alexa-tracking

SULAKSMI

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b12bf4d9478681b6c8b4569/sulaksmi
icon-hot-thread
SULAKSMI
SULAKSMI



PROLOG




“ semoga ini awal yang baik untuk karir gw dalam berwiraswasta...”
yaa...itulah sepenggal kalimat kebahagian yang terucap dari mulut bagus disaat sebuah berita baik terucap dari mulut bapak dan mamah, keinginan bagus untuk mempunyai sebuah usaha sendiri selepas masa perkuliahannya, kini mulai terwujud seiring dengan keinginan mamah yang menginginkan bagus untuk mengelola sebuah rumah yang merupakan rumah peninggalan dari orang tua mamah dan telah lama terbengkalai
kini bersama ketiga sahabat baiknya, bagus berusaha mewujudkan mimpinya itu menjadi sebuah kenyataan, seiring dengan berjalannnya waktu, akan kah semua usaha bagus itu akan membuahkan hasil yang memuaskan, atau kah ada sisi lain dari rumah tersebut yang bagus tidak ketahui dan akan menjadi penghambat usaha bagus untuk mewujudkan mimpinya tersebut....

Note :

* dilarang copy paste tanpa seizin penulis
* apa yang ane tuliskan hanyalah sebuah bentuk karya seni tanpa memperdebatkan nyata/fiksi
* update disesuaikan dengan RL penulis


terima kasih & selamat membaca emoticon-coffee
@meta.morfosis

Chapter demi chapter :
Chapter 1
Chapter 2
Chapter 3
Chapter 4
Chapter 5
Chapter 6
Chapter 7
Chapter 8
Chapter 9
Chapter 10
Chapter 11
Chapter 12
Chapter 13
Chapter 14
Chapter 15
Chapter 16


Chapter 1




Jakarta 1997

“ jadi mas akan menikah lagi....?”
sebuah kalimat yang akan selalu terngiang dalam telinga gw kini mengantarkan pandangan mata ini menatap sebuah bingkai photo yang berada di atas sebuah meja kecil di sudut kamar, lama gw terdiam menatap photo tersebut...ya sebuah photo yang menggambarkan seorang wanita muda dengan mengenakan kebaya tradisionalnya, tengah memangku seorang anak kecil yang tengah memamerkan senyum polosnya
“ andai ibu masih ada...” gumam gw pelan seraya mencoba mengingat kembali sebuah perisitiwa kelam yang pernah terjadi delapan belas tahun yang silam dan akhirnya kini menjadi sebuah titik hitam yang menodai lembaran putih perjalanan hidup gw
“ kamu belum berangkat gus....?” seraut wajah dari seorang pria yang telah berumur, kini menyeruak diantara pergerakan daun pintu yang terbuka
“ belum pak....” jawab gw seraya kembali mengarahkan pandangan ke arah bingkai photo setelah sebelumnya memperhatikan keberadaan bapak yang berjalan memasuki ruangan kamar
“ kamu masih menyalahkan bapak....gus...?” tanya bapak kembali, tatapan matanya kini ikut memperhatikan bingkai photo yang tengah menjadi fokus perhatian gw, walaupun perkataan bapak terdengar begitu tenang, tapi gw masih bisa merasakan rasa penyesalan yang tergambar jelas dalam getaran suaranya
“ enggak pak.....” jawab gw singkat dan mencoba membuang pikiran negatif yang mencoba menyalahkan bapak atas peristiwa yang telah lama berlalu itu
“ banyak hal yang belum bapak ceritakan sama kamu gus......”
“ udahlah pak....bagus enggak menyalahkan bapak....bagus percaya koq, kalau semuanya itu terjadi atas kehendak tuhan...” ucap gw memotong perkataan bapak, mendapati hal tersebut terlihat bapak hanya terdiam penuh dengan rasa sesal
“ gus....”
“ sepertinya bagus harus berangkat sekarang pak......” ucap gw seraya mengambil baju toga dari atas tempat tidur lalu mencium tangan bapak, keinginan bapak untuk melanjutkan perkataannya kini terhenti seiring dengan langkah kaki gw yang bergegas keluar dari dalam kamar, sunggguh...rasanya tidak sopan atas apa yang tengah gw lakukan kali ini, tapi semua itu semata mata gw lakukan hanya untuk meredam kegundahan yang gw rasakan saat ini
bagus handoko....ya itulah nama lengkap gw, seorang lelaki muda yang sebentar lagi akan meraih sebuah title sarjana dari sebuah perguruan tinggi swasta yang berada di kawasan jakarta selatan, gw merupakan anak pertama dari keluarga arya handoko, buah hati dari pernikahan bapak yang pertama....yaa...pernikahan bapak yang pertama, sebuah pernikahan yang akhirnya harus kandas dan berakhir di meja pengadilan agama dengan sebuah kata perceraian , dan setelah pernikahan bapak yang pertama itu gagal, bapak memutuskan untuk menikah kembali dengan seorang gadis, yang menurut sedikit informasi yang gw dapat, gadis tersebut adalah kekasih bapak sebelum bapak akhirnya memutuskan menikah dengan ibu, dari pernikahan bapak yang kedua ini, bapak dikarunia seorang putri yang bernama vina handoko, dan secara garis kekeluargaan...vina handoko resmi menjadi adik gw walaupun terlahir dari rahim yang berbeda....sedangkan gw, setelah proses perceraian tersebut, gw tinggal bersama ibu...hampir delapan belas tahun lamanya gw mengarungi kerasnya hidup ini bersama ibu, di rumah orang tua ibu yang berada di salah kota di jawa barat, hingga akhirnya setelah gw tamat dari pendidikan sekolah menengah atas, ibu meninggal dunia dan gw pun akhirnya memutuskan untuk tinggal bersama bapak berserta keluarga barunya di kawasan jakarta timur
“ gus....!!”
teriak seorang pria yang menyadarkan gw dari lamunan ini, tampak kini melalui jendela mobil yang terbuka, sebuah ruangan aula dari salah satu gedung di jakarta pusat telah di penuhi oleh wisudawan yang hadir bersama keluarganya, laju kendaraan yang mulai melambat untuk mencari keberadaan tempat parkir kini mengiringi lambaian tangan gw kepada pria tersebut...ya pria tersebut adalah iyan, dia merupakan salah seorang sahabat gw diantara tiga orang sahabat yang menjadi sahabat akrab gw selama menjalani proses perkuliahan
“ lohh...lu sendiri aja gus...?” tanya iyan begitu gw menghampirinya, tanpa memberikan jawaban apapun, gw hanya tersenyum lalu mengajak iyan untuk memasuki ruang wisuda
.....sarjana.....
mungkin itu adalah sebaris kata yang terlintas dalam pikiran dari sebagian besar wajah wajah penuh keceriaan yang hadir dan memenuhi ruang wisuda pada hari ini, ya...hari ini adalah hari yang sangat bersejarah bagi semua orang yang hadir di gedung ini, dimana pada hari ini mereka berhak untuk menyematkan sebuah title sarjana di depan nama mereka, sebuah title yang dapat mereka pergunakan untuk meraih cita cita yang telah mereka pendam selama ini...tapi sepertinya apa yang mungkin tengah mereka rasakan saat ini tidaklah berlaku bagi gw...keinginan gw untuk berwiraswasta setelah lulus dari bangku sekolah menengah atas kini telah menempatkan alur perkuliahan ini hanyalah sebagai sebuah bentuk formalitas dari sebuah syarat yang diajukan oleh bapak agar gw dapat berwiraswasta
“ senyum dong gus...dari tadi bengang bengong aja lu....” ucap iyan melemparkan candaannya yang berbalas senyuman dari beberapa mahasiswa yang kebetulan duduk di samping gw dan iyan
“ koq gw enggak melihat sella dan doni ya....mereka wisuda juga kan hari ini....?”
“ iyalah gus mereka wisuda juga hari ini...makanya lu kalau punya handphone jangan disimpan di saku aja...hati hati gus, nanti bisa impoten....” jawab iyan sambil tertawa, kini iyan memperlihatkan dua buah pesan yang terpampang di layar handphonenya, ya..dua buah pesan dari doni dan sella yang menyatakan bahwa mereka akan bertemu nanti setelah prosesi wisuda ini selesai, menyadari hal tersebut, gw segera mengambil handphone yang berada di saku celana, dan benar saja apa yang telah dikatakan oleh iyan, kini di handphone gw terdapat dua buah pesan yang berasal dari sella dan doni
hampir tiga jam lamanya prosesi wisuda ini berlangsung, hingga akhirnya setelah prosesi wisuda itu berakhir, gw dan iyan segera melangkah keluar dari dalam ruangan, dan sepertinya sesuai dengan perjanjian yang telah kami buat, terlihat doni dan sella yang telah berdiri menanti kehadiran kami di luar ruangan wisuda
“ lama banget sih kalian.....” tegur sella begitu melihat kehadiran gw dan iyan
“ ampun deh sel...kalian tau sendiri lah si iyan...kebanyakan photo photo dengan mahasiswi yang lain, serasa artis aja dia...” gurau gw yang berbalas gelak tawa dari doni dan sella
“ yah..kalau bukan momen seperti ini...mana mau cewek cewek itu photo sama gw gus...” ucap iyan memberikan alasan yang masuk akal, belum sempat gelak tawa kami terhenti, tampak terlihat di kejauhan orang tua dari iyan melambai lambaikan tangannya
“ tunggu sebentar ya...” ucap iyan seraya melangkahkan kakinya
“ bokap...nyokap... lu mana gus...?” tanya doni sambil memperhatikan iyan yang kini tengah berbincang bincang dengan kedua orang tuanya
“ ada di rumah....” jawab gw singkat
“ hahhh.....mereka enggak lu ajak gus....?” tanya doni kembali dengan rasa tidak percaya
“ enggak don...jangankan gw ajak, gw beritahu aja juga enggak..tapi sepertinya mereka udah tau.....” jawab gw tanpa rasa penyesalan, terlihat doni dan sella hanya bisa saling bertukar pandang begitu mendengar jawaban yang terucap dari mulut gw
“ lu kenapa sih gus....” tanya sella dengan ekspresi wajah serius
“ gw enggak kenapa napa sel....buat gw...apa yang gw jalani sekarang ini hanyalah sebuah bentuk formalitas aja...” jawab gw yang berbalas kebingungan di wajah sella dan doni, seiring dengan jawaban yang terucap dari mulut gw, kini nampak di kejauhan orang tua iyan kembali melambaikan tangannya ke arah kami, dan sepertinya lambaian tangan kali ini adalah sebuah lambaian tangan yang mengisyaratkan bahwa mereka akan segera pergi meninggalkan gedung ini, setelah memberikan balasan lambaian tangan, kini kedua orang tua iyan mulai berjalan menuju tempat mereka memarkirkan kendaraannya
“ wihh....sepertinya udah pada mulai serius nih.....” ujar iyan begitu telah berdiri di hadapan kami
“ rencana kalian apa....setelah proses wisuda ini....?” tanya gw secara spontan, iyan, doni serta sella yang sepertinya belum mempunyai rencana jelas setelah prosesi wisuda ini, tampak sedikit kebingungan untuk menjawab pertanyaan gw ini
“ gw belum ada rencana gus....tapi seperti yang umum orang lain lakukan, gw akan mulai mencoba melamar lamar pekerjaan.....”
mendengar perkataan yang terlontar dari mulut iyan, tampak dengan serempak doni dan sella menganggukan kepalanya
“ kalau lu gus...?, apa rencana lu....” tanya sella, lama gw terdiam seraya memperhatikan beberapa wisudawan yang mulai beranjak pergi meninggalkan gedung
“ mungkin gw akan berwiraswasta sel.....karena itu adalah cita cita gw yang tertunda....”
“ wiraswasta....wiraswasta apa gus...?” tanya sella kembali
“ gw belum tau sel.....mungkin gw akan meminta modal kepada orang tua gw untuk membuka sebuah usaha, keinginan gw sih...gw ingin mempunyai sebuah usaha perkebunan....”
“ waduh gus....itu sih modalnya pasti besar.......” ucap iyan seraya membayangkan modal dari usaha perkebunan yang gw rencanakan
“ besar untuk lu yan.....tapi kalau untuk orang tua bagus sih.....modal segitu enggak seberapa, kan orang tua bagus punya pohon duit....” canda doni yang berbalas gelak tawa,
hampir satu jam lamanya kami berbincang bincang dengan berbagai macam topik pembicaraan, hingga akhirnya kami pun memutuskan untuk segera pulang ke rumah masing masing
sinar terik matahari yang memayungi langit jakarta siang ini, kini telah mengantarkan laju kendaraan yang gw kendarai tiba di sebuah rumah yang berada di kawasan jakarta timur...sebuah rumah yang telah menjadi tempat bernaung gw selama kurang lebih lima tahun ini, kini seiring dengan laju kendaraan yang mulai memasuki pekarangan rumah, tampak terlihat mbok ida dan mang rohim yang merupakan pembantu rumah tangga di rumah ini, tengah asik bercengkrama di antara aktifitasnya merapihkan pekarangan rumah, senyuman yang mengembang di wajah mereka seperti menyambut kedatangan gw
“ ehh...kang bagus udah pulang.....” tegur mang rohim begitu melihat gw keluar dari dalam mobil, dengan tersenyum, mbok ida melangkahkan kakinya memasuki rumah
“ iya mang.....tadi agak macet di jalan....” ucap gw sambil menghempaskan tubuh di kursi
“ mamah dimana mang....?” tanya gw yang berbalas jawaban mang rohim yang memberitahukan kalau mamah sedang berada di dalam rumah
“ memangnya kang bagus dari mana....?” tanya mang rohim yang mungkin merasa heran dengan penampilan gw yang terlihat rapih hari ini
“ habis wisuda mang....” jawab gw singkat yang berbalas rasa bingung di wajah mang rohim
“ wisuda.....?, apaan tuh kang.....” mendengar suara yang terucap dari mulut mang rohim terdengar begitu kencang, gw pun segera memberikan isyarat agar mang rohim memelankan suaranya
“ tanda kelulusan mang....saya sekarang udah lulus kuliah...” jawab gw mencoba memberikan penjelasan akan arti dari kata wisuda, melihat mang rohim mengangguk anggukan kepalanya sebagai tanda mengerti atas penjelasan yang gw berikan, gw pun segera beranjak memasuki rumah
“ bagaimana wisuda kamu gus.....!”
sebuah suara yang terdengar begitu tiba tiba kini telah menyadarkan gw akan keberadaan mamah yang tengah memperhatikan gw dari arah ruang keluarga, diah astuti.....ya itulah nama lengkap dari mamah tiri gw, seorang mamah tiri yang dalam kurun waktu lima tahun ini telah memberikan rasa kasih sayangnya kepada gw laksana seorang ibu kandung yang memberikan kasih sayang terhadap anaknya, tidak terlihat sama sekali perbedaan perlakuan yang di berikan oleh mamah terhadap gw ataupun vina
“ lohh...koq mamah tau....?” tanya gw sambil berjalan menghampiri mamah, melihat gw yang merasa heran atas pertanyaan yang terlontar dari mulutnya, mamah hanya menggelengkan kepalanya, kini nampak di atas meja, gw melihat sebuah piring kecil yang berisikan beberapa kelopak bunga kenanga serta sepotong makanan yang menyerupai hati ayam yang terbuat dari darah hewan yang telah dibekukan dan di kukus
“ memangnya mamah bodoh gus....tadi pagi itu, mamah lihat sendiri koq kamu membawa baju toga itu ke dalam mobil....lagi pula bapak juga udah memberitahu kepada mamah kalau hari ini kamu wisuda...” terang mah yang berbalas senyuman gw
“ maafin bagus mah....bagus hanya ingin memberikan kejutan...tapi kalau mamah udah tau begini sih, berarti namanya bukan kejutan lagi....” ucap gw seraya mengambil posisi duduk di sisi mamah, pandangan gw kembali menatap piring yang berada di atas meja
“ mamah koq suka banget sih sama makanan seperti itu....sebenarnya rasanya seperti apa sih mah.....?” tanya gw seraya mengambil piring tersebut dari atas meja lalu menciumnya, kini gw bisa membaui aroma wangi bunga kenanga yang bercampur dengan aroma yang kurang sedap dan amis dari makanan yang menyerupai hati itu
seiring dengan perkataan yang terucap dari mulut gw, suara putaran gagang pintu dari sebuah kamar kini telah mengantarkan kehadiran seorang wanita muda yang keluar dari dalam kamar
“ ehhh bang sarjana udah pulang.....gimana dengan wisudanya bang, lancar apa enggak...?”tanya wanita tersebut seraya memamerkan deretan gigi putih yang tersembul diantara senyuman yang mengembang di wajahnya
“ walah vin..lu pikir wisuda itu jalanan di jakarta apa....pakai nanya lancar apa enggak....” jawab gw yang berbalas wajah cemberut vina
“ alhamdulillah vin....abang sekarang udah sarjana, jadi sebentar lagi abang udah bisa untuk punya usaha sendiri....nanti lu bisa kerja sama gw kalau lu udah lulus sekolah....” mendengar penjelasan gw, terlihat vina memperlihatkan ekspresi ketidakperduliannya, hingga akhirnya suara tawa vina mulai meledak begitu melihat ekspresi wajah gw yang mulai merasa jengkel atas perlakuannya
“ iya...iya bang...nanti gw pikir pikir dulu, pantas apa enggak ya...gw punya atasan kayak lu....” canda vina sambil menjulurkan lidahnya
“ huhh...dasar semprul...” ucap gw yang berbalas senyuman di wajah mamah
“ jadi niat kamu untuk berwiraswasta itu udah bulat gus...?” tanya mamah seraya mengarahkan pandangannya ke wajah gw
“ kamu enggak ingin kerja di kantor bapak kamu....?” tanya mamah kembali begitu mendapati gw yang hanya bisa terdiam setelah mendengar pertanyaan mamah yang pertama
“ bagus tetap mau berwiraswasta aja mah....sesuai dengan yang pernah bagus bicarakan waktu itu....” ucap gw mencoba mengingatkan kembali kepada mamah akan pembicaraan yang telah terjadi antara gw, bapak dan mamah
“ iya gus...mamah masih ingat, tapi merintis usaha sendiri bukanlah sesuatu yang mudah gus...apalagi kamu itu masih baru dalam menggeluti bisnis, saran mamah sih....lebih baik kamu ikut bekerja di kantor bapak dulu, dengan jabatan penting bapak kamu di kantor...mamah rasa bukanlah hal yang sulit untuk menempatkan kamu di salah satu posisi strategis di kantor......”
lama gw terdiam begitu mendengar perkataan mamah, memang benar apa yang telah dikatakan mamah, dengan posisi penting bapak di kantor sekarang ini, ditambah lagi masa pengabdian bapak yang telah lama, sepertinya bukanlah hal yang sulit bagi bapak untuk menempatkan gw di salah satu posisi strategis yang ada di kantor, tapi sepertinya semua kemudahan yang tampak di depan mata tersebut, masih tidak mampu menggoyahkan keinginan gw untuk merintis usaha sendiri
“ iya bang...lebih baik lu ikut kerja sama bapak aja deh....” ucap vina mendukung saran mamah
“ kamu enggak usah khawatir gus...kamu pasti akan mendapatkan posisi yang bagus, kalau kamu enggak mau melalui bapak kamu...mamah juga bisa mengusahakannya melalui kenalan mamah yang mempunyai posisi penting juga di kantor itu....dulu bapak kamu juga mendapat kerja di kantor itu atas bantuan dari relasi bapaknya mamah....”
“ maaf mah...sepertinya bagus lebih memilih berwiraswasta aja...bagus ingin mempunyai usaha sendiri, itu juga kalau bapak dan mamah mau menyetujuinya...” mendengar perkataan gw, terlihat mamah bangkit dari duduknya, kini belaian telapak tangannya yang mengacak acak rambut gw seperti mengisyaratkan kalau mamah bisa mengerti dengan keinginan gw yang sudah teramat kuat ini
“ ya udahlah....kita tunggu bapak kamu pulang dari kantor dulu, baru nanti kita bicarakan lagi....” ucap mamah seraya melangkahkan kakinya menuju ke dalam kamar, melihat hal tersebut...dengan sedikit mencibirkan bibirnya untuk meledek keberhasilan gw dalam merayu mamah, terlihat vina mengikuti langkah mamah masuk ke dalam kamar
image-url-apps
gelar tiker dulu
KASKUS Ads
Chapter 2




secangkir coklat hangat yang bertemankan beberapa buah pisang goreng yang telah di sajikan oleh mbok ida kini menemani waktu bersantai gw di teras depan, azan isya yang berkumandang seperti menyambut kedatangan sebuah mobil yang membunyikan klaksonnya tepat di depan pintu pagar rumah, dengan setengah berlari, tampak mang rohim mulai membuka pintu pagar
“ tumben bapak pulang malam....” ucap gw begitu melihat mobil mulai memasuki halaman rumah, wajah bapak yang terlihat lelah kini mulai terlihat menuruni mobil
“ Assalamualaikum....” salam bapak lalu menghempaskan tubuhnya di kursi
“ wa’alaikumsalam....tumben pulangnya malam pak...?”
“ iya gus, tadi ada meeting di kantor....biasalah kalau habis dapat proyek baru...” seiring ucapannya terlihat bapak melepaskan sepatu yang di kenakannya
“ bagaimana dengan wisuda kamu gus....?” tanya bapak yang berbalas rasa tidak antusias gw
“ ya seperti itulah, rangkaian acara seremonial yang membosankan, intinya sekarang bagus sudah sarjana pak.....” seiring jawaban gw, terlihat mamah dan vina keluar dari dalam rumah, tampak vina membawa segelas besar air putih lalu meletakannya di meja,
“ kamu enggak boleh begitu gus, jangan kamu pandang kuliah itu dari title yang kamu raih...tapi pandanglah dari ilmu yang kamu dapatkan....” ucap bapak sambil meminum air putih yang telah tersedia, kini nampak mamah dan vina mengambil posisi duduk tepat diantara gw dan bapak
“ dengar kata bapak tuh bang....jangan ngeyel...” canda vina, tangannya terlihat mengambil sepotong pisang goreng yang ada di piring lalu menyantapnya
“ huhhh...anak kecil jangan sok tahu....” ucap gw seraya mencoba merebut pisang goreng dari tangan vina, dengan sigap vina menepiskan tangan gw lalu mencibirkan bibirnya
“ sudah...sudah....kalian tuh masih seperti anak kecil aja...” lerai mamah yang berbalas gelak tawa gw dan vina, tampak bapak mengembangkan senyumnya
“ ohhh iya pak, sekarang bagus sudah sarjana tuh....tadi dia menagih janji kita mengenai keinginannya untuk berwiraswasta.....”
mendengar perkataan mamah terlihat bapak terdiam beberapa saat, tanpa menjawab perkataan mamah, bapak berjalan memasuki rumah, dan tidak lama kemudian, terlihat bapak kembali keluar dari dalam rumah dengan membawa sebuah album photo ditangannya
“ gus....coba kamu lihat ini....” ucap bapak sambil menyerahkan album photo yang ada ditangannya, kini dengan bingung, gw memperhatikan sebuah halaman photo yang berisikan photo sebuah rumah, terlihat bapak, mamah beserta vina yang masih kecil berdiri di depan rumah tersebut
“ ini maksudnya apa ya pak...bagus enggak ngerti...”
“ coba kamu perhatikan photo rumah itu....” ucap bapak yang berbalas pandangan mata gw menatap photo tersebut, beberapa photo tampak memperlihatkan ukuran rumah yang besar di sertai halaman yang luas
“ bagus masih belum mengerti pak....” ucap gw dengan perasaan bingung, terlihat mamah mengembangkan senyumnya
“ gus....itu rumah peninggalan orang tua mamah, dulu disaat awal mamah dan bapak menikah.....” untuk sesaat mamah menghentikan perkataannya, tatapan matanya terlihat memandang gw, sepertinya mamah merasa sungkan dengan perkataannya itu, biar bagaimanapun mamah masih bisa merasakan rasa perih yang gw rasakan ketika mamah mengucapkan kata kata pernikahan
“ lanjutkan mamah....bagus enggak kenapa napa....” ucap gw yang berbalas rasa bangga di wajah bapak karena gw telah bersikap dewasa
“ disaat itu usia vina baru empat tahun, dikarenakan adanya promosi pekerjaan yang mengharuskan bapak untuk berkantor di jakarta, akhirnya bapak dan mamah memutuskan untuk meninggalkan rumah itu....” untuk sesaat mamah kembali terdiam
“ berarti selama bapak dan mamah pindah ke jakarta, rumah itu kosong....?” tanya gw dengan rasa keingintahuan
“ dua tahun setelah bapak dan mamah meninggalkan rumah itu, sebenarnya masih ada orang tua mamah, lebih tepatnya ibunya mamah yang mengurus rumah itu dibantu oleh seorang pembantu rumah tangga, tapi setelah ibunya mamah meninggal....pembantu rumah tangga yang biasa mengurus dan membersihkan rumah, memutuskan untuk mengundurkan diri dan pergi entah kemana....bisa dibilang rumah itu sekarang sudah terbengkalai selama tiga belas tahun.....” terang bapak mewakili penjelasan yang akan terucap dari mulut mamah
“ lohh lantas...bapaknya mamah kemana...?”
“ bapaknya mamah kamu ini telah meninggal setahun sebelum bapak dan mamah menikah.....” jawab bapak yang berbalas rasa penyesalan gw karena telah mengeluarkan pertanyaan sebodoh itu
“ maafkan bagus mah....”
“ enggak kenapa napa gus...kamu kan enggak tahu, jadi wajar saja kalau bertanya itu...” ujar mamah dengan bijaknya, terlihat vina yang ikut memperhatikan perbincangan ini kembali mengambil sepotong pisang goreng dan memakannya kembali
“ vina jadi bingung...lantas hubungannya rumah dengan keinginan bang bagus untuk berwiraswasta itu apa....?” mendengar pertanyaan vina, terlihat bapak dan mamah mengembangkan senyumnya
“ hubungannya....bapak dan mamah menginginkan agar bagus mengurus rumah itu sebagai modal awal untuk berwiraswasta....?” ucap bapak sambil menatap wajah gw yang masih terlihat bingung, dengan senyum mengembang di wajahnya, sepertinya ekspresi wajah yang diperlihatkan mamah seperti mewakili perkataannya yang menyetujui usulan bapak
“ rumah itu sebagai modal awal....?”
“ iya gus....kamu bisa mengelola rumah itu sebagai tempat penginapan, karena hampir setiap musim liburan ataupun hari biasa, banyak turis lokal ataupun turis dari luar negeri yang datang berkunjung ke obyek wisata yang tidak jauh dari kampung kita itu...(bapak menyebutkan sebuah tempat di jawa barat yang terkenal dengan suasana alamnya yang indah dan bersuhu dingin), walaupun rumah kita itu cukup jauh dari ingkungan perkampungan, tapi bapak yakin, dengan sedikit marketing yang cerdas akan membuat rumah kita itu dikunjungi oleh para pelancong yang membutuhkan jasa penginapan....” terang bapak dengan antusias
“ tapi pak....”
“ tapi apa gus....?” tanya mamah begitu merasakan keraguan di wajah gw
“ bagaimana dengan keinginan bagus untuk berkebun....” mendengar jawaban gw, kembali bapak dan mamah mengembangkan senyumnya
“ banyak yang belum kamu ketahui tentang rumah itu gus, rencana bapak....besok itu kan hari minggu, bapak dan mamah akan mengajak kamu dan vina ke rumah itu....biar kamu bisa melihat sendiri potensi apa yang bisa kamu kembangkan di rumah itu....”
“ asikkk....akhirnya vina pulang kampung....” teriak vina dengan girangnya
waktu yang telah beranjak malam kini mengantarkan gw ke pembaringan, pandangan gw yang menatap langit langit kamar seperti memanjakan lamunan gw pada sebuah rumah yang mungkin akan menjadi modal awal gw untuk berwiraswasta, walaupun gw sedikit merasa kecewa karena belum mendapatkan kepastian akan keinginan gw untuk berkebun, tapi setidaknya saran dari bapak dan mamah yang menginginkan gw untuk mengelola rumah tersebut menjadi sebuah penginapan telah mengindikasikan kalau bapak dan mamah telah mendukung keinginan gw untuk berwiraswasta
“ semoga ini awal yang baik untuk karir gw dalam berwiraswasta...” ucapan kecil yang terucap dalam hati gw, kini mengantarkan perasaan ngantuk yang mulai membelai kedua kelopak mata ini, hingga akhirnya gw pun mulai tertidur menembus alam mimpi yang indah
“ vin....cepat dong...bapak dan mamah sudah menunggu di mobil tuh...!” teriak gw kepada vina yang masih berada di dalam kamar, kini dengan mengenakan sebuah jacket jeans lusuh yang berpadu dengan celana jeansnya, tampak vina keluar dari dalam kamar
“ sabar bang....udah enggak sabar ya untuk jadi bos penginapan....” canda vina sambil tertawa, melihat hal tersebut, gw segera menarik pergelangan tangan vina agar mempercepat langkah kakinya keluar dari dalam rumah dan menuju ke mobil yang terparkir di halaman rumah
“ nah gitu dong....sekali kali mang rohim sama mbok ida ikut jalan jalan....” canda vina begitu melihat mang rohim dan mbok ida berada di dalam mobil, tampak kini mang rohim telah berada di balik kemudi sedangkan mbok ida mengambil posisi duduk di kursi bagian belakang
“ ayo cepat naik....kapan mau sampainya kalau kalian masih bercanda disini....” tegur bapak yang duduk di samping mang rohim, mendapati perkataan bapak tersebut, gw dan vina segera menaiki mobil
“ gw di belakang aja ahhh...males dekat lu bang...bau keringat...” ledek vina yang berbalas senyuman dari yang lain
“ ahhh gw juga males dekat lu vin...parfum lu itu menyengat banget seperti etalase parfum berjalan....” canda gw yang berbalas tarikan tangan vina pada rambut gw, mbok ida yang duduk disamping vina hanya tertawa kecil menyaksikan keakraban ini
tepat pukul delapan pagi, mobil pun mulai berjalan menembus padatnya jalan raya, setelah cukup lama mobil melaju di jalan raya, hijaunya rerimbunan kebun teh yang berada di sisi kanan dan kiri jalan seperti memanjakan mata gw, terlihat sesekali beberapa warung yang berada di pinggir jalan sedang menjalankan aktifitas jual belinya
“ kalau suasana rumah kita disana sama seperti suasana di puncak ini, bagus pasti betah mah....dingin dan sejuk...” ucap gw sambil membuka jendela mobil, kini gw bisa merasakan hawa sejuk yang memasuki mobil
“ kamu pasti betah gus...disana lebih sejuk dan dingin, bahkan suasanya lebih tenang dibandingkan jalan raya puncak ini....” ujar mamah seraya ikut memperhatikan pemandangan alam di kanan kiri jalan
hampir delapan jam lamanya mobil menapaki rodanya di jalan yang beraspal, hingga akhirnya kami tiba di rumah yang di tuju, setelah melewati beberapa kebun teh yang kembali menghiasi sisi kanan dan kiri jalan, mobil pun mulai memasuki jalan yang beralaskan batu batu kali yang tersusun rapih, hingga akhirnya terlihat sebuah rumah yang tampak besar, batu batu kali yang menghiasi dinding rumah tersebut seperti menegaskan bahwa rumah tersebut masih berasitektur masa lalu
“ akhirnya sampai juga....ayo turun....” tegur mamah begitu melihat, gw, vina dan mbok ida masih terpaku menatap rumah dari dalam mobil, tampak bapak dan mong rohim telah turun terlebih dahulu dan membuka pintu gerbang
“ besar banget rumahnya mah....” ucap gw dengan rasa kagum, terlihat mamah mulai menuruni mobil, melihat hal tersebut, gw, vina dan mbok ida segera mengikuti mamah menuruni mobil, begitu turun dari mobil, kembali gw menatap rumah tersebut dengan decak kekaguman
“ rumah sebesar ini dulunya ditinggali oleh siapa aja....?” tanya gw dalam hati, melihat bapak, mamah, vina dan mbok ida yang telah berjalan memasuki halaman rumah, gw pun segera melangkahkan kaki mengikuti mereka, terlihat mang rohim memarkirkan mobil di halaman rumah yang luas, kini gw melihat tumpukan batu kali yang tersusun rapih serta berselimut tanaman liar dan lumut hijau seperti membuat rumah tersebut laksana sebuah rumah panggung yang beralaskan batu kali
“ kita enggak salah rumah kan mah...?” tnya gw yang berbalas tawa bapak dan mamah, bukannya menjawab pertanyaan gw, terlihat bapak dan mamah mulai berjalan ke sekitar rumah, sepertinya bapak dan mamah sedang bernostalgia dengan masa lalunya, tampak mang rohim dan mbok ida mengeluarkan bekal makanan yang telah dipersiapkan dari rumah dari dalam mobil
“ loh koq lu masih bengong vin.....lu masih ingat kan dengan rumah ini....?” tanya gw begitu melihat vina yang masih terpaku menatap rumah
“ gw udah lupa bang, yaa...lu bayangin aja, saat itu umur gw masih empat tahun...” jawab vina sambil melayangkan pandangannya ke teras depan, terlihat vina memalingkan wajahnya begitu melihat ke arah jendela yang berada di teras depan
“ kenapa vin....?” mendengar pertanyaan gw, tampak vina hanya menggelengkan kepalanya
“ vin...jangan bilang halusinasi lu bisa melihat keberadaan hal hal yang aneh kambuh lagi deh....” ucap gw sambil memandang wajah vina
hal yang gw ucapkan kepada vina ini memanglah sangat beralasan, karena selama lima tahun kehidupan gw bergabung dengan keluarga ini, gw mendapati vina mempunyai kelainan kejiwaan yang membuat vina berhalusinasi bisa melihat hal hal yang menyeramkan, dan hal tersebutlah yang menjadi alasan bapak untuk mengobati vina dengan terapi kejiwaan di salah satu tempat di jakarta, walaupun hal itu sebenarnya ditentang oleh mamah dengan alasan mamah merasa yakin bahwa apa yang vina alami bukanlah sebuah gangguan kejiwaan
“ enggak bang, gw enggak lihat apa apa....hanya kepala gw aja yang pusing, mungkin karena perjalanan jauh tadi....” ucap vina dengan tersenyum, kini terlihat bapak dan mamah telah berjalan ke teras depan dan melambaikan tangannya, mendapati hal tersebut, gw dan vina segera berjalan menuju teras depan, sesampainya di teras depan, kini gw dapat melihat kalau rumah ini mempunyai lantai yang tersusun dari kayu yang tertata sangat rapih
“ mang rohim....mbok ida...makanannya di gelar di halaman aja...!” teriak mamah kepada mang rohim dan mbok ida, kini nampak mang rohim mengeluarkan sebuah tikar dari dalam mobil lalu menggelarnya pada salah satu sudut halaman yang teduh, mendapati hal tersebut, mbok ida segera menyajikan makanan di atas hamparan tikar
“ bagus benar benar enggak menyangka kalau rumahnya sebesar ini mah.....” ucap gw begitu memasuki rumah, tampak beberapa furniture tua yang tidak terawat menghiasi dalam rumah, sebuah jam kayu dengan bandul jamnya yang terlihat besar tampak berdiri kokoh di salah satu sudut rumah
“ mamah memang sengaja enggak memberitahukannya ke kamu gus, anggap aja ini kejutan dari mamah....” ujar mamah seraya mencoba menyingkirkan beberapa sarang laba laba kecil yang bersarang di atas kursi
“ memangnya dalam waktu selama itu, enggak ada keluarga mamah yang mengurus rumah ini...?” tanya gw kepada mamah, tampak bapak sedang membuka sebuah pintu yang entah mengarah kemana, tapi sepertinya bapak mengetahui arah tujuannya
“ mamah itu anak semata wayang gus, sebenarnya keluarga dari bapak dan ibunya mamah masih ada beberapa....tapi mereka tinggal di luar daerah...” terang mamah sambil melangkahkan kakinya menyusul bapak
“ kamar sebanyak ini untuk apa ya vin....?” tanya gw sambil memperhatikan beberapa pintu yang tertutup rapat, sebuah tangga kayu yang menuju ke lantai atas tampak terlihat di bagian tengah ruangan
“ gw enggak tau bang...” jawab vina sambil memperhatikan langkah kaki gw menuju ke tangga kayu
“ ehhh...lu mau kemana bang....” tegur vina begitu melihat gw menaiki tangga kayu
“ gw mau lihat vin, ada apa aja di lantai atas....” ucap gw sambil meneruskan berjalan ke lantai atas, mendapati hal tersebut terlihat vina segera berjalan menyusul bapak dan mamah
sebuah ruangan gelap yang terlihat besar tampak di lantai atas, dan sepertinya ruangan ini dipakai sebagai ruangan bersantai pada masa lalunya, beberapa buah kamar juga tampak terlihat di lantai atas, keinginan gw untuk memeriksa kamar kamar tersebut kini menemui kegagalan, sepertinya pintu pintu kamar tersebut terkunci dengan rapat
“ gus....!!” sebuah suara panggilan bapak kini menyadarkan gw dari keterpakuan menatap ruangan dilantai atas
“ cepat kesini gus....!” teriak bapak sekali lagi, kini gw bergegas menuruni anak tangga dan berjalan menuju ke arah sumber suara, tampak bapak, mamah dan vina tengah berdiri di sebuah teras dengan pandangan menatap ke bawah, dan kini setelah gw berdiri menghampiri, gw bisa melihat sebuah halaman luas dengan beberapa susunan batang bambu yang menghiasinya dan sepertinya apa yang tengah gw lihat kali ini adalah sebuah perkebunan yang telah terbengkalai
“ ini luar biasa....” gumam gw mengagumi apa yang tengah gw lihat, terlihat keceriaan di wajah bapak dan mamah begitu melihat rasa kekaguman di wajah gw
“ bagaimana gus....apa masih berminat mengelola rumah ini....?” tanya bapak dengan candanya
“ bagus berminat pak...berminat banget...” jawab gw yang berbalas tawa kecil bapak dan mamah, dengan mengembangkan senyumnya tampak vina ikut merasakan kebahagiaan yang gw rasakan
“ untuk masalah perizinan rumah ini menjadi penginapan biar nanti bapak yang mengurusnya, bapak hanya ingin kamu fokus merapihkan tempat ini....”
“ iya pak...tapi pak....”
“ tapi apa gus....?” tanya bapak begitu merasakan keraguan dalam perkataan yang terucap dari mulut ini
“ kalau memang bagus di izinkan, bagus ingin mengajak teman teman bagus mengelola rumah ini, kebetulan mereka belum mempunyai rencana jelas setelah wisuda....” jawab gw dengan persaaan takut bapak akan menolak keinginan gw ini, terlihat bapak dan mamah saling berpandangan lalu tersenyum
“ mamah dan bapak mengizinkan gus....kamu tanyakan dulu kepada teman teman kamu, mau apa enggak mereka mengelola rumah ini...” ujar mamah yang berbalas kegembiraan di wajah gw
“ nanti akan bagus beri kabar kepada teman teman bagus mah.....”
“ yang penting kamu fokus mengelola rumah ini, karena suatu saat nanti...kamu dan vina juga yang akan mewariskan rumah ini...” ucap bapak mengakhiri pembicaraan, kini kami segera bergegas keluar dari dalam rumah untuk menikmati acara makan yang telah di persiapkan oleh mbok ida dan mang rohim di halaman rumah, sebuah acara makan yang berpayungkan kesejukan alam
image-url-apps
wuiiikkkk..dari wattpad pindah kesini kah gan..hehehe
Quote:

hehe...lompat2 aja gan...bosan di sana ya nulis di sini...bosan di sini ya nulis di sana emoticon-Big Grin emoticon-Ngacir
image-url-apps
ikut nimbrung gan, bakalan seru nih emoticon-Sundul Gan (S)
Quote:

Quote:


silahkan gan...sambil bersantap sahur...emoticon-Big Grin
image-url-apps
Bakalan seru nih trit. Ijin gelar tiker gan emoticon-Traveller
image-url-apps
pejwan🙌
image-url-apps
Bagus Handoko, namanya bagus dan hidupnya tidak prihatin.
Lanjutkan gan....

image-url-apps
wah cerita dari si agan metamorfosis lagi udah lama banget ga baca cerita si agan lg. Bau2nya horor lg nihemoticon-Embarrassment
Lanjutkan gan jangan sampe kentang emoticon-Shakehand2
image-url-apps
feeling ane nih cerita bakalan keren, asal jangan kentang aja ya gan emoticon-Shakehand2
image-url-apps
Lanjutkan gus....
image-url-apps
hororkah?
Chapter 3




tepat tiga bulan setelah kunjungan gw ke rumah peninggalan orang tua mamah yang akan menjadi modal awal gw untuk merintis sebuah cita cita berwiraswasta, gw pun menghubungi iyan, doni dan sella untuk memberitahukan rencana gw untuk membuka sebuah usaha penginapan, dan sepertinya mereka menyambut gembira kabar baik yang gw berikan ini
“ itu baru berita baik gus....” ujar doni sambil menghisap rokok putihnya, terlihat sella menepiskan asap yang bermain main di wajahnya dengan telapak tangan
“ iya gus, sebulan ini gw udah nyaris putus asa...karena belum ada satu pun perusahaan yang memanggil gw, sedangkan surat lamaran yang gw kirimkan sudah cukup banyak....” seloroh iyan yang berbalas tawa doni dan sella
“ kalau gw sih kemarin mendapatkan panggilan kerja, tapi panggilan kerja tipu tipu.....!” wajah sella terlihat kesal ketika mengatakan kalimat itu
“ tipu tipu bagaimana sel...?” tanya iyan mencoba menahan tawanya
“ ya tipu tipu gitu deh, masa iya gw lulusan sarjana disuruh para penipu itu untuk jualan panci sayur plus membayarkan biaya tetek bengek enggak jelas kepada mereka....” mendengar perkataan vina, keinginan untuk tertawa yang semenjak tadi telah gw tahan kini tidak bisa lagi untuk gw tahan, tampak iyan dan doni pun tertawa lepas diatas penderitaan yang telah sella alami
“ lahhh terus bagaimana sel...lu jadi jualan panci dong...” canda doni yang berbalas cemberut di wajah sella
“ ihhh brengsek....lu kira gw bodoh ya don...” ucap sella sambil melempar sandal yang dikenakannya ke arah doni
“ sudah...sudah....jadi bagaimana dengan rencana gw itu, kalian tertarik apa enggak....” tanya gw mencoba mencari kepastian jawaban dari doni, iyan dan sella, tampak iyan, doni dan sella saling bertukar pandang
“ kalau gw sih gus...seratus persen jawaban gw pasti tertarik, gw ikut gabung sama lu...” jawab doni dengan yakinnya
“ gw juga gus....” ucap iyan, kini tinggalah sella yang belum menentukan arah langkah hidupnya
“ lu bagaimana sel....?” tanya gw begitu melihat sella yang masih terdiam berpikir
“ ya udah deh, gw ikut gabung juga....” jawab sella setelah beberapa saat terdiam, tampak doni dan iyan tersenyum dan saling mencuri pandang
“ pilihan yang bijak sel, memang enggak mudah menentukan pilihan menjadi penjual panci dengan menjadi pengusaha...” gurau iyan yang memancing tawa gw dan doni, tampak sella terlihat begitu kesal
“ ahhh...dasar brengsek lu yan....” sungut sella seraya mengembangkan senyumnya
“ jadi gus, kapan rencananya lu mau mengajak kita kita ini ke rumah lu itu...?” tanya doni dengan penuh semangat
“ sebenarnya kalau gw sih sudah tiga kali kesana, mengecek apa apa yang harus di renovasi sekaligus mengantarkan bapak mengurus surat izin....”
“ wahhh sial lu gus....jadi selama ini lu punya proyek bagus tapi enggak ngajak ngajak kita....” sungut iyan dalam canda
“ dan mudah mudahan, akhir bulan ini gw akan mulai untuk merenovasi rumah itu, disaat itulah gw akan mulai menetap disana....jadi bagaimana, kalian mau ikut apa enggak....”
“ siap gus...siap....” ucap iyan dan doni hampir serempak, terlihat sella terdiam beberapa saat, sepertinya ada sesuatu yang tengah dipikirkannya
“ gimana sel.....?” tanya gw seraya menatap sella
“ oke, gw juga siap....tapi gw harus minta izin orang tua gw dulu, karena orang tua gw pasti enggak akan melepaskan gw begitu aja ke sarang penyamun.....” canda sella yang berbalas gelak tawa kami
tepat satu bulan berlalu dari perbincangan itu, hari yang dinanti nantikan itupun akhirnya tiba, dengan berbekal dua buah tas yang cukup besar, doni dan iyan tiba di rumah gw dengan wajah yang ceria
“ koq sella belum muncul juga ya gus....?” tanya iyan sambil melihat jam tangannya yang sudah menunjukan pukul sembilan pagi
“ tenang, sella pasti ikut....tadi dia udah menghubungi gw, katanya sih datang agak telat....” jawab gw mencoba menghilangkan kekhawatiran iyan, terlihat doni menghirup segelas kopi hitam yang telah disediakan oleh mbok ida
“ sebenarnya nanti apa yang mau di renovasi dulu gus....?” tanya doni penuh keingintahuan
“ enggak banyak don, hanya mengecet ulang rumah, mengganti langit langit rumah yang rusak....intinya semuanya itu hanya pembetulan yang enggak memerlukan waktu yang lama, mungkin seminggu sudah selesai...” terang gw yang berbalas anggukan kepala doni dan iyan
“ lalu tugas kita selama mereka merenov itu apa gus, masa cuma jadi mandor aja....” tanya doni kembali
“ ya enggaklah don...nanti lu bisa lihat sendiri deh apa yang harus lu lakukan disana.....” seiring jawaban yang terucap dari mulut gw, terlihat mamah keluar dari dalam rumah berserta vina
“ ehh tante...vina.....” sapa doni dan iyan, mendapati sapaan dari iyan tampak mamah dan vina mengembangkan senyumnya, tatapan mata mamah terlihat menatap dua buah tas besar milik doni dan iyan yang berada di lantai
“ wahhh...sepertinya kalian udah siap nih....” ujar mamah yang berbalas tawa kecil vina
“ sangat siap tante....ya siapa tahu kami bisa membantu bagus jadi pengusaha sukses....” canda iyan seraya memamerkan senyum manisnya ke arah vina
“ amin...tante doakan usaha yang akan kalian rintis itu sukses, yang penting kalian harus mau kerja keras....” ucapan mamah yang terkesan ringan itu sepertinya sarat dengan petuah bijak, memang benar apa yang telah dikatakan mamah itu, tanpa bekerja keras, jangan pernah bermimpi kami bisa merubah nasib kami ini menjadi lebih baik
“ ohh iya gus, pukul berapa rencananya kalian akan berangkat....?” tanya mamah seraya melihat mang rohim yang tengah memanaskan mobil yang akan gw gunakan
“ sebentar lagi mah, ini bagus masih menunggu sella dulu.....”
“ ya udah...kalau begitu mamah ke dalam dulu.....” seiring mamah dan vina yang berjalan memasuki rumah, terlihat iyan kembali memberikan senyumnya kepada vina dan berbalas dengan cibiran vina, mendapati hal tersebut tampak doni melepaskan tawa lepasnya
“ sok kegantengan lu yan....sadar yan...itu adik calon bos kita....” canda doni sambil mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celananya, kini sebatang rokok mulai tersulutkan di bibirnya
“ gw bingung gus....” ucap iyan dengan menunjukan ekspresi rasa heran
“ bingung kenapa...?”
“ nyokap sama adik lu itu seperti adik kakak, memangnya umur nyokap lu berapa tahun sih...?” seiring perkataan iyan yang telah berakhir, terlihat doni memberikan isyarat kepada iyan agar memelankan suaranya
“ kalau enggak salah, nyumur nyokap gw itu hanya beda setahun dengan bokap gw.....” jawab gw yang berbalas rasa kagum di wajah doni dan iyan
“ waduhh...berarti nyokap lu awet muda gus, boleh bagi bagi tuh resepnya...” ujar iyan
“ iya gus, nyokap lu awet muda....jangan jangan beberapa tahun ke depan, wajah lu itu bisa lebih tua dibandingkan dengan nyokap lu....” canda doni yang berbalas gelak tawa, seiring candaan doni tersebut, kini terlihat sella telah hadir di rumah, sebuah tas besar yang ada di genggaman tangannya seperti memberikan isyarat bahwa dia sudah siap untuk merantau beberapa hari lamanya demi sesuap nasi
sesuai dengan waktu yang telah direncanakan walaupun itu meleset beberapa menit, gw dan kawan kawan akhirnya berpamitan kepada mamah dan vina, beberapa wejangan yang menjadi bekal kami untuk berwiraswasta terucap dari mulut mamah
“ mah...salam untuk bapak, tadi sih bagus sudah menelpon bapak....”
“ iya gus....hati hati kalian di jalan....” ucap mamah sebelum mobil yang doni kendarai mulai beranjak keluar dari halaman rumah
kondisi jalan yang tidak terlalu ramai serta kecakapan doni dalam mengendarai laju mobil, kini telah mengantarkan kami tiba satu jam lebih awal dari yang telah direncanakan, sebelum mencapai rumah, kami terlebih dahulu mampir ke sebuah warung yang menjual barang barang keperluan rumah tangga
“ ini rumahnya gus....?” tanya doni dengan rasa kagum, ekspresi kagum juga terlihat jelas di wajah iyan dan sella
“ wahhh...berarti nyokap lu itu berasal dari keluarga kaya gus....” ujar iyan dengan tatapan yang tidak lepas dari memandang rumah beserta halamannya yang luas
“ sepertinya nyokap gw memang orang kaya, gw juga enggak begitu tau sih....” ucap gw sambil menuruni mobil, seiring dengan tangan gw yang mulai membuka gembok pagar rumah, terlihat sebuah sepeda motor berjalan menghampiri kami, seorang lelaki dengan perawakan tubuhnya yang gemuk melepaskan helm yang dikenakannya
“ ahhh kang bagus, saya panggil panggil di persimpangan jalan sana tapi enggak dengar...” ucap lelaki tersebut seraya berjalan menghampiri
“ waduhh maaf mang edo, saya benar benar enggak dengar...” seiring percakapan gw dengan mang edo, tampak doni, iyan dan sella memperhatikannya dari dalam mobil
“ heehh...koq bukannya pada keluar....!” yang berbalas doni, iyan dan sella keluar dari dalam mobil
“ kenalkan ini mang edo....dia yang akan membantu kita mengelola penginapan ini....” ucap gw mengenalkan mang edo, seorang lelaki berusia empat puluh lima tahun yang gw temukan sewaktu gw menemani bapak mengurus perizinan, tampak iyan, doni dan sella menyalami mang edo
“ mang edo ini warga asli kampung ini, jadi kalau ada yang mau bertanya tanya tentang kampung ini, nanti bisa menanyakannya ke mang edo....” tampak doni, iyan dan sella menganggukan kepalanya, kini kunci rumah yang sedari tadi gw pegang telah berpindah tangan ke tangan mang edo, terlihat mang edo membuka pintu gerbang pagar
“ kang doni, biar saya saja yang memasukan mobilnya...” ucap mang edo begitu melihat doni hendak menaiki mobil, dengan menganggukan kepala, kini doni menyerahkan kunci mobil kepada mang edo
hampir setengah jam lamanya gw bersama dengan doni, iyan dan seala menjelajahi setiap sudut rumah, halaman hingga bekas kebun yang terbengkalai, sesekali nampak sella mencatatkan sesuatu di buku kecilnya dan sepertinya itu adalah catatan sella mengenai target apa saja yang harus dikerjakan setelah proses renovasi rumah ini selesai
“ bagaimana sel...?” tanya gw begitu melihat sella kembali menuliskan sesuatu di buku kecilnya, hamparan ilalang yang telah nampak merimbun di berbagai tempat sudut kebun serta tanaman rambat liar yang menutupi pagar kebun sepertinya telah menjadi catatan tersendiri bagi sella, tampak kini iyan memperhatikan beberapa batang anyaman bambu yang kini telah termakan oleh usia
“ sepertinya kita harus merapihkan dan membersihkan kebun ini gus.....” ujar sella seraya menunjukan beberapa titik di sudut kebun dengan tanaman liar yang nampak merimbun dan meninggi
“ iya gus, ditambah lagi kita harus mengganti bambu bambu ini, sepertinya dulu bambu bambu ini digunakan sebagai penunjang tanaman di kebun ini....” ucap iyan menimpali perkataan sella
“ nahh itu maksud gw...sekarang udah tahu kan tugas yang harus kita lakukan disaat para tukang itu merenovasi rumah ini.....” mendengar perkataan gw terlihat doni menggeleng gelengkan kepalanya
“ belum jadi pengusaha sukses aja otak lu udah cerdas gus....sepertinya bakal susah buat menipu lu kalau nanti lu beneran udah jadi pengusaha.....” kelakar doni yang berbalas gelak tawa, untuk sejenak gw kembali mengamati keadaan kebun, berbagai rencana yang akan gw kerjakan kini telah tertanam di otak ini
“ jadi kapan rencananya para tukang tukang itu akan mulai bekerja gus.....?” tanya iyan sambil mematahkan sebuah bambu yang telah rusak
“ besok...” jawab gw singkat
“ lahhh...terus mulai malam ini kita akan tidur dimana....?” tanya sella penuh kebingungan
“ itulah gunanya sapu, tikar dan kain sarung yang gw beli.....” ujar gw yang berbalas kebingungan di wajah sella, doni dan iyan
“ maksud lu apaan gus...?” tanya sella kembali
“ ya mikirlah sel, masa kita harus cari hotel....untuk malam ini dan selanjutnya sampai dengan renovasi ini selesai, kita tidur bersama sama di ruangan yang ada di lantai utama....”
“ waduhh...maksud lu, gw harus tidur bercampur dengan lu semua....?” protes sella dengan penuh kekesalan
“ ya itu sih terserah lu sel....atau lu mau pilih tidur di kamar sendiri, silahkan di pikir pikir dulu deh, lagian siapa juga sih yang mau berbuat jahat sama lu.....” ucap gw sambil mengembangkan senyum, ayunan langkah kaki gw yang memasuki rumah kini mengiringi cahaya senja yang mulai datang

Quote:

Quote:

Quote:

Quote:

Quote:

Quote:

mari lanjut....mudah2an enggak ada kentang...karena ane enggak bakat jadi petani kentang emoticon-Big Grin
Quote:

iya...horor emoticon-Ngacir

Chapter 4





suara dentangan bandul jam kayu besar yang berada di sudut ruangan seperti menyadarkan gw dari keterpakuan menatap perkebunan yang berada tepat di depan teras belakang, lama gw terdiam mencoba menikmati momen keheningan ini, hingga akhirnya sinar terang dari cahaya lampu teras depan yang telah dinyalakan, kembali menyadarkan gw bahwa hari telah beranjak gelap
“ kang bagus.....” suara sapaan mang edo yang terdengar menggema kini terdengar, seiring dengan pandangan gw yang mencari keberadaan dari mang edo, terlihat mang edo tengah berdiri di lantai atas, beberapa bagian ruangan di lantai atas yang terlihat gelap, sepertinya menjadi alasan bagi mang edo untuk menyapa gw
“ kenapa mang....?”
“ banyak lampu yang rusak dan harus diganti kang.......” ucap mang edo sambil menunjukan beberapa titik dari ruangan di lantai atas yang terlihat gelap, melihat gw yang belum merespon pertanyaan mang edo, kini nampak mang edo mulai berjalan menuruni lantai atas dan menghampiri gw
“ bagaimana kang bagus, apa harus di ganti sekarang....?” tanya mang edo begitu tiba di hadapan gw
“ sebaiknya kita menunggu renovasi ini selesai dulu mang.....rencananya saya ingin mengganti seluruh lampu di rumah ini....” jawab gw sambil mengajak mang edo duduk di kursi yang kini telah terlihat bersih karena telah di bersihkan oleh mang edo
“ lantas apakah tempat tidur berikut kasur kasur yang ada di kamar akan di ganti juga kang....?” tanya mang edo kembali
“ kalau semua kasur dan bantal itu sudah pasti akan saya ganti mang, tapi kalau untuk tempat tidur....sepertinya enggak mang....” seiring dengan perkataan yang terucap dari mulut gw, nampak mang edo masih terlihat bingung
“ enggak usah bingung mang, intinya saya ingin membuat konsep penginapan yang sederhana dengan nuansa tempo dulu tapi dengan pelayanan yang baik....”
“ berarti enggak terlalu banyak yang harus di ganti ya kang, karena hampir rata rata, barang yang ada di rumah ini merupakan peninggalan dari keluarga kang bagus, dan semuanya masih terlihat baik....” ucap mang edo yang berbalas anggukan kepala gw, kini nampak terlihat sella, doni dan iyan memasuki rumah melalui teras belakang
“ gila ya gus...ternyata semakin sore, udara di sini semakin dingin ya.....” ujar iyan begitu memasuki rumah, terlihat sella berusaha menghilangkan rasa dinginnya dengan mendekapkan kedua tangannya di dada
“ jadi dimana kita akan tidur malam ini gus....?” tanya doni sambil memperhatikan setiap sudut rumah
“ disana....” jawab gw sambil menunjuk ke sebuah ruangan yang telah terhampar sebuah tikar dengan beberapa kasur di atasnya, nampak salah satu dari kasur tersebut gw letakan terpisah karena memang kasur tersebut gw teruntukan untuk sella
“ memangnya kasur kasur itu sudah bersih gus....?” tanya sella yang masih ragu akan kebersihan kasur yang akan digunakannya untuk tidur
“ tenang sel, di lingkungan seperti ini enggak terlalu banyak debu, lagi pula kasur kasur itu telah dibersihkan oleh mang edo....” jawab gw yang berbalas anggukan kepala mang edo
“ ohhh...ya udah kalau begitu gw mau ganti baju dulu...ehh tapi dimana kamar mandinya gus...?” tanya sella kembali
“ disana sel....” jawab gw sambil menunjuk ke sebuah sudut di dalam rumah, tampak sella, doni dan iyan memandang sudut tersebut dengan perasaan tidak nyaman, sepertinya ruangan gelap yang mereka harus lalui untuk mencapai sudut tersebut menjadi alasan ketidaknyamanan di wajah mereka
“ waduhhh...jangan bilang kalian takut dengan gelap deh...” mendapati sindiran halus yang terucap dari mulut gw, dengan serentak doni dan iyan menggelengkan kepalanya, hanya sella yang terlihat masih menunjukan rasa tidak nyamannya
“ jangan berpikir yang aneh aneh sel....karena pikiran lu sendirilah yang akan menciptakan semuanya itu terlihat menyeramkan....” ucap gw dalam candaan
“ gw bukan berpikir yang aneh aneh gus, dari dulu gw memang enggak nyaman dengan yang namanya gelap....bahkan di rumah sendiri aja, kalau sedang mati lampu secara mendadak di malam hari, gw bisa berteriak teriak histeris gus....” ujar sella tanpa menutupi rasa takutnya terhadap gelap
“ ahhh lebai lu sel...bilang aja kalau lu memang minta dianterin....” tampak sella mengembangkan senyumnya begitu mendengar perkataan iyan
“ tas gw dimana gus...?” baru saja gw hendak menjawab pertanyaan sella, terlihat sella menarik tangan iyan untuk berjalan menuju ke ruangan dimana kasur telah di hamparkan, sepertinya keberadaan tas yang telah terlihat olehnya kini telah membuat sella tidak lagi membutuhkan jawaban dari gw
“ gus...lantas bagaimana dengan kebutuhan makan dan minum kita....?” tanya doni dengan rasa khawatir
“ tenang don, semuanya udah diatur....”
“ diatur bagaimana gus....?” tanya doni kembali karena merasa tidak puas dengan jawaban gw yang terkesan singkat
“ ya diatur....semuanya udah diatur oleh mang edo, jadi selama proses renov ini, semua makanan akan disediakan oleh mang edo....kebetulan istrinya mang edo jago masak, kalau untuk kebutuhan minum...lu enggak usah khawatir...” terang gw sambil menunjuk ke beberapa galon air yang telah dibeli oleh mang edo
“ ohhhh.....”
“ kalau lu masih kurang juga don, lu boleh minus sepuasnya air di kamar mandi....” canda gw yang berbalas gelak tawa
“ kalau begitu, baiklah kang....saya pamit pulang dulu untuk mengambil makanan, mungkin sekitar jam tujuh malam saya akan kembali lagi....” dengan berbalas anggukan kepala gw dan doni, mang edo bergegas keluar dari dalam rumah, kini suara mesin motor yang terdengar mulai menjauh menandakan mang telah edo meninggalkan halaman rumah
detik waktu yang terus beranjak, kini mengantarkan malam semakin bertambah larut, sesekali terdengar suara dengkuran doni yang nampaknya telah tertidur pulas dengan rasa kenyang di perutnya, untuk kesekian kalinya, kembali tatapan mata gw menyapu langit langit rumah dalam sebuah khayalan....ya khayalan kesuksesan atas sebuah usaha yang akan gw jalani
“ masih belum bisa tidur gus....” tegur iyan membuyarkan lamunan gw
“ belum....biasalah yan....gw harus selalu butuh adaptasi dulu di tempat yang baru, mungkin kalau besok gw baru bisa tidur nyenyak....” ucap gw seraya memandang ke arah sella yang telah tertidur dengan tenangnya
“ seperti serasa mimpi ya gus....gw benar benar enggak menyangka kalau lu benar benar akan membuka sebuah usaha sendiri....” seiring perkataan iyan, terlihat iyan bangkit dari tidurnya, lalu mengeluarkan sebuah bungkusan rokok dari dalam tasnya
“ ya...itulah hidup yan....kadang kita enggak akan bisa menebak apa yang akan terjadi di masa depan...”ucap gw sambil menerima bungkusan rokok yang di berikan oleh iyan
“ gus...boleh gw bertanya...?, dan gw harap pertanyaan yang akan gw ajukan ini enggak akan menyinggung perasaan lu...” hembusan asap putih yang terlihat bergulung gulung di udara kini mengantarkan perkataan yang terucap dari mulut iyan
“ lu mau bertanya apa yan...?”
“ dulu....lu kan pernah bercerita kalau nyokap yang bersama lu sekarang ini adalah nyokap tiri, lantas ada perbedaan perlakuan enggak antara lu dengan adik tiri lu...?”
“ enggak yan....sama sekali mamah tiri gw itu enggak membeda bedakan anaknya...lagi pula kalau mamah tiri gw itu membeda bedakan perlakuan terhadap anaknya, yaa enggak mungkin lah gw akan diberikan usaha seperti ini....kan lu tahu sendiri yan, kalau rumah ini adalah rumah peninggalan dari orang tua mamah tiri gw...” terlihat iyan menganggukan kepalanya, sebatang rokok yang sedari tadi hanya bermain main di jari jemari gw kini mulai tersulutkan
“ tapi lucu juga ya gus, padahal nyokap lu itu baik...tapi lu sama sekali enggak tahu tentang masa lalunya, bahkan lu enggak tahu kalau ternyata nyokap lu terlahir dari keluarga kaya...”
“ entahlah yan, gw hanya merasa sungkan untuk menanyakan hal itu kepada mamah tiri gw ataupun kepada bapak, dan entah mengapa setiap gw merasa ingin menganggap mamah tiri gw itu adalah bagian dari ibu kandung gw, akan selalu muncul perasaan sakit dihati gw ini jika harus kembali mengingat perceraian antara bapak dengan ibu kandung gw.....” mendengar nada suara yang bergetar karena menahan perasaan yang gw rasakan, terlihat iyan memberikan isyarat agar gw tidak melanjutkan pembicaraan ini
“ maafkan gw gus, gw sama sekali enggak bermaksud.......”
arrgggggg.........jangan...jangan.......
suara teriakan keras yang terdengar dari mulut sella, seketika itu juga membuyarkan perbincangan antara gw dan iyan, tampak terlihat sella menggeliat geliatkan tubuhnya laksana seseorang yang tengah mengalami sesuatu, mendapati hal tersebut gw dan iyan segera membangunkan sella dari tidurnya, terlihat kepanikan di wajah sella ketika menyadari bahwa dirinya kini telah terbangun dari tidur
“ astagfirullah.....” ucap sella berusaha menenangkan dirinya, dari ekspresi kepanikan yang diperlihatkan oleh sella, gw menduga sepertinya sella telah bermimpi buruk malam ini
“ lu kenapa sel....?” tanya iyan seraya menyentuh bahu sella
“ haduh yan....tadi gw......” beberapa patah kata yang baru saja terucap dari mulut sella kini kembali terhenti, tatapan matanya terlihat memandang ke beberapa sudut di dalam rumah, apa yang kini tengah dilakukan oleh sella, jelas membuat gw dan iyan merasa risih
“ sel...lu lihat apa...?” tanya gw sambil ikut memperhatikan sebuah pintu kamar yang kini tengah di pandangi oleh sella
“ sel...ada apa...?” tanya gw sekali lagi, seiring dengan gelengan kepalanya kini sella tidak lagi memandang pintu kamar tersebut
“ tadi gw bermimpi aneh banget gus.....”
“ bermimpi aneh...?” ujar iyan dengan ekspresi bingung
“ tadi gw merasa sedang berdiri tepat di tengah ruangan ini, disaat itu gw merasakan semuanya menjadi gelap...disaat itu gw merasakan bingung dan takut, hingga akhirnya rasa takut gw memuncak ketika gw melihat pintu kamar itu terbuka secara perlahan, redup cahaya lampu yang menerangi ruangan kamar itu seperti memberikan gw gambaran akan masa lalu.....sebuah masa lalu yang begitu suram, hingga akhirnya gw seperti mendengar suara rintihan yang sangat menyayat hati...gw sangat merasa yakin kalau suara rintihan itu berasal dari seorang wanita.......”
“ brengsek....!” sebuah suara yang terdengar begitu tiba tiba, kini kembali mengagetkan gw, iyan dan sella, kini terlihat doni bangkit dari tidurnya dan beranjak
“ lu lihat apa juga don....?” tanya iyan penuh dengan rasa was was, sepertinya kini apa yang telah diceritakan oleh sella telah menyentuh sisi rasa takut iyan, mendapati pertanyaan iyan, tampak doni menggelengkan kepalanya
“ gw enggak lihat apa apa, gw hanya merasa takut aja...benar benar enggak lucu rasanya, disaat gw baru terbangun harus mendengar cerita seram seperti itu...” jawaban yang terucap dari mulut doni kini telah membuat iyan terlihat kesal, sepertinya iyan telah menyangka kalau doni telah melihat sesuatu seperti apa yang telah sella alami
“ kalau tahu gitu don....lebih baik lu tidur aja deh, dari pada lu terbangun hanya untuk ngagetin gw aja....” sungut iyan yang berbalas senyum yang mengembang di wajah gw
“ itu hanya bunga tidur sel....sebenarnya apa yang lu impikan itu adalah efek dari rasa takut lu sebelum tidur tadi....” terang gw yang berbalas tatapan mata sella
“ efek rasa takut...rasa takut yang mana gus...?” tanya sella berharap gw dapat memberikan penjelasan yang masuk akal atas apa yang telah dialaminya
“ iya rasa takut, tadi sore itu lu ingat apa enggak, disaat lu takut ke kamar mandi karena harus melalui ruangan yang gelap dan akhirnya lu minta dianterin sama iyan....” tampak kini sella kembali mengingat kejadian yang telah terjadi sore tadi
“ ohhh berarti...mungkin karena itu ya gus gw jadi bermimpi...” ucap sella yang berbalas aanggukan kepala gw
“ iya sel, ketakutan lu itu terbawa sampai mimpi....” untuk sesaat sella kembali terdiam, kini tatapan matanya kembali memandang ke arah pintu kamar yang tadi dipandangnya
“ tapi gus....”
“ tapi apa....?” tanya gw dengan rasa bingung karena melihat sella kembali berusaha menggali arti dari mimpi yang dialaminya
“ kenapa juga gw harus mendengar suara rintihan wanita itu, padahal saat tidur tadi, sama sekali gw enggak berpikir tentang seorang wanita....” mendengar perkataan sella, kini terlihat iyan dan doni saling bertukar pandang, lama gw terdiam mencoba mencari jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan sella ini, hingga akhirnya gw mengambil kesimpulan bahwa gw tidak dapat meberikan jawaban yang masuk akal untuk pertanyaan sella ini
“ entahlah sel....gw enggak tahu jawabannya....” seiring perkataan yang terucap dari mulut gw, kini suara dentangan dari bandul jam kayu yang berada di sudut ruangan kembali terdengar, kini nampak jam telah menunjukan pukul sebelas malam
“ sebaiknya sekarang kita tidur lagi....ingat...besok kita harus bangun pagi pagi untuk membeli segala kebutuhan yang kita perlukan untuk membersihkan kebun....” kini nampak setelah mendengar perkataan gw, doni dan iyan langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur
“ lu mikir apa lagi sel....?” tanya gw begitu melihat sella yang belum merebahkan tubuhnya diatas kasur, sepertinya sella masih memikirkan mimpi yang baru saja dialaminya itu
“ sebaiknya lu percaya sama gw....apa yang lu alami itu hanya mimpi...hanya bunga tidur, pasti saat lu tidur lagi....lu enggak akan bermimpi seperti itu lagi...”
“ iya gus....” ucap sella singkat sambil mengembangkan senyumnya, kini terlihat sella merebahkan tubuhnya di kasur
hampir setengah jama lamanya gw kembali terjebak dalam keheningan malam, suara dengkuran yang silih berganti terdengar dari mulut doni dan iyan, kini laksana sebuah bandul hipnotis yang membuat mata gw terasa lelah hingga akhirnya gw tertidur dalam balutan dinginnya malam

image-url-apps
Bang metamorfosis emang reliable kalo bikin crita nih
image-url-apps
mantap gan ceritanya... jgn kentang ya gan
×