alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Pancasila Itu Soal Hati, Bukan Seperti “Dress Code”
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b14f160e05227ba048b456a/pancasila-itu-soal-hati-bukan-seperti-dress-code

Pancasila Itu Soal Hati, Bukan Seperti “Dress Code”

Pancasila Itu Soal Hati, Bukan Seperti “Dress Code”Kesalahan fatal para guru bangsa ini adalah melihat Pancasila sama seperti disiplin-disiplin ilmu. Bisa diajarkan kemudian dipraktikkan. Cara pandang ini tidak saja keliru tetapi sesat. Kesesatan itu membawa para “ahli” tentang ideologi sampai pada kesimpulan bahwa kelainan-kelainan sosial (seperti tindak kekerasan, gejala perpecahan, dlsb) disebabkan kurangnya pemahaman orang tentang nilai-nilai Pancasila.
Baca juga : “Pancasila Adalah Kita”, Pesan Damai dari Yogya
Karena itu, menurut mereka, perlu dibentuk lembaga khusus yang bertugas menyusun teori-teori tentang Pancasila, tentang cara mengindoktrinaiskannya, tentang cara menerapkannya, dll. Keyakinan yang sesat ini kemudian melahirkan
BPPPPPPP. Hurup P-nya sampai tujuh biji: Badan Pembina Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila. Lembaga zaman Orde Baru (Orba) ini, waktu itu, sangat populer disebut[url=http://perspektif/][color=#b20202] BP7.[/color][/url]

Setelah berlangsung tuntutan Reformasi (1998), Pancasila kemudian diabaikan. Orba dianggap otoriter. Perintah untuk menjadikan Pancasila sebagai asas tunggal parpol, dihapuskan. Waktu itu disimpulkan bahwa yang salah bukan ketiadaan Pancasila di dalam manusia Indonesia, melainkan karena ketidakadilan dan kesewenangan penguasa.
Baca juga : Eks Pengacara HTI: Era Jokowi, Pancasila Banyak Dibenturkan Dengan Umat Islam
Tetapi, di masa Pak Jokowi para “guru bangsa” merasa keanehan sosial di masyarakat disebabkan ketiadaan nilai-nilai Pancasila. Pada wal Juni 2017 dibentuklah UKP-PIP, yaitu Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila. Tujuannya untuk penguatan Pancasila.
Tak yakin dengan status UKP-PIP, Presiden Jokowi kemudian meningkatkan “appearance” (tampilan) lembaga ini menjadi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, BPIP. Gaji ketua dewan pengarah yang sampai Rp112 juta dan Rp100 juta untuk para anggotanya, akhirnya memicu kontroversi di tengah masyarakat. Banyak kritik pedas dialamat ke badan ini.Baca selengkapnya

Sumber: www.law-justice.co

Urutan Terlama
ane kasih lengkapnya TS ngak niat bikin thread

Jakarta , Law-Justice.co - Kesalahan fatal para guru bangsa ini adalah melihat Pancasila sama seperti disiplin-disiplin ilmu. Bisa diajarkan kemudian dipraktikkan. Cara pandang ini tidak saja keliru tetapi sesat. Kesesatan itu membawa para “ahli” tentang ideologi sampai pada kesimpulan bahwa kelainan-kelainan sosial (seperti tindak kekerasan, gejala perpecahan, dlsb) disebabkan kurangnya pemahaman orang tentang nilai-nilai Pancasila.

Baca juga : “Pancasila Adalah Kita”, Pesan Damai dari Yogya

Karena itu, menurut mereka, perlu dibentuk lembaga khusus yang bertugas menyusun teori-teori tentang Pancasila, tentang cara mengindoktrinaiskannya, tentang cara menerapkannya, dll. Keyakinan yang sesat ini kemudian melahirkan
BPPPPPPP. Hurup P-nya sampai tujuh biji: Badan Pembina Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila. Lembaga zaman Orde Baru (Orba) ini, waktu itu, sangat populer disebut BP7.

Setelah berlangsung tuntutan Reformasi (1998), Pancasila kemudian diabaikan. Orba dianggap otoriter. Perintah untuk menjadikan Pancasila sebagai asas tunggal parpol, dihapuskan. Waktu itu disimpulkan bahwa yang salah bukan ketiadaan Pancasila di dalam manusia Indonesia, melainkan karena ketidakadilan dan kesewenangan penguasa.

Baca juga : Eks Pengacara HTI: Era Jokowi, Pancasila Banyak Dibenturkan Dengan Umat Islam

Tetapi, di masa Pak Jokowi para “guru bangsa” merasa keanehan sosial di masyarakat disebabkan ketiadaan nilai-nilai Pancasila. Pada wal Juni 2017 dibentuklah UKP-PIP, yaitu Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila. Tujuannya untuk penguatan Pancasila.

Tak yakin dengan status UKP-PIP, Presiden Jokowi kemudian meningkatkan “appearance” (tampilan) lembaga ini menjadi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, BPIP. Gaji ketua dewan pengarah yang sampai Rp112 juta dan Rp100 juta untuk para anggotanya, akhirnya memicu kontroversi di tengah masyarakat. Banyak kritik pedas dialamat ke badan ini.

Baca juga : Sejak Usia Dini Membumikan Pancasila

Inilah dia kekeliruan demi kekeliruan yang terjadi dan diulangi oleh penguasa sesudahnya. BP7 sudah jelas gagal dan memboroskan uang rakyat. Penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) tidak saja gagal dan menyia-nyiakan uang rakyat, tetapi sekaligus menjadi sumber korupsi di unit-unit kerja BP7 yang tersebar di seluruh Indonesia.

Bagaimana dengan BPIP? Saya yakin nasibnya akan sama seperti BP7. Tidak akan menghasilkan apa-apa kalau lembaga ini dimaksudkan untuk mencetak manusia Indonesia yang pancasilais. Sebab, seluruh nilai Pancasila itu bukan “dress code” (aturan berbusana) yang bisa dipaksakan kepada para tamu yang Anda undang.

Saya tidak sedang berpretensi menjadi seorang ahli. Tetapi, menurut hemat saya, Pancasila itu bukan pula teori ekonomi, teori bisnis, teori pertanian, teori peternakan, teori kedokteran, teori kimia, dlsb. Pancasila itu bukan disiplin ilmu.

Pancasila adalah soal aqidah. Soekarno pernah menyimpulkan bahwa kelima sila di dalam Pancasila itu pada hakikatnya adalah satu saja, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Tauhid, dalam terminologi Islam. Tauhid yang lurus. Dan inti dari Tauhid yang lurus adalah “hati yang bersih”. Kajian Islam menyebutnya “qolbun salim”.

Secara teoretis, “qolbun salim” pasti akan menghasilkan sifat-sifat yang ilahiyah. Yaitu, sekumpulan sifat yang lahir dari pemahaman yang utuh tentang Ketuhanan Yang Maha Esa. Sifat-sifat itu antara lain penyayang, peduli orang lain, tidak rakus, tidak dzalim, selalu adil, tidak merusak, tidak sadis, dan karakter-karakter mulia lainnya.

Barangkali, dengan merenungkan sifat-sifat mulia inilah Soekarno sampai pada kesimpulan bahwa Pancasila itu adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Tidak perlu menyebutkan sila-sila yang lain. Artinya, orang yang memiliki “qolbun salim” dapat dipastikan akan memiliki nilai-nilai yang ada di dalam kelima sila Pancasila. Semestinya orang akan menjadi pancasilais.

Nah, inikah yang dipikirkan oleh para ahli di BPIP? Wallahu a’lam.

Konon, kehadiran lembaga ini antara lain bertujuan untuk membantu Presiden merumuskan pengamalan Pancasila. Beginilah jalan pikiran mereka. Masih percaya pada konsep-konsep yang sifatnya tekstual. Sah-sah saja. Namun, sekali lagi, nilai-nilai Pancasila yang berbasis “qolbun salim” itu tidak perlu dirumuskan dalam bentuk buku-buku bacaan.

Sebab, pembinaan “hati yang baik” itu lebih banyak diperankan oleh keteladanan. Yaitu, keteladanan orangtua, para guru, dan terutama keteladanan para pemegang kekuasaan, baik kekuasan politik maupun kekuasaan ekonomi-bisnis. Mengapa? Karena keteladanan orangtua dan guru hampir pasti berbentuk contoh-contoh yang baik. Sedangkan keteladanan para penguasa dan pengusaha pada umumnya lebih banyak contoh-contoh yang buruk. Yaitu, keteladanan tentang bagaimana menjadi orang yang rakus.

Semoga saja pembinaan Pancasila hari ini bukan daur ulang dari cara-cara lama yang sifatnya indoktrinatif tanpa kesan. Semoga bukan solusi yang sifatnya ad-hoc.
Post ini telah di hapus oleh Kaskus Support 15
Supaya mamak banteng senang gan emoticon-Salaman
Bina dulu kader partainya..kalo udah bisa merubah kader preman di partainya baru expansi ke masyarakat..ongkang2 kaki dapet 100jt emoticon-Wakaka
betul gan
Pancasila itu soal hati

saat ente merasa nyaman aja punya rekan kerja , sahabat dari berbagai agama ,suku , ras ,

saat ente nyantai aja liat umat agama lain menjalankan ibadahnya dengan tenang

saat ente biasa aja melihat ras lain sukses karena ketekunan dan kerja kerasnya

saat ente dengan senang hati memberi selamat hari raya pada umat agama lain yg merayakan hari besar agamanya

saat ente berpuasa dan nyante aja liat warung warung buka di siang hari , gak ada rasa marah liat umat agama lain makan minum di depan ente

di hati ente ada PANCASILA
Diubah oleh BMAGLY
тιngggal dιjalanĸan ѕaja emoticon-Toast
menolak pancasila ya silakan gak usah jd WNI.
sama agama juga soal akidah, soal hati, jangan dipaksa paksa, apalagi disuruh suruh.

jadi dress code itu ngga jaminan
Izin nyimak dahulu: Salam Damai. emoticon-Salaman
Diubah oleh scorpiolama
Quote:

saat gw merayakan hari keagaaman gw.. gw setuju jika orang yang ngga se-agama ngga usah repot tutup toko, tutup bisnis,
sehingga gw dan keluarga bisa belanja, makan bersama di restoran, liburan ke tempat wisata dll

siapa tau bensin habis.. pom bensin buka.. ban motor kempes, ada bengkel buka...

yang merayakan hari keagamaan adalah gw dan keluarga.. orang lain yang ngga seagama suka suka mereka lah..
kalo mau tetap buka bisnis ya silahkan , toh gw beli jasa dari mereka.. bisnis mereka tambah rame toh?
===============================================================================
saya pernah usul, libur keagamaan itu seharusnya hanya diberikan kepada pemeluknya saja
misanya liburan natal, maka yang berhak libur hanya umat kristen saja
yang di luar kristen harus masuk kantor..

demikian juga libur lebaran, yang libur cuma umat islam aja..

jadi roda perekonomian jalan terus.. mau ke bank bisa, ke kelurahan bisa.. setidaknya layanan minimum bisa diberikan oleh bank atau kelurahan.. ngga harus nunggu cuti bersama selesai
Diubah oleh tukangkredit
Quote:


bagaimana kalo gua balik

saat elu kagak baper krn umat agama lain gak ucapin selamat hari raya ke elu(mereka gak ucapin selamat bukan krn benci ato krn gak suka tapi karena keyakinan mereka seperti itu,mereka pun gak minta elu supaya ucapin selamat,dan bagi mereka ucapan selamat bukan masalah toleran dan tidak)

saat elu tidak menjalankan puasa tapi orang sekeliling elu berpuasa lalu elu menghormati mereka bertenggang rasa dengan cara tidak makan minum di depan mereka


maka Elu adalah Pancasila



Quote:


faktanya gw puasa dan gw nyante aja ada orang makan minum di depan gw...


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di