CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a2add58c2cb1718618b4567/pesan-cinta-dari-laut

Pesan Cinta dari Laut

Cerpen: Pesan Cinta Dari Laut


PESAN CINTA DARI LAUT


Dear istriku!
Kutulis pesan ini ketika Pulau Kalimantan telah lenyap dari pandanganku. Di atas Kapal Kargo yang mengangkut kelapa sawit dari Banjarmasin menuju Surabaya, angin malam di perairan Tanjung Selat begitu tajam menusuk tubuhku yang sengaja kubiarkan tanpa jaket. Meski tanganku bergetar karena menahan hawa dingin yang telah menyebar ke seluruh sendi tulangku, terus kupaksakan menuliskan pesan ini, sebagai ungkapan penyesalan dan permohonan maaf.
***

“Cepat pakai pelampung dan masuk ke dalam! Mungkin kita akan menghadapi badai,” seorang teman berteriak mengingatkanku. Tak kuhiraukan warning yang disampaikannya, meski kulihat langit semakin pekat, tertutup awan hitam yang menggumpal, dan angin berhembus semakin kencang. Kekhawatiranku akan kehilangan hatimu, jauh lebih besar dari ketakutanku terhadap kehilangan jiwaku. Dan mungkin juga karena jiwa dan ragaku telah mati semenjak kau meninggalkanku, yang sampai sampai detik ini belum kuketahui penyebabnya. Padahal kamu tahu, jika keputusasaan telah menyelimuti jiwaku, tiada yang bisa kembali menguatkanku selain dirimu.
***

Istriku!
Betapa kagetnya aku saat itu. Begitu aku pulang dari berlayar, dengan membawa beban rindu seberat 7 hari tak bertemu, ternyata kau tak ada di rumah. Kucoba menghubungi nomor hape-mu, namun hanya mesin digital operator yang menjawabnya. Aku menjadi was-was ketika kulihat isi rumah kita begitu berantakan, bahkan pintu belakang tidak terkunci. Aku sempat berpraduga yang tidak-tidak. Jangan-jangan rumah kita telah diobok-obok perampok, dan kau menjadi korban kebiadaban mereka. Namun hatiku berangsur tenang setelah kuamati ternyata tidak ada barang yang hilang, kecuali semua pakaianmu yang tak ada lagi pada tempatnya. Pasti kamu berada di rumah orangtuamu, dugaku sambil mengeluarkan mobil dari bagasi.

Dengan sumringah, kuketuk pintu rumah yang tertutup itu. Dugaanku, kamu pasti sudah mengetahui kedatanganku saat aku memarkir mobil tadi, lalu bersembunyi di balik pintu, kemudian dengan pelan kau membukanya. Begitu aku masuk, kau langsung memelukku dari belakang, seperti yang biasa kau lakukan setiap kali aku datang berlayar.

Dugaanku keliru, beberapa kali kuketuk, pintu tetap tertutup. Dengan tak sabar, segera kutarik handel pintu dan ternyata tak terkunci. Suasana di dalam rumah begitu sepi. Aku baru bertemu denganmu setelah aku ke ruang dapur, dan kau baru keluar dari kamar mandi. Kau tampak agak kaget begitu melihat kedatanganku.

Tanpa basa-basi, aku langsung ingin mencium keningmu. Namun lagi-lagi aku dibuat kaget dengan sikapmu. Tiba-tiba kau berontak. Semula aku menduga ini hanyalah akting belaka, agar pertemuan ini lebih romantis dari yang biasanya. Ah, ternyata lagi-lagi aku keliru. Itu bukan akting, tapi sungguhan. Hal itu dapat kurasakan dari tarikan nafas dan degup jantungmu yang sepertinya memendam emosi kemarahan dan kebencian. Apalagi setelah keluar teriakan lantang berulang-ulang dari mulutmu,

“Lepaskan aku! Lepaskan aku!”
Semakin kuat kamu berontak, semakin erat aku memelukmu. “Lepaskan aku! Kita tak punya hubungan apa-apa lagi,” teriakmu semakin keras.

“Sayang, ada…” ucapku terputus karena kamu mulai menangis. Karena khawatir akan menyakitimu, akhirnya aku melepaskanmu. Kamu pun segera berlari ke kamar dan mengunci pintu. Selama berjam-jam dengan sabar aku menunggu di depan pintu sambil berulang kami memanggilmu dengan lembut dan mesra. Namun semuanya sia-sia. Hingga akhirnya ayahmu datang bersama Aldi, anakmu.

“Kenapa Shofia, Bah?” tanyaku lirih.
“Abah juga ngga tahu. Setelah kau pergi berlayar tempo hari, dia langsung ka sini sambil menangis, membawa anaknya ini.”

Aku langsung terdiam dengan seribu tanya yang terus berkecamuk di kepalaku.
“Kamu pulang aja dulu! Kalau Shofia udah cerita, nanti Abah akan mengabarimu lewat telpon,” kata Abah menghiburku.
Namun sampai saat ini Abah tak pernah menelponku. Sedangkan aku hampir tiap hari menghubunginya, baik melalui panggilan suara atau pesan. Namun beliau selalu menjawab, “Belum ada kabar, bersabarlah dulu!”

Meski demikian, aku masih bersyukur karena masih bisa berkomunikasi dengannya, di saat semua kontakmu sudah tidak ada lagi yang bisa dihubungi. Karena itu, melalui kontak WhatsApp Abah inilah aku berharap kamu bisa mendengarkan gemuruh isi hatiku.
***

Bersambung>>>

Spoiler for Referensi:
profile-picture
profile-picture
mainida dan adestiey memberi reputasi
Diubah oleh Aboeyy
Sambungan Cerita (Tamat)
**********

Sungguh aku sangat ingin kau memberiku satu kesempatan untuk bertatap muka dan berbicara dua hati denganmu, sehingga jika ada persoalan atau kesalahpahaman, bisa kita selesaikan dengan prinsip kemanunggalan hati dan asas kasih sayang. Namun harapan itu hanya bagaikan menadah air hujan dengan tangguk. Hingga akhirnya, kemarin aku menerima pesan yang sangat kuyakini ditulis oleh tanganmu melalui Hape Abah, “Jangan lagi mencariku dan menanyakan kabar tentangku. Hubungan kita sudah berakhir.”

Seluruh tubuhku bergetar karenanya. Tak terasa airmataku menetes ke atas layar Androidku. Aku benar-benar putus asa. Ah, jika memang kesalahanku begitu besar dan tak bisa dimaafkan, biarlah laut yang akan menghukumku dengan caranya sendiri. Dan Andai Kapal Kargo ini sekarang tenggelam, akan kuabaikan siapapun yang akan menolongku, kecuali uluran tanganmu. Mungkin kau menganggap kata-kataku ini terlalu berlebihan, lebay, atau hanya rayuan gombal seorang laki-laki ketika ada maunya. Tapi inilah suara yang keluar dari jiwaku, hatiku bahwa aku hanya menginginkanmu sampai tanah memisahkan kita. Atau barangkali kau akan mengatakan, “Apa susahnya bagimu mencari wanita penggantiku, sedangkan secara materi sudah mapan, dan dari segi wajah lumayan tampan?” Sungguh, istriku! Aku hanya bisa mapan jika bersamamu, dan menjadi tampan karena cintamu.
******
Sungguh istriku! Aku mencintaimu seperti kumencintai laut. Aku telah bekerja di perusahaan pelayaran ini semenjak lulus SMA. Sekarang usiaku mencapai 55 tahun yang berarti sebagian besar hidupku berada di laut. Karena itu, aku sangat mengerti tentang hukum laut. Kehidupan di laut adalah kehidupan yang paling ganas. Namun hukum laut tidak sama dengan hukum rimba. Jika hukum rimba mengatakan, “Siapa yang kuat, dia yang menang,” maka menurut hukum laut, “Siapa yang pemaaf, dialah yang selamat.” Contohnya, ketika bajak laut datang, maka yang akan selamat hanyalah mereka yang memaafkan atau merelakan harta bendanya untuk dirampas. Jika tidak, keselamatannya juga kemungkinan besar akan ikut terampas. Dengan demikian, aku sangat berharap hukum laut inilah yang kau terapkan dalam mengadili dan menghakimiku.

Istriku!
Kita bertemu di saat usia kita terpaut 20 tahun. Kau seorang janda dan aku seorang duda, dan sama-sama mempunyai seorang anak. Selama kurang lebih 7 tahun kita berumahtangga, rasanya tak pernah kita bertengkar, dan tak pernah ada persoalan yang tak bisa kita selesaikan. Tapi sekarang, kau pergi lalu diam, seolah menyimpan sebuah kesalahanku yang teramat besar.
*******
Oh istriku! Aku baru ingat! Dan mungkin ini penyebabnya. Sebelum aku berlayar yang ketika aku pulang kau tak ada di rumah itu, kau berkata: “Tolong Bang, turunan Aldi dari pohon itu. Entar dia jatuh!” “Biar saja,” sahutku sambil berlalu.
Mungkin kamu memahami ucapanku itu, "Biar saja dia jauh". Padahal maksudku, "Biarkan saja dia lagi asyik bermain di pohon itu". Mungkin karena itulah kau marah, karena kata-kataku itu seolah-olah aku tidak menyayangi anakmu. Sungguh istriku, anakmu adalah anakku juga. Dan jika ini penyebabnya, sungguh aku sangat menyesal telah berkata seperti itu. Saat itu aku benar-benar sangat terburu-buru, karena kapal sebentar lagi akan berangkat.

Sekali lagi istriku, jika benar ini penyebabnya, maafkan aku! Dan kalau kau sudah memaafkanku, tak perlu kau balas pesan ini. Cukup kau kembali ke istana cinta kita, dan tunggu kepulanganku di sana. Namun jika kau tetap tak bisa memaafkanku, biarlah pulau Kalimantan akan kuhitamkan buat selama-lamanya.

********

<<<Tamat>>>
Diubah oleh Aboeyy
pertamax dl...
silahkan di lanjut keun... emoticon-Traveller
Yah udah tamat emoticon-Mewek
Diubah oleh sayabaik46
Ini cuma Cerpen Gan, bukan Cerpan. :-)
Quote:


Sebuah cerita tentang konflik rumah tangga. Istri meninggalkan rumah ketika suami pulang berlayar, tanpa diketahui penyebabnya. Sang suami hanya bisa menduga penyebabnya adalah sebuah ucapannya sebelum dia pergi berlayar yang membuat sang istri tersinggung.
Seorang perempuan lebih mudah tersinggung jika anaknya yang diremehkan ketimbang dirinya sendiri.
CERPEN: CINTA DAN KENANGAN


Dear Shofia!
Kutulis surat ini, kala pengunjung candi mulai sepi, saat Kuterpikir bahwa semua kenangan bersamamu harus dituliskan, sebagaimana semua sejarah dan peninggalan Kerajaan Banjar ini didokumentasikan, dan tersimpan rapi di Museum Candi Agung, yang berbentuk Rumah Bubungan Tinggi ini. Jika sejarah menceritakan masa lalunya melalui relief-relief candi, maka biarlah kuabadikan cerita tentangmu lewat coretan-coretan pena ini. Walaupun hadirmu cuma a moment of my time, tapi kenangan bersamamu adalah half time of my life, sehingga apa yang akan Kugoreskan di sini telah mewakili separuh dari manaqib hidupku.

Sungguh, sebelumnya tak pernah terbesit keinginan untuk mengunjungi situs peninggalan Kerajaan Negara Dipa ini. Bagiku, tempat ini sudah layaknya halaman rumah sendiri, tempatku bermain di masa anak-anak, sehingga tiada yang asing atau menarik untuk dilihat lagi. Namun begitu Kuterkenang bahwa dulu, saat jemarimu masih terjalin mesra dengan jari-jariku, dan hatimu masih menyatu dengan jiwaku, Aku pernah berjanji untuk mengajakmu ke sini. Tapi janji itu keburu kabur dan luntur oleh airmata perpisahan kita.

Maka, saat melintas di lokasi ini, pikiranku langsung teringat pada janji itu, dan menuntunku untuk berhenti di sini. Anggaplah apa yang akan Kuceritakan tentang situs Candi Agung ini, sebagai pengganti diriku yang membawa fantasi jiwamu ke tempat ini. Bayangkanlah seolah-olah Kamu sedang bersamaku di sini, sehingga janjiku itu sudah terpenuhi. Bukankah dulu pernah Kukatakan, “Diriku paling amanah memegang janji. Apa yang Kukatakan pasti Kupenuhi, cepat atau nanti, baik kita masih bersatu atau sudah tak bersama lagi. Jika Aku tidak bisa, maka Aku akan meminta rela, atau Kuganti dengan yang serupa.” Dan, inilah hal serupa dari pemenuhan janjiku itu.
*********

Memasuki areal seluas 36.208 m2 yang dikelilingi pagar beton, besi dan kawat berduri ini, suasana sejuk langsung terasa. Padahal ketika di halaman parkir tadi, matahari di atas kepala begitu kuat menyedot keringat dari pori-pori. Pohon-pohon beringin, serta tumbuhan besar lain yang berdaun rimbun dan tertata rapi, seolah menjadi payung bagi para pengunjung. AC alami berhembus lembut, membelai tubuh yang berpeluh, dan mengipasi teriknya hari. Lambaian daun-daun, bagaikan kipas dayang-dayang yang menyambut kedatangan undangan kerajaan. Rumput yang menghijau, bak hamparan karpet yang biasa digelar untuk dilalui tamu kehormatan.

Pandanganku langsung tertuju kepada sekelompok anak muda yang sedang duduk santai di sisi kiri. Di bawah pohon kariwaya yang teduh dan rindang, mereka tampak asyik memegang Hape. Entah sedang membaca dan membalas pesan, browsing, chatting, atau mendengarkan lantunan lagu. Namun ketika Kulihat mereka senyum-senyum sendiri, Aku bisa menduga bahwa mereka tengah berinteraksi di jejaring sosial semacam eFBe. Mungkin lagi dapat kenalan baru, kemudian bertukar foto, PIN BBM, atau nomor Hape. Asumsi itu mengingatkanku dengan awal perkenalan kita. Karena FB-lah dulu kita bertemu, dan sebab BBM akhirnya kita berpisah.

Aku tersenyum ketika melihat para penjual bunga yang berjejer sepanjang jalan masuk menuju situs candi. Aku jadi teringat foto profil FB-mu saat itu adalah setangkai bunga mawar. Sampai satu bulan kita berkenalan dan ngobrol lewat Mesengger FB, Aku belum pernah melihat wajahmu, karena Kamu tak pernah memajang gambar asli. Namun dilihat dari status yang Kau tulis, Aku bisa membayangkan bahwa Kamu adalah sosok pribadi yang berpendidikan, supel, menarik, dan cantik.

Berbagai cara Kuupayakan agar kita bisa bertemu di alam nyata. Mulai dari mengajak ketemuan di Bioskop, Mall, atau Cafe. Namun Kamu selalu menolak dengan alasan yang lembut. Aku bisa menerka alasan keberatanmu. Maraknya kejahatan yang berawal dari perkenalan di Facebook yang sering diberitakan televisi, mungkin sebagai salah satu penyebabnya.

Alangkah girangnya hatiku, ketika Kulihat status FB-mu mengiklankan: “Jual Flash Disk. Yang Berminat, Silakan Inbox!”
Saat itu, langsung kutulis pesan: “Order satu. Gmn cra pmbyaranx? Sistem COD ato transfer?”

“Kalo tinggal di Bjm, Mtp dan Bjb, bisa ktmu lngsg. Tp jgn lupa hub. dulu ke no. ini,” balasmu dengan mencantumkan nomor Hape.
Sungguh, saat itu Aku tidak memerlukan Flash Disk, karena sudah punya. Keinginanku untuk melihat senyummulah yang menjadi motivasiku untuk membelinya.

Naluriku tidak keliru. Kamu persis seperti yang kubayangkan, seanggun yang kuimpikan. Setelah pertemuan itu, Aku menjadi lebih sering menghubungimu lewat SMS, sekedar menanyakan kabar, sebagai isyarat bahwa Aku punya perhatian lebih terhadapmu. Kadang Kutelpon hanya untuk mendengar merdunya kata “Hello” dari suaramu. Dan dua bulan berikutnya, entah mengapa Kamu bersedia diajak nonton di Duta Mall, Studio 21, satu-satunya bioskop modern yang ada di Kota Banjarmasin. Mungkin karena Kamu sudah melihat wajah asliku, dan tidak menemukan tanda-tanda “Penjahat” di dahiku. Atau kamu semakin yakin bahwa Aku adalah orang terpelajar, setelah malam sebelumnya Kutawarkan jasa untuk membantumu menyusun Tesis.

Sepulang dari bioskop itu, setelah makan malam, sambil berbaring, kutulis status terbuka di beranda FB-ku: “Aku jatuh cinta pada gadis yang kutemui dalam mimpi. Sengaja status ini kupublikasikan, agar semua orang tahu dan menjadi saksi, meskipun untuk ini Aku harus menggadaikan harga diri.” Walaupun dalam status itu Aku tidak men-tag namamu, namun Aku sangat berharap Kamu memahami bahwa dirimulah orang yang Kumaksud itu.

Harapanku terjawab. Tujuanku tepat sasaran. Hanya sekitar 2 menit status itu displayed, Kamu menghubungiku, “Jatuh cinta sama siapa?” tulismu di inbox-ku disertai emoticon senyum.

“Sama siapa lagi kalau bukan dengan orang yang siang sampai sore tadi menemaniku menikmati serunya film Special ID,” jawabku diikuti emoticon amor.

Hatiku berbunga-bunga. Kita terus chatting, hingga tak terasa waktu telah menunjukkan sekitar pukul 4 pagi. Mulai saat itu, hubungan kita secara formal telah menjadi sepasang merpati.
*********

Langkahku tertegun sejenak. Kulihat beberapa orang membeli kembang. Sementara di loket pintu masuk candi, 4 orang terlihat sedang mengangkat sepeda motor yang belum memakai Nomor Polisi. Begitu orang-orang itu berlaku, rasa penasaran langsung mendorongku untuk menghampiri penjual bunga itu.

Wanita setengah baya itu pun menjelaskan hakikatnya. Bahwa bunga itu untuk memandikan motor baru itu, agar selamat dari kecelakaan, kecurian atau marabahaya lainnya. Bisa pula digunakan untuk “mandi bungas”. Biasanya pemilik motor baru, memeriksakan komponen besi motornya kepada orang yang ahli tuah besi. Jika ada komponen yang dinilai “panas”, namun sulit atau mahal untuk diganti, seperti rangka kendaraan atau komponen mesin, mereka akan mendinginkannya dengan memandikannya menggunakan bunga dan air candi ini. Begitu juga orang yang lambat atau susah mendapat jodoh, mereka mandi supaya terlihat bungas (tampan/cantik), sehingga diharapkan lebih mudah memperoleh pasangan.

Lagi-lagi Aku tersenyum. Penjelasan penjual kembang itu kembali mengingatkanku padamu. Sebelum Kumengajakmu nonton di bioskop itu, Aku juga melakukan hal yang sama. Namun katanya semua komponen motorku termasuk kategori “dingin”. Aku juga menanyakan tentang sifat-sifat hatimu. Lagi-lagi jawabannya membuatku gembira, sehingga Aku lupa dengan wanti-wanti di akhir wejangannya, “Tapi, Kamu harus sabar menghadapinya.” Dan kini terbukti, karena ketidakmampuanku mengendalikan emosi, Kamu pergi meninggalkanku sendiri.

Semuanya berawal dari intensitas kecemburuanmu yang tiap hari selalu meningkat yang seharusnya kusyukuri sebagai tanda makin bertambahnya rasa sayangmu padaku. Namun Aku menilainya dari sudut pandang yang lain. Aku melihat ada ketidakadilan dalam kecemburuanmu itu.

Betapa tidak! Semua akun pribadiku kau kuasai. Mulai dari FB, BBM dan jejaring sosial lainnya. Bahkan semua kontak teman wanitaku kau hapus, tak peduli itu relasi bisnis atau keluargaku. Sedangkan aku sedikitpun tak kau izinkan mencampuri urusan privasimu. Dan puncaknya, pada saat kita berada di Pantai Takisung untuk merayakan Hari Ultahku. Dengan alasan mau mengambil foto, Kau meminjam Androidku. Pada saat itulah Kau buka pesan BB-ku dengan teman cewek tadi malam yang belum sempat kuhapus. Kamu lantas marah-marah dan merusak properti Hapeku, dan terus berlari ke arah jalan. Langsung kuambil motor, dan kita pulang tanpa kata. Sesekali kulihat wajahmu yang cemberut dan mukaku yang merah lewat spion. Tidak hanya sampai di situ, lima hari kemudian kau kembali menyandra ponselku dengan membawanya ke tempat kerjamu, sementara aku menunggu dengan teramat gelisah.

“Hape ulun mana?” tanyaku begitu kau menemuiku.
“Ditinggal di kantor dalam tas,” sahutmu dingin.

Dengan ramah dan lembut Aku membujukmu. Namun Kau malah menjawab dengan nada menantang, “Kalau ulun bawa pulang kenapa?”
Mendengar itu, emosiku spontan naik. Tanpa kata, Aku langsung berlari mengambil motor menuju kantormu. Di depan sekuriti Aku marah-marah dan menceritakan apa yang terjadi. Untungnya sekuriti itu begitu sabar dan ramah padaku, padahal aku sudah bertekad, “Jika satu kata saja sekuriti itu berucap kasar atau bernada menantang, pasti sudah kuselesaikan dengan keris kecil yang kuselipkan di balik jaket kulit hitam ini.” Sekuriti itu menelponmu, hingga beberapa saat kemudian Kau datang, lalu persoalan dapat kita selesaikan di Taman Kamboja.

Mulai saat itu, entah mengapa ada perasaan semacam “dendam” dan ingin membalas memata-mataimu. Diam-diam akun FB dan BBM-mu kubajak. Dari situlah emosiku mulai tak terkendali. Kecemburuan dan kemarahan telah membuat akalku tak berfungsi. Ternyata Kau juga menyembunyikan pria lain di ponselmu. Namun Kau selalu mengelak dan mengaku tak kenal dengan orang yang mengirim pesan-pesan mesra itu.

Aku tak kehabisan akal. Kubalas dengan memegang Hapemu selama kau bersamaku. Maka saat ia bergetar dan telah kubaca isinya, langsung kubalas melalui ponselmu kepada orang yang barusan mengirimimu SMS, “Sayang, aku menunggumu di sini. Kita ketemuan di sini aja.” Dalam benakku, jika dia datang, baik dengan ramah apalagi kasar, pasti tempat ini akan menjadi seperti “Telaga Berdarah” yang ada di situs candi ini. Jika dalam legenda Telaga Berdarah ini, dua orang Pangeran bertarung untuk memperebutkan Putri Junjung Buih, maka dalam cerita ini, seorang penulis melankolis melawan pejabat berdasi, memperebutkan dirimu.

Aku tidak tahu apakah ada balasan SMS itu, karena kita keburu bertengkar hebat, dan tanpa sadar Aku mendorongmu hingga terjatuh. Mulai saat itu, hubungan kita mulai renggang dan Kau tak mau lagi menemuiku, kecuali dua kali. Berulang kali Aku memohon ampun dan maaf, menghiba serta mengakui kesalahanku, namun Kau tetap tak peduli. Hingga sekitar 4 bulan kemudian, Kudengar kabar Kau telah bertunangan dengan seseorang. Tak bisa Kugambarkan apa yang kurasakan saat itu. Yang jelas, beranda FB-ku penuh dengan status makian dan hinaan sebagai pelampiasan kemarahanku.

Kini kusadar, bahwa selama ini Aku tak mampu membahagiakanmu. Lalu mengapa Aku tak rela jika Kau berbahagia dengan yang lain? Bukankah seharusnya aku bersyukur dan berterima kasih jika ada orang lain yang mau menerimamu tanpa syarat, dan bersedia bertanggungjawab atas apa yang telah tercabik-cabik oleh keegoan rasaku?

Aku tahu, itulah kerinduan terdalam yang selama ini Kau impikan. Seorang laki-laki mapan yang masih sendiri, (perjaka atau duda), yang bisa menikahimu secara resmi.

Namun bukan itu yang membuatku kecewa. Bukan atas nama cinta, kumasih berharap. Bukan atas dasar sabar, kutetap bertahan. Bukan sebab lumpuhnya logika, kurela menderita. Tapi karena janji yang terus Kupegang hingga kumati. Bukankah dalam komunikasi kita yang terakhir, Kau telah berjanji, “Bersabarlah. Biarkan dulu Aku menenangkan diri. Jika hatiku sudah yakin, aku pasti setia selamanya kepadamu.”
*********

Aku mengikuti arah jalan yang berbelok ke kiri. Kulihat muda-mudi yang tadi duduk-duduk di bawah pohon kariwaya, bergeromol di bawah pohon Bambu Kuning yang dianggap keramat itu. Di tangan mereka terlihat ada yang memegang Tipe-X dan paku, lalu menggoreskan sesuatu di batang bambu itu. Dari jarak dekat, terlihat mereka menuliskan nama-nama seperti “Randi dan Santi”, yang menurut kepercayaan mereka, selama tulisan itu masih utuh, maka selama itu pula keduanya tetap akan bersatu. Ingin Kutuliskan pula namaku dan namamu di sana. Namun ketika kusadar bahwa pohon itu tidak abadi, maka Aku lebih memilih memahat namamu di hatiku.

Sebelum memasuki situs Candi, terdapat sebuah Pendopo tanpa dinding berukur 3x3 meter dengan tulisan “Pertapaan Pangeran Suryanata”. Di dalamnya terdapat tumpukan batu dan kembang. Beberapa orang terlihat membeli bilah bambu yang dijual oleh penjaganya. Bilah-bilah itu diukur dengan kilan, yakni sepanjang jarak ibu jari dan jari tengah, lalu diletakkan di atas batu itu. Sekitar 15 menit kemudian, bilah itu diambil lagi oleh pemiliknya, dan diukur kembali.

Konon katanya, jika bilah itu bertambah panjang, itu sebagai jawaban “Ya” atas apa yang ditanyakan dalam hati waktu meletakkan bilah itu. Dan ketika kuukur bilah yang kuletakkan dengan pertanyaan, “Sedalam apa Dia – yaitu Kamu – mencintaiku?” ternyata bambu itu malah bertambah pendek, sehingga hatiku semakin teriris. Itu mungkin berarti bahwa perasaan sayangmu padaku telah pupus. Ingin rasanya Kubertapa di tempat itu, seperti yang sering dilakukan orang-orang, agar Kau mau kembali padaku. Namun niat itu segera kubatalkan, ketika kuingat bahwa tiada tempat yang paling sakral untuk bertapa selain di hatimu.

Banyak lagi yang ingin Kuceritakan padamu tentang Candi ini. Namun karena keterbatasan waktu, cukup itu saja yang Kusampaikan, yang Kunilai mempunyai kesamaan dengan cerita cinta kita. Namun jika Kau ingin yang lebih detil, maka datanglah nanti bersama suamimu ke sini.

Dan, poin terpenting yang ingin kuamanatkan dalam risalah ini adalah, “Jika pemuja selain Tuhan dianggap musyrik, maka biarlah diriku dinilai syirik karena memujamu.”

************
<<<TAMAT>>>


Sumber: Karya saya sendiri.
Diubah oleh Aboeyy
Cerpen based on True Story
Cerpen baper.
Sobat, semoga bukan dengan alasan patah hati, kau menghitamkan pulau kalimantan. Sungguh aku sangat menyesal tak bisa mengantarkan kepergianmu waktu itu.
cintanya hanyut disapu ombak. emoticon-Big Grin


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di