alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Jangan Remehkan Golput
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b392ebd902cfef4218b4570/jangan-remehkan-golput

Jangan Remehkan Golput

Jangan Remehkan Golput
Golput menjadi momok, padahal mampu melahirkan harapan politik baru.

Artikel ini pertama kali tayang di PinterPolitik.com
Gelaran Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 tunai sudah. Kini giliran analisis hingga euforia yang tersisa dan terasa. Di tengah gempita tersebut, CNN menurunkan laporan jika golongan putih (golput) ternyata masih menghantui dan belum benar-benar punah dalam gelaran Pilkada 2018.

Pemberitaan yang tampil di CNN memang belum menampilkan data dan angka yang pasti dalam menyebut aktivitas golput. Hal tersebut wajar sebab Komisi Pemilihan Umum (KPU) atau lembaga sejenis belum mengeluarkan laporan Pilkada 2018.

Namun bila hendak menelisik sendiri, partisipasi masyarakat dalam gelaran Pilkada di beberapa daerah, terutama daerah dengan populasi penduduk terbanyak, mengalami peningkatan. Provinsi Jawa Barat yang menduduki kursi populasi terpadat di Indonesia mengalami peningkatan angka partisipasi politik dari yang hanya sebesar 63 persen di tahun 2013, sekarang bertengger di angka 73 persen.

Daerah Jawa Timur yang menempati daerah terpadat kedua di Indonesia, mengalami kenaikan dari angka 59,80 persen di tahun 2013, menjadi 62 persen di Pilkada 2018. Provinsi Jawa Tengah, yang hanya berkisar di angka 63 persen, kini melonjak di angka 77 persen. Dan Sumatera Utara, sebagai provinsi terpadat keempat di Indonesia juga mengalami peningkatan partisipasi di bawah 50 persen, lalu pada Pilkada tahun ini bergerak di angka 64,90 persen.

Jangan Remehkan Golput


Berangkat dari sana, apakah benar golput akan selalu menjadi pilihan buruk? Apakah kenaikan angka partisipasi politik ini tak ada hubungannya sama sekali dengan keberadaan golput?


Golput, Dulu dan Kini
Pelawak asal Amerika Serikat (AS), Kin Hubbard, pernah berkata, “saya ingin memilih orang terbaik untuk menjadi pemimpin, sayangnya mereka semua bukanlah kandidat yang ada saat ini.”

Celoteh Hubbard bisa sejalan dengan kelompok yang melakukan golput, yakni kelompok atau individu yang tidak menggunakan hak pilih politiknya untuk memilih kandidat yang ada atas alasan tertentu. Karena enggan memakai haknya, kelompok golput seringkali dicap sebagai kelompok atau individu apatis, anti demokrasi, bahkan tak peduli dengan negara. Dalam beberapa kesempatan, bahkan kata golput juga menjadi momok tersendiri bagi pemerintah atau politisi sebab mampu mempengaruhi perolehan suara kandidat yang bertanding.

Dalam teori protest voting, gerakan golput tidak mengindahkan kandidat yang ada, walau nyatanya berpotensi sekalipun, guna mengirim sinyal protes kepada pemerintah dan harapan mendapatkan kandidat yang lebih baik.

Peyorasi yang berputar di kata “golput” makin mereduksi gerakan politik yang bisa dikatakan signifikan dan berani di masa Orde Baru. Gerakan golput ideologis yang dilakukan di tahun 1990-an dan digawangi oleh Arief Budiman, menjadi gerakan moral bagi rakyat Indonesia untuk menggunakan hak dan keyakinannya untuk tidak memilih siapapun. Golput saat itu juga menjadi kritik terhadap Orde Baru, karena dengan atau tanpa adanya Pemilu, kekuatan yang akan menang adalah TNI dan ABRI.

Gerakan golput ideologis dengan tujuan mengkritik rezim juga terjadi di Malaysia baru-baru ini. Pada masa Pemilu Raya yang mempertemukan Mahathir Mohamad dan Najib Razak, sekelompok pemuda Malaysia muncul dengan tagar #UndiRosak mempromosikan gerakan golput alias tidak memilih Najib Razak maupun Mahathir Mohamad.

Jangan Remehkan Golput
Mahathir dan Najib Razaq (sumber: istimewa)


Gerakan golputnya juga tidak dilakukan dengan meninggalkan tempat pencoblosan, namun juga merusak kertas suaranya, sesuai bunyi tagar #UndiRosak yang berarti rusak kertas undi.  Hal tersebut dilakukan supaya partai politik tidak memanfaatkan kertas suara yang kosong tersebut. Gerakan ini juga diiniasi oleh para anak muda yang pernah berkecimpung di Barisan Nasional dan Pakatan Harapan, ikatan koalisi pemerintah.

Mereka mengaku lelah karena belum juga bisa memperbaiki sistem di dalamnya walau sudah bergabung dengan Barisan Nasional maupun Pakatan Harapan. “Terdapat defisit demokrasi, kami meninggalkan BN-PH sejujurnya karena ini semakin melelahkan,” ujar Maryam Lee, salah satu aktifis #UndiRosak.

Di Italia, bahkan gerakan golput mampu menjadi mesin politik baru, yakni partai politik Five Star Movement (M5S) yang berdiri di tahun 2009. Partai yang penuh kontroversi ini, karena didirikan oleh seorang komedian bernama Beppe Grillo, mengusung ideologi anti-establishment atau anti pemerintah. Kini setelah hampir satu dekade berdiri, para politisinya terus bergerak menyebarkan nilai populisme.
Melihat dari contoh-contoh yang ada, gerakan golput sulit untuk dikatakan sebagai sebuah ekspresi apatis, tak paham politik, apalagi anti-demokrasi. Arief Budiman dan kelompok #UndiRosak di Malaysia yang menggalakan gerakan golput, malah memperlihatkan kesadaran dan pemahaman politik serta keadaan negaranya.

Golput dipilih sebagai jalan menandingi rezim otoriter atau yang sedang memegang tampuk kekuasaan, karena itulah ekspresi protes yang paling dekat dilakukan. Dengan cara demikian pula, kelompok golput ini berusaha mengembalikan kembali makna demokrasi yang sesungguhnya. Bagaimana pula, golput juga merupakan bentuk sikap politik dan dilindungi oleh HAM.

Pilihan golput juga tidak otomatis membuat suatu kelompok atau individu, tak berhak mengkritik pemerintah, sebab kontrak politik rakyat berada di konstitusi, bukan berada di kertas suara.

Hal ini mengingatkan pada perkataan Horst Kahrs, peneliti Jerman sekaligus konsultan Rosa Luxemburg Foundation, bahwa golput secara sosial dan politik memiliki intensi, motif, dan preferensi politik yang heterogen nan beragam. Golput merupakan taktik ampuh yang dipegang oleh rakyat kebanyakan.

Dengan demikian, dari contoh dipaparkan, setidaknya ada gambaran lebih terang soal golput ideologis yang memang berangkat dari ketiadaan aspirasi atau ideologi yang tak terwakili oleh kandidat yang ada. Jenis golput inilah yang akhirnya menumbuhkan gerakan kritik dan “lawan” dari pemerintah yang sedang berkuasa seperti yang terjadi di Italia.


Kini Mulai Berbalik Arah
Partisipasi politik rakyat tentu saja tak hanya bisa diekspresikan dengan pencoblosan di bilik pemilihan. Mengawal pemerintahan yang sedang berjalan, mengadvokasi rakyat, hingga menciptakan pemilih yang cerdas, bisa pula dikategorikan sebagai bentuk partisipasi politik.
Bila melihat kembali maknanya, apakah di masa pasca Reformasi ini, golput menyumbang nilai-nilai tertentu?
Golput yang terjadi di masa Orde Baru memang lebih diartikan sebagai gerakan moral untuk memprotes penerapan sistem pemilu yang tidak demokratis saat itu. Kini fenomena tersebut tentu berubah pasca Reformasi.

Angka Golput memang sempat naik di tahun 2009. Hal ini membuat pemerintah dan lembaga pemilihan gencar melakukan berbagai cara guna mengurangi angka golput dan menaikkan angka partisipasi politik yang ada.

Penelitian yang dilakukan oleh Bismar Arianto, mengklasifikasikan adanya faktor internal dan eksternal golput. Faktor internal lebih disebabkan oleh persoalan teknis, seperti tidak menggunakan hak pilih karena sedang bekerja atau sakit. Sementara faktor eksternal terjadi karena persoalan seperti masalah administrasi, sosialisasi, dan sikap politik.

Dalam konteks ini, pemilih bisa saja tidak memilih karena terkendala administrasi. Atau karena faktor sosialisasi yang tidak merata sehingga pemilih merasa tidak perlu menggunakan hak pilihnya.

Menghadapi konteks internal dan eksternal, saat ini pemerintah mulai membenahi dan mengubah mekanisme pemilu. Bila berkaca pada Pilkada lalu, Presiden Jokowi menetapkan hari pencoblosan sebagai hari libur nasional guna mengurangi hambatan faktor internal. Serta sosialisasi yang gencar dilakukan jauh-jauh hari sehingga masyarakat mengetahui pelaksanaan Pilkada.

Golput bagaimana pula berkontribusi memaksa pemerintah untuk menyelenggarakan pemilihan dengan sistem dan mekanisme yang jauh lebih baik. Hal ini sejalan pula dengan teori perubahan paradigma alias paradigm shift yang berbicara tentang perubahan pola terdahulu yang berubah karena adanya sebuah momentum. Baik karena adanya tokoh tertentu maupun perbaikan mekanisme.

Momentum yang berbeda ini ditandai dengan partisipasi publik yang meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Dengan demikian, golput tak perlu lagi disamaratakan dengan sikap apatis apalagi ekspresi alienasi terhadap politik dan negara. Tentu, tidak bila jenis golput yang diyakini adalah golput ideologis. Sebab, dengan adanya kesadaran golput itu pula, ternyata harapan politik baru ikut muncul.





Artikel ini pertama kali tayang di Pinterpolitik.com
Sumber: Jangan Remehkan Golput

Urutan Terlama
Halaman 1 dari 2
panjang gan kisah nya...
to the point aje.inti nya apa bre ?
Kira-kira bagaimana caranya pemerintah mengatasi pemilih yang diluar wilayahnya.
Misalnya pekerja atau mahasiswa.
Misalkan saja pilgub, pilwalkot atau pilbub di Indonesia Timur.
Lalu pemilih yang berstatus mahasiswa atau pekerja dari Indonesia Timur ada di Pulau Jawa.
Bakal golput atau pulang ke provinsi masing2 dengan biaya transportasi ditanggung sendiri?

Sepertinya perlu pemilihan elektronik buat para perantau

emoticon-Bingung emoticon-Bingung
golongan putih
Golput itu hak asasi....
"Nyoblos" itu kewajiban emoticon-Genit

Btw....
Pilihan A.baik....B.jelek

Karena C.golput...A.kalah....
B.memimpin--->C.ngomel2....kritik....caci -maki kan lucu.....??


Ane lebih respect pada nasbung dari pada golputer...minimal mereka punya pilihan walau GOBLOK......ahh sudahlah emoticon-Big Grin



kenapa sampe ada istilah golput ya. kalau golput = ga milih = putih berarti yang milih jadi item ya? apa karena tinta abis nyoblos ya? emoticon-Bingung
Sayah golput dan saya bangga emoticon-Cool
Quote:


Mungkin ke depannya akan seperti itu.
Tapi bakal timbul masalah keamanan pada nantinya. Intinya, infrastruktur pemilu harus disempurnakan terlebih dahulu
Golongan puting
Golput bebas mah emoticon-Leh Uga
kmaren golput karena liburnya pas tengah weekday. sehari doank. mau mudik ya capek kalo cuma sehari doank. dan daerahnya udah beda provinsi jadi gak bisa nyoblos disini. emoticon-Frown
pokoke mangkat, coblosi kabeh, gudjob emoticon-Leh Uga
Quote:


Kan udah ada e-KTP
Tinggal buat aplikasinya
Masa negara ini nggak mampu buat aplikasinya sih.
Tinggal vote dari hape masing2

emoticon-Leh Uga
Quote:


yup, sama emoticon-shakehand:
Memilih dan gak milih, perbedaannya gak terlalu signifikan sih. Buat apa buang-buang waktu di TPS untuk kalau tidak ada perubahan yang signifikan emoticon-Traveller
Golput itu artinya pasrah
emoticon-Toast
Mau nastak yg menang atw pun nasbung yg menang, mereka percaya itu adalah jalan yg terbaik yg sdh ditakdirkan unt bangsa ini
Quote:


hayoo bro baca hehe
Dah cape2 antre milih jg ga ada hasilnya. Inget milih artinya harus tanggung jawab ama yg dipilih, ntu klo waras.
Gw golput 2014. Ga nyesel,justru asik bisa sepak2in nastakdongok emoticon-Ngakak (S)

2019,gw akan nyoblos and dukung siapapun,mau itu wowow kek wawaw kek,yg penting bukan jokoblog.
Quote:


Ada formulirnya kok. Utk nyoblos di tempat lain. Tapi ya harus pro aktif ngurus pindah tps jauh2 hari. Perlu kesadaran dari voters sendiri. Dia mau apa gak mengorbankan waktu dan tenaga utk ngurus pindah tps demi hak pilihnya. Jatuhnya kebanyakan ya males. Orang ngecek nama di DPT aja banyak yg enggak.
Quote:


Itu kan kalau masih dalam satu provinsi untuk milih gubernur
Yang aku bahas kalau milih gubernur di Indonesia Timur misalnya
Emang bisa dari jakarta?
Kan bisa saja ada mahasiswa dari Indonesia Timur yang di Jakarta
Kira2 dia bakal balik nggak ke provinsi asalnya dengan perkiraan tiket pesawat 3 juta PP
Kira-kira bakal balik gak buat nyoblos aja
emoticon-Bingung emoticon-Bingung
Halaman 1 dari 2


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di