CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a7d2917620881cd148b4568/untuk-apa-aku-hidup

Untuk Apa Aku Hidup?

Quote:


Sudah satu jam aku duduk termenung disini menyendiri, menatap langit biru yang dihiasi awan-awan putih yang berlarian kesana kemari. Riuh suara air mancur diujung pandanganku terdengar seperti melodi indah yang mencoba menenangkanku. Meski berada di tengah keramaian sekolah, hatiku begitu hampa. Keputusasaan terus mencekikku dan membuatku sesak, aku benci mengakuinya tapi begitulah adanya. Tak ada yang tahu hal itu selain aku dan Sang Pencipta, karena aku selalu bersembunyi dibalik topeng senyuman agar mereka tak khawatir, atau lebih tepatnya agar mereka tak semakin menginjak-injakku.

Tak ada yang tahu betapa sakitnya diriku, betapa kosongnya jiwaku dan betapa tertekannya diriku begitu mendengar ocehan-ocehan mereka yang jelas untuk merendahkanku, dengan balutan kata candaan mereka tak pernah berhenti melontarkannya kepadaku dan saat aku protes mereka selalu berkata, “jangan terlalu bawa perasaan.” Mereka tak tahu betapa tersiksanya diriku memikirkan perilaku mereka yang tiba-tiba mengabaikanku karena satu masalah kecil namun tiba-tiba menarikku lagi kedalam lingkaran mereka seperti tak pernah terjadi apa-apa. Mereka tak tak tahu betapa susahnya mengikuti apa yang mereka mau dan dengan mudahnya mereka menghinaku saat aku tak bisa sama seperti mereka. Sebegitu bencinya kah mereka dengan perbedaan atau mereka hanya ingin mempermainkanku saja?

Terkadang saat malam hari aku terus berpikir , apakah yang aku lakukan ini ada gunanya? Atau hanya sia-sia dan tak ada gunanya? Parahnya justru menghancurkan diriku sendiri secara perlahan? Aku tahu jawabannya sudah jelas, namun aku tak tahu harus berbuat apa. Setiap aku bersuha melepas rantai yang mengikat kakiku, mereka selalu dapat manarikku dan memakaikan kembali rantai baru yang lebih kuat yang semakin sulit kulepas. Lingkaran yang mereka buat membuatku muak namun terkadang membuatku iri, dengan yang mereka punya mereka bisa membuat kelompok dimana tak ada yang berani melawan mereka. Pilihan kami yang tak punya kekuasaan disini hanya ada dua, menjadi budak mereka atau menikmati sengsara kehidupan sekolah hingga lulus nanti. Terlebih lagi jika kamu adalah siswa atau siswi yang masuk karena beasiswa yang diberikan oleh sekolah langsung. Sudah dipastikan dirimu akan jadi peliharaan mereka tau siap-siap saja keluar dari sekolah dengan alasan yang tidak masuk akal namun tetap diterima oleh kepala sekolah. Begitulah kehidupan sosial yang aku jalani setiap hari.

Manusia adalah makhluk sosial karena tidak bisa hidup sendiri, tanpa berinteraksi dengan manusia yang lain kita tak akan bisa memenuhi semua kebutuhan hidup kita dan itulah gunanya bersosialisasi. Dimanapun dan kapanpun manusia butuh bersosialisasi, bahkan seorang penyendiri sekalipun butuh bersosialisasi, meski sebatas bertemu dengan penjaga toko untuk sekedar membeli makanan saja. Termasuk di lingkungan sekolah sekalipun, sosialisasi sangat dibutuhkan untuk dapat bertahan hidup dilingkungan sekolah. Jangan diartikan dalam artian yang ekstrim, namun artikan dengan sederhana seperti tanpa sosialisasi kita tidak tahu tanggal-tanggal penting di sekolah, seperti kapan kita akan ujian misalnya. Selain itu dengan bersosialisasi kita bisa memberi warna di kehidupan sekolah kita karena semakin banyaknya teman yang kita dapatkan.

Tapi hal itu tak bsa kudapatkan disini, bukan warna-warni kehidupan sekolah yang kurasakan. Tapi rasa pedih yang teramat sangat akibat perbedaan kasta yang selalu siap menyambutku tiap hari. Hinaan adalah oksigen yang kuhirup, dan perlakuan kasar pun bagi mereka sudah seperti kasih sayang untukku. Tak ada yang bisa kuperbuat selain hanya bersabar dan terus bersandiwara dihadapan mereka dan yang lainnya. Main aman, hanya itu yang bisa kulakukan. Aku tidak terlahir dalam keluarga yang berada, aku bisa sekolah pun karena prestasiku, tetapi sayangnya tak semua senang dengan apa yang aku hasilkan. Jika aku salah berperilaku, sekolahku akan terhenti dan orang tuaku akan kecewa.

Tapi, tentu semua itu tentu saja ada batasnya dan aku pernah mencoba untuk melawan. Nasib baiknya mereka tidak mengakali cara untuk mengeluarkanku. Nasib buruknya, nasibku semakin bertambah buruk, semakin menyiksa batinku. Membuat aku bertanya-tanya, sebenarnya untuk apa aku berjuang mati-matian mendapatkan beasiswa dan masuk ke sekolah idaman jika hanya penindasan seperti ini yang aku dapatkan. Untuk apa aku sekolah? Jika hanya perih yang kurasakan, bukan indahnya bercengkerama dengan teman sebaya. Dan untuk apa aku berdoa setiap hari jika pada akhirnya hanya ada nasib buruk yang menimpaku? Sebagian diriku berkata bahwa itu adalah cobaan karena Tuhan menyayangiku, namun sebagian lagi menyampaikan bahwa itu tanda Tuhan mmbenciku.

Aku tidak terlalu mau ambil pusing memikirkan hal itu, yang ingin kulakukan sekarang hanya bagaimana caranya aku menghilangkan rasa cemasku ini, ketakutan berlebihan akan bagaimana masa depanku nanti. Ditengah perang batin yang kurasakan, sebenarnya apa yang harus aku lakukan? Apakah Tuhan akan membantu jalanku? Atau hanya diam dan menyaksikan saja? Aku tidak tahu.

Karena seiring dengan keseharianku, aku semakin terutup dengan dunia luar, aku semakin membenci guru-guru dan juga diriku. Prestasiku semakin menurun, ketika ada yang bertanya mengapa bisa tak ada satupun yang kujawab, karena aku yakin itu hanya sebuah basa-basi belaka. Mereka pasti sudah tau alasannya, mereka tahu jelas apa yang aku alami setiap hari.

Aku mencari-cari di internet, membaca artikel-artikel, masuk ke forum-forum dan bertanya bagaimana dan apa yang harus kulakukan. Tak semua memberi respon positif, bahkan ada yang memberi respon negatif seperti merendahkanku dengan berkata “baru begitu saja sudah lemah, yang lebih sengsara banyak tetapi biasa-biasa saja. Jangan berlebihan” aku tahu itu, aku sangat tahu. Tapi apa berarti yang aku alami ini hanya kejadian kecil dan biasa saja? Salahkah aku mengeluh dan salahkah aku meminta saran agar aku bisa menjalani hiupku lebih baik lagi? Apa mereka sadar yang mereka katakan itu sangat membuatku semakin sesak.

Bebanku seakan makin bertambah setelah membaca komentar-komentar seperti itu, belum lagi “teman-teman” di sekolah yang mencoba menghibur dengan kata-kata “sabar, aku mengerti apa yang kamu rasakan” mulut mereka begitu manis, tapi tak ckup untuk menghiburku. Bagaimana mereka bisa tahu apa yang kurasakan? Sedangkan mereka sendiri sebenarnya tidak peduli dengan orang lain, mereka akan cenderung lepas tangan dan bermain aman ketika ada sesuatu yang terjadi. Ah, aku semakin benci dengan semua ini, tak ada hal yang terpikirkan olehku selain mengakhiri semua ini dengan mengakhiri mereka atau mengakhiri diriku.

Tetapi aku tak tahu mana yang benar, keduanya benar? Atau bahkan keduanya tidak benar sama sekali? Aku tidak bisa berpikir sama sekali. Berbagai cara aku coba untuk mengabaikan atau bahkan menghilangkan pikiranku itu, mencoba menjalani realita menyedihkan setiap hari dengan menambah tekadku untuk terus bersabar dan yakin semua akan ada akhirnya.

Berkelana sendirian ke tempat-tempat yang bisa merelaksasikan diriku sudah kucoba, membaca buku-buku kejiwaan, buku-buku pengembangan diri, berolahraga secara rutin yang katanya bisa mengurangi depresi, berdoa setiap hari sampai menangis, dan bahkan sampai mencoba berteriak di tanah lapang pun sudah kulakukan. Namun semua hasilnya nihil, tak ada yang berguna sama sekali.

Apa lagi yang harus kulakukan agar semua kegelisahan ini hilang? Agar semangat hidupku tumbuh lagi? Agar pikiran untuk mengakhiri hidup ini atau hidup mereka bisa hilang tanpa bekas? Atau aku harus melakukannya agar semua beban ini hilang? Agar aku terbebas dari belenggu ini, belenggu yang sangat menyiksa ini, yang membuatku tak adanya seperti hewan peliharaan.

Ya Tuhan tolong aku.

Aku butuh pertolongan-Mu.

Tolong jangan hanya memperhatikanku saja.

Aku mohon.

Tolong aku.
profile-picture
anasabila memberi reputasi
Halaman 1 dari 3
Diubah oleh alextrubus
amankan pejwan di thread enthut dulu dah emoticon-Cool
panjaaang sab ini emoticon-Ngakak (S)

MANUSIA DICIPTAKAN TUK BERIBADAH PADA TUHAN
INGAT ITU ANAK MUDA!
Waw keren sab
Wah si mbak ikutan SFTHChallenge juga emoticon-Wow
sedih aku emoticon-Frown .
yeay pejwan
pejwan.. Hohoho
Quote:


Sip gans. emoticon-Big Grin

Quote:


Bagi2 pejwannya, tapi sepi sih. AMbi banyak juga ngak apa. emoticon-Ngakak (S)

Quote:


Klasik ya jawabannya. emoticon-Stick Out Tongue

Quote:


Pendek ah mbak. emoticon-Ngakak (S)

Quote:


emoticon-Belo

Quote:


B aja gans.

Quote:


Ane cowok gans. emoticon-Frown

Quote:


Quote:


Asik dpt pejwan. emoticon-Stick Out Tongue
Diubah oleh sabna.tamara
Enthu gak blh ikutan challenge ntar ada permainan emoticon-Cool
Quote:


kata siapa ga boleh emoticon-Cool
Quote:


Kata aku barusan emoticon-Hammer (S)
Quote:


Hidup ngak ada drama ngak seru, kaskus tanpa drama makin sepi, SFTH tanpa drama hapus ajalah.

emoticon-Ngakak

Quote:


Marahin dia mbak. Jahat dia ngelarang2 aku ngak boleh ikutan.

emoticon-Marah
Quote:


Sperti der somting...ar yu oke ?

Kata Three Idiots... " ALL IS WELL "... emoticon-Big Grin
Mod sab ikutan.. Depres banget cerpennya.. But thats the truth..
Hidup gak gampang.. Tapi bersiap mati jauh lebih sulit..

Seburuk2nya kita.. Pasti pengen punya happy ending dong emoticon-Smilie

Nice story mod.. emoticon-Cendol (S)
Diubah oleh a112aditya
Booked
Quote:

Nice banget ganemoticon-2 Jempol.. cek kulkasemoticon-Cendol Gan
Quote:


Until today i'm still okey. emoticon-Big Grin

Quote:


Iya. Seharusnya, tapi kalau udah depresi banget beda lagi.

Makanya kalau ada yang cerita masalah ke kita ya harus hati2 banget, bahaya. emoticon-Frown

Quote:


Lah ane enggak dicendol nih? emoticon-Ngakak (S)
Post ini telah dihapus
Halaman 1 dari 3


×
© 2022 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di