alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Berita Luar Negeri /
Kenapa Perang Saudara di Arab Tidak Akan Pernah Berakhir?
5 stars - based on 5 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b3f3993642eb6d67e8b4567/kenapa-perang-saudara-di-arab-tidak-akan-pernah-berakhir

Kenapa Perang Saudara di Arab Tidak Akan Pernah Berakhir?

Perang saudara dalam konteks Arab merujuk kelompok yang hidup melalui ikatan kekeluargaan atau kesukuan. Sebab itu pula, menurut Morris Ayek, cendikiawan Suriah, perang saudara di Timur Tengah tidak akan berakhir

Kenapa Perang Saudara di Arab Tidak Akan Pernah Berakhir?

Dunia Arab berdetak dalam ritme perang saudara, dari Suriah hingga Irak, Libya, Yaman dan Somalia dan sebelumnya, Libanon, Sudan dan Aljazair. Perang hanya berakhir untuk kemudian kembali berkecamuk. Dan contoh paling ekstrim dari fenomena ini mungkin adalah perang saudara berkepanjangan di Libanon.

Bahkan ketenangan dan stabilitas yang terkadang tercipta lebih menyerupai perang 'dingin' saudara yang dilancarkan rejim penguasa terhadap rakyatnya sendiri. Karena stabilitas dan keamanan di dunia Arab hanyalah sisi lain kekuasaan yang mengandalkan polisi rahasia dan militer.

Konsep Arab untuk "perang saudara" merujuk pada pertalian keluarga, berbeda dengan di Inggris atau Jerman yang merujuk pada perang antara warga negara. Konsep tersebut adalah endapan dari perdebatan yang marak pada dekade 1990an seputar gagasan "masyarakat madani" sebagai perantara antara individu dan negara, dalam bentuk partai-partai politik, serikat buruh atau organisasi kemasyarakatan.

Dalam skenario Arab, entitas yang berfungsi menjembatani rakyat dan pemerintah adalah suku, klan atau institusi keagamaan, yang semuanya berhubungan dalam ikatan kekeluargaan, bukan struktur sipil atau institusi modern. Untuk alasan ini, konsep komunitas dibuat untuk membedakannya dengan fenomena masyarakat madani yang hilang atau baru seumur jagung. Perdebatan tentang masyarakat madani dan komunitas adalah semata-mata fenomena Arab.

Kenapa Perang Saudara di Arab Tidak Akan Pernah Berakhir?
Suasana di Beirut selama perang

Di sini pun, keunikan bahasa Arab - meski istilah tersebut berarti serupa dalam bahasa lain - berguna ketika memahami perang saudara Arab sebagai perang antara entitas sosial. Istilah perang saudara di bahasa Rusia, Perancis, Spanyol, Yunani dan lainnya adalah antara warga negara. Kelompok-kelompok yang mengidentifikasikan diri melalui ideologi dan institusi modern membidik kemenangan ideologi-ideologi panutannya.

Sebaliknya perang saudara Arab adalah konflik antara sanak saudara. Pasalnya kelompok sosial cendrung menjadi partisan, entah itu bersifat sektarian, kesukuan, kepartaian atau etnis. Perbedaan penting antara dua jenis konflik ini adalah bahwa perang saudara Arab tidak memiliki akhir. Di dunia non-Arab, konflik berakhir ketika salah satu ideologi terkalahkan, sementara dengan kita bangsa Arab, kemenangan tidak menutup cerita. Kaum Sunni, Syiah, Alawit dan kaum Kristen akan tetap ada, seperti juga bangsa Arab, Kurdi atau Sudan Selatan.

Motor Konflik Berupa Ikatan Sosial

Satu-satunya poin dalam perang saudara Arab adalah wilayah kekuasaan yang biasanya didominasi warlord yang hidup dengan mengobarkan perang sebagai sumber kemakmuran, pemaksaan dan penjarahan. Hal ini berbeda dengan perang saudara di tempat lain, di mana kedua pihak yang bertikai membidik pertumbuhan ekonomi untuk menjamin sumber daya dan kemenangan. Ironisnya, model mencari keuntungan seperti ini serupa dengan struktur perekonomian Arab.

Politisasi kelompok sosial terjadi dalam dua bentuk. Pada level yang kasatmata, dalam kasus Islam Politik misalnya, baik Syiah, Sunni atau Kristen Maronit, afiliasi sektarian dipolitisasi. Tapi juga ada fenomena samar tak terlihat, di mana rejim Suriah saat ini dan pemerintah Irak pada era Saddam Husein, belum lagi Partai Sosialis Progresif Libanon, mengusung ideologi modern, namun masih mengandalkan ikatan sosial sebagai motor penggerak.

Di sini kita diingatkan pada perang saudara di Afrika, di mana masing-masing suku membentuk barisan liberal, demokratis atau progresifnya sendiri.

Lantas kenapa Arab mengobarkan perang kesukuan dan bukan perang saudara? Atau kenapa identitas sipil modern gagal menggeser identitas kesukuan Arab? Adaptasi identitas sipil tidak mengecualikan kemungkinan terjadinya perang. Fenomena ini banyak terjadi di abad ke20. Tapi dilema menghadapi identitas berdasarkan ikatan kekeluargaan adalah bahwa perang saudara akan berlangsung tanpa henti.

Identitas Sipil dan Era Liberal

Dari penghujung abad ke19 hingga dekade 1940an, era liberal Arab mengalami pesatnya perkembangan dan pertumbuhan identitas sipil. Ada dua faktor yang menciptakan fenomena tersebut: pertama adalah pertumbuhan ekonomi dan kemerdekaan melalui kemunculan industri modern yang memungkinkan tumbuhnya aspek lain, termasuk identitas kelas.

Kenapa Perang Saudara di Arab Tidak Akan Pernah Berakhir?

"Dilema menghadapi identitas berdasarkan ikatan kekeluargaan adalah bahwa perang saudara akan berlangsung tanpa henti."

Pergulatan yang muncul di dalam roda ekonomi terkristalisasi di sepanjang garis kelas dan menggeser identitas sipil. Buruh hidup dalam kondisi mengenaskan dan mereka mengidentifikasikan diri sebagai pion dalam perang melawan eksploitasi kapitalis, terlepas dari afiliasi sektariannya.

Kedua adalah sistem parlementer, kebebasan pers dan tumbuhnya kelas menengah menciptakan ruang publik yang mengadopsi bahasa bersama dan menggeser peran komintas atau kelompok sosial. Ini tidak berarti absennya kelompok sosial. Sebaliknya, mereka tetap aktif dan berakar di dalam partai-partai atau gerakan politik Arab masa itu.

Meski demikian, kemerdekaan ekonomi dan eksistensi ruang publik membuka jalan bagi terbentuknya area yang terbebas dari ikatan kekeluargaan. Terlebih kelompok-kelompok sosial harus mengembangkan citra dan bahasa yang inklusif dan tidak mengisolasinya dari kelompok lain.

Kontrakdisi era liberal seperti kesenjangan ekonomi, manipulasi sistem parlementer dan pemerintahan yang hanya menguntungkan kaum elit adalah alasan di balik kejatuhannya dan perlucutannya oleh rejim otoriter dan populis. Mereka merebut kekuasaan dengan cara kudeta yang kebanyakan bisa dijabarkan melalui ikatan partisan. Bahkan dengan rejim tradisionalis, legitimasi mereka dibangun atas struktur keberpihakan yang telah mengendap lama dan melindungi sistem politik yang ada.

Melucuti Domain Publik

Dari paruh kedua abad ke20 hingga saat ini, negara-negara Arab melakukan ekspansi dan mengambilalih kendali atas masyarakat melalui nasionalisasi seperti yang dilakukan rejim populis atau melalui monopoli sumber kemakmuran di negara lain. Dengan cara itu, negara menguasai perekonomian dan memberangus ruang publik. Semua menjadi sandera keamanan nasional. Negara menjadi eksekutor kekuasaan, kemakmuran dan status sosial, meski kontrol terhadap negara itu sendiri hanya mungkin melalui ikatan partisan atau kekeluargaan.

Kenapa Perang Saudara di Arab Tidak Akan Pernah Berakhir?

Aksi demonstrasi di Mesir pada 2013

Dengan melucuti domain publik seperti pers yang bebas dan sistem parlementer, negara mengancurkan ruang di mana identitas sipil dan nasional bisa diayomi dan dikembangkan di luar lingkup kelompok sosial. Yang terakhir mencakup kehidupan sehari-hari bertetangga, di klub-klub atau jejaring pertemanan dan ini meliputi kontak atau lingkaran yang mendukung bisnis, yang sebaliknya berdasarkan afiliasi kekeluargaan dan sektarian.

Bertentangan dengan lingkup harian kelompok sosial, identitas modern terkesan lebih abstrak, tidak berbentuk dan tidak biasa. Identitas ini mengusung semangat "kolektif" atau individu yang tidak termasuk dalam hubungan sosial sehari-hari. "Bangsa" adalah salah satu contoh dari fenomena ini, terutama dengan seruan kolektif imajiner yang menggeser hubungan sehari-hari. Seperti kata Benedict Anderson, identitas modern hanya ada jika dikembangkan di sepanjang lingkup domain publik.

Teori ini benar dari sudut pandang kelas, meski hanya bisa disimak dalam konteks pergulatan kelas itu sendiri. Terlebih, identitas kelas hanya bisa berperan jika didukung oleh logika kemerdekaan ekonomi, kecuali ini diganti dengan sistem kenegaraan yang menghasilkan keuntungan untuk pemerataan kemakmuran, bertansformasi dengan menjamin kemakmuran dan membeli kesetiaan.

Dengan memonopoli perekonomian, negara dalam tradisi Arab menjadi jalur menuju kemakmuran. Kesejahteraan hanya bisa dicapai melalui negara dalam bentuk kontrak kerja atau izin ekspor dan impor, atau bahkan mengamankan jabatan di pemerintahan yang membuka peluang korupsi. Jenis interaksi semacam ini memperkuat hubungan persaudaraan yang diwakili oleh jejaring klientel di antara pejabat pemerintah dan lingkarannya.

Negara Arab, entah itu dalam perannya menjamin kemakmuran atau populis, tidak pernah bisa dianggap sebagai negara modern dalam konteks normal, di mana masyarkat madani berusaha membangun sebuah bangsa. Sebaliknya, negara Arab fokus mengumpulkan kemakmuran untuk kelompok sosial yang dominan dan dengan begitu melindungi struktur sosial berdasarkan ikatan keluarga.

Morris Ayek

© Qantara.de 2018

https://www.dw.com/id/kenapa-perang-...hir/a-44548317

===

ngeri yaa...
malah hobi bunuh-bunuhan arap ditularin juga kesini.
sampe banyak yg di brainwash buat ngebom atas nama tuhannya arap emoticon-Gila
Urutan Terlama
Halaman 1 dari 3
selama dunia tidak bisa berkata jujur bahwa akar masalah timteng adalah agama (islam), selama itu pula timur tengah dan dunia arab akan terus berkecamuk perang.

- islam jadi persamaan seluruh jajirah arab.
- islam menjadi lambang dan ideologi mayoritas negara arab.
- islam menjadi rule, pembatas sekaligus pengatur masyarakat dan negara arab.
- islam menjadi rujukan, harapan dan cita cita masyarakat arab.

islam begitu berperan besar dalam setiap sendi sendi kehidupan jajirah arab. maka ketika sesuatu terjadi dalam masyarakat arab, islam harusnya jadi yg pertama di minta pertanggungjawaban. bukan malah mendusta dan mendenial bahwa islam tidak salah.

dunia dan masyarakat arab harus berani mengoreksi islam. karena kalo tidak selamanya dunia arab hanya akan jadi lahan peperangan.
Artikel yang bagus emoticon-Angkat Beer
Quote:


LASKAR MANA ? LASKAR ? emoticon-Mad
awas jangan nyalahin-nyalahin simbol Mesir kuno apapun
Semuanya itu karena kafirun
Karena Apapun masalahnya penyebabnya harus kafirun

Ehhh ada jahyudi juga

emoticon-Leh Uga


Quote:


tumben cendekiawan arap gak bawa zionist sbg akar permasalahan konflik emoticon-Big Grin

biasanya apapun anunya..
anunya balik lg ke zionist

org di iran kejadian kekeringan aja gara" awan nya di colong zionist emoticon-Big Grin
Quote:


belakangan ini makin banyak orang arab yg sadar gan
emoticon-Big Grin
Lah kan sebelum masehi sudah ketahuan
Keturunan keledai liar
Diubah oleh kitten.meow
Quote:


Seorang laki-laki yang lakunya seperti keledai liar, demikianlah nanti anak itu; tangannya akan melawan tiap-tiap orang dan tangan tiap-tiap orang akan melawan dia, dan di tempat kediamannya ia akan menentang semua saudaranya."

Yah sudah dituliskan sebelum terjadi
Diubah oleh lauda.9396
Quote:


Ini ayat injil perjanjian lama ya gan? emoticon-Bingung

Menarik juga koq bisa persis gitu ya...
Quote:


Ada juga tuh lumba lumba dituduh sebagai intelijen MOSSAD

Emang kelakuan pokoknya pihak lain yang salah

Mereka-mereka adalah pemilik kebenaran tunggal

emoticon-Selamat emoticon-Selamat
kalau dipikir2... emang udah dari jaman bahula itu timur tengah selalu ada konflik. emoticon-Tai
Tidak semua bansa dan suku cocok jadi budak atau pengekor keknya Indon.

Bansa Semit di timur tengah adalah manusia paling unggul dunia. Kulit putih itu nomor 2, mereka cuma cocok jadi bidak penting saja. Bangsa lain itu tdk lebih levelnya sama demgan kera yang hanya numpamg eksis di dunia.
(Tapi kecuali jika dia seorang muslim).

Dan perang adalah kemajuan. Peradaban dunia dibamgun bamgsa yang suka berperang.
Itu sebuah fakta.
Quote:

100% correct emoticon-Salaman
karena orang sono masih percaya cerita kitab-kitab fiksiemoticon-Wkwkwk

kitab Y meramalkan Y akan merebut wilayah Y
kitab K meramalkan perang A, Y akan datang kembali
kitab I meramalkan I akan memerangi Y, sampai batu dan pohon bisa berkata, di sini ada Y bunuhlah dia

begitu terus dari duluemoticon-Wkwkwk
Post ini telah dihapus oleh kaskus.support16
Quote:

Umumnya mereka mendeskripsikan Kebenaran ujung2nya adalah milik Tuhan, hanya Tuhan yang tau benar atau gak nya. Kan lucu. emoticon-Hammer
Kalo penduduk negara maju, budaya berpendapatnya bisa berdebat ampe dirundingkan hingga tingkat legislator.
Diubah oleh buayaterbang
Perang terjadi saat pihak pihak saling membenci.

Bedanya konflik di negara lain dominan disebabkan perbedaan politik.

Kalo di negara arab dominan karena perbedaan ideologi dan kepentingan ekonomi terutama berakar pada minyak.

Kesamaanya :

Awal perang adalah ketamakan, kerakusan, rasa iri dan idealisme akut yang berlanjut pada kebencian.
Diubah oleh EVANZSKO
Kemungkinan lain adalah...

Hobi
Diubah oleh EVANZSKO
sulit bree soalnya israel ZIONIS bukannya yahudi orthodox

coba klo timteng isinya yahudi orthodox,kristen timur (koptik,armenia,orthodox) sma islam pasti intensitas perangnya akan berkurang karena mereka punya kesamaan

-TUHAN 1 WUJUD
-Penutup kepala kalo ketempat ibadah bagi perempuan
-No babi
-Punya kiblat yg menghadap timur tengah
-tidak boleh buat patung
-mata ganti mata gigi ganti gigi,perangi mereka yg memerangimu

dan yg paling jelas persamaannya adalah tidak GENOSIDA aborigin n indian emoticon-Leh Uga
Diubah oleh jaloe46
Halaman 1 dari 3


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di