CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a4e5d6adad7703a408b4567/meniti-garis-takdir

Meniti Garis Takdir

Meniti Garis Takdir


Meniti Garis Takdir:
Sebuah Novel by ABOEYY
(Tamat)


Quote:


PERSEMBAHAN:
Quote:

*****



PART #1.1


Meniti Garis Takdir

Gema azan Maghrib beberapa menit telah berlalu. Sang imam baru saja mengucapkan salam kedua. Namun malam telah membentangkan jubah hitamnya. Suasana desa yang belum terjamah oleh listrik itu semakin gelap dan sepi. Tidak terdengar bunyi, kecuali suara anak-anak yang mulai belajar mengaji. Di bawah cahaya obor, mereka tetap giat belajar. Mengeja hurup per hurup Hijaiyah, merangkai kata, menyusun kalimat, hingga sempurna menjadi satu ayat. Mereka duduk berderet, menanti giliran sang Imam mengajarkan ayat berikutnya.


Meniti Garis Takdir

Seorang anak yang duduk pada deret paling ujung tiba-tiba berdiri. “Permisi Pak Ustadz, bolehkah saya pamit pulang duluan?” kata anak itu.

Tanpa menanyakan alasannya, sang Ustadz menganggukkan kepala. Beliau mengetahui siapa anak itu, sehingga kalau dia meminta izin, pasti karena ada keperluan, bukan karena kemalasan.

Setelah mengambil berkah dari tangan ustadz, anak itu bergegas pulang. Ia berlari menembus kegelapan malam menuju rumahnya yang berjarak sekitar 400 meter dari masjid itu.

Sang ibu baru selesai membaca surah Yasin. Ia buru-buru menutup buku kecil itu, dan menaruhnya di atas meja, ketika mendengar ketukan pintu. Tanpa memperdulikan kakinya yang mulai sakit-sakitan, ia beranjak ke depan. Dengan dua tangan, ia mengangkat palang kayu yang berfungsi sebagai kunci, sambil menjawab salam dari suara yang sudah dikenalnya.

Palang pintu itu masih di tangannya. Ia bertanya bertubi-tubi karena terkejut melihat anaknya pulang lebih awal. Biasanya setelah shalat Isya baru pulang ke rumah, sekalipun tidak mengaji. “Kenapa pulang Nak? Mengapa tidak ikut ngaji dan shalat Isya? Ustadznya tidak hadir?”

“Tidak apa-apa, Ma! Hanya Mujid yang minta izin pulang duluan. Ada yang ingin Mujid sampaikan sama Mama,” jawabnya sambil tetap mematung di depan pintu.

Perempuan berusia 45 tahun itu bergeser ke sebelah kanan pintu, sebagai isyarat mempersilakan anaknya masuk. Sambil menundukkan badan tanda hormat, Mujid melewati ibunya. Lalu duduk di depan sajadah yang masih terhampar.

“Bukankah dapat dibicarakan setelah shalat Isya?” ucap ibunya setelah duduk di sajadahnya, berhadapan dengan Mujid.

“Iya, Ma! Tapi Mujid ingin bicara sekarang.”
“Apa yang ingin dibicarakan, Nak?”
“Begini, Ma! Tadi waktu shalat dan menanti giliran mengaji, Mujid dengar suara ustadz terserak-serak. Beliau sudah tua. Saya khawatir, kalau beliau wafat, siapa yang akan menggantikannya?”
“Lalu, apa yang ingin kau lakukan?”

“Saya sudah setahun tamat SD, dan beberapa kali tamat ngaji. Bagaimana kalau saya diizinkan melanjutkan sekolah ke Pondok Pesantren?” pinta Mujid dengan penuh harap.

Sang ibu terpaku. Mukanya menengadah ke atas seperti menanti jawaban dari langit. Sang anak terdiam menunggu keputusan ibunya. Wajahnya tertunduk. Tiba-tiba dua tetes air mata mengalir di pipinya yang mulai keriput. Dengan ujung mukena yang masih dikenakannya, disekanya airmata seraya berkata:

“Mujid! Kau anakku satu-satunya, dan ayahmu sudah tiada. Kalau kau pergi, siapa lagi yang menemani Mama? Demi Allah, andaikan bukan karena tujuan menuntut ilmu, satu meter pun Mama tidak akan mengizinkanmu jauh dari Mama.”

“Jadi, Mama setuju?” tanya anak itu sambil mengangkat wajah, dengan mata berbinar. Ia menyalami dan mencium tangan ibunya, seolah-olah keinginannya telah direstui.

“Sebentar, Nak! Mama belum selesai bicara. Benar, Mama mendukung niatmu. Tapi Mama masih berpikir masalah biaya. Ayahmu tidak meninggalkan harta. Untuk hidup sehari-hari saja, kita lebih banyak berpuasa.”
“Iya, Ma! Tapi, setiap ada kemauan, pasti ada jalan,” jawab Mujid pelan.

“Benar! Di mana kemauan, di situ ada jalan. Tapi keinginan tanpa kemampuan, hanya akan menemukan jalan buntu.”

Mujid terdiam. Ia tidak berani menjawab. Terlihat lukisan kesedihan yang mendalam di wajahnya yang masih lugu, di usianya yang baru menanjak 14 tahun. Sementara azan shalat Isya terdengar berkumandang.
“Mari shalat dulu. Kita minta petunjuk-Nya,” kata ibunya membangkitkan lamunan anaknya.

Keduanya shalat berjamaah. Mujid menjadi imam. Rakaat pertama setelah membaca surah al-Fatihah, sang imam membaca surah al-Mulk hingga separoh, dan dilanjutkan hingga selesai pada rakaat kedua.

Dua tetes air bening tiba-tiba keluar dari kelompak mata sang ibu, ketika lantunan 5 ayat terakhir surah itu dengan lembut menyentuh kepekaan perasaannya. Dalam hati, ia berdoa: “Ya Allah, kabulkanlah cita-citanya.”
“Mama rasa kalau hanya untuk jadi imam dan guru ngaji, kau sudah mampu. Suaramu fasih dan merdu, tajwidnya tepat. Jadi, kiranya tidak perlu sekolah ke Pesantren,” ucap ibunya setelah selesai berdoa.

“Kalau hanya baru bisa baca al-Quran, itu belum cukup, Ma! Ilmu agama itu sangat luas. Ada fiqih dengan ushulnya, ada al-Quran dengan tafsirnya. Ada hadis dengan mushthalah-nya. Ada tauhid dengan perinciannya. Ada tasawuf dengan berbagai coraknya. Minimal saya ingin belajar tentang hal-hal yang wajib dan yang haram, sebagai pedoman bagi diri sendiri, dan syukur kalau dapat mengajarkannya.”

Ibunya mengangguk-angguk mendengar penjelasan Mujid. Ia tidak menyangka anaknya sudah menguasai dasar-dasar agama, dan tampak memiliki kecerdasan yang tinggi. Padahal selama ini hanya belajar agama kepada ustadz yang menjadi imam masjid itu.

“Jika anakku sekolah pesantren, mungkin ia lebih cepat menguasai ilmu agama,” pikir ibunya.
“Baiklah, Nak! Mama restui keinginanmu. Besok Mama akan bicara dengan Pak Hamdan. Mungkin dia bisa bantu. Dia kan saudara ayahmu. Kedua anak lelakinya, Salim dan Mahdi, sudah mandiri. Keduanya ikuti jejak ayahnya jadi pedagang sejak tamat SD. Sedangkan anak perempuannya, Ahda, masih kelas 4 SD. Jadi, hanya dia yang masih dibiayai.”

“Terima kasih, Ma!” ucap Mujid sambil sekali lagi mencium tangan ibunya. Ia beranjak ke tempat tidur yang hanya beralaskan tikar purun, dan berbantal gumpalan kain bekas yang dibungkus dengan sarung. “Dengan namamu ya Allah, hidup dan matiku,” ucapnya sebelum terlelap. Matanya terpejam seolah-olah sedang berbaring di atas dipan asrama pesantren yang dicita-citakannya.

Sementara sang anak tertidur, sang ibu tetap terjaga. Dihamparkannya kembali sajadah yang telah lusuh itu. Di ujung dua rakaat shalat sunnah yang didirikannya, dengan suara lirih, ia berdoa:


Meniti Garis Takdir

Quote:

Bersambung>>>

Spoiler for Sumber:
Diubah oleh Aboeyy
Halaman 1 dari 5
Izin nyimak Pak
keren ... izin nyimak ...

duduk manis nunggu up date ... lanjut ....
Boleh... boleh! Silaken!

Quote:


Quote:


PART #1.2

Asap putih masih pekat menyelimuti pagi. Embun belum berhenti meneteskan airmatanya, dan disambut oleh daun-daun rumput yang sedang menyongsong datangnya sang mentari. Namun sang surya tetap enggan menampakkan wajah, mungkin karena malu terhadap kabut.

Meniti Garis Takdir
Source: KlikHotel.com
Pagi itu, pukul 06.12 WITA. Memerlukan waktu sekitar 15 menit berjalan kaki untuk menempuh jarak kurang lebih 700 meter menuju rumah Pak Hamdan, yang terletak tepat di simpang tiga jalan menuju Kabupaten. Namun melangkah dalam jarak pandang yang hanya beberapa meter ke depan, membuat Mama Mujid baru sampai di tujuan pada saat jarum jam menunjukkan pukul 7 kurang 3 menit. Tak peduli rok bawahnya basah oleh embun yang menempel pada rumput sepanjang jalan yang dilewati.

Tiba di rumah kakak iparnya, suasana masih terlihat sepi, walaupun kabut sudah mulai menipis. Tidak ada pintu dan jendela yang mengizinkan udara pagi memasuki kediaman Pak Hamdan. Tiga kali ia mengetuk pintu, dan tiga kali pula mengucap salam, namun penghuninya sepertinya masih diselimuti mimpi. Tinggal di bangunan permanen, beratap genteng, di musim kemarau seperti ini, membuat hawa dingin mengendap di dinding, lalu menyelinap di sela-sela kulit, dan merayap di sendi-sendi tulang. Malam terasa panjang, bagi mereka yang pikirannya terbebas dari urusan perut.

Mama Mujid bimbang, antara mengetuk pintu lagi atau pulang. Ia memilih kembali, dan akan datang lagi pada pukul sepuluh nanti.

Dengan langkah berat, ia meninggalkan harapannya di depan pintu itu. Kakinya telah mengarah menuju rumahnya, namun daun telinganya masih menempel di kunci pintu. Hingga seketika ia menghentikan langkahnya, ketika terdengar bunyi pintu dibuka. “Eh, Ibu Husna! Silakan masuk! Maaf, tadi saya lagi sibuk di dapur. Bapaknya masih tidur,” kata istri Pak Hamdan.

“Ada apa Mama Mujid pagi-pagi ke sini?” tanyanya ketika sudah duduk di kursi tamu.
“Saya ada perlu sedikit yang harus dibicarakan langsung dengan Pak Hamdan.”
“Oh, begitu! Baiklah saya bangunkan Bapaknya dulu,” jawabnya seraya beranjak menuju kamar suaminya. Dari dalam kamar, terdengar percakapan:
“Pak, bangun! Ada tamu.”
“Siapa?” tanya suaminya dengan suara malas.
“Lihat sendiri!” jawab istrinya.
“Siapa yang datang pagi-pagi begini? Ganggu orang tidur saja. Jangan-jangan urusan pinjam uang lagi,” katanya dengan suara agak kesal.

Pak Hamdan segera bangun dan menuju ruang belakang, tanpa menoleh ke arah tamu yang datang. Mama Mujid yang mendengar perkataan dan melihat sikap Pak Hamdan, menjadi ragu-ragu untuk menyampaikan maksudnya. Terpikir olehnya untuk mencari alasan lain. Namun tak ada alibi yang dinilainya tepat. Akhirnya dengan berketetapan hati, dengan niat menunaikan amanat anaknya, ia sampaikan tujuannya.

“Begini, Kak! Anak saya, si Mujid ingin melanjutkan sekolah ke pesantren. Jadi, bisakah Kakak membantu biaya berangkat, uang pendaftaran, dan biaya hidup sebulan pertama. Untuk biaya selanjutnya, biarlah saya yang memikirkannya,” kata mama Mujid membuka percakapan setelah Pak Hamdan menanyakan maksud kedatangannya.

“Salim dan Mahdi saja setelah lulus SD, saya suruh berhenti sekolah. Hanya tamat SD, mereka sekarang pandai berdagang. Jadi, tidak perlu sekolah tinggi-tinggi. Banyak para sarjana yang jadi penganggur. Toh mereka berpendidikan tinggi, namun tidak jadi pegawai, apalagi cuma sekolah pesantren, mau jadi apa?” jawab Pak Hamdan dengan muka cemberut.

Dengan nada penuh harapan, Mama Mujid menceritakan tentang latar belakang dan tujuan keinginan anaknya. Namun respon Pak Hamdan sangat bertentangan dengan stimulus yang diberikannya. Dengan nada pesimis Pak Hamdan menjawab: “Kalau sekedar ingin menjadi imam dan guru ngaji, tidak usah jauh-jauh sekolah ke pesantren. Cukup belajar dengan Pak Zarkasyi. Saya kira beliau tidak akan minta biaya. Pesantren sekarang cuma kedoknya saja mengajarkan agama, namun tujuannya adalah bisnis.

Buktinya, tuh mereka terima pungutan setiap bulan dari para santrinya. Kalau benar tujuan lillahi ta’ala, seharusnya mereka tidak terima sumbangan, terutama dari santri yang tidak mampu. Para pengurusnya terlihat hidup mewah, sedangkan santrinya sangat melarat. Para ustadznya dengan lancar bicara halal-haram, karena ada yang dimakan, sementara santri yang lapar hanya bisa nyelotok: Enak bicara hukum agama kalau perut kenyang. Coba kalau lapar, al-Quran sendiri akan dijual. Seharusnya para pendiri dan guru pesantren adalah orang-orang kaya, bukan orang-orang yang ingin kaya, sehingga dapat memberikan kesejahteraan bagi santri agar dapat belajar dengan tekun dan tenang, tanpa harus memikirkan urusan perut.”

Mama Mujid tidak menjawab, walaupun hatinya sangat tidak sependapat dengan perkataan Pak Hamdan. Lalu dengan tegas ia meminta kesimpulan: “Ringkasnya, Kakak mau bantu atau tidak?”

“Kalau urusan bisnis, saya sedia pinjamkan modal, berapa pun jumlahnya selama mampu. Namun masalah biaya sekolah, satu rupiah pun rasanya berat untuk memberikannya,” jawab Pak Hamdan tak kalah tegasnya.

“Baiklah, terima kasih! Saya pulang dulu,” jawab Mama Mujid ketus, tanpa sempat menghirup teh hangat yang baru disuguhkan oleh istri Pak Hamdan.

Diubah oleh Aboeyy
jejak dulu deh emoticon-Paw
PART #1.3

Bagai tanpa beban, Mama Mujid pulang. Langkahnya lebih cepat dari berangkat. Walaupun ia kecewa dengan Pak Hamdan, ia tidak putus asa. Ia tetap berprasangka baik terhadapnya. Dugaannya, mungkin kata-kata iparnya tadi dipengaruhi emosi, karena merasa jengkel tidurnya terganggu.

Mama Mujid meyakini bahwa dengan ber-prasangka baik terhadap manusia berarti ber-prasangka baik pula terhadap Tuhan. Orang yang ber-prasangka baik terhadap makhluk, lalu mendapatkan sesuatu yang tidak sesuai dengan yang diduganya, maka Allah akan menggantikan sesuai apa yang disangkanya.

Sementara di rumah, Mujid gelisah menunggu. Berulang kali ia bolak balik dari dapur ke depan pintu. Ia telah memasak nasi dan lauknya, serta sudah menyiapkannya di atas meja. Asap makanan telah hilang. Ia tidak mengambil sebutir pun nasi itu, karena ibunya belum pulang.

Mujib berprinsip, tidak akan makan kalau ibunya belum makan, atau makan bersamanya. Selain itu, ia tidak mau menyantap makanan yang masih panas. Menurutnya, memakan makanan yang panas itu bagaikan menelan bara api. Kalau makan, Mujid juga tidak pernah menyisakan makanan walaupun hanya sebiji nasi di jari tangan atau di piring nasi. Ia pernah menggerutu ketika selesai makan di sebuah pesta perkimpoian, dan melihat para undangan makan:

“Nasi yang diambil cuma segenggam, namun yang dimakan hanya sesuap.” Ia juga selalu menggunakan tangan kanan ketika makan dan minum, walaupun tangan itu kotor oleh bekas makanan. Prinsipnya, toh kalau gelas itu kotor, ia masih dapat dicuci dan memang harus dicuci setelah dipakai. Namun kalau sunnah yang dikotori, karena minum dengan tangan kiri, maka ia tak dapat dicuci.


Diubah oleh Aboeyy
PART #1.4

Mama Mujid datang dengan wajah agak kusam. Mujid berdiri menyambut kedatangan ibunya. Melihat raut muka ibunya, ia sudah dapat menduga berita yang akan didengarnya. Karena itu, ia tidak bertanya, tapi langsung mengajak ibunya: “Kita sarapan dulu, Ma! Makanan sudah siap.”

Tanpa berkata sepatahpun, ibunya langsung duduk di meja makan yang telah riut itu, dan mengunyah beberapa suap nasi.

“Kenapa, Ma? Masakannya tidak enak?” tanya Mujid sambil makan dengan lahap, karena sejak malam, tak sebutir nasipun masuk ke perutnya. Walaupun lauknya ikan asin, namun ketika lapar dan tidak ada makanan lain, maka itulah yang paling nikmat bagi Mujid.

Ibunya tidak menjawab, hingga anaknya selesai makan. Usai mengisi perut, Mujid membersihkan dan merapikan meja makan, serta ingin mencuci gelas dan piring. Namun ibunya segera mencegah: “Tidak usah, Nak! Nanti saja mencucinya. Kita bicara dulu.”

Dengan tenang Mujid duduk di hadapan ibunya.

“Tadi Mama bicara dengan Pak Hamdan dan menceritakan semuanya. Tapi pamanmu tidak bersedia menolong,” kata Mama Mujid dengan sedih.

“Sudahlah, Ma! Kita cari cara yang lain saja,” jawab Mujid.
“Mama tidak tahu jalan apalagi. Satu-satunya harta peninggalan ayahmu selain rumah ini hanyalah sebidang tanah sawah. Kalau tanah itu dijual atau digadaikan saja, bagaimana menurutmu?”

“Tak usah, Ma! Tanah itu jangan sampai tergadai apalagi terjual. Dari lahan itulah selama ini kita dapat makan.”
“Tapi bagaimana lagi? Kalau kau tetap bersikukuh untuk sekolah, apa Mama harus menghiba pada pamanmu?”

“Jangan, Ma! Tidak baik minta belas kasihan makhluk. Seharusnya kita menghiba hanya kepada-Nya. Manusia hanya bisa melihat dan mendengar keluhan kita, namun belum tentu mau dan mampu menolong. Sedangkan Dia Yang Maha Pemurah, tidak pernah membiarkan seorang pengemis pergi dari pintu-Nya dengan tangan kosong. Hanya saja, kita tidak tahu di mana harus mengambil pemberian-Nya. Karena itu, kita harus berusaha mencarinya. Kalau Mama mengizinkan, Mujid akan cari kerja. Jika ada kelebihan dari hasil usaha, akan Mujid tabung untuk biaya sekolah.”

“Kau akan ke mana dan bekerja apa?” tanya ibunya.
“Saya akan pergi ke kota kabupaten. Di sana saya akan mencari kerja. Jika sudah dapat mengumpulkan uang tiga juta, saya akan berhenti kerja, terus melanjutkan sekolah.”

Sang ibu tafakkur teramat dalam. Di wajahnya tergambar kekhawatiran sekaligus harapan. Ia cemas mengingat usia anaknya yang belum dewasa, bagaimana bisa bekerja? Ia berharap, inilah satu-satunya jalan untuk mewujudkan impian anak semata wayangnya itu.

“Baiklah! Ibu setuju,” jawab ibunya sambil bangkit dari lamunannya. “Besok kau boleh berangkat. Tapi sebaiknya sore ini kamu temui Pak Ustadz Zarkasyi. Minta saran, nasehat dan doanya, di samping Ibu juga mendoakanmu.”
Diubah oleh Aboeyy
PART #1.5

Doa setelah shalat Ashar di masjid bagi Mujid terasa lebih panjang dari biasanya. Mungkin karena semangatnya yang menggebu-gebu untuk menemui Pak Ustadz Zarkasyi.

Mujid menceritakan cita-citanya, termasuk tentang kepelitan pamannya. Pak Ustadz tampak tertegun dan dengan tenang mendengarkannya. Dalam hati ia berkata: “Andaikan aku orang kaya, sampai ke manapun kau menuntut ilmu agama, pasti aku tanggung semua biayanya.”

“Bagus, Nak! Keinginanmu sangat mulia. Bapak turut mendoakan, semoga keinginanmu dikabulkan oleh-Nya. Kau jangan pesimis. Bapak dulu waktu ingin sekolah di pesantren juga sepertimu, terkendala biaya. Tapi Alhamdulillah Bapak dapat selesai sekolah dengan baik. Hanya satu hal Bapak nasehatkan: Jika cahaya ilmu telah menerangi hatimu, maka segeralah untuk mengambilnya. Sebab jika ia sudah padam, maka sangat susah untuk menyalakannya kembali. Ingat, bahwa setiap orang yang berniat menegakkan agama-Nya, maka pasti Dia akan melindunginya,” nasehatnya sambil menepuk-nepuk pundak Mujid.

“Terima kasih, Pak!” kata Mujid sambil mencium tangan ustadz sebagai tanda hormat.
“Oh, ya! Ini mungkin cukup untuk biaya berangkat besok,” kata ustadz sambil merogoh saku bajunya dan menyerahkan selembar uang sepuluh ribu rupiah. Mujid menerimanya dengan wajah berseri. Sekali lagi ia berterima kasih kepada ustadz itu, dan segera pamit. Pak Ustadz tetap berdiri di pintu masjid itu, hingga Mujid lenyap dari pandangannya.

Selepas shalat Maghrib, seperti biasanya suasana masjid itu diramaikan oleh suara anak-anak yang belajar mengaji dengan Bapak Imam Zarkasyi.

“Mujid, tolong gantikan Bapak mengajari anak-anak mengaji,” pinta Imam.
“Baik, Pak!” jawabnya tanpa keberatan.

Teman-teman Mujid rata-rata berusia 2 tahun lebih muda darinya. Pak Zarkasyi terlihat mengambil sebuah al-Quran dan membaca sendiri dengan suara lirih. Ia berhenti mengaji bersamaan dengan selesainya anak-anak belajar. Sementara waktu shalat Isya kira-kira masih 10 menit lagi.

“Anak-anak! Tadi Mujid mengajari kalian baca al-Quran menggantikan Bapak, sebagai kenang-kenangan. Sebab besok dia akan berangkat ke kota untuk mencari kerja agar dapat melanjutkan sekolah. Karena itu, setelah shalat Isya nanti, kita akan bersama-sama mendoakannya,” kata ustadz Zarkasyi.

Semua anak terdiam, mungkin karena terharu dan sedih, sebab akan berpisah dengan teman yang selama ini sering membantu, terutama dalam hal mengaji. Mereka baru bergeming dari tempat duduknya setelah mendengar bilal mulai mengumandangkan azan.

Solidaritas yang tinggi ditunjukkan oleh jamaah. Selesai shalat dan doa, jamaah, tanpa dikomando secara sukarela memberikan bantuan kepada Mujid.

“Insya Allah besok saya membantu,” kata seorang Bapak yang kebetulan tidak membawa uang. Mujid mengucapkan terima kasih kepada mereka sambil bersalaman.
Diubah oleh Aboeyy
PART #1.6


Malam itu, hampir separoh penduduk desa mengetahui rencana keberangkatan Mujid besok pagi. Kebanyakan mereka mengecam sikap pamannya yang terlalu pelit padahal cukup berduit. Berita itu telah sampai pula ke telinga Pak Hamdan dan anak-anaknya.

“Begitu seharusnya anak lelaki,” kata Pak Hamdan mengomentari berita itu. Istri dan anak-anaknya hanya diam, seolah-olah ikut mendukung sikap ayahnya itu. Kecuali Ahda, yang tampak kurang setuju dengan sikap ayahnya yang dinilainya keterlaluan terhadap sepupunya.

Pukul 7 pagi, tanpa diundang sejumlah warga berkerumun di halaman rumah yang berukuran 4x6 meter, yang dindingnya tidak dapat menyembunyikan apa yang yang ada di dalamnya. Mereka ingin melepaskan kepergian Mujid, termasuk ustadz Zarkasyi. Tidak ada keluarga dari pihak pamannya yang datang, kecuali Ahda yang sempat singgah sebentar untuk menyerahkan sebuah amplop kepada Mujid, dan terus berangkat ke sekolah. Kedatangan Ahda mengingatkan Mujid pada masa kecilnya.


Quote:


Melihat Mujid bagaikan anjing, keduanya girang. Pak Hamdan bukannya menegur kedua anaknya, malah ikut tertawa menikmati pemandangan itu. Hanya Ahda yang terkadang rela memberikan separoh atau keseluruhan kuenya.

Semula ibunya akan menjual sebagian padi sebagai bekal Mujid. Namun setelah menghitung jumlah uang pemberian masyarakat, rencana itu dibatalkan. Selain uang itu, ibunya membekalinya dengan sebuah cincin.

“Ini cincin kimpoi dari ayahmu. Kamu simpan saja, dan boleh dijual jika keadaan terpaksa! Tapi ingat! Jujurlah selalu pada dirimu sendiri,” kata ibunya dengan suara serak seperti menahan tangis sambil melepaskan sebuah cincin emas seberat 2 gram dari jari manis tangan kanannya.

Masyarakat dipersilakan masuk ke rumah itu. Lalu Ustadz Zarkasyi membacakan doa selamat. Jamaah mengamininya dengan khusyu’. Selesai mereka mengusap muka, Mujid menyalami satu persatu, sebagai pengganti makanan yang seharusnya disuguhkan.

Diubah oleh Aboeyy
Wih mangstav gan bikin thread di SFTH juga emoticon-Belo
Ane coba baca dulu emoticon-nulisah
Yup Bree, lagi coba2 bikin karya fiksi. Update-nya setiap malam/pagi.
Quote:


PART #1.7

Dilepas dengan lambaian tangan masyarakat yang bersimpati kepadanya, Mujid meninggalkan desanya menuju kota Kabupaten Hulu Sungai Utara. Ia diantar naik motor oleh seorang tetangga yang bersedia membebaskan biayanya.

Jarak sejauh 20 km itu seharusnya ditempuh dalam waktu kurang lebih setengah jam, namun baru sampai di tujuan selama satu setengah jam, karena terhambat oleh jalan yang mulai rusak.

Selama perjalanan, Mujid tiga kali menyaksikan masyarakat yang bergotong royong memperbaiki jalan yang berlubang. Di tepi ujung jalan, di sebelah kiri dan kanan, terlihat dua buah kotak bekas kardus Mie Instant, sebagai wadah sumbangan.


Quote:


Motor berhenti di Terminal Amuntai. Pemilik motor menurunkan tas Mujid, dan segera melaju pulang setelah Mujid mengucapkan terima kasih.
Diubah oleh Aboeyy
2. Menggapai Impian


PART #2.1


Iqamat shalat Zhuhur baru saja dikumandangkan. Sang imam sudah menempati posisinya. Ia tidak buru-buru mengucapkan takbiratul ihram, tapi berpaling ke arah makmum. Meminta jamaah meluruskan dan merapatkan shaf. Bagaikan seorang panglima perang yang sedang mengatur bala tentaranya.

Meniti Garis Takdir
Source: Rumaysho.com
Mujid yang baru tiba di kota, berhenti di muka masjid itu. Ia buru-buru masuk ke dalamnya, karena sang imam sudah mulai mengucapkan takbir. Dengan wudhu yang dilakukannya sebelum berangkat, ia masih memenuhi syarat untuk melakukan shalat. Begitulah Mujid, selalu membiasakan diri dalam keadaan berwudhu. Hal ini dilakukannya sejak ia mendengar cerita dari ustadz Zarkasyi, waktu ia mengaji dulu:

“Al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad, dalam Kitab Risalah al-Mu’awanah, menceritakan bahwa seseorang datang kepada Syekh Abul Hasan as-Syadzili untuk minta diajari tentang ilmu kimia. Beliau memenuhi permintaan tersebut dengan syarat ilmu kimia itu akan diajarkan setelah orang tersebut tinggal bersama beliau selama satu tahun, selalu berwudhu setiap kali berhadas, dan melakukan shalat sunnat wudhu dua rakaat setiap habis berwudhu. Setelah genap satu tahun, ketika orang itu mengambil air dari sumur, maka timbanya penuh berisi emas. Karena zuhud, emas itu ditumpahkan kembali ke dalam sumur, lalu ia mendatangi Syekh dan menceritakan kejadian tersebut. Syekh berkata: Sekarang seluruh tubuhmu telah menjadi kimia.”

Pintu masuk ke masjid itu bertepatan dengan barisan ketiga. Semua shaf terlihat sudah penuh, kecuali pada shaf pertama ada yang kosong dan kurang rapat. Seolah-olah jamaah di shaf kedua takut memasuki barisan pertama karena menganggap di sana khusus untuk orang-orang yang alim, atau minimal sudah bertitel haji. Mujid menyelinap di antara jamaah yang mulai berdiri untuk shalat. Dalam hati ia berkata: “Tidak haram melangkahi pundak orang lain, bahkan ‘wajib’ menginjaknya, kalau orang itu sengaja tidak mau mengisinya. Yang diharamkan adalah melangkahi pundak orang, untuk memasuki shaf yang sudah penuh.”
Diubah oleh Aboeyy
PART #2.2

Di pojok kiri belakang masjid itu udara terasa sejuk. Angin berhembus pelan dari arah Timur melintasi sungai. Di sana Mujid berbaring untuk melepaskan lelah, sambil berpikir apa yang akan dilakukan selanjutnya. Imam masjid yang pulang paling akhir, memandang ke arahnya, lalu mendekatinya:

“Kamu siapa, Nak?”
“Saya Mujid, Pak!”
“Dari mana?”
“Dari desa, dan baru tiba di sini.”

Lalu Mujid membuka identitas dirinya dan maksud kedatangannya. Sang Imam terlihat manggut-manggut. Ia melihat sinar kejujuran dan kesungguhan dari sinar mata Mujid. Dengan lembut ia berkata:

“Nak Mujid! Silakan beristirahat dulu di tempat Bapak. Kebetulan tidak jauh dari sini. Tuh rumahnya,” kata Bapak Imam sambil menunjuk rumah deretan keempat dari seberang jalan masjid itu.

“Kamu boleh tinggal di rumah Bapak selama belum dapat kerjaan dan tempat tinggal.”
“Terima kasih, Pak!” jawab Mujid.

Atas bantuan Pak Saleh, Bapak Imam itu, akhirnya Mujid mendapat pekerjaan di toko pakaian milik Pak Hasmi. Mujid menggantikan seorang pelayan toko itu yang dipecat karena mencuri, padahal baru 4 bulan bekerja.

Badri, pelayan yang dipecat itu, menurut dugaan Pak Hasmi sudah berulang kali melakukan pencurian, dan suatu hari tertangkap tangan ketika mengambil uang di laci kasir. Ketika diinterogasi, Badri tidak bisa mengelak. Ia mengaku baru sekali itu melakukan pencurian, dan jumlah uang yang dicuri hanya dua ratus ribu rupiah. Pemilik toko tidak percaya, karena merasa uang yang hilang mencapai jutaan rupiah, sekalipun Badri sudah bersumpah. Akhirnya Badri dipecat tanpa hormat, dan gaji bulan terakhir tidak dibayar, padahal esoknya seharusnya gajian. Pemilik toko menganggap, uang gaji itu sebagai pengganti duit yang dicuri.

Setelah kejadian itu, Pak Hasmi sangat selektif dalam memilih pelayan. Beberapa orang telah melamar, namun ditolaknya. Kalau bukan karena jaminan Pak Saleh, mungkin Mujid juga akan ditampik. Setelah Badri dipecat, Pak Hasmi hanya dibantu oleh anaknya, Yanto, yang berusia 18 tahun, yang suka berpakaian funk, berkulit putih dan bertubuh agak jangkung. Menurut Pak Hasmi, setelah tamat SD, Yanto sempat 2 tahun sekolah di pesantren.

Diubah oleh Aboeyy
mengingatkan pada masa kecil dimana tiap selesai magrib pasti anak2 tetangga suka pergi ke musola buat belajar ngaji dan ane pun yg non muslim suka ikut2an nemenin teman yg gaji
bahkan ikutan belajar iqro

keep update ya.

ane naksir ama cover nya kueeereen bnr.. bukit bintang bukan sih
PART #2.3


Hari pertama bekerja, Mujid menemukan uang kertas seribu rupiah di lantai. Ia memungut uang itu, dan menyerahkannya kepada pemilik toko. “Ini, Pak! Saya menemukan uang di lantai, mungkin milik Bapak tercecer atau uang pengunjung.”

Seminggu kemudian, ketika Mujid membersihkan rak kain, ia mendapatkan uang sepuluh ribu bawah rak itu. Tanpa berpikir panjang, ia menyerahkannya kepada Pak Hasmi.

Sebulan kemudian, ketika Mujid akan membuka toko, ia menemukan uang kertas lima puluh ribu rupiah dua lembar, tergulung agak kumal, di depan tokonya. Lagi-lagi ia menyerahkannya pada pak Hasmi. Akhirnya pemilik toko mulai yakin bahwa Mujid adalah anak yang jujur. Memasuki bulan kedua, gaji Mujid dinaikkan 50% menjadi tiga ratus ribu rupiah.

Suatu hari di bulan ketiga.

“Mujid! Siang ini ambil kain-kain yang ada di gudang, lalu pajang di depan toko.”
“Baik, Pak!” jawab Mujid tegas.

Ketika membuka bungkus gulungan kain di dalam gudang, Mujid menemukan uang kertas yang jumlahnya tertulis di sana Rp. 3.000.000,- terbungkus dalam plastik yang rapi, terselip di atas perekat label merek kain. Di sana terdapat pula tulisan, “Selamat, Anda Mendapatkan Hadiah.”

Mujid mulai tergoda. Tanpa berpikir panjang, uang itu dimasukkannya ke dalam saku celananya. Sambil terus membuka bungkusan gulungan kain, dan memajangnya di depan toko, Mujid tidak henti-hentinya berpikir tentang uang itu.

“Kalau uang ini kuambil, Pak Hasmi tidak akan tahu. Ini pasti bukan uang Pak Hasmi, sebab uang ini kutemukan dalam gulungan kain yang masih terbungkus, dan ada tulisan hadiah dari perusahaan kain. Berarti uang ini hadiah bagi yang beruntung membeli gulungan kain ini. Karena itu, kain ini akan kubeli. Harganya cuma tiga ratus ribu rupiah. Jadi, aku masih dapat untung dua juta tujuh ratus ribu rupiah. Secara fiqih, hal ini sah. Tuh, aku tidak mencuri, tapi membeli. Dengan uang sejumlah ini, aku bisa melanjutkan sekolah, dan berhenti kerja. Gajiku sekarang cuma tiga ratus ribu rupiah perbulan. Jadi, untuk dapat uang sejumlah ini, aku harus kerja di sini minimal 10 bulan. Kalau gaji itu hanya 50% yang dapat kutabung, berarti aku harus kerja kurang lebih 20 bulan,” bisik nafsunya.

Ketika sudah bulat tekad Mujid untuk mengambil uang itu, dan memutuskan untuk berhenti bekerja, tiba-tiba ia teringat pesan ibunya, “Kamu harus jujur terhadap dirimu sendiri.”

“Apa yang harus kukatakan, jika mama bertanya darimana aku dapat uang ini? Jika aku terus terang, berarti aku tidak jujur terhadap diri sendiri. Walaupun uang ini halal menurut fiqih, namun tetap haram menurut tasawuf, sebab aku tidak jujur pada diri sendiri. Kain ini kubeli karena aku tahu ada uang di dalamnya. Andaikan aku tidak tahu adanya uang ini, lalu membelinya, itu baru halal. Pak Hasmi sendiri pasti tidak akan menjual kain ini kalau ia tahu ada uang jutaan rupiah di dalamnya. Karena itu, aku harus beritahukan uang ini kepada Pak Hasmi. Hukum asal uang ini adalah miliknya, sebab dialah yang membeli dan memiliki kain ini. Kalau memang uang ini rezekiku, maka dia pasti akan memberikannya kepadaku,” kata Mujid dalam hati membantah bisikan jahat itu.

To be continue>>>
Diubah oleh Aboeyy
Yap, cerita ini terinspirasi kehidupan Ane pada masa kecil, terus ditambah dengan pereistiwa2 yg pernah dlihat dan didengar, disertai beberapa penambahan imagi.

Foto kovernya diambil dai Google, terus diedit dgn sotosop.
Quote:


jadi keinget dulu waktu masih belum tau apa-apa tentang huruf hijaiyah, tajwid dll
emoticon-Shakehand2
Di tunggu update selanjutnya gan

Ini cerita yang saya tunggu di sfth, dari dulu saya senang baca sfth karna banyak slcerita menarik tapi entah kenapa sekarang malah banyak trit horror yang membuat minat baca saya turun

Semangat updatenya gan
Tq atas apresiasinya.

Quote:


Quote:


Halaman 1 dari 5


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di