CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Bunga Bangkai di Sudut Pelaminan
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a0495431a99757a2b8b4568/bunga-bangkai-di-sudut-pelaminan

Bunga Bangkai di Sudut Pelaminan


Bunga Bangkai di Sudut Pelaminan

Quote:


INDEX NOVELET:

Part 2 Part 3 Part 4 Part 5

Part 6 Part 7 Part 8 Part 9

Part 10 Part 11 Part 12 Part 13

Part 14 Part 15 Part 16 Part 17

Part 18 Part 19 (Tamat)

********

PART #1:
Jalan Berliku Menuju Hatimu



Suatu malam di tempat kerjaku.

“Seven up!” perempuan itu mengacungkan dua jari di depan loket.

“Habis! Tinggal Merlot,” sahutku. Ia menggeleng dan terus lenyap dari kerumuman pengunjung yang antre.

Di sini minuman keras golongan B yang berkadar alkohol 5-20% seperti merek Merlot dijual bebas dengan izin resmi. Syaratnya asal minuman itu barang legal dan orisinil. Untuk golongan C yang mengandung etanol lebih dari 20% seperti Vodka, hanya dijual terbatas secara rahasia kepada tamu yang sudah dikenal. Untuk mengelabui aparat, biasanya cairan itu dimasukkan ke dalam botol bekas minuman yang legal.

Aku mengenal hampir semua ladies yang biasa menghibur tamu di tempat ini. Tiga tahun kerja, membuatku hafal nama-nama dan wajah mereka. Bagaimana tidak, mereka adalah pengunjung tetap dan gratis masuk ke sini. Kehadiran mereka membuat tempat ini menjadi ramai. Pesona wajah dan tubuh mereka adalah magnet yang mengundang para lelaki yang haus sentuhan wanita untuk datang.

Hampir setiap malam mereka bertemu denganku. Dari balik kaca, di bawah cahaya temaram lampu, dapat kulihat gaya make up dan dandanan mereka yang terkesan monoton itu. Hanya warna dan bentuknya yang berganti-ganti. Modelnya tetap sama. Bawahan setengah paha. Atasan kaos ketat yang terbuka pundak dan sebagian dada, terkadang tanpa lengan, dengan warna lipstik agak menyolok memoles bibir. Namun kesibukan kerja membuatku tak sempat mengenal mereka lebih dekat. Tak seorang yang menjadi teman akrabku. Kami hanya saling kenal sebatas nama.

Wanita itu, dialah yang lebih menarik perhatianku. Seorang gadis berkulit putih bersih, berambut pirang sebahu, berwajah oval, dan berperawakan agak mungil. Sifatnya agak pendiam. Tak pernah kulihat ia mendekati tamu. Ia terkesan menunggu untuk dirayu. Jaim alias jaga image, itulah istilah yang populer di kalangan mereka.

Dia bukanlah yang tercantik. Dibanding teman-temannya, rasanya tiada yang lebih pada lady itu. Hanya saja, dialah satu-satunya yang kuketahui tak pernah memesan minuman beralkohol. Biasanya ia cuma membeli pelepas dahaga yang berkarbonasi.
Setiap pria yang bersamanya, umumnya terlihat dari kalangan orang yang berkantong tebal dan berwajah ganteng. Barangkali ia memasang tarif tinggi untuk satu jam bersamanya, atau sangat selektif memilih pasangan. Dugaan itu membuatku ragu untuk mendekatinya. Namun aku tetap berharap suatu saat langit membukakan jalan bagiku untuk mengenalnya lebih akrab.
****
Langit terlihat gelap. Hanya dua-tiga buah bintang saja yang tampak. Awan hitam yang menggumpal menutupi cahayanya. Pengunjung agak sepi. Yah, mungkin hanya sekitar tiga perempat dari biasanya.

Hiburan baru saja dimulai. Dari tirai jendela kaca kulihat gerimis mulai turun. Dalam kondisi seperti ini, biasanya minuman yang menghangatkan tubuh seperti Shiraz dan Merlot lebih banyak terjual.

Disco lamp terus berjoget mengiringi irama lagu, dan menghipnotis para pengunjung yang mulai ekstase untuk mengikutinya. Mereka hanyut dalam hentakan musik dangdut koplo yang semakin menggila. Tiba-tiba sound system dimatikan. Lampu-lampu utama dinyalakan. Spontan gerakan tubuh mereka terhenti. Wajah-wajah yang semula hanya kulihat samar di bawah temaram kilat cahaya warna-warni, tampak terlihat kaget.

Bunga Bangkai di Sudut Pelaminan

“Perhatian, perhatian! Semua pengunjung harap tenang dan tetap di tempat. Kami dari kepolisian akan mengadakan pemeriksaan,” terdengar pengumuman dari pengeras suara yang dipegang oleh seorang yang berpakaian dinas.

Sebagian tamu tetap diam. Namun beberapa orang mulai panik saat petugas mulai menyebar dan memeriksa kartu tanda pengenal diri. Saku baju dan celana, isi dompet dan sepatu tak luput dari razia itu. Kecemasan membuat mereka berusaha menghindar. Ada yang bersembunyi di belakang sofa, di dalam WC, bahkan ada yang mencoba keluar ruangan, namun segera dicegat oleh aparat yang berjaga di depan pintu. Temanku sendiri tergesa-gesa mengamankan minuman kelas C yang belum sempat dikamuflase.
Bersambung>>>

Spoiler for Ref:
profile-picture
profile-picture
mainida dan dhinie08 memberi reputasi
Diubah oleh Aboeyy
Halaman 1 dari 2
kayaknya salah sempak bray emoticon-Salah Kamar
emoticon-Hansip
salah kamar gan
Ke SFTH aja gan
emoticon-Cool
PART #2


Gadis itu tiba-tiba masuk ke tempatku. “Tolong Shanty, Mas! Aku tak bawa KTP,” ucapnya gemetar, sebelum aparat menggeladah ruang kerjaku.

“Cepat lewat sini!” Kudorong punggungnya sambil membuka pintu rahasia menuju bagian lobi.

Musik kembali membahana. Acara hiburan dilanjutkan lagi. Hanya beberapa pengunjung yang tak dapat memperlihatkan tanda identitas diri dan atau kedapatan membawa obat terlarang yang diamankan.

Aku menyusul wanita itu. Mungkin ia masih di lobi. “Eh, kamu masih di sini?” Aku kaget. Kudapati ia berdiri tidak jauh dari balik pintu berdinding lemari itu, di bawah temaram lampu dim 5 watt.

“Iya, Mas! Shanty takut. Soalnya di lobi kulihat masih ada aparat.” Muka pucatnya memandang wajahku.

“Sekarang sudah aman. Kamu bisa pulang.”

“Ngga deh, Mas! Tanggung. Lagian hari masih gerimis.”

“Kita ngobrol di ruangku aja, Yuk!” ajakku menarik tangan kirinya.

Cuaca bertambah dingin. Hembusan AC membuat ruangan semakin sejuk. Terasa lebih nyaman duduk di dekatnya, di bawah penerangan seperti cahaya sebuah lilin.

Di atas sofa yang empuk, kuselami kepribadiannya lebih dalam. Kutimba latar belakang kehidupannya lebih banyak. Mungkin karena merasa aman di sini, dan menganggapku sebagai penyelamat, ia mau menyibak sebagian tabir pribadinya. Karpet merah yang melapisi seluruh dinding, membuat suara musik tidak terlalu menggangu komunikasi.

“Ketinggalan atau tak punya KTP?” candaku membuka obrolan.

“Ketinggalan,” sahutnya pelan.

“Tapi kelihatannya sangat takut. Bawa obat?” selidikku. Ia terdiam lalu menunduk.

“Kalau bawa benda terlarang, ada cara aman,” pancingku.

“Gimana?” Ia mengangkat muka serius.

“Jadi benar kamu bawa obat?” aku memastikan. Kepalanya mengangguk pelan.

“Pemakai?” selidikku.

“Bukan!” sahutnya sambil menggeleng. “Tapi pria yang kutemani tadi minta belikan. Belum sempat diserahkan, polisi datang.”

“Barangnya masih ada?”

Shanty mengangguk. “Karena itu, aku tak berani keluar.”

“Dibuang saja,” saranku.

“Sayang. Harganya cukup mahal. Bisa dijual lagi.”

“Jadi, gimana amannya?” ia kembali serius.

Bak seorang pengedar narkoba profesional, aku bicara panjang lebar tentang trik-trik mengelabui aparat agar lolos dari pemeriksaan, agar ia lebih lama bersamaku. Namun aku tidak bicara bohong atau mengada-ada. Semua omonganku berdasarkan apa yang pernah kudengar dari pengalaman teman, kulihat di televisi, dan kubaca dari media cetak.

“Tapi, sungguh aku tak pernah menyentuh barang haram itu,” kilahku saat kulihat ekspresi wajahnya seolah mendugaku sebagai pemakai.
“Kamu sendiri mengapa mau disuruh beli obat itu?” lanjutku.

“Terpaksa, Mas! Apa lagi yang bisa kulakukan untuk dapat uang? Tak mungkin aku minta pekerjaan kepada pemerintah atau perusahaan. Tuh banyak sarjana yang nganggur, apalagi cuma berpendidikan rendah sepertiku. Karena itu, lebih baik aku bikin lapangan kerja sendiri, sesuai potensi fisik yang kumiliki. Dari penjual obat dan tamu yang ditemani itulah aku dapat rezeki.”

“Pernah cari kerja yang lain?” tanyaku hati-hati. Ia menggeleng.

“Mungkin ini sudah takdirku. Tapi, demi Tuhan! Aku tak pernah jual diri. Aku cuma menemani tamu ngobrol atau nyanyi di ruang karaoke,” tegasnya menepis kecurigaanku.

“Lain kali kalau ada apa-apa, silakan ke sini lagi! Tapi jangan ajak teman-teman yang lain. Jangan ceritakan pula tentang pintu rahasia itu. Nanti aku bisa dipecat,” saran dan wanti-wantiku.

“Iya, Mas! Terima kasih.”

Langit telah mengabulkan harapanku. Pintu gerbang menuju taman hati Shanty mulai terbuka. Pertemuan hampir tiga jam itu membuat kami semakin akrab.


Bersambung>>>
Diubah oleh Aboeyy
PART #3:
Misteri di Malam Valentine


Semenjak peristiwa malam itu, hubunganku dengan Shanty jadi semakin dekat. Malam-malam berikutnya ia sering menemuiku. Keakraban itu kunilai sebagai lampu hijau untuk segera menyatakan perasaanku padanya.

Di malam valentine yang cerah. Tamu lebih ramai dari biasanya. Para remaja 17 tahun ke atas, orang dewasa, bahkan om-om tampak mesra dengan “pacar atau pasangan sewaannya”, antre masuk ruangan.

Sekuntum bunga mawar dan sebuah kado spesial telah kupersiapkan buat Shanty. Kulirik jam di tangan kiriku. Hampir 30 menit sudah aku menunggu, namun wajahnya belum kelihatan. Mungkin ia bersama pria lain, atau dengan pacarnya. Hatiku menduga was-was. Tak terduga, ia datang sendirian di saat hatiku mulai putus asa.

“Hei!” ia lebih dulu menyapaku yang berdiri di samping pintu masuk. Aku menyambutnya dengan senyuman.

“Tidak kerja?”

“Malam ini khusus untukmu.”

Shanty tersenyum. Perlahan ia mengalungkan tangannya di leherku. Tak biasanya ia seperti ini, sekalipun terhadap tamu. Aku senang.
Kupikir ia sudah bisa menebak isi hatiku. Di luar perkiraan, ternyata ia meminta sesuatu yang membuatku agak kaget.

“Mas punya uang?”
“Berapa?” bisikku di telinganya.
“Lima ratus ribu.”
“Untuk apa?”
“Ini kan malam valentine? Mas ngga ngasih kado buat Shanty?”
“Iya. Aku punya kado untukmu. Tapi bukan itu.”
“Tapi Shanty perlu itu. Please dong Mas!” rengeknya manja.
“Tapi aku tak bisa segitu.”
“Ya, sudah!” sahutnya ketus.

Shanty melepaskan leherku, lalu bergegas menuju pintu masuk. Mataku terus mengikuti langkahnya. Begitu pintu didorongnya, suara musik dangdut melankolis terdengar amat syahdu di kupingku. Sangat cocok dengan suasana malam kasih sayang ini. Saat pintu otomatis itu tertutup, irama itu hanya sayup-sayup terdengar di telingaku. Aku menyusulnya, namun ia telah lenyap di kerumuman pengunjung.

Rasa penyesalan mendorongku untuk mencarinya. Semua meja kuamati. Setiap deret kursi sofa di tepi dinding kutelusuri. Di sudut kanan belakang ruangan, kutemukan dia dalam pelukan seorang laki-laki yang duduk di sebelah kanannya. Aku yakin itu Shanty, sekalipun hanya terlihat di bawah cahaya yang remang-remang. Aku tidak tahu apakah ia melihatku yang berdiri cuma sekitar satu meter di sebelah kirinya.

Otakku panas, darahku mendidih, dan hatiku membara karena terbakar api cemburu. Sungguh, sangat ingin rasanya kutarik tubuhnya dari dekapan pria itu. Namun aku sadar bahwa aku tak punya hak untuk itu. Tak ada ikatan apapun bagiku untuk mencegahnya, sebagaimana tiada seorangpun bisa melarangku untuk mencemburuinya.
************
Keakraban kami mulai renggang. Entah mengapa, mulai malam itu Shanty tak pernah lagi menemaniku. Kulihat ia tetap hadir setiap malam, namun tak lagi membeli minuman, seolah ingin menghindar dariku. Barangkali ia sangat kecewa padaku.

Yang lebih menyakitkan, kulihat ia selalu bergandengan dengan seorang pria yang berbeda-beda setiap kali datang. Ketika pasangannya memesan minuman, ia menempel mesra di lengan lelaki itu. Ia seperti sengaja memperlihatkan kemesraannya di depan mataku. Kemudian ia berlalu dengan santai, membawa semangat kerjaku yang tertawan oleh sikapnya.

Malam valentine tiga hari telah berlalu. Di atas selembar kertas kogoreskan perasaanku:


Bunga Bangkai di Sudut Pelaminan

Quote:

Bersambung>>>
Diubah oleh Aboeyy
PART #4
Terbakar Api Cemburu


Dentuman bass dari loud speaker berukuran 24 inchi yang tidak jauh dari ruang kerjaku, kurasakan seperti pukulan tertubi-tubi ke tubuhku. Kepalaku bertambah pusing. Jiwaku terasa lelah dan sepi. Semangat kerjaku luruh. Aku mulai sering bolos kerja.

Minuman beralkohol mulai menjadi air putih bagiku. Padahal menurutku hanya manusia paling bodoh yang suka menenggak cairan yang bisa menghilangkan akal itu. Yah, sekarang aku memang menjadi orang yang super idiot. Daya nalar kritis dan logis yang kuasah selama di kampus menjadi tumpul hanya karena Shanty. Yah, karena sudah sepuluh hari suratku tak dibalasnya.

Aku harus bicara dengan Shanty. Akan kuterima sesakit apapun jawabannya, daripada aku harus terus menanggung beban batin seperti ini. Kutetapkan keputusan itu setelah tubuhku terasa ringan dan melayang. Bukan karena anggur merah yang kureguk, tapi disebabkan rasa kecewa dan putus asa yang telah merongrong saraf-saraf otakku.

“Malam ini aku off dulu,” izinku kepada rekan kerja.
“Kenapa?”
“Mau rileks aja,” sahutku datar sambil mengambil tiga botol kecil minuman berkadar alkohol tinggi.
“Hati-hati, Sob! Jangan sampai mabuk. Nanti kamu bisa dipecat,” sarannya saat kuserahkan harga minuman itu. Ia menatapku seolah tidak percaya kalau aku yang akan menghabiskan isi ketiga botol itu.
“Iya!” sahutku sambil berlalu.

Pengunjung yang sudah masuk masih bisa dihitung dengan jari. Aku berdiri di samping pintu bagian dalam. Mataku memandang ke depan, mengamati setiap tamu yang datang.

Seorang pria berusia sekitar 50 tahunan kulihat menggandeng bahu Shanty. Keduanya melepas jaket lalu menitipkannya. Lelaki itu kembali memegang lengan kiri Shanty yang memakai singlet, lalu melenggang masuk dengan mesra. Sebotol Vodka yang telah memenuhi lambungku, cukup untuk membangkitkan keberanianku mencegatnya.

“Sebentar, Shan! Aku mau bicara denganmu,” sergapku menghalangi langkahnya.
“Nanti aja, Mas! Shanty udah janjian sama Om ini,” sahutnya agak grogi. Pria itu kembali memeluknya, membuatku tambah cemburu.

Bunga Bangkai di Sudut Pelaminan


“Sebentar aja!” ucapku agak keras sambil menarik tangan kirinya.
“Apa-apaan kamu? Main serobot aja cewek orang. Tuh di luar masih banyak yang lain,” seringainya sambil melepaskan bahu Shanty. Tangannya berayun untuk memukulku. Untung Shanty dapat mencegahnya.
“Jangan, Om! Jangan pukul dia!” pinta Shanty agak gemetar, sambil memegang tangan pria itu.
“Emang dia siapanya kamu?” ia menahan emosi.
“Dia temanku, karyawan di sini.”
“Tapi dia begitu kurang ajar.” Nadanya masih marah.
“Sudah, Om! Jangan bikin ribut di sini,” pinta Shanty sambil memegang tangan lebih erat.
“Ya, sudah! Kuberi waktu sepuluh menit. Kutunggu di meja kemarin,” ucapnya sambil mendorong pelan bahu Shanty dan berlalu ke tempat itu. Segera kuajak Shanty ke ruang karyawan.

“Ada apa, Mas?” tanyanya pelan dengan wajah cemas.
“Siapa yang bersamamu tadi?” tanyaku geram.
“Itu tak penting. Langsung intinya aja.”
“Jawab dulu pertanyaanku.” Suaraku agak meninggi. Lalu kutegok lagi isi botol kedua hingga setengahnya. Shanty semakin gugup, entah karena takut denganku, atau khawatir telat menemui Om itu.
“Biasa, Mas! Pengunjung yang minta ditemani.”
“Tapi kamu udah janjian, berarti telah sering bersamanya.”
“Ngga! Cuma pernah satu kali, lalu kami janjian lagi.”
“Jadi, kamu suka dengannya?” cecarku sambil menghabiskan sisa minuman itu.
“Siapa yang tidak suka kalau dikasih uang. Sudahlah, Mas! Nanti aja kita lanjutkan bicaranya,” sahutnya sambil berdiri.

“Aku belum selesai,” cegahku menarik kuat tangannya.
“Nanti Shanty terlambat. Ini sudah hampir sepuluh menit,” tukasnya. Aku tak tega memaksanya.
“Ya, sudah! Tapi temani aku setelah selesai bersama Om itu,” sahutku melepaskannya.

Shanty mengangguk pelan. Ia bergegas keluar untuk menemui teman prianya itu.
Bersambung>>>
Diubah oleh Aboeyy
PART #5:
Bintang Bersinar Kembali


Lebih satu jam sudah aku menunggu. Sangat membosankan. Pikiranku semakin galau. Tak sedikit pun musik itu membuatku terhibur, bahkan terdengar seperti teriakan keras yang membuat bising telingaku. Kutenangkan pikiran dengan sisa-sisa minuman itu. Mataku tertutup. Kusandarkan kepalaku yang terasa berat dengan wajah melongak. Botol itu masih di tanganku.

“Mas mabuk?” samar-samar kudengar suara sambil menggoyang-goyang lututku.
“Ti-tidak!” sahutku kaget karena kuduga itu temanku. Kugosok-gosok mata sambil duduk.
“Kamu Shan?” aku memastikan penglihatanku.
“Iya. Kamu lagi on ya? sekali lagi ia menanyakan kondisiku.
“Tidak! Cuma tertidur,” sahutku tegas.
“Tapi bau alkohol.”
“Tadi aku minum sedikit. Tapi otakku masih waras. Tidak ada yang membuatku mabuk kecuali kamu,” tegasku sambil menarik tangannya. Ia duduk di sampingku.
“Sudah, Mas!” pintanya lirih sambil memiringkan kepala saat aku mau mencium pipinya.
“Sebelum kau jawab isi suratku, aku tak akan melepaskanmu.” Kupegang tangannya lebih erat. Ia terdiam.
“Berilah aku kepastian!” lanjutku. Ia semakin bisu.
“Okelah kalau kamu tidak bisa menjawabnya sekarang. Tapi sudilah malam ini menemaniku. Anggaplah aku orang yang baru kau kenal.”
“Kenapa Mas mencintaiku? Orang sepertiku rasanya tidak pantas buat Mas,” sahutnya tiba-tiba sambil menatap wajahku, seolah mencari kejujuran di mataku.
“Kenapa?” aku balik bertanya.
“Mas ini mahasiswa, ganteng lagi. Pasti banyak cewek di kampus yang suka pada Mas,” pujinya membuatku semakin was-was.
“Tapi aku hanya menyukaimu,” tegasku.
“Sudahlah, Mas! Cari yang lain saja!” sahutnya bernada serius. Jantungku semakin berdebar.
“Jadi kau menolak?” tegasku meyakinkan. Ia terdiam sejenak.
“Bukan menolak, tapi rasanya aku tidak sepadan dengan Mas.”
“Maksudnya?”
“Yah, kalau kita berteman sih oke! Aku suka kok! Tapi kalau pacaran, rasanya terlalu banyak perbedaan antara kita.”
“Apa yang beda?”
“Mas kan tahu aku kerja seperti ini.”
“Tapi aku tak pernah membedakan apalagi merendahkan orang lain hanya karena pekerjaannya. Kita bekerja untuk hidup, dan hidup untuk berbagi. Aku tidak merasa lebih baik dari yang lain, bahkan akulah yang paling hina,” ucapku penuh perasaan.

Shanty menatap wajahku lalu menunduk.
Kubiarkan ia hanyut dalam pikirannya sambil kuremas jari-jari tangan kanannya. Dengan mesra kubisikkan lembut di telinganya, “Sungguh! Aku serius mencintaimu.”

Ia kembali menatapku, tersenyum, lalu mengangguk pelan.
“Jadi, kau terima cintaku?” tanyaku memastikan makna sikapnya.
“Ya, kita coba dulu sejauhmana kesungguhan Mas menyayangiku,” sahutnya sambil mengangguk.
“Terima kasih, Sayang!” Kutatap wajahnya dengan senyuman. Ia memejamkan mata saat kudekatkan hidungku ke pipinya.
“Tapi mengapa baru sekarang jawabannya? Terlalu lama rasanya bagiku menunggu.”
“Yah, agar tahu kesungguhan dan keseriusan Mas aja.”
“Ya, sudah! Silakan temui lagi Om itu!” candaku seolah membiarkan.
“Emang Mas ngga cemburu?”
“Ah, ngga! Siapa tahu dia ngasih tips yang lebih banyak,” sahutku berpura-pura acuh.
“Apalah artinya uang yang dikasih cuma karena nafsu. Makin banyak ia memberi, pasti semakin lebih pula ia meminta.”
“Biasanya tamu minta apa?”
“Mas pasti lebih tahu. Tapi aku tak pernah mengizinkannya menyentuh daerah kewanitaanku. Paling cuma sekadar peluk cium biasa.”

Mulai saat itu, bintang-bintang kembali menerangi malam-malamku yang gelap, dan matahari menyinari hari-hariku yang suram.

*******************
Bersambung>>>
Diubah oleh Aboeyy
PART #6


Benih-benih cinta yang kutanam hampir empat tahun di taman hatiku belum juga berbuah. Sementara bibit-bibit kasih yang baru kusemai di lahan terlarang mulai berbunga. Sudah satu bulan kuncupnya mekar. Melalui proses yang memalukan sekaligus memilukan, gadis yang kakaknya kusunting saat ia kelas X SMA itu, terpaksa harus bertukar status dengan saudarinya.
*********
“Bella ada tugas nih! Tolong, Kak!” begitulah pinta Bella, setiap ada PR, sejak aku tinggal di rumah mertua, sampai ia lulus SMA. Mungkin karena aku sarjana, ia lebih percaya dengan pengetahuan yang kumiliki. Barangkali pula karena aku satu-satunya lelaki di rumah itu, ia lebih akrab dan manja denganku. Ia tak sungkan-sungkan memelukku dari belakang saat aku mengerjakan soal-soal yang diberikan guru, sekalipun di depan kakaknya. Shanty sendiri membiarkannya. Mungkin ia menganggap itu wajar, sebagaimana ia biasa memeluk atau dipeluk lelaki. Hanya Mama terkadang menegurnya, “Jangan begitu, Bel! Nanti Shanty marah lho.”

“Ah, Mama! Kalau tidak begini, Kak Fendy tak mau ngerjakan tugas Bella,” tukasnya manja sambil merangkul leherku yang sedang menulis di buku tulisnya.

“Tapi kamu itu sudah dewasa, jangan seperti anak SD lagi. Fendy justru terganggu kalau begini,” protes Mama sambil menarik lengannya.
Sebenarnya aku juga suka diperlakukan seperti itu. Bukan apa-apa. Tak ada pesona yang “menggairahkan” dari tubuh agak kurus dan berkulit sawo matang itu, sekalipun ia berwajah lebih menarik dari kakaknya. Aku bisa merasakan makna sikapnya itu sebagai ungkapan seorang anak yang tak pernah bermanja-manja dengan ayahnya.

Pertumbuhan fisik Bella terlihat drastis saat ia duduk di kelas XII. Bentuk tubuhnya mulai menebarkan daya tarik bagi lawan jenis. Apalagi gaya berpakaiannya yang tidak jauh beda dengan kakaknya waktu kerja di diskotik dulu. Namun sikap manjanya terhadapku tetap tak berubah, hanya bentuknya yang berbeda. Ia tak lagi memelukku. Mungkin ia sudah merasa malu melakukan itu. Tapi ia suka mengajakku bercanda, ngobrol masalah pelajaran, tentang laki-laki, dan sebagainya. Jika aku sedang mengerjakan PR-nya di atas meja kecil, ia selalu duduk atau tiarap di depan sambil memperhatikanku. Saat itulah biasanya aku bersikap usil, dengan mencoretkan pulpen ke dahi atau pipinya. Namun ia hanya tersenyum.
**********
Kesempatanku berduaan dengan Bella semakin terbuka saat ia mulai kuliah. Mama memintaku mengantar jemputnya. Jarak rumah kami dan kampusnya sekitar 9 km.

“Biar Bella yang bonceng, Kak!” pintanya suatu hari.
“Emang kamu bisa?”
“Bisa, tapi belum lihai!”

Bella belum begitu terampil berkendara. Laju motor tidak stabil. Saat mau jalan, terkadang ia menarik gas secara spontan sehingga tubuhku mau terjatuh ke belakang. Ketika ingin berhenti, ia menginjak rem mendadak, sehingga tubuhku terdorong ke depan. Hampir sebulan seperti itu hingga ia semakin mahir mengendalikannya.

Bunga Bangkai di Sudut Pelaminan
Suatu sore sepulang kuliah, hujan turun dengan derasnya. Sekalipun berlindung di balik jas hujan yang dipakai Bella, terpaan air dari samping membuat pakaianku basah. Aku kedinginan. Dengan perasaan was-was kulingkarkan tanganku di atas perutnya. Di luar dugaan, ternyata ia malah senang, “Lebih erat, Kak! Bella juga kedinginan nih!”

Momen-momen itulah yang membuatku terbiasa menyentuhnya. Namun aku tetap bersikap wajar, tanpa ada pikiran negatif terhadapnya. Tapi saat ia mengambil Mata Kuliah Teknologi Informasi, godaan nakal mulai menghampiriku.

“Kak! Bella ingin belajar komputer,” pintanya.
“Pakai aja laptop ini!” kusodorkan PC portable yang sudah jarang kusentuh sejak tamat kuliah itu.
“Tapi Bella belum bisa. Ajari dong, Kak!”

Hampir setiap hari aku mengajari Bella menggunakan laptop itu. Saat ia memegang mouse, tangan kananku selalu menempel di atas jari-jarinya, sambil menjelaskan cara mengarahkan kursor dan mengkliknya. Tangan kiri kuletakkan di atas bahunya. Kadang kupijat-pijat pundaknya. Ia hanya diam. Akhirnya aku berani memeluknya dari belakang sambil memberikan instruksi, sesuai dengan aplikasi yang dipelajarinya. Hal itu terus kulakukan apabila Mama dan istriku tak ada di rumah.
**********
Godaan semakin besar saat Bella memasuki semester IV. Ia magang di sebuah lembaga sebagai tugas akhir dari kuliahnya di Program D2 itu. Ia ingin kost dekat tempatnya magang.

“Tak usah, Bel! Hanya menambah biaya. Tuh Fendy bisa mengantar jemput setiap hari,” cegah Mama.
“Tak bisa, Mah! Kegiatannya padat dari jam pukul tujuh pagi sampai pukul lima sore,” bantahnya, hingga Mama tak bisa menolak keinginannya.

“Tolong Fen! Sering-sering jenguk Bella!” pinta Mama agar aku selalu mengontrol keadaannya. Mungkin Mama begitu mengkhawatirkannya yang belum biasa jauh dari keluarga. Dua kali seminggu aku ke sana.
“Tolong temani Bella!” begitu pintanya setiap kali aku datang. Terkadang ia mengajakku ke Mall atau ke tempat lainnya untuk membeli keperluan sehari-hari atau urusan kuliah, atau hanya sekedar bersenang-senang. Karena jalan sore setelah ia magang, maka terkadang kami pulang kemalaman. Jika terlalu larut, biasanya aku bermalam.

Bersambung>>>

Sumber foto: Google.

Diubah oleh Aboeyy
PART #7

Tiga bulan berlalu.

“Bella sudah satu bulan tidak haid, Kak!” ungkapnya resah saat hanya kami yang ada di rumah. Aku melongo. Pikiranku cemas.
“Jangan-jangan...!” ucapku terputus oleh kekhawatiran.
“Apa, Kak?” Bella tampak serius.
“Kita ke Puskesmas aja,” ajakku. la mengangguk.
“Selamat, ya! Istrimu positif hamil satu bulan,” jelas bidan itu, membuat tubuhku langsung terasa lemas. Bella tampak gemetar.
“Jadi, gimana Kak?” tanya Bella gelisah dalam perjalanan pulang.
“Nanti aja kita pikirkan!” sahutku kalut.
“Asal jangan di rumah. Bella khawatir Kak Shanty dan Mama tahu. Pasti mereka sangat marah.”
“Tapi perutmu belum terlihat hamil.”
“Justru itu harus diatasi sebelum semakin besar.”
“Begini saja. Nanti aku bilang pada Mama bahwa kita akan ke tempat kostmu dulu untuk mengambil sesuatu yang tertinggal.”
“Iya, Kak!” sahutnya saat kami hampir sampai.

Pagi itu, tanpa perasaan curiga, Mama dan istriku mengizinkanku membawa Bella.

“Kita ke losmen saja,” ajakku sambil memacu motor.
“Terserah Kakak!” sahutnya pasrah. Selebihnya kami lebih banyak diam dengan pikiran masing-masing, hingga tiba di tempat yang dituju.
“Jadi, gimana Kak?” tanyanya penuh harap dengan pandangan lekat pada wajahku. Kurebahkan tubuhku di spring bed yang lebih empuk dari kasur di kamarku itu. Kupejamkan mata untuk merangkai kata dan mencari alasan yang tepat agar bisa diterima oleh Bella.
“Gimana kalau aborsi saja?” saranku pelan.
“Jadi Kakak tak mau bertanggung jawab?” sahutnya kaget menahan emosi. Ia berdiri dan berlari menuju pintu. Aku segera menahannya.
“Bukan begitu, Sayang!” rayuku sambil membelai-belai rambutnya. Kulihat dadanya turun naik karena tekanan gumpalan emosi, lalu pecah menjadi butiran-butiran airmata. Tangisnya mulai terdengar.
“Sungguh! Sebilah jari atau sehelai rambutmu pun yang pernah kusentuh, aku akan bertanggung jawab. Apalagi kalau kamu sampai begini,” hiburku untuk menenangkannya yang masih berontak.
“Tapi kenapa mau digugurkan?” tanyanya lirih di sela isakannya.
“Karena menurutku tiada jalan lain untuk menutupi aib ini.”
“Jadi hanya untuk menghapus jejak? Hanya karena nafsu? Setelah aborsi, Kakak akan meninggalkan Bella?” cecarnya bernada tinggi.

Aku seolah kehabisan kata. Aku yang biasanya selalu dapat membantah argumen mahasiswa dalam diskusi, kali ini aku tak bisa menjawab. Aku menunduk. Aku tak sanggup menatap wajahnya.

“Oke! Bella rela membunuh janin ini kalau itu jadi syarat Kakak mau menikahi Bella,” sambungnya ketus.
“Tapi gimana dengan Shanty. Ia pasti sangat marah dan kecewa.”
“Bella tak peduli semua itu. Yang Kakak harus bertanggungjawab,” sahutnya dengan nada tinggi.
“Iya, Sayang! Aku pasti beranggungjawab. Percayalah!” bujukku untuk menenangkan gejolak perasaannya. Kukecup lembut matanya yang basah itu, hingga emosinya berangsur stabil. Nafasnya mulai teratur.
“Jadi, gimana dengan perut Bella ini?” tanyanya lirih.
“Menurutku janin ini digugurkan saja, agar masyarakat tidak tahu bahwa aku menikahimu karena aku menghamilimu,” ucapku hati-hati.
“Iya, Kak! Bella setuju. Tapi tidakkah aborsi itu berbahaya?”
“Menurut buku-buku yang pernah kubaca, kalau kehamilan masih di bawah dua bulan, resiko aborsi itu sangat kecil. Sebab janin masih berupa segumpal darah kecil. Dengan meminum ramuan tertentu, gumpalan yang menggantung di dinding rahim itu akan gugur dan hancur. Lalu ia keluar seperti darah haid,” jelasku meyakinkannya.
“Tapi, di mana melakukannya?”
“Aku punya teman yang kerja di klinik. Ia biasa melakukan itu. Nanti kita ke sana.” Bella terdiam. Sepertinya ia setuju dengan saranku.

Rasa lelah merayapi sekujur tubuh kami. Perlahan kesadaranku lenyap, dan percakapan kami menjadi senyap.

Bersambung>>>
Diubah oleh Aboeyy
PART #8


Kami tiba di rumah ketika semilir angin berhembus pelan. Di ufuk Barat, sinar matahari berwarna merah tembaga. Bella langsung mandi. Tiba-tiba terdengar suara seperti orang muntah dari kamar mandi.

“Kenapa, Bel?” Mama menghentikan pekerjaan dapurnya, lalu mendekati sumber suara.
“Tak apa, Mah! Mungkin masuk angin.”
“Cepat mandinya! Nanti tambah sakit.”
“Iya, Mah!”

“Masak apa, Mah?” tanya Bella selesai mandi. Mama terlihat sedang mengiris bawang. Mungkin karena aromanya yang menusuk hidung, tiba-tiba Bella kembali muntah-muntah.
“Tolong Fen! Ambilkan minyak kayu putih di lemari Mama!”
“Ya!” sahutku santai karena tak punya firasat apa-apa.

“Makanya kalau naik motor itu pakai jaket. Biar tak masuk angin begini,” komentar Mama sambil mengusap perut Bella.
“Bella lupa, Mah.”
“Tapi, ini tidak seperti masuk angin,” komentar Mama ragu.
“Kenapa Mah?” Bella agak kaget.
“Kalau masuk angin, biasanya bunyi perut seperti buah nangka masak saat diketuk. Tapi ini tidak. Jangan-jangan...!”

“Jangan-jangan apa, Mah?” Bela kaget bercampur cemas. Aku semakin gelisah karena khawatir Mama menduga Bella sedang hamil.
“Jangan-jangan ini tumor. Nih ada benjolan kecil agak keras di bawah pusarmu.”
“Tak mungkin, Mah!” tukas Bella semakin cemas sambil merapikan bajunya. Ia bergegas ke kamar. Mama menatapnya dengan was-was.

“Mungkin cuma sakit perut. Tadi Bella minum es kelapa,” timpalku.
“Tapi ia harus diperiksa ke dokter,” sahut Mama.
“Kenapa Bella, Mah?” tanya Shanty sambil menggosok-gosok mata. Mungkin ia terbangun karena mendengar percakapan kami.

“Besok temani Bella ke rumah sakit. Mama khawatir ia mengidap tumor di perutnya.”
“Kebetulan aku juga mau berobat. Sudah dua hari ini kepalaku terasa pusing,” sahut Shanty.
“Ya, barengan aja!” sambung Mama. Hatiku bertambah kecut.

Malam itu, hanya beberapa jam mataku bisa terpejam.

“Cepat, Bel! Sudah pukul sembilan nih,” desak Shanty yang sudah berpakaian rapi di depan pintu kamar Bella yang masih terkunci. Lama tak terdengar sahutan. Shanty terus mengetuk-ngetuk pintu.
“Siapa yang mau ke rumah sakit? Bella tidak sakit,” terdengar sahutan dari dalam kamar.
“Tapi kata Mama kamu harus diperiksa ke dokter.”
“Iya, Sayang! Kamu harus check up kesehatan,” timpal Mama.
“Bella sehat kok!”
“Tapi tak salahnya diperiksa. Tak disuntik kok,” bujuk Mama yang mengetahui fobia Bella terhadap jarum.
“Tidak mau!”

Suasana hening sesaat.

“Sudah, Mas! Antar aku saja ke Puskesmas,” pinta Shanty sambil menarik tanganku. Aku sedikit terhibur, karena Bella enggan diajak ke dokter.

Kupikir sepulang dari sini, aku langsung mengajak Bella ke klinik aborsi. Aku akan bicara dengan Mama bahwa aku membawanya ke klinik pengobatan tradisional. Aku yakin Mama setuju.

Kekagetan langsung menyergapku begitu tiba di beranda rumah. Suara Bella muntah-muntah kembali terdengar. Shanty bergegas masuk. Aku terpaku cemas di atas motor.

“Cepat bawa Bella ke Puskesmas, Mas!” suara Shanty membuyarkan lamunanku. Aku senang. Berarti tak perlu alasan, aku bisa langsung membawa Bella ke klinik itu.
“Kita ke rumah sakit!” ajakku sambil mengedipkan mata.
“Tidak mau!” sahutnya ketus sambil memegang perut. Mungkin ia tidak memahami isyarat yang kusampaikan.
“Kalau ke klinik?” tanyaku agak keras, agar ia ingat janjiku kemarin.

Bella terdiam sesaat, lalu mengangguk. Mama terlihat lega.
Bella berkumur-kumur untuk membersihkan sisa kotoran di mulut dan bibirnya. Tiba-tiba ia kembali mual-mual.
“Kalau begini, panggil dokter saja ke sini. Eh, tapi rasanya di ujung gang ini ada bidan.
Siapa tahu dia ada di rumah,” tutur Mama, lalu bergegas pergi.
Diubah oleh Aboeyy
PART #9


Aku semakin pasrah, dan sangat berharap bidan itu tak ada di tempat. Shanty pernah cerita tentang bidan itu. Ia pensiunan bidan rumah sakit, sangat profesional dan berpengalaman. Sering pasien yang divonis dokter harus dicaesar, dapat melahirkan normal di tangannya. Ia juga bisa mendeteksi kehamilan hanya dengan meraba perut.

Seorang wanita yang terlihat seusia Mama datang bersamanya. Tubuhku langsung lemas. Bella masih di depan kamar mandi.

“Cepat ke mari Bel!” perintah Mama. Bela datang dengan muka agak pucat.
“Berbaring saja!” saran bidan itu ramah. Bella menurut. Mungkin ia mengira orang itu bukan bidan. Ia tidak berpakaian layaknya bidan dan tidak membawa alat apapun. Bidan itu meraba-raba pelan perut Bella beberapa saat.
“Apa yang kamu rasakan?” tanyanya ramah.
“Sejak sore kemarin perut Bella terasa mual, dan pengen muntah terus,” jelas Bella. Bidan itu terdiam sejenak.
“Kalau itu gejalanya, sepertinya kamu sedang hamil,” papar bidan itu tanpa beban.
“Apa? Hamil? Apa bidan tak salah omong? Dia belum bersuami. Mana mungkin bunting?” protes Mama kaget.

Bella mendadak pucat. Ia bangkit, lalu terus masuk ke dalam kamar.

“Indikasinya seperti itu. Apalagi saat diraba tadi, terasa seperti ada sesuatu di dalam rahimnya. Tapi aku tak bisa memastikan. Untuk lebih yakin, silakan periksa ke Puskesmas, atau beli sendiri alat tes kehamilan,” jelasnya memberikan solusi.

“Untuk mencegah mual, beli obat ini,” lanjutnya sambil menuliskan resep sebelum pulang. Shanty dan Mama seolah tidak percaya.
“Benar kamu hamil?” interogasi Mama. Bella tak menjawab.
“Kamu bunting?” nada Mama semakin tinggi.
“Tak tahu, Mah!” sahut Bella pelan.
“Tapi bidan tadi bilang begitu.”
“Mana mungkin. Bella tak pernah punya pacar apalagi suami,” ia mencoba berkelit.
“Bisa saja bidan itu keliru,” Shanty menimpali.
“Kalau begitu, kita periksa ke rumah sakit,” ajak Mama serius.
“Tidak mau!” tukas Bella.
“Tolong belikan alat tes kehamilan!” pinta Mama tanpa bisa kutolak.

Terpikir olehku untuk berbohong bahwa benda itu habis di semua apotek dan toko obat. Tapi aku khawatir kalau Mama sendiri yang akan membelinya, sehingga ia akan curiga terhadapku.
Untungnya, Mama tak berhasil memaksa Bella ke dokter. Alat yang kubeli juga tak bisa digunakan karena Bella enggan menampung urinnya.

“Kalau kau tak mau, berarti benar kamu hamil. Kalau tidak, kenapa enggan diperiksa?” tukas Mama. Bella membisu. Mama semakin emosi.
“Kalau kamu tidak mau berterus terang, pergi dari rumah ini. Aku tak suka anak yang tak jujur sama orangtua.”

Kemarahan Mama memuncak. Ditariknya tangan Bella hingga hampir jatuh dari ranjang.

“Ampun, Mah! Ampun!” hiba Bella dengan airmata.
“Cepat jawab!” bentak Mama, hingga Bella terpaksa mengakuinya.
“Iya, Bella hamil,” sahutnya gemetar terputus-putus sambil terisak.
“Sama siapa?” suara Mama semakin tinggi. Bella terdiam sesaat. Isakannya bertambah keras.
“Kak Fendy!” sahutnya lirih hampir tak terdengar ditelan tangisannya.

Jantungku terasa berhenti berdetak saat ia menyebut namaku.

“Apa?” teriak Mama dan Shanty hampir bersamaan. Nafas Mama tersengal-sengal. Ia mengurut-urut dadanya. Shanty berdiri mematung dengan mulut masih terbuka. Tubuhnya gemetar. Keduanya begitu shock.
“Ah! Kalau orang lain, mungkin Mama masih bisa terima,” ucapnya lirih sebelum kesadarannya hilang.

Tubuhnya berangsur lemas. Shanty langsung histeris saat melihat tubuh Mama jatuh ke lantai. Ia berlari ke kamar sambil meraung-raung dan menjerit-jerit keras seperti kesurupan. Terdengar bunyi benda-benda berjatuhan seperti dibanting keras di sela ratap tangisnya. Bella masih terisak sambil telungkup. Aku sendiri seperti kehilangan akal, tidak tahu harus berbuat apa.

Bersambung>>>

Diubah oleh Aboeyy
PART #10


Kutarik nafas dalam-dalam. Kuhembuskan pelan-pelan. Kuulangi beberapa kali, hingga dadaku terasa longgar. Kubaringkan tubuh Mama di lantai. Kuberi sebuah bantal di bawah kepalanya. Mukanya putih pucat, seperti tak berdarah. Dadanya datar, seolah tak bernafas. Jari-jari tangan dan kakinya terlihat lemas. Tubuhnya terasa dingin. Kusentuh nadinya. Detaknya terasa lambat dan lemah. Kuoleskan minyak kayu putih di sekitar hidung dan lehernya.

Bella bangkit. Ia segera memeluk ibunya yang terbujur kaku. Ia menghiba-hiba dalam isakannya, layaknya seorang yang sedang meratapi kematian, “Maafkan Bella, Mah! Maafkan Bella!”

Tak kuhiraukan Shanty yang masih menjerit-jerit. Aku terus memijat-mijat kedua kaki Mama. Perlahan ia membuka mata. Tangannya mulai bergerak-gerak, lalu membelai-belai kepala Bella yang masih telungkup di atas perutnya. Mata Mama terlihat berkaca-kaca.

“Benarkah kamu yang melakukan itu?” tanya Mama dengan suara lirih. Aku mengangguk lemah dan ragu.
Perlahan Mama bangun. Bagai baru bangkit dari kematian, Mama memandang wajahku seolah melihat setan yang telah menyebabkannya disiksa di dalam kuburnya.

“Dasar kurang ajar. Tak tahu diri. Pergi dari sini keparat! Anjing!” Teganya kau terhadap Shanty, terhadap Bella,” teriaknya keras disertai berbagai caci maki, hinaan, dan cemoohan yang bertubi-tubi. Kemarahannya meluap-luap. Matanya melotot tajam ke arahku yang berdiri bagai patung di depan pintu. Bella semakin terisak memeluk Mama.

Tiba-tiba Shanty datang ikut menyergapku dengan pukulan dan cakaran, disertai tangisan dan jeritannya yang terdengar sangat memilukan. “Teganya, Mas! Teganya! Kenapa? Apa salah Shanty?” Kalimat itu diteriakkannya berulang-ulang, di sela-sela isakannya.

Aku laksana seorang narapidana yang sedang dihukum mati. Kubiarkan mereka bagai algojo yang akan menghabisi riwayatku. Tubuhku bagai ditembaki dengan peluru tajam dari berbagai arah dan posisi. Seluruh badan dan perasaanku tercabik-cabik. Kujadikan diriku seperti patung yang tak punya mulut dan hati.

Sederas apapun hujan, pasti akhirnya reda juga. Hampir lima belas menit aku menjadi pelampiasan kemarahan Shanty dan Mama. Mungkin karena iba melihat Mama yang mulutnya tak bisa lagi bersuara, matanya sembab, dan tangannya mengurut-urut dada, akhirnya Shanty ikut memeluk Mama. Lalu Mama memeluk kedua putrinya itu. Perlahan ketegangan menyurut, lalu suasana berubah menjadi hujan airmata.

Aku beranjak ke kamar. Kulihat seluruh isi kamar dan lemari berantakan. Pecahan-pecahan kaca berserakan. Foto-foto perkimpoian kami tak ada lagi yang utuh. Semua tercabik dan teracak. Bingkainya patah berkeping-keping. Laptop itu juga tak luput dari kemarahannya. Layarnya terlepas. Tuts-tutsnya berhamburan di lantai.

Bersambung>>>
Diubah oleh Aboeyy
PART #11


Malam itu, hari belum terlalu gelap. Gerimis hujan mengguyur lembut. Di atas meja makan, di bawah cahaya Philips Tornado 5 watt, kami berempat mencari kata mufakat. Di hadapanku ada Mama dan Bella. Di sampingku ada pendampingku, Shanty. Emosi mereka terlihat stabil, kecuali Shanty yang sesekali masih menarik nafas.
Suasana haru menyelimuti pertemuan itu. Bagai seorang moderator, Mama berdiri dan mulai bicara dengan bahasa kiasan yang santun.

“Shanty dan Bella, kalian adalah dua taman hatiku! Fendy, kau juga adalah anakku!”
“Mungkin kalian sudah tahu, bahwa hukum di negara kita tidak pernah mengizinkan seseorang memiliki dua buah taman yang berdampingan dari pemilik asal yang sama. Karena Fendy telah memilih Shanty, maka selamanya ia tak boleh memiliki Bella, kecuali Fendy melepaskan dulu ikatannya dengan Shanty.”

Mama berhenti sejenak. Matanya menatap wajah kami yang tertunduk.

“Masalah yang Mama rasa sangat berat adalah Fendy telah merusak taman Bella. Setiap orang yang merusak hak orang lain, maka ia wajib memberikan gantinya. Namun jika Fendy harus bertanggung jawab terhadap Bella, maka ia harus memutus ikatannya dengan Shanty. Jadi, malam ini Mama ingin mendengar pendapat kalian, bagaimana jalan terbaik untuk keluar masalah yang serba salah ini.”

Kami tetap membisu. Mama melanjutkan bicara.

“Masalah ini merupakan noda besar yang mengotori seluruh isi rumah ini. Menurut Mama, jalan terbaik satu-satunya adalah memetik bunga bangkai itu sebelum kuncupnya merekah dan aromanya tercium tetangga. Lalu bagaimana menurut kalian?”

Kami tetap diam. Mama menatap Bella.

“Bella! Sebagai pemilik taman, menurutmu apa yang sebaiknya dilakukan terhadap bunga itu?”
“Bella terserah sang penabur,” sahutnya pasrah.
“Kalau begitu, gimana menurut kamu, Fendy?” Mama memandangku.
“Menurut saya, memang sebaiknya bunga itu dicabut saja sebelum akarnya merambat ke mana-mana,” sahutku hati-hati.
“Berarti Mama, Bella dan Fendy sudah sepakat untuk segera menyingikirkan kembang itu. Tinggal pendapat Shanty. Jika ia sepakat, maka sesegeranya tanaman itu akan kita musnahkan.”

Shanty terdiam sesaat. Nafasnya seperti menahan gejolak emosi.

“Sebenarnya ini bukan hak pemilik taman atau sang penabur bibit untuk memutuskannya, tapi otoritas pemilik tanaman. Tanaman itu milikku, karena bibitnya adalah punyaku yang seharusnya ditanam di tamanku. Namun bibit itu tercecer ke taman orang lain akibat kecerobohan sang penabur. Aku tidak rela bunga itu dipetik apalagi dicabut sampai ke akar-akarnya. Tidaklah kalian menyadari bahwa hampir empat tahun aku mengharapkan bunga itu. Ternyata yang tersemai di lahan orang lain yang tumbuh subur.”

Bersambung>>>
Diubah oleh Aboeyy
PART #12


Beberapa kali Shanty menarik nafas untuk menyelesaikan kalimat itu. Ia berusaha menahan airmata.
“Jika kamu tetap ingin mempertahankan bunga itu, apakah kamu rela sang penabur diambil pemilik taman untuk terus mengolah lahannya, dan membiarkan ladangmu kering kerontang?” sahut Mama sambil memandang Shanty.

“Bukan begitu maksudku. Tapi biarkan saja bunga itu terus berkembang. Biar nanti aku yang merawatnya, asal penaburnya jangan pernah lagi menyentuh lahan itu selamanya,” sahut Shanty agak tinggi.

“Jadi, Kakak mau mengusir Bella?” tiba-tiba Bella menukas ketus.
“Maksudku, kamu jangan pernah lagi mendekati Kak Fendy,” balas Shanty tegas.
“Kak Fendy tuh yang mendekati Bella,” sahut Bella lebih keras.
“Kamu!”
“Dia!”
“Kamu!”
“Dia!” keduanya perang mulut sambil berdiri. Suasana memanas. Shanty dan Bella terlihat mulai emosi. Hampir saja terjadi adu fisik.

“Sudah! Sudah!” suara Mama agak keras sambil memegang Bella dan aku menahan Shanty. Keduanya kembali duduk.

“Apakah kalian kira Mama ini tidak sakit hati? Sungguh, Mama sangat bisa merasakan apa yang kalian berdua rasakan. Tidakkah kalian menyadari bahwa Mama sebenarnya yang paling tersakiti oleh masalah ini, karena Mama harus menanggung tiga beban. Beban perasaan kalian berdua dan beban celaan warga yang pasti lebih tertuju kepada Mama. Karena itu, janganlah kalian menambah penderitaan Mama dengan terus bertengkar. Masalah ini takkan selesai kalau kalian terus seperti ini,” ucap Mama bernada terharu. Kami terdiam. Mama menarik nafas.

“Kalau memakai pendapat Shanty, maka sanggupkah Bella memelihara bunga itu sampai merekah seorang diri? Bukankah sangat aib seorang perempuan yang tak bertuan menjaga kebunnya sendirian?” tanya Mama.
“Biarkan saja! Akibat ulahnya sendiri,” tukas Shanty kembali memancing keributan. Untung saja Bella tak bereaksi. Ia hanya menatap geram.

“Atau carikan saja lelaki lain untuknya,” sambung Shanty, yang membuat Bella spontan berdiri.
“Oke! Bella tak keberatan perut Bella ini mau diapakan, asal Kak Fendy bertanggung jawab. Lebih baik Bella mati kalau Kak Fendy tak mau menikahi Bella,” ancamnya tegas dan mau berlari ke kamar. Mama langsung menahannya, hingga Bella duduk kembali.

“Kalau begini, masalah tidak akan selesai. Sekarang Mama minta ketetapan Fendy. Mama harap kalian menerimanya, walau apa dan bagaimana pun keputusannya, karena dia yang telah berbuat” ucap Mama pasrah.

Aku terdiam. Kutatap muka Mama yang serius, wajah Shanty yang muram, dan raut Bella yang sayu. Agak lama suasana hening, hingga aku berani bersuara.

“Menurut hukum, pemilik lahan berhak atas semua yang tumbuh di atas tanahnya. Sang penabur wajib bertanggung jawab atas akibat perbuatan tangannya. Karena itu, dengan bulat dan berat hati saya memilih Bella,” sahutku pelan, membuat Shanty langsung tertunduk lesu.

“Lalu bagaimana dengan Shanty?” Mama memandangnya penuh iba.
“Yah, gimana lagi selain...,” sahutku lemah dan terputus, karena tak sanggup mengucapkan kata “cerai”. Shanty semakin menekur. Aku tanggup lagi menatap wajahnya.

“Jika memang lahanku gersang dan tidak bisa menumbuhkan bunga, maka dengan sangat terpaksa kuterima keputusan itu, semata-mata demi masa depan taman subur yang sedang berbunga itu. Hanya saja, kuminta Mas Fendy dan Bella tidak pindah dari rumah ini. Jangan tinggalkan aku di sini,” sahut Shanty pasrah dengan mata berkaca-kaca.

Mama memeluk Shanty dengan erat dan mesra, membelai-belai rambutnya penuh kasih sayang untuk menabahkan hatinya.

Bersambung>>>
Diubah oleh Aboeyy
PART #13


Empat bulan kemudian.
Shanty dan Bella telah bertukar status. Kini Shanty menjadi iparku. Sesuai permintaannya, kami tetap tinggal satu atap di rumah ini. Rupanya autophobia (takut ditinggal sendiri) yang dialami Shanty semakin meningkat menjadi anuptaphobia (takut hidup sendiri) setelah hampir 4 tahun hidup bersamaku. Ia khawatir orang-orang terdekat meninggalkannya sendiri.

Sebenarnya aku keberatan tetap tinggal bersama di rumah ini. Karena itu, aku meminta pendapat Mama.

“Bagaimana dengan Shanty? Tidakkah ia tambah sakit hati kalau melihatku tetap di sini?” tanyaku.
“Habis gimana lagi kalau itu memang permintaannya? Menurut Mama, ia malah lebih sakit hati kalau kamu pindah, karena merasa kehilangan. Kalau masih melihatmu di sini, barangkali ia merasa tidak berpisah denganmu.”
“Lalu bagaimana dengan pandangan warga?”
“Pindah atau tidak, tetap saja mereka akan menggunjing. Jadi lebih baik kita di sini bersama-sama menanggung aib malunya, daripada menambah penderitaan batin Shanty. Setidaknya, bertahanlah dulu di sini sampai Bella melahirkan,” saran Mama.

Atas nasehat Mama itu, maka kutempuh kehidupan rumah tangga yang baru bersama Bella, tanpa peduli dengan apa kata tetangga.

Dalam bulan pertama bersama Bella, hampir setiap hari Shanty tak bisa menutupi kecemburuannya.
Suatu malam saat akan makan bersama. “Tolong tuangkan air,” pinta Bella. Aku mengambil teko, lalu menuangkan ke gelasnya. Melihat itu, Shanty langsung berdiri. Ia lari ke kamar tanpa sesuap pun sempat memakan hidangan yang sudah siap di atas meja. Ia tidak mau makan sampai pagi.

Pernah pula pada suatu siang, Shanty sedang mencuci piring. Bella menyapu lantai dan membersihkan tempat makan. “Kak! Gelang Bella terkait alas meja,” teriaknya. Buru-buru aku menghampirinya. Kupegang tangannya untuk melepaskannya. Menyaksikan itu, Shanty langsung membanting beberapa piring dan cangkir yang sudah dicucinya. Begitu pula saat ia melihat Bella menarik tanganku ke kamar. Bahkan sampai hal sekecil memukul nyamuk yang hinggap di tangan, Shanty sangat cemburu melihatnya.

Suatu malam di depan televisi. Shanty mengambil bantal, lalu berbaring. “Berdua dong, Kak!” pinta Bella sambil merebahkan kepalanya. Tiba-tiba Shanty menarik bantal itu, sehingga kepala Bella membentur lantai. “Ambil bantal sendiri!” tukasnya cuek. Bella mengusap-usap kepala, mungkin karena sakit. Lalu Bella mendekatiku.

Perlahan ia merebahkan kepalanya di pahaku. Aku menjadi serba salah. Kalau kaki kutarik, kepalanya akan terbentur ke lantai. Jika kudiamkan, pasti akan terjadi bentrok lagi. Shanty menatap Bella dengan pandangan cemburu. “Cari suami sendiri!” tukas Bella ketus. Spontan Shanty bangkit menuju televisi. Direnggutnya kabel antenna hingga putus, lalu didorongnya layar kaca itu hingga jatuh. Ia terus masuk ke dalam kamar sambil membanting pintu.

Bersambung>>>
Diubah oleh Aboeyy
PART #14


Begitu pula saat kami bercanda di malam hari, sering pula kudengar Shanty menangis di kamarnya. Mungkin karena ia mendengar suara-suara Bella yang mesra dan manja. Rupanya selapis papan triplek yang memisahkan tempat tidur kami tak dapat menutup telinga Shanty dari hembusan nafas Bella. Pantas saja, sejak awal Mama meminta Shanty untuk tidur bersama di kamar Mama, namun Shanty menolak. Mama mengalah. Dialah yang lebih sering tidur bersama di kamar Shanty, terutama saat emosinya labil.

Karena itu, memasuki bulan kedua, aku berusaha untuk tidak menampakkan kemesraan di depan Shanty. Bella juga kuperingatkan agar tidak melakukan sesuatu yang membuatnya cemburu. Namun dasar anak bungsu yang manja, semakin dinasehati ia semakin berani.

Pernah selesai makan pagi, Bella minta digendong ke kamar. Aku menolaknya, karena ada Shanty. Ternyata Bella ngambek lebih parah dari kakaknya. Ia tidak mau makan sampai malam hari.

Beberapa hari berikutnya, ia kembali meminta dengan manja, “Gendong Bella, Kak! Bella tak kuat jalan. Perut Bella semakin berat.” Terpaksa kuturuti karena khawatir dengan keselamatan janinnya. Akibatnya sudah bisa diduga. Piring dan cangkir di dapur tinggal 7 buah karena “dimakan” oleh kemarahan Shanty.

Hari berikutnya Bella meminta hal yang serupa. Kupikir jika dituruti, maka kami akan makan menggunakan daun. “Tolong, Mah!” pintaku pada Mama. Mama mengerti. Begitu Mama akan menggendongnya, Bella langsung lari sambil tertawa.

Gagal pamer gendong kemesraan, pagi berikutnya Bella kembali membuat ulah.

“Aduh! Perut Bella sakit. Tolong usap dengan minyak kayu putih!” rengeknya. Aku tak menanggapi. Kuminta Mama yang melayaninya.

“Aduh, Mah! Sakit,” jeritnya saat tangan Mama menyentuh perutnya. Kusuruh Shanty untuk melakukannya.
“Auww, tambah sakit!” jeritnya lebih keras, saat jari Shanty merabanya. Namun begitu kusentuh, ia langsung tersenyum. Setelah kuusap-usap, ia spontan tertawa.

“Ha...ha...ha...! Bella sudah sembuh,” serunya bangga.

Melihat kelakuan Bella, wajah Shanty menjadi merah. Maka habislah semua peralatan makan dan minum pecah dibantingnya. Mama sibuk membersihkannya. Rupanya Shanty belum puas menumpahkan kemarahannya. Piring dan cangkir tidak cukup mewakili ungkapan kekesalannya. Tiba-tiba ia menendang perut Bella. Bella terduduk dan merintih-rintih kesakitan. Aku terpana seolah tidak percaya.

Shanty kembali mengangkat kakinya untuk menginjak perut Bella. Secara refleks Mama menangkap tubuhnya. Semakin kuat Mama menahannya, semakin bertambah tenaga Shanty. Mama kewalahan.

“Bantu Fen!” seru Mama.

Aku baru tersadar dan secepatnya memegang lengan Shanty. Entah mengapa, kekuatan Shanty tiba-tiba melemah begitu aku menyentuhnya. Emosinya perlahan reda, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

“Cepat Fen, tolong Bella!” perintah Mama. Begitu kulepas lengan Shanty, spontan emosi dan tenaganya kembali seperti kesetanan. Mama tak mampu lagi menahannya. Untung tubuh Bella sudah kuangkat dan langsung kubawa ke kamar. Shanty berlari ke kamarnya. Kudengar bunyi benda dibanting-banting dari kamarnya.

Bersambung>>>
Diubah oleh Aboeyy
numpang nenda dulu
baca belakanganemoticon-Traveller
Ko sedih ya bacanyaemoticon-Mewek
PART #15


Aku ingin ke kamar Shanty, namun Mama mencegahku. “Biarkan saja dulu! Cepat bawa Bella ke rumah sakit!” instruksi Mama setelah melihat Bella memegang perutnya sambil meringis. Aku juga khawatir Bella mengalami keguguran.

“Kandungan istrimu baik-baik saja,” terang dokter yang membuatku lega. Ia hanya memberikan resep obat.

**************

Bella masih belum jera. Esok harinya, ia kembali berulah yang membuat Shanty benar-benar marah.

“Tolong, Kak! Papah Bella. Perut Bella sakit kalau berjalan,” pintanya dengan ekspresi meyakinkan. Padahal waktu di kamar ia masih kuat menginjak-injak belakangku sampai setengah jam. Bella seolah-olah bangga memperlihatkan kemesraannya di depan kakaknya. Untungnya reaksi Shanty kini hanya berupa airmata.

Aku tak pernah bisa merasa tenang. Sungguh, sejak menikah dengan Bella, tidak ada kebahagiaan yang layaknya dirasakan oleh pengantin baru. Perasaan malu, takut, cemas, was-was, hati-hati, dan berbagai macam perasaan galau berbaur menghantui hari-hariku.

Aku tidak mengerti apakah ini sebagai karma atas sikap Shanty yang dulu juga suka ganti-ganti pasangan dan memamerkan kemesraannya bersama lelaki lain di depanku, ataukah ini akibat kedurhakaanku yang tidak mau mendengarkan nasehat ayah? Entahlah!

“Sebaiknya kalian segera pindah rumah!” saran Mama memasuki bulan kedua.
“Iya, Mah! Saya pikir juga begitu.”

“Sekarang cari dulu rumah sewa. Biar Bella yang berkemas-kemas. Kalau dapat rumah, nanti sore sudah bisa pindah,” tutur Mama.

Bella mulai mengemasi barang-barang. “Yang penting-penting saja, Bel. Biar tidak repot,” saranku.
Saat aku akan keluar kamar, Shanty tiba-tiba masuk dan langsung memeluk kakiku.

“Tolong Mas! Jangan tinggalkan Shanty di rumah ini!” pintanya menghiba sambil menangis. Aku tak bisa berkata-kata.

“Melihat Mas masih di sini, rasanya Mas masih suami Shanty. Tapi mengapa Mas dan Bella tega bersikap seolah-olah Shanty telah mati?” hibanya dengan airmata. Bella tampak tertegun dengan mata melotot.

Tak kuhiraukan permintaannya. Aku tetap dengan keputusanku untuk pindah. Pindah ke mana saja, selain pulang ke rumah ayahku.

Namun saat langkah kakiku semakin jauh, raungan tangis Shanty terdengar semakin keras. Keraguan menyergapku. Langkahku terhenti. Airmatanya meluluhkan tekadku. Akhirnya kuputar haluan, dan kembali lagi ke rumah itu.

Bersambung>>>
Diubah oleh Aboeyy
Ga perlu sedih, Sis! Ceritanya happy ending kok.
Quote:


PART #16

Untuk mengantisipasi kejadian serupa tidak terulang, Bella kuperingatkan lebih keras disertai ancaman. Ia hanya diam. Mungkin ia sudah menyadari bahwa sikapnya selama ini sangat menyakitkan kakaknya.

Mulai malam itu sampai beberapa minggu berikutnya, keluarga kami terasa harmonis, tanpa terjadi perang fisik atau perang dingin antar saudara. Kulibatkan Shanty dalam setiap percakapan, kutatap wajahnya, bahkan terkadang kusentuh tubuhnya, seperti sikapku terhadap Bella waktu masih jadi iparku.

Aku baru sadar, rupanya inilah yang membuat Shanty selama ini merasa dianggap telah tiada. Memang, sejak aku memutuskan memilih Bella, aku sangat jarang menyapanya, menatapnya atau berbicara dengannya, kecuali sangat perlu. Kalaupun ia menatapku, maka aku segera mengalihkan muka. Kupikir yang kulakukan itu akan mengurangi rasa sakit hatinya, di samping karena rasanya aku tak sanggup lagi memandang wajahnya yang telah berubah sendu sejak mengetahui Bella hamil. Ternyata sikapku itu justru menambah penderitaan batinnya.
Suatu malam setelah makan, di depan televisi. Selesai acara, aku melirik Bella dan terus ke kamar. Cukup lama baru ia menyusulku. Sesaat kemudian, tiba-tiba Shanty menjerit-jerit di kamarnya. Kami kaget. Rasanya kami tidak ada melakukan sesuatu yang membuatnya cemburu.

Aku langsung ke kamarnya. Shanty sedang telungkup terisak-isak di ranjang penganten kami dulu. Kubelai-belai rambutnya layaknya waktu ia masih istriku. Memang dalam hatiku ia masih seperti istriku. Sungguh aku masih menyayanginya seperti dulu. Namun keadaan telah memaksa kami untuk membikin jarak.

Shanty telah berhenti menangis. Ia duduk di sampingku. Agak lama aku di kamarnya, hingga kulihat emosinya mulai stabil. Kulihat wajahnya kembali berseri seperti dulu. Aku berdiri untuk kembali ke kamar. Tiba-tiba ia menarik tanganku. Aku mengerti maksudnya. Kupeluk erat tubuhnya. Kucium pipinya cukup lama. Kupikir itu sebagai salam perpisahan yang tak sempat kuucapkan sejak sidang keluarga itu.

Tiba-tiba terdengar Bella menjerit. Kutoleh ke arah suara itu. Ternyata istriku berdiri di depan pintu sambil menghentak-hentakkan kaki ke lantai. Entah sejak kapan ia berada di situ. Segera kulepaskan tubuh Shanty untuk menenangkan Bella.

Di sela-sela isak tangis Bella yang mulai reda, kembali kudengar suara serupa yang lebih keras di kamar Shanty. Aku semakin kalut, dan tak tahu lagi harus berbuat apa. Serba salah. Andaikan aturan negara sangat keras melarang, namun hukum agama yang kuanut membolehkan, pasti keduanya sudah kupadukan dalam satu pelaminan.

Shanty dan Bella bagaikan magnet berkutub positif, dan aku sisi negatifnya. Jika kudekati salah satunya, ia pasti menempel mesra. Medan magnet yang tercipta akan menarik yang lain untuk mendekat. Namun kehadirannya segera ditolak oleh kutub yang sama. Akibatnya ia berontak, dan bergejolak layaknya kinerja kipas angin. Kupikir medan magnet ini hanya bisa lenyap jika aku tak lagi bersama mereka.

Bersambung>>>

Diubah oleh Aboeyy
Halaman 1 dari 2


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di