CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
HANYA HATIKU YANG MENGERTI DIRIMU
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a053c32642eb6664c8b4567/hanya-hatiku-yang-mengerti-dirimu

Hanya Hatiku Yang Mengerti Dirimu

Cerpen: HANYA HATIKU YANG MENGERTI DIRIMU

Di sini, di sudut kamar yang sepi. Kutelusuri kembali jejak-jejak masa yang telah kita tempuh. Serpihan-serpihan airmata yang telah membeku masih menumpuk pada setiap tikungan jalan yang kita lalui. Hampir setiap persimpangan jalan kau selalu menggoreskan kenangan luka yang begitu dalam, sehingga mustahil rasanya dapat hilang di telan waktu.

Sungguh aku tak pernah mengerti. Mengapa setiap pintu gerbang tujuan perjalanan kita telah di depan mata, kita selalu berdebat. Dari arah mana kita harus memasukinya? Seperti sudah kuduga, kau pasti memaksaku agar menempuh jalan kiri yang kau pilih. Namun saat terakhir itu aku benar-benar tidak bisa lagi menuruti keinginanmu. Kakiku terlalu letih untuk mengikuti kemauanmu. Hatiku terlalu penuh untuk menampung semua aspirasimu. Lidahku terlalu penat untuk berargumentasi. Jiwaku teramat letih dengan pertengkaran, dan pada akhirnya pendapatmu juga yang harus diakui.
Karena itu, aku mengambil keputusan tegas: Silakan kau tempuh jalanmu! Biarkan aku tetap berpijak pada langkahku. Tuh kita akan bertemu di tempat tujuan yang sama. Tapi, bagaimana mungkin kita berjumpa, kalau kedua jalur kita pilih ini ternyata menuju lokasi yang berbeda? Akibatnya, kini bukan hanya raga kita yang terpisah, tetapi hati kita juga telah terbelah.

Kini, kukenang kembali masa-masa indah kita. Kuinteropeksi setiap kata, sikap dan perilakuku terhadapmu. Rasanya, sebagai suami, tak ada yang kurang dan salah dalam tanggungjawabku. Tapi mengapa tak pernah sekalipun kau mau mengalah padaku? Selama ini selalu kuturuti semua keinginanmu. Tapi tak satu kata pun kau turuti ucapanku. Inikah yang disebut cinta? Apakah mencintai itu hanya memberi dan berkorban, tanpa berhak menerima dan dihargai?

Terus terang, di kamar yang masih menyimpan foto-foto dan bunga-bunga perkimpoian kita, aku masih mengharapkan kehadiranmu di sini. Menemaniku merenda mimpi yang tercipta dalam lukisan cinta pertamaku. Tapi keegoanmu, selalu menghancurkan setiap jalinan sutra yang mulai kurajut kembali.

Semua buku psikologi telah kupelajari. Namun tak satupun kutemukan teori yang dapat menjelaskan kepribadianmu. Para ahli jiwa telah aku datangi, namun tak seorang pun yang dapat menjawab misteri hatimu. Lalu dengan cara apalagi aku bisa mengerti. Dirimu sendiri tidak dapat mengungkapkan apa yang terpendam dalam rahasia hatimu, selain menampakkan keegoan agar selalu dituruti.

Kini, satu tahun sudah kita berpisah. Tiba-tiba aku teringat pada suratmu yang pertama kali, yang masih tersimpan rapi dalam catatan memori hati:
Aku mencintaimu, karena hanya kau yang bisa mengerti tentang diriku
.
****************

Kurenungi setiap sikapmu, sejak awal kita berkenalan. Kau seorang gadis yang teramat cuek. Kuajak bicara, kamu hanya menanggapi seadanya. Tapi ketika kutawarkan jasa, mengantarmu pulang pergi dari kampus menuju rumah kost, dengan antusias kamu menyambutnya. Sejak saat itu kita semakin akrab.
Hampir setiap hari kamu minta antar jemput, walaupun jadwal kuliah kita berbeda. Padahal kamu tahu bahwa aku harus dua kali berbalik arah agar tiba di tempat tinggalmu, lalu menuju ruang kuliah.

Suatu hari, dalam perjalanan ke kampus, karena ingin bercanda, aku berkata: Kamu suka ngga sama aku? Bukan kata yang kudapatkan, tapi sikap tegas yang kau berikan. Kamu tiba-tiba turun dari boncenganku, padahal motor masih berjalan pelan. Untung saja kamu tidak terjatuh. Segera kuhentikan motorku. Kulihat raut wajahmu cemberut seperti menahan emosi.

Berbagai alasan, bujukan, dan permintaan maaf aku sampaikan. Namun kamu tetap diam, dan terus melangkah. Kumatikan mesin motorku, dan kutuntun agar aku dapat berjalan berdampingan denganmu. Namun kamu justru mempercepat langkah.
Aku merasa jadi serba salah, hingga akhirnya kita tiba di ruang kuliah.

Setelah itu, selama satu minggu kita tak pernah bertegur sapa, apalagi minta dijemput. Aku kehabisan akal dan kata. Hingga akhirnya secara serius aku menulis surat: Aku mencintaimu, Sayang!

Dua hari kemudian, baru kita bertemu kembali di kampus. Kali ini sikapmu benar-benar membuatku terkejut. Perilakumu tak sedikitpun berbeda dengan sebelum kejadian itu, seoah-olah peristiwa itu tak pernah ada. Dengan antusias kita bercanda, sambil menunggu dosen Filsafat Pancasila. Maka esok harinya, tanpa kau minta, aku kembali menjemputmu. Tanpa beban kamu mengiyakannya.

Menjelang masa perkuliahan berakhir, teman-teman kita berencana piknik ke Pantai Takisung. Mereka dengan pasangan masing-masing akan berboncengan naik motor. Dari lirikan matamu, aku dapat membaca isyarat agar aku menemanimu. Tanpa menunggu kau mengucapkannya, aku langsung menawarkan: Gimana kalau kita pergi berdua? Kamu hanya mengangguk pelan sambil tersenyum.

**************

Di hamparan pasir putih di tepi pantai, menjelang senja. Sinar sunset memantul di permukaan air. Kamu menyendiri di sana sambil menerawang jauh ke seberang lautan. Entah apa yang kau pikirkan. Tiba-tiba timbul keberanianku untuk mendekatimu. Agar kau tidak kaget, aku menghampirimu dari arah depan. Isyarat matamu seperti memintaku untuk duduk di sampingmu. Tanpa ragu aku mengambil posisi di sebelah kirimu. Kita sama-sama menatap mentari yang mulai tenggelam, ditelan laut, menuju malam. Tanpa kata, kutatap wajahmu yang masih serius memandangi bias cahaya merah yang mulai merambat gelap. Tepat saat keindahan sunset itu lenyap, kita bertatap mata. Kau tersenyum teramat manis kepadaku, lalu kembali menatap laut yang mulai menghitam.


HANYA HATIKU YANG MENGERTI DIRIMU

Dengan ragu aku mendekat. Kuberanikan mengulurkan tangan kananku untuk membelai rambutmu yang sengaja yang kau biarkan tergerai ditiup angin. Kamu hanya diam. Kudekatkan bibirku ke telingamu dan kubisikkan denga lembut: Aku sayang Kamu! Kamu masih bungkam, sehingga aku benar-benar ingin memelukmu. Tapi baru saja tanganku menyentuh pundakmu, tiba-tiba gema azan Magrib menyergapku. Kita pun segera beranjak dari tempat itu.


HANYA HATIKU YANG MENGERTI DIRIMU

Bersambung>>>

Spoiler for Sumber: :


Diubah oleh Aboeyy
Izin nyimak ya gan.
Soal'y panjang banget ne
Silaken, Gan!
Quote:


selonjoran ye gan
Sambungan "Hanya Hatiku Yang Mengerti Dirimu" (TAMAT):

Kita pulang saat gelap telah menyelimuti seluruh pantai. Aku sangat berharap kau memelukku untuk mengusir dinginnya hembusan malam. Namun kau tetap bisu, hingga aku bertanya, “Gimana, sudah kau baca isi suratku?”
Di luar dugaanku, ternyata reaksimu tidak jauh berbeda dengan saat aku bercanda dulu. Kamu berontak minta diturunkan sambil memukul-mukul pundakku. Aku mengalah. Motor kuhentikan. Malam semakin gelap. Teman-teman kita sudah pulang duluan. Perjalanan masih jauh. Mungkin karena pertimbangan ini, kamu tidak jadi turun. Selama perjalanan, tak ada kata yang keluar dari mulutmu. Bahkan kamu duduk di bagian paling belakang dari motorku. Beberapa kali aku menoleh, untuk memastikan bahwa kamu masih di boncenganku. Peristiwa itu kucatat dalam diary hatiku, sebagai sebuah kenangan awal bersamamu, yang kunilai sangat jauh dari kesan menyenangkan.

***************

Tiba di rumah, kamu langsung mengunci pintu, tanpa memintaku untuk istirahat dulu. Aku pun mengerti dan langsung memacu motorku. Malam itu, aku benar-benar dibuat tak mengerti oleh sikapmu. Lebih tak mengerti lagi ketika esoknya kamu menulis surat untukku: Kalau kau serius, segera lamar aku.

Final Test telah usai. Tanpa memberitahu terlebih dulu, aku bersama orangtuaku menghadap ayah dan ibumu. Melalui proses yang cepat dan sederhana, kita resmi bertunangan. Dua bulan kemudian kita menikah. Setahun berikutnya kita mempunyai seorang putri. Namun sampai detik itu aku masih tidak dapat mengerti rahasia hatimu, selain kesimpulanku bahwa kamu hanya mau menerima tanpa bisa memberi.

*************

Terinspirasi dari buku psikologi yang pernah kubaca, bahwa sebagian sifat seorang anak mencerminkan kepribadian orangtuanya. Maka dua bulan yang lalu kuamati gerak-gerik, sikap, dan ucapan anak kita. Barangkali dari dirinya yang masih lugu, dapat kutemukan replika dirimu. Namun pikiranku yang telah kalut, tidak bisa menganalisis secara cermat apa aku lihat. Hingga akhirnya aku membentaknya, karena ia terus merengek minta dibelikan mainan. Ia menangis dan merajuk. Berbagai bujukan dan rayun tak mampu menghentikan isakannya. Mungkin karena lelah, ia tertidur.

Ketika ia membuka mata, dengan lembut kubelai rambutnya. Kucium kedua pipinya. Bibir mungilnya tersenyum. Dengan manja ia bertanya: Mana boneka tadi, Pah? Buru-buru aku menyerahkannya. Disambutnya dengan riang, lalu dicium dan dipeluknya. Belikan satu lagi, Pah! pintanya. Iya, pasti Papah belikan, asal kamu tidak bandel lagi. Ia hanya tersenyum. Tak terduga ia mencium pipiku, persis seperti pertama kali kamu mengecup keningku setelah akad nikah dulu.

Dari peristiwa itu, aku mendapat sedikit pencerahan. Mungkin kamu sebenarnya tidak egois, tapi hanya ingin mendapat perhatian penuh. Kamu bukan tidak ingin memberi, tapi mau menghadiahkannya pada saat yang romantis. Kesimpulannya, kamu adalah pribadi yang harus dimengerti dengan sepenuh hati dan rasa, bukan dengan akal dan logika. Harus diminta dengan dramatis, bukan dengan cara drastis.

Atas dasar asumsi ini, maka bulan kemarin aku ingin mengetuk pintu hatimu. Aku sangat berharap agar kau bersedia menyatukan kembali serpihan hati yang telah terberai ini. Namun kenyataan telah menghancurkan sisa-sisa asaku. Kamu telah bertunangan dengan pria lain, dan dua minggu lagi akan bersanding.

Aku bersumpah, dengan siapapun kamu menikah, maka tiada yang mengerti tentang dirimu kecuali hatiku, sebagaimana ucapanmu dulu.
Ketika hari pernikahanmu, sengaja aku tidak datang, walaupun undangan telah sampai seminggu sebelumnya. Aku tak ingin minum racun dari kebahagiaanmu, atau kehadiranku menjadi badai yang menghalangi bahtera rumah tanggamu.

Tapi hari ini, tepat sepuluh hari setelah perkimpoianmu, kamu datang sendirian. Aku menduga kamu ingin menjenguk anak kita dan menanyakan mengapa ia tidak hadir di acara resepsi perkimpoianmu. Tidak ada bekas make up pengantin terlihat di wajahmu. Bahkan lebih tampak bekas bulir-bulir air mata yang baru mengalir di kedua pipimu. Belum sempat aku bertanya, teka-teki yang tertulis di keningku sudah terjawab. Suamiku mengaku duda, padahal ia belum cerai. Barusan kami bertengkar hingga dia memukulku. Karena itu, aku ke sini untuk minta perlindungan, tuturmu dengan airmata.

Jauh di lubuk hatiku, aku masih menyayangimu. Bahkan ketika kudengar pengakuanmu bahwa suamimu memukulmu, seluruh tubuhku bergetar karena menahan marah. Andaikan aku bertemu dengannya saat itu, mungkin sekarang aku sudah menjadi seorang pembunuh. Bagaimanapun perlakuanmu terhadapku selama perkimpoian kita, tak pernah tanganku menyakitimu.

Tapi keegoanku dengan tegas menolak keinginanmu. Aku tak rela kamu telah memberikan hatimu dan tubuhmu pada orang lain, yang terlihat jelas dari tanda-tanda merah di lehermu. Selain itu, aku sendiri sejak mengetahui pertunanganmu, sudah berusaha mengubur semua kenangan dan harapan bersamamu.

Namun ketika kulihat kau terus menangis, hatiku menjadi luluh. Inilah satu-satunya airmata yang pernah kulihat dari kelopak matamu. Aku sangat berharap semoga keakuanmu ikut mengalir pula bersamanya. Kuterima dirimu apa adanya dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Kusambut kembali harapanmu semata-mata karena cintaku dan anak kita. Aku tak ingin ia mempunyai ayah atau ibu tiri, sebagaimana aku tak mau kamu mempunyai cinta selain diriku. Hanya saja, bisakah kau menghilangkan sifat egomu, sebagaimana aku mampu mengenyampingkan keakuanku demi cinta??? Semoga!!!
***************************

TAMAT
Diubah oleh Aboeyy
Saat keegoan menguasai diri, maka hanya cinta yang bisa mengalahkannya.
asyik tamat
mantap tiada kentang
Quote:


Ini cuma sosis, habis sekali santap. Heeee
Diubah oleh Aboeyy
Hanya dirimu yang pernah, tenangkanku dlm pelukmu, saat kumenangis...


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di