alexa-tracking

Terorisme dan Kegagalan Cinta

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5af8dfaedad770aa148b456e/terorisme-dan-kegagalan-cinta
icon-hot-thread
Terorisme dan Kegagalan Cinta
Terorisme dan Kegagalan Cinta
CagleCartoons.com

Fenomena terorisme lahir dari kebencian dan dendam. Begitulah pandangan umum. Namun pandangan itu masih satu sisi. Kebencian dan dendam adalah konsekuensi dari cinta yang gagal. Dalam arti ini terorisme adalah simbol dari cinta yang gagal.

Cinta memerlukan kesadaran. Tanpa kesadaran cinta akan bermuara pada kebencian. Terorisme adalah bukti akan hal ini. Kesadaran dapat dibentuk melalui keraguan akan posisi diri, serta kemampuan menerima ironi dan paradoks sebagai fakta kehidupan.

Kegagalan Cinta

Terorisme modern diawali dengan cinta yang meluap akan Tuhan. Tuhan mengajarkan nilai-nilai kehidupan, dan orang mematuhi serta menerapkannya dalam kehidupan. Keteguhan hati pada prinsip-prinsip hidup mewarnai tindakan. Cinta yang meluap dan hidup penuh penghayatan menjadi kenyataan eksistensial yang bermakna.

Kita dapat menemukan banyak orang semacam ini di Indonesia, yakni orang-orang kecil dengan semangat besar untuk hidup sesuai dengan ajaran Tuhan, seperti tertera pada agama yang dihayatinya. Mereka menjalani hari-hari dengan penghayatan diri yang asli, tanpa kepura-puraan. Hidup mereka bermakna.

Cinta akan Tuhan juga memiliki batasnya. Itulah kelemahan manusia. Ia selalu terbatas bahkan untuk melakukan hal-hal luhur di hadapan ‘yang tak terbatas’, yakni Tuhan sendiri.

Cinta yang lelah adalah cinta yang gagal. Cinta yang gagal akan bermuara pada kebencian. Itulah yang kiranya terjadi pada orang-orang yang menghayati nilai-nilai agamanya secara mendalam. Mereka hidup sesuai dengan nilai, namun mereka menyaksikan tiap hari, betapa mereka sendirian dan kesepian. Hidup mereka tetap sulit. Para pimpinan yang mereka agungkan tidak mencerminkan nilai-nilai kehidupan luhur yang mereka hayati.

Kita juga banyak menemukan fenomena semacam ini di Indonesia. Banyak orang hidup dengan nilai. Namun mereka kecewa melihat keadaan. Orang-orang sekitarnya hidup dengan kemunafikan dan penipuan. Akhirnya mereka pun lelah. Cinta pun menjadi lelah. Cinta akan nilai dan Tuhan berubah menjadi kebencian atas manusia, yakni manusia manusia munafik yang hidup dalam topeng kehormatan.

Kelelahan cinta akan menjadi kegagalan cinta. Kegagalan cinta adalah kebencian itu sendiri. Cinta yang gagal akan memukul rata semua orang sebagai musuh. Cinta yang gagal adalah cinta yang menyeragamkan. Cinta yang gagal membunuh akal sehat. Cinta yang gagal akan memiliki daya untuk menghancurkan, dan inilah sumber energi bagi terorisme.

Di Indonesia para teroris adalah orang-orang yang kecewa. Mereka mencintai hidup, nilai, dan Tuhan, namun lelah melihat keadaan yang menyakitkan. Cinta mereka gagal dan berubah menjadi dendam. Dendam dan kebencian itu menyeragamkan, sekaligus menyingkirkan perbedaan-perbedaan kecil yang membuat setiap orang itu unik dan berarti.

Cinta dan Kesadaran

Lebih dari dua ribu tahun yang lalu, Aristoteles sudah berpendapat, bahwa keutamaan terletak di tengah. Segala yang ekstrem selalu berakhir pada kejahatan. Ungkapan ini mengandung kebijaksanaan yang besar. Cinta yang ekstrem akan bermuara pada kebencian itu sendiri. Itulah yang dengan mudah kita temukan pada jiwa para teroris.

Maka cinta haruslah disertai kesadaran. Cinta tidak boleh menjadi berlebihan, karena, seperti yang dikatakan Aristoteles, apapun yang berlebihan selalu menjadi rahim bagi “si jahat”. Cinta yang berlebihan pada hakekatnya bukanlah cinta, melainkan potensi bagi kebencian, kejahatan, dan dendam itu sendiri.

Bumbu ironi juga diperlukan di dalam cinta, supaya ia tidak melewati batas kewajaran. Ironi adalah semacam rasa untuk menerima ketidakwajaran di dalam hidup sebagai sesuatu yang ada, dan tidak bisa ditolak, seberapapun kita berusaha menolaknya. Rasa ironi memberi peluang untuk paradoks, yakni kemampuan untuk menerima tumpang tindih hal-hal yang berlawanan sebagai fakta kehidupan. Dengan ironi dan paradoks, orang bisa menyentuh kebijaksanaan didalam hidupnya, sekaligus menjauhkan diri dari bahan bakar terorisme, yakni dendam dan kebencian.

Yang kita butuhkan di dalam mencintai adalah sedikit keraguan. Keraguan membuat kita tidak bisa penuh. Keraguan menjauhkan kita dari sikap ekstrem. Hidup dengan prinsip tanpa disertai sedikit keraguan membuat kita tak ubahnya seperti robot-robot ideologis yang bermental fundamentalis. Tanpa keraguan cinta akan lelah, gagal, dan berubah menjadi kebencian. Inilah mekanisme jiwa para teroris. Pola inilah yang pelan-pelan harus kita sadari dan hindari.

Cinta yang sejati selalu memberi ruang untuk kebencian, supaya ia tidak jatuh berubah menjadi kebencian murni itu sendiri. Inilah salah satu paradoks dan ironi kehidupan yang masih jauh dari pemahaman kita sebagai bangsa yang mengaku bermoral dan beragama, tetapi tidak pernah berani menyentuh keraguan sebagai obat untuk tetap waras. Akibatnya kita merasa bermoral sekaligus membenci dalam waktu yang sama.***


#menyikapi dan berduka atas fenomena bom/terorisme di Indonesia hari-hari ini.




pranala
reserved
seharusnya teroris radikal itu dihukum tembak mati aja
utk apa lagi dipelihara di kasih makan di penjara
rusuh lagi dipenjara macam semalam tragedi yg sampai tewaskan 5 polisi
shortcut to heaven

katanya emoticon-Nohope
Quote:


dalam demokrasi dan supremasi hukum berkeadilan, hukuman mati adalah solusi radikal yg menjadi pilihan terakhir. Itu artinya hukuman mati bukan pilihan dalam demokrasi bila ditinjau konteks argumentatifnya. emoticon-Smilie
Demokrasi lepas dari sentimen-sentimen emosional.

Dari smua kejadian tersebut pembenahan sistemik baik preventif maupun penanggulangan adalah kewajiban negara untuk meresolusi fenomena terorisme. emoticon-Smilie
Quote:


biarlah itu menjadi argumen-argumen pribadi oom. hehe
Matanya terbutakan oleh cinta yg meluap-luap hingga bernafsu untuk menyingkirkan semua orang yg dinilai menghambatnya utk mewujudkan cinta tsb. Cinta buta.....membuat orang tergila-gila & tidak mampu berpikir logis lagi.
Quote:


sikap skeptik haruslah ada dalam setiap objek persepsi. Skeptisisme haruslah diletakkan dalam kemapanan nilai agar nilai tersebut selalu dibenturkan pada nilai-nilai logis. emoticon-Smilie dengan ini kita menghindari budaya fanatisme.
iya betul yang berlebih ga boleh
kaya teroris, GOBLOKNYA KELEBIHAN.
atau mungkin KELEBIHAN mereka cuma GOBLOK
Berarti inti nya terorisme itu adalah berasal dari Kecemburuan gitu?
emoticon-Turut Berdukabuat para korban baik yang meninggal dan terluka..
debatable mnrt ane emoticon-Cape d...
Quote:


keyakinannya yang berlebihan oom. emoticon-Smilie
Quote:


Secara harafiah ya, tapi bukan pada makna cemburu yg sempit melainkan sifat cemburu itu memandang semua hal didalam pikiran.
Hidup di Indonesia itu simple,kalau ga suka sama negara Indonesia ya tinggal orangnya saja yg pergi bukan buat rusuh negara ini..teroris goblokemoticon-Marah
Quote:


bila demikian silahkan oom. emoticon-Smilie semoga semakin mendapatkan makna yg lebih kitanya emoticon-Smilie
apapun yang Ter-- pasti ga baik,seperti kata bang Hajiemoticon-I Love Indonesia
Quote:


iya bisa dikatakan demikian karna gk seimbang oom. wkwkwk
setubuh breemoticon-I Love Indonesia
Quote:


Kecemburuan nya bukan soal ekonomi ya? Teroris punya rumah ,punya motor, punya duit buat bikin senjata.