CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ad884c1d675d4ec0a8b4571/my-secret-story

My Secret Story

Spoiler for Cover:





Selamat malam para sesepuh Kaskus disini. Izinkan saya berbagi sedikit cerita tentang kisah saya disini. Mohon maaf jika penulisan saya amburadul, maklum masih newbie hehe...

Perkenalkan, nama Mursid. Ya biasa dipanggil Mursid juga. Umur sekarang baru 22 tahun. Tinggi 165 cm (terakhir ukur tinggi badan SMA). Asli orang jawa dari ibu bapak sampai kakek buyut diturut keatas orang Jawa semua. Lahir, tinggal, dan tumbuh besar di Jawa juga. Sebenarnya percakapan disini asli banyak pake bahasa Jawa, tapi biar lebih mudah dipahami langsung saya artikan ke bahasa Indonesia.

Sedikit tentang saya ya, saya orangnya pendiam. Cenderung gak peka. Nol soal percintaan (diawal cerita). Kulit putih kekuningan untuk orang Jawa. Gak modis. Sekian tentang saya..


Spoiler for Index:


Noted


Rules ini thread gan :


1. Disini saya cerita apa adanya a.k.a #True Story
2. Saya tidak izin dengan beberapa tokoh tokoh disini gan, soalnya kami beneran lost kontak dan kehilangan kontak.
3. Saya sarankan tidak terlalu kepoin para tokoh disini, boleh sewajarnya saja. Jangan sampai ganggu privasi mereka. Mau kepoin saya silahkan, asal dalam batas wajar saja.
4. Saya sangat butuh kritik dan saran disini supaya saya bisa lebih bersemangat buat menulis ini cerita dan perbaiki cara penulisan saya. Jadi mohon kritik dan saran dari para reader reader sekalian.
5. Saya ucapkan terima kasih banyak buat para reader reader yang sudah mau meluangkan waktunya buat mampir disini.
6. Saya berbagi cerita ini supaya para reader sekalian bisa ambil sisi baik buruk nya dari cerita saya ini agar jadi pembelajaran kedepannya.
7. Waktu update tak menentu, sebisa saya nulis tapi saya usahakan setiap hari bisa update minimal 1 chapter.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
widi0407 dan 25 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh pendakimalas

Chapter 80 : Menggenggam Bara Api


Sebelum melanjutkan cerita, sebenarnya untuk nama nama tokoh disini seperti pacarnya Putri, orang yang dulu menghajar saya dan kawan kawannya karena alasan privasi tidak saya sebutkan. Karena saya tidak meminta izin ke mereka untuk menceritakan hal ini, selain itu saya sudah kehilangan informasi dan kontak soal mereka. Nama orang tua tokoh tokoh disini termasuk orang tua saya sendiri juga tak saya sebutkan, untuk alasan menjaga privasi mereka. Sekedar informasi saja..
.
.


.
.


Apa yang harus saya lakukan untuk membantu Putri menghadapi masalah yang dihadapi olehnya? Setidaknya, apa rencana saya? Saya sendiri tak tau memulainya bagaimana. Rencana saya yang paling mudah ialah coba memaksa itu si cowok untuk pergi dari kehidupan Putri. Secara baik-baik tentunya. Karena jika itu saja berhasil, saya tak perlu repot repot harus menghadapi orang tuanya juga. Namun, rasanya kemungkinan kedua lebih realistis jika melihat keadaan ini.

Ini hari dimana saya setelah membolos bersama Putri dan ketahuan Alya juga karena saya telah berbohong padanya. Walau ia tak tau saya saat ini menghadapi apa. Mungkin memang sebaiknya saya tidak melibatkan Alya dalam hak ini, karena bisa jadi dia akan ikut terancam dan kenapa-kenapa. Tentu saya tak ingin bidadari saya itu kenapa-kenapa meski hanya lecet sedikit saja.


BRAAAAAKKKKK!!!!



"Mursid, kalau melamun terus lebih baik keluar kelas sana!! Sudah membolos kemarin, pelajaran juga tidak memperhatikan!!.." bentak guru saya yang mengajar saat dikelas saya dengan memukul meja guru.

"maaf pak.." ucapku pelan dalam kepala menunduk kebawah.

Ah sial, citra saya dimata guru rasanya benar benar memburuk. Saya sering ditegur mengantuk dikelas bahkan tertidur, efek waktu bekerja lalu. Tak jarang saya lupa tidak mengerjakan PR, untuk anak-anak IPA rasanya saya membuat cerita yang buruk waktu guru-guru pasti bercerita menyinggung saya dikelas lain.

"woy sid, elo berantem lagi? Muka lebam gitu.." tanya Yoga kala kami di kantin waktu istirahat.

"tau ah yog, males mengingatnya gue.." jawabku malas sembari kembali menyantap nasi kucing saya.

"Kalo soal cewek gak usah serius serius sid. Maksudnya, masalahnya gak usah terlalu dianggap serius.." imbuhnya lagi.

"ya awalnya gue juga coba menghindari yog, tapi akhirnya gak bisa.."

"emang kudu berantem gitu?.."

"Ya awalnya gue menghindari, ya karena dia yang mulai ya gue layanin lah.."

Ah, saya ingin membicarakan ini dengan Putri. Langsung saya sms dia untuk ketemuan membahas bagaimana cara dia lepas dari ini,

"Put, nanti abis sekolah ketemuan Yuk? Bisa kan? Dirumah kamu aja ya?.." send.

Tak lama balasan pun datang,

"Bisa sid. Langsung ke rumah aku aja ya.."

"yuhuu.."

Semoga itu si cowoknya Putri tidak datang atau tau akan hal ini. Akan merepotkan jika kepapasan itu orang lagi. Bisa baku hantam lagi jika ketemu itu orang, setidaknya itu kemungkinan besar yang akan terjadi. Sesuatu yang sepertinya disukai para reader budiman semua.. Pffttt emoticon-Nohope

Waktu pulang sekolah pun tiba, langsung saya kembali mengabari Putri kalau saya mau ke rumahnya.

"Put, udah pulang nih. Aku otw rumahmu.."

"Oke, aku juga otw balik rumah ini. Ntar kalo duluan kamu tunggu didepan gerbang dulu ya, soalnya dikunci.."

"Oke siap.."

Langsung saya pacu mx biru kesayangan saya menuju rumah Putri. Tak butuh waktu lama, saya pun tiba. Dan saya melihat motor Putri sudah terparkir dihalaman rumahnya, tanda ia sudah lebih dulu sampai rumah. Langsung motor saya parkirkan dihalaman rumahnya samping motornya.

"Assalamualaikum.. Putri?.." Salamku kepada pemilik rumah, karena pintu depan terbuka namun tak nampak Putri disana.

"Wa'alaikumsalam salam.."

Saya terkaget karena bukan Putri yang menjawab namun orang lain.

"Saya Lia Mas Mursid. Temennya Putri, dia minta saya temenin biar ada alasan buat pulang sama pacarnya.."

"oh gitu.. Kok bisa tau nama saya mbak?.."

"Kan saya teman Sebangku nya, jadi Putri sering cerita soal Mas hehe.."

"Putri juga sudah cerita permasalahannya kok mas.."

Karena ini temannya sudah tau apapun, bisa dipastikan dia orang yang bisa dipercaya.

"oh gitu, maaf ya kalo ikut merepotkan. Jangan panggil mas, panggil Mursid aja. Kita seumuran kok.."

"Kalo gitu panggil aku Lia aja.."

Tak lama Putri datang dari dalam membawa 3 minuman dingin.

"eh langsung masuk aja sid, kita ngobrol di ruang tamu.."

Saya pun melepas sepatu dan masuk ke rung tamu lalu duduk di kursi.

"ini sabahat Sebangku aku sid, namanya...."

"tadi udah kenalan kok haha.." ucapku langsung memotong omongan Putri.

"Langsung deh Put, aku pengen membicarakan gimana kamu bisa lepas dari itu si cowok berengsek. Kamu udah bilang ke dia kan kalau sebenarnya kamu gak suka sama dia?.." tanyaku langsung to the point.

"belum sid.. Aku belum berani, kalau dia marah lalu melaporkan ke orang tuanya maka ibu bapak bisa kena imbasnya. Aku takut itu terjadi.."

"kamu gak bilang ke bapak ibu kalo kamu sebenarnya gak mau dipaksa seperti ini?.."

Kembali dia menggelengkan kepala.

"maaf menyela..." kali ini Lia coba berbicara.

"iya Lia?.." tanyaku kemudian.

"ini sebenarnya awal jadiannya kan kedua orang tua Putri dan itu cowok (maaf nama diganti) masing masing setuju karena mereka ada kontrak kerja. Dan karena si cowok yang memaksa orang tuanya biar coba membicarakan dengan orang tua Putri, dan karena posisi orang tua Putri sangat butuh dengan orang tua si cowok dalam hal pekerjaan, maka orang tua Putri meminta Putri agar menerima si cowok.."

"ah ribet.. Ini kalo aku bertemu itu orang sudah pasti terjadi baku hantam Lia, aku sudah 2x berantem sama dia. Bahkan terakhir dia bawa 2 orang temennya buat hajar gue.."

"eh beneran sid?.." tanya Putri langsung karena kaget.

"iya, sehari setelah dari rumah kamu pertama itu.." jawabku singkat.

"maaf sid.. Udah buat kamu begini lagi.." ucap Putri lesu.

"memang sejak awal hal seperti ini akan terjadi Put, bahkan yang lebih buruk dari ini pasti ada. Aku sudah janji akan bantu kamu Put.."

"eeheeemm.. Ternyata kamu benar Put, ini Mursid seperti yang kamu ceritakan hehehe.." Lia kali ini nimbrung.

"Emang Putri cerita apa tentang aku Lia?.."

"hhhmmm, Put boleh tak ceritain gak? Wkwkwkwk.."

"eh jangan.. Malu aku.." Pinta Putri dengan wajah memerah.

"emang cerita apaan sih? Penasaran aku, ceritain deh Lia.." pintaku lagi.

"Ya sebenarnya Put...."

Langsung mulut Lia disekap kedua telapak tangan Putri.

"Jangan diceritain aduh..."

"wkwkwkwk iya iya, maap Put wkwkwk.."

"kalian aneh deh ah.." ucapku melihat tingkah mereka berdua.

"Sid, aku mau nanya?.." Lia kali ini coba bertanya.

"hhmm, boleh lah. Pake izin segala. Tanya apaan?.."

"Kamu sendiri udah punya Pacar?.."

DEG!

Wah Putri pasti cerita ke Lia ini. Tak mungkin saya membohonginya.

"hhmm, iya udah. Kayaknya Putri banyak cerita ke kamu Lia haha.."

"iyalah, aku bisa dibilang buku diary nya si Putri wkwkwk.."

"eh sid, itu beneran kamu ditembak duluan sama cewek kamu?.."

"iya, kenapa emang?.."

"Ya gak nyangka aja sih, jarang loh cewek nembak duluan haha.."

"Iya Lia, karena dia paham aku ini gak pekaan. Kalo dia nunggu aku nembak dia udah dipastikan sampe sekarang kami gak akan jadian hahaha.."

"ah bener.. Kamu beneran seperti yang diceritain Putri ternyata hahahaha.."

"wah, kalo gini yang tau soal aku ada 3 orang nih.."

"tenang sid, aku gak ember kok.."

Walau baru ini pertama bertemu, Lia beneran pandai membaca suasana. Obrolannya pun asyik. Dan tentu kala pertama melihat dia, saya tau dia orang yang baik. Saya percaya karena dia satu-satunya orang yang dekat dengan Putri, ya setidaknya baru dia yang baru saya tahu.

Ketimbang membicarakan masalah tadi, kami bertiga malah saling bercerita tentang diri kami masing masing. Lia ini statusnya jomblo, dia memang bukan tipe cewek yang suka gonta ganti cowok. Terakhir dia pacaran lalu putus karena cowoknya terpaksa pindah ke luar kota bahkan luar pulau.

Tanpa sadar, suara mobil orang tua Putri terdengar tanda mereka sudah pulang. Begitu mereka masuk rumah, saya coba langsung menyalami mereka.

Bapaknya Putri langsung kedalam usai menyalami saya dan Lia. Sementara Ibu nya duduk diruang tamu menemani kami..

"Loh Putri, ini masnya yang dulu kesini?.."

"Iya mi, Mursid.." ucap Putri.

Entah kenapa rasanya sambutan mereka rasanya berbeda. Tak lagi sehangat dulu.

"Mas Mursid ya? Maaf sebelumnya mas, ini kan Putri sudah punya pacar jadi ya tolong jangan terlalu sering bareng Putri ya.."

DEG!!

Hati ini langsung tersayat mendengarnya. Sesuatu yang tak pernah saya bayangkan bisa terdengar dari Ibunya Putri. Perasaan dulu beliau orang yang hangat..

"maaf bu, saya hanya temannya saja kok.. Saya..."

"kalau cuma teman ya sedikit jaga jarak donk. Tau diri lah kalau jadi cowok.." kalimat saya langsung dipotong beliau dengan kalimat diatas.

Kembali saya mendengar sesuatu yang menyakitkan hati.

"Bu, saya memang bukan orang kaya. Maaf sebelumnya, apa ibu pernah memikirkan perasaan anak ibu? Apakah dia bahagia? Apakah seorang ibu tega memaksa anaknya agar dekat dengan orang yang tidak disukainya?.." tanyaku karena entah kenapa hati ini sudah terlanjur sakit dan tidak bisa berbasa basi lagi.

"tau apa kamu soal kebahagiaan anak saya? Dia bisa bersama orang yang baik, memang salah?.." tanya beliau lagi dengan nada tinggi.

"apakah ibu yakin cowok itu baik? Dia pernah memukul saya bu m, padahal saya tidak salah apa-apa. Disini. Didepan rumah ibu, dia tanpa sebab langsung memukul saya. Alhasil kami berkelahi didepan rumah ibu. Tak hanya itu, Esoknya dia ajak temen temennya buat hajar saya. Dia maki-maki saya disini bu, padahal saya sudah bersikap sopan dan menjelaskan bahwa saya hanya temannya Putri. Apakah itu orang baik bu? Kalau ibu tidak percaya tanda lebam diwajah saya ini akibat dipikulnya bu, belum lagi bagian badan saya. Bukti masih ada bu. sekarang lihat Putri Ibu, lihat keadaannya. Lihat matanya, apakah ibu pernah bertanya ke Putri keadaannya? Apakah ia bahagia?.." entah keberanian darimana saya bisa berbicara demikian. Mungkin karena sejak awal pembicaraan ini sudah dimulai dengan tidak baik oleh ibu nya Putri.

Disini saya tak dibela Putri maupun Lia. Mereka hanya tertunduk. Rasanya saya mengerti alasannya kenapa.

"Kamu kurang ajar ya sudah berani berbicara seperti itu didepan saya!!.." Beliau pun lalu berdiri dan

PLAAAAKK!!!

Sebuah tamparan mendarat dipipi kiri saya.

"kamu masih keci, jadi jangan coba menasihati saya!!.." bentak beliau dengan nada tinggi usai menampar saya.

"Iya saya memang masih kecil buk. Bagi anda saya memang masih bocah. Tapi meskipun saya masih bocah setidaknya harga diri saya tidak akan saya jual hanya karena pekerjaan atau harta atau materi. Sedangkan ibu? Seolah tega menjual harga diri anaknya demi pekerjaan!!.." ucapku tegas ditengah badai dihati ini.

Seketika ucapan saya langsung membuat beliau terdiam.

"setidaknya bicarakan ini dengan baik baik bu, dengan orang tua si cowok juga. Bisnis dan perasaan itu dua hal yang berbeda bu, Putri itu anak ibu. Darah daging ibu. Putri sering bercerita saya maupun Lia buk kalau dia sangat tertekan karena hubungan dengan cowok itu. Dia tidak berani bercerita ke ibu maupun bapak. Ibu tau sendiri alasannya kenapa kan?.." ucapku lagi kali ini dengan nada jauh lebih rendah.

Lalu suara langkah kaki terdengar dari dalam, bapaknya Putri pun datang.

"luar biasa.." ucap bapaknya Putri dengan sedikit tepuk tangan.

"saya kagum sama kamu nak Mursid, diusia kamu sekarang kamu bisa berbicara seperti itu.." ucap beliau.

Suasana jauh lebih menegangkan sekarang. Jantung saya sudah dag dig dug. Pandangan mata bapaknya Putri entah kenapa begitu tajam.

Ketika beliau sudah didepan saya, tiba tiba..


BUUUGGG!!

Beliau menendang perut saya hingga saya tersungkur.

"SEKARANG KAMU PULANG! ATAU PERLU SAYA PANGGIL WARGA BUAT RAMAI-RAMAI HAJAR KAMU?? MUDAH SAJA.."

Saya pun tertunduk lalu pergi dari dalam rumah menuju motor saya diparkirkan. Tidak ada pembelaan apapun, baik dari Ibunya Putri, Putri sendiri maupun Lia.

Kala saya berjalan keluar, pintu sudah langsung ditutup rapat. Baru kali ini rasanya saya bertamu dan diperlakukan seperti ini. Tanpa sadar saya meneteskan air mata.

Saya pulang dengan perasaan hancur. Sepanjang jalan saya tak ada henti mengalirkan air mata. Perasaan saya sangat tak karuan, niat menolong Putri tak saya sangka akan seberat ini.

Namun janji adalah janji. Saya tidak akan menyerah karena hal ini, tidak akan. Itu ucapan hati saya kala menangis sepanjang jalan.

Ditengah tangisan saya, ada telepon masuk ke ponsel saya dikantong celana.

Terpampang nama Alya disana,

Entah harus saya jawab atau tidak. Namun entah kenapa jari ini tanpa sadar memencet tanda angkat.

"halo? Mursid? Dimana.." suara bidadari saya terdengar diujung telepon sana.

"ha halo.." ucapku tertatih menahan tangis.

"Sid? Kamu kenapa? Kok terdengar nangis? Kamu dimana?.." tanyanya terdengar panik diujung telepon.

"kamu dimana sekarang?.." tanyaku lagi masih dalam coba menahan tangis namun tetap saja tidak bisa.

"aku dirumah ini, bapak ibu pergi. Kamu dimana kok nangis? Mursiiid??.." tanyanya lagi dengan nada sedikit naik.

"a aku kesitu ya.."

Pip!! Telepon langsung saya matikan dan dengan hati emosi saya pacu dengan kencang ditengah jalan. Ketika sampai didepan rumahnya, tampak dia menunggu duduk dikursi terasnya.

Saya parkirkan motor dihalaman rumahnya lalu melepas helm. Mata pipi saya masih basah akibat air mata yang sedari tadi menangis.

Saya menatap dia yang berjalan kearah saya, langsung saya berjalan cepat dan langsung memeluknya erat. Sangat erat. Dalam pelukannya, saya kembali menangis. Bahkan tangisan saya semakin menjadi-jadi ketika dalam pelukannya.

"sabar ya sayangku.." ucapnya pelan dalam pelukan kami dan dia kini mengusap rambut saya.

Entah kenapa saat ini saya sangat butuh pelukan. Saya sangat butuh tempat untuk mencurahkan segala beban saya saat ini..

Satu hal yang tidak bisa saya sangka, saya sampai ditendang oleh bapaknya Putri. Entah kenapa bisa demikian. Sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan bisa terjadi dihidup saya dan ketika saya ingat kembali rasanya baru kemarin hal itu terjadi.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
fatqurr dan 11 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh pendakimalas

Chapter 77 : Hobi Baru, Baku Hantam!


Kembali saya hembuskan asap rokok dari mulut saya, entah kenapa tembakau dalam bentuk batang ini begitu bisa menenangkan kepala yang terasa penat ini. Terlebih ditambah pahitnya kopi, rasanya keduanya memang perpaduan yang pas.

Kembali hp saya bergetar tanda ada telepon masuk. Saya cek dan terpampang nama Alya disana,

"Halo.. Ada apa jam segini nelpon? Kok belum tidur?.." sapaku pada Alya diseberang sana.

"Sid, udah pulang?.." tanyanya dengan nada sedikit sendu.

"udah, tapi ini mampir Alun-alun dulu. Nyari minuman anget. Ada apa?.." tanyaku lagi ada gerangan apa ini pacar semata wayang saya menelepon jam segini.

"nanti mampir rumahku bentar ya, aku diteras. Bisa kan?.."

"iya bisa. Aku otw kesitu sekarang.."

"aku tunggu diteras ya, ati-ati.."

"yuhuu.."

Langsung ditutup itu telepon. Tak lupa bayar, saya langsung tancap gas ke rumah Alya. Tak butuh lama, apalagi malam begini jalanan begitu sepi. Usai mendekati rumahnya, mesin saya matikan dan biarkan motor berjalan sendiri dari sisa tenaga mesin sebelum dimatikan. Saya hanya takut bikin suara aja ditengah perumahan begini. Motor pun saya parkirkan didepan pagar samping gerbangnya. Tampak dia langsung menghampiri saya.

Penampilan Alya membuat saya tercengang, bagaimana tidak dia memakai kaos yang bisa tergolong ketat dengan lengan sangat pendek sehingga lengan tangannya terlihat dan yang lebih membuat saya dag dig dug lagi dia memakai celana berbahan kain tipis yang begitu pendek sehingga hampir 70% paha dia terlihat. Namun, tercengangnya saya langsung bayar kala melihat dia sedang menangis. Pikiran mesum yang terlintas dikepala ini barusan langsung sirna kala melihat dia menangis.

"eh ada apa kok nangis?.." tanyaku kala dia menghampiri saya.

Tapi sebelum dia menjawab, dia langsung memeluk saya erat dan dalam pelukan saya dia semakin jadi tangisnya. Saya urungkan untuk bertanya lagi, yang bisa saya lakukan saat ini hanya coba untuk menenangkannya terlebih dahulu.

Saya pun mengusap rambut dan kepalanya coba menenangkannya. Usai sedikit baikan, baru kembali saya coba tanya kembali.

"ada apa sih? Jam segini kok belum tidur?.."

"maaf, aku tadi ketiduran dan bermimpi buruk. Aku takut, jadi habis terbangun nelpon kamu.."

"emang mimpi apaan sih? Itu kan cuma mimpi.. Sudahlah, gak usah terlalu diperhatikan.."

"Mimpi buruk, dan itu soal kamu.." jawabnya terdengar begitu lirih.

"udah ya, gak usah dipikirin. Tidur aja ya, udah tengah malem juga. Aku mau pulang dan istirahat hehehe.."

Dia pun mengangguk mengiyakan.

"Sudah ya, gak usah dihiraukan soal mimpi tadi. Aku pamit dulu.." Saya pun mencium keningnya untuk menenangkannya.

"balik tidur aja, jangan lupa doa dulu.." pesanku lagi.

Dia pun mengangguk lagi.

"Sid.." panggilnya lagi kala saya sudah diatas motor.

"eh iya?.."

"aku sayang sama kamu.." ucapnya lagi terdengar lirih.

"aku juga sayang sama kamu.. Dah, bobok lagi aja. Jangan lupa doa dulu, pake baju hangat. Dingin loh malam ini. Aku pamit dulu, Love you.." ucapku kala sudah menyalakan motor.

"I Love You too.." jawabnya dengan sedikit senyumnya yang tadi tak pernah terlihat.

Saya pun balas dengan senyum lalu bergegas balik.
Bahkan saya belum sempat menanyakan itu Alya memimpikan perihal apa, namun karena itu tentang saya jadi itu pertanyaan saya urungkan. Terlebih itu akan membuat dia kembali mengingatnya, jika melihat ekspresinya tentu itu mimpi yang buruk.

Pikiran saya justru malah teringat dia memakai baju rumahan super seksinya. Ah, untung sikon tadi berbeda. Beruntung saya tidak menambah dosa saya yang sebenarnya sudah menumpuk saking banyaknya. Tapi saya baru pertama tadi melihat Alya memakai baju seperti tadi, dia sangat aduhai sekali pemirsa. Betul itu sungguh.

Ketika sampai rumah, saya langsung tidur karena hari ini rasanya begitu melelahkan. Jalan kaki jauh ke Alun-alun dan dipanggang 1 jam selama upacara, tentang cowok baru Putri yang berengsek menurut saya, Kerjaan tadi walau itu yang terakhir, dan soal Alya tadi.

Esok harinya, saya kembali ke sekolah dengan biasa. Bedanya, usai pulang sekolah setelah sekian lama saya memiliki waktu untuk melakukan apapun. Waktu longgar lebih tepat sepertinya, mohon maaf jika salah menggunakan kata.

"Sid, itu pipi bonyok lagi kenapa? Haha.." ejekan mamat kembali menggema dikepala kala pagi pelajaran belum mulai.

Biasa dia berangkat pagi dimana para batangan yang lain belum datang. Kelas masih sepi baru segelintir siswa yang baru datang. Efek rumahnya dekat karena cukup berjalan kaki saja, 5 menit sampai.

"biasa laki kudu gini.." jawabku singkat.

"elo kayaknya doyan amat berantem sid haha.."

"Ya awalnya gue gak pengen, karena kepaksa aja.."

"rebutan cewek emang? Tumben amat loe doyan cewek hahaha.."

"baik, loe kira gue homo!!.."

"lah bukane elo udah punya pacar? Emang gimana ceritanya?.."

"Ada dah pokoknya, males gue ungkit soal itu mat.." jawabku malas.

"gue ke kantin dulu, laper.." ucapku lagi dan berjalan kekantin.

"Woy siid, titip cemilan. Kripik atau apalah.." teriaknya kala saya baru didepan pintu kelas.

Saya beri acungan jempol tanda mengiyakannya.

Usai waktu pulang sekolah, saya langsung coba untuk pulang dan beristirahat. Jarang-jarang saya jam segini bisa pulang. Sepertinya beberapa hari kedepan usai pulang sekolah akan saya gunakan dulu buat istirahat dan santai dirumah.

Perjalanan pulang pun motor saya laju dengan santai. Udara siang menjelang sore berbalut udara segar bersama hembusan angin membuat saya menikmati perjalanan saya. Seperti biasa, saya lewat jalan kecil sebelah jalan utama. Tiba-tiba saya dicegat oleh 2 motor, dan itu adalah cowoknya Putri dan 2 orang temannya.

Wah, bakalan babak belur lagi ini saya. Pikiran ini sudah tertuju kesitu meski kejadian belum terlaksana. Mereka langsung turun dari motor dan berjalan menuju ke arah saya.

"wah, ada apa ya ini mas mas nya?.." tanyaku sopan ke mereka seraya melepas helm yang saya pakai.

Tanpa menjawab salah satu dari mereka langsung menendang perut saya tanpa aba-aba.

BUUGG!!

Sakit cuk!! Beneran!! Saya belum bersiap untuk menghindar soalnya.

"Woy mau kalian apa bajingan??!!.." teriakku sambil memegangi perut yang barusan ditendang.

Tanpa menjawab lagi, teman pacar Putri satunya langsung coba memukul saya dan beruntungnya saya bisa menghindarinya.

Langsung saya balas dengan balik meninju wajah itu orang,

BUUGG!!

Tanpa jeda langsung saya tendang bagian kemaluannya. Saya tak peduli itu Fair dalam berkelahi atau tidak, karena ini keroyokan maka saya pikir sah sah saja.

BUUUUGG!!


"Aaaarrrrrrggggghhhhh..." teriaknya tersungkur sambil memegangi bagian kejantanannya.

Seketika saya langsung ditinju oleh pacarnya Putri,

BUUGG!!

Lalu temannya tadi yang menendang saya kembali menendang perut saya.

Kali ini 2 serangan mereka tidak bisa saya hindari.

Saya pun langsung coba mencari kayu atau apalah yang bisa saya gunakan sebagai senjata.

Dan adu pukul dan tendangan pun terjadi, saya lawan 2 orang tersisa.

Akhirnya saya mendapat kayu dan coba saya gunakan untuk memukul mereka.

BAG BUG BAG BUG BAG BUG!!

begitu mungkin bunyi saling baku hantam antara saya dengan mereka.

Saya mulai lelah, tenaga saya rasanya sudah mulai habis demikian juga mereka. Dan dengan serangan terakhir saya coba langsung menendang kembali kemaluannya,

BUUGG!!

Kena ke temannya pacarnya Putri! Cuma itu cara melumpuhkan seseorang paling ampuh menurut saya jika kondisi dikeroyok seperti ini.

Lalu tinggal sisa pacarnya Putri, saya menatap tajam ke matanya dan dia tampak ketakutan.

Dia pun langsung berlari ke arah motornya dan meninggalkan kedua temannya yang tak lama menyusul kemudian.

Saya tertatih-tatih coba kembali ke motor saya. Perut, wajah, dan bagian tubuh saya yang terkena serangan mereka tadi terasa sakit.

Sepertinya mereka tipe bocah yang mengandalkan temannya jika malah dalam berantem, maksud dan tujuan mereka saya sendiri juga masih belum tahu.

Namun kemungkinan besar, masalah ini akan semakin merambat luas. Saya sendiri menginginkan masalah ini usai dan tidak ada lagi atau bahkan lebih buruk, namun kemungkinan itu kecil sekali rasanya.

"Bodo amat lah, kalo soal teman-teman gue juga punya kali!!.."

Pikirku dalam hati. Dan saya pun pulang dengan keadaan bonyok (lagi).
profile-picture
profile-picture
profile-picture
fatqurr dan 9 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan

Chapter 76 : Semoga Kau Bahagia



Sejenak tertegun saya membaca itu sms, lalu saya coba balas..

"maaf buat apa Put? Hehe.. Gapapa kali.." send.

Saya kembali berjalan menuju sekolah yang sudah tak jauh lagi dan tinggal beberapa langkah kaki. Jam tangan saya baru menunjukkan pukul 11 siang, masih lama waktu mulai kerja. Sejujurnya saya sudah terbiasa dengan pekerjaan saya, dan lebih beruntungnya saya punya uang sendiri yang jika saya gunakan untuk keperluan pribadi saya rasa sudah lebih dari cukup karena keperluan saya tidak banyak, uang bensin, makan, perlengkapan sekolah, dan seperti itulah. Mau saya gunakan untuk berfoya-foya juga tidak bisa, tak ada waktu untuk melakukannya.

Tak lama kemudian datang sms balasan,

"Sid, kita bisa ketemu gak? Sekarang?.."

"bisa kok, ketemu dimana?.."

"Dirumahku aja, aku baru pulang kok. Aku tunggu ya.."

"Oke Put, aku otw kesitu sekarang.."

Langsung saya bergegas menuju parkiran dan menyalakan motor lalu menuju rumah Putri. Tak butuh lama buat sampai kesana, cukup 5 menitan saja..

Motor mx biru kesayangan pun langsung saya parkirkan di halaman rumah Putri, karena gerbang juga terbuka. Tak lama setelah saya tiba, Putri keluar dari dalam rumah dengan membawa minuman.

"duduk dulu sid, haus kan?.."

"ah, pengertian banget Put hehe.."

Langsung saya teguk itu es sirup rasa jeruk yang disuguhkan Putri.

"Sid.. Maaf ya soal tadi.."

"soal apa emangnya? Perasaan kamu gak salah apa-apa deh Put. Santai aja hehehe.."

"Selama jauh dari kamu akhir akhir ini, rasanya sepi sid. Walau sering ditemani Alya, tetap aja rasanya beda. Tapi aku ngerti kok alasan kamu jaga jarak sama aku.."

"Lalu cowok tadi siapa Put?.."

"temanku, kakak kelas sebelah.."

"oh.."

Tak lama kemudian datang seseorang ke rumah Putri, sekilas saya liat itu orang. Ternyata itu cowok yang boncengin Putri tadi. Dia tampak kaget melihat saya, mungkin karena melihat saya sedang berbincang dengan Putri.

"Ini siapa Put?.." tanyanya ke Putri to the point kala baru saja tiba. Saya amati postur tubuhnya, sekilas tak jauh beda sama saya.

Sekilas, dia tampak keren. Dari jaket, sepatu, tas yang ia pakai menandakan ia orang berada. Motornya pun yang terbilang keren dan mahal tentunya.

"Saya temannya mas. Mas nya temennya Putri juga?.." jawabku singkat mencoba menjawab pertanyaan barusan sekaligus balik bertanya.

"Enggak. Gue cowoknya Putri.." jawabnya singkat dan nada bicaranya agak sulit dijelaskan.

"oh maaf sebelumnya kalau ganggu. Saya hanya mengobrol saja kok sama Putri, ini mau pamit.." ucapku sopan dan bersiap balik.

Jujur saya kaget, sebelumnya informasi dari Putri ini cowok temannya. Namun, dari sang cowok ini pacarnya. Sudah jelas, dari Putri berbohong pada saya.

"ooiit, tunggu.. Loe tadi ngobrolin apa sama Putri?.." baju seragam saya ditarik oleh cowoknya. Terlihat raut wajah marah dari cowoknya.

"bukan apa-apa mas, kami teman lama sejak smp. Karena lama tidak berjumpa, kami ya cerita cerita saja.." jawabku sopan dan masih mencoba mengatasi situasi.

Disisi lain, Putri hanya terdiam dan bahkan tak berani menatap saya.

"Halah bullshit.. Elo pasti coba deketin Putri kan? Hah??!!.." tanya cowok itu lagi dengan nada tinggi dan marah. Langsung ditarik kerah baju seragam saya.

Sekilas saya melihat Putri dan dia ternyata menangis sambil menundukkan kepalanya.

Belum sampai menjawab pertanyaan tadi, itu cowok langsung memukul wajah saya dengan keras.

BUUGG!!!

Langsung saya tersungkur sambil memegangi pipi kiri saya yang barusan ditonjok. Cukup sakit memang, pukulannya saya akui memang keras.

"GUE PERINGATIN ELO YA, JANGAN LAGI COBA DEKETIN PUTRI!! GUE GAK AKAN SEGAN-SEGAN HABISI ELO KALO ELO BERANI MACAM-MACAM.." bentaknya dengan keras didepan muka saya yang masih memegangi pipi kiri saya.

Kembali saya menoleh ke arah Putri, dan dia masih menangis sambil menundukkan kepalanya sembari menutup wajahnya.

Sebisa saya masih coba menahan diri untuk tidak berkelahi lagi, saya pun berdiri.

"Mas, saya belum menjawab pertanyaan masnya tapi sudah mas pukul. Tapi ya sudahlah, sekedar mas tau saya dan Putri tidak ada apa-apa. Cuma teman. Terserah masnya percaya atau tidak, tenang aja saya tidak akan coba deketin Putri kok. Saya pamit dulu mas.." ucapku lalu berbalik membelakangi mereka coba berjalan menuju ke motor saya.

Baru beberapa langkah berjalan, saya langsung ditendang dari belakang hingga tersungkur lagi.

"Sudah pergi sana kau baik, eneg gue liat muka elo!!.." ucapnya dengan nada mengejek. Mungkin dia berpikir saya tidak berani melawan.

Tanpa memberi aba-aba, saya langsung berbalik dan memukul wajah itu cowok.

BUUGG!!

Langsung saya imbuhi dengan menendang perutnya,

BUUGG!!

dia langsung tersungkur menahan sakit diperutnya.

Tanpa memberi jeda, saya langsung terjang dia dengan lutut saya dan dia langsung terkapar seketika. Tanpa jeda lagi, saya kembali pukul wajahnya kanan kiri bertubi-tubi bergantian.

Pukulan dan tendangan saya pun berhenti kala melihat dia tak berdaya,

"GUE TADI MASIH COBA SABAR BUAT NGADEPIN ELO MAS, KALO ELO PIKIR GUE TAKUT SAMA ELO JAWABANNYA TIDAK!! BAHKAN KALO MAS MAU KITA BERANTEM SAMPE MATI AKAN GUE LAYANIN. GUE PERINGATIN SAMA ELO MAS, KALO ELO BENERAN PACARNYA PUTRI DAN ELO SAMPAI BERANI MENYAKITI PUTRI ATAU BUAT DIA BERSEDIH BAHKAN SAMPAI NANGIS, GUE AKAN HABISI ELO!! CAMKAN ITU!!.."

Saya pun langsung berdiri, dan saya menoleh ke arah Putri. Tampak dia menatap saya dengan tatapan kosong. Saya pun berbalik menuju motor saya, dan bersiap pergi.

"Silahkan rawat dulu ini cowok kamu Put, aku pulang dulu.." ucapku singkat dan dia masih tempak termenung.

Dan saya pun langsung bergegas pergi dari rumahnya Putri.

Jujur saya merasa kecewa. Mengapa Putri harus membohongi saya, itu yang saya tidak habis pikir. Rasa kecewa itu rasanya jauh lebih menyakitkan ketimbang pukulan cowok tadi. Dijalan, pikiran ini pun terngiang akan hal itu.

Seandainya Putri memiliki orang baru yang dia sayangi, saya pun tak akan keberatan. Karena saya sendiri pun juga tak mampu memberi apapun yang Putri inginkan. Disisi lain, saya masih tidak terima jika Putri harus dekat dengan cowok seperti barusan. Dia terlihat sombong dan nada bicaranya sangat tidak enak didengar. Mungkin saya harus menyelidiki tentang cowok itu. Karena saya tidak terima jika orang seperti Putri mendapat cowok yang tidak baik.

Saya sendiri juga tidak merasa lebih baik, namun entah kenapa saya merasa cowok tadi tidak baik untuk Putri.

Sore hari, saya pun tiba ditempat kerja. Sesuai niat awal, saya akan meminta izin untuk berhenti bekerja mulai besok.
Cukup dag dig dug kala mau bilang ini ke Pak Eko, namun akhirnya saya berani mengatakannya kala warung akan tutup.

"Pak, mulai besok saya izin berhenti pak. Boleh?.."

"lah, kenapa?.."

"Saya ingin kembali fokus ke sekolah pak. Saya mulai ketinggalan dalam pelajaran.."

"oh gitu, yaudah. Besok kamu berhenti gapapa.."

Beliau tampak mengambil sesuatu dari kantongnya,

"ini Sid, makasih udah bantu bapak sebulan ini. Itung itung buat uang saku.." kata beliau sambil menyerahkan sejumlah uang.

"makasih banyak pak.." Saya pun menerima 2 lembar 50rb itu dengan senang hati.

"jangan sungkan kalau mampir jajan sini.."

"hehe siap pak.."

Usai bekerja, saya mampir Alun-alun sejenak untuk sekedar minum kopi di angkringan pinggir jalan.

"Kopi hitam pak.." pesanku pada bapak penjual.

"Oke mas.."

"rokok ecerannya ada pak?.."

"itu di kalèng.."

Saya ambil itu sebatang rokok dan menyalakannya. Tak lama kopi hitam pun datang. Malam ini tak begitu ramai, mungkin karena hari biasa apalagi ini sudah jam 11 malam.

Sejak dari rumah Putri tadi, hp saya taruh ditas dan tidak saya cek. Saya pun coba buka hp dan ada beberapa sms dan missed call.

Pertama saya cek itu missed call dan semua dari Putri. Tertanda pukul 7:31 P.M.

Dan saya pun langsung malas melihat isi sms, karena kurang lebih pasti seperti apa yang saya pikirkan.

Akhirnya saya abaikan itu hp dan menaruhnya kembali kedalam kantong jaket. Kembali saya meneguk kopi hitam saya sembari menghisap rokok setelahnya.

"Kuharap kamu bahagia Put, aku selalu berharap demikian.." gumamku pelan sembari menatap kosong langit malam yang bertabur bintang-bintang yang berkilauan.



profile-picture
profile-picture
profile-picture
fatqurr dan 9 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh pendakimalas
Lihat 1 balasan

Chapter 86 : Halo, Bajingan!!


"Sid, kabar Putri gimana?.."

Saya yang mendengar pertanyaan seperti terpaku sebentar.

"Kamu nih yang harusnya tanya ke dia.. kalian emang gak kontakan apa?.."

"Waktu kemarin aku nelpon dia, katanya dia baik baik aja kok. Dia gak mau cerita apa-apa ke aku. Jadi aku gak bisa maksa dia jawab kan..."

Mendengar hal barusan sepertinya Putri emang tidak ingin melibatkan gadis manis yang sedang bersandar nyaman dibahu saya ini. Entah kenapa alasannya, sepertinya saya bisa sedikit memakluminya.

"Sid. Kok malah diem sih?.."

Lamunan saya dibuyarkan dengan kembali ditanyai Alya yang sedang bersandar nyaman dibahu saya.

"Eh.. ya berarti dia sepertinya gak pengen kamu ikut terlibat masalah dia kayaknya. Jadi dia gak mau cerita sama kamu.. mungkin loh ya.." jawabku kemudian.

Sekarang malah dia yang terdiam. Sepertinya dia memikirkan hal barusan.

"Udah.. ini waktu kita bisa berduaan gini kamu malah ajak bahas dia.. hadeh.." celotehku lagi sambil geleng geleng kepala.

"Hehe maap ya.."

"Eh sid. Besok besok Kita jalan yuk, kemana gitu.. udah lama loh kita gak ngedate wkwkwk.." sambungnya kemudian.

"Hhhmm boleh. Kamu pengen kemana? Jangan jauh jauh ah, bentar lagi UTS loh.." saya pun mengiyakan ajakannya.

Saya rasa saya butuh pula, terlalu spaneng dengan hal hal rumit membuat saya stress. Sesekali kencan dengan pacar saya ini boleh lah.. Dia pun sepertinya merasakan hal yang sama.

"Hhmm enaknya kemana ya? Belum nemu ide aku.. kalo ngopi di cafe sesekali gimana?.."

"Emang ada cafe disini? Haha.."

"Ya kita ke Solo lah.. disini belom ada kayaknya.."

"Aku belom pernah ke cafe, jadi gak tau dimana wkwk.. tau sendiri lah aku kan cupu wkwkwk.."

"Iya iya deh. Se cupu cupunya kamu aku tetep sayang kamu kok.. hihh.." dia mencubit hidung saya pelan.

"Hehehehhee.. yaudah kapan? Kamu atur aja deh. Aku sopir mah ikut majikan aja wkwkwk.."

"Malem minggu aja ya? Sore gitu.. biar pulang gak kemaleman.."

"Hhmm bisa bisa.. atur aja lah tempatnya.."

Tak lama berselang saya pun berpamitan. Ya, karena besok harus ke sekolah lagi. Hari sudah hampir menjelang petang. Diperjalanan, kendaraan berlalu lalang ramai tanda orang orang usai kerja dan dalam perjalanan pulang. Bus bus yang melintas tak kalah penuh dengan penumpang dari berbagai kalangan. Saya memacu motor dengan keadaan santai. Sore hari seperti ini memang sejuk dan betah berlama-lama diatas motor. Beriringan dengan puluhan kendaraan yang melaju kearah yang sama.

Usai sampai dirumah, saya bergegas mandi dan beristirahat. Kegiatan ronda di desa saya sedikit demi sedikit mulai meredup. Bisa dimaklumi tak mungkin setiap hari warga akan terus begadang. Hanya beberapa orang saja yang masih mau ronda dan dibuat bergiliran. Malam hari di desa saya kini terasa sedikit sunyi. Hanya suara binatang malam yang sedikit terdengar bersautan.

Tap!!

Itu bunyi suara gelas yang saya letakkan di meja teras rumah. Segelas teh panas cocok untuk bersantai. Sejenak, saya bisa sedikit menikmati waktu seperti ini. Beberapa waktu terakhir saya sedikit jarang bisa menikmati waktu seperti ini. Tak lupa, hp saya putar lagu lagu di soner w660i saya. Meski mungil, speaker hp ini terdengar lantang dan bertenaga. Seri walkman punya. Pada masa itu udah keren itu suara yang dihasilkan hp saya.

Duduk menikmati segelas teh, saya jadi teringat saat bekerja beberapa waktu lalu. Jam segini biasanya masih sibuk wira wiri terima pesanan pelanggan. Bukan maen capeknya. Sungguh. Mencari rupiah itu benar benar tak mudah. Jauh didalam hati saya masih mensyukuri hari ini, saya masih bisa sejenak menikmati waktu.

Beberapa hari kemudian,
Kegiatan sekolah masih berjalan apa adanya. Kaos sudah masuk konveksi dan mulai digarap. Kami hanya tinggal menunggu jadinya saja. Kaos konyol kami berempat punya. Membayangkan kami memakainya saja sudah membuat saya tertawa dengan sendirinya.

Pulang sekolah saya memacu motor dengan biasa. Namun apes, ban belakang saya sedikit oleng dan seketika saya berhenti dipinggir jalan. Saya cek itu ban ternyata bocor. Saya pandangi area sekitar apakah ada tukang tambal ban. Berhubung masih di kota, tentu tak sulit menemukannya. Motor pun saya tuntun dan beruntung tak jauh dari situ ada bengkel buka sekaligus tambal ban.

"Mas, mau nambal ban.." ucapku kala usai menuntun motor saya dan tiba disana.

"Okeh.. tunggu bentar ya.."

"Siap mas. Santai hehe.."

Sembari menunggu, saya pun berinisiatif menuju warung diseberang jalan. Sekedar mencari es teh ditengah cuaca panas hari ini.

"Buk, es teh 1 ya.." pesanku kala baru tiba dan duduk disalah satu kursi.

"Iya mas, tunggu sebentar ya.." ucap ibuk penjualnya.

Membuka hp mungil saya yang sedari tadi berada dikantong celana. ada sms dari Alya,

"Udah sampe rumah belum? Aku udah sampai rumah ini.."

"Belom.. ban ku bocor, lagi ditambal. Masih di kota kok.."

"Oalah. Yaudah deh, abis ini langsung pulang aja ya.. belajar!! Gak usah keluyuran kemana-mana, bentar lagi UTS.."

"Siap cantik hehe.. abis ini langsung pulang aku.."

Lalu es teh pun datang. Ah, dingin es teh berpadu teriknya panas hari ini merupakan perpaduan yang nikmat. Masih menunggu ban saya selesai ditambal.

Tak lama kemudian, ada 2 orang yang baru datang. Sekilas saya cukup mengenali wajah mereka. Mereka lah 2 orang BAJINGAN teman cowok yang dijodohkan sama Putri dan berniat mengeroyok saya waktu lalu. Saya sedikit emosi melihat mereka, namun sebisa mungkin saya coba tahan agar tidak lepas kendali.

Mereka tampak kaget melihat saya dan langsung bergegas pergi, namun saya berdiri dan menangkap lengan salah satu dari mereka. Posisi kami sudah berada diluar tenda warung.

"Weeitt.. mau kemana mas bro? Santai aja kali.. gw mau ngomong sama lo berdua. Bisa?.."

"Ma mau ngomong apaan?.." ucap orang yang lengannya saya cengkram.

"Udah. Kalian nurut aja, gw cuma mau ngomong. Atau apa kalian mau ngajak gw berantem lagi sekarang? Ayok. Gw layanin. Meski kalian 2 orang pun gw gak takut.." ucapku sedikit keras.

"O oke bro.. lo mau nanya apa?.." ucap lagi.

"Dimana teman kalian satunya? Yang kemarin coba buat ngeroyok gw? Gw pengen ketemu.. bukan ngajak berantem, cuma nyelesein masalah aja.."

"Di dia gak ikut kami hari ini.." ucapnya lagi dengan sedikit terbata-bata. Mungkin mereka ketakukan melihat saya.

Padahal saya gak mau makan mereka. Aneh...

"Boleh gw minta nomer hp nya? Gw mau hubungi dia. Kalian jangan coba nipu gw ya? Gw gak dendam dengan insiden kemarin, gw cuma pengen masalah kita clear. Kalian tentunya gak mau berurusan dengan polisi kan? Gw punya saksi mata atas insiden kemarin.." ancamku pada mereka.

Sebenarnya itu hanya gertakan. Sejatinya saya tak punya saksi mata. Cukup ampuh untuk menakuti mereka.

"Ba baik bro.. please jangan bawa bawa polisi. Ini gw punya nomer hp nya.." lalu dia menunjukan nomer hpnya.

Saya catat itu di hp saya dan saya simpan.

"Oke. Makasih. Kalian boleh pergi.." ucapku kemudian.

Dan mereka pun langsung bergegas pergi.

Saya kembali duduk di bangku warung, langsung saya sms itu nomor..

Quote:


Sent..

profile-picture
profile-picture
profile-picture
masmus2308 dan 8 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh pendakimalas
Lihat 1 balasan

Chapter 64 : Curhat Putri


Esok harinya, seperti biasa Mid semester saya lalui dengan susah payah karena efek duduk dibangku level brutal. Berkali-kali saya harus ditegur karena ditanyain teman saya atau saya yang bertanya ke teman saya kala otak ini buntu buat nemuin jawaban dari selembar soal dimeja saya. Tak jarang adek kelas disamping saya malah bertanya perihal persoalan yang dia hadapi, apa tak liat kalo saya sendiri pusing mikir gimana isi lembar jawaban saya sendiri. Karena berhubung dia cewek ya saya bantu sebisa saya.

"Mas, uraian soal no. 2 ini mas tau gak jawabannya?.." tanya dengan nada berbisik tentunya. Mapel biologi.

"oh klasifikasi kingdom plantae? Ada 3, lumut, tumbuhan paku, sama tumbuhan sejati. Nama latinnya lupa.." jawabku sekenanya karena itu yang saya tau.

"ciri masing-masing mas?.."

"hmmm, kalo tumbuhan paku dengan spora. Tumbuhan sejati dengan biji, bunga dll. Lupa.."

"oh oke makasih mas.."

"sama-sama dek.."

Kembali saya fokus mengerjakan persoalan saya sendiri. Mapel biologi kelas 2 ini rada lumayan susah, banyak banget teori dan nama latin yang bikin pusing. Ini mapel kesukaan mamat.

"ssstt mat, no. 3 apaan?.." dengan kode 3 jari itu saya bertanya.

"bentar.. Tak tulisin.." jawabnya singkat.

"Oke siap.." dengan acungan jempol itu saya memberi jawaban.

Kembali menunggu lembaran kertas dari mamat, saya coba menjawab persoalan lain. Setelah hampir 5 menitan, jawaban itu datang..

Saya ambil itu lembaran kertas kecil dari mamat punya.

Quote:


Anjiir, sia sia saya nunggu 5 menit darinya.
Sekilas saya noleh ke dia dan dia cuma nyengir kuda emoticon-Nohope

Oke. Saya jawab sebisanya saja lah.

Jam pertama pun usai, ke kantin buat ngademin otak sebentar wajib hukumnya. Diperjalanan hp saya pun berperang pertanda sms masuk..

Quote:


Oke, bisalah..

Quote:


Tak lama, balasan pun datang lagi..

Quote:


Jadi terpikir ada gerangan apa Putri ingin ketemu saya, pasti dia ada masalah.. Saya tangkis itu pemikiran sementara waktu dan fokus dulu buat ngerjain Mid setelah ini..

"woy kampret mat, no. 3 akhire gue jawab asal-asalan tadi emoticon-Nohope.." tegur saya kala kami tiba dikantin.

"haha sorry sid, gue juga lupa jawabannya apa. Urutan sistem pencernaan banyak banget soalnya, gue aja juga jawab asal emoticon-Big Grin.." jelasnya kemudian.

"TAEEK dah emoticon-Nohope.." Gerutu saya kemudian.

Dikantin pun saya hanya pesen es teh karena perut tidak terlalu lapar.

Kembali kekelas, ujian mapel sejarah tak terlalu menyulitkan karena secara garis besar cukup mudah diingat.

Usai kelar Mid hari selasa ini, saya pun sms Putri guna memberitahu bahwa saya sudah usai sekolah..

Quote:


Cukup lama saya menunggu sms balasan dari dia, saya menunggu di parkiran motor.. Lalu sms balasan pun datang,

Quote:


Lalu saya mengiyakan permintaanya,

Quote:


Lalu saya pun menyalakan motor dan bergegas ke rumahnya Putri. Tak lama, butuh 5 menitan saja.

Sesampainya Dirumahnya, tampak dia belum pulang. Saya pun menunggu didepan pagar rumahnya. Mungkin masih dijalan, dan benar saja selang beberapa menit dia pun tiba dengan motor matic nya..

"eh udah lama sid? Maaf tadi dijalan agak lama hehe.. Yuk masuk.." ujarnya kala tiba dan menyuruh saya masuk kedalaman rumahnya.

"enggak, baru sampai juga kok.." jawabku seraya menuntun motor masuk kedalam halaman rumahnya. Usai memarkirkan motor, saya pun duduk diteras rumahnya.

"bentar tak ganti baju dulu hehe.." ucapnya seraya masuk kedalam rumah.

"siap tuan putri.." jawabku singkat.

Tak lama dia keluar dan hanya ganti dengan kaos dan masih memakai rok sekolahnya dan juga membawa segelas minuman.

"eh mau cerita apa btw?.." tanyaku langsung soal perihal dia mau bertemu saya.

"aku tadi ditembak sama cowok, tapi aku tolak karena aku gak suka sama dia.. Terus dia kayak marah gitu.."

"terus terus?.."

"iya aku minta solusi sama kamu soal ini, gimana dong?.."

"emang cowoknya gimana?.."

"Ya aku gak suka sama dia, dia terlalu agresif gitu orangnya. Aku jadi takut.."

"nah, kamu udah bilang kalau kamu gak bisa nerima dia kan? Kelar udah.."

"iyaa.. Tapi takutnya dia macam-macam setelah ini sama aku, gimana dong?.."

"tenang, kalo ada apa-apa aku bantu kok.. Emang kamu nolaknya gimana?.."

"Ya aku bilang aku udah ada pacar gitu haha.."

"buseeet.. Kalo ditanya siapa, terus mau kamu jawab apa coba?.."

"Ya ntar aku manfaatin kamu lah wkwkwk emoticon-Stick Out Tongue.."

"hhhhmm bagus, tapi mending gitu daripada kamu nerima dia dan kamu malah kenapa-kenapa. Aku gak terima kalo seperti itu.."

"kenapa hayoo? Kamu peduli sama aku atau cemburu aku deket cowok lain? Hahaha.."

"Ya gini Put, aku ingin kamu dapetin cowok yang baik. Aku gak rela kalo kamu sampai disakitin oleh cowok lain, aku gak terima.."

"ehem.. Yang masih peduli sama aku hehehe.."

"tentu lah Put, kamu terlalu baik jika harus sampe dapet cowok yang gak baik apalagi berengsek.."

"iyaa iyaa.. Makasih ya, ntar aku kasih tau Alya juga soal ini. Pasti dia izinin soal ini, eh btw aku juga gak ingin kamu kenapa-kenapa sid gegara aku. Apalagi sampai terkena masalah lagi gara-gara aku, aku gak ingin liat kamu menderita gegara aku.." ucapnya dengan sedikit lirih.

Dengan memegang kedua tangannya, saya coba yakinkan dia..

"Gini ya Put, aku gak masalah selama bisa bantu kamu. Aku gak ingin liat kamu disakiti, sedih, bahkan sampai nangis gegara cowok.." jelasku padanya.

"makasih sid, kamu emang baik banget.. Seandainya saja kamu jomblo, pasti aku tembak deh hehehe.."

"husshh.. Udah kubilang dulu kan, aku juga sayang sama kamu Put. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa, tapi sekali lagi maaf ya soal......." tiba-tiba penjelasan saya terhenti karena rasanya sulit untuk meneruskannya.

"iyaa, aku ngerti kok hehe.." dengan senyumnya dia memberi jawaban soal ini.

Saya pun hanya tersenyum kala melihatnya seperti itu, sejujurnya saya tak ingin dia seperti ini namun saya juga tak ingin liat dia bersama orang lain. Saya egois? Mungkin.. Namun itulah adanya.

"eh, udah makan belom? Yuk makan Dirumahku.." ajaknya dengan menarik tangan saya untuk masuk kedalam rumah.

"tadi pagi doang sih hehe, boleh hehe.." anggukku menyanggupinya.

Dirumahnya, saya pun makan dengan dia berdua. Orang tuanya pasti lagi bekerja sekarang.

Usai makan, saya pun pamit karena tak enak jika berlama-lama Dirumahnya. Takut dapat omongan dari tetangga-tetangganya.

"yaudah Put, aku mau balik dulu. Kamu lebih baik gak usah keluar, belajar aja buat Mid.." pesanku padanya kala mau pamit.

"siyap bos hehe, kamu nyuruh aku belajar emangnya kamu sendiri belajar? Haha.." ejeknya karena udah tau betul kebiasaan saya.

"hehehe enggak.." jawabku sambil nyengir karena tak tau harus gimana.

Lalu dia mencubit pinggang saya keras,

"waaadaaauuwww.. Iya iya Put, maap.. Ini aku pulang terus belajar deh, serius!!.." dengan sedikit kesakitan saya coba mengelak.

"nyuruh orang lain belajar dianya sendiri gak belajar hadeh.."

"hehehe, yaudah aku pulang dulu. Kalo ada apa-apa jangan sungkan kasih tau aku, aku justru malah marah kalo kamu sembunyiin dari aku soal masalah ini. Udah ya, Assalamualaikum.."

"hehe siap bos, gak usah ngebut. Ati-ati. Wa'alaikumsalam.."

Lalu saya pun pulang kerumah. Diperjalanan seperti biasa saya berpikir soal ini, semoga saja cowok yang nembak Putri gak ingin bermasalah dan nerima apa adanya soal keputusan Putri. Semoga saja....



profile-picture
profile-picture
profile-picture
kerakent dan 8 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh pendakimalas

Chapter 84 : Bapaknya Putri


Sejenak saya sedikit kebingungan menjawabnya, mungkin jujur apa adanya lebih baik..

"Iya tadi. Maaf ya, tiba tiba dia ajak ketemu di taman. Sekalian tak ajak makan. Cuma itu doank kok, suueeerr..." balasku kemudian.

"Kabar dia gimana sekarang?.." tak lama balasan berisi pertanyaan dari gadis manisku diujung sana.

"Buruk beb.. dia sering ngurung diri dikamar selepas insiden beberapa hari lalu. Dia jarang makan juga. Coba kamu kontak dia buat hibur dia deh ya.."

"Astaga.. iya iya abis ini aku coba telpon dia deh ya, terus abis ini kamu mau ngapain?.."

"Mau ke WC beb, perutku mules ini wkwkwkk.."

"MUURSIIIIID.. GAK LUCU TAUK, Ah bikin kesel kamu ah. Awas ya, liat aja ntar kalo ketemu!!!.."

"Ampuuun sayang ampuuun.. gak tau, belom ada rencana. Ini mau dipikirin dulu gimana.."

"Bodo ah.. bye, aku mau telpon Putri dulu!!.."

Tak lagi ada balasan karena saya yakin dia sedang telponan sama Putri. Rencana? Ah iya, gimana nyelesaikan masalah ini ya? Mungkin para reader sekalian ada ide?

Duduk termenung memikirkan berbagai cara menyelesaikan masalah Putri membuat kepala ini pusing sendiri. Membuat segelas teh hangat dan menikmatinya diteras mungkin dapat menenangkan pikiran ini sejenak.

Sore hari yang cerah. Udara sejuk khas pedesaan. Lalu lalang orang orang desa saya lewat didepan rumah dan ada pula anak anak kecil yang masih bermain bersama teman-temannya. Mereka tampak riang dan tertawa lepas, seolah mereka tak memiliki beban apapun. Saya tersenyum melihatnya, ah andai saja saya jadi mereka. Bisa tertawa lepas tanpa beban pikiran.

Esok harinya, kegiatan sekolah berlanjut. Tidak ada hal istimewa yang patut diceritakan, hanya mungkin desain kaos yang kami buat hari ini rencananya mau dimasukkan ke konveksi biar segera digarap. Tak lupa kami DP terlebih dahulu sebagai jaminan. Kaos konyol itu dengan mantap kami membuatnya.

Sore hari saya menikmati segelas es teh di alun-alun. Sendirian. Bebek sudah pulang terlebih dahulu. Biasanya dia kadang bareng saya. Para pedagang kaki lima mulai berdatangan memenuhi area sekitar alun-alun. Saya duduk manis di angkringan sebelah barat lapangan. Timur masjid agung. Tak lama kemudian ada mobil yang baru tiba parkir disamping angkringan. Dilihat sekilas itu mobil tak tampak asing dimata saya, lalu pemilik mobil pun keluar dan ternyata itu Bapaknya Putri.

BAPAKNYA PUTRI!!

Sejenak saya kaget dan langsung menutup kepala saya dengan penutup kepala jaket hoodie yang saya kenakan. Beliau tampak bersama seorang temannya. Mereka berdua lalu duduk di kursi panjang dimana saya duduk. Saya sedikit bergeser keujung kursi.

"Buk, pesan teh anget ya? Bapak mau pesan apa?.." ucap bapaknya Putri yang duduk persis disamping saya.

DISAMPING SAYA PEMIRSAAAH..

untungnya beliau tidak menyadarinya karena wajah saya tertutup penutup kepala jaket saya.

"Samain aja pak sama anda.." jawab temannya bapaknya Putri sembari ikut duduk.

"Pak, bagaimana kabar Putri bapak? Saya jarang liat dia tiap kerumah bapak.." tanya teman bapaknya Putri kemudian.

"Dia sering dikamar pak, belajar mungkin haha.." ucap bapaknya Putri mencoba menjawab pertanyaan barusan.

Saya diam dan mencoba mendengar percakapan mereka sembari seolah olah memainkan hp mungil saya.

"Gak sabar menunggu mereka cepat besar ya pak, biar kita jadi besan haha.." ucap temannya bapaknya Putri.

"Iya haha.. sayangnya mereka masih sekolah.." imbuh Bapaknya Putri kemudian.


DEG!!

Percakapan barusan memberi informasi bahwa temannya Bapaknya Putri itu adalah bapaknya si Cowok yang dijodohkan dengan Putri.

Pikiran ini berkecambuk. Mereka berdua tampak asyik mengobrol seputar bisnis mereka sembari menikmati minum dan rokok. Namun ada obrolan mereka yang sedikit membuat saya tercengang, namun itu informasi yang sangat berharga untuk menjadi solusi menyelesaikan masalah Putri.

...
..

Hati saya berdebar, apa saya harus mengatakan sesungguhnya kepada mereka. Karena bertemu dengan kedua bapak ini tidak setiap saat bisa terjadi. Namun jika teringat kejadian dirumah Putri lalu, rasanya masih membuat hati saya sakit. Tak mungkin kejadiaan yang sama atau bahkan lebih buruk terjadi disini. Hati saya semakin tidak menentu. Setelah beberapa waktu mereka berdua pun pergi meninggalkan angkringan.

Setidaknya saya mendapat informasi bagaimana bapaknya si cowok yang dijodohkan sama Putri.

Usai membayar, saya mengabari Putri kejadian barusan.

"Kamu gak kenapa-kenapa kan sid?.."

"Enggak. Aku kan gak ketahuan bapak kamu Put.."

"Alhamdulillah deh. Aku sempet kaget denger kamu baru ketemu bapak aku.."

"Setidaknya aku tau informasi sesuatu Put. Setelah ini aku akan lakuin sesuatu, doain aja ya.."

"Lakuin apa?.."

"Ada deh. Gak bisa aku jelasin sekarang pokoknya.."

"Aduh, jangan bikin aku khawatir donk. Kalo kamu kenapa-kenapa gimana?.."

"Aku anak laki put. Gapapa kok, gak bakalan kenapa-kenapa hehe.."

Saya pun pulang setelah tak terduga berpapasan dengan bapaknya Putri sekaligus bapaknya si cowok sekaligus mendapat informasi berharga untuk menyelesaikan masalah ini.



Dan itu menyangkut pula dengan keluarga saya....

profile-picture
profile-picture
profile-picture
ariid dan 7 lainnya memberi reputasi

Chapter 62 : Berandal Tengik


Waktu berlalu dengan cepat, hari demi hari telah berganti. Beberapa hari setelah bersama mereka berdua, kegiatan sekolah seperti biasa saya lanjutkan apa adanya dan adanya apa. Sejenak saya sudah melupakan dendam dan amarah saya soal insiden beberapa waktu lalu ketika saya dihajar sampai babak belur oleh beberapa orang dengan alibi entah bagaimana alasannya. Ini waktu menjelang Mid semesteran disekolah saya alias ujian tengah semester atau disebut juga ujian 3 bulanan. Tak seperti ujian tengah semester atau akhir semester, ujian ini yang mengadakan sekolah kami sendiri dan soal-soal dibuat oleh guru-guru kami sendiri. Soal sebenarnya tidak banyak namun terlalu banyak makan jawaban uraian yang sebenarnya membuat para siswa malas mengerjakannya karena nulis jawaban yang banyak.

Seperti biasa, tempat duduk diacak dengan kelas lain, artinya setiap siswa akan duduk dengan kelas lain baik adik tingkat atau kakak tingkatnya. Ujian dimulai hari Jum'at s.d sabtu untuk ujian mata pelajaran keagamaan yang dibagi 6 mapel yakni aqidah, akhlak, al-quran, tariq, ibadah, dan mapel keagamaan tentang organisasi pengayom sekolah kami. Sehari berarti 3 mapel. Dan mulai senin seterusnya baru mapel biasa seperti matematika, B.indo, B.inggris, fisika, kimia, biologi, sejarah (ipa masih dapat pelajaran sejarah), B.jawa, pendidikan seni musik, dan pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan. Mulai senin ini jadwalnya ada yang 3 mapel per hari ada pula hanya 2 mapel per hari. Biasanya jadwal mata pelajaran kelas berat seperti matematika tidak akan sehari dengan fisika atau kimia. Itu menyiksa para murid pemirsaaa... Contoh: jam pertama B.indo, dilanjutkan sejarah, pendidikan agama (lagi namun umum a.k.a keseluruhan), lalu B. Jawa. Kira kira seperti itulah. Bila para pembaca pernah bersekolah di SMA juga dibuat demikian.

"Sebelah tempat duduk kita kelas X atau XII mat?.." tanyaku kala baru pulang sekolah dan mengecek lokasi ruang kelas tempat kami ujian.

"kayaknya kelas X sid.." jawabnya sembari sibuk mencari no. Urut tempat duduknya dengan mencocokannya diselembar kartu ujian yang dia bawa.

"yah, pojok lagi gue dah.. Depan lagi anjiir.." keluh gw ketika mendapat tempat duduk pojok paling depan dekat pintu masuk.

Urutan sepertinya dihitung menyamping dan absen saya no.4 jadi dapat tempat duduk paling ujung.

"Tapi jauh dari pengawas sid.. Aman lah nyontek haha.." ledek dia.

"btw aman lah gue kalo mau dicontekin kalian-kalian waahahahaa...." hibur diri ini sendiri. Bukannya sok pintar pemirsa, namun saya ladang contekan teman-teman sebelah saya, walau saya sendiri juga butuh contekan juga. Tak bisa lah saya mengerjakan semua soal soal itu sendiri kecuali saya batman.

Esok harinya, bersiap mengerjakan soal ujian. Uraian. Artinya, jawaban nulis ngawur, kalo buntu ini otak kelar udah. Beda sama pilihan ganda bisa silang indah. Hari pertama cukup mudah dilalui karena hanya materi keagamaan, asal bisa nulis Arab entah tau artinya atau enggak penting ada tampilan jawaban Arab udah terbilang keren dimata guru yang mengoreksi ntar haha..

Usai mengerjakan 2 soal ujian, waktunya kami pulang cepat. Jam 11 siang udah kelar gan. Berhubung terlalu "pagi" untuk pulang, nongkrong dikantin pilihan tepat untuk mengatasi problematika ini.

"buk, biasa es teh nggih.." pesanku pada Ibuk kantin. Kali ini kantin Utara tujuan saya. Soalnya parkir motor saya letakkan disisi Utara sekolah.

"weh, tumben disini sid?.." sapa salah satu anak ips yang sepertinya udah kelar juga mengerjakan ujian.

"yoi, parkir Utara soalnya gue. Sendirian aja? Yang lain mana?.." tanyaku balik.

"Pada masih ngerjain, maklum otak cetek semua. Pada lelet ngerjainnya hahaha.." tawa dia bangga berhasil keluar ruangan ujian duluan dibanding yang lain. Sama kek saya.

Kala mengobrol, saya melihat seseorang yang tak asing dimata saya. Salah satu orang yang mengroyok saya beberapa waktu lalu. Dia sedang berjalan melewati depan kantin sendirian saja.

"eh bentar.." pamitku lalu berdiri coba menghampiri.

"kemana?.." tanyanya lagi.

"hajar orang.." jawabku singkat.

Bergegas saya samperin itu orang, sejenak dia terkaget melihat saya.

"helo mas bro, mau kemana? Buru-buru amat? Sini ngobrol sama gue bentar lah.." ajak saya halus.

"eh, sorry gak bisa.." dengan langsung panik dia coba menghindar.

Lalu saya tangkap tangannya dan seret dia ke gang samping kantin. Dia coba berontak, namun dengan cepat saya peringatkan dia.

"sebaiknya elo nurut atau elo akan masuk kantor polisi!! Gue punya bukti dan saksi waktu lalu.." ancam saya.

Lalu dia diam dan menurut. Sesampainya di gang samping kantin, langsung saya coba tanya dia,

"sekarang loe jawab, kenapa waktu itu kalian mengroyok gue? Hah? Jawab!!." dengan sedikit membentak saya tanya dia.

"gue gue disuruh orang.." jawabnya agak gugup.

BUUGG!! Saya pukul perutnya dengan cukup keras.

"siapa yang nyuruh hah??!! Jawab!!.." dengan emosi saya kembali bertanya.

"sama orang yang pernah berkelahi sama elo.. Plis jangan laporin gue ke polisi.." rengeknya ketakutan.

BUUGG!! BUGGG!! BUUGGG!! Kali ini saya pukul lagi perutnya, lalu dilanjutkan memakai lutut dengan sekuat tenaga.

"Oke, sekarang elo pergi sebelum gue hajar elo disini!! Cepat.." bentak saya kemudian. Tak ingin dilihat banyak orang saya. Untung saja suasana saat itu lagi sepi.

Oke, sekarang cukup tau saja saya dalang dibalik pengroyokan waktu itu. Namun, walau tahu saya bingung mau bagaimana. Mau balas dendam? Masalah akan semakin runyam dan merambah jadi lebih besar. Saat ini saya hanya ingin menenangkan diri lalu kembali ke dalam kantin.

"wuuih, cepat amat sid? Katanya hajar orang? Haha.." ledek kawan saya tadi yang masih dikantin.

"udah kelar haha.." jawab saya seraya melanjutkan minum es teh saya yang baru habis setengah.

"tadi serius hajar orang sid?.." tanya dia lagi coba meyakinkan jawaban saya tadi.

"enggaklah, ke wc tadi. Mules haha.." jawab saya dengan bercanda.

"ealah, kirain serius anjiir.." dengan tampang kecewa dia mendapat jawaban saya barusan.

Dirasa cukup untuk, hari ini saya pun bergegas untuk pulang kerumah karena tak tau akan kemana. Besok hari Jumat, masih ujian keagamaan yang sama.

Esok harinya, ujian berlangsung seperti biasa. Lempar kertas kecil kanan kiri tanpa sepengetahuan pengawas haha. Atau mungkin emang ketahuan? Soalnya ditegur berkali-kali hahahaha..

Waktu pulang usai sholat jumat disekolah kami, karena sebelum sholat jumat belum diizinkan pulang. Gerbang pun dikenai disetiap penjuru. Mau keluar kantin saja tidak diperbolehkan. Sekolah saya memang seperti itu adanya pemirsa.

Selesai sholat jumat, saya pun nongkrong kembali sejenak dikantin. Bingung mau ngapain, bercengkrama dengan teman-teman sekolah selalu menjadi istimewa, karena ini hanya akan terjadi ketika waktu kami sekolah. Saat sudah lulus, waktu seperti ini akan sangat jarang terjadi. Karenanya waktu disekolah dinikmati sebisa mungkin.

"gimana tadi ujiannya? Gue pasrah pas mapel Al-Qur'an, baca iqro aja kagak bisa.." keluh bebek kala kami nongkrong dikantin.

"makanya pas ada tpa ikut sama adek adek tpa didesa loe bek hahahaha.." ejek saya menanggapi.

"ogah, mau ditaruh dimana muka gue anjiing!!.." jawabnya dengan nada kesal.

"nah, ntar minta pak Rebo (guru mapel Al-Qur'an) buat minta ajari privat bek hahaha.." tambah Yoga kali ini.

"ntar gue undang beliau ke rumah gue deh.." jawabnya lagi dengan nada cuek.

"lah, elo kan deket yoga bek? Contekan sama Yoga sono lah.." kali ini Kemin mengimbuhi.

"iyalah, kalo gak nyontek Yoga gak kelar gue tadi.." jawabnya lagi.

"nah, bayarannya bayarin gue makan ini bek.." Yoga menambahi lagi.

"siap boskuu.. Haha, jangan sampe lebih 5rb yak? Hahaha.." dengan tawa kali ini bebek sumringah.

"5rb es teh sama nasi kucing sebangkus doang anjiir.." kali ini Yoga yang terlihat kesal dengan jawaban bebek.

Begitulah jika bersama teman teman. Kebersamaan itu segalanya. Usai dari kantin, kami bergegas pulang. Sebelum saya mengeluarkan motor saya, didepan terlihat orang yang dulu bermasalah dengan saya & Alya lewat bersama temannya boncengan.


Apa lagi? Tentu saya coba mengikutinya dari belakang dan bikin perhitungan dengannya.....

profile-picture
profile-picture
profile-picture
fatqurr dan 7 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh pendakimalas

Chapter 26 : Relationship

Quote:


Langsung dia meluk gue erat. Erat banget. Gue pun membalas pelukannya dan mengusap kepalanya.
Dia sampe nangis di pelukan gue. Sampai beberapa menit dia mau lepasin pelukan gue...

Quote:


Ya kami pun resmi pacaran. Pacaran pertama gue dan juga dia. Baru pertama kali gue rasain hal kayak gini, rasanya ini hari benar benar hari paling membahagiakan di hidup gue. Dia pun juga bilang demikian. emoticon-Malu

Quote:


Gue pun terduduk di kursi teras rumahnya. Sejenak gue masih agak tidak mempercayai hal yang barusan terjadi, mulai ide gila dia agar gue kesini pake alasan kebakaran, lalu nyanyiannya terus dia utarain perasaannya ke gue. Disisi lain gue sebenernya mau ngungkapin perasaa gue juga padanya tapi malah dia duluan yang memulai. She is amazing girl menurut gue, jarang ada cewek seperti dia dimana cewek biasanya gengsi ungkapin perasaannya duluan ke cowok namun dia beneran beda. Sifatnya yang ceria & supel benar benar membuat dia makin istimewa dimata gue. Selain dia cantik tentunya namun gue mengesampingkan itu semua. Ya sejak awal ketemu dia ada yang berbeda didalam hati gue, ada gejolak sendiri dikala bertemu dengannya waktu insiden tabrakan didepan fotokopian itu sampai es teh gue tumpah dan gue sendiri tersungkur di jalan.
Waktu itu gue sejenak menatap matanya dan itu menimbulkan sesuatu didalam hati gue dan itu diteruskan dan dikuatkan kala bertemu lagi dengannya dikala gue bolos jam pelarajan. Ya, semua seolah berlalu begitu cepatnya tanpa terasa kami udah jadian.
Ditengah lamunan gue mikirin itu tiba tiba gue dikagetkan dia...

Quote:


Lalu tanpa diduga.
.
.
.
.
Cuupp!!
.
.
.
.
Dia cium pipi gue.

Seperti biasa habis itu dia buang muka karena pasti wajahnya memerah. Demikian juga gue.

Lalu gue coba tarik tangannya dan akhirnya dia menghadap ke gue dan...
.
.
.
.
Cup!!
.
.
.
Kali ini gue balas dengan cium kening dia.

Setelah gue cium keningnya, dia hanya tersenyum dengan raut kebingungan

Quote:


Cukup lama gue dirumah Alya , disana gue banyak ngobrol bahkan masak dirumah dia sembari ajari dia masak. Oh iya gan, gue meski cowok cukup mahir masak sejak kecil. Ya karena sejak kecil udah sering bantu ibu dirumah masak. Alya sendiri cukup cepat belajar masak, hari itu gue ajarin dia masak sayur sop dan dia udah bisa ngikutin lalu goreng lauk macam tempe dan telur. Tanpa terasa udah hampir jam 5 sore Berhubung takut kemaleman, ya gue pamit pulang.

Berhubung tadi gak pake jaket, gue di pinjemin jaket dia. Ukurannya cukup sih, dan model hoodie nya cocok juga dipake cewek cowok.

Quote:


Dan berangkatlah diri ini pulang .. Itu hari terindah dalam hidup gue, dijalan entah kenapa rasanya motor MX gue bisa berjalan sendiri, bisa ngegas sendiri, bisa ngopling dan ganti perseneling sendiri haha.. Walau itu gue lakuin sendiri sebenarnya tanpa sadar dan dengan reflek tentunya dan pikiran gue benar benar gak fokus dijalan efek terus kepikiran kejadian hari ini. Thanks sobat biru ku, bawalah aku pulang dengan selamat emoticon-2 Jempol
profile-picture
profile-picture
wlay dan yusufchauza memberi reputasi
Diubah oleh pendakimalas

~Sepatah Kata~

Setelah cukup lama jadi SR alias Silent Reader, akhirnya saya berani memutuskan menulis ini cerita. Entah bakalan seru atau tidaknya, bakalan viral atau tidaknya, berkesan atau tidaknya saya mengesampingkan itu semua.
Disini saya fix hanya ingin berbagi cerita, dan saya berharap cerita saya ini ada manfaat yang bisa diambil sebagai pembelajaran hidup. Saya tidak ingin terkenal, viral, atau apalah itu namanya. Disini saya murni ingin berbagi kisah hidup saya buat diambil pembelajaran.

Disini saya bukan orang yang baik. Jauh dari baik malah. Ya saya akui itu bahkan sampai sekarang saya masih merasa seperti itu. Bisa dibilang saya seorang pecundang disini dan para reader reader terhormat sekalian akan tau di chapter chapter kedepan. Tapi yang jelas dari saya, saya orang yang selalu usaha buat perbaiki diri.

Disisi lain, saya benar-benar gak ada izin siapapun dengan tokoh tokoh disini buat saya cantumin namanya di ini cerita. Beberapa udah hilang kontak dan beberapa lagi mau izin juga gak enak soalnya jarang kontakan juga. Dimohon sekali lagi kalau nemuin tokoh tokoh disini gue mohon dengan sangat tidak menganggu mereka. Alasan kenapa saya pake nama asli disini agar ingatan saya bisa sepenuhnya keluar di kepala saya. Jujur saja saya sedikit pelupa.

Saya gak ada dorongan dari siapapun untuk menulis ini cerita. Seperti judul nya yakni "My Secret Story", ya memang ini kisah cuma sampai saat ini saya yang tau karena sejak dulu saya emang jarang cerita cerita ke temen-temen. Mungkin hanya segelintir orang yang selama ini dekat dengan saya yang mengetahui kisah hidup saya ini.

Di forum terhormat ini, mohon izin dari seorang newbie ini menuliskan kisah hidupnya yang sudah terlewat ini di forum ini. Kepada moderator, para sesepuh Kaskus, para aktivis kaskus, dan reader reader terhormat disini, saya lewat chapter ini mohon izin.

Saya ucapkan terima kasih kepada para sesepuh Kaskus di forum ini yang sudah meluangkan waktunya untuk baca ini cerita dan memberi masukan ke saya dan memberi semangat ke saya buat nulis ini cerita. Insya'Allah saya akan terus lanjutin nulis ini cerita biar tidak ada kentang diantara kita semua hehehe.

Akhir kata, saya sekali lagi ucapkan terima kasih buat momod, para sesepuh Kaskus, dan reader-reader terhormat yang sudah berkenan meluangkan waktunya buat mampir di trit saya ini. Mohon maaf juga jika tulisan saya amburadul gini, maklum newbie. Maka dari itu kritik, saran, dan masukan amat saya butuhkan buat perbaiki penulisan saya.




Salam,




~Pendakimalas a.k.a Mursid~
profile-picture
profile-picture
cahyosaifullohm dan yusufchauza memberi reputasi
Diubah oleh pendakimalas

Chapter 2 : Kakak Tingkat Misterius

Masih dimasa MOS. Yah hari ke 3 kalo gak salah, lupa. Seperti biasa kami dikumpulin di aula sekolah. Cewek cowok dibagi 2 blok besar, cowok kanan dan cewek kiri (diliat dari belakang).
Nah diantara sela cewek dan cowok itu ada semacam ruang buat jalan yak, itu pas ada yang isi pidato diduduki para kakak tingkat osis. Bosen denger isian pidatonya, meski orangnya gonta ganti sih. Celingukan kanan kiri lah gue, ada kakak tingkat yang sedikit "aneh". Aneh kenapa? Soalnya tiap gue liat dia seakan sia abis liatin gue gitu dan tau gue liat dia dia alihkan pandangan. Gak cuma sekali dua kali, berkali kali bahkan seharian ini.
"Co, tau gak kakak tingkat yang duduk dibelakang kakak tingkat sebelah gue itu siapa?" tanya gue ke Koco, rekan satu gugus. Duduk dia disamping gue.
Berhubung gue ketua gugus, gue duduk di paling pinggir tengah berbatasan dengan cewek dan disitu ada sela nya dan kakak tingkat itu pada duduk disitu sepanjang barisan. Disitu kakak tingkat misterius itu berada, belakang 2 orang dari kakak tingkat sebelah gue..
"Gak tau sid, kenapa emangnya?" tanya si Koco.
"Aneh wae lah, berasa diliatin muluk gue dari tadi." jawab gue
"eh btw cakep dia, paling cakep malah diantara kakak tingkat yang lain setau gue." ucap si Koco.
"Iya sih cakep, naksir gue kali yak dia haha." canda gue.
"Sikat dah, mumpung ada cewek cakep lagi khilaf wahahaha." lanjut dia
"Bedebah.. Hahaha, emang gue sejelek itu apa? Haha" canda gue.
"Gak sid gak, elo putih kok sebagai cowok. Walau tampang pas-pasan hahaha" tawa dia dengan tampang tak berdosanya.
"Oke sip, lanjutkan dah" umpat gue..
.
"Sssttt" bisik kakak tingkat sebelah gue ke kami berdua.
"Jangan berisik dek, dengerin yang didepan" imbuhnya
"Yup mas" jawab gue.
.
.
Dan sesuai tebakan gue, kakak tingkat misterius itu masih kadang liatin gue dan buang muka ketika ketauan gue liatin balik. Yah tau lah kenapa,, bingung sendiri gue.
.
.
.
Pulang sekolah, biasa jalan bareng sama temen temen seperjalanan sambil cerita cerita MOS tadi.
Gue, Koco, Arif, ke tambahan beberapa orang lagi. Si Indra, Bayu, lalu siapa lagi yak? Lupa haha emoticon-Ngakak
..
.
..
.
"Eh liat, kakak tingkat dibelakang kita, cakep yak?" ucap si Bayu ke kami semua.
"Mana?" tanya si Koco.
"Yang tengah" imbuh Bayu.
Gue masih sibuk mainin hp Soner w660i gue gak peduliin mereka.
"Oh itu, yup cakep dia haha" tambah si Arif.
"Sid Sid, bukane dia yang liatin elo di Aula tadi?" tanya si Koco ke gue.
"Hhmm? Mana?" tanya gue.
"Itu yang tengah" imbuhnya
Lalu gue liat ke belakang, dan taaaraaamm jreengg.. Itu dia kakak tingkat tadi, dari seragamnya sih kelas 11 (kelas 2).
"Iya sih dia" imbuh gue setelah mengamati dia berjalan dengan 2 temannya sambil ngobrol. Biasa lah cewek.
. .
Sampai di pemberhentian bus, kakak tingkat itu pun juga menungggu bus juga. Disini ada 2 bus yang bisa ditumpangi, jurusan S*lo-Taw****angu (bus gue tumpangin langsung sampe seberang desa gue) & S*lo-M****ih (kalo naik ini kudu oper bus ntar gue). Nah, gue liat dia naik bus yang jurusan M****ih. Karena beda bus, gue nunggu bus belakangnya. Disini yang nunggu bus banyak banget gan, ada dari berbagai sekolah soalnya. Kadang kalo nunggu agak longgar harus nunggu beberapa bus dulu.
. .
"Yah dia naik bus yang berbeda." keluh gue.
Seperti biasa, sampai rumah makan tidur mandi dll. Aktivitas biasa lah dirumah. Pikiran ini pun tak ada hentinya siapa itu kakak tingkat, tapi sudahlah. Biar waktu kelak menjawabnya, pikir gue saat itu.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
andrian0509 dan 7 lainnya memberi reputasi


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di