- Beranda
- Komunitas
- News
- Berita dan Politik
Speedboat BNPB Mangkrak Di Pinggiran Danau Toba
TS
kellyrp
Speedboat BNPB Mangkrak Di Pinggiran Danau Toba

SPEEDBOAT milik BNPB yang mangkrak di pinggiran Danau Toba, Bakkara, Kab. Humbahas.
Quote:
DOLOKSANGGUL (Waspada):Pasca tragedi tenggelamnya Kapal Motor (KM) Sinar Bangun saat melintasi perairan Danau Toba dari pelabuhan Simanindo, Kab. Samosir menuju Tigaras, Kab. Simalungun, Senin (18/6) sekitar pukul 17.30 yang menelan banyak korban jiwa, menguak borok kinerja Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Satu unit kapal cepat (speedboat) yang ditempatkan pihak BNPB di perairan Danau Toba, Bakkara, Kec. Baktiraja, Kab. Humbang Hasundutan (Humbahas), ternyata sejak dua tahun lalu sama sekali sudah tak berfungsi.
Kapal cepat berwarna orange ciri khas BNPB dan Basarnas itu, kini mangkrak di semak-semak pinggiran Danau Toba, Batu Gaja, Bakkara. Kapal ini langsung disalurkan melalui BNPB pusat ke perairan Danau Toba di Kab. Humbahas dua tahun lalu.
“Kalau ada musibah di perairan Danau Toba, kapal ini sama sekali tak bisa digunakan. Karena mesinnya sama sekali tak bisa dihidupkan,” ujar Mangandar Purba, selaku pemegang kuasa untuk penitipan kapal itu, kepada Waspada Kamis (21/6).
“Dua tahun lalu saat diserahkan kepada saya kapal ini memang bisa dihidupkan. Namun beberapa bulan kemudian pihak BNPB Humbahas mengambil alat digital stater mesin kapal ini. Kapal ini tidak bisa dihidupkan secara manual. Jadi saya pun tidak tau apa gunanya kapal ini,” lanjut Mangandar.
Selain itu, kata dia, selaku orang yang dipercaya menjaga kapal ini, ia sama sekali tak pernah menerima upah dari pemerintah.
“Janganlah dulu soal upah, biaya perawatan kapal ini pun tak pernah ada. Padahal, saya dan anak saya selalu khawatir jika kapal ini rusak karena terus menerus berada di air. Karena, walau pun bahan kapal terbuat dari fiber, jika dibiarkan terus di danau pasti akan tenggelam. Makanya kapal ini kami tarik ke darat,” imbuhnya.
Terkait hal itu, Kepala BNPB Humbahas, Tumbur Hutagaol, saat ditemui di kantornya, Senin (21/6), tidak berada di tempat. Telepon selulernya, juga tidak aktif. Sedangkan Kepala Bagian Protokoler Humbahas, Lampos Purba yang dua tahun lalu menjabat Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik di instansi BNPB Humbahas, mengatakan bahwa alat digital stater speedboat tersebut saat diserahkan ke Pemkab Humbahas dulunya, harus diprogram lagi.
“Untuk memprogram pengaturan digital stater itu, alatnya dibongkar dan dikirim ke Jakarta. Langsung ke pihak BNPB pusat agar diprogram, dengan biaya kalau tidak salah sekitar Rp11 juta. Namun sampai sekarang saya tidak tau bagaimana ujungnya. Silahkan ditanya ke Kepala BNPB saja,” katanya. (chs)
KACAU
Satu unit kapal cepat (speedboat) yang ditempatkan pihak BNPB di perairan Danau Toba, Bakkara, Kec. Baktiraja, Kab. Humbang Hasundutan (Humbahas), ternyata sejak dua tahun lalu sama sekali sudah tak berfungsi.
Kapal cepat berwarna orange ciri khas BNPB dan Basarnas itu, kini mangkrak di semak-semak pinggiran Danau Toba, Batu Gaja, Bakkara. Kapal ini langsung disalurkan melalui BNPB pusat ke perairan Danau Toba di Kab. Humbahas dua tahun lalu.
“Kalau ada musibah di perairan Danau Toba, kapal ini sama sekali tak bisa digunakan. Karena mesinnya sama sekali tak bisa dihidupkan,” ujar Mangandar Purba, selaku pemegang kuasa untuk penitipan kapal itu, kepada Waspada Kamis (21/6).
“Dua tahun lalu saat diserahkan kepada saya kapal ini memang bisa dihidupkan. Namun beberapa bulan kemudian pihak BNPB Humbahas mengambil alat digital stater mesin kapal ini. Kapal ini tidak bisa dihidupkan secara manual. Jadi saya pun tidak tau apa gunanya kapal ini,” lanjut Mangandar.
Selain itu, kata dia, selaku orang yang dipercaya menjaga kapal ini, ia sama sekali tak pernah menerima upah dari pemerintah.
“Janganlah dulu soal upah, biaya perawatan kapal ini pun tak pernah ada. Padahal, saya dan anak saya selalu khawatir jika kapal ini rusak karena terus menerus berada di air. Karena, walau pun bahan kapal terbuat dari fiber, jika dibiarkan terus di danau pasti akan tenggelam. Makanya kapal ini kami tarik ke darat,” imbuhnya.
Terkait hal itu, Kepala BNPB Humbahas, Tumbur Hutagaol, saat ditemui di kantornya, Senin (21/6), tidak berada di tempat. Telepon selulernya, juga tidak aktif. Sedangkan Kepala Bagian Protokoler Humbahas, Lampos Purba yang dua tahun lalu menjabat Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik di instansi BNPB Humbahas, mengatakan bahwa alat digital stater speedboat tersebut saat diserahkan ke Pemkab Humbahas dulunya, harus diprogram lagi.
“Untuk memprogram pengaturan digital stater itu, alatnya dibongkar dan dikirim ke Jakarta. Langsung ke pihak BNPB pusat agar diprogram, dengan biaya kalau tidak salah sekitar Rp11 juta. Namun sampai sekarang saya tidak tau bagaimana ujungnya. Silahkan ditanya ke Kepala BNPB saja,” katanya. (chs)
KACAU
.
.
.
rusak, semua magabut.
0
2.7K
Kutip
34
Balasan
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan