alexa-tracking

Potret Toleransi dan Eksistensi yang Tersembunyi di Balik Kabut Bromo

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b1a8010dc06bd8c2e8b4571/potret-toleransi-dan-eksistensi-yang-tersembunyi-di-balik-kabut-bromo
Potret Toleransi dan Eksistensi yang Tersembunyi di Balik Kabut Bromo
Keberagaman bangsa Indonesia menjadi tantangan sekaligus ancaman. Tantangan keberagaman adalah toleran terhadap perbedaan untuk meraih kehidupan yang aman dan sejahtera. Tanpa pemahaman dan pembatinan, keberagaman bangsa ini berpotensi menjadi ancaman. Ironisnya, di negara dengan kultur yang beragam ini, perbedaan agama serta budaya berpeluang menjadi corong lantang sikap intoleran. Sampai hari ini, isu intoleransi tampak tiada henti menyulutkan api disintegrasi bangsa. Namun, di tengah peliknya permasalahan disintegrasi, di balik kabut tebal Gunung Bromo justru hadir sekelompok masyarakat adat yang hingga saat ini hidup dengan harmonis, yakni suku Tengger.

Pluralisme dalam Bingkai Slametan Tengger
Potret Toleransi dan Eksistensi yang Tersembunyi di Balik Kabut Bromo

Tengger adalah sebuah pusaka saujana (cultural landscape) yang hidup dengan nilai-nilai luhur yang dianut oleh masyarakat Tengger dan diejawantahkan melalui pelaksanaan ritual adat. Di dalamnya termuat semangat, nilai, dan pesan-pesan plularisme, multikulturalisme, toleransi, kegotongroyongan, persatuan dan keutuhan (unity) dalam bermasyarakat. Di balik kebersatuan masyarakatnya, terdapat keberagaman yang menjadi pilar penyangga keutuhan masyarakat Tengger. Adapun, keberagaman tersebut di antaranya ditopang oleh kekayaan ritual adat (slametan), keberagaman agama yang dianut, serta profesi yang dilakoni masyarakat Tengger.


Namun demikian, keberagaman tersebut tidak lantas menjadi penghalang dalam menggalang keguyuban untuk membangun solidaritas yang kuat di dalam masyarakatnya. Wirutomo, dkk (2015:18) dalam bukunya menyebutkan bahwa kemajemukan (dan atau keberagaman) seringkali memantik perhatian karena diakitkan dengan masalah konflik antarkelompok maupun disintegrasi sosial. Artinya, keberagaman di dalam masyarakat sangat rentan terkena konflik, baik itu konflik personal maupun konflik komunal. Berbeda halnya dengan masyarakat Tengger yang hingga saat ini keutuhan dan kebersatuan serta solidaritas dalam masyarakatnya masih terpelihara dengan baik. Keberagaman tidak dimaknai sebagai sumber ketidakadilan yang diskriminatif, melainkan dipandang sebagai sesuatu yang harus dipersatukan dan dipertahankan.

Slametan sebagai Ruang untuk Membina Kerukunan
Potret Toleransi dan Eksistensi yang Tersembunyi di Balik Kabut Bromo

Adapun, pelaksanaan slametan di Tengger merupakan bagian dari adat tradisi suku Tengger yang dalam pelaksanaannya tidak hanya melibatkan sekelompok masyarakat tertentu saja, melainkan masyarakat Tengger secara universal. Lebih jauh, ritus slametan menjadi ruang bagi masyarakat Tengger untuk membina kerukunan di dalam masyarakatnya. Hal ini selaras dengan pendapat Suseno (1993:15) yang menyatakan bahwa dalam slametan terungkap nilai-nilai yang dirasakan paling mendalam oleh orang Jawa—termasuk Tengger—, yaitu nilai kebersamaan, ketetanggaan, dan kerukunan. Ini menunjukkan bahwa ritus slametan merupakan modal yang sangat penting bagi masyarakat Tengger dalam membangun integrasi sosial di dalam masyarakatnya.

Slametan dianggap sebagai identitas wong Tengger warisan para nenek moyang atau leluhur, maka slametan perlu untuk dilaksanakan oleh seluruh masyarakat Tengger sebagai upaya nyata dalam pelestarian adat tradisi. Lebih lanjut, Suseno (1993:15) menegaskan bahwa manusia (Jawa) hidup dengan betul apabila ia berpegang pada adat istiadat desa yang ditradisikan sejak dulu.  Pelaksanaan slametan juga merupakan sebuah mekanisme yang ditempuh masyarakat Tengger untuk meraih ketenangan lahir dan batin. Sementara itu, ritual yang dilaksanakan oleh masyarakat Tengger terbagi ke dalam dua bagian besar, yakni ritual yang sifatnya personal dan ritual yang diperuntukkan bagi kepentingan komunal.

Urgensi Pelaksanaan Slametan Bagi Wong Tengger
Potret Toleransi dan Eksistensi yang Tersembunyi di Balik Kabut Bromo

Slametan telah membuka ruang bagi masyarakat Tengger untuk saling mengenal satu sama lain. Slametan menjadi ruang bersosialisasi untuk menggalang kebersatuan dan keutuhan dalam masyarakatnya. Kepatuhan terhadap adat tidak hanya membentuk suatu masyarakat yang mengedepankan nilai toleransi dan prinsip hidup bergotong-royong. Tetapi juga telah membentuk sebuah masyarakat yang harmoni dan seimbang. Keadaan tersebut memungkinkan masyarakat Tengger untuk hidup jauh dari konflik yang berpotensi memecah-belah kebersatuan masyarakatnya. Setiawan (2008:136) dalam penelitiannya menemukan bahwa antarwilayah ataupun antarwarga di Tengger dapat dibilang tidak pernah terjadi pertikaian dan konflik yang menjurus pada kekerasan fisik.

Sementara itu, tidak kurang dari 20 slametan yang dilaksanakan oleh Masyarakat Tengger setiap tahunnya. Masyarakat Tengger yakin dan percaya bahwa slametan tidak hanya mampu menyelaraskan kehidupan dengan makhluk ‘tak kasat’, melainkan juga mampu menyelaraskan kehidupan sosial di dalam masyarakat itu sendiri. Lebih jauh, pelaksanaan slametan yang konsisten dan berkelanjutan tersebut telah mempertajam keintiman relasi antar masyarakatnya, baik itu relasi personal maupun komunal.
 
 
Daftar Pustaka

Setiawan, Ikhwan. 2008. Perempuan di Balik Kabut Bromo: Membaca Peran Aktif Perempuan Tengger dalam Kehidupan Rumah Tangga dan Masyarakat. Humaniora, Vol 20, No 2, hlm. 136 148.
Suseno, Franz Magnis. 1993. Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Wirutomo, Paulus, dkk. 2015. Sistem Sosial Indonesia. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press).
Mantab gan. Joint regional bromo gan kalo sempat.
Siap. Makasih, Gan! 🙏
Ikutan duduk lagi dimari gan emoticon-coffee