- Beranda
- Komunitas
- Entertainment
- The Lounge
Memikirkan Psikologi Anak ketika Kedua Orang Tuanya Pisah


TS
adindatiput
Memikirkan Psikologi Anak ketika Kedua Orang Tuanya Pisah
Walau perceraian kerap kali dijadikan sebuah jalan keluar dari pertikaian antar suami-istri yang tak kunjung berhenti, memutuskannya bukan hal yang mudah dan membutuhkan banyak pertimbangan—apalagi kalau di antara mereka, ada si buah hati yang membutuhkan kasih sayang dari keduanya.
Sebelum memutuskan untuk berpisah, ada baiknya untuk berkonsultasi terlebih dahulu pada psikolog, sebagaimana disarankan oleh seorang psikolog Livia Iskandar.
Anak juga harus diajak berdiskusi mengenai keputusan tersebut.
Berikan mereka pengertian bahwa ayah dan ibunya telah menempuh segala cara untuk mempertahankan, namun tak ada yang berhasil. Selain itu, mereka juga harus ditenangkan, apapun yang terjadi, mereka harus tahu mereka masih mendapatkan kasih sayang dari Ayah dan Ibu.
“Perlu kekompakan Ayah dan Ibu, bahwa walau sudah bercerai, mereka tetap akan jadi Ayah dan Ibu bagi anak-anak,” kata Livia sebagaimana dilansir dari https://www.cnnindonesia.com/gaya-hi...gtua-bercerai.
Ketika orang tua menyampaikan tentang keputusan berpisah kepada anak, anak pasti akan sedih, menolak, atau terkejut.
Tapi keputusan harus diketahui oleh anak terlebih dahulu. Jangan biarkan mereka tahu dari orang di luar keluarganya.
Jika anak tahu dari orang lain, mereka akan merasa tidak dipercaya atau dibohongi. Ditambah lagi orang tua yang anaknya masih sangat kecil.
Pengertian pada anak-anak harus diberikan sesuai dengan tingkat pemahaman mereka.
Camkan pada mereka bahwa perpisahan tidak terjadi karena mereka.
Seorang psikolog anak, Monica Sulistiawati pun menuturkan, orang tua harus berkerja sama dalam mengasuh anak untuk meminimalisir kemungkinan rasa kehilangan yang dialami dan mencegah dampak buruk perceraian yang bisa terjadi kepada sang buah hati, seperti menjadi anak yang nakal dan sulit diatur.
Menurutnya, orang tua harus memudarkan ego untuk tetap memberikan dukungan pada anak, apalagi di momen-momen berharga, seperti ulang tahun anak atau partisipasi anak dalam sebuah pertunjukan atau lomba di sekolahnya.
Selain itu, dalam peraturan pun diperlukan kesepakatan antara kedua orang tua.
Jangan sampai si anak merasa seperti “Kalau sama Ayah, aku dibolehin, tapi kok sama Ibu nggak?” dan membuatnya seakan-akan berada di dua atmosfer berbeda.
Perceraian erat sekali hubungannya dengan masalah hak asuh anak. Baik sang Ayah maupun sang Ibu ingin memegang hak asuh anak sepenuhnya.
Livia menuturkan, bila anak telah berusia di atas 12, sebaiknya ajak bicara saja.
Tanyakan mereka ingin bersama siapa, sebab di usia ini anak sudah bisa memutuskan apa yang lebih baik untuknya. Ini tentunya perlu kebesaran hati dari orang tua. Pilihan sang buah hati bukan berarti ia tidak sayang dengan yang tidak dipilihnya.
Apabila anak masih di bawah usia 12, yang perlu orang tua ketahui adalah sudah ada aturan yang mengatakan bahwa si buah hati harus ikut ibunya.
Tapi sebelum menjatuhkan hak asuh anak pada sang Ibu, periksa dulu apakah sang Ibu mampu menjalankan fungsinya, mengalami sakit fisik yang bisa menghalanginya mengasuh anak, mengalami gangguan jiwa, atau dalam pengaruh narkoba.
Ikatan ibu-anak lebih kuat dan Ibu diharapkan bisa lebih memahami anak.
Itulah sebabnya anak di bawah usia 12 harus ikut dengan ibunya, sementara ayah bertugas mencari nafkah. Meski telah berpisah, tugas Ayah ini tidak serta merta berhenti. Maka dari itu, anak di bawah usia 12 lebih dianjurkan ikut ibunya agar tidak kehilangan figur orang tua karena ayahnya sibuk mencari nafkah.

Sebelum memutuskan untuk berpisah, ada baiknya untuk berkonsultasi terlebih dahulu pada psikolog, sebagaimana disarankan oleh seorang psikolog Livia Iskandar.

Quote:
Anak juga harus diajak berdiskusi mengenai keputusan tersebut.


“Perlu kekompakan Ayah dan Ibu, bahwa walau sudah bercerai, mereka tetap akan jadi Ayah dan Ibu bagi anak-anak,” kata Livia sebagaimana dilansir dari https://www.cnnindonesia.com/gaya-hi...gtua-bercerai.

Quote:
Ketika orang tua menyampaikan tentang keputusan berpisah kepada anak, anak pasti akan sedih, menolak, atau terkejut.



Pengertian pada anak-anak harus diberikan sesuai dengan tingkat pemahaman mereka.


Quote:
Seorang psikolog anak, Monica Sulistiawati pun menuturkan, orang tua harus berkerja sama dalam mengasuh anak untuk meminimalisir kemungkinan rasa kehilangan yang dialami dan mencegah dampak buruk perceraian yang bisa terjadi kepada sang buah hati, seperti menjadi anak yang nakal dan sulit diatur.

Menurutnya, orang tua harus memudarkan ego untuk tetap memberikan dukungan pada anak, apalagi di momen-momen berharga, seperti ulang tahun anak atau partisipasi anak dalam sebuah pertunjukan atau lomba di sekolahnya.

Quote:
Selain itu, dalam peraturan pun diperlukan kesepakatan antara kedua orang tua.


Perceraian erat sekali hubungannya dengan masalah hak asuh anak. Baik sang Ayah maupun sang Ibu ingin memegang hak asuh anak sepenuhnya.

Livia menuturkan, bila anak telah berusia di atas 12, sebaiknya ajak bicara saja.


Apabila anak masih di bawah usia 12, yang perlu orang tua ketahui adalah sudah ada aturan yang mengatakan bahwa si buah hati harus ikut ibunya.


Quote:
Ikatan ibu-anak lebih kuat dan Ibu diharapkan bisa lebih memahami anak.


0
1.3K
4


Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama


Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan