CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Burung Kertas Merah Muda
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a9e541d60e24b916d8b4567/burung-kertas-merah-muda

[17+] BKMM

Burung Kertas Merah Muda


Quote:



Spoiler for Perkenalan:


Quote:
Polling
82 Suara
Siapakah sosok perempuan yang ada dibalik burung kertas berwarna merah muda tersebut? 
Diubah oleh chrishana
Halaman 1 dari 27

Prolog

“Nu, lo percaya gak kalau perempuan baik-baik akan ketemu lelaki yang baik juga?”

Rendy bertanya pada Danu seraya menatap langit-langit kamarnya. Sambil merebahkan tubuh mereka di atas tempat tidur milik Rendy yang berada di kamarnya. Hanya saja, Danu sedang asyik sendiri mendengarkan musik dengan headphone yang menempel di kedua telinganya.
“Lo dengerin gue gak sih, Nu?” Rendy mencabut kabel headphonedari telepon genggam milik Danu.

“Ah, elah! Gue denger, Ren. Lo masih mau ngejar dia?” jawab Danu sambil mencopot headphone dari kepalanya.

Danu merubah posisi tidurnya tepat menghadap Rendy, “Kenapa gak cari yang pasti-pasti aja sih, Ren?”

“Gak bisa gue. Gue udah janji sama diri gue sendiri.” jawab Rendy.

“Mau sampai kapan? Itu juga kalau dia belum nikah atau tunangan.”

“Emangnya lo tau siapa orangnya?”

Danu mengangkat bahunya mengisyaratkan bahwa dia tidak tahu jawaban atas pertanyaan Rendy.
“Emang siapa sih yang ngasih burung kertas itu?” tanya Danu penasaran.

Rendy beranjak dari tempat tidurnya. Dia berpindah tempat menuju kursi yang ada di depan mejanya menghadap jendela sambil melihat langit di siang hari. Seakan-akan bayangan gadis itu berada di atas awan.
“Nah, kan. Sekarang malah ngelamun. Gue tanya gak dijawab.” Danu berkata sedikit kesal lalu memasang headphonemiliknya kembali dan mendengarkan musik.

Ada sebuah burung kertas yang berdiri di atas meja milik Rendy. Burung kertas berwarna merah muda dengan tulisan penuh cinta di dalamnya yang membuat Danu penasaran. Burung kertas itu disimpan oleh Rendy baik-baik dari bangku sekolah hingga saat ini.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Rapunzel.icious dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh chrishana

Chapter 1

“Eh, sorry. Di sini kosong?”

Seorang murid laki-laki berdiri tegap tepat di samping Rendy yang sedang tertidur merebahkan kepalanya di atas meja. Rendy langsung membuka mata dan memberinya jalan untuk duduk di samping.
“Kosong. Duduk aja.” jawab Rendy.

“Oh, iya. Kenalin. Gue Danu.” sambil mengajak Rendy berjabat tangan lalu duduk di samping Rendy.

“Rendy.”

Hari ini adalah hari pertama di mana Rendy dan teman-temannya resmi memakai seragam putih abu-abu. Tapi, memang sudah sifatnya yang cuek dan pasif membuat dia malas untuk berkenalan dengan teman-teman sekelasnya. Rendy hanya duduk sambil merebahkan kepalanya di atas meja. Tak lama kemudian, bel masuk berbunyi. Rendy bangkit dari tempat duduknya dan beranjak pergi meninggalkan Danu.
“Eh, mau ke mana lo?” Danu bertanya seraya memegang lengan Rendy.

“Toilet. Biar gak kebelet pas belajar. Mau megangin punya gue?”

“Idih, najis banget lo. Ya udah sana.”

Rendy berjalan perlahan keluar dari kelasnya menuju toilet pria yang tak jauh dari kelasnya. Setelah keluar dari toilet, dia melihat ke arah gerbang sekolah. Karena penasaran, Rendy memberanikah diri untuk turun melihat. Padahal dia sendiri tahu bahwa guru yang akan mengajar sudah berjalan menuju kelasnya.
“Pak! Tolong buka gerbangnya! Saya cuma terlambat sekian detik aja!”

Suara teriakan dari murid perempuan berhijab putih yang terlambat dari luar gerbang terdengar oleh Rendy yang sedang berjalan menghampiri gerbang sekolah. Perlahan suara itu menghilang, tetapi perempuan itu masih berdiri menutup wajahnya yang sedang menangis kebingungan.
“Astaghfirullah!” perempuan itu kaget karena Rendy memegang bahunya secara diam-diam.

“Ngapain lo nangis di situ?” tanya Rendy.

“Pake nanya lagi! Gue dikunciin gak boleh masuk gara-gara telat!”

“Siapa suruh telat?”

“Ngeselin amat sih. Udah sana pergi lo!” bentak perempuan itu kepada Rendy.

“Bener nih? Gak mau dibantuin?”

Perempuan itu masih berdiri mematung sambil menutupi wajahnya yang basah karena air matanya. Dia hanya bisa diam dalam isak tangisnya yang tak kunjung henti. Rendy berbalik arah bersiap meninggalkan gerbang sekolah yang sudah terkunci rapat.
“Sekarang, lo pergi ke gerbang belakang sekolah. Gue tungguin di sana kalau memang mau dibantu. Lima menit lo gak datang, gue naik ke kelas.” ucap Rendy lalu pergi meninggalkan perempuan itu.

Tanpa pikir panjang, perempuan itu berlari-lari kecil menuju gerbang belakang sekolah. Di sana sudah ada Rendy yang menunggu berdiri di depan gerbang belakang sekolah yang tepatnya berada di samping Masjid sekolah.
“Tas lo sini.” Rendy mengulurkan tangannya dari bawah kolong pagar lalu mengambilnya. “Sekarang, lo panjat pagarnya. Cepetan, sebelum ada guru datang!”

“Manjat?” perempuan itu bertanya sedikit kaget.

Perempuan itu sudah tidak punya pilihan lain. Akhirnya dia lebih memilih memanjat pagar gerbang itu yang tingginya kurang lebih lima meter. Tapi, ada keraguan yang terpancar dari raut wajahnya. Sesekali dia melirik Rendy yang sedang melihatnya bersiap memanjat pagar.
“Ngapain lo liatin gue? Mau ngintip? Ngadep sana!” perempuan itu menyuruh Rendy untuk melihat ke arah sebaliknya.

“Lo buta? Gue pakai rok!”

“Iya iya.” ucap Rendy seraya membalikkan tubuhnya.

Rendy sesekali melihat jam tangannya. Sudah lebih dari ima menit, tetapi perempuan itu belum juga berhasil memanjat pagar. Rendy pun gelisah karena sudah pasti dia akan mendapatkan siraman rohani dari sang guru mata pelajaran pertamanya.
“Aduh.. Aduh!” perempuan itu menjerit.

“Kenapa sih?”

“Rok gue nyangkut! Ngadep sana!” bentak perempuan itu.

“Hah?”

Rendy tak sengaja menoleh ke arah perempuan itu. Tapi, nasib sial bagi keduanya. Perempuan itu terjatuh tepat menindih tubuh Rendy. Alhasil keduanya terjatuh ke tanah dan meringis kesakitan. Rendy pun bangkit dan membersihkan debu-debu yang menempel di kemejanya. Sedangkan murid perempuan berhijab putih itu masih duduk kesakitan dengan sedikit mengeluarkan air mata.
“Aduh, sakit!” perempuan itu meringis menahan sakit.

“Lo gimana sih!” keluh Rendy.

“Lo yang gimana! Sempat-sempatnya lo ngintip celana dalam gue!” bentak perempuan itu.

“Dih, siapa yang ngintip! Udah dibantuin bukannya terima kasih malah marah-marah! Bodo amat! Gue balik dulu ke kelas!” Rendy berjalan meninggalkan perempuan itu sendirian dan melambaikan tangan. “Bye!

Rendy berjalan dengan tergesa-gesa menuju kelasnya. Menaiki anak tangga satu persatu dari lantai dasar menuju lantai tiga sekolah ini. Dan benar saja, sudah ada guru yang sedang mengajar. Rendy mengetuk pintu lalu izin untuk masuk ke dalam kelasnya.
“Permisi, Pak.”

“Dari mana kamu?” tanya guru itu sambil memegang buku pelajaran yang ada di atas telapak tangannya.

“Toilet, Pak.”

“Lama amat.”

“Mules, Pak.”

“Ya udah sana duduk.”

Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki menderu di koridor depan kelas Rendy. Semua mata tertuju pada murid perempuan berhijab putih yang sedang berlari tergesa-gesa dan masuk ke dalam kelas. Bukan kelas tetangga sebelah, tetapi kelas yang ditempati Rendy dan Danu.
“Haduh! Ini siapa lagi!” guru yang sedang mengajar langsung membuka kacamata plus miliknya dan menatap murid perempuan itu dengan napas yang tidak beraturan.

“Ma... Maaf, Pak.” kata perempuan itu terbata-bata.

“Kamu terlambat kenapa bisa masuk? Bukannya sudah jelas peraturan sekolah jika terlambat maka murid dipulangkan?” guru itu memberikan pertanyaan jebakan yang sudah pasti serba salah jika dijawab. Jika berkata jujur, hukuman semakin berat. Kalaupun harus berbohong, haruslah masuk akal.
“Saya tadi... Anu pak.”

“Anu apa?”

“Saya dhuha dulu, Pak. Sebelum masuk. Iya gitu, pak. Hehehehe.” jawab perempuan yang belum diketahui namanya itu.

Rendy menatap perempuan itu dengan tatapan sinis. Lalu, perempuan itu berbalik menatap Rendy seakan tidak percaya jika dia satu kelas dengan lelaki yang paling menyebalkan dalam hidupnya. “Mampus gue.” kata-kata yang terucap dari pergerakan bibir perempuan itu.
“Bohong!” guru itu membentak sambil menggebrak meja belajar di depannya dan membuat perempuan itu kaget.

Rendy dengan spontan berdiri, “Bener, Pak. Saya liat kok tadi. Dua belas rakaat loh, Pak.”

“Kok kamu tau? Kamu itu mules atau ngintipin dia sholat?” guru itu bertanya keheranan.

“Oh, iya iya. Jadi, kamu yang bohongin saya. Sini kamu!” guru itu memanggil Rendy dan Rendy maju ke depan menghadap sang guru.

“CIEEEE...” sahutan dari murid sekelas mewarnai langkah kaki Rendy menuju sang guru.

“Sekarang, kamu duduk di tempatmu.” perintah sang guru kepada perempuan itu. “Kamu!” sambil menunjuk Rendy, “Berdiri disana!” guru itu menunjuk pintu kelas yang terbuka.

Dan sekarang justru Rendy yang kena batunya. Sepertinya memang serba salah membantu perempuan itu. Ujung-ujungnya pasti perempuan itu terlepas dari masalahnya dan masalahnya berpindah tangan.
profile-picture
profile-picture
dany.agus dan jimmi2008 memberi reputasi
Diubah oleh chrishana

Chapter 2

Namanya Rendy Adrian Mahardika, siswa kelas X-4 yang dikenal karena fisiknya yang di atas rata-rata menurut para kaum hawa. Dia dikenal sebagai orang yang tidak terlalu banyak bicara dan suka menyendiri. Bahkan, bisa dibilang dia terlalu cuek dengan keadaan sekitarnya.

Ada teman sebangku Rendy di kelasnya yang bernama Danu, dengan nama panjang Danu Aji Rahardian. Berkacamata dan gemar mendengarkan musik Japanese-Rock atau yang biasa dikenal dengan J-Rock. Dia juga gemar menonton anime dan tidak suka menonton acara televisi.
****

“Sial! Gue yang kena.” Rendy mengeluh seraya menyandarkan tubuhnya di atas kursi dan mengangkat kepalanya ke arah langit-langit.

“Lagian lo ada-ada aja sih, Ren.” ujar Danu yang ada di sampingnya.

“Eh, beneran lo tadi ngintip Anna lagi dhuha?” Danu bertanya penasaran.

“Ya nggak lah!” jawab Rendy ketus sambil merubah posisi duduknya menjadi tegap.

“Eh tadi lo bilang apa?” Rendy langsung menoleh ke arah Danu.

“Apaan?” tanya Danu.

“Namanya.”

“Anna?”

“Oh, namanya Anna.” Rendy kembali menyandarkan tubuhnya.

****

Waktu terus berjalan detik demi detik, hingga akhirnya waktu istirahat tiba. Semua murid berhamburan keluar berjalan menuju kantin sekolah karena memang sudah waktunya untuk makan siang. Rendy dan Danu masih setia duduk di tempatnya.

“Gue sholat dulu ya. Nanti kita ketemu di kantin aja. Dah!” perempuan berhijab yang bernama Anna itu pergi melambaikan tangannya ke arah teman-temannya. Tetapi, bukan dia yang sedang dilihat oleh Rendy. Matanya menatap teman sebangku dari perempuan berhijab itu. Dengan rambutnya yang hitam lurus hingga menyentuh bahu dan bentuk tubuhnya yang langsing. Wajahnya yang begitu cantik dengan kacamata yang menempel di kepalanya membuat kesan manis terpancar dari dirinya.
“Lo ngeliatin siapa, Ren?” pertanyaan Danu membuat konsenterasi Rendy terpecah.

“Setan. Ayo makan!” Rendy bergegas meninggalkan tempat duduknya.

“Eh tunggu dong!” Danu berdiri menyusul Rendy.

Suasana kantin saat ini sangat ramai. Bahkan Rendy dan Danu sampai bingung mencari tempat duduk untuk menyantap makan siang mereka. Beruntung, ada satu meja yang kosong dan mereka menempatinya.
“Pesen duluan aja, Nu.” ujar Rendy seraya duduk di bangku yang kosong.

“Gue aja deh yang pesen. Lo mau apa?” tanya Danu.

“Somay aja deh sama es jeruk.”

“Oke.”

Rendy melihat sekeliling kantin, karena baru kali pertama dia mengunjunginya setelah masa orientasi kemarin. Karena ada aturan yang menyebutkan bahwa murid baru tidak boleh berkunjung ke kantin sekolah selama masa orientasi berlangsung.
“Sendirian?” suara perempuan yang bertanya membuat Rendy sedikit kaget.

“Eh, nggak. Sama temen.” jawab Rendy pelan.

“Hhmm...” Perempuan itu duduk di depan Rendy. “Gabung sama temen-temen gue yuk.” perempuan tersebut melihat ke arah meja yang berisi teman-temannya.

“Nggak deh. Makasih. Gue lagi nunggu temen gue.” Rendy menolak.

Tak lama kemudian, Rendy melihat perempuan berhijab putih yang dia tolong tadi pagi. Dia melintas sambil mencari keberadaan temannya.
“Kesempatan nih!” pikir Rendy.

“Anna! Sini!” Rendy berteriak sambil melambaikan tangannya ke arah Anna.

Anna menatap Rendy dengan bingung dan heran ada apa dia memanggilnya. Lalu, dia berjalan perlahan ke arahnya seakan tak percaya bahwa lelaki yang paling menyebalkan itu memanggilnya.
“Apa?” tanya Anna kebingungan.

“Nah ini orangnya. Maaf ya, Kak. Lain kali aja.” Rendy berkata kepada perempuan yang duduk di depannya yang diketahui bahwa dia adalah kakak kelasnya.

Perempuan itu menatap Anna dengan sinis lalu pergi meninggalkan mereka berdua. Anna pun semakin bingung ada apa sebenarnya yang terjadi diantara Rendy dan perempuan itu.
“Udah sana. Danu lagi jalan ke sini.” Rendy menyuruh Anna untuk pergi.

“Maksud lo apaan manggil gue dan sekarang lo ngusir gue?” tanya Anna dengan nada tinggi.

“Gue laper mau makan. Dan gue gak suka diganggu sama dia. Apa lagi sama lo.” jawab Rendy ketus.

“Anna! Sini!” teriak seorang perempuan yang berada di meja dari kejauhan sana. Lalu, Anna pun meninggalkan Rendy dan Danu dengan menahan sedikit marah.

“Kenapa, Ren?” Danu bertanya penasaran.

“Lo liat tuh gerombolan cewek kakak kelas yang di arah jam lima gue.”

“Njir! Anak cheerleaders itu?” tanya Danu.

“Sikat, Ren! Lo mau yang mana? Bagi gue satu.” ujar Danu sambil menepuk bahu Rendy.

“Apaan sih! Gue gak suka.” ujar Rendy lalu meminum es jeruknya.

“Cantik, Ren. Ah, lo gimana sih.” Danu menyenggol bahu Rendy dengan pelan.

“Biarin aja. Gue gak suka perempuan macam mereka.”

“Sstt..” Danu berdesis dan mengangkat dagunya. Seakan memberi syarat kepada Rendy.

“Apa?”

“Gue minta nomor lo aja deh. Gimana?” Perempuan itu melemparkan senyumnya ke arah Rendy.

Ternyata sudah ada perempuan itu di belakangnya. Rendy pun terkejut melihat dia sudah ada di dekatnya. Sekarang, perempuan itu tepat berdiri di sampingnya sambil memberikan handphone miliknya kepada Rendy.

Rendy pun ragu antara memberikan nomornya atau tidak. Dengan sangat terpaksa, Rendy mencatat nomornya sendiri tetapi disimpan dengan nama kontak ‘Mama’.
“Nih.” Rendy memberikan kembali ponsel milik perempuan itu.

“Oke, nanti gue SMS ya. Dah, Rendy!” perempuan itu pergi kembali menuju meja yang sudah ditempati teman-temannya.

Rendy menoleh ke arah Danu. “Kok dia tau nama gue, Nu?”

“Lah, lo kan terkenal pas MOS kemarin.” jawab Danu.

“Hah?” Rendy kebingungan.

“Udah-udah habisin dulu. Dikit lagi bel masuk.”

profile-picture
profile-picture
dany.agus dan jimmi2008 memberi reputasi
Diubah oleh chrishana

Chapter 3

“Semua anak baru kumpul di tengah lapangan sekarang!”

Suara teriakan siswa senior di depan kelas membuat semua murid baru berhamburan keluar menuju lapangan untuk berkumpul. Bagaimana tidak, semua takut dengan para senior. Takut dijahili, ataupun dihukum dengan macam-macam hukuman.

Tapi, tidak dengan Rendy walaupun dia kali ini lebih memilih menuruti saja pada senior di sekolahnya. Rendy dan yang lainnya berkumpul dan berbaris di lapangan sesuai dengan kelompoknya. Setelah itu, para senior mengabsen satu persatu murid kelas X yang sedang mengikuti MOS.

Ada beberapa murid yang kedapatan tidak membawa perlengkapan MOS seperti nametag atau ikat pinggang yang terbuat dari tali sumbu kompor. Murid yang melanggar tersebut digiring oleh senior ke depan lapangan. Mereka semua diceramahi dan dibentak habis-habisan oleh para senior.
“Masih jadi anak baru udah berani melanggar kalian!” bentak seorang senior lelaki dengan suara lantang.

“Sekarang, kalian semua jalan jongkok lima kali keliling lapangan!” lanjut perintah senior itu.

Rendy dan yang lain hanya bisa melihat mereka semua berjalan layaknya bebek yang sedang beriringan. Para senior juga menambahkan bahwa siapapun yang melanggar peraturan, akan dihukum habis-habisan.

Sekolah ini termasuk sekolah favorit yang ada di Jakarta. Namun, di sini sangat kental dengan namanya senioritas. Dimana para murid baru harus tunduk dan patuh terhadap seniornya. Tidak hanya dalam masa orientasi, tetapi pada saat hari belajar seperti biasa dan ini sudah berlangsung menahun.

Setelah semua selesai berjemur di tengah lapangan, semua murid dipersilahkan kembali ke kelas kelompoknya masing-masing. Tapi, pandangan Rendy tercuri oleh sekelompok senior yang sedang menghukum murid-murid yang melanggar. Ada satu murid perempuan terlihat kelelahan, tapi justru para senior itu menambahi hukumannya.
“Bawa apa ini kamu!” bentak senior itu sambil menggengam sebuah handphone.

“HP, Kak.” jawab murid perempuan itu dengan kepala tertunduk.

“Udah tau kan selama MOS gak boleh bawa HP!”

“Tapi, saya butuh, Kak. Buat hubungin keluarga saya.” ujar perempuan itu pelan.

“Alasan!”

BRAK!

Senior lelaki tersebut membanting telepon genggam milik perempuan itu. Casing dan baterainya berhamburan keluar. Perempuan itu hanya bisa menangis tertunduk melihat telepon genggam miliknya dirusak oleh para senior dan membuat Rendy menjadi geram melihatnya.
“Ngapain lo disini! Mau gue hajar, hah!” bentak senior itu kepada Rendy yang tiba-tiba saja datang menghampiri.

Dengan emosi yang sudah mencapai puncak, Rendy menatap senior itu dengan tatapan tajam. Lalu, Rendy mengambil telepon genggam yang berserakan dan memasangkan kembali baterai beserta casing-nya.
“Ini, masih nyala kok.” Rendy memberikan handphone tersebut kepada perempuan itu.

“Dan lo semua! Lo inget baik-baik! Jangan pernah lo kasar sama perempuan! Ngerti!” Rendy menunjuk para senior itu satu persatu.

Tanpa pikir panjang, senior itu melayangkan pukulan ke arah Rendy dan membuatnya terjatuh tersungkur ke tanah. Perempuan itu hanya bisa berteriak histeris ketika Rendy dipukuli oleh para kawanan senior tersebut. Tapi, Rendy bisa membalasnya. Hingga akhirnya perkelahian mereka berakhir dan Rendy harus digiring ke ruang OSIS.
“Siapa nama lo?” tanya seorang senior yang berada disana.

“Rendy.”

“Gue, Rian. Ketua OSIS disini. Dan lo tau siapa yang lo ajak ribut tadi?”

Rendy menggelengkan pelan kepalanya, “Bukan urusan gue.”

“Songong gila ini anak.” sahut Rian sambil tersenyum sinis.

Rian, sang ketua OSIS langsung merapihkan meja-meja yang ada di sana hingga membentuk sebuah lingkaran. Dia juga meminta Rendy dan para senior yang berkelahi tadi masuk kedalam lingkaran tersebut.
“Ini pelajaran juga buat kalian. Ribut tuh yang gentle. One by one, jangan keroyokan. Ayo lanjutin.”

Kericuhan kembali terjadi. Sekarang ruangan OSIS yang dipakai oleh panitia MOS, kini beralih fungsi menjadi arena pertarungan. Seketika ruangan ini menjadi penuh dengan orang-orang.
“Ayo, hajar!”

“Gebukin aja tuh junior songong!”

Teriakan-teriakan provokatif dengan lantang dilantunkan oleh orang-orang yang menonton pertarungan ini. Membuat suasana ruangan ini menjadi semakin memanas.

Tanpa pikir panjang, Rendy langsung menarik salah satu diantara para senior itu ke tengah lalu dihajar habis-habisan olehnya. Pukulan demi pukulan diayunkan oleh Rendy. Lalu, senior itu membalasnya tapi sayang, pukulan itu selalu meleset. Terakhir, Rendy melayangkan lututnya dan tepat mengenai bagian perut dari senior itu dan jatuh tersungkur.

Tidak sampai disitu saja, Rendy langsung menerjang para senior yang lain dengan membabi buta tanpa ampun. Hingga akhirnya salah satu diantara mereka ada yang pingsan karena dihantam keras dengan meja.
****

Bel pulang sekolah telah berbunyi. Itu tandanya masa penyiksaan senior terhadap murid baru hari ini sudah usai. Tapi, tidak dengan Rendy. Dia harus menghadap guru bidang kesiswaan karena terlibat perkelahian yang membuat salah satu senior harus dibawa ke rumah sakit.
“Ngapain lo masih di sini?” tanya Rendy seraya menghampiri perempuan yang ditolongnya tadi.

Seorang perempuan bertubuh kecil dan langsing sedang duduk dibangku taman sambil memainkan kakinya. Perempuan yang jika dilihat mempunyai kekuatan fisik yang lemah dan mata yang sembab karena sehabis menangis tadi.
“Nungguin lo.” jawabnya.

“Ngapain?”

“Gue mau bilang terima kasih.” perempuan itu berdiri dan menatap Rendy dalam-dalam sambil tersenyum manis ke arahnya.

“Nama lo Rendy, kan?” perempuan itu memegang bahu Rendy. “Gue akan selalu inget kok. Terima kasih. Rendy. Gue balik ya.” perempuan itu berjalan perlahan meninggalkan Rendy yang berdiri mematung melihatnya sampai hilang dari pandangan.

Rendy kembali naik ke kelasnya hanya untuk mengambil peralatan MOS yang ditinggal di dalam kelas. Tetapi, Rendy tidak langsung beranjak dari sana. Dia duduk sejenak dan merenungkan hasil perbuatannya tadi. Dia juga berdoa agar senior itu segera pulih dan tidak menderita luka dalam. Sebab, hukuman yang lebih berat telah dinantinya.
“Apa ini?” Rendy bertanya-tanya dalam hati.

Sebuah burung kertas berwarna merah mudah jatuh pada saat dia mengambil peralatan dari laci mejanya. Ada sebuah tulisan kecil di dalamnya. Rendy membuka burung kertas tersebut dan membaca kalimat di dalamnya.



Spoiler for Pesan:

profile-picture
profile-picture
profile-picture
dany.agus dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh chrishana
Rendy baik tapi apes emoticon-Big Grin
Hmm luar biasa.. wkwkwk

Selamat datang kembali.. ke dunia pereseftehaan.. bikin ini gak bilang2
Diubah oleh fenrirlens

Chapter 4

“Kak... Kakak...”

“Hhmm...”

Perempuan bertubuh mungil itu menekan hidung Rendy secara perlahan. Rendy pun terlihat sangat tidak nyaman dan masih mengulet di atas tempat tidurnya. Matanya belum terbuka sepenuhnya.
“Eh, Tasya. Ada apa, dek?” Rendy bangkit dari tidurnya dan duduk di samping adik perempuannya yang sudah siap dengan seragam putih dan rok birunya.

“Udah jam enam lewat loh. Kakak gak sekolah?”

“Hah? Mati gue!” Rendy langsung bergegas menuju kamar mandi dan bersiap-siap dengan cepat.

“Tasya! Ayo cepat berangkat! Papa udah nungguin tuh!” sahut mamanya Rendy dari bawah anak tangga.

“Iya, Ma! Aku habis bangunin Kak Rendy!”

****

Rendy memacu sepeda motornya dengan cepat tetapi penjaga gerbang lebih cepat menutup dan mengunci gerbang sekolah. Padahal dia hanya terlambat beberapa detik saja. Dia parkirkan sepeda motornya di depan sekolah, namun kecepatan berlarinya masih lebih lambat dari menutupnya gerbang sekolah.
“Aduh! Sial banget gue kali ini!” batinnya.

Dari kejauhan, Rendy melihat seorang perempuan yang juga tengah berlari menuju pintu gerbang sekolah. Sesekali dia mengibaskan rambutnya yang panjang dan menutupi pandangannya. Nafasnya sudah tak beraturan karena lelah berlari.
“Ya ampun! Gue telat!” sahut perempuan itu.

“Ya sama. Senasib sama gue.” ujar Rendy seraya menatap wajah perempuan itu.

Perempuan itu mengangkat kepalanya dan menatap Rendy. “Kita satu kelas kan?” perempuan itu bertanya untuk memastikan benar atau salah.
“Lo yang duduk di samping Anna kan?” tanya Rendy.

Sepertinya kali ini keberuntungan berpihak kepada Rendy. Rendy yang dari kemarin penasaran dengan sosok perempuan ini, justru sekarang dipertemukan dengan takdir yang tak disangka-sangka.

Perempuan ini terlihat cantik di mata Rendy. Tubuhnya yang langsing dan rambut panjang hingga menyentuh bahu membuat Rendy tidak bisa mengalihkan pandangannya ke arah yang lain. Apalagi ditambah kacamata yang ia gunakan membuat wajahnya terlihat lebih manis.
“Badan sama rambutnya sama persis. Apa mungkin dia yang kasih gue burung kertas waktu MOS kemarin?” tanya Rendy dari dalam hatinya.

“Woi!” perempuan itu melambaikan tangannya tepat di depan mata Rendy.

“Eh, iya.” Rendy terkejut.

“Kenapa lo liatin gue?” tanya perempuan itu sinis.

“Hhmm... Itu...”

Rendy melihat waktu di jam tangannya yang berada di tangan kirinya, “Masih ada waktu sebelum ada guru. Ikut gue!” Rendy menarik tangan perempuan itu pergi meninggalkan gerbang depan sekolahnya.

Rendy dan perempuan itu berlari menuju gerbang sekolah yang berada di samping. Rendy mencontohkan bagaimana cara memanjat pagar setinggi kurang lebih lima meter tersebut.
“Tas lo masukin dari kolong kayak gini.” Rendy mencontohkan bagaimana caranya.

“Oke.”

“Kalau udah, kita panjat.” Rendy sudah bersiap memanjat pagar.

“Gue pakai rok.” ujar perempuan itu.

“Gak apa-apa. Gue bantuin pas gue sampe di atas. Gak bakalan ngintip juga gue.”

Sampailah Rendy di puncak pagar itu. Dia mengulurkan tangannya untuk membantu perempuan itu naik. Perempuan itu menggapai tangan Rendy lalu Rendy menarik membantunya naik ke atas. Lalu, mereka berdua turun dan lompat kebawah.
“Jam berapa sekarang?” tanya perempuan itu pada Rendy.

“6.50 nih. Ayo cepet!” Rendy melihat jam tangannya lalu meraih tangan perempuan itu dan mengajaknya berlari sampai ke kelasnya.

Baru sampai lantai kedua, mereka berhenti berlari. “Stop!” perempuan itu berhenti berlari dengan nafas yang terengah-engah.
“Gue capek. Dan, mau sampai kapan lo pegangin tangan gue?” tanya perempuan itu.

“Eh, maaf.” Rendy melepaskan tangannya.

“Ayo cepetan!” ajak Rendy.

“Lo liat deh kelas kita. Masih ramai. Kayaknya gak ada guru deh.” perempuan itu menunjuk ke arah kelas.

“Iya, ya.”

“Makanya, jalan santai aja. Lo malah ngajak gue lari-larian.” ujar perempuan itu sedikit kesal.

“Iya maaf. Ya udah, yuk.”

Dan akhirnya, Rendy dan perempuan itu berjalan menaiki anak tangga dengan santai dan perlahan. Sesekali Rendy juga melihat ke arah lapangan yang sedang di pakai untuk pelajaran olahraga kelas lain.
“Gue Fara, Faranisa Azni.” perempuan itu mengulurkan tangannya.

“Gue...”

“Rendy, kan?” sahut perempuan itu memotong lalu tersenyum.

“Ayo masuk kelas, Ren.” ajak dia.

Rendy hanya bisa diam melihat Fara, perempuan dengan tubuh langsing dan wajah cantiknya yang dapat menghipnotis Rendy. Antara senang dan heran, mengapa hampir semua perempuan tahu dirinya. Padahal, dia merasa tidak pernah berkenalan dengan perempuan-perempuan itu. Lain dengan Fara, dia masih bisa memaklumi karena satu kelas.
“Eh, Fara! Jangan berduaan sama dia. Bisa kena sial!” Anna menarik Fara menjauhi Rendy.

“Sial gimana?” tanya Fara.

“Eh, mak lampir! Ada juga lo yang bikin gue sial!” ujar Rendy dengan emosi.

“Udah udah.” Fara mencoba menengahi Rendy dan Anna.

Danu akhirnya bangkit dari duduknya dan menghampiri Rendy yang sedang bertengkar dengan Anna. “Udah jangan ribut sama cewek. Ayo duduk.” Danu mendorong Rendy agar perselisihan tidak memanjang.

“Ngeselin banget tuh cewek! Asli!” ujar Rendy.

“Sabar, bro. Gitu aja.”

“Ah, lo gak ngerasain sih! Kemarin udah gue tolongin, bukannya terima kasih malah marah-marah. Dua kali loh gue nyoba nolongin dia.” Rendy tidak bisa menyembunyikan rasa kesal di dalam dirinya
.
Rendy lalu menceritakan bagaimana peristiwa itu dimulai kepada Danu. Danu mendengarkannya dengan seksama. Sesekali Danu mengangguk pelan menandakan bahwa dia juga mengerti apa yang dirasakan Rendy.
“Iya sih gue paham. Tapi, Ren...”

“Tapi apa?” tanya Rendy sedikit menahan kesal.

Danu mendekatkan wajahnya “Anna manis juga ya. Berhijab lagi.” ujar Danu pelan.

“Iya, tapi kelakuannya barbar. Gue lebih suka sama Fara. Lebih kalem, lebih cantik.” ujar Rendy.

“Lo suka sama Fara, Ren?” Danu bersuara lantang dan didengar seisi kelas.

“Ciee...” sahut seisi kelas kepada Fara dan Rendy.

Fara terlihat menjadi tersipu malu dengan muka yang memerah dengan senyuman yang agak dipaksakan. Sedangkan Rendy, justru dia memendam rasa kesalnya terhadap Danu karena telah membuat gosip heboh seisi kelas. “Mulut lo kayak petasan cabe ya, Nu!”
Sorry sorry, keceplosan.” Danu meminta maaf sambil tersenyum meledek pada Rendy.

Sepanjang jam pelajaran pertama, Danu dan murid lain mengejek Rendy dan Fara. Mereka dipanas-panasi agar cepat menjalin hubungan. Tetapi, hal itu tidak digubris oleh Rendy. Hingga akhirnya guru jam pelajaran berikutnya datang.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
dany.agus dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh chrishana

Chapter 5

Waktu terus bergulir dari terbitnya matahari hingga akhirnya berganti posisi tepat berada di atas kepala. Rendy terus menatap langit biru yang dihiasi dengan awan putih. Hingga akhirnya lamunannya terpecah karena getaran yang dihasilkan oleh telepon genggamnya.

Satu pesan teks dari nomor tak dikenal.
“Hai, Rendy.”dari 085653778xxx.

Rendy terlihat mengerutkan keningnya ketika tahu ada pesan dari nomor yang tak dikenal.
“Ini siapa? Tau nomor gue dari mana?”pesan terkirim.

“Gue Rheva. Dan lo sangat pintar untuk save nomor lo dengan nama kontak ‘Mama’ di HP gue. Hahahahaha.” dari 085653778xxx.

“Ah, sial. Ketahuan juga. Oh, jadi nama lo Rheva.” pesan terkirim.

“Pas istirahat nanti, kita makan bareng di kantin mau nggak? Kemarin lo udah nolak gue loh. Kali ini, gue gak bawa temen-temen gue.” Rheva membalas.

“Oke, karena lo udah berhasil hubungin gue, kali ini gue terima.” balas Rendy.

“Sip, sampai ketemu dikantin, Rendy.”

Rendy tidak mengetahui sebenarnya Danu memerhatikan isi pesan yang dikirim dan diterima oleh Rendy. “Oh, Rheva namanya.” Danu mengagetkan Rendy yang sedang berbalas pesan singkat dengan Rheva.
“Ah, sue lo! Kepo banget sumpah! Emak gue gak gini-gini amat, Nu!” kata Rendy menghindar menjauhi Danu.

“Fara atau Rheva?” Danu sedikit berbisik di telinga Rendy.

“Fara lah!” Rendy berkata dengan lantang dan membuat seisi kelas heboh.

“Ciee... Fara... Suit suiit...” sahut seisi kelas.

Fara langsung tersipu malu ketika Rendy menyebutkan namanya. Teman sebangku Fara yang berhijab putih pun tak luput ikut menggoda Fara hingga wajahnya memerah dan tersenyum tipis.
****

“Lo dimana, Va?” pesan dikirim untuk Rheva.

“Tempatin meja kosong dulu. Gue masih ditangga.” Rheva membalas.

Ada sebuah meja yang kosong belum ditempati oleh siapapun. Tanpa pikir panjang, Rendy langsung menempati meja tersebut dan menunggu Rheva muncul dari keramaian. Tapi, yang muncul justru orang yang tak diinginkan oleh Rendy.
“Oh, gitu ya. Ke kantin gak ngajak gue sekarang. Mentang-mentang mau ketemu Rheva.” ujar Danu seraya duduk di depan Rendy.

“Lo ngeselin! Ngerjain gue mulu. Ketahuan kan gue suka sama Fara.” ujar Rendy.

“Eh eh, Rheva dateng. Gue cabut ya.” Danu langsung bangkit dari duduknya.

Giliran Rheva yang sekarang duduk di depan Rendy. “Ngibrit kemana tuh temen lo?” tanya Rheva.

“Udahlah biarin aja. Suka-suka dia.”

“Eh, lo mau makan apa? Biar gue yang pesen.” tanya Rheva.

“Gak usah. Biar gue aja yang pesen. Lo tunggu sini. Harusnya kan cowok yang pesen buat cewek. Bukan sebaliknya. Lo mau makan apa?” Rendy menahan Rheva yang ingin beranjak dari tempat duduknya.

“Manis banget sih lo, Ren. Hehehehe... Samain aja sama lo.”

“Oke.”

Rendy bangkit dari duduknya, lalu memesan makanan dan minuman. Setelah itu, dia kembali ke mejanya. Rheva masih setia menunggu Rendy di sana sambil memainkan telepon genggamnya yang berasal dari Finlandia.
“Makanan datang.” Rendy langsung menaruh makanan itu di atas meja.

“Wah, tau aja lo kesukaan gue. Mie ayam.” Rheva terlihat senang.

“Ini saos, sambel, kecap manis, daun bawang, sama kuahnya gue pisah. Takutnya ada yang lo gak suka. Kan mubazir nanti kalau gak jadi dimakan.” ujar Rendy.

Rheva tersenyum lebar ke arah Rendy. Pertanda dia sangat senang atas perlakuan Rendy kepadanya. Wajahnya memang cantik, ditambah dengan senyumannya yang manis membuat Rendy tak bisa berkata apa-apa. “Makasih, Rendy.”
“Lo punya pacar, Ren?” tanya Rheva.

“Hhmm... Nggak.” Rendy menggeleng pelan.

Rheva mengerutkan dahinya, “Masa sih? Tapi pernah pacaran?”

“Pernah, waktu SMP. Tapi ya, gitu-gitu doang sih. Terus, putus pas mau UAN. Alasan klasik.” ujar Rendy.

“Lo sendiri gimana?” tanya Rendy sambil mengunyah makanannya.

“Saat ini gue belom punya. Tapi sebelumnya pernah pacaran. Dan sampai sekarang, mantan gue masih ngejar-ngejar gue. Alasan gue putusin dia karena sikapnya dia yang arogan dan songong itu. Dia emang tajir sih tapi attitude-nya nol besar.”

“Anak sini juga?”

Rheva mengangguk pelan, “Yang kemarin ribut sama lo di ruang OSIS.”

Rheva melanjutkan menyedot es teh manisnya hingga habis. Mangkok berisi mie ayamnya juga sudah bersih tak tersisa. Sedangkan Rendy masih melanjutkan makannya dan merasa heran, mengapa perempuan seperti Rheva bisa makan dengan cepat.
“Jadi...”

“Eits, jangan mikir yang aneh-aneh dulu.” Rheva langsung memotong pembicaraan Rendy.

“Gue bukan mau balas dendam. Nggak gitu. Gue cuma mau kenal sama lo. Gue liat kok lo nolongin cewek waktu MOS kemarin.” tambah Rheva.

Rheva mengambil es teh manis milik Rendy dan menyedotnya hingga habis. “Dan gue pikir, memang dia yang salah. Tindakan lo bikin gue dan temen-temen gue penasaran.”

“Kenapa jadi lo abisin air gue, Va?” tanya Rendy sedikit kesal.

“Gue haus. Hahahahaha! Yuk balik ke kelas. Sebentar lagi bel masuk.” Rheva beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kelasnya.

****

Saat yang dinanti oleh semua murid pun tiba. Apa lagi kalau bukan bel tanda jam belajar telah berakhir. Rendy juga bersiap-siap merapihkan barang-barangnya lalu berjalan keluar kelas. Berjalan menuruni anak tangga satu persatu dengan perlahan dan berhati-hati.
Perhatian Rendy tertuju pada sekelompok kakak kelas yang sedang ramai berkumpul di depan gerbang sekolah. Sebagian dari mereka menatap Rendy dengan tajam bagai harimau ingin menerkam mangsanya.
“Ini dia nih yang bikin kawan kita masuk rumah sakit kemarin.” sahut salah satu dari mereka dan mencegat Rendy.

“Ada apaan nih?” tanya Rendy kepada mereka.

“Belaga bego lagi lo!” salah satu di antara mereka mendorong tubuh Rendy.

“Maksud lo apa deketin Rheva?”

“Suka-suka gue dong. Dia cantik. So what?” ujar Rendy sambil mengangkat bahu dan tangannya.

“Tengil amat ini bocah. Ayo gulung!”

Mereka semua langsung mengeroyok Rendy tanpa ampun. Murid-murid yang melintas malah justru menonton mereka semua sedang berkelahi. Rendy pun masih bisa menghindar dan membalas, namun dia hampir jatuh karena kalah jumlah. Tiba-tiba saja, sebuah tendangan keras diayunkan oleh salah seorang murid laki-laki ke arah salah satu di antara mereka.
“Gue udah bilang kemarin, kalo ribut tuh yang gentle!One by one!” ketua OSIS muncul tiba-tiba.

“Eh, Rian! Lo mau minggir apa mau ikut kita habisin?”

Dan akhirnya, perkelahian mereka tak dapat dihindarkan. Rendy bisa lepas dan menang melawan mereka berkat bantuan Rian, sang ketua OSIS yang sekarang menjabat. Ada sedikit luka memar dan lecet di wajah Rendy, tetapi masih bisa dia tahan.
“Lo gak apa-apa, Ren?” tanya Rian sambil memegang bahu Rendy.

“Gak apa-apa, Kak. Thanks!”

“Jangan panggil gue kakak. Panggil gue Rian.”

“Iya, Rian.”

“Lo jangan besar kepala dulu, sob. Gue bantuin lo karena gue gak suka cara mereka yang keroyokan. Tapi, gue akuin lo emang berani. Hati-hati di jalan ya. Gue balik duluan.”

Rian berjalan meninggalkan Rendy yang sedang duduk di atas motornya. Para pelaku pengeroyokan sudah membubarkan diri semenjak mereka dikalahkan oleh Rian dan Rendy satu persatu. Sungguh sial nasib Rendy, baru beberapa hari sekolah disini, dia sudah punya banyak musuh.
profile-picture
profile-picture
dany.agus dan jimmi2008 memberi reputasi
Diubah oleh chrishana
Quote:


do'a in aja gan biar Rendy gak apes lagi.. emoticon-Big Grin

Quote:


Selamat datang kembali gimana gan?
Ane aja masih baru nongkrong di sini.. emoticon-Big Grin
Quote:


Hahaha.. ane lupa id ente mirip sama sepuh sini.. tapi gak taunya pas ane ngantuk ngetiknya
Nyimaks seru ceritanya gan lanjut teruss emoticon-Sundul Up
pegiwan
updatenya kapan lagi gan?
Ikut nyimak
seru ouii lanjutken gan

Chapter 6

Bruk!

“Pukul kiri!”

Bruk!

“Pukul kanan!”

Bruk!

“Tendang yang keras!”

Rendy melayangkan tendangan keras ke arah pelatihnya yang sedang melatihnya.
“Oke cukup, Rendy!” sang pelatih mengakhiri sesi latihan Muai-Thaikali ini.

Rendy terlihat lelah dan berkeringat di sekujur tubuhnya. Dia berjalan menuju bangku panjang yang terbuat dari kayu untuk meraih air minum yang ada di dalam tas olahraganya. Sang pelatih pun menghampirinya dan duduk di sampingnya.
“Pukulan lo sama tendangan lo udah semakin keras. Latihan di rumah?” tanya pelatihnya.

“Nggak, Mas. Gue cuma olahraga dikit.”

“Nanti pas masuk sekolah baru, jangan dipake buat mukulin kakak kelas ya.” Pelatih itu memberi nasehat dengan nada setengah bercanda.

“Hahahaha! Tergantung sih, Mas. Kalau mereka mulai duluan, ya terpaksa. Tapi, gue gak akan lupa sama apa yang Mas ajarin. Semakin kita kuat, semakin banyak lawan yang akan dihadapi, semakin banyak orang yang harus kita lindungi.”

“Ya udah sana cepetan pulang. Lo harus jemput Tasya kan.” Pelatih itu menepuk pelan bahu Rendy lalu pergi meninggalkannya.

Rendy segera bersiap menjemput adik kesayangannya yang baru saja selesai latihan vokal di salah satu sekolah musik yang ada di Jakarta. Dia membersihkan diri sejenak lalu berganti pakaian sebelum berangkat menjemput adiknya. Menyusuri macetnya ibu kota ditemani oleh udara malam dan cahaya lampu penerang jalan. Hingga akhirnya sampailah dia di tempat tujuan.
“Ayo, dek.” Rendy memberi syarat kepada adiknya untuk naik ke atas motornya.

“Lama banget sih!” ujar Tasya dengan nada tinggi.

“Macet, dek.”

“Alasan! Kalau aku diculik gimana! Kalau aku diapa-apain orang gimana!”

“Naik sih! Aku tinggal nih!” Rendy bersiap menarik gas motornya.

“Ya udah sana.” Tasya berkata sambil memanyunkan bibirnya.

BRUM!

Rendy melajukan motornya hanya beberapa meter saja untuk meledek adik perempuannya yang sedari tadi emosi karena Rendy lama menjemput.
“KAKAAAKK..!!!”

****

Rendy melanjutkan perjalanan pulang dengan pelan dan hati-hati. Sepanjang perjalanan, Tasya dan Rendy banyak mengobrol. Dari membahas lelaki yang mendekati Tasya, sampai dengan mantan pacar Rendy waktu SMP dulu yang memutuskan hubungan dengan alasan ingin fokus ujian nasional walaupun kenyataannya dia justru berpaling dengan lelaki lain.
“Nah, sampai deh.” Rendy memarkirkan motornya di garasi rumahnya.

“Duh, anak Mama yang cantik udah pulang.” Mamanya Rendy menyambut kedatangan mereka di depan pintu masuk rumahnya.

Tasya dan Rendy tak lupa mencium tangan Mamanya yang menunggu di depan pintu. “Rendy. Duduk dulu sebentar. Papa dan Mama mau bicara.” Rendy diminta untuk duduk di ruang keluarga bersama Papa dan Mamanya.
“Ada apa, Ma?” Rendy menaruh tas olahraganya di atas sofa.

“Pokoknya kamu harus pindah dari Trinusa!” perintah Mama kepada Rendy.

“Loh, kenapa memangnya? Kan memang aku yang mau masuk ke sana.”

“Sekolah itu sekolah berandal. Muridnya gak ada yang benar, Ren. Mau jadi apa kamu nanti! Kerjaannya taruwan, ribut sama sekolah lain.” ujar Mama.

“Biarin aja sih, Ma. Itu kan pilihan Rendy. Papa yakin Rendy bisa jaga diri. Lagian sekolah itu dekat dari rumah. Naik motor sepuluh menit sampai.” Papa berkata di balik koran yang sedang ia baca.

“Papa! Kok malah ngebela Rendy, sih!” Mama berkata dengan nada sedikit tinggi.

“Lagian gak semuanya buruk, Ma. Pasti ada yang baik.” Rendy mencoba membantah Mamanya.

“Apanya yang baik!” ujar Mama sedikit kesal.

“Lagian Rendy juga kalau kelahi pasti ada sebabnya, Ma.” ujar Papanya lalu menyeruput kopi hitam di atas meja.

“Papa kok malah belain Rendy? Pokoknya kalau sampai Mama dengar ada berita kamu berantem, kamu harus pindah sekolah!” Mama berkata dengan nada sedikit tinggi dengan mata yang agak melotot.

Rendy dan Papanya hanya bisa tersenyum melihat Mamanya yang terlalu khawatir dengan keadaan Rendy di sekolah nanti. Pasalnya, Rendy tak jauh berbeda dengan Papanya dahulu. Dulu, Papanya Rendy gemar berkelahi dengan kakak kelas. Bukan mencari musuh, tapi untuk mempertahankan harga diri.
“Ingat pesan Papa, Ren. Kalau kamu benar, jangan takut. Papa siap bela kamu.” Papa mengangkat ibu jarinya.

“Oke.”

Setelah itu, Rendy berjalan ke kamarnya. Tak sengaja dia melihat Tasya, adik kesayangannya yang cantik dengan rambut panjangnya melewati bahu sedang tertunduk termenung di dalam kamarnya.
“Adek kenapa?” Rendy duduk disamping adiknya.

“Bener kata Mama, Kak. Kakak mendingan jangan sekolah di situ. Aku pernah digangguin sama anak SMA Trinusa.” Tasya menatap Rendy dengan sedih.

“Kalau kakak kenapa-napa, gak ada yang bisa aku jahilin.” tambahnya sambil memelas.

Rendy langsung memeluk adiknya yang baru saja naik ke kelas delapan itu dengan erat sambil mengelus-elus kepalanya dengan lembut.
“Sekarang kamu tidur aja, Dek. Besok kita cari perlengkapan sekolah sama-sama.”

“Kelonin!”

“Kelonin?” Rendy melepas pelukannya. “Nih nih aku kelonin! Biar tidur gak bangun-bangun kamu! Hahahahaha!” Rendy mengambil bantal dan membekap wajah sang Adik dengan bercanda.

“Duuhh!! KAKAAAKKK...!!!”

****

Burung-burung bernyanyi di atas pohon yang rindang di bawah siraman cahaya matahari pagi yang menghangatkan tubuh. Cahayanya masuk hingga menembus jendela kamar Rendy. Tapi, memang sudah jadi kebiasaannya pada saat hari libur. Selalu saja bangun lewat dari pukul sembilan pagi.
“Kak.” Tasya memainkan hidung kakaknya yang masih memejamkan mata.

“Kakaaaaaakkk…!!!” Tasya mulai jengkel lalu memencet hidung Rendy dengan keras.

“Aduh! Tasya! Apa-apain sih kamu!” Rendy segera bangkit dari tidurnya.

“Bangun, ih! Katanya mau cari perlengkapan sekolah bareng.”

“Kamu juga baru bangun, kan. Masih pakai tanktop sama celana tidur. Mandi dulu sana.” Rendy kembali merebahkan badannya dan menarik selimutnya.

“KAKAAAKK…!!! BANGUN GAK…!!!” Tasya berteriak tepat di telinga Rendy dan akhirnya berhasil membuat Rendy membuka matanya dengan lebar.

profile-picture
profile-picture
dany.agus dan jimmi2008 memberi reputasi
Diubah oleh chrishana
Quote:


Terima kasih gan.. semoga betah di sini ya..

Quote:


Sedang di update gan..


Quote:


Oke ini sedang dilanjutkan..

Chapter 7

“Ma, aku berangkat ya.” Tasya mencium tangan Mamanya yang sedang berdiri di teras rumah.

“Rendy, bawa motornya hati-hati ya. Jangan ngebut.” ujar Mama.

“Iya, Ma. Ayo cepetan, Dek.”

Rendy berangkat dari rumahnya menuju kawasan yang ada di daerah timur kota Jakarta untuk mencari perlengkapan yang dibutuhkan ketika sekolah nanti bersama adiknya. Kurang lebih memakan waktu sekitar tiga puluh menit untuk sampai di sana.
“Kak.” Tasya menarik tangan Rendy.

“Iya.”

“Kok kakak baik sih sama aku?” Tasya bertanya pada Rendy.

“Ya kan kamu itu adekku.”

“Oh gitu ya. Kalau gitu beliin cilok bumbu kacang. Tuh di depan sana.” Tasya menunjuk ke arah penjual cilok yang ada di pinggiran jalan raya.
“Nggak!” jawab Rendy dengan tegas,

“Ah, Kakak! Katanya baik.” Tasya memasang muka memelas.

“Kata Mama, kamu gak boleh jajan sembarangan.”

Tasya memanyunkan bibirnya. Rendy yang melihat adiknya seperti itu menjadi merasa iba dan memutuskan untuk berjalan ke depan untuk membelikan apa yang dia mau.
“Asyik! Kakakku terbaik!” kata Tasya kegirangan.

“Apaan? Ini punya aku. Enak aja!” Rendy mengambil satu tusuk dan memakannya sendirian.

“Ah, Kakak! Bagi!” Tasya merengek.

“Nggak! Ini enak.” Rendy melanjutkan suapan kedua dan seterusnya.

“KAKAAKKK...!!!”

“Iya iya nih.” Rendy memberikan makanan itu kepada Tasya.

“Yeeyyy!” Tasya tersenyum lebar. “Eh, kok ciloknya gak ada? Ih, bumbunya doang! KAKAAKK..!!!”

****

Matahari merangkak naik ke atas langit. Awan putih yang sebelumnya menghalangi sinar matahari, kini mulai bergerak menjauhi sang surya. Suhu udara yang panas membuat Rendy dan Tasya lelah. Untungnya, mereka sudah membeli semua persiapan untuk sekolah mereka. Dari mulai peralatan MOS untuk Rendy, alat tulis, serta buku tulis baru untuk Tasya.
“Udah semua kan? Pulang yuk.” ajak Rendy.

“Hhmm...”

“Adek kenapa? Sakit gigi?” tanya Rendy

“Mau itu.” Tasya menunjuk ke arah penjual makanan yang tadi ia inginkan.

“Kata Mama kan gak boleh, dek!”

“Please, Kak! Mumpung gak ada Mama.” Tasya merengek meminta Rendy membelikannya.

“Ya udah, tapi jangan bilang Mama ya.”

“Yeeyy!”

Akhirnya, Rendy pun menyerah dan membelikan Tasya makanan yang ia minta. Tasya terlihat begitu senang. Setelah itu, mereka pulang ke rumah untuk menyantap makan siang bersama keluarga. Rendy jarang sekali mengeluarkan uang untuk sekedar membeli jajanan. Karena, makanan yang ada di rumah selalu lebih enak dan lebih sehat menurutnya. Setengah jam perjalanan, Rendy dan Tasya sampailah di rumah.

Setelah makan siang bersama, Tasya membantu Rendy untuk menyiapkan peralatan yang akan dipakai dan dibawa oleh Rendy pada saat masa orientasi nanti. Banyak sekali yang harus dibawa dan peraturan yang harus dipatuhi, salah satunya dilarang membawa telepon genggam ke sekolah.
“Tumben mau bantuin aku.” ujar Rendy sambil menyiapkan tas kresek yang akan digunakannya besok dengan lilitan sumbu kompor.

“Ini karena kakak baik sama aku tadi.” Tasya memotong dan membentuk kertas karton menjadi kerucut.

“Aku kan emang selalu baik. Kamu aja yang gak tau diri.”

“Dih, apaan. Kakak selalu ngeledekin aku. Bikin aku kesel.”

“Kamu juga ngeselin. Muji-muji orang kalo ada mau nya.” ujar Rendy sambil menempel kertas nametag.

Tiba-tiba, Mama menampakkan diri di depan pintu kamar Rendy yang terbuka lebar. “Nah, gitu akur. Kan mama seneng lihatnya.”
“Jangan ada yang ketinggalan atau lupa ya, Ren.” ucap Mama.

“Iya, Ma.”

“Biar aja, Ma. Biar Kak Rendy dikerjain. Hahahahaha!” Tasya tertawa pelan.

“Eh terbalik ya, Ma. Yang ada Kak Rendy yang hajar kakak kelasnya.”

“Itu yang Mama takutin, Ren. Pokoknya jangan buat masalah disana ya.” ujar Mama.

“Iya, Mama.”

Mama pun pergi meninggalkan Rendy dan Tasya yang sedang asyik mempersiapkan peralatan MOS untuk Rendy. Setelah semua selesai, mereka melanjutkan aktifitas mereka masing-masing.
profile-picture
profile-picture
dany.agus dan jimmi2008 memberi reputasi
Diubah oleh chrishana
Gemboked, maho kesebelah emoticon-Lempar Bata
Quote:



Gemboked itu apa gan?
Halaman 1 dari 27


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di