CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Beriman Tanpa Berpikir, Bagaimana Mungkin?
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a0e011ac1cb17141b8b457c/beriman-tanpa-berpikir-bagaimana-mungkin

Beriman Tanpa Berpikir, Bagaimana Mungkin?

Beriman Tanpa Berpikir, Bagaimana Mungkin?
Beginilah pengalaman Gary Gutting, seorang professor filsafat di University of Notre Dame, Amerika Serikat. Dia sedang mengajar mahasiswa di universitasnya.
Mayoritas beragama Katolik. Dia bertugas mengajarkan filsafat. Salah satu tugas utamanya sebagai professor filsafat agama (philosophy of religion) adalah untuk mengajak mahasiswa berpikir tentang alasan mereka beragama.
Ada banyak metode yang ia terapkan. Salah satunya adalah mengajak mahasiswa membaca koran, dan kemudian bertanya, “Dapatkah kamu melihat begitu banyak berita buruk di koran, sambil tetap mempertahankan iman kepada Tuhanmu?” Juga Gutting suka mengajukan pertanyaan, “Bukankah agama itu tergantung pada tempat di mana kamu lahir? Jika kamu lahir di India, maka kemungkinan besar kamu akan beragama Hindu, bukankah begitu?
Diskusi berjalan lancar dan menegangkan. Namun tiba-tiba seorang murid mengangkat tangan dan bertanya,
Bukankah agama itu soal iman, dan iman itu soal kepercayaan?” Jawaban itu seolah menuntaskan semua masalah yang muncul dalam perdebatan. Semua pihak puas terutama yang merasa nyaman dengan imannya.
Percaya bagi mereka berarti tidak perlu menjelaskan mengapa mereka memeluk imannya. Pengalaman Gutting itu rupanya tidak hanya terjadi di Amerika Serikat, dibanyak situasi hal-hal dan pertanyaan seperti itu kerap muncul dalam berbagai bentuk masyarakat dan jawaban akan seperti itu juga dilontarkan oleh berbagai bentuk pemahannya akan hal yang dipercayanya.
Padahal seturut dengan tradisi skolastik abad pertengahan, jawaban itu sama sekali tidak bisa dianggap tepat. Iman memerlukan dasar yang masuk akal.

Iman yang Diuji
Kembali ke cerita Gutting. Menanggapi ini ia biasanya berpendapat, “Bagaimana mungkin kamu puas dengan argumen itu? Bukankah kamu tidak akan membeli sebuah barang, hanya dengan mempercayai orang yang menjualnya? Bukankah kamu akan menguji barang tersebut, sampai kamu merasa layak membelinya?
Mengapa kita tidak menerapkan hal yang sama dalam soal iman? Bukankah lebih baik jika kita menguji dan mendalami iman kita tersebut, sebelum kita menganutnya, dan hidup dengannya?

Baiklah. Marilah kita menguji iman kita dengan argumen dan bukti-bukti ilmiah. Argumen pertama yang biasanya muncul adalah, “Jika Tuhan tidak ada, bagaimana mungkin menjelaskan keberadaan semua hal, dan bahwa dunia diatur dengan hukum-hukum alam yang begitu pas?
Perdebatan memanas lagi dengan argumen tersebut. Mahasiswa tampak merindukan argumen tajam yang bisa
memperkuat iman mereka. Tak beberapa lama kemudian, mahasiswa mulai lelah. Mereka merasa tidak mampu memahami argumen abstrak yang mereka harapkan bisa memperkuat iman mereka. Mereka berhadapan dengan sebuah rahasia besar di dalam filsafat ketuhanan, bahwa tidak ada filsuf yang sungguh-sungguh bisa membuktikan atau menolak adanya Tuhan secara rasional. Kata “iman”, “percaya begitu saja”, kembali terngiang di telinga mahasiswa.

Filsafat memang bisa menjadi alat untuk meningkatkan kemampuan intelektual. Namun sayangnya filsafat pun tidak bisa memberikan kontribusi nyata untuk pengembangan iman. Apakah begitu?
Beriman Tanpa Berpikir, Bagaimana Mungkin?
Tidak ada satu pun argumen filosofis rasional yang bisa menolak atau memperkuat keberadaaan Tuhan secara total. Kiranya tak berlebihan jika dikatakan, perdebatan dimenangkan oleh kaum agnostik, yakni mereka yang berpendapat, bahwa manusia tidak pernah sungguh tahu perihal keberadaan Tuhan, apalagi menolak keberadaanNya.
Walaupun begitu kita tidak boleh beriman begitu saja, sama seperti kita tidak boleh percaya saja kata-kata orang jualan, tanpa sungguh memahami apa yang dijualnya. Dengan kata lain kita harus kritis. Jangan naif. Jangan gampang percaya. Orang yang gampang percaya, gampang juga ditipu. Anda mau ditipu? Jika tidak, maka kita perlu berpikir. Kita perlu bertanya soal iman kita, sampai kita memahaminya secara mendalam.

Filsafat dan Iman
Bagaimana cara memperkuat iman secara rasional? Gutting menyarankan agar kita membaca tulisan tulisan para filsuf besar, seperti David Hume, Ludwig Wittgenstein, dan Alvin Platinga. Mereka sependapat bahwa kita hidup selalu dengan memegang kepercayaan yang tidak bisa kita jelaskan sepenuhnya secara rasional. Salah satu contohnya adalah, mengapa kita ngupil dengan tangan kanan? Juga apakah ingatan kita sungguh tepat? Atau yang lebih berat, apakah orang lain punya jiwa?

Kepercayaan naif tersebut datang dari pengalaman kita sehari-hari. Bagi Platinga kepercayaan naif ini mirip dengan kepercayaan kita pada Tuhan. Artinya kita tidak pernah bisa sungguh menjelaskannya. Kita hanya tahu bahwa itu benar. Titik. Tidak ada koma. Kita juga selalu tahu, bahwa suatu perbuatan itu baik, walaupun kita tidak bisa sungguh menjelaskannya. Kita juga selalu tahu, bahwa lukisan itu indah, tanpa pernah sungguh bisa menjelaskannya. Kita tahu cara mencintai, walaupun kita pernah bisa merumuskan apa itu cinta. Kita tahu bahwa kita bahagia, jika dicintai, walaupun kita tidak tahu sebabnya. Kita juga selalu tahu, bahwa ada sesuatu yang luar biasa besar dan agung di atas kita semua, walaupun kita tidak bisa sungguh menjelaskannya secara jernih.

Siapa yang dengan sok tahu bilang, bahwa semua kepercayaan kita itu hanya ilusi? Tentu saja argumen di atas masih terbuka untuk perdebatan. Semua yang keluar dari mulut manusia tidak pernah mutlak. Ini akan menjadi tema perdebatan yang menarik. Tentu juga argumen ini bisa menjelaskan, mengapa kita tidak pernah bisa secara jernih menjelaskan keberadaan Tuhan. Namun itu kan soal Tuhan. Bagaimana soal agama dengan ajaran mutlak dan ritualnya yang suci? Bagaimana soal Tuhan yang sangat memperhatikan, apakah manusia menjalankan ritual religiusnya secara tepat, atau tidak? Tanpa ritual dan ajaran yang mutlak, agama tidak memiliki daya ikat. Tanpa daya ikat agama tidak akan bisa menjadi kekuatan sosial yang demikian besar. Jadi bukankah ritual juga penting?

Sulit untuk memberikan jawaban secara kritis dan rasional atas pertanyaan-pertanyaan itu. Teologi bisa memberikan jawaban. Namun teologi tanpa filsafat sama seperti sup tanpa garam. Ia kehilangan daya kekuatannya untuk mengubah. Ia hanya akan menjadi buih dogma yang ketat dan kejam, tanpa ada pendasaran yang masuk akal dan mengundang orang untuk memahami, bahkan mencintai. Lalu bisakah kita beriman tanpa berpikir? Jawabannya tidak. Agama dan teologi menyediakan iman. Filsafat menyediakan kemampuan berpikir yang kritis dan mendalam. Filsafat, agama, dan teologi adalah teman seperjalanan yang tidak selalu cocok. Namun percakapan di antara ketiganya tidak boleh berhenti.

Orang yang mengaku beriman dan beragama juga harus memikirkan dan menguji secara mendalam iman dan agamanya. Filsafat bisa menjadi alat uji dan alat berpikir yang tajam dan mencerahkan. Ini rupanya yang menjadi komitmen Gutting, ketika mengajar. ***




Pustaka Acuan
Gary Gutting, Philosophy and Faith, New York Times on line 1 Agustus 2010.

Franz Magnis-Suseno, Menalar Tuhan, Yogyakarta: Kanisius, 2005.

#gambar dari berbagai sumber di google pictures.





referensi
Diubah oleh ryan.manullang
Halaman 1 dari 30
Pertamax.
Ane Page One dulu ye.
Reserved untuk komen 1.
entar ane komen.

entar ane coba baca-baca karya nama-nama filsuf yg ts tulis.
filsafat terdahulu mencari kebenaran agama dan keimanan pemikiran manusia belum sampe kesimpulan akhir ternyata, emang sih pemikiran manusia ada batasnya tapi siapa yang tau dimana batasnya, ya cara satu-satu untuk mencari batas pemikiran ya terus berfikir.

nyomot kalimat ahmad wahibemoticon-Cool
Diubah oleh mubafirs
trit bagus ini, wajib bintang 5
emoticon-Shakehand2
Bisakah kamu membayangkan seuatu yang belum pernah kamu melihatnya???example : kita disuruh untuk mebayangkan batu yang besar..maka kita akan mebayangkan sebuah benda yang keras, berwarna abu2 dan berbetuk agak lonjong berukuran sangat besar (BATU). Mengapa kita bisa membayangkannya??karena kita pernah melihatnya. Lalu kemudian kita disuruh membayangkan sesuatu yang belum pernah kita lihat..apakh bisa???tentu saja tidak BISA...karena sesungguhnya pemikiran manusia mayoritas saat ini telah tersesat dalam konsep keberadaan Tuhan dari sisi Berhala....
salam pengabdi negaraemoticon-2 Jempol emoticon-2 Jempol emoticon-2 Jempol
Quote:


Quote:


siaaap oomm
Quote:


ahmad wahib mmg..emoticon-Cool
Quote:


emoticon-Big Grinemoticon-Big Grin emoticon-Shakehand2
yang penting bonus lah emoticon-Wakaka

Beriman Tanpa Berpikir, Bagaimana Mungkin?
Quote:


jdi ingat immanuel kant..
tuhan tuh mesti cupuk, biar bisa dibayangkan;
sehingga bisa diimani.
klo maksain tuhan sebagae entitas serba maha,
yang muncul cuma paradox tuhan doang.
Quote:


sbnarnya tdk mslh. yg pnting itu bagaimana coba merefleksikannya pda khidupan dunia aja
Quote:


tuhan maha kuasa, maha mengatur, maha berkehendak, maha memaksa, maha membolakbalik rasa, maha tao, maha pelindung, maha memilih, maha pengasih, maha penyayang.

hosh.. hosh..

n kmudian kita sibuk pacaran,
mantanin anak orang duapulu kali,
menunggu pangeran bekudaputi,
sabar, pasrah, berbesar ati,
..
sekedar karena mereka pikir bahwa
setiap manusia telah disediakan jodoh nya.
dor!!
sibuk dengan pembenaran ilahiyah,
seolah tuhan ngurusin perjodohan.
ngeQ!

itu baru 1pasal, dari 5pasal yang bukan urusan tuhan.
uda deh, mending ikut tuhan gw ae.
emoticon-Angkat Beer
kontes adu ganteng tuhan ini,
juri nya sapa sik??

Quote:


hahahaha ini konsepsi mengimani dgn kritis oom. bagimana kontemplasi kita trhadap sesuatu diatas sgala pengetahuan kita. hingga tdk membabi buta akan sgala pengetahuan dan ketidaktahuan.

kalo oom ambil titik ateisme di dlm ny gk akan jumpa oom. hehe
udh ad forumnya disebelah udh pnjang lebar tu kajiannya
Sesuatu yg tidak baru tidak lama tidak sama
Namanya tidak adaemoticon-Big Grin
Ane Page One dulu ye.
Quote:


teu ngarti urang emoticon-Bingung
Gemboked.
Diubah oleh muhammad.hanif.
njrittttt
Diubah oleh yut27
Halaman 1 dari 30


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di