue dengan panggilan 'mas'. Dia sebenernya masih SMA, tapi mau dikata apa, awalnya sih sudah gue tolak waktu mau ngelamar kerjaan di sini. Ya karena area ini juga bukan area buat bocah-bocah sejenis dia itu. Tapi waktu gue denger alasan dia kenapa mau cari kerja sambil pake drama nangis-nangisan kaya kang ojek kecolok krikil waktu naik motor, akhirnya gue luluh juga.

Syarat gue sama dia dulu cuma satu, kalau ada PR ya harus dikerjain meski lagi kerja juga. Dan dia setuju waktu gue kasih syarat begono. Alhasil nggak jarang tuh anak menclok di meja kayu depan gue sambil ngerjain PR matematika. Sesekali sering digodain sama pelanggan gara-gara ngerjain PR di tempat kaya begini, atau kalau lagi beruntung, suka ada pelanggan orang kantoran yang dateng buat bantuin dia ngerjain PR matematika.

Yah, meski awalnya ragu, tapi kayaknya keputusan gue buat nerima dia kerja di sini ternyata nggak sepenuhnya salah. Dia sekarang jadi anak bawang di tempat ini, dan pelanggan gue juga banyak yang seneng sama tuh bocah lantaran selain orangnya supel, ya karena dia bocah. Gampang digodain.

"Mas Ian, botol-botol udah beres yak." Kata Jessica sambil ngelap-ngelapin tangannya ke apron yang dia pake.

"Ada PR nggak lu hari ini?"

Dia geleng-geleng.

"Ulangan kemarin gimana?" Tanya gue lagi

"Bisa dong!"

"Remed nggak tapinya?"

"Iya."

"..."

Dia cuma cengengesan aja.

"Oh iya mas Ian," Jessica menarik kursi dan duduk di hadapan gue yang daritadi masih aja ngelap-ngelapin gelas.

"Paan?"

"Itu gelas mau sampai kapan dielap begitu? Makin tipis entar." Tukasnya iseng.

"Bawel lu kaya ibu kos."

"Hehehehe.."

"Napa lu cengar-cengir? Jangan gitu ah, takut gue."

"Idih! Apaan sih! Btw mas Ian, nanti kalau ada panggilan orang tua kaya kemarin, Mas Ian yang dateng lagi ya.."

"Nah kan ada maunya kan. Kagak ah. Kapok gue pura-pura jadi orang tua lo."

"Lah kenapa?!"

"Digodain guru BK."

"HAHAHAHAHAHA EMANG GURU ITU TERKENAL GANJEN SIH MAS IAN" Dia ketawa ngakak. Kayaknya puas banget.

"Mas Ian, sini aku aja deh yang ngelap gelasnya. Gemes liatnya." Tiba-tiba Jessica nyamber gelas yang lagi gue elap sekaligus dengan elapnya juga.

"Jangan kenceng-kenceng ngelapnya, entar keluar komedo." Balas gue.

"Hahahahah dikira lagi mencetin muka apa!"

Beginilah gue dan Jessica, kami berdua udah kaya adik kakak. Tapi meski begitu, Jessica selalu nurut sama apa aja yang gue bilang. Kalau gue nyuruh dia ngerjain PR, dia pasti langsung mengerjakan. Beberapa kali Jessica dideketin cowok di sekolahnya pun dia pasti curhat ke gue dulu. Secara tidak langsung, Jessica lebih menganggap gue sebagai bapaknya ketimbang bapaknya sendiri.

Gue ambil satu buah gelas yang baru gue cuci lalu memutar keran air putih di depan dan mengambil sedikit es batu dari laci pendingin.

"Eh mas Ian."

"Hmm?" Gue hanya men-dehem sambil minum.

"Mas Ian kenal sama cewek yang di pojok nggak?" Tanyanya sambil masih fokus ngelap gelas yang makin tipis itu.

Gue melirik sedikit. "Kagak. Kenapa? Lo mau kenalan?"

"Yeee!! Gue masih normal keles! Dengerin dulu ih, masa mas Ian nggak merhatiin sih?"

"Kagak. Ngapain juga gue merhatiin."

"Udah seminggu loh dia di sini."

"Lah terus?"

"IH GIMANA SIH!!"

"Eh bocah, orang ke sini lebih dari setahun juga gue mah kagak peduli. Orang mah bebas datang ke sini kapan aja, lu kira tonggeret apa ada musim-musiman segala?"

"Gini nih kalau dulu lahir dari lobang idung, pemikirannya pendek. Dengerin aku dulu ih!" Jessica ngelempar elapnya ke muka gue.

Ini anak dulu padahal nggak gini loh. Dia dulu pendiam. Sekarang malah jadi petakilan kaya begini. Nurutin siapa dah.

"Ada yang aneh deh sama dia."

"Maksudnya?"

Tapi bukannya menjawab pertanyaan gue, Jessica langsung menaruh gelas tadi di hadapan gue dan kemudian bergegas menghapiri cewek tersebut. Gue yang emang pada dasarnya males ikut campur urusan orang lain ini nggak peduli sekarang mereka lagi ngomong apaan, gue hanya kembali melanjutkan tugas gue yang sempat tertunda tadi. Ngelap gelas.

Lagi asik ngesot-ngesotin ini elap, tiba-tiba Jessica memanggil gue dari jauh.

"Mas Ian!! Ini mau pesen!!" Teriak dia sambil nunjuk-nunjuk ke arah cewek tadi.

Karena sudah tugas gue untuk melayani pembeli, gue langsung berjalan menghampirinya. Kini dia ada di hadapan gue sedang tertunduk dengan tangan menopang dagu. Dan Jessica yang ada di sebelahnya cuma nyengir-nyengir ke arah gue.

"Mau pesen apa mbak?" Tanya gue mencoba ramah.

Cewek itu nggak menjawab. Dia masih saja menunduk menatap hp di hadapannya. Gue melirik ke arah Jessica, dan Jessica cuma menaikan pundak sebelum kemudian dia pergi meninggalkan gue berdua doang sama cewek ini.

Gue melihat ke arah gelas kosong di sebelahnya.

"Hmm.. Americano." Gumam gue dalam hati.

"Mau nambah Americano-nya?" Gue kembali membuka topik, namun cewek itu tetap tidak menjawab.

Ah asem, baru kali ini gue dicuekin begini. Woi bales kek omongan gue, udah main cuekin aja kaya tukang duku lagi ditawar. Tukang duku sih mending masih ngejawab, lah ini diem aja kaya capung. Gue ngedumel sendiri dalam hati.

Gue perhatikan, ini cewek kayaknya masih seumuran gue sih. Dari pakaiannya, gue yakin bukan cewek yang aneh-aneh. Bukan juga cewek nakal. Bahkan dia minumnya juga kopi, bukan alkohol kaya orang-orang yang lain. HP-nya sih sepengetahuan gue itu Iphone paling terbaru. Beuh anak orang kaya nih kayaknya. Keturunan darah biru kaya avatar. HP gue aja masih yang buka tutup kaya tamagochi.

TRRRRTTT!!

Tiba-tiba gue terhentak kaget ketika hp si cewek itu bergetar hebat banget kaya vibrator. Tapi bukannya diangkat, hp itu malah didiemin gitu aja sambil terus dipandangi dengan tatapan kosong. Iseng punya iseng, karena penasaran gue lihat ada foto cowok di contact yang sedang nelepon itu.

Hmm.. Gue kayaknya tau nih. Paling ini cewek lagi berantem sama pacarnya, terus sekarang mencoba mabok dengan negak Americano. Cewek macem dia ini pasti doyannya kopi-kopian ala starbak ketimbang kopi beneran. Alias nggak tahan sama minuman pahit. Tapi kalau gue liat sih gelasnya udah hampir kosong tuh. Wah berarti lagi galau berat si mbak ini.

Beberapa kali telepon itu mati terus bergetar lagi tapi tetap tidak diangkat juga.

"Mbak ada telepon masuk tuh." Kata gue mengingatkan. Ya siapa tau dia ketiduran makanya nggak denger.

"Nggak akan diangkat?" Sambung gue lagi.

"Kasian tuh kalau dia nelepon dari wartel. Mahal biaya SLJJ-nya." Gue menambahi.

Anjir bahasa gue tua banget ya sampai bisa tau SLJJ segala. Cuma angkatan anak-anak wartel doang nih kayaknya yang tau istilah itu.

Selang lima menit, akhirnya telepon itu hening dan tidak berbunyi lagi. Namun berhentinya dering telepon tersebut justru menjadi awal dari jatuhnya air mata cewek di depan gue ini. Awalnya tidak terdengar sama sekali jika ia menangis, hingga lama kelamaan gue bisa mendengar suara isaknya meski hanya sesekali.

"Mbak.." Gue mencoba ramah. Biar bagaimanapun juga dia pelanggan toko gue.

"Mbak.." Dia tetap tidak menjawab.

"Mbak mau saya setelin lagu Adele yang Someone Like You nggak?"

Brak!
Tiba-tiba dia menggebrak meja di depannya dan sontak gue kaget lalu mundur beberapa langkah. Dia menatap gue dengan tatapan marah sebelum kemudian menunduk lagi.

Dih padahal gue baik loh mau nawarin lagu. Judes amat jadi cewek. Emaknya dulu ngidam mercon apa gimana sih?

Karena ogah berurusan sama urusan orang lain, akhirnya gue melangkah pergi ke tempat gue awal tadi untuk ngelanjutin ngelap gelas, sebelum kemudian langkah kaki gue terhenti karena ada yang memanggil. Gue menengok ke belakang. Cewek itu menatap gue dengan mata sembabnya.

"Aku mau pesan."

Gue masih diam menatapnya.

"P-E-S-A-N!" Kata dia sambil mengeja satu-satu hurufnya dengan nada kesal.

Gue berbalik lagi lalu menghampirinya.

"Pesan apa?"

"Alkohol!" Katanya yang langsung membuang muka.

"Yang berapa persen?" Tanya gue.

"Yang paling banyak!"

"70% mau?"

"TERSERAH!"

"Mbak.. Alkohol 70% mah buat bersihin luka. Bener situ mau minum begituan? Sekali negak mbak bisa-bisa langsung ditanya "Siapa tuhanmu apa agamamu siapa nabimu" loh nanti."

"Serah lo lah!"

"Kopi lagi aja ya?" Gue berusaha menawarkan kopi lagi. Karena gue yakin ini cewek juga kagak ngerti alkohol-alkoholan, buktinya kadar persenan aja nggak tau.

"Gue bilang alkohol ya alkohol! Lo ngeselin ya lama-lama. Gue bisa ngebuat lo dipecat tau nggak?! Gue nggak mau tau, mana bos lo?! Suruh ketemuin gue sekarang!" Bentak dia.

"Mbak mau ketemu bos saya?"

"LO NGGAK PUNYA KUPING?!"

"Yowes. Tunggu bentar kalau gitu."

Gue berjalan sebentar ke tempat gue menaruh gelas air putih gue sebelumnya, meneguknya sebentar, lalu kembali lagi ke hadapannya.

"Ya? Ada perlu apa sama saya?" Tanya gue.

"GUE NGGAK NYARI LO!! GUE MAU KETEMU MANAJER LO!!"

"..."

Dia diam. Ketika dia melihat gue menunjuk ke arah muka gue sendiri, kini dia diam. Ya, gue yang punya tempat ini. Well, bukan gue sih, gue juga kerja di sini. Tapi owner di sini emang udah nunjuk gue buat ngehandle semua masalah di sini. Terutama untuk urusan begini rasanya gue nggak perlu deh buat nelepon owner yang sebenarnya.

"Jadi.. mau pesan apa?" Gue membuka percakapan lagi.

"..." Dia hanya diam tidak menjawab.

Gue berbalik, mengambil gelas, lalu menuang satu part Tequilla, enam part jus jeruk, dan beberapa bahan lainnya. Lalu tak lupa sedikit rocks biar lebih segar. Setelah dirasa beres, kemudian gue taruh gelas itu di hadapannya.

"Silakan. Tequila Sunrise. No need to pay. Its all on me." Kata gue seraya mulai perlahan pergi dari tempat itu.

"Dua!" Tiba-tiba dia bicara.

"Hah? Dua Lipa? Mau minta dengerin lagu Dua Lipa?" Tanya gue.

"DUA GELAS!! Bikinin gue dua gelas!"

"Yeee ngelunjak. Satu aja udah."

"Gue bayar dua kali lipat! Bikinin gue dua gelas!"

"..."

Gue bener-bener udah males debat sama cewek kaya begini. Dia pikir semua hal di dunia ini itu bisa dibeli hanya karena dia punya uang apa hah?! Ya dia ada benernya juga sih. Selama ada duit mah apa aja bisa dibeli huhu emoticon-Frown(

Akhirnya daripada ribet, gue buatin segelas lagi Tequila Sunrise sebelum kemudian gue pergi dan berada di sisi meja yang lain sambil membuatkan minuman buat pelanggan yang lain.

****

02:00

"Mas Ian! Aku pulang duluan ya!" Kata Jessica sambil melambaikan tangan di daun pintu.

"Ati-ati. Jangan sampe keciduk polisi ya."

"Lu kira bencong!" Jawabnya sambil tertawa lalu perlahan menghilang dari pandangan gue.

Sekarang sudah saatnya tutup toko. Tugas gue memang seperti ini, selalu pulang terakhir untuk mengecek barang-barang maupun keuangan dan juga bahan-bahan buat jualan besok. Setelah selesai. Gue lalu mengambil jaket gue beserta kunci motor yang selalu gue simpen di atas kulkas. Sebelum pulang, gue pastikan untuk menggembok pintu toko dulu. Setelah selesai, gue berjalan ke parkiran motor. Kebetulan motor gue selalu di parkir di bawah lampu jalan. Jadi kalau malem gini gue nggak perlu susah-susah cari keberadaan tuh motor butut.

Udara Bandung malam ini bener-bener dingin, apalagi sudah memasuki jam dua. Gue hanya bisa sesekali mendengar lalu lalang mobil, dan lolongan anjing dari jauh. Sepi sekali rasanya. Tapi gue paling suka di kesepian seperti ini, ngebuat perasaan jadi lebih tenang rasanya. Maka dari itu dulu gue memilih pekerjaan ini untuk biaya tambahan kuliah dibanding pekerjaan yang lain.

Belum sempat gue menyalakan motor, tiba-tiba gue mendengar suara orang muntah. Hahaha wajar banget ngendenger suara orang muntah di daerah toko gue ini. Ya wajar sih, pasti banyak yang mabok juga terus jackpot. Sudah hal yang lumrah itu.

Tapi anehnya, malam ini entah ada angin apa rasanya kok gue penasaran banget sama suara muntah barusan. Nggak jauh dari tempat gue parkir kayaknya. Gimana ya, soalnya kalau itu pelanggan toko gue terus dia muntah dan hangover sampe tepar, bisa-bisa jadi sasaran empuk buat dirampok orang.

Akhirnya gue urungkan niat gue untuk menyalakan motor dan memilih untuk mencari suara orang muntah barusan. Suram amat ya kerjaan gue. Ngurusin muntahan orang. Setelah cukup lama mencari, gue melihat di antara dua mobil ada seseorang lagi bersandar dan terduduk di aspal parkiran.

Meski gelap, gue bisa lihat kalau rambutnya panjang. Wah cewek nih. Bahaya banget ada cewek ngesot di tempat gelap-gelap gini. Kesurupan hantu keong bisa bahaya. Kalau kesurupan macan terus teriak-teriak AING MAUNG mah lebih bahaya lagi. Mana di sini juga dulu banyak mitos hantu belanda lagi, kalau dia kesurupan hantu belanda terus minta sesajen Holland Bakery gimana?!

MANA ADA TOKO ROTI YANG BUKA JAM SEGINI DAH!

"Mbak.." Gue perlahan menghampiri.

"Mbak masih hidup?" Tanya gue. Dan dia tetap nggak menjawab.

"Mbak? Maung sanes?" Tanya gue lagi pake bahasa sunda. Dan dia tetap tidak menjawab.

"Oh bagus lah nggak kesurupan."

Gue hampiri cewek itu untuk membangunkannya dan membawanya masuk ke dalam mobil yang sedang ia sandari. Meski gue tidak kenal tapi gue yakin kalau mobil yang ia sandari ini adalah mobilnya, soalnya gue mendapati ada kunci mobil menggantung di pintunya. Mungkin tadi saat dia mau buka pintu mobil, dia keburu muntah.

Pas gue mau angkat tuh cewek, gue sempat terkejut ketika rambut panjanganya tersibak dan kini mukanya jelas terlihat di hadapan gue.

"Lah! Ini kan cewek Adele barusan?" Kata gue yang seenaknya ngasih nama anak orang.

"Mbak Adele, bangun dong. Sono masuk ke mobil sendiri gih." Gue goyang-goyangin pipi tembemnya.

"Mbak bisa bangun nggak?"

Dia masih aja nggak ngejawab. Walah parah, tepar beneran dia. Aduh-aduh, nyusahin bener dah. Masa negak Tequila Sunrise doang sampe sebegini teparnya? Kebiasaan minum Larutan Penyegar Cap Kaki Tiga sih terus sok-sokan mau minta alkohol. Jadi aja hangover begini.

Gue mencoba membuka tasnya, bukan bermaksud tidak sopan, tapi gue mau lihat KTP-nya dan mencari tahu di mana dia tinggal. Kayaknya malam ini gue anterin dia pulang aja deh. Daripada gue tinggalin di sini terus malah jadi diperkosa orang kan bahaya. Gini-gini juga gue masih punya hati nurani.

Gue buka dompetnya dan gue cari-cari KTPnya. Udah lima menit gue ngubek-ngubek dompetnya tapi itu KTP masih belum ketemu juga. Bener dah, isinya dompet cewek tuh apa aja sih?! Banyak bener kertas-kertas anehnya. Mana ada pula ini BON beli Kurma Nabi di Mekkah tahun 2009. Buset, kupon waktu dulu umroh aja dia masih simpen. Nih cewek umroh tapi malah mabok. Benar-benar wanita yang mengedepankan urusan Akhirat dan Nikmat duniawi agar balance kaya gelang. Tapi bukannya nemu KTP, gue malah nemu sebuah kartu yang kayanya sudah nggak asing lagi di mata gue.

Kartu Mahasiswa.

"LAH ANJIR INI KAN KARTU MAHASISWA KAMPUS GUE?!?!" Gue kaget.

Gue langsung dengan cepat melihat nomer induk mahasiswanya.

"LAH ANJIR DIA SATU ANGKATAN SAMA GUE?!?!"

Diubah oleh Shootgun
Mulustrasinya om jangan sampe kelupaan biar makin ngena dan kalo pake bahasa daerah kalo bisa sih yah translate biar tau gitu yang baca
Hahahaha njir menarik. Hal serius jadi lucu. Ngelawak lu broemoticon-Ngakak
Lanjutkan
ngakak anjir ijin nenda lah ane 😁😂😂

Monggo curhat silahkeun di lanjut kan 😅😂
Diubah oleh kkaze22
Koclaaaak koclak.... Yg lancar gan biar kalo gak bisa apdet banyak haters emoticon-Hammer (S)
seru gan lanjutkan
Mantep bg akhirnya nulis jg dikaskus moga2 rajin update yaakkk
Quote:


Makasih pak..
Monggo ditunggu lanjutannya.

Quote:


Terima kasih banyak gan.

Quote:


Iya nih. Dah lama nggak nengok id kaskus juga. Semoga forum SFTH masih rame kaya dulu
punten bisik2 bar na daerah mana kang mayan upami dapet harga miring eta oge mun akang masih didinya emoticon-Ngakak ngarep.com

punten ngaliwat deui hampura kang
emoticon-Ngacir
Nice story sob.. Keep going
bagus nih! terlepas ini true story atau bukan, gue enjoy bacanya.
Quote:


ngiringan abdi ge kang. sugan we di diskon emoticon-Ngakak

Love The Way You Lie

This is Why I Need You (mbak Adele)
.
.
.


Gue sempat diem sebentar lantaran masih cukup shock dengan kenyataan yang gue hadapi malam-malam begini. Nih cewek ternyata satu kampus sama gue, satu angkatan pula. Gue lirik tuh cewek yang sekarang lagi ngiler sambil nyender di pintu mobilnya, gue lirik lagi kartu yang lagi gue pegang, gue lirik lagi tuh cewek, gue lirik lagi ini kartu.

Dari nomer mahasiswanya sih kodenya 620, kalau gue nggak salah inget itu kodenya anak fakultas kedokteran. Beuh anak FK tapi mabok, terbaik emang nih cewek. Karena nggak mau terlalu kepo akhirnya gue balikin itu kartu ke dalam dompetnya. Gue nggak suka ikut campur urusan orang, terlebih orang itu satu kampus sama gue. Bahaya juga kalau anak-anak kampus tau pekerjaan gue di luar kampus kaya apa.

Gue obok-obok lagi dompetnya sebentar dan yak akhirnya gue nemu KTP beserta SIM-nya juga. Gue lihat alamat di kedua kartunya sama, oke sip berarti dia nggak ngekos. Dan alamatnya pun nggak jauh, ada di daerah Dipatiukur, Bandung. Yaudahlah, motor gue tinggal di sini aja. Besok gue ambil lagi pagi-pagi sepulang dari kampus.

"Mbak.. Bangun dong." Gue goyang-goyangin si Adele lagi badannya, tapi dia tetap nggak bangun juga.

"Sahur... Sahur... Sahur... Mbak Imsak tuh bentar lagi.." Sekali lagi gue coba bangunin tapi kayaknya dia udah tepar banget.

Gue menghela napas panjang, ini berarti gue harus ngangkat mbak-mbak ini ke dalam mobil. Mana pakaiannya minim banget lagi. Pake kalung emas juga besar banget kaya rantai kapal. Apa kagak capek tuh lehernya kalau dia jalan digantungin kalung segede itu? Bahaya banget nih cewek dandanannya malam ini, mengundang orang buat ngerampok banget.

Nggak mau membuang banyak waktu, gue langsung membuka pintu mobil BMW-nya. Tapi emang pada dasarnya gue ini kalau udah malem ya kumat gobloknya, gue lupa kalau kepala itu cewek lagi nyender di pintu mobil. Alhasil kepalanya kejedot pintu pas gue buka dan dia langusng oleng terus menggelepar di lantai.

"Hahahahaha kejedot ya mbak? Maap yak maap." Gue malah cengengesan. Abisnya lucu sih.

Oke, ini adalah kali pertama gue masuk ke mobil mewah begini. Mobil BMW entah seri apa gue nggak terlalu peduli. Di dalamnya banyak banget printilan-printilan cewek. Dari segala macam foto box, boneka dashboard yang kepalanya bisa goyang sendiri, dream catcher digantung di spion lengkap bersama tasbih dengan lafaz arabnya. Subhanallah.

Di belakang ada jas lab kedokteran. Juga ada sepatu di kursi belakang, ada sendal, ada lipstik, ada segala macam make up. Astaga ini mobil kotor banget dah. Emang cewek sebegini kotornya ya kalau punya mobil? Pas gue mau duduk buat nyalain mobilnya pun tiba-tiba ada yang ganjel di pantat gue. Pas gue tarik ternyata itu sikat gigi. Si Anjir ada sikat gigi di kursi supir, nih cewek gosok gigi di mobil apa gimana dah? Jorok amat.

Karena ini bukan urusan gue, jadinya gue nggak terlalu peduli buat ngerapihin kursi depan dulu. Gue asal masukin aja, peduli amat dia lagi ngedudukin lipstiknya sendiri. Gue sandarkan dia di kaca mobil. Setelah itu gue menyalakan mobilnya. Bahkan nyalain mobilnya pun gak pake kunci, tapi pake tombol aneh di mobilnya. Canggih beudh kaya selangkangan Robokop.

"Oke, ternyata matic. Sip deh nggak harus was-was kalau-kalau gue nabrak sesuatu." Kata gue seraya masukin gigi.

Sesaat setelah memakai sabuk pengaman, dan melihat ke area sekitar sekiranya sudah kosong apa belum, gue langsung nengok ke belakang untuk mundurin mobilnya. Tapi bukannya itu mobil mundur, lah ini malah maju waktu gue injek gasnya. Sontak gue teriak-teriak sendiri di dalam mobil.

Ya gimana nggak teriak anjir, coba lo bayangin, gue lagi fokus ngeliat ke belakang tapi ini mobil malah maju ke depan. Untung aja parkiran kosong. Kalau nabrak terus gue disuruh ganti sih mati aja lah. Mahal bener nih mobil. Parfum AC sama harga diri gue juga lebih mahal parfum AC-nya.

Karena masih keringat dingin akibat insiden tadi, gue berhenti dulu untuk tarik napas. Gue nggak mau nyalain AC mobil. Baunya nggak suka. Bau strawberry aneh gitu parfumnya. Gue lirik di kanan gue ada tombol kaca. Pas gue buka, lah malah kaca depan si cewek itu yang ngebuka, bukannya kaca yang di bagian supir. Cewek di sebelah gue yang tadi nyender di jendela kaca langsung keluar kepalanya ngaplek di jendela mobil.

"WAAAAA... MBAK ADELE NGGAK PAPA?!" Gue kaget setengah mati karena kepalanya hampir keluar jendela. Gue langsung turun buat ngecek takutnya itu mbak-mbak lecet apa gimana. Tapi untungnya nggak papa. Gue takut pundaknya sobek.

Nggak butuh waktu lama untuk sampai di Dipatiukur dari tempat gue kerja. Setelah beberapa kali tersesat mencari alamat, akhirnya gue nemu dah tuh. Kebetulan itu rumah ada satpamnya juga. Gue turun untuk menjelaskan kronologinya ke satpam rumah si cewek dan satpam itu mengerti lalu mengucapkan terima kasih.

Terus gimana cara gue pulang?

Si satpam mau berbaik hati nganterin gue naik motornya. Sambil sesekali curhat, gue akhirnya dapet informasi kalau cewek tadi tinggal sendirian di rumah itu. Orang tuanya sih ada di luar pulau jawa.

Gue dianterin sampe depan kossan. Karena sudah malam, kossan gue juga sudah sepi. Gue buka pintu gerbang dan tidak lupa buat ngegemboknya lagi. Hari itu gue pulang ke rumah pukul setengah 4 pagi. Ketika masjid di sekitaran kos mulai pada ngaji, gue baru rebahan di kasur. Gue pasang alarm untuk kelas jam 9 pagi nanti.

****


Gue itu orangnya nggak bisa tidur kalau ada suara dikit aja. Makanya kalau pasang alarm jam sembilan walau gue baru tidur jam delapan, gue pasti bangun. Gue kadang heran tiap nginep sama orang terus ada yang pasang alarmnya pake lagu. Panjang banget dah ada 4 menit nyala terus tapi orangnya tetep molor. Masih mending lagu, lah ada juga yang pasang alarm suara orang lagi ngaji. Bukannya tenang lah gue malah kaget dikira lagi dingajiin.

Karena hari ini motor gue masih nginep di tempat kerja, alhasil gue minjem motor Budi dulu. Budi ini pengurus kos-kosan gue. Orangnya baik banget. Supel. Keturunan jawa murni jadi sikapnya benar-benar sopan. Kucing gue lagi tidur depan teras aja dia bilang "permisi" kalau mau lewat sambil sedikit nunduk. Luar biasa.

Kuliah gue hari ini cuma sampai jam 12 siang, setelah itu nggak ada lagi. Dan biasanya sehabis pulang kuliah, gue nggak langsung pulang. Gue nongkrong dulu sama temen-temen di unit kegiatan yang gue singgahi baru-baru ini, DKM.

Ya.
Gue anggota Dewan Kekeluargaan Masjid.

Pembuat alkohol yang jadi anggota DKM. Benar-benar tujuan hidup yang sungguh mulia dunia dan akherat.

Sesudah sholat Duzhur bersama teman-teman yang lain, gue sekarang duduk di area kantin di meja pojokkan deket jendela. Area kantin kampus ini emang cukup besar. Di satu kampus yang ada lebih dari 10 fakultas ini, kantinnya cuma ada satu biji doang. Oleh karena itu di salah satu gedung ada satu lantai khusus buat kantin yang isinya meja-meja doang. Nah selain dipakai buat makan, di sini juga dipakai sama unit kegiatan buat nongkrong-nongkrong juga.

Selain buat cari anggota baru, ya banyak juga mahasiswa yang buka laptop terus main PS bareng. Ada juga yang main kartu. Pokoknya banyak deh. Nah kebetulan organisasi DKM tahun ini lagi mau mengadakan acara sejenis LDKS gitu. Ospek untuk angkatan baru yang baru aja masuk. Sekarang rencananya kami mau mengadakan kemping di gunung Puntang. Maka dari itu gue nggak pulang langsung ke kost buat melanjutkan tidur. Ketika anggota yang lain lagi sibuk diskusi tentang persiapan kemping, gue cuma duduk aja ngeliatin doang. Karena kalau boleh jujur, gue kurang tidur banget akhir-akhir ini.

Karena area kantin ini adalah satu-satunya area di kampus yang menjual makanan serta minuman, jadi sudah dipastikan ada banyak sekali anak-anak fakultas lain yang sliweran di area ini kalau lagi jam-jam istirahat. Gue yang daritadi masih ngantuk dan menatap kosong ke arah depan tiba-tiba nggak sengaja melihat satu sosok yang udah nggak asing lagi.

Ya, siapa lagi kalau bukan sosok cewek Adele kemarin itu. Gue udah ada firasat bakal ketemu dia hari ini, dan ternyata bener kejadian. Terus kalian tau parahnya lagi apa? Doi mesen makanan lalu duduk di meja yang cuma berjarak sekitar 4-5 meja di depan gue.

Asem.

Sontak gue langsung buang muka dong. Gue nggak mau dia sampai ngenalin gue. Bahaya banget. Apa jadinya kalau temen-temen DKM gue tau kalau salah satu anggotanya ini adalah penjual alkohol. Ya Allah bisa-bisa gue di rajam kaya orang lagi lempar jumroh.

Ini sebabnya gue memilih untuk kerja malem dan kerja di tempat yang jarang sekali didatangi oleh mahasiswa. Tapi ya emang namanya lagi sial, pasti aja teta ada satu atau dua orang anak kampus yang datang ke toko itu.

Gue makin lama makin gelisah, pengen izin pulang tapi rapat belum beres.

"Ngapa lo, Yan? Gelisah amat." Tiba-tiba Iqbal, salah satu rohis kampus, menegur gue.

"Bro.. Gue ijin pulang duluan yak?" Gue menimpali.

"Astagfirullah, jangan dong. Rapat baru juga mulai nih. Kita-kita juga butuh pendapat elo, Yan"

"Subhanallah, tapi gue sakit perut nih tampaknya."

"Astagfirullah. Coba boker di wc kantin aja."

"Naudzubillah! Nggak ah."

"InshaAllah nggak lama kok rapatnya, Yan. Santai yak."

"Amin.."

Lah anjir kenapa percakapan gue kaya orang lagi doa begini dah. Aduh, harus pake alasan apa lagi dong biar bisa cabut? Yaudah deh, mending malu sekalian daripada harus tatap-tatapan sama si Adele terus dia nyadar bahwa gue adalah orang yang kemarin dan kemudian dia ngebocorin ke temen-temen gue tentang kerjaan gue apaan.

"Bal.." Dengan sigap gue langsung manggil si Rohis lagi.

"..." Iqbal tidak menengok.

"Woi Iqbal." Iqbal masih tidak menengok juga.

"Assalamualaikum, Ya Akhi Iqbal kawanku."

"WAALAIKUMSALAM RYAN SOHIBKU!!" Tiba-tiba dia langsung ngejawab. Ah dasar SENSOR onta.

"Bal gue harus cabut cepet-cepet nih."

"Yah cuy kalau cepet-cepet nyabutnya nggak enak nanti." Tiba-tiba Boim, sahabat gue satu fakultas, nyeletuk di sebelah gue. Gue dan Iqbal langsung ngeliat ke arah Boim. Dan dia cuma ketawa gitu aja.

"Kenapa cepet-cepet, Yan?" Tanya Iqbal makin penasaran.

Aduh, kepalang basah deh ah. "Gue belum mandi besar nih, bro." Kata gue mencoba ngarang-ngarang alasan yang paling bisa diterima oleh rohis macam Iqbal ini.

"ASTAGFIRULLAH!! TIDAKLAH SAH SHOLAT ANTHUM APABILA TIDAK MANDI BESAR."

"YA NGOMONGNYA JANGAN BESAR-BESAR BANGKE!! AH GUE KEPRET JADI MODEL MAJALAH YASIN LU!!"

"Hahaha yaudah gih gih, gue kasih izin. Sesudah mandi langsung sholat ya bro." Balas Iqbal lagi.

"Iye iye. Dah ah gue cabut dulu. Im, gue cabut ya." Gue nepuk pundak Boim, dan dia angguk-angguk doang.

"Ryan, kamu tidak lupa kan niat mandi wajib apa?" kata Iqbal keras banget sampe temen-temen yang lain pada denger. Ngehe emang ini si kambing kupluk.

"Inget kok. Allahumabariklana kan?" Jawab gue asal sambil cepet-cepet ngeloyor pergi ninggalin kampus.


****



22.00

Gue buka Itunes di komputer toko, lalu memilih playlist 'lagu jam 22-23', kemudian gue pencet tombol random. Dan malam itu, yang terputar paling pertama adalah lagu dari Rihanna – Love The Way You Lie.

"Ah parah lo, Jess!" Tiba-tiba gue ngelempar lap piring ke muka Jessica yang baru aja lewat di depan gue.

"LAH SALAH GUE APA ANJIR MENDADAK DILEMPAR ANDUK SEGALA LU KIRA GUE ABIS NARIK BECAK APA?" Jessica langsung marah-marah sampai kuciran rambutnya lepas.

"Gara-gara lo nih, pelanggan cewek yang kemarin di pojok itu malah jadi malapetaka buat gue di kampus. Hadeeeh." Gue ngedumel.

"Loh kok bisa, mas?" Jessica mendekat.

Sebelum menjawab, gue menegak air putih dulu dalam-dalam.

"Gara-gara dia nasib reputasi gue di kampus jadi dipertaruhkan." Kata gue sambil menatap Jessica.

"Aku nggak ngerti deh." Jessica garuk-garuk kepala.

"Euh dasar bocah SMA. Entar kalau dah kuliah lu baru ngerti deh susahnya jadi gue gimana. Btw, ada PR nggak hari ini?"

"Ada kok, tapi udah gue kerjain tadi sore." Ujarnya seraya mengedipkan matanya.

"Loh tumben. Cepet banget."

"Dibantuin customer. Hahahahaha."

"Yeeee pantes. Yaudah mau dibantuin siapa gue nggak peduli, yang penting lo harus beres sekolahnya. Inget, sekarang sudah ada program wajib belajar 100 tahun."

"SEMBILANG TAHUN MAS emoticon-Frown(("

"Hahahahahahahahahahahahahaha."

"Eh mas, dua bulan lagi aku kayaknya bakal fix ngekos di tempat mas deh." Tiba-tiba Jessica mengubah topik pembicaraan.

Gue yang masih minum tadi sempat sedikit tersentak kaget, gue taruh gelas gue di hadapan dia, "Emang kenapa lagi di rumah?" Tanya gue dengan nada rendah, berharap karyawan lain tidak mendengar.

Jessica menghela napas panjang sesekali, "Biasa mas. Masalah yang itu-itu lagi." Ujarnya.

Gue angguk-angguk, "Gue sih bebas, toh ini juga hidup lo. Gue rasa justru semakin cepet malah semakin bagus. Lagian gue juga makin bisa ngawasin elo. Apalagi kalau nggak salah bentar lagi lo mau UTS kan? Nanti gue bilang ke Budi deh buat nanyain ada kamar kosong atau nggak."

"Ih, ngapain?" Jessica ngelempar lap piring tadi kembali ke gue, "Gue nginep di kamar lo aja, mas. Kita joinan." Sambungnya sambil nyikut tangan gue pelan.

"JOINAN BIBIR LU GONDRONG!"

"Hahahaha tapi kan biar bagaimanapun juga kossan lu itu kossan putri, Mas. Jadi boleh dong gue tinggal di kamar yang mana aja. Termasuk di kamar lu." Sanggah Jessica.

Yak.
Gue yang sekarang memang tinggal di kossan putri. Aneh kan? Ceritanya panjang banget sih. Tapi intinya di kossan itu, gue dan Budi adalah satu-satunya cowok di sana. Sisanya cewek semua. Nanti kapan-kapan gue ceritain kenapa gue bisa ada di kosan itu. Bagaimana kondisinya. Berapa jumlah kamarnya. Dan siapa-siapa aja penghuninya.

"Serah lu deh. Eh, sekarang hari selasa kan? Shift sampe jam ber.."

Belum sempat membereskan kalimat gue, pintu toko tiba-tiba ini dibuka sehingga lonceng yang ada di atasnya berbunyi. Gue yang tadi lagi ngomong sama Jessica langsung berbalik dan mengucapkan salam selamat datang.

"Selamat Datang. Silakan du..."

Gue terdiam.

Jessica juga terdiam.

Jessica ngelirik gue.

Jessica kemudian narik-narik kerah baju gue.

"Mas mas.. Itu cewek yang kemarin kan?" Tanyanya bisik-bisik.

Gue masih diem.

"Mas, cewek itu dateng lagi tuh." Kata Jessica lagi.

"IYA JES GUE JUGA BISA LIAT AH LU!"

"Gih urusin gih orderannya."

"Aduh Jes, elo aja deh. Gue males ah."

"Lah kenapa? Tumben-tumbenan lu jiper sama cewek."

"Ye bukan gitu. Udah sana sama lu aja ya please. Gue udah cukup kacau kemarin gara-gara tuh cewek. Gue nggak mau makin sial hari ini." Gue mencoba merayu Jessica.

"Moh ah. Mas aja. Hahaha.. Jodoh lu kali tuh. Baybay Mas Ian~" Balas Jessica yang kemudian langsung ngeloyor pergi ninggalin gue.

Aduh.

Gimana nih?

Gue bener-bener nggak mau ngobrol sama cewek itu semenjak tau dia sekampus sama gue. Pokoknya sebisa mungkin gue harus menghindarkan percakapan panjang agar dia nggak inget sama muka gue. Please please please..

Dia sekarang masih ngeliat-ngeliat menu yang tertulis di atas dinding sambil kemudian menarik kursi dan duduk di tempat yang sama seperti tempat ia duduk kemarin. Gue menghela napas panjang, lalu berjalan gontai menghampirinya. Tidak lupa dengan gaya yang sama, sambil ngelap gelas.

Diubah oleh Shootgun
Quote:


Quote:



Daerah Hegarmanah, kang.

Bade?
Ku sayah nanti dikasih gratis satu sloki goose emoticon-Ngakak
asemmm ceritane asik lur dr bahasa jg oke.kapan2 meluncur ke hegarmanah ah.da dekeut
ijin ngedeprok dimari gan, aslii sihh ini cerita seru banget, pembawaannya ringan banget. monggo dilanjut gan
Update lagi bang?
Seru banget
Quote:


Hayu lah, Kang. Jam 2 tutupna.

Quote:


Hehehe terima kasih banyak gan!

Quote:


Hatur nuhun!
Ditunggu lanjutannya ya pak.
Ceritanya keren om, sama nih di kota bandung, di tunggu kelanjutannyaemoticon-Rate 5 Star
Halaman 1 dari 40


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di