alexa-tracking

Lupus, misteri autoimun yang mengisap energi pengidapnya

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5af2d52dded77026128b4578/lupus-misteri-autoimun-yang-mengisap-energi-pengidapnya
Lupus, misteri autoimun yang mengisap energi pengidapnya
Lupus, misteri autoimun yang mengisap energi pengidapnya
Salah satu gejala lupus: nyeri sendi
Charla Kumala Sari awalnya tak menyukai riasan wajah. Untuk keluar rumah, perempuan berusia 30 tahun ini lebih memilih sedikit bedak dan polesan lipstik seadanya saja.

Namun, ruam-ruam merah yang sering muncul di sekitar wajah dan kepalanya memaksa Charla untuk lebih cermat memilih komestik apa yang bisa menyamarkan lukanya itu.

"Kalau gejalanya lagi datang, kulit kepalaku bisa retak-retak, terus rambut rontok. Kepalaku jadi pitak-pitak. Sudah gitu sekitar hidungku ruam merah. Bikin gak pede," cerita Charla kepada Beritagar.id, Rabu (9/5/2018).

Charla adalah penderita discoid lupus erythematosus, salah satu jenis Lupus yang menyerang jaringan kulit sehingga menyebabkan ruam-ruam yang umumnya muncul di wajah menyerupai bentuk kupu-kupu.

Dokter tak melarangnya mengenakan riasan wajah. Jika menimbulkan ruam yang lebih parah, dokter hanya menyarankan untuk menghentikan penggunaannya.

Diagnosis Lupus baru didapatnya pada Februari 2010. Charla tak mengalami gejala umum seperti penderita Lupus lainnya. Hanya saja, pada Desember 2009, dirinya merasakan pegal-pegal yang tak berkesudahan.

Awalnya Charla tak ingin mengecek kondisi tubuhnya, mengingat sewaktu kecil dia termasuk anak yang mudah sakit dan lelah. Namun, nyeri sendi yang membuatnya semakin tak nyaman itu memaksanya menemui dokter.

Penyakit yang dideritanya bukan karena faktor genetik. Sepanjang pengetahuannya, tak ada anggota keluarganya yang mengidap penyakit serupa. Charla pun enggan mencari tahu apa yang menyebabkan "penyakit 1.000 wajah" ini bisa hinggap di tubuhnya, meski beragam gejala lainnya mulai bermunculan paska-diagnosa itu.

"Aku sudah terlanjur down. Aku teringat ibu temanku sewaktu SMP dulu meninggal dunia tiga bulan setelah divonis Lupus," sambungnya.

Kekhawatiran Charla masuk akal. Perempuan, pada usia produktif, dan berasal dari Asia dan Afrika paling rentan terkena penyakit ini. Penyakit ini tak mesti genetik, faktor lingkungan dan hormon bisa menjadi penyebab kemunculan penyakit ini.

Merujuk data Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) Kementerian Kesehatan yang diolah Lokadata Beritagar.id, penderita Lupus terbanyak sejak tahun 2015 adalah kaum perempuan. Rentang usia penderita terbanyak juga tersebar dari mulai 14 hingga 65 tahun.

Angka penderita ini bisa jadi lebih tinggi. Sebab, data SIRS yang diolah Kementerian Kesehatan hanya berasal dari rumah sakit negeri yang melapor saja. Sementara, kasus Lupus yang dilaporkan tidak lebih dari 12 persen.
Lupus, misteri autoimun yang mengisap energi pengidapnya
Jumlah pasien Lupus berdasarkan rentang usia
Angka harapan hidup Lupus tak bisa ditebak, namun risiko meninggal dunia semakin tinggi manakala gejala yang dialami semakin parah. Alhasil, penderita Lupus harus bergantung pada obat-obatan untuk seumur hidup mereka.

Charla setidaknya harus "berkunjung" ke RS Panti Rapih, Sleman, Yogyakarta, setiap tiga bulan sekali untuk mengambil obatnya.

Penderita Lupus di rumah sakit lain bisa menebus obatnya sebulan sekali, namun Charla, yang mengandalkan BPJS Kesehatan untuk biaya pengobatannya, harus mengikuti aturan asuransi milik pemerintah yang hanya mengizinkan penebusan obat dilakukan setiap satu hingga tiga minggu sekali.

Ada dua jenis obat yang harus dikonsumsinya; CellCept (mycophenolate mofetil) dan Steroid. Dalam keadaan normal, Charla hanya perlu mengonsumsi CellCept satu tablet sehari. Namun, jika sedang kambuh, dia terpaksa menelan tiga tablet sehari plus 48 ml Steroid.

Charla beruntung, BPJS Kesehatannya bisa diandalkan. Sebab jika tidak, perempuan yang kini bekerja sebagai wirausaha daring ini harus mengeluarkan Rp3 juta sampai Rp3,5 juta per bulan untuk berkonsultasi dengan dokter dan menebus obat-obatannya.

"Aku bela-belain urus BPJS, dari Faskes I ke II, minta rujukan dari RSUD Sardjito ke Panti Rapih. Soalnya di Sardjito obat-obatanku itu tidak dicover," tukasnya.
Asupan obat seumur hidup
Sulitnya mendeteksi penyebab Lupus menyulitkan penanganannya. Hingga saat ini, penawar yang benar-benar bisa mengusir penyakit ini dari dalam tubuh penderitanya belum ditemukan.

Seorang dokter spesialis anak subspesialis alergi dan imunologi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat, Zakiudin Munasir mengatakan, pasien Lupus yang datang pada satu kali pengobatan lalu membaik, bukan berarti dia tidak akan kembali lagi.

"Gejalanya akan terus datang. Kalau sudah stabil pun pasien tetap harus kontrol paling tidak tiga bulan sekali untuk dilihat perkembangan sistem kekebalan tubuhnya," tutur Zaki kepada Beritagar.id, di Gedung Departemen Anak RSCM, Rabu (9/5/2018).

Zaki melanjutkan, salah satu jenis obat yang paling sering diberikan kepada penderita Lupus adalah Steroid. Steroid berhubungan dengan cortisol, hormon-hormon alami anti-radang pada tubuh.

Banyak yang meyakini, tanpa Steroid, separuh dari penderita Lupus tak bisa bertahan hidup lebih dari empat tahun.

Steroid juga memiliki banyak efek samping. Oleh karenanya, penggunaannya hanya bisa dalam waktu yang diperlukan dan mengikuti anjuran dokter.

Dulu, tutur Zaki, sejumlah ahli medis memberikan terapi Steroid dengan dosis yang cukup tinggi kepada penderita Lupus. Akan tetapi, banyak pasien yang justru relapse (kambuh) dengan gejala yang lebih berat lagi.

Para ahli medis pun tak berhenti sampai di situ. Mereka kemudian mengakali pengobatan dengan mencoba memberikan Steroid dalam dosis rendah.

"Jadi selesai pengobatan pertama, membaik, lalu selanjutnya kita turunkan ke dosis terendah yang bisa mengontrol penyakitnya," sambung Zaki.

Cara ini diakui Zakiudin cukup berhasil menekan gejala penderita Lupus ke tingkat yang lebih tinggi. Namun sayang, Steroid tidak bisa digunakan untuk penderita Lupus dengan gejala yang sudah berat.

Beberapa obat yang dianjurkan Zaki untuk penderita Lupus dengan gejala berat antara lain MMF (Mikofenolat Mofetil), Cytoxan (cyclophosphamide), Imuran (azathioprine), dan lainnya.

Jika pasien Lupus mengalami komplikasi ke organ lain, seperti misalnya jantung dan ginjal, maka disarankan untuk juga berkonsultasi kepada dokter spesialis penyakit yang bersangkutan.

Menyisir data yang sama, jumlah pasien Lupus yang meninggal dunia sepanjang 2016 tercatat mencapai 550 orang, atau meningkat lima kali lipatnya dari tahun 2015.

Rumah sakit yang paling banyak dirujuk untuk menangani kasus ini antara lain RSCM Jakarta, RSU Dr. Saiful Anwar Malang, Jawa Timur; RSUP Dr. Muhammad Hoesin Palembang, Sumatera Selatan; dan RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.
Lupus, misteri autoimun yang mengisap energi pengidapnya
Jumlah pasien yang meninggal akibat Lupus di Indonesia, periode 2014-2016Lupus, misteri autoimun yang mengisap energi pengidapnya


Sumber : https://beritagar.id/artikel/berita/...gi-pengidapnya

---

Baca juga dari kategori BERITA :

- Lupus, misteri autoimun yang mengisap energi pengidapnya Kejaksaan tangkap pemimpin Tabloid Obor Rakyat

- Lupus, misteri autoimun yang mengisap energi pengidapnya Kerusuhan di Mako Brimob dan persoalan tahanan sipil

- Lupus, misteri autoimun yang mengisap energi pengidapnya Tarif tol Jakarta ke Surabaya lebih murah dari harga tiket bus

×