CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a98d863de2cf2a2108b456e/air-mata-hujan

AIR MATA HUJAN


AIR MATA HUJAN


AIR MATA HUJAN



Quote:


Quote:


Dimohon dengan sangat, anggap ini sebagai cerita fiksidemi kenyamanan kita semua.
emoticon-Maaf Agan





profile-picture
profile-picture
profile-picture
mmuji1575 dan 11 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh firman.tambun
Halaman 1 dari 6
Yah tamat emoticon-Frown
Daftar Isi

AIR MATA HUJAN



Quote:
profile-picture
profile-picture
gemulz dan abdillah95 memberi reputasi
Diubah oleh firman.tambun


PROLOG

AIR MATA HUJAN


Hujan selalu mengingatkanku pada suatu peristiwa, peristiwa yang mampu menyesakkan hatiku dan sukses membuat jantungku berdesir ngilu. seperti saat ini hujan tiba-tiba turun dari langit, menyerukan suara gemuruh yang cepat dan deras. Petir seakan saling bersahutan ketika menyambar dilangit, mengeluarkan kilauan cahaya kilat yang menambah buruknya cuaca hari ini. Menatap kearah langit untuk sejenak mampu membawaku kepada lamunan yang membuatku pilu, mataku mulai berkaca-kaca, deru napas pun mulai terasa berat. Teringat pada kenangan yang tidak bisa kulupa meskipun sedetik saja. jelas ini bukanlah kenangan yang bahagia, tapi kenangan yang membuatku gemetar ketakutan bila teringat peristiwa itu.

***

Satu tahun yang lalu. Cuaca yang sama terjadi, hujan yang deras dengan iringan gemuruh petir yang menyambar-nyambar dan juga kilauan cahaya kilat yang menambah buruknya cuaca saat itu. Dahan Pohon-pohon bergoyang kekanan dan kekiri seolah terbawa kencangnya angin saat itu, jalanan terlihat basah ditambah keramaian lalu lalang mobil dijalan raya. Terlihat banyak pengendara memilih untuk berteduh di pelataran ruko yang tutup, halte pemberhentian untuk sekedar berteduh menghindari hujan. Ada yang duduk di bangku panjang halte, ada yang berdiri melihat sekitar dan ada juga yang sedang asyik mengobrol.


Kupandangi semua disekitarku saat itu, dengan posisiku yang setengah melamun dan terpaku kaku dengan ekspresi kedinginan, jarak pandang saat itu sudah mulai kabur oleh derasnya hujan. Aku melihat dia yang aku cintai melambaikan tangannya dan bergerak kearahku yang berada di halte pemberhentian bus. Dia yang aku cinta bernama Dian. Dian memang selalu turun dihalte bus ini, dan aku selalu setia menunggu kedatangannya dan menyambutnya dengan senyum hangat dariku. Terkadang juga sesekali aku memeluknya dan mencium pipinya sebagai tanda sayangku padanya, dia juga selalu membalas pelukan dan menciumku juga.

Hujan masih terus berlanjutan tiada henti menemani kami berdua. Saat itu kurasakan belaian tangannya mengelus rambut coklatku. Seusai belaian lembut itu terdengar suara dari mulutnya " aku harus pergi.. " dengan suara tersendat, dan dengan raut wajahnya yang menunjukan kesedihan. Bingungku saat itu, aku hanya melihatnya dan mencoba tersenyum dan mencoba untuk memeluk dan menciumnya kembali, tapi seketika aku mendekatkan diri padanya dia mulai bergerak menjauhiku dan menuju sebuah bus dan pergi dengan mimik wajah yang menunjukan kesedihan yang mendalam.

Aku tidak terlalu menganggap serius ucapannya, karena aku anggap itu hanya candaan biasa yang kau tunjukan padaku. Kau memang ratunya candaan, tidak jarang aku selalu terjatuh dalam lingkup candaanmu yang membuatku terlihat konyol. Aku berdiri menatap kaca bus yang tembus mengarah padamu, berharap kamu akan menyudahi segala candaan yang sedang kau lakukan. Tiba-tiba Bus mulai bergerak meninggalkan Halte, aku bingung kenapa Dia tidak turun dari bus itu. Aku mencoba menghentikan bus, namun tampaknya tak diperhatikan oleh supir bus itu. Sambil berlari dibelakang bus kulihat dirimu dari kaca belakang Bus itu melambaikan tangan dan menunjukan mimik wajah yang menunjukan kesedihan mendalam. Apa maksud semua ini? apa Dian benar-benar serius?

Rasa sesak didada menyeruak mencekat tenggorokanku. Aku tahu dia merasakan sesak yang sama sepertiku, aku bisa merasakan dalam tatapan matanya yang kulihat sesaat dia melambaikan tangan dari dalam bus yang dinaikinya saat itu. Bukan setahun dua tahun aku mengenalnya, aku bisa paham betul dengan sifat dia, namun tetap saja aku tidak bisa mencegah dan tidak paham apa penyebab dia meninggalkan aku. Saku kanan celanaku bergetar dan menunjukan ada Sms dari dia yang mengatakan " aku sudah memilih ini, aku akan pergi. Tolong jangan menungguku lagi ". Rasa sesak didada kembali menyeruak dan mencekat tenggorokanku, tatkala kubaca pesan darinya.

" aku sudah memilih ini, aku akan pergi. Tolong jangan menungguku lagi" kata-katamu yang selalu kuanggap candaan belaka saat kau beranjak naik bus itu. Hujan masih tetap mempertahankan posisinya dan berlanjutan tiada henti, membasahi wajah dan tubuhku. Aku menangis sesengukkan, aku tidak tahu apakah dia juga menangis kepadaku. Aku benar-benar tidak kuasa menahan gejolak sesak didadaku, tidak habis pikirku dengan kejadian ini. Apa maksud semua ini? apa Dian benar-benar serius?

***

Setelah kejadian itu aku selalu coba menghubungimu, namun keberadaanmu seolah ditelan bumi. Teman dan keluarga seolah sepakat untuk menembunyikanmu dariku, aku tidak bisa menemukanmu walaupun aku sudah menanyai teman dan keluargamu. Beribu SMS yang kukirim, berkali-kali aku mencoba menghubungi kamu, namun sepertinya kau ingin mewujudkan perkataanmu untuk pergi dariku dan tidak ingin ditemukan olehku.

Disini aku masih berdiri Dihalte bus ini, ditempat kita biasa berdiri. Aku menaruh harap bisa kembali mendaratkan peluk hangat ditubuhmu. Di sini Tempat biasa kau turun, tempat yang kau jadikan tempat perpisahan kita, tempat kau memberiku pesan penuh duri itu, aku masih menunggu akan kembalinya hadirmu didalam pelukku. Hari demi hari kulewati memandangi lalu lalang bus yang berhenti di halte ini, namun tak jua kujumpa denganmu. Apakah ini caramu? apakah ini inginmu? apa alasanmu?

5 bulan sudah aku menunggumu, tidak bosan aku menunggu kedatangan hadirmu. Hari demi hari kulalui dengan harapan akan datangnya hadirmu disini, di halte ini. Akhirnya kau datang menemuiku. Kedatanganmu membuatku bahagia sekaligus menahan perih karena hati tersayat pisau yang kau bawa. Membuat hati remuk redam, karena kau datang dengan air mata untuk meminta maaf padaku. Beserta menenteng surat bertuliskan namamu yang disandingkan dengan nama lelaki lain, yang akan menjadikanmu dengan lelaki itu raja dan ratu untuk sehari.

Rasa sesak didada kembali menyeruak mencekat tenggorokanku ketika kulihat undangan pernikahanmu yang kau sampaikan kepadaku seolah kau sudah lupa dengan segala rencana yang kita rancang dulu. Kaupergi dengan hati lain dan meninggalkanku yang selalu merindukanmu. Aku pun dengan lapang dada menerima semua keputusanmu dan merelakanmu dengan pilihan hatimu itu.

***

Setelah kejadian itu aku sudah mengikhlaskannya bersama pilihan hatinya. Hingga saat ini aku mulai tersadar akan satu hal, aku selalu merindukan senyumnya dikesunyian namun selalu tersapu oleh keramaian. Disini pulalah aku telah mengetahui bahwa aku mencari kehilangan di tempat ini, namun yang aku temui hanyalah sebuah perpisahan. Kini satu-satunya yang tersisa hanyalah goresan luka yang kubuat sebagai prasasti kesendirian ditempat ini. DIan percayalah dimana pun kamu berada dan dengan siapa pun kau saat ini niscayalah kamu selalu yang kurindukan.

profile-picture
profile-picture
mmuji1575 dan pulaukapok memberi reputasi
Diubah oleh firman.tambun
thread yang bagus..
Tapi sayang uda tamat aja ceritanya..
emoticon-Ngakak
Maapin ya..

ane lanjutin deh ni ceritanya.

emoticon-Keep Posting Gan
Diubah oleh firman.tambun
eh yakin nih udh sampe sini aj emoticon-Bingungemoticon-Bingung
Iya deh,

ane lanjutin deh ceritanya.

emoticon-Keep Posting Gan
Diubah oleh firman.tambun
Silahkan Komengnya Agan dan sista..
Diubah oleh firman.tambun
Ditunggu ya agan dan sista Komengnya..
Diubah oleh firman.tambun
Spoiler for "Klik saya":



LAGI DAN LAGI


AIR MATA HUJAN



Setelah kejadian itu, aku sudah mengikhlaskannya bersama pilihan hatinya. Hingga saat ini aku mulai tersadar akan satu hal, aku selalu merindukan senyumnya dikesunyian namun selalu tersapu oleh keramaian. Disini pulalah  aku telah mengetahui bahwa aku mencari kehilangan pada tempat ini, namun yang aku temui hanyalah sebuah perpisahan. Kini satu-satunya yang tersisa hanyalah goresan luka yang kubuat sebagai prasasti kesendirian pada tempat ini. DIan percayalah dimana pun kamu berada dan dengan siapa pun kau saat ini niscayalah kamu selalu yang kurindukan.

***
Aku kembali kekehidupanku yang monoton. Melajukan kendaraanku dengan kecepatan tinggi kemudian menguranginya secara perlahan, aku merasa tidak nyaman bila kuingat kejadian dihari hujan deras itu. Sesak didada menyeruak mencekat tenggorokanku, saat memikirkannya walau sedetik saja. Hingga saat ini sudah 1 tahun lamanya semenjak kejadian itu, aku masih sering mengingatnya tatkala hujan deras turun dari langit kehitaman. Aku benar ragu untuk bisa melupakannya, segala kenangan manis berujung pahit bersamanya. Satu hal yang pasti aku harus bisa melupakannya dan fokus untuk hidup melaju kedepan.


Tama. Itulah Nama yang diberikan orang tuaku padaku. Seorang lelaki berkulit licin, lebih tepatnya berkulit putih mengkilat. Putihnya seputih orang jepang pada umumnya, memiliki postur tubuh yang  tinggi, berambut lurus dengan tatanan klimis khas eksekutif muda. Sehari-hari kuhabiskan dengan bekerja disalah satu perusahaan periklanan di kota Medan. Walaupun demikian aku ini tidak lepas dari seorang lelaki yang pernah tersakiti oleh sakitnya racun asmara.

***

Hari masih sore, langit nampak indah berwarna jingga. cuaca sangat cerah hari ini, padahal kemarin hujan deras beserta gemuruh petir saling menyambar dilangit. Cuaca saat ini benar-benar indah, awan terlihat terang dengan kilauan cahaya jingga meresap kedalam lapisan awan. Cuaca itu memang tidak bisa ditebak sebentar hujan deras, sebentar panas terik. Sama halnya dengan kehidupan ini, kadang kita tertawa, kadang kita menangis, kadang kecewa, kadang putus asa, tidak jauh beda dengan musim yang saling berganti menunggu giliran. Layaknya roda dengan satu posisi yang selalu berubah, kadang diatas kadang dibawah. Ah ngelantur sepertinya aku ini.


***

Aku memacu kendaraanku dengan kecepatan sedang, sambil kuperhatikan sekeliling jalanan. Diperjalanan mataku terarah pada sebuah toko penjual bunga, sontak ada timbul rasa ingin membeli bunga dipikirku. Aku mampir ke toko bunga itu, didalam toko itu mataku seakan terfokus ke bunga Mawar putih dan lily putih yang terlihat begitu menawan dengan kesan warna putih yang cerah. Namun sesaat aku mengarahkan tangan ke bunga itu, sosok tangan putih khas wanita terlebih dahulu mengambilnya dari tempatnya. Mataku langsung kuarahkan kewajah pemilik tangan putih yang mengambil bunga itu. Betapa terkagum aku akan wajahnya yang begitu indah untuk dapat kupandangi, mengalahkan keindahan bunga yang ada di toko itu. Hingga timbul rasa ingin tahuku akan dia yang punya wajah indah itu, aku mulai berbicara kepadanya.


"maap, Nona" ujarku pertama. "Bunga itu aku juga menginginkannya" menunjuk bunga ditangannya. 

"Oh, Maap aku juga menginginkan bunga ini" ujarnya seranya memberi senyum yang begitu menawan.

"Ya sudah jika nona juga lebih menginginkan bunga itu" jawabku akhirnya.

"Iya mas terima kasih. Namaku Soraya" sambil mengulurkan tangan kearahku.

"Namaku Tama" sembari tanganku menyambar tangannya yang terasa lembut dan halus.

Begitu kami berkenalan, Dia langsung pamit untuk pulang. Aku pun hanya bisa melihatnya pergi dengan mobilnya dan melihatnya menghilang di perempatan jalan. Dia adalah wanita yang cantik, wajah manis dan cerah natural tanpa alat make up. Berbadan ramping dengan rambut hitam panjang dan menawan. Ditambah lagi dengan sikap dia yang anggun menambah ketertarikanku padanya. Namun dia sudah pergi dan aku juga lupa meminta nomor hpnya. dasar aku ini guoblok.

Aku kembali melajukan mobilku dijalan raya dengan kecepatan sedang sembari menatap ramainya jalan raya. Entahlah aku sangat suka memerhatikan orang-orang dengan segala aktifitas yang dilakukan mereka. Dasar aku ini benar-benar aneh. Aku kembali kerumah tempat tinggalku, Disana telah menunggu sahabatku yang senantiasa menungguku pulang. Namanya Buddy, seekor anjing jenis Golden Retriever. Anjing yang benar-benar jinak dan cerdas yang aku beli bersama Dian saat kami bersama. Aku sangat menyanyanginya seperti layaknya seorang kekasih. Wajarlah hanya dialah yang selalu menemaniku saat aku sedang terpuruk karena Dian. Dahulu Buddy selalu kubawa untuk menemaniku menunggu kedatangan Dian. Kini Dian sudah pergi dari hidupku, tapi aku masih tetap menyimpan kenanganku bersamanya melalui Buddy. 

***

Hari minggu pagi aku sengaja mengajak Buddy untuk jalan-jalan ketaman didekat komplek tempat tinggalku. Sekedar buang penat dan refreshing melihat keramaian orang diluar rumah. Tampaknya bukan hanya aku yang menyukai kegiatan ini, Buddy juga sangat menyukainya. Terlihat dari semangatnya berlari membuatku kewalahan menahan tali pengikatnya agar tidak lepas. Aku melihat begitu banyak kegiatan ditaman ini, mulai dari sekumpulan orang-orang yang sedang Senam ria, orang yang lari pagi, dan banyak juga membawa hewan peliharaan mereka ditaman ini.


Aku membawa Buddy menuju bangku taman untuk tempatku beristirahat sejenak. Ketika aku duduk mataku kembali terfokus pada sosok yang indah yang baru aku kenal kemarin. ya, dia adalah Soraya. Soraya sedang asyik lari pagi sambil memasang headset ditelinganya. Sungguh aku melihat sosok yang benar-benar indah, pakaian yang dikenakan Soraya khas seorang atlet pelari. Membuat lekuk tubuh Soraya terlihat jelas dan sangat mempesonaku. Sontak aku langsung mengajak Buddy untuk berlari mendekati Soraya.   

"He'em" ujarku pertama dari belakang Soraya. Tak ada respon terlihat dari Soraya, Dia tetap berlari mengelilingi taman. 

"He'Em" kali ini dengan nada sedikit lebih besar. tapi tidak ada respon juga dari Soraya.

hingga yang ketiga kalinya. "He eee..", Buddy tampak seperti mengerti keadaanku dan mulai bersuara dengan khas suaranya yang lantang, "Woofff" Akhinya suara Buddy sontak membuat Soraya menoleh kebelakang.

Soraya membuka Headset. 'eh kamu yang kemarin kan? tanya Soraya menyakinkan.

"Iya Soraya, ini aku Tama. Orang yang beli bunga kemaren" ujarku kembali.

"Ouh, iya. Sedang apa disini? ini anjing kamu?" ujar Soraya sembari mengelus kepala Buddy.

"Hanya jalan-jalan saja dengan anjing saya, namanya Buddy" balasku sekenanya.
Tampak disini Buddy juga menyukai kehadiran Soraya, Buddy seolah jinak juga pada Soraya, terlihat saat Soraya mengelus kepala Buddy.

Setelah itu kami beristirahat di bangku yang ada ditaman sembari menikmati air minum yang baru saja dibeli Soraya untukku. Kami bercerita tentang tempat tingal kami dan banyak cerita yang saling kami ujarkan saat itu. Tapi satu hal yang pasti Senyum manis nan hangat darinya benar-benar membuatku luluh dan ingin lebih lagi untuk mengenal Soraya. Tapi lagi dan lagi Dia permisi pulang. Aku pun hanya senyum kikuk seraya melihat dia pergi meninggalkanku bersama Buddy. Tapi lagi dan lagi dan lagi-lagi aku lupa meminta nomor hp nya.

  

Spoiler for "NEXT CHAPTER":

profile-picture
profile-picture
mmuji1575 dan jrangking memberi reputasi
BALASAN GETIRNYA PERJUANGAN

AIR MATA HUJAN


Setelah itu kami beristirahat di bangku yang ada ditaman sembari menikmati air minum yang baru saja dibeli Soraya untukku. Kami bercerita tentang tempat tingal kami dan banyak cerita yang saling kami ujarkan saat itu. Tapi satu hal yang pasti Senyum manis nan hangat darinya benar-benar membuatku luluh dan ingin lebih lagi untuk mengenal Soraya. Tapi lagi dan lagi Dia permisi pulang. Aku pun hanya senyum kikuk seraya melihat dia pergi meninggalkanku bersama Buddy. Tapi lagi dan lagi dan lagi-lagi aku lupa meminta nomor hp nya.

***

Aku sendiri masih masih kurang paham pada diriku. Aku yang kukatakan merelakan Dia bersama pilihan hatinya, masih menyimpan rasa cinta padanya. Terlihat dariku yang selalu mengingatnya dan selalu menyimpan fotonya dengan senyum termanis miliknya. Aku munafik? iya sepertinya begitu.
Saat ku biarkan dia pergi bersama kekasihnya aku mengatakan aku Ikhlas, Tetapi Lubuk hati yang terdalam masih tersisa perasaan yang sama padanya. Ya perasaan cinta? entah kenapa aku tidak bisa melupakannya.

***

Kupacu kendaraanku dengan sedikit kencang untuk menghindari keterlambatan yang akan terjadi jika aku tidak sedikit mengebut. Hari ini adalah hari dimana aku akan mengadakan pertemuan meeting dengan patner client baru. Jika kerja sama dengan client ini secara otomatis perusahaan tempatku bekerja akan semakin maju dan sukses. Terus terang ini adalah kesempatan emas buatku agar aku dapat menunjukan kualitas diri.

30 menit sebelum kegiatan rapat, aku sudah tiba di ruang meeting. Kulihat Wajah yang amat kukenal berada diruangan itu. Wajah yang bisa membuatku kembali kekenanganku pada suatu hari dimana adanya derasnya hujan bersama sambaran petir yang melengkapi kesan pilu dariku. Hari dimana aku Melepas dia yang aku cinta kepelukan pilihan lain hatinya. Ya dia adalah Dian. Kenapa Dia ada disini?. Apa maunya? Apa dia ingin melihatku yang masih menderita?

Pikirku seolah berargumen menyimpulkan pesan-pesan yang berujung ingin pergi meninggalkan dia diruangan itu. Namun sembari aku membalikan badan, terdengar suaranya yang khas memanggil namaku. Aku seolah ingin lekas pergi namun kumeragu, walau aku benci padanya tapi tetap saja perasaanku tidak bisa kubohongi. Iya aku tetap merindukan dia, senyumnya bahkan suaranya yang khas sangat melekat dalam ingatanku. Aku melepas ego dan akhirnya mendamaikan hati untuk bisa mencoba berdamai dengannya.

Aku berbalik badan dan melihatnya wanita yang menjadi sosok istimewa dihatiku. Wanita yang mampu membuatku tersadar akan makna sebuah perjumpaan dan makna sebuah perpisahan. Dia melihatku dan mengeluarkan senyum manisnya, yang selama ini kurindukan. Aku melihatnya dengan senyum itu, aku heran apakah dia sudah melupakan segalanya tentangku dan semua yang menjadi rencana semu yang dulu dirancang bersama denganku. Tapi aku cukupkan tentang itu, kini aku seolah memasang topeng bahagia dibalik wajah yang penuh pilu saat membalas sapaannya dengan senyumku.

Tak banyak kata yang bisa kukeluarkan saat berbincang dengannya. Ditambah aku terfokus dengan cincin emas yang melingkar dijari manis tangan kirinya. Seolah menandakan padaku bahwa aku sedang berkabung di depan permakaman cinta lamaku, seolah rasa rinduku yang teruntuk dia menghilang seketika saat ku melihat cincin yang melingkar di jari manisnya. Sungguh aku hanya bisa mengeluarkan senyum palsu ketika kami saling bertegur sapa diruang meeting ini. Hingga akhirnya kau menyinggungku tentang kedatanganku saat acara pernikahanmu, Katamu aku tidak datang keacara pernikahanmu.

***

Quote:

***

Aku hanya tersenyum tulus ketika kau mengatakan hal itu, tapi maaf aku harus alihkan pembahasan saat ini. Waktu menunjukan waktu 15 menit sebelum rapat, aku pun ber alibi untuk mempersiapkan bahan untuk meeting yang akan diadakan di ruangan itu. Dia hanya tersenyum dan membiarkan aku sendiri diruangan itu. Aku kembalikan fokusku yang sudah sempat buram tadi, mencoba untuk mengembalikan rasa percaya diri untuk tampil maksimal di rapat nanti, Sembari aku mempersiapkan bahan-bahan untuk rapat, aku mendengar kedatangan rombongan yang ingin memasuki ruang meeting. Tidak salah lagi rombongan itu adalah client yang harus kumenangkan hatinya agar mau bekerja sama diperusahaan tempat aku berkerja.

Aku terkejut tatkala melihat client yang dimaksud adalah Wanita itu. ya wanita itu adalah Dian. Dian menyapaku kembali dan mengajakku masuk kedalam ruang meeting. Dian mewakili perusahaan yang akan menjadi patner kerja perusahaan tempatku bekerja. Aku benar-benar bingung untuk memulai rapat, hingga Dian mulai berbicara mengenai kontrak kerja sama antara perusahaan tempatku bekerja dengan perusahaan milik suaminya. Bos tempatku bekerja seolah memberi instruksi untukku agar memulai meeting. Aku akhirnya membuang segala kesalku dan memulai meeting dengan penuh semangat dari hasil gebrakan dadakan.

Tak disangka hasil meeting sangat memuaskan, karena aku berhasil menyakinkan client untuk bekerja sama dengan perusahaan tempatku bekerja, walaupun aku nyakin ini juga campur tangan dari Dian. Walau begitu Aku sangat senang sekaligus gondok karena dengan terjalinnya kerja sama diantara perusahaan kami, tentunya aku dan dia akan sering bertemu. Terus terang aku ingin menyudahi wajah kepalsuanku dihadapannya, dan ingin untuk tidak bertemu dengannya lagi. Tapi tampaknya takdir berkata lain, aku hanya bisa menerima ini semua dengan lapang dada.

***

Kembali ku pacu kendaraanku sore ini melewati jalan raya yang penuh dengan pemandangan keramaianorang-orang dengan segala kegiatannya. Seperti kataku, aku sangat menyukai pemandangan dengan kegiatan orang-orang dijalan raya. Aku kembali kerumahku, tempat aku tinggal bersama sahabatku Buddy, seekor anjing jenis Golden Retriever. Ketika aku membuka pintu tampak Buddy dengan girangnya menyambut kedatanganku. Aku sadar bahwa Buddy adalah kenanganku bersama Dian, namun untuk membuangnya aku tidak sanggup. Buddy adalah sahabatku, yang menemaniku saatku terpuruk maupun terluka. Aku benar-benar merasa beruntung memelihara Buddy.

Beberapa hari setelah terjalin kerja sama antara perusahaan tempatku bekerja dengan perusahaan milik Dian dan suaminya. Perusahaan kami mendapat keuntungan besar dari kerja sama ini dan membuat bos diperusahaanku sangat bangga denganku. Setelah beberapa hari mengurus keperluan kerja sama perusahaan, aku dipanggil bosku keruangannya. Aku tidak tahu apa maksudnya, yang jelas ini pasti akan menguntungkan bagiku. Benar saja setelah menghadap bosku, Aku diberikan pujian oleh bosku ditambah bonus tiket holyday selama 1 minggu di jepang. Aku benar-benar tidak menyangka mendapat hadiah seperti ini, Aku benar-benar sangat senang.

Dalam benakku mulai mencerna segala kejadian beberapa waktu ini, dan menyimpulkan bahwa ini adalah hadiah yang pantas dari betapa getirnya aku menghadapi masalahku yang terus terang mampu membuatku jatuh terpuruk. Liburan yang diberikan bosku tidak akan kusia-siakan, karena aku akan langsung mengurus segala keperluan yang dibutuhkan untuk liburanku nantinya. setelah aku mempersiapkan segala kebutuhanku selama liburan ini aku pun menitipkan Buddy pada penitipan anjing yang terjamin. Aku ingin mengajak Buddy tapi itu mustahil, jadi aku menempatkan dia ditempat yang terkesan nyaman untuk hewan peliharaan seperti Buddy.

Setelah mengucapkan salam perpisahaan kepada buddy, aku melihat Buddy seolah tak ingin ditinggal. Buddy mencoba memohon untuk tidak meninggalkannya di tempat penitipan ini, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa karena sangat mustahil bagiku membawanya. Aku pun memeluk Buddy dan seolah mengajaknya berbicara dan menyakinkannya bahwa aku hanya pergi sebentar saja, dan tidak akan seperti Dian yang pernah kami kenal. Dian yang pergi tidak sebentar tapi untuk selamanya bersama pilihan hatinya. Setelah mengatakan itu aku meniggalkannya ditempat penitipan hewan peliharaan, Kemudian lekas berangkat menuju bandara.

Spoiler for NEXT CHAPTER:

profile-picture
profile-picture
mmuji1575 dan pulaukapok memberi reputasi
Diubah oleh firman.tambun
ditunggu lanjutan ceritanya bray..

:keepwrite
Quote:


Siap gan..
Siapin kopi aja dulu gan..

emoticon-Cendol Ganemoticon-Keep Posting Gan
BIDADARI PENOLONGKU

AIR MATA HUJAN


Setelah mengucapkan salam perpisahaan kepada buddy, aku melihat Buddy seolah tak ingin ditinggal. Buddy mencoba memohon untuk tidak meninggalkannya di tempat penitipan ini, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa karena sangat mustahil bagiku membawanya. Aku pun memeluk Buddy dan seolah mengajaknya berbicara dan menyakinkannya bahwa aku hanya pergi sebentar saja, dan tidak akan seperti Dian yang pernah kami kenal. Dian yang pergi tidak sebentar tapi untuk selamanya bersama pilihan hatinya. Setelah mengatakan itu aku meniggalkannya ditempat penitipan hewan peliharaan, Kemudian lekas berangkat menuju bandara.

***

Hari ini adalah hari yang benar-benar kunantikan. Hari dimana aku bisa berlibur keluar negeri, tepatnya berlibur kenegara Jepang. Aku sudah girang gembira setibanya dinegara sakura ini, dan aku pun langsung menarik napas yang panjang seraya pergi keluar bandara dan menghentakkan kaki diaspal jalan diluar bandara. Ketika kuhentakkan kakiku, Aku berteriak setengah suara "Akhirnya aku menginjakkan kaki di Jepang". Benar saja Jepang adalah negara yang selalu kuimpikan sejak aku kuliah dulu.

Saat itu aku dan Dian masih dalam ikatan asmara yang kusebut cinta, Aku dan Dian mempunyai impian untuk bisa berlibur kenegara ini. Kembali aku pada ingatan yang membawaku ke impian konyol kami masa itu, Impian ingin menerka jumlah daun yang akan tumbuh di awal musim semi. Hah, benar-benar konyol impian kami ini.

Aku sangat besar harap mendapat hiburan dari pemandangan perkotaan yang khas dari negara sakura ini. Menikmati indahnya cuaca musim semi yang kunantikan dimana akan terlihat begitu indah sangat memanjakan mata. Aku memandang lalu lalang kendaraan dijalan raya negara jepang yang jauh berbeda dengan lalu lintas negaraku. Sekitar 15 menit aku menunggu kedatangan bus yang sudah disewa untuk menjadi kendaraan kami dan lengkap dengan pemandu wisatanya untuk keliling daerah wisata di kawasan jepang. ketika bus yang kumaksud sampai aku segera bergegas naik kedalam bus dan mengambil bangku depan yang berada dibelakang supir, dengan maksud dapat menikmati perjalanan jalan raya yang akan kami lalui.

Sembari pemandu perjalanan kami memperkenalkan dirinya, ia juga mengabsen kami semua yang ikut tour. Tour ini memang semuanya berasal dari indonesia dan pemandunya juga ternyata orang indonesia yang bekerja dijepang. Ketika kami sedang diabsen satu persatu,Telingaku serasa tidak asing dengan sebuah nama yang disebutkan. Dian lesatari, itu adalah nama Dian mantan kekasihku. Aku langsung melihat kebelakang melihat semua orang yang ada didalam mobil, tapi aku tidak melihat kehadirannya . Tampaknya orang bernama Dian ini belum naik karena masih ada bangku dalam bus yang belum terisi. Aku benar-benar gundah, gelisah, takut tebakanku benar. Jika tebakanku benar maka ini akan menjadi liburan yang buruk bagiku.

Dengan rasa gelisah aku menunggu kedatangan orang yang belum tiba di bus tour ini. Tiba-tiba naiklah seorang pria yang samar-samar kukenali, tapi sebelum dia benar-benar naik dia seolah seperti menunggu seseorang juga untuk naik bersamanya kedalam bus. Aku benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa yang sedang kusaksikan didepan mataku ini, aku melihat dia naik kedalam bus yang kunaiki. Ya dia adalah Dian, dan lelaki yang kumaksud tadi ternyata suaminya. Perasaanku benar-benar campur aduk tidak bisa kudefinisikan,benar-benar kacau. Aku berlibur dengan dia mantan yang menghancurkan hatiku, ditambah lagi dia bersama suaminya.

Quote:


Tidak terasa sungai duka air mata kembali mengalir diantara pipi-pipiku. Aku tidak sanggup menahannya karena aku kembali teringat kenangan dimasa itu. Sungguh ini sangat memalukan, aku langsung mengusapnya dan berpindah duduk ke bagian paling belakang bus. sembari bergerak kebelakang Dian menyapaku.

" Tama, kamu liburan juga. kamu kenapa kok mata kamu memerah seperti menangis?" ujarnya padaku.

Aku kembali memasang topeng bahagia untuk menutupi wajahku yang penuh pilu padanya sembari membalas dengan senyum indahku.
"aku gembira sekali bisa berlibur ke jepang, makanya aku sedikit mengeluarkan air mata" balasku akhirnya.

"hahahaha.. Terlalu itu namanya." ujar Dian tidak curiga.

Aku tersenyum dan langsung bergegas menuju bangku paling belakang, aku meminta tukar tempat duduk dengan seorang ibu yang duduk dibagian belakang dan siibu menyetujuinya. Aku pun berada di bangku belakang memandang kedepan kearah kecewa dan pahit yang kembali menyeretku kemasa terburukku. Tidak konsentrasi aku pada apa yang diucap oleh pemandu kami, didalam pikirku hanya ada keinginan untuk segera menyudahi liburanku.

***

kami berhenti di pemberhentian pertama, aku tidak mau tahu dengan tour ini dan ingin segera pulang saja. Aku membekukan diri dan tidak keluar dari bus tour, aku hanya didalam bus, membungkus diri dengan masa lalu yang kelam dan dingin. Hampir 20 menit aku berada didalam bus dan mereka belum juga kembali kebus, Aku pun keluar untuk sekedar mencari toilet untuk buang air kecil. Saat aku selesai dari kamar mandi aku berniat kembali ke bus tour, tapi tak terlihat bus tour yang kunaiki tadi. Iba-tiba sudah tiada, aku benar-benar bingung. Aku mencari bus tour itu diparkiran yang ada didaerah itu, tapi aku tetap tidak menemukannya. Apakah aku telah ditinggal? aku harus bagaimana? kenapa ini terjadi ?

Aku tidak bisa menghubungi siapapun karena jaringan Hpku tidak mempunyai layanan jaringan di negara ini. Aku benar-benar linglung, aku ingin bertanya tapi aku tidak Terlalu mahir bahasa Inggris dan Jepang, Aku ingin meminta bantuan tapi tidak tahu pada siapa. Aku hanya punya uang lembaran rupiah saja dan tidak punya uang negara jepang, aku benar-benar menyesal tidak mempersiapkan hal-hal untuk situasi seperti ini. Aku pun hanya duduk terdiam sambil memandang nanar kearah lalu lalang pejalan kaki dikawasan wisata ini. Aku benar-benar sendiri sekarang dinegara orang dan tidak punya apa-apa, dari pikiranku yang sudah mentok tidak dapat berpikir lagi timbul perasaan untuk berharap kepada Dian agar mengingatku dan menanyakan keberadaanku saat ini agar mereka kembali menjemputku ditempat ini.

***

Satu setengah jam berlalu dan hari sudah mulai senja, aku masih sendiri dibangku menatap nanar kearah matahari terbenam. Aku sudah tamat, hanya itu kata-kata yang aku katakan berulang-ulang. Tidak terasa air mataku menetes kembali melihat keadaanku saat ini, aku benar-benar frustasi. Aku bertanya apakah aku memang tidak bisa bahagia?, Kenapa aku selalu harus menderita? tanyaku dalam hati. ketika aku mengulang-ngulang pertanyaan itu dalam hati, tiba-tiba aku mendengar seseorang disampingku memanggil namaku.

"Tama, kamu Tama kan?" suara dari sampingku.

(Aku melihat kearah suara itu, dan aku benar-benar terkejut melihat sumber suara itu. Dia adalah Soraya.)

"Soraya, Kamu soraya kan? Aku gak lagi mimpi kan?" ujarku penuh kaget

"iya ini aku Soraya, kamu kenapa kok kamu nangis gitu. seperti anak kecil saja." ujarnya meledekku.

"Soraya" sambil menagis aku langsung memeluknya.

(Tampak Soraya risih dengan isak tangis dan pelukanku.)

"kamu kenapa sih ?" sembari melepas pelukanku.

Aku pun kembali bercerita padanya tentang kejadian yang menimpaku, dan aku melihat senyum dari soraya yang sangat menjengkelkan. Bukannya menghiburku dia malah menertawakanku seperti orang bodoh. Soraya meledekku dan membuatku sangat jengkel padanya meskipun dia bisa memaklumi keadaanku. Aku bersyukur bisa berjumpa dengannya disini di negara jepang ini, disaat ini disaat terburuk keduaku dia hadir sebagai pelapas rasa gundah gelisah dihatiku.

***

Hari sudah malam dan Soraya mengajaku ke penginapan tempat dia menginap, tentunya aku menyewa kamar lain dengan meminjam uang dari Soraya. Di penginapan aku mengajak Soraya makan malam bersama, sembari makan malam aku berbincang-bincang padanya mengenai apa yang harus aku lakukan esok hari dan kenapa dia bisa ada di jepang saat ini. Soraya mengatakan bahwa besok aku bisa kembali ke bus tourku, dia akan menelpon pihak tourku agar menjemputku esok hari. Dia juga mengatakan bahwa dia ingin sekali menyaksikan indahnya musim semi dinegara sakura ini.

Aku benar-benar beruntung, ternyata Soraya juga sedang berlibur di negara Jepang ini untuk menikmati musim semi dinegara sakura ini. Sama sepertiku Soraya juga baru pertama kali ke negara sakura ini, dan benar-benar kebetulan dia berkunjung ketempat pemberhentian bus tourku tadi. Aku benar-benar beruntung, karena bisa diselamatkan oleh gadis manis yang empunya senyum teramat manis seperti soraya. Aku benar-benar jatuh hati padanya, dia bagai sosok bidadari yang datang padaku saat aku benar-benar kesulitan dan membawaku keluar dari kesulitanku itu. Terima kasih Soraya. bidadari manisku, meskipun kau belum mengenalku aku pastikan kita akan saling mengenal dalam satu asmara berbentuk ikatan yang kusebut ikatan cinta.



Spoiler for "NEXT CHAPTER":
profile-picture
profile-picture
mmuji1575 dan adecumi memberi reputasi
Diubah oleh firman.tambun
Lanjutttt gan
Quote:


Siap gan..
emoticon-Keep Posting Gan
jago bah
Quote:


apanya jago Bosque..

emoticon-Bingung
baca judulnya awak langsung paham
sungguh thread yg great 😁
Diubah oleh adehutabarat135
Ouh, bagindang..

thanks gan..
emoticon-Ngakak

emoticon-Toast
Halaman 1 dari 6


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di