alexa-tracking

Ath-Tha-Ifah Al-Manshurah

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b1bfbf41cbfaa0c0b8b4577/ath-tha-ifah-al-manshurah
Ath-Tha-Ifah Al-Manshurah
Mukkadimah


Ath-Tha-Ifah Al-Manshurah


Ath-Tha-Ifah Al-Manshurah


Ath-Tha-Ifah Al-Manshurah


Genre : Drama, Religi, Histori, Romance, Slice Of Life

Salam kenal. Nama gua Ahmad. Gua anak ke tiga dari tiga bersaudara, ayah gua keturunan Rasulallah Shalallahu 'Alaihi Wassalam, jadi bisa dibilang gua juga keturunan dari Rasulallah, yaps benar gua ahlul bait. Di dalam nama gua ada marga dari banten yang khusus diberi hanya untuk keturunan Rasulallah, jadi nama panjang gua Tubagus Ahmad bin Muhammad, nama abah gua Muhammad.

Umur gua saat ini menginjak kepala tiga, gua punya satu istri, yang satunya lagi masih dalam tahap perencanaan, yang satunya lagi masih dalam tahap hayalan, yang satunya lagi belum kepikiran.

Kehidupan gua tidak seperti anak-anak ahlul bait pada umumnya, rata-rata para ahlul bait hidup berkecukupan dan menyandang gelar kehormatan, seperti Habib ataupun Sayyid dan banyak lagi, kehidupan mereka terjamin dan mereka dicintai orang-orang, tapi gua gak berani memakai nama Marga gua, gua gak berani menyandang nama Tubagus di nama gua, walaupun faktanya gua keturunan Rasulallah gua gak akan mudah nyebut diri gua ahlul bait karena beberapa hal, jadi untuk beberapa saat, gua hapus nama Tubagus dari nama gua.

Dan ini lah ceritanya..


***

Quote:



Permulaan


Maret 1995/Syawal 1415

Beberapa Hari setelah Hari Raya


Subuh ini, mata terbuka karena mendengar panggilan dari seseorang yang paling gua sayangi, seseorang yang paling berharga di dunia ini, bahkan lebih berharga dari dunia ini sekalipun, ummi. Ummi membangunkan gua untuk segera menunaikan sholat subuh, dan gua disuruh bergegas ke Masjid di dekat rumah, umur gua saat ini 7 tahun hampir menginjak 8 tahun, tubuh kecil gua bangun sempoyongan menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu. Gua tinggal hanya berdua dengan Ummi gua, abah gua meninggal ketika gua masih di dalam kandungan, jadi sejak lahir hingga sekarang gua tidak sempat bertemu dengannya. Setelah selesai wudhu gua ambil senter dari dalam lemari yang berada di kamar gua, lalu segera menuju ke Masjid.

"Ahmad pergi dulu ya Ummi." Ucap gua

Gua menyalimi tangan ummi, dan mencium keningnya, lalu gua berjalan sendirian menuju masjid.

Setiap hari ummi selalu membangunkan gua, ummi selalu menasehati gua untuk tidak meninggalkan sholat, karena mau sehebat apapun kita, mau sekaya apapun kita, mau sepintar apapun kita, kita tidak ada artinya jika kita tidak mengingat pencipta. Karena dengan mendirikan sholat maka kita akan selalu mengingat sang pencipta, Allah Yang Maha Besar.

Sejak umur 3 tahun gua sudah di biasakan dengan Al-Quran, ketika gua berumur 7 tahun, sudah 5 juzz gua hapal. Semua itu berkat ummi, ummi tidak lupa mendoakan gua disetiap sholat dan di sela-sela waktunya, begitupun gua, gua tidak pernah lupa untuk mendoakan ummi.

Nasehat yang paling menyentuh bagi gua adalah ketika dia bilang bahwa gua mirip dengan abah, abah selalu menyayangi ummi dan setiap abah ingin berangkat sholat abah selalu mencium kening ummi, maka dari itu gua mengikuti apa yang dilakukan oleh abah, mencium kening ummi ketika gua mau berangkat sholat.

Sejak umur 5 tahun ummi sering mengajak gua datang ke majelis ilmu, gua lihat anak-anak yang datang ke majelis bermain dan berlari-lari, tapi gua tidak boleh melakukan hal itu oleh ummi, karena itu membuang-buang waktu. Gua di suruh mendengarkan pemateri dan mencatat apa yang di ucapkan oleh pemateri, gua disediakan buku kecil oleh ummi untuk menulis isi dari pemateri.

Sebenarnya gua iri dengan anak-anak lainnya yang besar dengan bermain, tapi gua yakin kemauan ummi lebih baik dari pada apa yang gua pikirkan.

Sesampainya di Masjid pak Thohir penjaga masjid menyapa gua.

"Ahmad, nanti sore kamu datang ya ke masjid, ada yang mau ketemu sama kamu." Ucapnya

"Iya pak." Balas gua

Gua masuk masjid dan sholat sunnah 2 rakaat sebelum subuh, seusai sholat sunnah gua berdoa untuk ummi kesehatan ummi, gua berdoa agar gua bisa membahagiakan ummi, gua berdoa agar ummi bisa menyayangi gua selalu, dan doa yang paling gua tekankan adalah, gua mau hafidz qur'an. Ummi pasti bangga dan gua mau memberikan mahkota untuk ummi gua di surga kelak.

Dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من قرأ القرآن وتعلم وعمل به أُلبس والداه يوم القيامة تاجاً من نور ضوؤه مثل ضوء الشمس ، ويكسى والداه حلتين لا تقوم لهما الدنيا فيقولان : بم كسينا هذا ؟ فيقال : بأخذ ولدكما القرآن

Siapa yang menghafal al-Quran, mengkajinya dan mengamalkannya, maka Allah akan memberikan mahkota bagi kedua orang tuanya dari cahaya yang terangnya seperti matahari. Dan kedua orang tuanya akan diberi dua pakaian yang tidak bisa dinilai dengan dunia. Kemudian kedua orang tuanya bertanya, “Mengapa saya sampai diberi pakaian semacam ini?” Lalu disampaikan kepadanya, “Disebabkan anakmu telah mengamalkan al-Quran.” (HR. Hakim 1/756 dan dihasankan al-Abani).

Selesai berdoa, muadzin mengumandangkan iqamah dan gua menunaikan sholat subuh.

Selesai sholat subuh, gua duduk di dalam masjid hingga menunggu waktu terbit, sembari mengulang hafalan quran. Ketika matahati terbit gua sholat sunnah dua rakaat, selesai sholat sunnah dua rakaat gua berjalan pulang, sesampainya di depan rumah gua bingung, pintu rumah gua tertutup, biasanya jam 6 ummi gua sedang menjemur pakaian, apa ummi ketiduran?

Gua masuk ke dalam rumah, pintu rumah tidak terkunci, gua berjalan ke arah kamar tapi gua tidak melihat ummi tidur, gua berjalan ke arah kamar mandi tapi ummi juga tidak ada, gua berjalan ke dapur dan betapa terkejutnya gua, ummi tergeletak di lantai, gua goyang-goyangkan tubuhnya dan memanggil-manggil namanya.

"Ummi, ummi." Kata gua

Ummi tidak merespond sama sekali, jantung gua berdegup kencang, gua sangat takut dan panik saat ini, lalu gua berlari keluar dan menuju rumah tetangga gua yang bernama pak Heldi dan istrinya Bu Sulas.

Gua lihat pak Heldi sedang meminum teh dan membaca majalah di depan rumahnya, gua hampiri dia dan meminta pertolongan.

"Pak, Ummi tidur di dapur. Aku goyangin badannya gak gerak pak." Kata gua

"Hah? Kamu serius!?" Pak Heldi kaget

"Iya Pak."

Pak Heldi memanggil istrinya, setelah itu mereka berdua berlari kedalam rumah gua, lalu tidak lama bu Sulas keluar dan memeluk tubuh kecil gua. Gua masih tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, gua diajak kerumahnya bu Sulas dan gua didudukan di ruang tamunya, tidak berselang lama rumah gua mulai ramai orang yang berkumpul. Ummi kenapa?

Gua masih duduk diam di ruang tamu bu Sulas sambil menunggu ada seseorang yang memberi tahu gua, tapi ternyata tidak ada satupun yang memberi tahu gua, malahan banyak dari mereka menghampiri gua dan mencium tangan gua, lalu banyak dari mereka yang memeluk-meluk gua, malah ada dari mereka yang menggunting baju gua. Untungnya pak Thohir datang dan menggendong gua dari kursi itu.

"Ummi kenapa pak?" tanya gua ke pak Thohir

"Ummi kamu pulang, Allah sayang sama ummi kamu." Jawab pak Thohir

Air mata gua mulai menetes ketika pak Thohir memberi tahu gua, rasanya seperi mustahil dan rasanya gua tidak sanggup untuk menerima kenyataan ini.

"Jadi Ahmad gak ketemu ummi lagi?" tanya gua

"Kamu pasti ketemu ummi lagi."

"Dimana pak?"

"Di Surga."

Kematian tak bisa dihindari, Allah Azza Wa Jalla berfirman,

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيدَةٍ

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An Nisa’: 78).

Tangisan gua benar-benar pecah, Ahmad berjanji ummi, Ahmad akan hafidz quran dan bawa ummi ke surga sama Ahmad nanti, Ahmad akan doain ummi terus biar ummi tenang.

Lalu, gua di gendong pak Thohir menuju masjid, gua lihat banyak orang yang mengurusi jenazah ummi, saudara-saudara gua pun banyak yang datang, ada dari mereka yang menemui gua dan mengajak gua untuk tinggal dirumahnya, tapi pak Thohir tidak memperbolehkannya, gua saat itu tidak mengerti apa yang terjadi, sampai suatu saat ternyata ummi sebelum meninggal menitipkan surat wasiat, gua harus tetap tinggal di rumah, karena rumah itu peninggalan abah gua, dan pak Thohir mengetahui itu.

Siang itu juga ummi di makamkan, dan gua masih diam di masjid dan masih terguncang, gua tidak mau makan, gua benar-benar lemah dan tidak tahu apa-apa. Sampai sore hari ada seseorang yang datang mengampiri gua.

"Kamu Ahmad?" tanyanya

Gua mengangguk.

"Pak Thohir udah ngasih tau kamu, kalau saya mau ketemu kamu." Katanya

Gua mengangguk lagi, lalu pak Thohir datang.

"Ahmad ini ustadz Rosyid, dia ustadz di pesantren di daerah timur." Kata Pak Thohir

Gua melihat pak Rosyid.

"Kamu Ahlul Bait?" Tanya ustadz Rosyid

Gua mengangguk lagi, lalu ustadz Rosyid mencium-cium gua dan mencium-cium tangan gua.

"Pak Thohir, saya akan bawa dia." Kata ustadz Rosyid

"Maaf pak, gak bisa." Kata pak Thohir

"Kenapa pak?"

"Wasiat umminya."

"Kalau begitu saya akan membiayai hidupnya, tapi ketika besar nanti dia harus ikut saya dan mengajar di pesantren saya." Kata ustadz Rosyid

"Nanti kita bicarakan lagi." Ucap pak Thohir

Gua masih diam melihat pembicaraan mereka. Setelah itu, ustadz Rosyid pulang dan pak Thohir menghampiri gua dan membawa gua pulang kerumah.

"Mulai sekarang, jangan bilang bahwa kamu ahlul bait." Kata pak Thohir

"Kenapa pak?" tanya gua

"Karena........."

***


Q/A


Q : Latar tahun berapa gan?
A : Dari mulai ana kecil-sekarang

Q : Agan Ustadz?
A : Bukan

Q : Ana mau nanya gan.
A : Kalau tanya hukum fiqh sama Asatidz, kalau yang lain okelah

Q : Istri berapa gan?
A : Baru satu kalo sekarang

Q : TS anak ketiga, tapi kakak kakak TS kok gak diceritain di dalam cerita?
A : Nanti akan ada part sendiri untuk menceritakan mereka

Q : Kalo bisa di tambahin hadist hadist gan di dalam cerita.
A : InsyaAllah gan, ane akan kembangkan isi cerita.

Pertanyaan lain akan berkembang.

Pemuda Banyak Dosa, Bukan Ustadz, Mulia Dengan Sunnah emoticon-coffee


Ath-Tha-Ifah Al-Manshurah
Izin nenda dulu gan, trit baru nih emoticon-Big Kiss
ikut gelar kasur
Arti judulnya jalan golongan yang selamat kan gan?
Quote:


Okee gan

Quote:


Iyaa gan

Quote:


Mumtaz akhi emoticon-thumbsup
Bani apa gan ?
Judulnya menarik, izin baca gan.
Quote:


Bani anshar gan

Quote:


Siap gan, makasih udah mampir.
Quote:


Oh okee.. Baru tahu anshar ada turunan Rasulullah
Quote:


Jangan berenti di tengah jalan gan, ane penasaran lanjutannya.
Quote:


Kalau dari garis keturunan ana kaum anshar, kaum anshar itu kaum yang hijrah dari makkah ke madinah.

Quote:


Okee gan emoticon-thumbsup
Izin nenda dulu gan emoticon-Cool
Rame bakalnya, pejwan dulu ya bib.
Hidup tanpa keluarga memang menyedihkan gan emoticon-Cendol Gan keepstrong brother.
Semoga beneran golongan yang selamat dan gak bau-bau tareekat, kalau bau-bau tareekat, maaf gan ane ilang respect sama ts emoticon-Smilie
Quote:


Ooh saya pikir yg hijrah itu kaum muhajirin dan yg menerima itu kaum anshor dengan bani aus dan bani khazraj
Quote:


Iyaa gan

Quote:


Iyaa gan, betah ya.

Quote:


Makasih gan.

Quote:


Ikutin aja ceritanya ya gan.

Quote:


Bani auz dan bani khazraj itu bani yang tinggal di Madinah, ketika Rasulallah hijrah dari Makkah ke Madinah mereka menyebut bani auz dan bani khazraj dengan sebutan bani Anshar, arti dari Anshar itu penolong gan, jalur dari India banyak yang turun dari Bani Anshar, dan abah ana juga keturunan Bani Anshar.