alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Kumparan /
Bora Milutinovic: Lima Piala Dunia, Lima Tim Berbeda
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5af17dd632e2e68e098b456b/bora-milutinovic-lima-piala-dunia-lima-tim-berbeda

Bora Milutinovic: Lima Piala Dunia, Lima Tim Berbeda

Bora Milutinovic: Lima Piala Dunia, Lima Tim Berbeda

Velibor Milutinovic adalah seorang pejalan jauh, hidupnya berkisah tentang perjalanan. 

Nama belakangnya memang Milutinovic, tapi orang-orang memanggilnya dengan sebutan Bora. Katanya, nama itu menandakan keakraban. Ia sanggup memangkas jarak yang tak perlu, memenggal remeh-temeh yang membikin rumit.

Bora bukan pelatih bergelimang nama besar dan gelar juara. Karier kepelatihannya adalah perkara ganjil. Nomaden, kalau kata orang-orang. Namun, keganjilan seperti itu adalah berkah bagi sebagian negara. Mereka yang tak cukup mentereng untuk disentuh pelatih ternama menjadi anak kandung sepak bola Bora.

Kepelatihan Bora memperanakkan rekor. Sejak tahun 1986 hingga 2002, ia sudah melatih lima negara: Meksiko, Kosta Rika, Amerika Serikat, Nigeria, dan China. 

Di tangan kepelatihan Bora, kelima negara tadi berlaga di Piala Dunia. Meksiko tahun 1986, Kosta Rika tahun 1990, Amerika Serikat tahun 1994, Nigeria tahun 1998, dan China tahun 2002. 

Di antara kelimanya, tak ada satu pun yang meraih gelar juara. Namun, bagi para pengelana, gelar adalah urusan nomor sekian. Pengalaman berharga menjadi yang utama. Di tangan Bora, orang-orang asing itu, negara-negara yang tak dianggap di ranah sepak bola itu menjadi ahli waris yang sah gempita Piala Dunia.

Bajina Basta, kota tempat Bora lahir dan bertumbuh tidak berada di planet lain. Ia ada di belahan Yugoslavia, negeri yang kini sudah tak ada lagi.

Kata Bora, kota ini kota yang menyenangkan. Bukan kota orang-orang kaya. Namun, selama ia punya sumber air yang jernih, itu semua sudah cukup untuk Bora dan orang-orangnya. 

“Kota saya mengajarkan satu hal: Untuk bisa bertahan hidup, kamu harus menggunakan apa yang ada di tanganmu. Talenta, itu kuncinya.”

Sejak kanak Bora terbiasa hidup sendirian. Keluarganya mati satu per satu dihajar Perang Dunia II. Menjadi yatim-piatu, Bora tinggal bersama paman dan bibinya. Menginjak remaja, ia memutuskan untuk pergi dari kotanya. 

Sepak bola menyelamatkan Bora. Atau mungkin, ia yang menyelamatkan hidupnya sendiri dengan sepak bola. Di tengah segala ketidakmenentuan, Bora jatuh cinta sebegitu dahsyatnya dengan sepak bola.

“Orang tua saya memang meninggal karena Perang Dunia II. Namun, saya tidak bisa berkata bahwa saya menghidupi masa kecil yang suram. Sebagai anak-anak, saya tinggal memakai sepatu bola dan bermain di lapangan ketika kesulitan datang.”

Sebagai pemain bola, nama Bora memang tak masyhur. Karier terlamanya ada di Belgrade Partizan. Di sana ia bermain sejak tahun 1960 hingga 1966. Setelahnya, ia berpindah-pindah negeri. Mulai dari Swiss, Prancis, hingga Meksiko. 

Tahun 1976, Bora memutuskan untuk gantung sepatu. Ia memulai perjalanannya yang baru. Bergabung dengan tim kepelatihan klub sepak bola universitas di Meksiko bertajuk UNAM. 

Itu sebelum namanya dikenal sebagai miracle worker.

Meksiko dan Kosta Rika

"Tidak ada metode khusus untuk mendidik anak-anak ini, saya hanya perlu memahami karakter mereka. Yang harus dipahami orang-orang tentang Meksiko, mereka sudah terlampau sering mendapat cap buruk dari mana pun. Namun, begitu Anda hidup berdampingan dengan mereka, Anda bakal segera sadar bahwa cap jelek tadi hanyalah omong kosong."

Meksiko melakoni laga fase grup dengan meyakinkan. Mereka berhasil memenangi dua dari tiga laga, sementara satu laga berakhir dengan skor imbang. Meksiko memang tuan rumah, tapi tetap saja bukan unggulan. Terlebih, orang-orang menganggap Meksiko diuntungkan karena satu grup dengan tim-tim yang tak diunggulkan juga: Paraguay, Belgia, dan Irak. 

Lolos ke babak knock out dengan status juara grup, Meksiko berhadapan dengan Bulgaria. Khusus di pertandingan ini, menurut Bora, mereka menjadi unggulan. Manuel Negrete dan Raul Servin menjadi pahlawan Meksiko lewat masing-masing satu golnya. 

Keberhasilan Meksiko mencapai perempat final di Piala Dunia menjadi yang pertama kali buat mereka. Bora dinilai sebagai sosok yang menciptakan sejarah baru untuk Meksiko. Namun, lawan mereka di perempat final adalah raksasa Eropa, Jerman Barat. 

Yang mengejutkan, Meksiko berhasil menahan imbang Jerman Barat 0-0 sampai babak perpanjangan waktu berakhir. Setelahnya, keberuntungan dan nasib yang menentukan karena pertandingan berlanjut ke babak adu penalti.





Jerman Barat, pada akhirnya berhasil lolos ke semifinal setelah mengalahkan Meksiko di babak adu penalti dengan skor 4-1. Namun, nama Bora tetap semerbak karena berhasil mengukir pencapaian baru untuk negara seperti Meksiko.

Timnas Kosta Rika menjadi negara selanjutnya yang disambangi Bora setelah pencapaiannya di Meksiko. Visinya sama, Kosta Rika ingin berangkat ke Italia dan bertarung di Piala Dunia 1990.

Bora harus berhadapan dengan Brasil di babak grup. Kosta Rika masuk ke Grup C, berbarengan dengan Brasil, Swedia, dan Skotlandia. Dalam tiga pertandingan babak grup, Kosta Rika kalah satu kali saat melawan Brasil. Selebihnya, mereka berhasil mengukir satu kemenangan dan mengamankan satu hasil imbang.

Di fase knock out, kekalahan besar menjadi pil pahit yang harus dikunyah Bora. Berhadapan dengan Republik Ceko, Kosta Rika kalah 1-4. Apa boleh buat, babak ini menjadi pijakan terakhir Bora di Piala Dunia 1990, Piala Dunia pertama bagi Kosta Rika. 

Amerika Serikat

Setelah keputusan FIFA tahun 1988 menjadikan Amerika Serikat sebagai tuan rumah Piala Dunia 1994, Negeri Paman Sam berbenah. Mereka tak mau sekadar menjadi tuan rumah yang sibuk mengurusi tamu. Mereka ingin ikut berlaga. Setidaknya, lolos fase grup. Itu target yang ditetapkan oleh federasi. 

Untuk tujuan yang tak mudah ini, federasi mengangkat Bora sebagai pelatih pada tahun 1991. Waktu persiapan yang cukup panjang diharapkan bisa memaksimalkan persiapan tim untuk menembus Piala Dunia. 

Gelar miracle worker yang disandang Bora itu didapatnya saat melatih Timnas Amerika Serikat. Di mata federasi saat itu, metode kepelatihan Bora adalah metode yang unik karena berhasil mengangkat moral tim-tim non-unggulan.

“Hal terbesar yang dimiliki Bora adalah psikologis dan kemampuannya untuk dekat dengan pemain. Ia bisa membuat tim percaya kepadanya, sekalipun mereka sedang ada dalam situasi underdog."

"Menurut saya, kepelatihan Bora bukan soal taktik, tapi tentang upaya untuk membuat pemain-pemain ini merasa pantas untuk bertanding di perhelatan akbar,” jelas Sunil Gulati, sahabat Bora yang pada tahun 2009 menjabat sebagai Presiden Federasi Sepak Bola Amerika Serikat.

Piala Dunia 1994 adalah Piala Dunia dengan sistem baru. Untuk mencegah banyaknya hasil imbang, tiga poin diberikan bagi yang menang, bukannya dua seperti sebelumnya. Di perhelatan ini pulalah, untuk pertama kalinya wasit memakai seragam warna-warni dan setiap tim diperbolehkan memiliki tiga pemain cadangan untuk menggantikan penjaga gawang yang cedera.

Lantas, pada 22 Juni 1994, sepak bola Amerika Serikat mencetak sejarah. Mereka akhirnya berhasil memenangi satu pertandingan di Piala Dunia sejak Piala Dunia 1950 (tahun 1950, mereka mengalahkan Inggris 1-0). Sejarah ini tercipta di pertandingan kedua fase grup. Anak-anak asuh Bora berhasil menutup laga melawan Kolombia dengan kemenangan 2-1.

Amerika Serikat sendiri berhasil lolos fase grup walau kondisinya di ujung tanduk. Menempati peringkat tiga klasemen grup dengan raihan empat poin. Celakanya, Amerika Serikat harus langsung berhadapan dengan Brasil di fase knock out.

Amerika Serikat memang gagal melangkah ke putaran perempat final. Namun, mereka tak perlu kecewa-kecewa amat. Karena toh, Brasil juga hanya berhasil menang dengan skor tipis 1-0 melawan mereka.

Nigeria

Gairah sepak bola Nigeria meninggi sejak keberhasilan menjejak Piala Dunia 1994. Dua tahun berselang, mata dunia terbelalak karena The Super Eagles berhasil merebut medali emas Olimpiade Atalanta 1996. 

Di partai puncak, Nigeria berhasil mengalahkan Argentina yang diperkuat oleh Hernan Crespo dan Claudio Lopez dengan skor 3-2. Sebelumnya, pemain-pemain macam Roberto Carlos dan Bebeto harus menanggung kekalahan di semifinal.

Bora resmi menjadi pelatih Nigeria pada tahun 1997. Kala itu, mereka sedang bersiap menembus Piala Dunia. Bakat-bakat muda Nigeria mewujud dalam bentuk Taribo West, Tijani Babangida, Wilson Oruma, dan Nwankwo Kanu.

Nigeria pada akhirnya lolos ke Prancis. Terhitung, ada lima negara Afrika yang ikut bertanding bertanding di Piala Dunia 1998: Nigeria, Maroko, Tunisia, Kamerun, dan Afrika Selatan. 

“Pada dasarnya, saya cuma menggunakan apa yang ada di tangan saya. Benar, Nigeria saat itu memiliki bakat-bakat muda yang menjanjikan.”

“Namun, saya juga tidak bisa melupakan para senior yang sudah berjasa di Piala Dunia 1994. Terlebih, mereka memang masih layak bermain. Mental dan pengalaman mereka dibutuhkan. Itu yang saya tangkap," seperti itu penjelasan Bora menyoal skuatnya saat berlaga di Piala Dunia 1998.





Penempatan mereka ada bersama Spanyol, Bulgaria, dan Paraguay. Walaupun bersanding dengan tim-tim Eropa, optimisme Nigeria tak surut. Bagi Bora, itu yang menjadi modal utama mereka berlaga di Prancis.

Di babak pertama, Spanyol yang memang sedang dalam keadaan payah menjadi lawan Nigeria. Namun, sepayah apa pun keadaan Spanyol saat itu, orang-orang tetap menjadikan Spanyol sebagai favorit. 

Favorit tinggal favorit. Nigeria sukses mengalahkan Spanyol dengan skor 3-2 setelah penjaga gawang tak berhasil menepis tendangan spektakuler Sunday Oliseh yang menjadi gol ketiga Nigeria. Kiper Spanyol waktu itu, Andoni Zubizzareta menjadi pesakitan. Di menit 73, Zubi bahkan mencetak gol bunuh diri karena kesalahan menghalau umpan tarik Garba Lawal.

Setelah bertanding melawan Spanyol, Nigeria berhadapan dengan Bulgaria. Gol tunggal Ikpeba di menit 28 sudah cukup untuk menutup pertandingan dengan kemenangan tipis 1-0.

Hasil positif gagal direbut Nigeria di pertandingan ketiga fase grup. Melawan Paraguay, mereka kalah 1-3. Namun, dua kemenangan di pertandingan sebelumnya mengamankan posisi Nigeria di klasemen grup. Mereka pun lolos dengan status juara grup.

Di babak knock out, Denmark menjadi lawan. Berbekal kemenangan atas dua tim Eropa di fase grup, mereka melangkah dengan optimistis. Sayangnya, kekalahan telak 1-4 mematikan langkah mereka ke babak perempat final.

"Ia menjadikan kami sebagai tim yang percaya diri walaupun berstatus sebagai non-unggulan. Ia melatih kami dengan cara yang sederhana. Tendangan saya (yang jadi gol terakhir Nigeria di laga melawan Spanyol -red) itu juga merupakan hasil didikannya.”

“Ia mendidik saya untuk menjadi pemain yang percaya diri. Momentum tidak sering terjadi. Makanya, ia bilang kepada saya, begitu dapat momentum, langsung tembak. Dan itulah yang saya lakukan,” jelas Oliseh menyoal gaya kepelatihan Bora.

China

Setelah capaian Nigeria di Piala Dunia 1998, Bora melanjutkan kariernya ke China pada tahun 2000. Ia menjadi pelatih yang punya tugas untuk mempersiapkan China menembus Piala Dunia 2002 yang digelar di Jepang dan Korea Selatan sekaligus. 

Ini menjadi pertama kalinya Piala Dunia digelar di dua negara sekaligus. China tidak ingin menjadi negara Asia yang hanya menonton Piala Dunia lewat televisi. Ambisi mereka saat itu, bermain di Piala Dunia.

“Menangani pemain-pemain China itu bukan perkara mudah. Benar-benar sulit. Kata orang-orang, saya punya kemampuan adaptasi yang baik. Saya juga mengakui hal itu, tapi khusus untuk China, saya butuh usaha ekstra.”

Karakter pemain-pemain China yang cenderung tempramen menjadi masalah utama Bora saat menangani Timnas ini. Di mata Bora, anak-anak asuhnya itu cenderung susah untuk menerima tekanan. 

Itulah sebabnya, Bora cenderung mengandalkan pendekatan psikologi saat melatih di China. Menurutnya, walaupun tempramen, pemain-pemain China punya satu kelebihan: Mereka tunduk kepada para pemimpinnya.

Selain persoalan karakter, kendala bahasa menjadi hal yang awalnya sempat membuat Bora ragu. Namun, pada kenyataannya, ia tidak perlu fasih berbahasa China untuk dapat berkomunikasi dengan anak-anak didiknya.

“Saya ini fasih berbahasa Spanyol. Jangan ragukan saya, percayalah. Namun, kemampuan bahasa China saya nol besar. Jangan ragukan soal ini juga. Saya mengandalkan gesture dan intuisi untuk melatih mereka. Dan puji Tuhan, kami bisa saling memahami."





Begitu China dinyatakan lolos ke Piala Dunia 2002, Bora menjadi idola sejuta umat di China. Menurut Bora, ia tidak bisa melintasi jalanan China dengan ‘tenang’, selalu saja ada yang meminta berfoto dengannya. 

“Ya, mau bagaimana lagi? Bora ini terkenal di seluruh dunia (tentu ia bercanda -red). Polisi bahkan pernah menyembunyikan saya di kamar mandi karena ada ratusan orang yang meminta foto bareng. Itu pengalaman absurd. Orang-orang China benar-benar paham membuat saya merasa dicintai. Tidak ada negeri yang seperti China!"

Di tahun ini, untuk pertama kalinya China lolos ke Piala Dunia. Mereka masuk ke Grup C, bersanding dengan Brasil, Turki, dan Kosta Rika. Sayangnya, raihan Bora di Piala Dunia 2002 tidak semengesankan saat menangani Nigeria. China kala itu gagal lolos ke babak knock out akibat menanggung tiga kekalahan. Artinya, mereka tak pernah menang di fase grup.

****

Bora adalah pelatih dengan karier yang ganjil. Segala pemberitaan tentang timnya hanya berkisar pada dua hal: Dia mampu menjadi sosok yang dekat dengan pemain dan timnya menjadi kejutan di Piala Dunia. 

Pembicaraan tentang karier kepelatihan Bora jauh dari pembahasan taktik. Tim-timnya pun tidak bertanding dengan gaya yang istimewa. Kesan awal yang muncul dari tim bentukannya adalah gabungan antara semangat pemain muda dan pengalaman pemain senior. 

Atas segala hal yang dikerjakan Bora lewat kepelatihannya, Gunali, sahabatnya tadi, pernah berkata demikian, "Bora adalah pribadi yang suka bekerja tanpa pernah peduli di mana ia bakal ditempatkan. Rahasia Bora cuma satu, ia paham seperti apa caranya membuat mayones (idiom untuk tim -red). Cukup berikan dia bahan-bahan dasarnya, nanti dia sendiri yang akan mencampur dan meraciknya."

Dan benar saja, Bora memang bersedia ditempatkan di mana pun. Setelah melatih Jamaika pada tahun 2006, ia terbang ke Irak pada tahun 2009 lengkap dengan 10 orang pengawal: Mempersiapkan Timnas Irak untuk bertanding di Piala Konferederasi, memotret seluruh anak-anak didiknya di hari pertama, dan bermain catur di Kantor Kedutaan Besar Serbia. 

Untuk pilihan tak wajarnya ini Bora punya satu kalimat nyeleneh, "Tuhan mengirimkan saya sepucuk surel yang isinya, Bora ini waktumu."





Sumber : https://kumparan.com/@kumparanbola/b...ma-tim-berbeda

---

Kumpulan Berita Terkait :

- Bora Milutinovic: Lima Piala Dunia, Lima Tim Berbeda Bora Milutinovic: Lima Piala Dunia, Lima Tim Berbeda

- Bora Milutinovic: Lima Piala Dunia, Lima Tim Berbeda Piala Thomas & Uber: Tim Putra Target Juara, Tim Putri Kejar Semifinal

- Bora Milutinovic: Lima Piala Dunia, Lima Tim Berbeda Piala Dunia 2018: Mourinho Dukung Portugal dan Ronaldo untuk Bersinar

Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di