alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Apakah Kita Butuh Kompetisi Esports Khusus Perempuan?
3 stars - based on 5 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b397a87dac13e15468b4569/apakah-kita-butuh-kompetisi-esports-khusus-perempuan

Apakah Kita Butuh Kompetisi Esports Khusus Perempuan?

Apakah Kita Butuh Kompetisi Esports Khusus Perempuan?

Apakah kita butuh kompetisi esports khusus perempuan? via Glood Luck Have Fun


Pembahasan isu kesetaraan gender di dunia ini masihlah jauh dari selesai. Isu tentang pemisahan kategori laki-laki dan perempuan sudah menjadi isu yang mendarah daging dalam suatu kompetisi, terutama pada turnamen olahraga tradisional.

Banyak yang berpendapat bahwa pemisahan kategori di olahraga tradisional tidak berlandaskan isu kesetaraan gender. Perempuan dan laki-laki memiliki karakteristik biologis yang berbeda sehingga tidak bisa dimasukkan ke dalam kategori yang sama. Pembagian kategori berdasarkan jenis kelamin sama saja dengan pembagian kategori berdasarkan berat badan pemain. Keduanya dilakukan demi menciptakan kompetisi yang adil.

Apakah Kita Butuh Kompetisi Esports Khusus Perempuan?

Keadilan gender via Firebrand Talent


Akan tetapi, kompetisi dalam esports ‘hanya’ mengandalkan kemampuan, ketepatan, kecepatan, serta kerjasama tim. Tidak ada batasan biologis untuk membangun skill tersebut karena perempuan dan laki-laki memiliki kapasitas yang sama dalam hal kemampuan kognitif. Beberapa turnamen besar esports bahkan tidak melarang perempuan untuk berkompetisi di ranah mereka.

Lalu, mengapa tetap ada pertandingan khusus perempuan di esports?

Walaupun perempuan tidak memiliki hambatan biologis, namun perempuan tetap memiliki hambatan budaya patriakal yang secara turun temurun membayanginya di setiap pilihan kehidupan yang ia jalani.

Sebenarnya, stigma terhadap gamer secara umum juga belum bernilai positif. Masih banyak orang-orang yang menyepelekan profesi sebagai gamer karena game itu sendiri sering dianggap sebagai kegiatan tidak produktif yang hanya digunakan untuk bersenang-senang dan sekedar pengisi waktu senggang.

Namun perempuan menghadapi stigma yang berlipat ganda. Bukan hanya stigma sebagai gamer tapi juga sebagai perempuan.

Hambatan terbesar gamer perempuan untuk bisa berada di kompetisi yang sama dengan laki-laki adalah stigma sebagai perempuan yang menempel di pundaknya. Stigma bahwa perempuan tidak mampu bermain di ranah yang sama dengan laki-laki, tidak hanya datang dari orang lain namun dari diri perempuan itu sendiri.

Apakah Kita Butuh Kompetisi Esports Khusus Perempuan?

via Pexels


Contoh perlakuan seksis di dalam komunitas esports yang kerap dianggap sebagai hal yang biasa; adalah pada tingkat kewajaran yang ditoleril ketika gamer laki-laki mengorbankan waktu tidur, mandi, bahkan makannya untuk melatih kemampuan bermain mereka.

Namun bila gamer perempuan melakukan hal yang sama, maka yang mereka korbankan bukan hanya waktu tidur, mandi dan makan, tetapi juga nilai keperempuanannya berdasarkan nilai gender yang normatif atas dasar patriarki. Tak sedikit gamer perempuan yang dicemooh karena terlalu sering bermain dengan laki-laki dan tidak bertingkah layaknya perempuan pada umumnya.

Belum lagi kata-kata “bermain seperti perempuan” yang sering dilontarkan kepada gamer yang memiliki performa bermain yang buruk, seolah-olah menggunakan kata “perempuan” sebagai ungkapan merendahkan adalah hal yang biasa.

Pada akhirnya, tidak sedikit perempuan yang merasa bahwa mereka pantas diperlakukan sebagai makhluk lemah. Bahwa, jika kemampuan bermain mereka lebih rendah dari laki-laki itu adalah wajar, karena toh mereka hanyalah perempuan.

Fenomena ini akan berlanjut hingga gamer perempuan merasa normal dan pantas jika ditempatkan di kompetisi khusus perempuan dan diberi hadiah yang jauh lebih kecil dibandingkan hadiah turnamen esports pada umumnya.

Apakah kita memerlukan kompetisi khusus perempuan di esports?

Kompetisi khusus perempuan bukanlah sebuah solusi tepat untuk mengakhiri stigma terhadap gamer perempuan. Kompetisi khusus perempuan biasanya hanya dipandang sebagai ajang pelengkap untuk memeriahkan pertandingan esports.

Hal tersebut justru membuktikan bahwa gamer perempuan tidak mampu bertanding bersama gamer laki-laki. Kompetisi khusus perempuan justru menonjolkan diskriminasi gender yang seharusnya dihilangkan.

Jika saat ini perempuan dianggap belum mampu berkompetisi di ranah turnamen berskala premier atau major, toh masih ada turnamen tingkat amatir yang tidak dibatasi oleh gender. Membiasakan diri untuk berkompetisi dengan laki-laki dan bahkan bisa menang tentunya akan memberi citra positif terhadap gamer perempuan. Tidak ada lagi alasan untuk menyepelekan eksistensi gamer perempuan dan tentunya tidak ada lagi suara-suara bernada seksis yang membatasi gamer perempuan dalam mengembangkan kemampuannya sebagai seorang atlet esports.

Apakah Kita Butuh Kompetisi Esports Khusus Perempuan?

Sasha “Scarlett” Hostyn via Supreme Tech News


Salah satu atlet perempuan StarCraft II yang mampu mengikuti turnamen major dan premier, dan berhasil memenangkan beberapa di antaranya, adalah Sasha “Scarlett” Hostyn.

Apa yang harus dilakukan gamer perempuan untuk tetap berprestasi?

Dalam lingkungan yang masih patriarkal, tidak heran jika terkadang masih ada perempuan yang merasa nilai dirinya bergantung dari opini laki-laki terhadap dirinya.

Well, setiap perempuan tidak perlu menjadi seorang feminis untuk dapat membebaskan diri dari jeratan patriarkal yang memandang dirinya sebagai “hanya seorang perempuan”. Mereka hanya perlu menyadari bahwa mereka bukanlah sekedar pelengkap laki-laki.

Melakukan reformasi besar-besaran dalam mengubah pemikiran patriarkal yang diwarisi dari nenek moyang bukanlah hal yang mudah, walaupun bukan juga hal yang tidak mungkin.

Namun langkah paling efektif untuk membebaskan diri dari jeratan budaya patriarki adalah berhenti berpikir bahwa kamu hanyalah perempuan. Stigma perempuan terhadap peran gendernya sendiri memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap kemajuan karirnya.

Seperti pesan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudji Astuti dalam memperingati Hari Perempuan Internasional, “… Jangan berpikir apa yang bisa aku lakukan sebagai perempuan, pikirkan apa yang bisa aku lakukan sebagai individu untuk dapat berkontribusi kepada masyarakat ….“ Pesan tersebut tentunya berlaku kepada semua perempuan, baik yang berkarir maupun yang berperan sebagai ibu rumah tangga.

Ketika atlet perempuan berhenti melihat keberadaan dirinya dalam komunitas esports sebagai pelengkap atau pemenuh demand laki-laki, dan mulai memfokuskan diri dalam mengembangkan kemampuan berkompetisi sebagai atlet esports, bukan sebagai atlet perempuan; maka persepsi gender terhadap dirinya pun secara perlahan akan berubah. Pada akhirnya, kicauan-kicauan bernada seksisme yang kerap membuntuti mereka dapat dieliminasi melalui prestasi dan penghargaan yang dicapai.

Sumber : esportsnesia.com
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 4
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 15
iya, buatin aja lah, biar ga ribet
ora butuh emoticon-Leh Uga
Diubah oleh mukhlys
emang gabisa dicampur gan?
gak, gak perlu
Dia kan mau eksis juga
Buatin aja lah biar sama sama enak emoticon-Smilie
Sbenarnya gk perlu

Laki-perempuan smaa aja dalam hal game

Gk usah di kotak2kan
Kalo esport mah ga usah.. kecuali yg berhubungan dengan fisik langsung.. baru dibedain...
ya itu sebanding dg laki laki
Ingat gan skrg udah 2018
Perempuan sudah mulai pintar emoticon-Jempol
Jelas butuh lah emoticon-Leh Uga
Setuju gan, dibuat aja biar tambah seru emoticon-Games
butuh dong gan,,, karena otak cw dan cowok beda jauh emoticon-Betty
Turnamen catur itu dibedakan gender ga? Kenapa? Gitu aja kan. emoticon-Embarrassment
udah banyak atlit esport di indo.
Catur sama bola sodok aja dibedah kok emoticon-Big Grin

Tapi harusnya ngga perlu aja sih untuk tipe tipe ngeteam. Kalau RTS 1v1 itu...
Diubah oleh hendiii1211
jangan lah gan
yang cowo aja susah cari kerja, cewe mau ambil lapak naks warnet nih ?
emoticon-Ngakak
Gak usah deh kayaknya
Kalo untuk perempuan, apa aja Ane setubuh... Seperti halnya pepatah Ukraina yang mengatakan:

Povnyy obsyah ochi mih bachyty, prote, plechi ne nese vaha: nezalezhno vid toho, naskilʹky seryozno strazhdanʹ lyudey, yaki bachatʹ yoho, shche bilʹshe vahy dlya tykh, khto vidchuvayut...

emoticon-Goyang emoticon-Goyang emoticon-Goyang
Diubah oleh adolfsbasthian
kayanya meningan bagusan kompetisi memasak broo
Halaman 1 dari 4


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di