alexa-tracking

Para Manusia Pengusir Tuhan

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b120175d9d770b5028b457c/para-manusia-pengusir-tuhan
Para Manusia Pengusir Tuhan
image-url-apps
Para Manusia Pengusir Tuhan

Para Manusia Pengusir Tuhan

Para Manusia Pengusir TuhanPara Manusia Pengusir Tuhan
Sore itu, aku masih menyusuri jalan yang sama. Jalan yang beberapa tahun lalu masih menjadi jalan satu - satunya untuk ku lalui pulang dan berangkat sekolah, sebelum akhirnya jalan tembus melalui komplek perumahan di buat . Situasinya pun tak banyak berubah, masih sama dengan kala itu. Beragam bentuk kemiskinan masih menjadi pemandangan yang kutemui. Entah, berapa puluh bahkan ratus manusia yang kelaparan dan kekurangan di sana.

Sudah beberapa belokan dan gang sempit yang aku lalui, tapi potret kemiskinan itu masih terus ada. Membuat siapapun yang lewat akan terenyuh. Aku turun, tepat di sebuah pusat perbelanjaan besar di kotaku, kunaiki sebuah jembatan penyeberangan. Oh Tuhan, ternyata di sana masih banyak lagi kutemui kelaparan. Kemiskinan masih mengerak di setiap dinding kota ini. Kala selembar uang rupiah ke keluarkan dari kantong, sebuah tangan kurus dari wajah lusuh menerimanya dengan penuh harap. Dari bibirnya, kudengar lirih ucapan syukur yang di sertai doa untukku.

Aku masih terus berjalan menyusuri jalan itu. Sambil berjalan, kurenungi betapa besar nikmat Tuhan yang masih bisa aku dan keluargaku dapatkan hingga saat ini, meski aku sendiri masih hidup dalam keterbatasan, tapi setidaknya aku masih jauh beruntung di banding orang - orang yang baru saja aku temui. Mungkin saja, aku tak akan sanggup jika Tuhan memberiku cobaan seperti mereka. Sejenak aku pun berfikir, dengan segala kenikmatan yang aku terima ini, kenapa aku masih sering mengabaikanmu ya Tuhan? Segala nikmat-Mu ini masih sering ki balas dengan pengingkaran..

Para Manusia Pengusir Tuhan

Siang terik kala itu menuntunku untuk mampir ke sebuah warung degan milik Mang Samin. Ku pesan segelas es degan tanpa gula. Sejenak kemudian es degan pesananku sudah tiba dan sudah siap ku teguk. Hanya sebentar, tiba - tiba datanglah seorang pengemis buta. Ia datang dengan di tuntun oleh anak laki - lakinya. Tangannya menengadah, berharap uluran logaman rupiah. Aku pun tak langsung memberinya. Sebab, posisiku sedikit jauh dari tempat pengemis tadi berdiri, terhalang oleh tumpukan degan yang di pajang.

"Sudah sana pergi, dasar pengemis buta.. Kalau mau dapat duit, kerja...!! Sana .. Sana.. Pergi...!!" teriak orang yang duduk di depan pintu. Kukira orang ini akan memberikan uang kepada pengemis tadi, tapi ternyata justru hardikan dan hinaan yang ia berikan. Ingin ku berikan logaman rupiah yang sudah kusiapkan kepada pengemis tadi, tapi aku tidak enak dengan orang mengusir pengemis dan duduk di depan pintu. Akhirnya, niatku pun ku urungkan.

Para Manusia Pengusir Tuhan

Sore pukul 4 sore, aku bergegas membereskan meja kerjaku. Dalam bis kota yang aku tumpangi, kembali datang dua orang anak kecil mengalunkan lagu. Bermodal beberapa tutup botol yang di rangkai dengan kayu, mereka berusaha menghibur orang - orang dengan suara paraunya. Beberapa orang justru terlihat tersenyum bahkan tertawa mendengar mereka bernyanyi. Bisa jadi karena irama musik dan lirik yang mereka alunkan tak seirama. Bahkan terkesan asbun saja.

"Yah, namanya juga anak kecil,.. Mungkin tak ada yang bisa di kerjakannya untuk membantu ekonomi keluarganya selain dengan mengamen.." pikirku. Lamunanku buyar kala sepasang tangan mungil menengadah di depanku. Aku pun bergegas merogoh kantong celana untuk meraih logaman rupiah, kembalian dari beli air galon tadi pagi. Belum sempat ku ulurkan, seorang perempuan setengah baya yang duduk di sampingku memberikan gesture seolah melarangku memberi logaman uang kepada dua pengemis cilik tadi.

"Mas, nggak usah di kasih, ntar mereka malah jadi malas..." ucap perempuan itu lirih kepadaku. Aku hanya membalasnya dengan senyum sembari tetap menyerahkan logaman rupiah pada anak kecil tadi, sembari berdiri karena halte yang ku tuju sudah dekat.

Dari halte ini, untuk sampai ke rumahku aku harus berjalan melalui jalan tembus yang ada di perumahan. Rumahku ada di belakang perumahan ini. Saat kususuri gang di perumahan, secara tidak sengaja ku jumpai dua orang gadis berkerudung. Salah seorang di antaranya membawa map kuning. Dari kejauhan, tampak mereka berjalan dari rumah ke rumah. Nampaknya mereka meminta sumbangan.

" Maaf ya dik, Bapak sedang tidak di rumah.. Lain kali saja ya...

" Waduh, saya di sini cuman pembantu.. Saya belum gajian.."

" Bik, tolong bilang sama mereka ya, kita nggak ngasih dulu, lagi nggak ada uang...

Maaf dan lagi - lagi maaf, kata penolakan halus yang selalu mereka dapat dari orang - orang yang mereka temui. Sedang kata maaf, tentu tak bisa mereka pakai untuk memberi makan anak yatim yang ada di yayasan.

Para Manusia Pengusir Tuhan

Sambil berjalan, aku pun terus memikirkan kejadian yang akhir - akhir ini kujumpai. Kejadian semacam ini, sebenarnya tak hanya kali ini saja kutemui. Jauh sebelum aku menikah dengan Raisanem, istriku, aku sudah sering melihat peristiwa serupa.

Mungkin, esok, lusa atau seterusnya aku akan tetap menjumpai orang - orang seperti ini. Bukan orang yang meminta - minta, tapi orang yang membuang - buang kesempatan berbuat baik. Aneh memang, kenapa juga mereka justru sanggup mengusir peluang berbuat kebaikan? Apakah mereka sudah merasa terlalu banyak kebaikan yang sudah ia perbuat? Sehingga tak perlu lagi berbuat baik? Ataukah karena mereka juga tidak tahu jika Tuhan selalu menjelma pada setiap kemiskinan, kelaparan, kekurangan dan pada setiap kaum yang lemah?

Para Manusia Pengusir Tuhan

Sesampainya di rumah, istriku sudah menyambutku. Tak seperti biasa, istriku tampak heran dengan guratan di wajahku.

"Kenapa to mas...? Kok mukanya di tekuk gitu..." tanya istriku sambil merapikan sepatu dan kaos kaki yang baru saja ku lepas.

" Mas capek ya... sambungnya.

Akupun masih terdiam, sambil ku hela nafas, aku menjawab pelan "Iya capek dik.., aku lagi memikirkan sesuatu..."

"Mikir apa mas..? Kok kayaknya serius amat..." tanya istriku dengan harap cemas.

"Nggak, aku tadi di jalan ketemu orang....."

Belum sempat ku selesaikan kalimatku, tiba - tiba istriku menyambar : "Namanya juga di jalan, ya pasti ketemu orang mas.. Masa ketemu hantu..." goda istriku yang memang suka becanda.

"Nggak dik, aku tadi bukan ketemu sama orang - orang biasa. Tapi orang - orang yang suka mengusir Tuhan.." jawabku dengan nada datar dan serius.

"Mengusir Tuhan...? istriku menimpaliku sambil meraba jidatku.

"Sampean sehat to mas... Nggak kesambet kan..? "

Istriku ngeloyor ke dapur untuk mengambilkanku air putih. Sambil mengulurkan gelas, istriku nyeletuk : "Ya udah lah mas, kalau sampean capek istirahat dulu aja.. Nggak usah banyak pikiran..

"Lagian Tuhan kok di usir.. Aliran opo iku.."

Akupun tersenyum mendengar istriku berkata seperti itu. Mungkin dia berfikir aku sudah hilang akal atau terkena pengaruh aliran sesat. Tapi bukan itu maksudku.

"Nggak gitu dik.. Jadi gini lho.. Kemarin waktu pengajian Isra Mi'raj di langgar, Pak Ustad Sodikin kan pernah bilang Tuhan itu menjelma ke setiap bentuk ketertindasan, kekurangan, kemiskinan dan juga berpihak pada kaum lemah. Kata Pak Ustad juga, orang miskin yang datang ke rumah trus meminta sumbangan ke kita, itu berarti bentuk kepedulian Tuhan ke kita, jadi kita masih diberi peluang berbuat baik oleh Tuhan, Ya kan?"

"Nggih, trus..?"

"Nah, di jalan tadi banyak mas temui orang - orang yang menyia - nyiakan kesempatan berbuat baik. Mereka mengusir pengemis, pengamen bocah, bahkan orang - orang di komplek depan juga mengusir dua bocah peminta sumbangan, meski dengan kata yang halus.."

"Berarti mereka sama aja dengan mengusir Tuhan ya mas...?"

"Tepat sekali dik.. Mereka kan.."

"Assalamu'alaikum.. Belum sempat ku selesaikan kalimatku, tiba - tiba ada salam dari luar.

Tampak dua bocah berkerudung yang kutemu di komplek tadi berdiri di luar rumah. Kedatangannya jelas untuk meminta sumbangan, sama seperti yang mereka lakukan di komplek tadi. Tanpa di komando, istriku mempersilakan mereka untuk masuk.

Ya Tuhan, terima kasih telah hadir ke gubug sederhana kami. Sekalipun seribu lagi Kau datangkan orang miskin kerumah kami, maka itu tak akan cukup untuk membalas kebaikan-Mu. Tetapi, sekali lagi, terima kasih Tuhan, Engkau masih memberi peluang untuk kami berdua berbuat baik.

Para Manusia Pengusir Tuhan

Thread ini untuk meramaikan
#CerpenReligi


Para Manusia Pengusir Tuhan
image-url-apps
Begitu mengharukan. Semoga semua yang membaca mendapatkan varokah gan..
image-url-apps
berbagi kepada org yg membutuhkan itu wajib
KASKUS Ads
image-url-apps
aku jangan diusir ya om, ane ngemis receh di kaskus nih emoticon-Frown
image-url-apps
Quote:

Amin ya Rob..

emoticon-Nyepi
Quote:

Tapi byk yg menghiraukan kewajiban itu..

:rose

Quote:


Kita sesama pengepul receh Om..
Demi sesuap mekdi..


emoticon-Ngakak
image-url-apps
Quote:


Kaskus bakal bagi bagi THR emoticon-Ultah
image-url-apps
Quote:


April mop udah lewat Om..
Jangan ngibul..


emoticon-Bokek
image-url-apps
Agak sangsi kadang gan liat orang kayak gitu.. Toh gak setiap saat lho kesempatan dateng.. Malah siapa tau dari kesempatan itu rahmat Allah dateng.. emoticon-Rate 5 Star
image-url-apps
Quote:


Iya Gan..
Tapi masih banyak orang yg tak punya empati terhadap sesama yg kekurangan..

Mereka hanya memikirkan perut sendiri.. Makanya di bln puasa ini kita di latih utk berempati, ikut merasakan apa yg orang lain rasakan..
Tapi kalau puasa trus bukanya mevvah2an ya nggak ada nilai empatinya sih..


CMIIW
image-url-apps
Quote:


Masih sepaham kita gan.. Kayak surah Al Takatsur.. Gak baik berlebih-lebihan.. Yang pas aja.. Ada lebih ya berbagi.. InsyaAllah kestabilan rejeki dijaga.. Malah mungkin ditambah biar makin bisa berbagi.. Sebagian ibadah kadang dari sana jalannya..

Buat cerpennya bagus gan.. Penulisannya rapih.. Perpindahan antar paragraf juga gak kacau kayak punya ane emoticon-Hammer (S)

Bahasanya mudah diterima pembaca.. Inti cerita terpapar jelas dan tersampaikan dengan baik.. Mantaplah.. emoticon-2 Jempol
image-url-apps
Quote:


Semoga ada yg terinspirasi dr trid remah ini Gan..

Ane mah nggak pernah main di SFTH, jadi kurang bisa bercerita..

Jadi ceritanya ala kadarnya saja..

---

Ane udah intip trid ente Gan..
Bahasanya bak sastrawan, keren euy..
Ane sdh tinggalkan jejak di sono..


emoticon-Leh Uga
image-url-apps
Quote:


Pembagian narasi dan dialog berimbang.. Itu yang ane suka.. Lagipula nte gak bertele-tele dan keluar jalur dari inti cerita.. Menjaga konsistensi itu sulit lho..

Kalo kayak gitu mah ane gak bakal ditolak editor gan emoticon-Hammer (S)

But thanks.. Udah menyempatkan diri mampir emoticon-Salaman
akuk ndak pernah mengusir pengemis ngor emoticon-Big Grin
malah akuk belikan nasi bungkus plus pulsa buat mereka update status kebaikan akuk emoticon-Big Grin
kalau perlu akuk pasangkan wifi rumah nya emoticon-Big Grin
itu kalau akuk emoticon-Big Grin
image-url-apps
Tidak ada yg salah dgn sikap orang2.. Karena selama ini pun seringkali kita tertipu dgn baju, kelihatan miskin, meminta2 di jalan, ternyata, dibelakang punya tanah sekian ratus ha, duit sekian juta.

Bagaimana dgn orang2 yg butuh bantuan? Lihatlah sekeliling, orang2 tua renta yg berjuang utk mendapatkan segelintir rejeki tanpa menadahkan tangan, dgm keringat mereka memcahkan batu utk makan keluarga.

Tapi, semoga semua kebaikan kita, dalam bentuk apapun, digunakan maupun disalahgunakan, diterima oleh-Nya 🙏
image-url-apps
Quote:


Kamu jadi orang kok baik banget seh..
Kalau akuh minta pulsanya boleh kagak?

emoticon-Bokek
Quote:


Inilah masalahnya..
Mereka para "penipu" yg berlindung di balik kemiskinan membuat orang yg benar2 butuh menjadi terampas haknya..
Mereka yg meminta karena benar2 lapar, akhirnya hanya mendapat remah2 dr oknum yg mengeruk iba utk memperkaya diri..

Semoga orang2 yg demikian, mendapat balasan setimpal, karena sdh mengambil hak orang lain yg lebih membutuhkan.. Dan segala amal kebaikan kita di terima oleh Nya, baik yv di gunakan maupun yg di salahgunakan..

emoticon-Nyepi
image-url-apps
Gue ngga tau agan ya tapi menurut gue agan ini seorang yang munafik, gue selalu mengingat ucapan salah satu karakter di serial tv, begini ucapan nya" Percaya kepada pencari kebenaran TAPI ragukan siapa penemu nya"
image-url-apps
Quote:


Munafik dari sisi mananya nih?
Ane masih belum paham dgn maksud ente..
Trus apa hubungan antara quote yg ente kutip dr serial tv dgn cerita ane?
image-url-apps
karena kalo memang benar ada yang menemukan sosok "tuhan" seperti kata agan itu wajib di ragukan karena seperti kata gue percaya kepada pencari kebenaran tapi ragukan siapa penemu nya, jadi agan yang mana si pencari kebenaran atau si penemu nya?
image-url-apps
Bodo amat penting pejwan
image-url-apps
Tuhan menyembah Tuhan
Tuhanku tlah mati