alexa-tracking

[#CerpenReligi] BUKAN SALAH TAKDIR

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b0d72dddac13ed06b8b456c/cerpenreligi-bukan-salah-takdir
[#CerpenReligi] BUKAN SALAH TAKDIR
[#CerpenReligi] BUKAN SALAH TAKDIR




BUKAN SALAH TAKDIR


Quote:




[#CerpenReligi] BUKAN SALAH TAKDIR

Gelang    tasbih ini    menjadi saksi   bisu atas kehidupan   kelam dalam pencarian jati   diri yang sempat ku salahi kodrat - Nya.

Masa    kecil yang    jauh dari kata    bahagia membuatku terpaksa   membenci Sang Pencipta hingga    menjadikanku makhluk paling hina di dunia ini.

Sebelumnya   perkenalkan,   namaku adalah    Fahrizal Hanafi.  Nama itu sesuai dengan   apa yang tertulis dalam akta   kelahiranku yang dengan sengaja    ku ubah di pertengahan perjalanan   hidupku.

Aku    terlahir    sebagai si    sulung yang seharusnya    bertanggung jawab akan masa    depan kedua adik perempuanku  namun nyatanya karena kebodohanku   , aku mengubah mereka menjadi penakut    kehidupan untuk beberapa masa.

Ibuku    hanyalah   seorang pengajar   di taman kanak - kanak   yang gajinya harus cukup  untuk   menghidupi ketiga anaknya serta   dirinya sendiri.

Ibu    sering   bahkan selalu    mendapat cemoohan   dari orang lain  sebab seseorang yang   hanya hadir dalam kehidupan   keluargaku saat ia ingin melampiaskan    birahinya.

Yaaa…..   seseorang   yang aku maksud     itu adalah dia yang    menjadikanku ada di dunia   ini. Sejak kecil aku tak  pernah memanggilnya seperti anak    lain memanggil orangtua laki-laki mereka.

Dan    sebab dialah   aku sempat membenci    kodratku yang harus tercipta    sejenis dengannya.


[#CerpenReligi] BUKAN SALAH TAKDIR

Aku    masih   ingat , sore    itu aku baru  saja akan menyapu   rumah karena aku tak   tega jika ibu yang melakukannnya    sebab beliau tengah mengandung adik   bungsuku.

Namun    disaat ketenangan   yang waktu itu kurasakan    tiba - tiba berubah saat dia    datang setelah 7 bulan menghilang    tanpa jejak.

Dengan    wajah beringasnya    ia mengacak-acak rumah,    tujuannya mencari ibu yang    saat itu tengah menjalankan kewajibannya    sebagai makhluk Tuhan.

Dia    berteriak - teriak    bak berada di hutan    belantara .

“dimana   ibumu?” bentaknya   pada adikku yang  bernama ghaina .

Ghaina    hanya menggeleng,   tidak berani menjawab    bahkan raut wajahnya jelas    menggambarkan ketakutan yang teramat    sangat.

“dasar    bisu” bentaknya    lagi pada ghaina    .

Tanpa    di duga   ia mendatangiku ,   merampas sapu yang  kupegang.

“mana   ibumu?”  bentaknya  padaku.

Aku   hanya  diam, tak    menjawabnya karena    enggan.

Hampir   saja sapu   itu melayang   dan mengenai badanku    andai saja ibu tak lekas    datang dan melindungiku tanpa   memperdulikan sebesar apa perutnya   waktu itu.

“pak..  istighfar..”   ucap ibu memperingatkan   lelaki itu.

“woooohhh   bagus ya,  pantes saja  dia jadi banci  . Kebanyakan dimanja   ya jadinya gitu” ucapnya   berapi-api.

“sampean   ini kenapa?   Istighfar pak”  ibu tersedu menyadarkan   orang itu.

“istighfar   istighfar.. gak   bikin kaya juga”   jawabnya tanpa merasa   berdosa.

“leh   sampean   ajak adekmu   masuk ya” pinta   ibu agar aku mengajak   ghaina ke dalam sedangkan   beliau menghadapi monster itu    sendirian.

Percekcokan   yang teramat    sangat dahsyat  hingga membuat adik   bungsuku hampir terlahir   prematur namun Tuhan masih   menyelamatkannya.

Semenjak   saat itu   aku benar - benar   membenci kodratku dan   berharap secepatnya dia  lenyap dari dunia ini.


[#CerpenReligi] BUKAN SALAH TAKDIR

Hari   ke - 4  kedatangannya.

Aku   baru pulang   dari sekolah,  bersama adikku ghaina.

Dia   menyeruput   kopi hitamnya   dengan posisi duduk   seperti di warung.

Sejak   kecil aku   tidak pernah  mau menyentuh   tangannya apalagi   sampai menciumnya, tidak   pernah.

Saat    aku baru   saja menginjakkan   kakiku di depan pintu,   terdengar suara teriakan yang   berasal dari mulutnya.

Terlihat   ia memegangi   dadanya dan mengerang   kesakitan.

Aku   sama sekali   tak memperdulikannya   seperti ia sama sekali   tak memperdulikanku.

Meskipun    dalam keadaan    sekarat, lidahnya   tak pernah kelu mengucap   kata - kata kotor. Aku yakin   malaikat maut sakit hati mendengarnya   hingga membuatnya mencabut nyawa orang itu   dengan kasar dan tanpa ampun.

Lima   menit kemudian   ia terkapar , tak   bersuara sama sekali.   Dia benar - benar mati namun   aku tak perduli.

Tak   lama kemudian   ibu yang baru  pulang setelah mengajar   langsung menjerit meminta  tolong pada siapapun yang  berada di dekat rumah.

Semua   tetangga   berdatangan,   aku hanya melihatnya   dari dalam.

Ia   telah   tewas tanpa   sempat meminta maaf pada   mereka yang pernah ia   sakiti terutama ibu.

Mungkin   hanya ibu   yang bersedih   hari itu, saat   dimana orang itu  terkubur dalam tanah   bersama semua amal buruknya   yang akan menjadi sasaran empuk   bagi siksaan malaikat penanya dalam   kubur.

Dia   memang   mati pada   hari itu tapi   aku merasa bahwa   aku yatim sejak lahir.  

Setidaknya   adik bungsuku   tak akan pernah   mendapat siksaan seperti   yang aku dan ghaina rasakan.



[#CerpenReligi] BUKAN SALAH TAKDIR

Setelah   lulus SMA.

aku   berusaha   membantu ibu   dengan bekerja  di kota, karena   sungguh tak mungkin   aku mencari nafkah di   desa terisolir seperti disana.

Mencari   pekerjaan  sangatlah tidak   mudah, jika kamu   tak mempunyai kenalan   orang dalam atau sejumlah   uang untuk menyogok mereka maka   semua amplop berisi lamaran pekerjaan   yang telah kau ajukan bagi mereka hanyalah   sampah yang akan ditumpuk dan dimusnahkan ketika   sudah menggunung.

Tanpa   mereka sadari   kedzholiman   turun temurun yang selama ini mereka lakukan itu  sudah memutus masa depan   jutaan anak bangsa yang akhirnya   terjerat dalam pekerjaan yang menyesatkan   kehidupan mereka.

Seperti   yang aku   alami saat  itu.

Karena   ditolak semua   perusahaan yang  telah kulamar pekerjaannya,  aku harus menjadi seorang  PSW (Pekerja SX Waria).

Bukan   inginku  tapi hanya   inilah yang mampu   membuatku mampu membantu   perekonomian keluarga terutama   biaya sekolah kedua adikku.

Aku   bekerja   di sebuah   dari yang teramat   familiar sebagai tempat   nongkrongnya para kaum sepertiku,   kaum yang terjerat akan kejamnya nepotisme   turun temurun yang sudah mendarah daging di   negri ini.

Ketika   aku pulang   untuk berkunjung   demi melepas rindu   pada keluarga, aku bingung   harus menjawab apa saat ibu   dan kedua adikku bertanya dimana tempatku bekerja? Sebab uang yang  kuhasilkan saat itu bisa dibilang  sangat fantastis dibanding remaja lain   yang bekerja di kota sepertiku.

“mas   rizal kerja   dimana? Pasti  kantornya gede ya   soalnya mas rizal bisa   beliin aku sepeda . Bisa beliin   ini itu” celetuk adik bungsuku yang   mulai besar itu.

“iya   dek. Mas   rizal kerja   di kantor yang   gede banget. Doakan   mas rizal kerasan ya biar   bisa beliin semua kemauan   sampean” jawabku dengan perasaan   tak tenang karena telah membohonginya   dan ibu.

“pasti   leh. Yang   penting kerjamu   ini halal, pasti   ibu akan selalu dukung   kok” balas ibu yang semakin   membuatku merasa berdosa.

Kenapa   takdir tak   pernah adil kepadaku?


Semakin   hari aku   semakin menikmati   pekerjaan itu hingga    sampailah aku di titik   dimana kehidupanku benar - benar   menyimpang.

Aku   mulai  menjalin   hubungan dengan   seseorang yang sejenis   denganku, yang dulu sempat   ku benci keberadaannya kini menjadi   jenis yang paling aku cintai di dunia   ini.

Tak   perduli   sebesar apa   dosa yang ku   lakukan ini, toh   waktu itu aku sudah   tak mempercayai adanya Tuhan   di dalam kehidupanku.

Karena   bagiku Tuhan   selalu pilih kasih   dalam menciptakan takdir   baik, dan aku hanya mendapat   semua takdir buruk yang tak satupun   merasakannya.


[#CerpenReligi] BUKAN SALAH TAKDIR


Sepandai - pandainya   kau menyimpan bangkai,   pastilah suatu saat akan   tercium juga baunya .

Malam   itu seperti   biasa, aku sedang   mangkal di bundaran  yang populer dikotaku.

Aku   menemani   para lelaki   hidung belang  yang haus akan   nafsu duniawi.

(FYI :  kebanyakan   dari mereka  datang bukan   karena belok, hanya   saja mereka ingin melampiaskan   tanpa mendapat resiko seperti hamil).

Aku   mencoba   menggoda setiap   laki - laki berdompet   tebal yang datang dan    berharap mendapat satu pelanggan   di malam itu.

Beruntunglah   aku mendapat  satu, pria paruh   baya yang rambutnya   dipenuhi dengan uban.

Ia   mengajakku   untuk bermalam   minggu di suatu   tempat yang sering   ia kunjungi, pria ini   baru saja kehilangan istri    untuk ketiga kalinya.

Di   suatu    pasar malam  , pria ini menawariku   makanan dan kita makan  disana.

Meja   makan ini   hampir saling   berdempetan karena   memanfaatkan tempat yang   tersisa.

Seorang   gadis kecil   duduk sendiri   seraya tangannya  terus mengaduk mangkok   bakso yang ada di depannya.

Wajahnya   tak asing   bagiku, namun   lampu disini hampir   remang sehingga aku harus   benar - benar memastikan bahwa   aku mengenalnya untuk jaga - jaga   kapan aku harus menghindar.

Gadis   itu mungkin   merasa kuperhatikan   sehingga dia langsung   berbalik melihatku dan betapa   terkejutnya aku bahwa dia adalah   ghaina, Adikku.

Sesegera   mungkin aku   menutupi wajahku   dan pergi meninggalkan   tempat itu sebab tidak  mungkin aku menemuinya dengan   penampilan seperti itu.

Namun  sialnya,   ghaina mengenaliku.  Dia berlari mengejarku   dan sampai akhirnya dia mendapat   bagian belakang bajuku.

“mas   rizal?  Sampean mas   rizal kan?” ucapnya   bertubi - tubi demi memastikan   bahwa itu benarlah diriku.

“maaf   kamu siapa   ya? Mungkin salah   orang” elakku.

“sampean   mas rizal,   aku tau. Sejak   sampean masuk warung   itu aku tau kalau itu   sampean. Sampean jahat mas.   Aku kesini cuma pengen tau apa   pekerjaan sampean yang sebenarnya tapi   ternyata sampean… Ya Allah….” ghaina mulai   menangis hingga menjadi tontonan orang lain.

Disitu   aku bingung   dengan apa yang   harus aku lakukan.

Aku   menyentuh   pundaknya untuk   menenangkannya namun   langsung ditepisnya “gausah   megang - megang aku, aku gak   punya mas banci kayak sampean.   Aku gak punya mas. Mas ku sudah   gak ada” bentaknya lalu ia berlari  meninggalkan keramaian itu.

Disitulah   aku mulai  merasa bahwa   diriku ini benar - benar   hina, namun aku tetap menyalahkan   Tuhan karena Ia menakdirkanku bertemu   dengan ghaina diwaktu yang tidak tepat.



[#CerpenReligi] BUKAN SALAH TAKDIR

Sebulan   setelah kejadian   itu, aku mencoba  memperbaiki hubunganku   dengan keluarga karena  sudah pasti ghina menceritakannya   pada ibu.

Dan   benar  saja baru   satu langkah   aku masuk ke  dalam rumah, ghina   berusaha mengusirku bahkan   dia tak henti memukuliku dengan   sapu agar aku kembali pulang.

Hingga   akhirnya  ibu menenangkan   emosi ghaina dan  menyuruhnya masuk kedalam   kamar.

Dengan   penuh penyesalan   aku berlutut di kaki   ibu, aku menangis dan meminta   maaf dengan semua yang telah ku   lakukan.

Ibu ..  walaupun   ia kecewa   denganku namun   ia tetap memaafkanku   bahkan pelukan hangatnya   itu membuatku tak henti menangis.

“sudah…  sudah… ini   semua sudah  terlanjur. Sekarang   ibu minta sampean tobat   ya leh. Minta maaf sama  Allah , perbaiki semua kesalahan   sampean dan jangan diulangi lagi.”  tutur ibu dengan lemah lembutnya.

“aku   janji buk.   Aku gak bakal   ngulang semua itu   lagi. Aku janji” ucapku   pada ibu.

Dan   sejak  itulah aku   bertekat untuk   mondok demi memperbaiki   semua kesalahanku.



[#CerpenReligi] BUKAN SALAH TAKDIR

Namun   godaan itu   muncul, bukan   baju koko atau   sarung dan peci yang   kubawa. Melainkan semua baju   perempuan yang dulu kupakai yang  kubawa untuk mondok.

Aku   takut  bertemu  dengan laki - laki   disana sehingga memutuskan   untuk mendaftarkan diriku dengan   identitas NISA yang kupakai dalam  pekerjaan kelamku.

Aku   diterima   disana walaupun   ada yang curiga   denganku, namun sebisa   mungkin aku bersikap normal   seolah aku benar - benar wanita   yang harus belajar ilmu agama.

Aku   kikuk  dengan semua   wanita yang ada   disitu hingga membuatku   menjadi pendiam dan tak  bersosialisasi dengan siapapun   meski dia teman sekamarku.

Hanya   sesekali   aku menjawab   pertanyaan mereka   ketika mereka bertanya   pertanyaan penting kepadaku.


Terulang   kembali, bangkai   yang ku kubur ini   akhirnya tercium juga.

Kedua   adikku tiba - tiba   saja datang melihatku   dan dalam keadaanku yang   menjadi seorang Nisa.

Entah   kenapa anak   dari ustadz ilyas   itu mampu mengenali   wajahku yang berbeda dari   foto yang dibawa oleh ghaina.

Hingga   membuat semua   penyamaranku terbongkar   dan membuat kedua adikku   kembali memusuhiku.

Aku   sempat   membenci  anak ustadz   itu karena dialah   yang membuat semua ini   menjadi runyam.

Kedokku   terbongkar   hingga membuat    pondok putri geger   bahKan teman sekamarku   banyak yang sakit karena   kaget dengan kejadian itu.

Ustadz   ilyas memberikanku   pilihan apakah aku  tetap belajar dan kembali   menjadi seorang muslim atau  aku pergi dari pesantren itu.

Pilihan   yang sangat   sulit namun ustadz   itu menyarankan bahwa   aku harus tetap tinggal   dan beliau bahkan mau membantuku   kembali ke kodratku.


Selama   di pesantren   putra aku mengira   bahwa aku akan kembali   normal namu ternyata sifat   menyimpangku kembali datang.

Bahkan   aku sampai   mencuri pakaian   dalam para santri   demi memuaskan hasratku,  Hingga membuat pesantren kembali   geger .

Semuanya   terungkap sesuai  cerita yang pernah   dituturkan anak ustadz   ilyas dalam suatu thread   sebab aku tak perlu menjelaskannya   kembali karena aku sangatlah malu.


[#CerpenReligi] BUKAN SALAH TAKDIR

Dengan   semua kejadian   itu akhirnya aku   benar - benar bertekad   untuk taubat.

Setiap   malam aku   memohon ampun   kepada Allah agar   Dia mau memaafkan segala   dosaku.

Bahkan   aku rela   mengabdi di   ndalem demi mendapat   berkah dari Kyai yang   tetap menerimaku walau aku   telah mencoreng nama baik pesantrennya   itu.

Dan   akupun   akhirnya  tersadar bahwa   semua ini bukanlah   salah takdir hanya aku   yang tidak mampu mengendalikannya.


Aku   mendapat   kesempatan  untuk melanjutkan   pendidikan demi bisa   mengajar di sekolah yayasan   pesantren dan aku bertekad bisa   meneruskan perjuangan para ustadz yang   telah membantuku kembali menemukan jati   diri.


[#CerpenReligi] BUKAN SALAH TAKDIR

Allah   memang terlalu   baik kepada setiap   Hamba - Nya.

Walaupun   aku sering   lalai dalam menjalankan   kewajiban bahkan aku sempat   menyalahi kodrat - Nya , aku tetap  diberikan semua kenikmatan yang membuatku   tak berhenti bersyukur.

Sebuah   pekerjaan   menjadi seorang   guru kini berada    di kehidupanku.

Bahkan   aku diberi    kenikmatan untuk   bisa berjodoh dengan   wanita sholehah yang tak   pernah ku bayangkan sebelumnya   dalam kehidupanku.

Wanita   yang menerima   semua masa lalu ku,    yang selalu sabar menghadapiku,   dan wanita yang telah menjadikanku   seorang ayah dari anak - anak yang telah   ia lahirkan untukku.

Wanita   yang dulu   pernah kusakiti   hatinya , kini menjadi    wanita yang membuatku selalu    bersyukur dalam menikmati setiap   manis pahitnya kehidupan ini.

Kini   aku bukanlah   fahrizal yang dulu,   yang selalu menyalahkan   takdir dalam setiap nafasku   . Namun kini aku adalah fahrizal   yang senantiasa mensyukuri kehidupan yang   telah Allah berikan kepadaku.


Kita   memang  tidak bisa   memilih.

Dari   sperma  siapa kita   akan berasal.

Dalam   rahim siapa    kita belajar arti   kehidupan.

Dalam    keluarga  seperti apa   kita akan tumbuh.

Kehidupan   seperti apa   yang akan kita   jalani.

Jodoh   seperti  apa yang   akan melengkapi    kehidupan kita.

Anak - cucu   yang bagaimana   yang akan kita  melanjutkan perjuangan   kita.

Bahkan   dalam keadaan   seperti apa nantinya   kita akan meninggal.

Semua   itu sudah   ada aturannya,   tak perlu dirubah   atau disalahkan kejadiannya.

Hanya   perlu dijalani,   dinikmati serta disyukuri   meski berat sekalipun.


[#CerpenReligi] BUKAN SALAH TAKDIR


--------------TAMAT---------------

gelar dulu ah
Karya mbak ayiinn emang Top Markotop....

emoticon-Cendol Ganemoticon-Cendol Ganemoticon-Cendol Ganemoticon-Cendol Ganemoticon-Cendol Gan
Apdet dongk wayah surupnya kak emoticon-Frownemoticon-Frownemoticon-Frown
Sesusah-susah nya dpt kerjaan cuma org edan yg malah jd emoticon-Betty org edan jg blm tentu jd emoticon-Betty
Izin gelar tikar

Btw masih page one nih hihihi
Quote:

Monggo gan tapi ini bukan cerita bersambung loh 😂

Quote:

Makasih gan

Quote:

Waduh iyanih mau apdet tapi ada aja kendalanya..
Insyaa Allah habis lebaran bakalan apdet lagi kok

Quote:

Tapi Alhamdulillah sekarang orangnya udah tobat kok gan, udah pake sarung + peci + baju koko lagi . Malah sekarang sering jadi imam sholat jum'at .

Quote:

Iyanih gan .. swepi ternyata disini emoticon-Ngakak