- Beranda
- Komunitas
- Entertainment
- The Lounge
Warisan Opo Toar di Tanah Malesung
TS
dewaagni
Warisan Opo Toar di Tanah Malesung
Warisan Opo Toar di Tanah Malesung
Tona'as Walian menjadi tradisi yang mencerminkan bagian dari sistem kepercayaan purba masyarakat asli Sulawesi Utara. Pada era modern, eksistensinya makin termarginalkan. Yang tersisa dan dibutuhkan adalah praktik penyembuhan secara magis.
Mempertahankan budaya leluhur telah menjadi pilihan hidup Johanis Pontoan. Lelaki paruh baya itu menjadi praktisi budaya tua dari Tanah Malesung, Minahasa, lebih dari empat dasawarsa. Di masa kini, dia satu dari beberapa walian tersisa dari sub-etnis Tombulu yang terserak di bawah kaki Gunung Lokon.
Dalam kultur orang Minahasa purba, etnis terbesar di Sulawesi Utara, kemampuan Tona'as Walian dipercaya lebih tinggi daripada tona'as. Walian adalah kaum pendeta pemimpin ritual keagamaan. Kelompok ini memiliki kemampuan khusus untuk mengobati atau "menganugerahi" kebal fisik pada seseorang. Sambil memegang batang berdaun tanaman tawa'ang, para walian menggunakan medium air, batu, hingga akar-akar pohon dalam menjalankan misi spiritualnya.
Kemampuan itu diturun-temurunkan pada Johny, sapaan akrab Johanis Pontoan, oleh pamannya. Ditemui di kediamannya, Kelurahan Tara-tara Kota Tomohon, medio Juni lalu, Johny tengah mempraktikkan pengobatan khas Minahasa tua pada seorang lelaki yang mengaku anaknya mendapat gangguan saat bekerja di luar daerah. Dia meminta lelaki itu membawa lima buah jeruk swanggi. "Ilmu ini saya dapat untuk menolong, bukan membuat susah orang," kata Johny pada Gatra.
Praktik budaya yang membawanya menjadi walian sudah ditekuni sejak berumur 12 tahun. Kini di usia ke-53, kemampuannya terasah matang. Penyakit yang dia obati biasanya adalah penyakit "kiriman". Beberapa tahun silam, pernah juga Johny memimpin ritus perkimpoian dalam ragam budaya Minahasa. 'Menjadi walian adalah panggilan jiwa buat saya, bisa menyembuhkan orang juga berarti saya ikut menjaga budaya Minahasa tetap hidup dan diyakini kemampuannya," ujarnya.
Tiap-tiap walian punya kekhususan dalam menjalankan ritual. Ada yang bisa memanggil dan menerjemahkan bahasa burung Manguni. Sedangkan kemampuan Johny adalah berinteraksi langsung dengan leluhur. Roh leluhur bisa menempati raganya untuk menjalin komunikasi dengan orang di sekitar. Bagi yang sakit, roh orangtua nantinya akan memberikan petunjuk soal tata cara pengobatan. Leluhur juga akan memberikan batu pegangan yang bisa memberi kesaktian kebal. Kemampuan Johny biasa disebut paka'ampetan.
Walau banyak pelaku agama purba Minahasa, tak semua serta-merta menjadi walian. Dalam skala berbeda, mereka bisa disebut tona'as. Menurut Johny, di masa lalu, tona'as adalah bagian penting dalam struktur sosial di suatu wanua atau desa. Kendati kemampuan mereka tidak selengkap walian, tona'asjuga bisa ikut membuat obat-obatan, menganugerahi penjaga diri, menjadi ahli cocok tanam serta ahli dodeso atau perangkap binatang. Para tona'as akan berperang bila wanua-nya diserang orang luar.
Dari mana kemampuan para walian dan tona'as berasal? Johny meyakini ini adalah warisan Opo Toar, leluhur pertama orang Minahasa. Ilmu itu diturunkan pertama kali pada turunan Opo Toar dan Lumimuut, yakni leluhur sub-etnis Temboan, Tombulu dan Tounsea. Kanuragan itu, diyakini sesuai dengan ajaran yang dia terima dari sebuah Zat yang menguasai alam semesta.
Kuasa itu bukan mirip sistem dewa-dewi dari suku bangsa lain. Johny menyebut, dalam praktik agama purba, orang Minahasa telah mengenal Tuhan. "Ilmu pengobatan dan kesaktian diajarkan oleh Opo Toar secara turun-temurun ke semua keturunannya orang Minahasa, namun yang terpenting semuanya itu merupakan pemberian Opo Empung Wailan atau Tuhan yang menciptakan langit dan bumi," kata Johny.
Lirik doa walian dalam seluruh ritual menunjukkan keberadaan kuasa yang lebih tinggi dari akal manusia. Salah satunya dalam awal permohonan mengobati: “Tali-talingan ni Opo Empung Wailan Wananatas, niaku Tona'as Walian mengopei wianiko Ni Opo Empung Wailan Wananatas, niaku mower umpanawar wia si puyun kararawoi (Tuhan yang Maha Tinggi, saya Tona'as Walian meminta kepada Tuhan yang Mahatinggi untuk mengobati cucu yang sakit).”
Kemampuan walian maupun tona'as merapal doa ternyata berada di luar batas nalar manusia. Lirik demi lirik tak pernah tertulis secara khusus dalam bentuk buku yang diwariskan. Itu, menurut Johny, dibisikkan oleh para leluhur yang kemudian terhafal dengan sendirinya. "Tidak ada catatan khusus, roh orangtua yang langsung menyampaikannya kepada kami dan kemudian terhafal," katanya.
Berbagai ritual itu juga tidak pernah terlepas dengan salib. Simbolisasi karya keselamatan Kristus itu selalu terlihat dalam bendera maupun vandel yang digunakan saat upacara kebudayaan. Namun Johny membantah simbol salib merupakan sinkritisme antara budaya Minahasa dan agama Kristen yang dianut orang Minahasa. Dia bertutur, salib adalah tanda yang diajarkan oleh Opo Toar. Salib, menurutnya, merupakan simbolisasi Tuhan yang menciptakan langit dan bumi.
***
Steven Maramis, salah satu praktisi budaya tua Minahasa, mengatakan banyak tantangan yang dihadapi di masa sekarang. Ini ketika budaya lokal bertabrakan dengan agama yang dianut masyarakat menghasilkan stigma negatif yang dilekatkan pada kaum tona'as dan walian. Beberapa praktisinya, menurut Steven, bahkan mengalami pengucilan, dijauhi warga sekitar tempat tinggal. Juga difitnah karena dianggap menjadi pembawa bala.
"Secara moril, pelaku budaya terintimidasi oleh anggapan sebagai tukang jampi yang bergaul dengan roh jahat, sesuatu yang dalam ajaran agama harus dijauhi, tapi pada kenyataannya tetap saja banyak orang yang menemui tona'asketika sakit," kata Steven.
Bagi dia, praktik tona'as dan walian harus dipertahankan. Pertama, budaya khas orang Minahasa ini patut dilestarikan. Kedua, walian bisa ikut mengobati, yang membuat tugasnya tidak berbeda dengan tenaga medis. "Budaya Minahasa tua ini tetap menjadi kebutuhan, apalagi kalau budaya itu sebenarnya sesuatu yang berguna semisal berfungsi mengobati," sebut dia.
Praktik budaya yang tersebar di Kabupaten Minahasa induk, Minahasa Tenggara, Kota Tomohon, Minahasa Selatan, Minahasa Utara, bahkan Kota Bitung ini tetap diperlakukan sama dengan pemeluk agama arus utama. Hak-hak mereka dalam sisio-kultur masyarakat tetap terpenuhi. Status di KTP pun mencantumkan mereka sebagai pemeluk agama yang diakui negara. "Sesungguhnya yang menjadi pelaku budaya tua Minahasa adalah pemeluk agama juga, jadi itu pula yang dicantumkan di kartu identitas, kami ikut datang di ibadah dan sembahyang pada Tuhan dan tentu saja mengimani Tuhan dalam kehidupan sehari-hari," dia menandaskan.
Namun, karena ini menyangkut budaya, bagi Steven pengakuan pemerintah untuk menjadikan praktik Tona'as Walian sebagai aliran penghayat resmi belum dibutuhkan. Karena, kata dia, pemerintah sudah memberikan perhatian berupa kebebasan menjalankan ritual. Itu merupakan upaya pelestarian budaya asli Minahasa. "Tergantung kita memandangnya dari sisi mana, kita masing-masing punya agama, tapi juga ada budaya di bagian lain yang tidak bisa dipisahkan dengan entitas orang Minahasa," sebut Patrick Rende, warga Desa Leilem, Minahasa.
***
Akademisi Katolik Pastor Dr. Paul Richard Renwarin, Pr., ikut mendalami budaya Minahasa. Pengajar Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng di Minahasa itu membedakan waliansebagai peran sosial di tengah masyarakat Minahasa tua. "Walian berasal dari kata wali, artinya pengantar. Mereka lebih sebagai pembimbing spiritual, mereka menjalankan social role," sebut Richard. Sementara itu, tona'as lebih kepada gelar yang disematkan masyarakat kepada sosok yang unggul. Etimologinya berasal dari kata tou yang artinya orang dan ta'as,artinya unggul.
Tona'as dan walian tidak serta merta adalah pemimpin secara keseluruhan. Tak mengherankan, struktur masyarakat Minahasa purba tidak mengenal sistem monarki. "Para tona'aspunya keunggulan di berbagai bidang. Ada yang pawang binatang, menyembuhkan orang sakit, mengarahkan pembangunan, membaca perubahan cuaca. Dengan spesialisasi di masing-masing bidang menjadi pemuka di tengah masyarakat tapi tidak ada yang menjadi raja, ini membuat orang Minahasa banyak pemimpinnya. Jadi sistemnya big men," sebut dia.
Kini, sebagian orang Minahasa modern mempersempit peran Tona'as Walian sebagai tukang mengobati. Walau kedengarannya baik, terkandung stigma negatif di dalamnya. Tona'as dan walian dianggap sebagai dukun yang mempraktikkan ilmu gaib. Tugas-tugas mereka di tengah masyarakat mulai terganti ketika agama Kristen masuk tanah Minahasa. Upaya pekabaran Injil salah satunya dilakukan dari pendekatan pendidikan dan agama yang memiliki identitas baru. 'Sehingga peran tona'as dan walian diganti oleh sosok-sosok yang telah mendapat pendidikan formal," kata Richard.
Mempelajari budaya Minahasa serta agama purbanya, Richard menemukan figur Opo Empung Wailan dalam doa-doa para Tona'as Walian sejatinya bukan Sang Pencipta. Figur itu menurut dia jamak dan benar-benar merujuk pada leluhur atau para pendahulu. Istilah opo berasal dari kata pu dari rumpun Astronesia, yang artinya dihormati. Kata itu dengan pengertian persis sama pula digunakan masyarakat daerah-daerah lain di Indonesia, seperti apo, puan, ompung, opung, dan empu. Istilah ini bahkan ditemukan mulai dari Fiji, masuk ke Maluku, Kalimantan, Jawa, hingga Sumatera.
"Jadi Pahopoan di Minahasa adalah kelompok yang diluhurkan, yang disembah berdasarkan kategori keilahian, dan bukan pada sosok yang esa. Leluhur adalah sosok terdahulu yang dianggap memulai segala sesuatu. Nanti ketika Kekristenan hadir, maka agama memiliki identitas baru di mana paradigma itu dirombak mengacu cuma pada satu saja yang bisa disembah," Richard menjelaskan.
Simbol-simbol Kristen seperti salib dan pemakaian ayat Alkitab dalam prosesi dan ritual ditemukan Richard sebagai upaya pemberi legitimasi dalam praktik budaya kelompok tona'as dan walian di era modern. Alkitab tidak digunakan sebagai bacaan, melainkan lebih berfungsi sebagai wahana meramal. Simbol salib digunakan untuk membuat ritual menjadi lebih bergengsi. Ini menurutnya bisa disebut sinkretisme. Dalam ritual tradisi, simbolisasi agama monoteisme sesungguhnya bukan substansi, melainkan lebih sebagai aksesori
Kepercayaan dalam budaya asli Minahasa ini, lanjut Richard, tidak bakal lekang dimakan zaman, selama masih ada kelompok dan individu yang mempraktikkannya. Prosesnya berjalan dinamis, bahkan meluap di waktu-waktu tertentu yang mempengaruhi hajat hidup masyarakat. Dia ingat, pada 1998, ketika negara dilanda krisis ekonomi, dari Minahasa justru bermunculan tona'as-tona'as muda.
Agama dan budaya adalah sesuatu yang berbeda. Richard pernah ikut memimpin ritual pemindahan waruga (kubur kuno orang Minahasa). Langkahnya ini sempat mendapat penentangan dari pemuka agama. Namun bagi dia, ada perbedaan besar antara menghormati dan menyembah. "Dari pada mempertentangkan, kami kemudian lebih memilih untuk mempelajarinya," cetus rohaniawan yang mempelajari antropologi budaya di Universitas Leiden Belanda, itu.
Dalam mendalami budaya Minahasa, banyak kesulitan yang dia temui. Penyebabnya tidak banyak peninggalan berbentuk tulisan untuk menggali kisah-kisah masa lalu. Yang paling tua adalah tulisan Gubernur Jenderal Ternate abad ke-17 yang menyempatkan diri mampir ke Tanah Malesung. Namun tidak banyak yang bisa didapat dari catatan perjalanan tersebut.
Selebihnya, orang Minahasa mewariskan sejarahnya lewat tuturan. Belum ada upaya arkeologi yang secara detail mengungkap arti simbol-simbol purba di situs peninggalan sejarah Batu Pinabetengen. Lokasi di Desa Kiawa Minahasa ini diakui merupakan tempat pertemuan para Tona'as di masa lalu untuk mengambil berbagai keputusan menyangkut kemaslahatan rakyat.
Kepercayaan terhadap batu yang sering menjadi jimat kebal bagi pelaku budaya, menurut Richard, harus didalami dari pendekatan semiotika karena standar yang digunakan berbeda dengan ilmu-ilmu fisika. Hingga kini masih banyak orang Minahasa yang meminta jimat batu pada tona'as sebagai pegangan. Dari berbagai fakta yang terjadi di tengah masyarakat modern, tampak jelas pemegang jimat batu memang kebal senjata tajam. Bagi Richard, memang ada unsur misterius yang mengitari budaya Minahasa.
***
Sejarawan dan budayawan Sulawesi Utara, Dr. Ivan R.B. Kaunang, Mhum, menamakan kepercayaan tua bangsa Minahasa dengan sebutan agama Foso atau Poso. "Fosoberarti larangan, jadi artinya kepercayaan yang berkaitan dengan larangan-larangan," kata pengajar di Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Sam Ratulangi, Manado, itu. Memang untuk mendalami kearifan budaya Minahasa, ada banyak larangan dan pantangan. Proses itu juga tampak saat seseorang ingin memiliki jimat batu. Ada beberapa fase pengendalian diri yang harus dilalui seperti tidak main perempuan, tidak makan daging, dan sebagainya.
Ivan ikut mengungkap, salah satu tugas utama walian yaitu mengorai. Dalam praktiknya, kata Ivan, walian akan melantunkan kisah-kisah tentang leluhur. Lewat syair-syairnya, ikut juga muncul persoalan etika dan aturan yang wajib dilakukan. Dalam catatan Nicholas Graafland, misionaris Eropa yang singgah di Manado pada abad ke-19, interaksi masyarakat Minahasa dengan agama Kristen membuat kerja walian menjadi tidak populis. "Semakin lama akan menjadi konflik opini di tengah masyaraka,t misalnya siapa yang layak disebut pendeta, apakah walian atau pemuka agama di gereja," ujar Ivan.
Praktik budaya para Tona'as Walian sempat mencuat di masa pergolakan Permesta (Perjuangan Rakyat Semesta) di Sulut antara 1957-1961. Kala itu, jimat oleh sebagian prajurit Permesta dianggap sebagai pegangan wajib saat bertempur melawan tentara pusat. Maka para Tona'as Walian menjadi sumber untuk mendapatkan batu atau akar bertuah yang diyakini memiliki efek kebal. Medium itu biasanya dipakai sebagai mata cincin dan kalung, hingga diikatkan melingkar perut dalam kain berwarna merah (ika puru/ikat perut). "Praktik itu situasional saja, seperti era Permesta," Ivan menyebutkan.
Menyoal pemilik kuasa tertinggi dalam syair doa, menurut Ivan, harus dibedakan antara Opo dan Opo Empung. Opo adalah leluhur. Tapi Opo Empung mengacu pada Tuhan, yang menciptakan alam. Catatan Blas Palamino, paderi Spanyol yang berada di Manado, Kali, Kakaskasen, Tomohon, Sarongsong, Tombariri, Tondano, dan Kema pada tahun 1600-an, menyebut ada tiga tuhan yang disembah orang Minahasa masa lalu, yaitu: Empung Renga-rengaan, Empung Wailan Wangko, dan Amang Kasuruan. Kini hal itu diyakini hanya satu Tuhan saja dengan variasi penyebutan yang berbeda. Sehingga Ivan menyebut tidak ada dewa-dewa dalam kepercayaan kuno di Minahasa.
Dalam hubungan dengan kepercayaan ini pula, budaya orang Minahasa juga mengakui peran penting burung Manguni. Beberapa sub-etnik menyebutnya Totoosik dan diyakini sebagai binatang pembawa pesan yang menjembatani manusia dan Yang Mahakuasa. Menurut Ivan, kisah-kisah masa lalu menceritakan bahwa Manguni adalah burung peliharaan Opo Mamarimbing.
Lewat suara burung Manguni, para walian bisa mendapat petunjuk soal gejala alam, menanam, menebang di hutan, membangun rumah, dan yang lainnya. "Begitu penting makna Manguni sampai menjadi lambang Gereja Masehi Injili di Minahasa. Bagi orang lain itu adalah burung hantu, tapi bagi bangsa Minahasa itu adalah Manguni, si pembawa pesan," dia menerangkan.
G.A. Guritno dan Ady Putong
***
Toar-Lumimuut, Leluhur Pertama Orang Minahasa
Tidak ada catatan resmi peninggalan purba soal Toar dan Lumimuut, pasangan yang diyakini sebagai bapa-ibunya orang Minahasa. Kisah soal keduanya diturunkan secara lisan dan secara sosial telah menjadi perekat antar-sesama kawanua. Orang Minahasa yang berdiaspora ke penjuru dunia akan selalu mengidentifikasi dirinya sebagai turunan Toar-Lumimuut.
Penutur modern mengklasifikasikan kisah ini sebagai the origin myth of Minahasa, mitos asli dari Tanah Minahasa. Secara garis besar, mite ini tersentral pada tiga tokoh: Karema, Toar, dan Lumimuut. Kisah ini bermula dari kehadiran perempuan cantik bernama Karema di Pegunungan Wulur Mahatus. Konon, Karema dipercaya tercipta dari batu karang di pegunungan itu.
Saat Karema berdoa pada sang pencipta untuk meminta teman, dari batu karang lain tercipta juga perempuan bernama Lumimuut. Karema menganggap Lumimuut sebagai putrinya sendiri. Sebuah upacara yang dilakukan Karema bisa membuat Lumimuut hamil, hingga tiba saatnya melahirkan seorang putra yang diberi nama Toar.
Anak Lumimuut tumbuh cepat dan perkasa. Saat Toar semakin dewasa, Karema menyuruh Toar dan Lumimuut melakukan pengembaraan terpisah. Karema memberikan batang pohon tuis pada Toar, sementara Lumimuut diberi batang pohon tawa'ang. "Kalau nanti dalam pengembaraan kalian bertemu seseorang, baik pria maupun wanita membawa tongkat seperti ini, bandingkanlah dengan tongkat kalian. Kalau tongkat kalian sama panjang, berarti kalian masih terikat keluarga. Akan tetapi, bila tongkat itu berbeda dan tidak lagi sama panjang, kalian boleh membentuk rumah tangga," amanat Karema mengiring perjalanan Toar ke sisi Utara dan Lumimuut ke Selatan.
Tuis di tangan Toar bertambah panjang, tetapi Tawa'ang di tangan Lumimuut tetap seperti biasa. Hingga akhirnya suatu masa ibu dan anak ini bertemu. Sesuai amanat Karema, mereka pun membandingkan tongkat masing-masing. Ternyata, tongkat mereka tidak sama panjang lagi sehingga upacara pernikahan pun dilaksanakan di puncak Gunung Lolombulan.
Seusai menikah, Toar-Lumimuut tidak pernah lagi menemukan Karema. Keduanya kemudian menetap di pegunungan yang dipenuhi pohon bambu. Keturunan Toar-Lumimuut adalah kembar sembilan atau makarua siouw. Keturunan keduanya bertambah banyak dan terserak di seantero Minahasa.
Dr. Ivan R.B. Kaunang, MHum, pernah meneliti mite Toar-Lumimuut. Dia melakukan ekspedisi ke Pegunungan Wulur Mahatus di perbatasan antara Minahasa dan Kabupaten Bolaang Mongondouw. Ivan menanyakan kepada warga setempat bagian mana yang tertinggi dari Wulur Mahatus, yang artinya seratus gunung. Menurut cerita, di situlah awal tempat tinggal Karema, Toar, dan Lumimuut. Lewat berbagai penelitian, Ivan mendapat bukti-bukti ilmiah bahwa benar Toar-Lumimuut adalah sosok yang pernah hidup.
Konon sistem kemasyarakatan Minahasa purba ikut diatur leluhur Toar berdasarkan petunjuk Karema dan Lumimuut, yakni Golongan Makarua Siouw, Golongan 3x7 atau Makatelu Pitu. Selanjutnya Golongan 9x9x9 atau Pasiouwan Telu. Pengambilan keputusan dijalankan berdasarkan azas musyawarah. Bangsa Minahasa dikenal dengan sembilan sub-etnis, yaitu Tonsea, Tombulu, Tontemboan, Tondano, Tonsawang, Ratahan-Pasan, dan Ponosakan, ditambah Babontehu dan Bantik.
Ady Putong
***
Tona'as Walian menjadi tradisi yang mencerminkan bagian dari sistem kepercayaan purba masyarakat asli Sulawesi Utara. Pada era modern, eksistensinya makin termarginalkan. Yang tersisa dan dibutuhkan adalah praktik penyembuhan secara magis.
Mempertahankan budaya leluhur telah menjadi pilihan hidup Johanis Pontoan. Lelaki paruh baya itu menjadi praktisi budaya tua dari Tanah Malesung, Minahasa, lebih dari empat dasawarsa. Di masa kini, dia satu dari beberapa walian tersisa dari sub-etnis Tombulu yang terserak di bawah kaki Gunung Lokon.
Dalam kultur orang Minahasa purba, etnis terbesar di Sulawesi Utara, kemampuan Tona'as Walian dipercaya lebih tinggi daripada tona'as. Walian adalah kaum pendeta pemimpin ritual keagamaan. Kelompok ini memiliki kemampuan khusus untuk mengobati atau "menganugerahi" kebal fisik pada seseorang. Sambil memegang batang berdaun tanaman tawa'ang, para walian menggunakan medium air, batu, hingga akar-akar pohon dalam menjalankan misi spiritualnya.
Kemampuan itu diturun-temurunkan pada Johny, sapaan akrab Johanis Pontoan, oleh pamannya. Ditemui di kediamannya, Kelurahan Tara-tara Kota Tomohon, medio Juni lalu, Johny tengah mempraktikkan pengobatan khas Minahasa tua pada seorang lelaki yang mengaku anaknya mendapat gangguan saat bekerja di luar daerah. Dia meminta lelaki itu membawa lima buah jeruk swanggi. "Ilmu ini saya dapat untuk menolong, bukan membuat susah orang," kata Johny pada Gatra.
Praktik budaya yang membawanya menjadi walian sudah ditekuni sejak berumur 12 tahun. Kini di usia ke-53, kemampuannya terasah matang. Penyakit yang dia obati biasanya adalah penyakit "kiriman". Beberapa tahun silam, pernah juga Johny memimpin ritus perkimpoian dalam ragam budaya Minahasa. 'Menjadi walian adalah panggilan jiwa buat saya, bisa menyembuhkan orang juga berarti saya ikut menjaga budaya Minahasa tetap hidup dan diyakini kemampuannya," ujarnya.
Tiap-tiap walian punya kekhususan dalam menjalankan ritual. Ada yang bisa memanggil dan menerjemahkan bahasa burung Manguni. Sedangkan kemampuan Johny adalah berinteraksi langsung dengan leluhur. Roh leluhur bisa menempati raganya untuk menjalin komunikasi dengan orang di sekitar. Bagi yang sakit, roh orangtua nantinya akan memberikan petunjuk soal tata cara pengobatan. Leluhur juga akan memberikan batu pegangan yang bisa memberi kesaktian kebal. Kemampuan Johny biasa disebut paka'ampetan.
Walau banyak pelaku agama purba Minahasa, tak semua serta-merta menjadi walian. Dalam skala berbeda, mereka bisa disebut tona'as. Menurut Johny, di masa lalu, tona'as adalah bagian penting dalam struktur sosial di suatu wanua atau desa. Kendati kemampuan mereka tidak selengkap walian, tona'asjuga bisa ikut membuat obat-obatan, menganugerahi penjaga diri, menjadi ahli cocok tanam serta ahli dodeso atau perangkap binatang. Para tona'as akan berperang bila wanua-nya diserang orang luar.
Dari mana kemampuan para walian dan tona'as berasal? Johny meyakini ini adalah warisan Opo Toar, leluhur pertama orang Minahasa. Ilmu itu diturunkan pertama kali pada turunan Opo Toar dan Lumimuut, yakni leluhur sub-etnis Temboan, Tombulu dan Tounsea. Kanuragan itu, diyakini sesuai dengan ajaran yang dia terima dari sebuah Zat yang menguasai alam semesta.
Kuasa itu bukan mirip sistem dewa-dewi dari suku bangsa lain. Johny menyebut, dalam praktik agama purba, orang Minahasa telah mengenal Tuhan. "Ilmu pengobatan dan kesaktian diajarkan oleh Opo Toar secara turun-temurun ke semua keturunannya orang Minahasa, namun yang terpenting semuanya itu merupakan pemberian Opo Empung Wailan atau Tuhan yang menciptakan langit dan bumi," kata Johny.
Lirik doa walian dalam seluruh ritual menunjukkan keberadaan kuasa yang lebih tinggi dari akal manusia. Salah satunya dalam awal permohonan mengobati: “Tali-talingan ni Opo Empung Wailan Wananatas, niaku Tona'as Walian mengopei wianiko Ni Opo Empung Wailan Wananatas, niaku mower umpanawar wia si puyun kararawoi (Tuhan yang Maha Tinggi, saya Tona'as Walian meminta kepada Tuhan yang Mahatinggi untuk mengobati cucu yang sakit).”
Kemampuan walian maupun tona'as merapal doa ternyata berada di luar batas nalar manusia. Lirik demi lirik tak pernah tertulis secara khusus dalam bentuk buku yang diwariskan. Itu, menurut Johny, dibisikkan oleh para leluhur yang kemudian terhafal dengan sendirinya. "Tidak ada catatan khusus, roh orangtua yang langsung menyampaikannya kepada kami dan kemudian terhafal," katanya.
Berbagai ritual itu juga tidak pernah terlepas dengan salib. Simbolisasi karya keselamatan Kristus itu selalu terlihat dalam bendera maupun vandel yang digunakan saat upacara kebudayaan. Namun Johny membantah simbol salib merupakan sinkritisme antara budaya Minahasa dan agama Kristen yang dianut orang Minahasa. Dia bertutur, salib adalah tanda yang diajarkan oleh Opo Toar. Salib, menurutnya, merupakan simbolisasi Tuhan yang menciptakan langit dan bumi.
***
Steven Maramis, salah satu praktisi budaya tua Minahasa, mengatakan banyak tantangan yang dihadapi di masa sekarang. Ini ketika budaya lokal bertabrakan dengan agama yang dianut masyarakat menghasilkan stigma negatif yang dilekatkan pada kaum tona'as dan walian. Beberapa praktisinya, menurut Steven, bahkan mengalami pengucilan, dijauhi warga sekitar tempat tinggal. Juga difitnah karena dianggap menjadi pembawa bala.
"Secara moril, pelaku budaya terintimidasi oleh anggapan sebagai tukang jampi yang bergaul dengan roh jahat, sesuatu yang dalam ajaran agama harus dijauhi, tapi pada kenyataannya tetap saja banyak orang yang menemui tona'asketika sakit," kata Steven.
Bagi dia, praktik tona'as dan walian harus dipertahankan. Pertama, budaya khas orang Minahasa ini patut dilestarikan. Kedua, walian bisa ikut mengobati, yang membuat tugasnya tidak berbeda dengan tenaga medis. "Budaya Minahasa tua ini tetap menjadi kebutuhan, apalagi kalau budaya itu sebenarnya sesuatu yang berguna semisal berfungsi mengobati," sebut dia.
Praktik budaya yang tersebar di Kabupaten Minahasa induk, Minahasa Tenggara, Kota Tomohon, Minahasa Selatan, Minahasa Utara, bahkan Kota Bitung ini tetap diperlakukan sama dengan pemeluk agama arus utama. Hak-hak mereka dalam sisio-kultur masyarakat tetap terpenuhi. Status di KTP pun mencantumkan mereka sebagai pemeluk agama yang diakui negara. "Sesungguhnya yang menjadi pelaku budaya tua Minahasa adalah pemeluk agama juga, jadi itu pula yang dicantumkan di kartu identitas, kami ikut datang di ibadah dan sembahyang pada Tuhan dan tentu saja mengimani Tuhan dalam kehidupan sehari-hari," dia menandaskan.
Namun, karena ini menyangkut budaya, bagi Steven pengakuan pemerintah untuk menjadikan praktik Tona'as Walian sebagai aliran penghayat resmi belum dibutuhkan. Karena, kata dia, pemerintah sudah memberikan perhatian berupa kebebasan menjalankan ritual. Itu merupakan upaya pelestarian budaya asli Minahasa. "Tergantung kita memandangnya dari sisi mana, kita masing-masing punya agama, tapi juga ada budaya di bagian lain yang tidak bisa dipisahkan dengan entitas orang Minahasa," sebut Patrick Rende, warga Desa Leilem, Minahasa.
***
Akademisi Katolik Pastor Dr. Paul Richard Renwarin, Pr., ikut mendalami budaya Minahasa. Pengajar Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng di Minahasa itu membedakan waliansebagai peran sosial di tengah masyarakat Minahasa tua. "Walian berasal dari kata wali, artinya pengantar. Mereka lebih sebagai pembimbing spiritual, mereka menjalankan social role," sebut Richard. Sementara itu, tona'as lebih kepada gelar yang disematkan masyarakat kepada sosok yang unggul. Etimologinya berasal dari kata tou yang artinya orang dan ta'as,artinya unggul.
Tona'as dan walian tidak serta merta adalah pemimpin secara keseluruhan. Tak mengherankan, struktur masyarakat Minahasa purba tidak mengenal sistem monarki. "Para tona'aspunya keunggulan di berbagai bidang. Ada yang pawang binatang, menyembuhkan orang sakit, mengarahkan pembangunan, membaca perubahan cuaca. Dengan spesialisasi di masing-masing bidang menjadi pemuka di tengah masyarakat tapi tidak ada yang menjadi raja, ini membuat orang Minahasa banyak pemimpinnya. Jadi sistemnya big men," sebut dia.
Kini, sebagian orang Minahasa modern mempersempit peran Tona'as Walian sebagai tukang mengobati. Walau kedengarannya baik, terkandung stigma negatif di dalamnya. Tona'as dan walian dianggap sebagai dukun yang mempraktikkan ilmu gaib. Tugas-tugas mereka di tengah masyarakat mulai terganti ketika agama Kristen masuk tanah Minahasa. Upaya pekabaran Injil salah satunya dilakukan dari pendekatan pendidikan dan agama yang memiliki identitas baru. 'Sehingga peran tona'as dan walian diganti oleh sosok-sosok yang telah mendapat pendidikan formal," kata Richard.
Mempelajari budaya Minahasa serta agama purbanya, Richard menemukan figur Opo Empung Wailan dalam doa-doa para Tona'as Walian sejatinya bukan Sang Pencipta. Figur itu menurut dia jamak dan benar-benar merujuk pada leluhur atau para pendahulu. Istilah opo berasal dari kata pu dari rumpun Astronesia, yang artinya dihormati. Kata itu dengan pengertian persis sama pula digunakan masyarakat daerah-daerah lain di Indonesia, seperti apo, puan, ompung, opung, dan empu. Istilah ini bahkan ditemukan mulai dari Fiji, masuk ke Maluku, Kalimantan, Jawa, hingga Sumatera.
"Jadi Pahopoan di Minahasa adalah kelompok yang diluhurkan, yang disembah berdasarkan kategori keilahian, dan bukan pada sosok yang esa. Leluhur adalah sosok terdahulu yang dianggap memulai segala sesuatu. Nanti ketika Kekristenan hadir, maka agama memiliki identitas baru di mana paradigma itu dirombak mengacu cuma pada satu saja yang bisa disembah," Richard menjelaskan.
Simbol-simbol Kristen seperti salib dan pemakaian ayat Alkitab dalam prosesi dan ritual ditemukan Richard sebagai upaya pemberi legitimasi dalam praktik budaya kelompok tona'as dan walian di era modern. Alkitab tidak digunakan sebagai bacaan, melainkan lebih berfungsi sebagai wahana meramal. Simbol salib digunakan untuk membuat ritual menjadi lebih bergengsi. Ini menurutnya bisa disebut sinkretisme. Dalam ritual tradisi, simbolisasi agama monoteisme sesungguhnya bukan substansi, melainkan lebih sebagai aksesori
Kepercayaan dalam budaya asli Minahasa ini, lanjut Richard, tidak bakal lekang dimakan zaman, selama masih ada kelompok dan individu yang mempraktikkannya. Prosesnya berjalan dinamis, bahkan meluap di waktu-waktu tertentu yang mempengaruhi hajat hidup masyarakat. Dia ingat, pada 1998, ketika negara dilanda krisis ekonomi, dari Minahasa justru bermunculan tona'as-tona'as muda.
Agama dan budaya adalah sesuatu yang berbeda. Richard pernah ikut memimpin ritual pemindahan waruga (kubur kuno orang Minahasa). Langkahnya ini sempat mendapat penentangan dari pemuka agama. Namun bagi dia, ada perbedaan besar antara menghormati dan menyembah. "Dari pada mempertentangkan, kami kemudian lebih memilih untuk mempelajarinya," cetus rohaniawan yang mempelajari antropologi budaya di Universitas Leiden Belanda, itu.
Dalam mendalami budaya Minahasa, banyak kesulitan yang dia temui. Penyebabnya tidak banyak peninggalan berbentuk tulisan untuk menggali kisah-kisah masa lalu. Yang paling tua adalah tulisan Gubernur Jenderal Ternate abad ke-17 yang menyempatkan diri mampir ke Tanah Malesung. Namun tidak banyak yang bisa didapat dari catatan perjalanan tersebut.
Selebihnya, orang Minahasa mewariskan sejarahnya lewat tuturan. Belum ada upaya arkeologi yang secara detail mengungkap arti simbol-simbol purba di situs peninggalan sejarah Batu Pinabetengen. Lokasi di Desa Kiawa Minahasa ini diakui merupakan tempat pertemuan para Tona'as di masa lalu untuk mengambil berbagai keputusan menyangkut kemaslahatan rakyat.
Kepercayaan terhadap batu yang sering menjadi jimat kebal bagi pelaku budaya, menurut Richard, harus didalami dari pendekatan semiotika karena standar yang digunakan berbeda dengan ilmu-ilmu fisika. Hingga kini masih banyak orang Minahasa yang meminta jimat batu pada tona'as sebagai pegangan. Dari berbagai fakta yang terjadi di tengah masyarakat modern, tampak jelas pemegang jimat batu memang kebal senjata tajam. Bagi Richard, memang ada unsur misterius yang mengitari budaya Minahasa.
***
Sejarawan dan budayawan Sulawesi Utara, Dr. Ivan R.B. Kaunang, Mhum, menamakan kepercayaan tua bangsa Minahasa dengan sebutan agama Foso atau Poso. "Fosoberarti larangan, jadi artinya kepercayaan yang berkaitan dengan larangan-larangan," kata pengajar di Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Sam Ratulangi, Manado, itu. Memang untuk mendalami kearifan budaya Minahasa, ada banyak larangan dan pantangan. Proses itu juga tampak saat seseorang ingin memiliki jimat batu. Ada beberapa fase pengendalian diri yang harus dilalui seperti tidak main perempuan, tidak makan daging, dan sebagainya.
Ivan ikut mengungkap, salah satu tugas utama walian yaitu mengorai. Dalam praktiknya, kata Ivan, walian akan melantunkan kisah-kisah tentang leluhur. Lewat syair-syairnya, ikut juga muncul persoalan etika dan aturan yang wajib dilakukan. Dalam catatan Nicholas Graafland, misionaris Eropa yang singgah di Manado pada abad ke-19, interaksi masyarakat Minahasa dengan agama Kristen membuat kerja walian menjadi tidak populis. "Semakin lama akan menjadi konflik opini di tengah masyaraka,t misalnya siapa yang layak disebut pendeta, apakah walian atau pemuka agama di gereja," ujar Ivan.
Praktik budaya para Tona'as Walian sempat mencuat di masa pergolakan Permesta (Perjuangan Rakyat Semesta) di Sulut antara 1957-1961. Kala itu, jimat oleh sebagian prajurit Permesta dianggap sebagai pegangan wajib saat bertempur melawan tentara pusat. Maka para Tona'as Walian menjadi sumber untuk mendapatkan batu atau akar bertuah yang diyakini memiliki efek kebal. Medium itu biasanya dipakai sebagai mata cincin dan kalung, hingga diikatkan melingkar perut dalam kain berwarna merah (ika puru/ikat perut). "Praktik itu situasional saja, seperti era Permesta," Ivan menyebutkan.
Menyoal pemilik kuasa tertinggi dalam syair doa, menurut Ivan, harus dibedakan antara Opo dan Opo Empung. Opo adalah leluhur. Tapi Opo Empung mengacu pada Tuhan, yang menciptakan alam. Catatan Blas Palamino, paderi Spanyol yang berada di Manado, Kali, Kakaskasen, Tomohon, Sarongsong, Tombariri, Tondano, dan Kema pada tahun 1600-an, menyebut ada tiga tuhan yang disembah orang Minahasa masa lalu, yaitu: Empung Renga-rengaan, Empung Wailan Wangko, dan Amang Kasuruan. Kini hal itu diyakini hanya satu Tuhan saja dengan variasi penyebutan yang berbeda. Sehingga Ivan menyebut tidak ada dewa-dewa dalam kepercayaan kuno di Minahasa.
Dalam hubungan dengan kepercayaan ini pula, budaya orang Minahasa juga mengakui peran penting burung Manguni. Beberapa sub-etnik menyebutnya Totoosik dan diyakini sebagai binatang pembawa pesan yang menjembatani manusia dan Yang Mahakuasa. Menurut Ivan, kisah-kisah masa lalu menceritakan bahwa Manguni adalah burung peliharaan Opo Mamarimbing.
Lewat suara burung Manguni, para walian bisa mendapat petunjuk soal gejala alam, menanam, menebang di hutan, membangun rumah, dan yang lainnya. "Begitu penting makna Manguni sampai menjadi lambang Gereja Masehi Injili di Minahasa. Bagi orang lain itu adalah burung hantu, tapi bagi bangsa Minahasa itu adalah Manguni, si pembawa pesan," dia menerangkan.
G.A. Guritno dan Ady Putong
***
Toar-Lumimuut, Leluhur Pertama Orang Minahasa
Tidak ada catatan resmi peninggalan purba soal Toar dan Lumimuut, pasangan yang diyakini sebagai bapa-ibunya orang Minahasa. Kisah soal keduanya diturunkan secara lisan dan secara sosial telah menjadi perekat antar-sesama kawanua. Orang Minahasa yang berdiaspora ke penjuru dunia akan selalu mengidentifikasi dirinya sebagai turunan Toar-Lumimuut.
Penutur modern mengklasifikasikan kisah ini sebagai the origin myth of Minahasa, mitos asli dari Tanah Minahasa. Secara garis besar, mite ini tersentral pada tiga tokoh: Karema, Toar, dan Lumimuut. Kisah ini bermula dari kehadiran perempuan cantik bernama Karema di Pegunungan Wulur Mahatus. Konon, Karema dipercaya tercipta dari batu karang di pegunungan itu.
Saat Karema berdoa pada sang pencipta untuk meminta teman, dari batu karang lain tercipta juga perempuan bernama Lumimuut. Karema menganggap Lumimuut sebagai putrinya sendiri. Sebuah upacara yang dilakukan Karema bisa membuat Lumimuut hamil, hingga tiba saatnya melahirkan seorang putra yang diberi nama Toar.
Anak Lumimuut tumbuh cepat dan perkasa. Saat Toar semakin dewasa, Karema menyuruh Toar dan Lumimuut melakukan pengembaraan terpisah. Karema memberikan batang pohon tuis pada Toar, sementara Lumimuut diberi batang pohon tawa'ang. "Kalau nanti dalam pengembaraan kalian bertemu seseorang, baik pria maupun wanita membawa tongkat seperti ini, bandingkanlah dengan tongkat kalian. Kalau tongkat kalian sama panjang, berarti kalian masih terikat keluarga. Akan tetapi, bila tongkat itu berbeda dan tidak lagi sama panjang, kalian boleh membentuk rumah tangga," amanat Karema mengiring perjalanan Toar ke sisi Utara dan Lumimuut ke Selatan.
Tuis di tangan Toar bertambah panjang, tetapi Tawa'ang di tangan Lumimuut tetap seperti biasa. Hingga akhirnya suatu masa ibu dan anak ini bertemu. Sesuai amanat Karema, mereka pun membandingkan tongkat masing-masing. Ternyata, tongkat mereka tidak sama panjang lagi sehingga upacara pernikahan pun dilaksanakan di puncak Gunung Lolombulan.
Seusai menikah, Toar-Lumimuut tidak pernah lagi menemukan Karema. Keduanya kemudian menetap di pegunungan yang dipenuhi pohon bambu. Keturunan Toar-Lumimuut adalah kembar sembilan atau makarua siouw. Keturunan keduanya bertambah banyak dan terserak di seantero Minahasa.
Dr. Ivan R.B. Kaunang, MHum, pernah meneliti mite Toar-Lumimuut. Dia melakukan ekspedisi ke Pegunungan Wulur Mahatus di perbatasan antara Minahasa dan Kabupaten Bolaang Mongondouw. Ivan menanyakan kepada warga setempat bagian mana yang tertinggi dari Wulur Mahatus, yang artinya seratus gunung. Menurut cerita, di situlah awal tempat tinggal Karema, Toar, dan Lumimuut. Lewat berbagai penelitian, Ivan mendapat bukti-bukti ilmiah bahwa benar Toar-Lumimuut adalah sosok yang pernah hidup.
Konon sistem kemasyarakatan Minahasa purba ikut diatur leluhur Toar berdasarkan petunjuk Karema dan Lumimuut, yakni Golongan Makarua Siouw, Golongan 3x7 atau Makatelu Pitu. Selanjutnya Golongan 9x9x9 atau Pasiouwan Telu. Pengambilan keputusan dijalankan berdasarkan azas musyawarah. Bangsa Minahasa dikenal dengan sembilan sub-etnis, yaitu Tonsea, Tombulu, Tontemboan, Tondano, Tonsawang, Ratahan-Pasan, dan Ponosakan, ditambah Babontehu dan Bantik.
Ady Putong
***
0
2.2K
4
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan