alexa-tracking

Alam Ngaji Rasa di Indramayu

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5aece0829a0951b0188b4576/alam-ngaji-rasa-di-indramayu
Alam Ngaji Rasa di Indramayu
Alam Ngaji Rasa di Indramayu

Nasaruddin Umar

Alam Ngaji Rasa di Indramayu

(Foto: Ilustrasi)


SALAH satu kelompok yang dapat dikategorikan Aliran Kepercayaan ialah Alam Ngaji Rasa bagi Komunitas Bumi Segandu Darmayu, sekitar Blok Pintu Air Desa Karimun, Kecamatan Losarang Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Asal-usul penamaan Komunitas Bumi Segandu Darmayu, yang kemudian memiliki kepercayaan Alam Ngaji Rasa, menurut hasil penelitian Kementerian Agama (2013) dihubungkan dengan Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu. Kata "Suku" berarti kaki, yakni mengandung makna setiap orang berjalan di atas kakinya sendiri dan membawa dirinya untuk mencapai tujuannya. Kata "Dayak" bearasal dari kata "ayak/ngayak" berati memilih mana yang benar dan mana yang salah.

Kata "Hindu" artinya kandungan (rahim), dimana setiap orang berasal dari rahim ibu. Kata "Budha" berasal dari kata "wuda" berarti telanjang, yakni setiap manusia dilahirkan dalam keadaan telanjang, tidak memiliki apa-apa berupa materi. Kata "Bumi" berati dan melambangkan makna wujud. Kata "Segandu" berarti sekujur badan, yang bisa dimaknai pandangan hidup secara total.

Ajaran Alam Ngaji Rasa sangat menghormati perempuan karena dialah yang memiliki rahim dari mana semua umat manusia berasal. Komunitas masyarakat Bumi Segandu tidak mau menglaim dan diklaim sebagai penganut agama Hindu atau agama Budha. Penggunaan kata Hindu-Budha karena mereka meneladani kehidupan lima tokoh Pendawa, yakni Yudistira, Bima (Wrekudara), Arjuna (Permadi), Nakula, dan Sadewa, serta tokoh Semar yang dianggap sebagai guru yang sangat bijaksana.




Penyebutan "Budha" dihubungkan dengan inti ajaran Aji Rasa (tepuk seliro) dan kebersahajaan, yang merupakan inti dari agama Budha. Dalam melakukan aktifitasnya, mereka membangun sebuah aula atau bangunan khusus disebut Pasarean (semacam pendopo), tempat melakukan ritual agung Sejarah Alam Ngaji Rasa, yang intinya melakukan pembacaan mantra-mantra, cerita-cerita pewayangan, pujian dan senandung alam, kidung alas turi dan diakhiri dengan penyampaian petuah oleh pemimpin spiritual.

Pemimpin komunitas Bumi Segandu Dermayu disebut Takmad, yaitu orang yang taat melakukan pertapaan. Tempat bertama mereka biasanya di Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Pelabuhan Ratu, Nusakambangan, dan tempat-tempat lain yang dianggap memiliki aura kuat. Di tempat pertapaan itulah mereka mendapatkan ilham atau wangsit berupa Sejarah Alam Ngaji Rasa. Di antara ajarannya ialah membuat senjata atau pusaka dari kayu, mendirikan rumah-rumah kecil di samping rumah mereka yang disebutnya dengan Padepokan Nyi Ratu Kembar.

Sesuai nama kepercayaan ini, Alam Ngaji Rasa, intinya adalah perjalanan hidup manusia tidak bisa dipisahkan dengan alam yang menjadi ruang dan tempat kehidupan. Ngaji Rasa ialah merenungi dan menghayati sedalam-dalamnya interaksi antara manusia dan alam kemudian diambil suatu hikmah dan nilai-nilai luhur untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam ajaran Ngaji Rasa, sebelum mempelajari lingkungan alam, termasuk orang lain yang ada di sekitar kita, terlebih dahulu harus memahami diri sendiri. Apa yang dipandang wajar dan mulia dipraktekkan di dalam kehidupan rumah tangga. Jika nilai-nilai itu sudah hidup di dalam diri sendiri dan di lingkungan rimah tangga, barulah diaktualisasikan nilai-nilai itu ke dalam kehidupan lebih luas, sesama umat manusia dan bahkan dengan alam raya.

Ciri khas kelompok ini mengunakan tutup kepala fari kukusan, berambut panjang, tidak mengenakan baju bagi laki-laki, hanya menggunakan celana selutut, ditambah dengan beberapa kalung dan gelang dari kain, bebatuan, dan benda-benda yang dianggap sakti, kaum perempuan menggunakan pakaian hitam-hitam, tidak menggunakan alas kaki, tidak menggunakan helm jika naik motor, cukup hanya menggunakan tutup kepala tradisionalnya, dan mereka juga jarang menggunakan KTP karena merasa cukup dengan identitas fisiknya yang spesifik. 

https://m.inilah.com/news/detail/219...a-di-indramayu