alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Sastra Sebagai Media Pembelajaran Seseorang Di Usia Remaja
4.86 stars - based on 7 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b42f6c5a09a39a1268b4569/sastra-sebagai-media-pembelajaran-seseorang-di-usia-remaja

Sastra Sebagai Media Pembelajaran Seseorang Di Usia Remaja

Sastra Sebagai Media Pembelajaran Seseorang Di Usia Remaja


Sejak dahulu kala, manusia sudah mengekspresikan apa yang dilihat, dirasakan atau diketahuinya dalam berbagai  wadah seperti  batu, kulit sapi, bambu dan sejenisnya. Perkembangan pola pikir manusia yang semakin kompleks menghadirkan bentuk ekspresi yang dinamakan sastra. Di tahun 2018, masyarakat Indonesia sudah mengenal bentuk – bentuk karya sastra diantaranya : puisi, cerita pendek (Cerpen), prosa, novel, drama. Berbagai bentuk karya sastra terkenal  menginspirasi  alur sebuah film atau menjadi suatu tempat wisata seperti  wisata laskar pelangi.  Sastra telah menjadi bagian dari kehidupan manusia sejak lama namun kita tidak menyadari. Sastra masih dianggap sebagian masyarakat Indonesia sebagai pelajaran di sekolah semata. Pandangan sempit ini meluas hingga membentuk paradigma yang salah.

Dalam menulis sebuah karya sastra terdapat aturan baku yang harus diikuti. Apabila tidak diikuti, maka akan dianggap sebagai karya sastra yang kurang bagus.  Aturan baku tersebut dibuat agar karya sastra yang dibuat terstruktur dan alur jelas. Namun kaum remaja kurang menyukai aturan tersebut. Mereka lebih menyukai penulisan bebas dengan tidak memperdulikan Ejaaan Yang Disempurnakan (EYD) ataupun aturan baku lainnya, asalkan tulisan tersebut dapat menghibur mereka. Penulisan sejenis ini mulai populer di Indonesia dan menimbulkan pendapat yang berbeda di masyarakat khususnya kalangan penulis dan sastrawan.  Aturan baku tersebut dianggap para remaja sebagai  aturan yang mempersempit kebebasan mereka berekspresi.

Telatnya edukasi di usia remaja ataupun faktor ekonomi membuat hanya sebagian masyarakat yang mengenal sastra. Minimnya pengenalan sastra akan menimbulkan permasalahan sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Menurut mural esten (1978:9), sastra merupakan pengungkapan fakta artistik dan imajinatif sebagai manifestasi kehidupan manusia (dan masyarakat) melalui bahasa sebagai medium dan memiliki efek yang positif terhadap kehidupan manusia (kemanusiaan). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sastra merupakan bahasa (kata-kata, gaya bahasa) yang dipakai dalam kitab-kitab (bukan bahasa sehari-hari). Hal tersebut menunjukkan bahwa Sastra mengungkapkan fakta maupun imajinasi manusia ke dalam suatu wadah tertulis maupun tidak tertulis. Penulisan kalimat “efek yang positif” dalam pengertian menurut mural esten menegaskan bahwa sastra itu harus memberikan nilai tambah dalam kehidupan manusia dan bermanfaat.

Di usia remaja, pola pikir seseorang akan mulai berkembang menuju kedewasaan. Mereka akan mulai memberikan respons terhadap segala hal di sekitar mereka. Para remaja mulai belajar serta mengikuti pandangan yang sesuai dengan pola pikir mereka, biasanya mereka akan mengikuti kebiasaan masyarakat di lingkungan mereka. Permasalahan sosial terjadi ketika mereka berada di luar lingkungan awal mereka. Mereka akan mengalami gesekan pemahaman tentang cara bersosialisasi di lingkungan yang baru. Apabila mereka tidak mampu beradaptasi maka mereka akan dikucilkan dari lingkungan baru. Hal ini akan menimbulkan permasalahan sosial lainnya seperti menutup diri untuk bersosialisasi, rasis, hingga aksi ekstrim terorisme.

Sastra akan menyelesaikan permasalahan tersebut dengan mengenalkan lingkungan baru sehingga seseorang dapat beradaptasi dan mengetahui cara bersosialisasi di suatu lingkungan. Hal ini dikarenakan sastra merupakan manifestasi kehidupan manusia (masyarakat) (Mural Esten, 1978:9). Sastra akan mampu mengatasi gesekan pemahaman antara dua lingkungan yang berbeda. Pengenalan sastra bagi seseorang di usia remaja akan menjadi media pembelajaran untuk mengenal budaya, adat istiadat dan aturan yang berlaku di luar lingkungan awal.  Mereka akan mampu beradaptasi dengan lingkungan di luar lingkungan awal mereka karena mengerti bagaimana harus bertindak dan berprilaku di lingkungan tersebut.

Pembelajaran melalui sastra lebih baik dibanding pembelajaran secara langsung karena tidak akan mengakibatkan konflik  akibat gesekan pemahaman yang berbeda.  Seseorang  dapat mempersiapkan diri terlebih dahulu sebelum terjun ke lingkungan yang baru dan sebaliknya dimna masyarakat lingkungan baru dapat mempersiapkan diri untuk menerima seseorang dari lingkungan yang berbeda sebelumnya.
Dalam membuat karya sastra, kita juga diajarkan untuk mengikuti aturan baku yang sesuai dengan bentuk karya sastra yang akan dibuat. Hal ini sebenarnya juga mengajarkan secara tidak langsung agar seseorang belajar untuk mengikuti aturan yang telah disepakati. Kita harus berprilaku sesuai dengan aturan yang disepakati dalam kehidupan bermasyarakat.

Perkembangan sastra di Indonesia semakin baik dan mengikuti keinginan dari para remaja sebagai contoh ada puisi beraliran bebas, cerpen anak, cerpen remaja. Sastra mewakili aspirasi dari seluruh lapisan masyarakat sehingga karya sastra dibuat oleh masyarakat dan untuk masyarakat. Dalam membuat karya sastra harus diperhatikan pengertian dari mural esten bahwa karya sastra harus memberikan efek yang positif terhadap kehidupan bermasyarakat. Karya yang tidak memberikan efek positif terhadap masyarakat maka tidak dapat disebut sebagai karya sastra.

Melalui sastra, seseorang dapat mengekspresikan cinta, marah, kecewa bahkan kesedihannya. Seseorang juga dapat menyelipkan pendapatnya tersirat di sastra tanpa menyinggung pembacanya. Kita tidak perlu untuk berdebat panjang lebar atau demonstrasi di jalan. Dengan menyelipkan pesan tersebut maka tidak akan terjadi gesekan fisik akibat perbedaaan pendapat.

Melalui sastra, kita bisa belajar bagaimana perilaku masyarakat dahulu kala terhadap suatu permasalahaan sehingga kita tidak mengulangi kesalahan yang sama. Kita tahu bagian mana yang harus diperbaiki, ditinggalkan atau ditambahkan.

Melalui sastra, kita dapat mengintropeksi diri atas tindakan yang telah kita lakukan selama ini. Sastra merupakan bentuk pembelajaran yang indah karena tidak hanya berisi nilai – nilai positif namun dikomunikasikan dalam kemasan yang kreatif.


Dibuat oleh OpenJuan
Karya Pribadi Bebas Plagiarism

Daftar Pustaka :
Google Pic
Buku Sastra Esten Mural (Mengambil pengertian sastra)


emoticon-Toast
Urutan Terlama
Halaman 1 dari 4
Ketiax emoticon-Coblos
melalui sastra kita pinter mengarang bre
Sastra nuklir kontemporer
Quote:


Mengarang bebas yak bree emoticon-Ngakak
Quote:

seperti berenang bre, gaya bebas
Jaman muda ane semangat belajar Biologi emoticon-Embarrassment
Sastra Sebagai Media Pembelajaran Seseorang Di Usia Remaja
mejeng dolo di hate..emoticon-Cool
Diubah oleh koto1985
emoticon-Cendol Gan Belajar terus..
ini kayanya agan jurusan bahasa indonesia yah?... kaya temen ane, jurusan bahas indonesia demen bikin artikel2 kaya gini emoticon-Big Grin
Cocok nih buat Ane yang masih remaja... Seperti halnya pepatah Vietnam yang mengatakan:

Đôi mắt nặng nề, vai nặng nề: nặng như bất kỳ đau khổ nào đối với người nhìn thấy nó, vẫn còn nghiêm trọng hơn đối với những người đang trải qua...

emoticon-Goyang emoticon-Goyang emoticon-Goyang
Masih ada thread berkualitas di kaskus ternyata.

emoticon-2 Jempol
itu jga kalo mau baca
Bukan buat ngegombalin cewek ya
sastra?
ane taunya honda astrea
nice info gan
Sastra penuh dengan dengan kejutan.
sungguh sulit belajar sastraaa
gemboked
bahasa indonesia yang ngga sastra aja susah apalagi sastra indonesia emoticon-Hammer2 puyeng pala bebi
Halaman 1 dari 4


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di