alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
REBORN: Karma Will Always Find Its Way [TAMAT]
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a16b6e2c0d770b0058b4568/reborn-karma-will-always-find-its-way-tamat

REBORN: Karma Will Always Find Its Way

REBORN: Karma Will Always Find Its Way [TAMAT]
Cover By: angchimo

Quote:

Quote:


NB: Kalau berkenan silahkan dikasih Rate 5 emoticon-Rate 5 Star
Polling
458 Suara
Siapa Tokoh Wanita Favorit Kalian Dalam Cerita Ini.? 
profile-picture
profile-picture
topa.ibrahim dan lelakiperantau memberi reputasi
Diubah oleh mabuise
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 203
profile-picture
profile-picture
profile-picture
topa.ibrahim dan 10 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh ucln

Bagian 1

“Terus cowok itu siapa?” ucap Gue setengah berteriak kepada seorang perempuan diujung telepon. Selain karna emosi yang sedang tersulut, juga untuk melawan suara deras hujan yang dari sore belum menunjukkan itikad untuk menyelesaikan guyurannya.

Diujung sana, Liana, Wanita yang Gue pacari hampir tujuh tahun lamanya ini tidak menjawab, hanya menangis sesugukan sambil berulang kali mengucapkan “Maafin aku”.

“Aku ga minta permintaan maaf, aku cuma minta penjelasan kamu, Liana. Dia siapa? Kenapa kamu gak bilang sama aku kalo kamu jalan sama dia?” kali ini Gue menaikkan sedikit nada Gue karna gemuruh petir mulai bersahutan menggetarkan kaca jendela rumah Gue.

------------


Gue baru saja sampai dirumah saat temen kecil Gue, Anwar, menelpon. Gue langsung mengeluarkan handphone dari balik jaket yang tertutup raincoat selepas bertarung dengan badai saat pulang bekerja lembur tadi.

“Gus. Songong banget lo tadi Gue panggil kagak nengok.” ucap Anwar dari ujung telepon.

“Hah? Masa? Sorry mungkin ga denger karna ujan War. Dimana tadi lo liat Gue?”

“Depan Kalibata, lo sama Liana mau nonton ya tadi?”

“Kalibata? Gue gak lewat sana. Gue abis lembur dari arah Pluit lewat slipi, perempatan kuningan, mampang, pasar minggu. Ini baru banget sampe rumah.”

“Eh? Ka.. kayanya Gue.. salah orang dah. Oh yaudah lo istirahat dulu aja.” kali ini Anwar sedikit terbata-bata menjawab.

“Lo liat Liana sama siapa?” Gue mempertegas.

“Sorry Gus. Gue gak bermaksud ngadu sebenernya. Gue pikir tadi itu lo. Soalnya pas Gue panggil si Liana nengok Cuma cowok tadi ga nengok. Mereka sih kaya belok masuk ke Plasa Kalibata.”

“Lo yakin itu Liana?” Gue mempertegas lagi.

“Yakin lah. Eh tapi Gus, jangan jadi berantem ya, Gue gak mau dibilang tukang ngadu terus jadi rusak hubungan sohib Gue.”

“Oke, thanks, War.” Gue mematikan telepon dan langsung menghubungi Liana.

------------


Di awal pembicaraan Liana terdengar biasa saja, dia bilang baru saja selesai mandi. Tapi sejurus kemudian ketenangannya berubah jadi isak tangis saat Gue menceritakan apa yang Anwar bilang tadi.

“Kamu.. kamu jangan bentak-bentak aku dong, aku.. aku lagi capek..” Jawab Liana terbata-bata melawan isak tangis nya.

“Aku ga bentak-bentak, ini hujannya deres banget, suara kamu aja samar banget kedengerannya. Aku masih didepan rumah.” Jawab Gue sambil berusaha menenangkandiri.

“Aku.. Aku.. Aku minta maaf ya Gus..” ucap Liana sambil diiringi isak tangis yang mulai melemah.

“Aku kerumah kamu sekarang.”

“Jangan Gus, udah malem, hujannya deres banget. Nanti..”

Tutt.. ttuuut.

Gue mematikan telepon dan bergegas memutar motor.
.
.

“Assalamualaikum..” ucap Gue dari depan pintu rumah Liana sambil menggigil karna menahan dingin yang masuk menembus raincoat dan dengan ganasnya menusuk tulang.

“Walaikum salam.” Jawab seseorang dari dalam sambil membuka pintu.

Liana berdiri didepan Gue. Seorang wanita mungil, manis, yang gak akan bikin orang bosan menatap lama ke wajahnya, yang Gue puja selama hamper tujuh tahun ini.

“Masuk dulu ya, aku bikin teh.” Ucap Liana sambil membalik badan bermaksud masukkedalam rumah.

“Li..” Gue menangkap tangannya.

“Aku Cuma minta penjelasan. Setelah itu aku pulang.” Lanjut Gue sambil menatap dalam wajahnya.

Cahaya yang berasal dari matanya yang bulat membuat siapapun yang memandangnya akan bertekuk lutut. Dibalik semua keluguan, manja, penyayang, dan sifat sabar nya, Gue merasa tertusuk tepat di ulu hati menerima kenyataan dia jalan sama cowok lain tanpa sepengetahuan Gue.

Ah. Mungkin Gue Cuma berlebihan? Bisa aja itu temennya, Sodara, atau abang iparnya?

Enggak. Walaupun Cuma mau kerumah Pak RT yang selemparan sendal aja dia pasti bilang ke Gue. Ini pasti ada hal lain, Gue bisa liat jelas keraguan di mata nya. Keraguan untuk bicara jujur atau bohong atau mungkin keraguan untuk bertahan atau meninggalkan Gue.

“Maaf Gus..” ucap Liana lirih memecah lamunan Gue. Dia melempar pandangan kesamping dan mulai meneteskan air mata.

Liana menghela napas,seakan menyingkirkan beban berat dari pundaknya. Dia menggenggam tangan Gue yang pasti terasa sangat dingin ditangan nya, menundukkan pandangan, kemudian mengangkat wajahnya lagi dan menatap Gue dengan senyuman yang dipaksakan dan pipi yang basah.

“Aku ga bisa pertahanin hubungan kita Gus.” ucap Liana lirih, tapi sanggup membuat pendengaran Gue terganggu seperti mendengar gemuruh petir yang menyambar.

“Kamu dulu pernah selingkuh dari aku, berkali-kali. Dan gatau kenapa sampai detik ini aku masih susah buat ngelupain sakitnya. Seperti ada lubang besar didalam dada aku, tepat dimana hati aku seharusnya berada.”

“....”

Gue cuma bisa terdiam mendengarnya

“Ada masa dimana aku pengen banget Gus ngelupain semuanya. Ngelupain kesalahan-kesalahan kamu dengan ikhlas. Ngejalanin hubungan ini dengan tenang, tanpa rasa curiga atau khawatir. Tanpa rasa takut atau kecewa. Tapi aku selalu gagal. Apalagi akhir-akhir ini kamu terasa jauh banget Gus dari aku. Kamu sibuk dengan dunia kamu, dengan kerjaan-kerjaan kamu.”

“....”

“Cowok itu namanya Adrian. Dia temen SMA aku. Aku Cuma jalan, makan, sambil cerita-cerita. Itu pun cerita tentang hubungan kita. Dan dia kasih saran aku buat bertahan, nahan semua rasa muak aku dan lupain semua salah kamu. Tapi aku ga...”

“Liana..”

Gue memotong omongannya dengan suara parau. Dia menatap Gue sejenak,kemudian membuang pandangannya lagi, menatap kosong ke tembok disampingnya.

“Kamu inget gak beberapa hari kemarin waktu kita mau jalan, kamu uring-uringan repot sendiri nyari iketan rambut kamu yang mungkin 5 menit sebelumnya kamu taruh entah dimana?”

“....”

Liana hanya mengangguk keheranan dengan pertanyaan Gue.

“Kamu bisa lupa dimana kamu taro iketan rambut kamu 5 menit yang lalu, tapi kamu ga bisa melupakan dan memaafkan kesalahan-kesalahan aku yang udah lebih dari 5 tahun yang lalu, yang udah aku coba buat perbaiki. Bukan perbaikin kesalahannya, tapi memperbaiki diri buat ga mengulang kesalahan serupa.” ucap Gue sambil mencoba senyum dan menghapus jejak air mata dipipi nya.

“Dan kamu bilang aku terlalu sibuk sama kerjaanku, sama duniaku. Kamu lebih suka aku chat, sms, atau telpon kamu setiap menit kaya cowok pengangguran ketimbang aku sibuk kerja keras buat kita berdua nanti kedepannya?”

“....” Liana menunduk bersandar tembok dibelakangnya. Matanya semakin deras meluluhlantakkan kucuran air ke lantai. Membuat Gue semakin mengutuk diri Gue sendiri.

“Kamu yakin Li, sama keputusan kamu?” ucap Gue sambil menopang dagunya,mengangkat wajahnya yang semakin sembab.

Sejenak dia mengangguk, kemudian menggelengkan kepala nya. Gue hanya menatapnya dengan heran.

“Kamu istirahat aja dulu, tenangin diri kamu. Aku pulang dulu. Kita bicarain lagi nanti kalo udah sama-sama tenang.” ucap Gue sejurus kemudian sambil mengecup keningnya dan melangkah ke teras rumah dimana motor Gue berada.

“Gus..”

Gue menoleh.

“Kamu jaga diri baik-baik ya nanti, walaupun tanpa aku.” ucap Liana lirih.

“Kamu yakin gak mau dipikir dulu?”

Liana mengangguk pelan

“Ada hal yang bisa aku lakuin atau aku perjuangkan buat rubah keputusan kamu?”

Kali ini dia menggeleng, kemudian masuk kedalam dan mengunci pintu.

Cklek..

Dan itu bukan terdengar seperti pintu rumahnya yang dikunci. Tapi lebih seperti pintu hati nya yang dia kunci rapat, dan tidak mengizinkan Gue buat kembali, walau sekedar mampir.

Gue menyalakan motor dengan rasa malas, kemudian bergegas keluar teras rumahnya, bersiap menerjang hujan dan genangan air dijalan. Sejenak Gue menengok kerumah Liana yang mulai gelap didalam ruangannya, kemudian menarik gas dan perlahan berlalu.

“God, Please don’t stop the rain..” gumam Gue lirih dan sayup ditelan limpahan air hujan malam itu.
Diubah oleh ucln
weh ane baru pertama baca cerita ini bray
ijin nyimak yee
Ada quote langsung mampir, moga aja cakep ceritanyaemoticon-Wow
Diubah oleh jusjeruk45
Wah ente lagi bor yg reborn.
Keren emoticon-Jempol
Komeng dulu, baca belakangan


Mantap gan...semoga lancar updatenya
lanjut terus sampai tamat ya gan... emoticon-Rate 5 Star
page one, cepet2 ya gan apdetnya
Diubah oleh pendapatsaya
sip dah, pasang tenda dulu dah
Lah kok reborn sih bor
Udah subscribe...ijin nenda
Kyknya pernah baca belum lama ini...
Kok dah di reborn aja?
Dapet PEJWANNNNNNNNNN BORRRR.

ijin ngedeprok bor emoticon-Shakehand2
Diubah oleh robotcaptchaaaa
ijin gelar matras bor
kayaknya seru nih
Quote:
emoticon-Malu emoticon-Big Grin

profile-picture
krisnhawan memberi reputasi
Ijin gelar tiker

Plus pejwanemoticon-Hansip
mantap
Mejeng dulu. Kayaknya pernah baca tapi udah lupa.

Lupa sama yang nulis juga 😂😂
Diubah oleh pandubimantara
mejeng dulu
Gembok ga nj yee emoticon-Leh Uga
Diubah oleh fandyrhman
Mantap bor :v
Halaman 1 dari 203


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di