alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Berita Luar Negeri /
10 Negara Paling Tidak Aman Bagi Perempuan, Ada Amerika Serikat
4 stars - based on 8 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b348efbc1d770591f8b4569/10-negara-paling-tidak-aman-bagi-perempuan-ada-amerika-serikat

10 Negara Paling Tidak Aman Bagi Perempuan, Ada Amerika Serikat

- India dinobatkan sebagai negara paling berbahaya di dunia bagi perempuan dalam survei ahli global yang dirilis pada Selasa, 26 Juni 2018 dengan Amerika Serikat berada di peringkat 10.
India tidak sendirian, survei yang digelar Thomson Reuters Foundation terhadap 550 ahli tentang isu-isu perempuan, menempatkan Afghanistan dan Suriah di urutan kedua dan ketiga, dengan Somalia dan Arab Saudi diurutan berikutnya.

Survei itu hampir mengulang jajak pendapat serupa pada 2011 yang memberi peringkat negara paling berbahaya bagi wanita seperti Afghanistan, Republik Demokratik Kongo, Pakistan, India, dan Somalia.
Tapi sekarang Amerika Serikat termasuk dalam daftar dan menjadi satu-satunya negara Barat dalam daftar ini. CNN melansir ini terkait dengan munculnya gerakan @MeToo, yang ramai muncul di AS sejak tahun lalu terkait berbagai tindakan pelecehan seksual yang dialami perempuan AS dari mulai warga biasa hingga aktris Hollywood.

Laporan itu menanyakan lima dari 193 negara anggota PBB yang dianggap paling berbahaya bagi perempuan dan yang terburuk untuk perawatan kesehatan, sumber daya ekonomi, praktik tradisional, pelecehan seksual dan non-seksual, dan perdagangan manusia.

Berikut adalah daftar peringkat 10 negara yang paling berbahaya bagi wanita berdasarkan survei, yang digelar antara 26 Maret dan 4 Mei 2018, seperti dilansir Sydney Morning Herald dan Reuters pada 26 Juni 2018:
1. India
Tingkat kekerasan terhadap perempuan masih tinggi setelah lebih dari lima tahun pasca peristiwa perkosaan dan pembunuhan seorang pelajar di sebuah bus di Delhi. Peristiwa ini memicu kemarahan nasional dan janji pemerintah untuk mengatasi masalah ini.
India digolongkan sebagai negara paling berbahaya pada tiga isu - risiko yang dihadapi perempuan dari kekerasan dan pelecehan seksual, dari praktik budaya dan tradisional, dan dari perdagangan manusia termasuk kerja paksa, perbudakan seks dan perbudakan domestik.
2. Afghanistan
Para ahli mengatakan perempuan menghadapi masalah yang mengerikan hampir 17 tahun setelah penggulingan Taliban. Peringkat sebagai negara paling berbahaya bagi perempuan di tiga bidang - kekerasan non-seksual, akses ke perawatan kesehatan, dan akses ke sumber daya ekonomi.
3. Suriah
Setelah tujuh tahun hidup dalam kondisi perang, Suriah merupakan salah satu negara paling berbahaya kedua bagi perempuan dalam hal akses terhadap perawatan kesehatan dan kekerasan non-seksual, yang mencakup kekerasan terkait konflik serta pelecehan dalam rumah tangga.
4. Somalia
Keempat setelah terperosok dalam konflik sejak 1991. Peringkat sebagai negara paling berbahaya ketiga bagi perempuan dalam hal akses ke layanan kesehatan dan menempatkan mereka pada risiko budaya dan praktik tradisional yang berbahaya. Dinamakan sebagai negara terburuk kelima dalam hal perempuan memiliki akses ke sumber daya ekonomi.
5. Arab Saudi
Secara keseluruhan berada di posisi kelima, tetapi kerajaan konservatif ini dinobatkan sebagai negara paling berbahaya kedua bagi perempuan dalam hal akses ekonomi dan diskriminasi, termasuk di tempat kerja dan dalam hal hak kepemilikan. Saudi berada di peringkat kelima dalam hal risiko yang dihadapi perempuan dari praktik budaya dan agama.
6. Pakistan
Keenam paling berbahaya dan keempat terburuk dalam sumber daya ekonomi dan diskriminasi serta risiko yang dihadapi perempuan dari praktik budaya, agama dan tradisional, termasuk apa yang disebut pembunuhan demi kehormatan. Pakistan menduduki peringkat kelima pada kekerasan non-seksual, termasuk kekerasan dalam rumah tangga.
7. Republik Demokratik Kongo
Terdaftar berada di peringkat ketujuh dengan PBB memperingatkan jutaan orang menghadapi kondisi kehidupan yang mengerikan setelah bertahun-tahun mengalami pertumpahan darah dan pelanggaran hukum. Peringkat sebagai negara paling berbahaya kedua bagi perempuan untuk kekerasan seksual.
8. Yaman
Kedelapan setelah peringkat buruk pada akses ke perawatan kesehatan, sumber daya ekonomi, risiko dari praktik budaya dan tradisional, dan kekerasan non-seksual. Yaman masih berada di tengah krisis kemanusiaan paling mendesak di dunia dengan 22 juta orang membutuhkan bantuan penting karena saat ini sedang terjadi perang besar antara kelompok Houthi melawan pemerintah yang didukung Arab Saudi.
9. Nigeria
Kelompok-kelompok Hak Asasi Manusia menuduh militer negara itu melakukan penyiksaan, pemerkosaan, dan pembunuhan terhadap warga sipil selama sembilan tahun melawan milisi Boko Haram. Nigeria dinobatkan sebagai negara paling berbahaya keempat bersama dengan Rusia ketika menyangkut perdagangan manusia. Tercantum di urutan keenam terburuk pada risiko yang dihadapi perempuan dari praktik tradisional.
10. Amerika Serikat
Satu-satunya negara Barat dalam daftar ini dan berada di peringkat 10 teratas dan ketiga bersama dengan Suriah untuk risiko yang dihadapi perempuan dalam hal kekerasan seksual, termasuk pemerkosaan, pelecehan seksual, paksaan ke dalam seks dan kurangnya akses ke pengadilan dalam kasus perkosaan.
Survei ini dilakukan setelah kampanye #MeToo menjadi viral pada 2017 dengan ribuan wanita menggunakan gerakan media sosial untuk berbagi cerita tentang pelecehan seksual yang mereka alami. Sejumlah tokoh publik perempuan muncul ke permukaan.

https://dunia.tempo.co/read/1101140/...merika-serikat
Urutan Terlama
jijik lihat pria paok yang suka memperkosa wanita
emoticon-Turut Berduka
Quote:


Kalau anak bayi perempuan yg diaborsi di cina gmn yan?
Quote:


itu kan propaganda barat sembarangan main fitnah

coba pakai logika pikir otak sehat
kalau tdk ada perempuan di china
mana mungkin lagi china jadi negara populasi penduduk terbesat nomor satu di dunia
pria & wanita menikah...seks & buat keturunan

Amerika jadi nggak aman bagi perempuan gara-gara saudara se-ras-nya si Drunktod Ayan tuh, para black africans yang suka memburu wanita kulit putih.
Quote:

Ah masak sih?
Kan mau nya cina" kan anak cowok
emoticon-Big Grin
Apalagi hukum 1 anak

Gmn ?
Quote:


Si ahyan itu makhluk hybrid cimed x nigger emoticon-Ngakak (S)
Quote:


10 Negara Paling Tidak Aman Bagi Perempuan, Ada Amerika Serikat

dranktod


Quote:


10 besar negara tukang boker
ada china disitu emoticon-Najis
emoticon-fuck tembak mati aja pelaku pelecehan seksual itu
In China, they say that there are three genders: male, female, and female PhD. “It’s a joke that means we’re asexual and not feminine enough,” says Deng, a 27-year-old sociology PhD candidate from China’s southern province of Hunan, sitting at a small metal table outside the main library at Hong Kong University.
Deng, who asked only to be identified by her surname, is one of over 100,000 Chinese women who have been branded as the country’s next generation of spinsters. According to their many critics, they are aloof, unattractive, self-important careerists who, according to some Chinese academics and officials, threaten the country’s very social fabric by putting education before family.
Deng defies the stereotype. She is talkative, with a high, soft voice and a short bob that gives her a cherubic look. She is researching conditions at Chinese factories in the hopes of improving life for workers. One of her interviewees, a worker in the manufacturing hub of Guangzhou, was shocked to learn that she was working toward a PhD. “You’re not bad looking even though you’re a PhD,” Deng recalls him saying.
Today, more Chinese women are seeking advanced degrees than ever before. But as their numbers increase so do the criticism and ridicule leveled at them. It’s a worrying reflection, gender experts say, of increasingly conservative Chinese attitudes toward women even as the country’s citizens grow richer and more educated.
Stereotypes about female PhD students are part of broader worries in China over the number of women becoming shengnu, “leftover women”— those who have reached the ripe age of 27 without marrying. “Women are seen primarily as these reproductive entities, having babies for the good of the nation,” Leta Hong Fincher, author of the book Leftover Women: The Resurgence of Gender Inequality in China, told Quartz.
But the derision towards those with or earning PhDs, who typically don’t finish their degrees until the age of 28 or later, is particularly vitriolic. “There is a media-enforced stigma surrounding women with advanced degrees,” Fincher said, and much of this manifests online in social media.
In a recent discussion thread titled, “Are female PhDs really so bad to marry?” on a popular Chinese forum similar to the question-and-answer site Quora, one user posted (link in Chinese), “They are unscrupulous, hypocritical, filthy, and weak.” A user of the Chinese microblog Weibo wrote in September, “Female PhDs are the tragedy of China’s leftover women.” In an online poll on Weibo last January, 30% of over 7,000 voters said they would not marry a woman with a PhD (Chinese).
Aside from being called the “third gender,” female PhD students have also been nicknamed miejue shitai or “nun of no mercy” after a mannish Kung Fu-fighting nun in a popular Chinese martial arts series. They are sometimes referred to as “UFOs,” an acronym for “ugly, foolish and old.” At Sun Yat Sen University in Guangzhou, where Deng does some of her research, male students refer to the dormitory for female PhD students as the “Moon Palace,” the mythical home of a Chinese goddess living in painful solitude on the moon, with only a pet rabbit for company. “It’s like it’s a forbidden place where a lonely group of female PhD students live and no man wants to go,” Deng says.



https://qz.com/312464/in-china-highl...-third-gender/


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di