alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Kaum sekuler dan ateis Indonesia hidup di bawah bayang-bayang stigma
3.71 stars - based on 7 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5af66e419a0951ac288b4572/kaum-sekuler-dan-ateis-indonesia-hidup-di-bawah-bayang-bayang-stigma

Kaum sekuler dan ateis Indonesia hidup di bawah bayang-bayang stigma

Citra (nama samaran), 25, adalah mahasiswi di jurusan kedokteran. Dia menjalani dua identitas di dunia maya. Pagi dia posting fotonya berjilbab, sore, di akun yang lainnya, dia posting karangan filsafat yang mendiskusikan argumen ketiadaan Tuhan.

Diskusi mengenai karangan dia di grup tertentu jadi ramai, tetapi di lingkaran lain, teman-teman muslim Citra, fotonya yang memakai jilbab mendapat banyak “likes”. Citra adalah seorang ateis yang menjalankan dua identitas untuk mencari tempat dalam masyarakat yang belum mampu menerima orang yang meragukan agama, apalagi ateis.

Menjadi ateis di negara muslim memang tidak gampang. Di awal bulan Agustus, sebuah foto menjadi viral di Malaysia. Foto pertemuan ateis itu tidak hanya mendorong pernyataan dari politikus dan pejabat, tetapi banyak warga di media sosial mengatakan ateis tidak bisa diterima masyarakat bahkan bahwa orang murtad layak dibunuh.

Meskipun Indonesia masih dikenal sebagai negara yang lebih santai dalam soal agama, kehidupan sebagai orang ateis tetap susah karena ada stigma terhadap orang ateis dan orang sekuler.

Awal tahun ini, saya meneliti puluhan orang sekuler di Indonesia. Di antara mereka ada banyak yang beriman, tetapi ada beberapa yang tidak percaya kepada Tuhan sama sekali. Mereka bagian dari masyarakat Indonesia yang menjalani hidup sehari-hari yang dipengaruhi pandangan negatif tentang sekularisme dan ateisme.

Stigma tidak sesuai kenyataan


Pada kenyataannya, kebanyakan dari mereka tidak sesuai dengan stigma yang disematkan pada mereka. Misalnya, kebanyakan ateis tidak menolak sila pertama Pancasila—Ketuhanan yang Maha Esa—karena mereka sadar bahwa agama sangat penting untuk banyak warga negara.

Indonesia memang bukan negara sekuler atau negara Islam. Tetapi, sejak reformasi, agama menjadi semakin penting. Belokan ke arah konservatif ini punya dampak untuk kehidupan sehari-hari orang-orang sekuler, termasuk ateis.

Pandangan bahwa sekularisme merupakan sebuah gagasan yang berbahaya diekspresikan dalam fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) di tahun 2005 yang menyebut sekularisme, liberalisme, dan pluralisme tidak sesuai ajaran Islam.

Sebuah contoh lain adalah keputusan hakim Mahkamah Konstitusi (MK) terhadap uji materi Undang-Undang Penodaan Agama pada tahun 2010. Menurut keputusan MK, gagasan Ketuhanan yang Maha Esa berarti negara dan agama tidak boleh dipisahkan. Ketuhanan yang Maha Esa itu dinilai sebagai gagasan yang tak sesuai dengan sekularisme. Untuk para hakim MK, Ketuhanan yang Maha Esa itu bukan gagasan transendental tapi mereka melihat agama sebagai institusi. Meskipun para hakim MK mengambil keputusan yang ramai dikritik, saya menduga pandangan mereka merupakan pandangan mayoritas di Indonesia.

Sekularisme bukan identitas anti-agama


Baik dalam fatwa MUI maupun dalam argumentasi hakim MK, terlihat jelas bahwa sekularisme dianggap sebagai gagasan yang anti-agama. Pandangan tersebut merupakan sebuah persepsi yang salah: jelas, negara sekuler tidak selalu memusuhi agama.

Sekularisme hanya berarti bahwa negara itu memiliki posisi yang bebas (atau netral) dari agama, tapi negara tetap bisa menilai agama sesuatu yang penting bagi warganya. Kemudian, agama tentu saja boleh memberi semangat untuk berpolitik berdasar nilai-nilai agama. Begitu juga dengan orang sekuler, maupun orang ateis. Tidak percaya kepada Tuhan sama sekali tidak berarti memusuhi orang yang beragama.

Manusia sekuler Indonesia: dari beriman sampai ateis


Riset yang saya lakukan adalah tentang orang sekuler. Dan saya menemukan bahwa dalam kaum sekuler ada macam-macam pandangan.

Kebanyakan orang sekuler beriman, hanya mereka mengaku sekuler karena menurut mereka, negara dan agama lebih baik dipisahkan supaya negara bisa menjadi ruang netral bagi semua warga negara. Selain itu, ada orang agnostik, yaitu orang yang tidak yakin bahwa Tuhan ada atau tidak.

Kelompok sekuler ketiga, para ateis, juga lumayan banyak di wilayah perkotaan, tapi mereka merupakan kelompok yang tidak tampak di permukaan. Alasannya jelas, masyarakat dan negara belum bisa menerima fakta bahwa ada bagian masyarakat Indonesia yang tidak percaya kepada Tuhan padahal mereka melihat agama sebagai dasar kerukunan.



Orang yang mengaku tidak percaya kepada Tuhan dianggap pengganggu kerukunan. Sepertinya sebagian besar masyarakat Indonesia belum mampu mendiskusikan masalah ateisme secara tenang dan tanpa emosi. Bahkan, banyak yang menilai ketidakpercayaan orang lain sebagai ancaman untuk iman sendiri.
Pilihan siasat: diam, terbuka, atau identitas ganda

Oleh karena itu, sebagian besar kaum sekuler, terutama yang ateis, tidak terbuka. Bahkan kaum sekuler yang beriman seringkali tidak terbuka mengenai ideologi mereka karena mereka sadar bahwa kata “sekuler” ini diperlakukan sebagai kata yang kotor.

Ketidakterbukaan ini bisa sejauh tetap pura-pura beriman bahkan bagi orang yang sesungguhnya ateis. Berdasarkan temuan saya, ada ateis yang melakukan ibadah dan memakai jilbab. Agama sebagai pertunjukan (performance) dilanjutkan, meskipun sudah tidak punya arti lagi bagi mereka.

Banyak dari mereka yang mengaku sudah tidak percaya lagi pada Tuhan mengalami masalah dengan keluarganya. Saya menemukan kasus-kasus cerai atau orang diusir dari keluarganya atas nama agama. Sebuah fenomena lain yang seringkali terjadi adalah rekonsiliasi antara ateis dan keluarganya: dalam kasus seperti ini, keluarga tahu bahwa ia ateis tapi mereka tidak lagi membicarakan soal agama.

Banyak anak ateis tidak terbuka dengan orang tua tidak hanya karena mereka takut sanksi sosial tapi mereka tidak mau membuat orang tuanya sedih atau kecewa. Anak ateis kemudian mencari kelompok sejawat (peer group) di luar keluarganya. Di era digital, tak sulit untuk bertemu orang dengan pandangan sama.

Kebanyakan ateis hanya terbuka dengan sahabat terdekat. Tetapi, di media sosial dan dalam kelompok tertutup mereka ramai berkomunikasi: kelompok ateis dan forum di media sosial merupakan ruang yang aman untuk membicarakan soal agama dan ateisme secara terbuka.

Hal yang menarik adalah ada beberapa orang ateis yang punya dua identitas, yaitu satu untuk keluarganya dan teman-teman beragama kemudian satu identitas “nyata” untuk sahabat yang cukup terbuka. Bahkan ada orang yang punya dua profil Facebook supaya mereka bisa muncul di dunia maya dengan dua identitas ini.

Kelompok ateis: kiri dan kanan


Meskipun dunia maya telah mempertemukan orang-orang dengan identifikasi diri sebagai ateis ini, tidak jarang mereka berdebat akibat tidak bersepakat tentang beberapa hal.

Dari percakapan dengan banyak orang ateis saya dapat informasi bahwa beberapa ateis membedakan antara “ateis kiri” dan “ateis kanan”. Memang tidak semua ateis bisa disebut “kiri” atau “kanan”. Ada banyak ateis yang tidak tertarik dengan politik atau isu sosial sama sekali, atau ada yang cuma tertarik pada saat pemilu.

Walaupun begitu, perbedaan antara ideologi kiri (yang peduli dengan isu sosial dan ingin mengurangi kesenjangan sosial) dan kanan (yang melihat kesenjangan sosial sebagai sesuatu yang alami) merupakan salah satu perbedaan dalam komunitas ateis yang menunjukkan mereka lebih beragam dari yang dipikir oleh banyak orang Indonesia.

Para ateis kanan lebih dipengaruhi gagasan liberal kanan termasuk ekonomi liberal; banyak dari mereka menolak agama karena dianggap tidak sejalan dengan argumentasi sains dan karena mereka berpendapat agama bisa mengajak manusia untuk tidak toleran.

Ateis kiri lebih peduli dengan isu-isu sosial, banyak dipengaruhi pikiran kiri termasuk Marxisme. Tapi tidak semua ateis kiri menjadi Marxis.

Namun, justru yang kiri tidak begitu anti-agama. Banyak yang menyebut diri sebagai ateis kiri memiliki latar belakang dari kelas bawah atau menengah bawah. Ini mungkin salah satu alasan mereka tertarik dengan isu sosial-politik. Justru yang kiri melihat potensi emansipatoris dalam agama, yakni sebagai alat perjuangan untuk kaum tertindas.

Beberapa ateis kanan cenderung menilai agama, terutama Islam, sebagai sesuatu yang kuno, yaitu tidak penting lagi untuk mereka. Tapi bahkan mereka tidak punya niat untuk mengubah dasar negara Indonesia.

Semua ateis yang saya wawancarai menghormati imam orang lain dan sadar bahwa agama merupakan sesuatu yang penting untuk mayoritas Indonesia.

Lebih dari dua tahun saya mengenal puluhan orang ateis Indonesia dan berdebat dengan mereka. Saya juga telah mewawancarai belasan dari mereka. Setelah penelitian ini, kesimpulan saya adalah: realitas kaum ateis itu sangat tidak sesuai dengan wacana umum di Indonesia yang masih melihat ateisme dalam konteks komunisme, perang dingin, dan propaganda Orde Baru.

https://theconversation.com/kaum-sekuler-dan-ateis-indonesia-hidup-di-bawah-bayang-bayang-stigma-79662
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 4
Lamgsung dicap penyembah setab
Ini yg disebut hipokrit...
Btw kalo atheis berarti ga percaya Bapa, Tuhan Yesus dan Roh Kudus ya? emoticon-Frown
Yg bikin stigma itu pemuja teroris..
gw bukan gak percaya Tuhan tapi daripada percaya begituan lebih baik percaya diri sendiri
tapi bukan berarti boleh menistakan agama orang lain
asal jangan setengah setengah, wedi demit gitu
Quote:


Kaum sekuler dan ateis Indonesia hidup di bawah bayang-bayang stigma Kaum sekuler dan ateis Indonesia hidup di bawah bayang-bayang stigma Kaum sekuler dan ateis Indonesia hidup di bawah bayang-bayang stigma Kaum sekuler dan ateis Indonesia hidup di bawah bayang-bayang stigma Kaum sekuler dan ateis Indonesia hidup di bawah bayang-bayang stigma Kaum sekuler dan ateis Indonesia hidup di bawah bayang-bayang stigma Kaum sekuler dan ateis Indonesia hidup di bawah bayang-bayang stigma
Quote:


klo KITAB SUCI fiksi itu atheis ga bro?
lalu AL`QURAN itu KITAB SUCI bukan si?

emoticon-Traveller
Atheis sebenarnya banyak di Indonesia, cuma KTP nya masih ditulis beragama. Logikanya kalau ada orang yang tingkat kepercayaan religiusnya 150% (kelewat radikal) 80% (religius), 70%, atau 50% (moderat), pasti ada juga orang yang nilai religiusnya 0% (atheis) atau -100% (sangat benci agama). Ini sesuatu yang tidak bisa dihindari.

Menurut hukum
http://www.hukumonline.com/klinik/de...s-di-indonesia
Quote:





Pandangan gue pribadi sih seharusnya diperbolehkan, asal kubu oposisi jangan kompor-komporin dengan ngomong ini menjurus ke arah komunisme (PKI). Masyarakat kita masih punya stigma atheis = komunis, padahal itu salah. Di negara-negara barat juga banyak orang Atheis (karena mereka sudah muak dengan doktrin agama yang mengajarkan kebencian), tapi mereka bukan komunis.

Menganut agama itu hak seseorang, tidak menganut agama juga hak seseorang. Itu tanggung jawab manusia dengan Allah bukan dengan sesama.
Diubah oleh levyrtrow
Ambil hikmahnya aja mereka gak perlu terbebani bayar upeti luar biasa besar ke negeri padang pasir kalau mau bisa masuk surga
meski banyak yg menilai islam tak lagi relevan tapi jangan lah jua dibunuh emoticon-Smilie
Menjadi ateis di negara muslim memang tidak gampang. Di awal bulan Agustus, sebuah foto menjadi viral di Malaysia. Foto pertemuan ateis itu tidak hanya mendorong pernyataan dari politikus dan pejabat, tetapi banyak warga di media sosial mengatakan ateis tidak bisa diterima masyarakat bahkan bahwa orang murtad layak dibunuh.


gmn ga harus munawaroh, konsekuensinya aja di bunuh
mpe neng citra kudu jalanin kehidupan ganda, kerudung msh dipakai tp iman sudah tiada
org2 jd atheist salah satunya krn radikalisme di dalam internal, skrng ada yg murtad di ancam di bunuh ya makin ngebuktiin poin org atheist
Diubah oleh beenana
masalahnya atheis disini bukan atheis yg kayak diluar yg "bodoamat"



atheis disini atheis norak yg kerjaannya ganggu orang beragama


emoticon-Leh Uga


atheis melayu pak.
Quote:

Orang theis kan otak dinomor sekiankan gimana mungkin bisa jujur ma orang yang otaknya disimpan di dalam garasi?
astajim emoticon-Kagets
Klo orang merasa sudah sempurna dan orang modern yang menuntut untuk lebih baik demi masa depan disatukan gimana mungkin bisa nyambung?
ya begitulah
Kalo disini paling aman ngebunglon, udah tau kan theis Indonesia itu kayak apa? emoticon-Big Grin
Rina Nose baru lepas jilbab aja dibully terus, ponakan ane masih sd satu satunya di kelas yang tak pakai jilbab juga suka dibully. Jadi lebih baik ngebunglon emoticon-Big Grin
Quote:


ah sapa bilang atheis luar "bodo amat"

ga kenal pendiri pretpreedom?

ga kenal richard dawkins,sam harris,dll?emoticon-Ngakak

Quote:



lagian apasih yg bisa dibanggain orang atheis ?
banyak hal yg mereka gak tau. dan semua manusia gak tau.




kecuali kalo teknologi kayak = hidupin orang mati + anti aging + anti mati + teleport


baru dah yuk sama sama atheis


manusia sekarang belom pantes atheis
Diubah oleh zelfrizk
Halaman 1 dari 4


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di