CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / ... / KASKUS Kreator Lounge /
[KISMIS] True Story : Villa Berhantu di Ujung Cisarua
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/59f2162314088dfc098b4567/kismis-true-story--villa-berhantu-di-ujung-cisarua

[KISMIS] True Story : Villa Berhantu di Ujung Cisarua

Based on writter true story...
Nama asli semua tokoh telah disamarkan……

“Okey baiklah! Jadi fix ya weekend pertama di bulan Juli depan kita akan nginap di puncak!”,

Begitulah awal mulanya persiapan untuk liburan kita. Ya memang banyak yang bilang kalau jalan-jalan yang di rencanakan terlalu lama biasanya tidak jadi, tapi ya peduli amat deh. Kita sudah suntuk dengan kesibukan masing-masing dan sangat mengidam-idamkan refreshing sejenak. Karena itu aku yakin, jalan-jalan kali ini kudu wajib anti batal lagi.
Tak lama setelah WA terakhir salah seorang temanku di group chat, Nia langsung membalas.
“Nih gw dapat rekomendasi tempat didaerah Cisarua puncak, dari fotonya keliatannya okey deh”
“Mana coba share link nya”, minta ku kepada Nia di group chat. Langsung saja begitu link di share oleh Nia, diriku pun langsung membukanya dari HP. Terpampang judul dari iklan tersebut “Villa luas 1 hektar Cisarua Puncak” berserta gambar dari villa tersebut. Dan wow, dari gambarnya villa tersebut terlihat sangat bagus, nyaman, dan cozy. Serta pemandangan di sekitar villa yang luar biasa indahnya. Bangunan villa itu sendiri dari kayu dan bata merah yang menambah kesan country sidenya. Pokoknya sekilas kita lihat, villa ini perfect banget!

“Wah bagus banget nih villa, kayak villa nenek!” canda salah seorang lagi teman ku di group WA bernama Lina.
“Iya nih,dan harganya masih masuk budget kita juga nih” kata Nia.
“Okey lah, gimana ni guys? Fix ga kita pakai villa ini saja? Kalau fix langsung DP in aja biar ga jadi wacana doank.” Ucap temanku Andi yang akhirnya ikutan chat.

“FIX!!!”

Akhirnya kita semua sepakat untuk menyewa villa tersebut selama 1 malam, dengan jumlah personil ada 12 orang yaitu :
Andi,Dimas,Joni,Angel, Nia dan adiknya Nayla, Lina dan adiknya Maya, Dewi dan adiknya Santi, terakhir diriku sendiri dan Istriku Eva.

Ya memang, dari semua teman-temanku ini hanya aku yang sudah menikah.Dan range usia kami semua lumayan jauh. Ada yang sudah kerja dan ada yang masih sekolah, walaupun yang masih sekolah hanya 2 orang saja yaitu Nayla yang baru masuk SMA dan Santi yang saat ini kuliah semester 4. Selebihnya sudah merasakan susahnya cari uang.

Spoiler for Gambar Asli Villa:


Spoiler for Pemandangan dari Villa:


Akhirnya hari liburan tersebut pun tiba. Dalam perjalanan kesana, kami terpaksa membagi menjadi 2 team yang berangkat menuju villa tersebut. Aku dan istriku berangkat belakangan dikarenakan istriku yang baru saja pulang dinas malam, sedangkan sisanya berangkat terlebih dahulu menuju villa tersebut dengan menggunakan 1 mobil. Kebetulan mobil yang digunakan cukup besar(sekelas Elf) sehingga bisa menampung cukup banyak orang, dan yang mengendarai mobil tersebut adalah Joni.

Dalam perjalanan berangkat menuju villa tersebut, saat aku dan istriku masih di tol jagorawi kami telah mendapatkan kabar dari teman-teman kalau mereka telah sampai di villa tersebut dengan selamat. Mereka pun langsung mengirimkan foto-foto selfie mereka di villa tersebut ke dalam group WA. Kondisi tol jagorawi saat itu pun juga sangat macet, kami terjebak di rest area terakhir sebelum keluar dari tol untuk masuk ke area ciawi puncak. Tak lama berselang, tiba-tiba hp ku pun berbunyi. Ternyata telepon dari Andi.
“bro, sudah sampai mana?” tanya Andi kepada ku,
“Masih jauh bray, gw kejebak macet nih di tol. Mungkin bisa 1 jam lagi baru nyampai” jawab ku
Saat aku sedang ngomong dengan Andi, tiba-tiba Nayla adiknya Nia langsung ngomong di hp Andi untuk berbicara dengan ku
“Ko, please cepetan sampai yak. Tempatnya seram banget….” Dengan nada sedikit cemas
Lalu aku pun bertanya kembali dengan penasaran “Loh, seram kenapa Nay?”
“Ada satu ruangan di villa yang lampunya kedip-kedip terus, dan ruangan tersebut gelap banget Ko”, kata Nayla yang sudah biasa memanggil aku sebagai koko / kakaknya.
Aku pun coba menenangkan dia, “Ow, yud bilangin yang lain juga jangan masuk keruangan itu sampai koko datang ya.”
“Tapi ko, satu-satunya kamar mandi yang ada di villa ini ada didalam kamar itu. “ kali ini giliran Nia kakaknya yang langsung nyamber ngomong di HP.
Saat itu sebenarnya dalam hati aku sudah merasakan ada sesuatu yang kurang nyaman mengenai villa tersebut, namun aku coba menyakinkan mereka supaya jangan takut dan tetap Bersama-sama.

Akhirnya setelah perjalanan kurang lebih 3 jam, aku dan istriku pun tiba di villa tersebut. Banyak sekali tantangan untuk dapat mencapai villa ini. Lokasi villa yang ternyata masih cukup jauh dari jalan raya puncak dan kondisi jalan yang luar biasa sangat membuatku kewalahan dalam membawa mobil ku. Tantangan pertama dimana saat kami sudah keluar dari jalan raya puncak, jalan tertutupi karena ada bus yang nyangkut di tanjakan karena tanjakan yang cukup terjal. Aku pun terpaksa turun dari mobil untuk membantu warga sekitar dalam mengganjal ban bus tersebut supaya bisa melalui tanjakan. Setelah melewati bus yang tersangkut, kami pun di hadapi dengan kondisi jalan yang semakin dalam semakin sempit. Sampai tiba kami di satu-satunya jalan menuju villa dengan kondisi jalan tersebut sangat rusak. Bebatuan dan jalan tersebut diapit jurang dan tebing. Untunglah ternyata dua teman ku sudah menunggu di depan jalan untuk membantu ku masuk, Andi dan Dimas. Singkat cerita akhirnya aku menyerahkan mobilku kepada Dimas untuk dibawa melalui jalanan off road tersebut. Ya memang aku tidak punya nyali sekaligus Teknik mengemudi yang bagus, apalagi mobil yang aku bawa hanya sekelas city car.
“Dim, gw nyerah deh…lu aja yang bawa mobil gw. Biar gw ama Andi jalan aja.” Kata aku kepada Dimas. Untung saja lokasi villa sudah tidak cukup jauh lagi, kurang lebih 1km.

Dan setelah melewati jalanan tersebut, akhirnya tibalah kami di Villa tersebut. Jujur saja, pertama kali aku melihat villa tersebut terlihat sangat asri. Designnya seperti ada campuran Bali dan jawa, terlihat dari ornament-ornament di sepanjang tangga menuju Villa yang seperti ukir-ukiran di candi.
“Villanya masih di atas bray, kita harus naik tangga ini dulu baru nyampai”, kata Andi.
“OMG…” kata ku dalam hati,ternyata lokasi villanya masih cukup jauh dari tempat kita parkir mobil, kurang lebih ada 500m. Dan itu pun kita harus menaiki anak tangga yang sangat banyak karena ternyata lokasi villa yang cukup diatas. Namun sesampainya kita diatas, terpampang luas pemandangan seluruh cisarua dibawah dan itu sangat indah.
“Waw, masih siang aja viewnya dah keren begini…apalagi kalau udah malam!” Istri akhirnya berkomentar juga setelah tadi sempat kecapaian karena menaiki anak tangga.

Spoiler for Foto Villa:


Spoiler for Ruangan Penuh Jendela Kaca:


Spoiler for Ruang Tengah:


Kami pun masuk kedalam villa dan disambut oleh teman-teman kami yang lain yang ternyata sedang asik main game board di ruang tengah. Villa tersebut tidaklah terlalu besar, terdiri dari 2 Lantai dengan jumlah kamar ternyata hanya ada 2. Ruang tamunya cukup besar dan gabung dengan ruang makan dan dapur. Di di sepanjang ruangan tersebut hampir semuanya di kelilingi oleh kaca, sehingga kita yang didalam dapat dengan luas melihat pemandangan diluar yang di kelilingi pepohonan. Tidak tampak satupun rumah warga terdekat dari Villa tersebut, makin terlihat kalau benar-benar villa ini sangat terisolasi dari dunia luar. Kamar tidur yang satu terletak dibawah, tepatnya di pojok ruang tamu. Sedangkan kamar tidur kedua ada dilantai kedua. Nampaknya teman-teman ku sepakat untuk tidur di satu ruangan saja, yaitu di kamar lantai kedua.

Setelah aku dan istriku selesai menaruh tas dan beres-beres di lantai kedua, kami pun turun kembali ke lantai pertama untuk gabung dengan yang lain. Akupun langsung bertanya kepada teman-teman ku
“Eh, mana kamar yang katanya serem itu?”
Lalu Nayla langsung menunjuk kamar yang terletak di pojokan lantai 1 villa tersebut
“Itu ko kamarnya, serem deh…lampunya dari tadi kita datang kedip-kedip sendiri”
Setelah Nayla berkata demikian, akupun langsung masuk kedalam kamar tersebut. Kamar tersebut ternyata cukup besar, didalamnya hanya ada 1 tempat tidur serta 1 lemari tua.

Terlihat pula di ujung ruangan tersebut terdapat sebuah pintu menuju satu-satunya kamar mandi di villa tersebut. Ruangan tersebut sangat gelap, walaupun dengan adanya lampu menyala ruangan tersebut tetap terasa sangat gelap. Aku pun duduk di atas Kasur di kamar tersebut sambil memperhatikan sekitar. Lampu ruangan tersebut juga kedip kedip, persis seperti deskripsi Nayla. Aku pun kemudian memejamkan mata mencoba untuk merasakan adanya keberadaan makhluk lain yang mungkin ada didalam ruangan tersebut. Ya, aku tidak bisa bilang kalau aku seperti anak Indigo yang mempunyai kemampuan melihat makhluk Astral dengan sangat jelas. Namun terkadang aku bisa merasakan keberadaan mereka, dan terkadang aku juga bisa melihat mereka walaupun wujudnya hanya berupa bayangan sekilas. Oleh karena itu, aku tidak terlalu takut dihadapkan dengan kondisi seperti itu. Menurutku, makhluk-makhluk tersebut tidak akan bisa menyentuh kita secara fisik atau bahkan melukai kita. Mereka hanya bisa menyakiti kita secara fisik jika mereka mempengaruhi atau merasuki manusia lain. Bahkan menurutku lebih menyeramkan dan menakutkan manusia yang hidup dari pada makhluk-makhluk astral tersebut.

Setelah aku memejamkan mata sejenak, didalam kegelapan tersebut aku bisa melihat didalam ruangan tersebut ada sosok seorang kakek, lebih tepatnya seperti mbah-mbah karena wujudnya yang seperti memakai pakaian jawa. Kakek tersebut sepertinya sudah cukup lama ada dikamar tersebut dan tidak terasa aura yang mengancam, yang artinya tidak ada yang perlu ditakutkan dari keberadaan sosok tersebut. Setelah kurang lebih 15 menit aku ada didalam ruangan tersebut sendirian, tiba-tiba lampu yang tadinya kedip-kedip sendiri menjadi nyala normal. Akupun segera keluar kamar untuk gabung dengan teman-teman ku yang lain.

Spoiler for Ilustrasi Hantu Kakek:


Singkat cerita siang tersebut berlalu dengan sangat menyenangkan. Kami bermain Bersama, masak dan lunch Bersama, serta bermain di kolam yang ada di luar villa tersebut. Kami bisa merasakan betapa indah pemandangan dan asri nya lingkungan sekitar, villa tersebut seperti surga tersembunyi di daerah puncak.

Menjelang sore kami pun memutuskan untuk menyudahi kegiatan berenang kami. Satu persatu kami mandi, walaupun tetap kami mandi bareng-bareng karena yang perempuan masih pada takut jika harus mandi sendiri. Saat kami sudah selesai mandi, aku pun naik ke lantai dua untuk menaruh handuk basah bekas mandi. Ternyata di lantai dua sudah ada Nia, Nayla,dan Santi. Nayla sedang di pijit kakinya oleh kakaknya karena kram saat berenang tadi, sedangkan Santi sedang mengeringkan rambutnya yang masih basah setelah mandi.
“Ko, coba lihat deh itu apaan dilantai” kata Nia sambil menunjuk kearah lantai yang ada di tengah ruangan tersebut. Akupun segera mendekat dan melihat. Tampaklah ada cairan berwarna merah di tengah-tengah ruangan tersebut seperti darah. Akupun sempat kaget sebentar sambil mengamati cairan tersebut, kemudian aku mengambil sehelai tissue sambil mengusapkan tissue tersebut ke atas cairan tersebut. Sepintas aku melihat cairan yang menempel di tissue tersebut seperti air.
“Oh mungkin ini tetesan air yang bocor, kan tadi sempat hujan deras” kataku kepada mereka.
“Tapi ko, kalau air kenapa warnanya merah?” kata Nayla lagi
“Mungkin air tersebut terkena kayu-kayu ini, sehingga warnanya berubah.” Kata ku kembali untuk menenangkan mereka sambil menunjuk langit-langit yang memang terbuat dari kayu-kayu juga.

Akupun kemudian memutuskan turun kelantai 1 kembali. namun saat aku akan menuruni anak tangga, tiba-tiba aku terpaku terdiam sejenak menghadap kesebuah lukisan yang lokasinya dekat tangga turun. Sebuah lukisan wanita, yang sedang menari jaipong tiba-tiba saja menarik aku untuk menatapnya. Somehow aku merasakan ada sesuatu yang aneh dengan lukisan ini, sesuatu yang tidak aku rasakan saat aku melewati ruangan ini juga tadi siang. Bulu kuduk ku pun berdiri, dan aku sangat bisa merasakan ada sesuatu yang tidak bersahabat di lukisan tesebut.

Spoiler for Ilustrasi Lukisan Penari Jaipong:




--- BERSAMBUNG DI POST 2 ---
Diubah oleh shippuuden
Tak lama kemudian matahari berangsur-angsur menghilang. Kami bisa melihat hutan hutan yang ada di sekitar villa mulai terbungkus dalam gelapnya malam. Waktu menunjukan pukul 17:50 dan tak terasa sebentar lagi akan magrib. Kami pun memutuskan untuk menyantap mie instant sebagai menu makan malam kami, dan aku serta istriku yang memasak mie tersebut. Sambil memasak seketika juga aku merasakan sesuatu yang cukup aneh. Aku bisa merasakan ada aura yang tidak mengenakan di sekitar villa kami. Aku pun menengok keluar jendela dan sudah tidak tampak apa-apa lagi. Hanya kegelapan yang terlihat di luar jendela tanpa terlihat satupun lampu lagi. Segera akupun langsung menutup pintu keluar yang masih terbuka saat itu dan kembali memasak. Akupun memutuskan untuk tidak memberitahukan kepada siapapun mengenai perasaan yang sedang ku alami karena aku tidak mau merusak liburan ini.

Setelah santap malam kami pun kumpul di ruang tamu untuk main games. Dan saat itu kami akan bermain games werewolf yang memang sedang sangat happening. Di tengah permainan tiba-tiba kami mendengar suara yang cukup aneh berasal dari lantai 2. Suara tersebut seperti suara cakaran di tembok. Sontak saat itu juga Nayla yang ikut mendengar suara tersebut langsung ketakutan dan menangis. Rupanya tanpa kusadari bahwa Nayla juga memiliki tingkat kepekaan yang sama seperti aku, dan dia juga sudah merasakan sesuatu yang tidak mengenakan sejak sore tadi.

“Nay,udah jangan nangis…enggak ada apa-apa kok, ga usah takut…kan kita disini rame-rame” kata Nia berusaha menenangkan adiknya,
Namun Nayla tetap saja menangis dan ketakutan..
“Nay, yud sini duduk deket ko2 aja ya” kata Nia dan aku juga meng-iyakan.
Akhirnya Nayla pindah duduknya kesamping aku dan kami pun mulai melanjutkan permainan. Namun ternyata Nayla juga masih tetap saja ketakutan sehingga kami memutuskan untuk menyudahi permainan.
“Kak, aku mau pulang aja…takut kak” kata Nayla kepada Nia.
“Ikh kanu apa-apaan sih Nay, ini udah malam..jalanan juga sudah gelap..malah bahaya kalau pulang sekarang. Udah ga papa, ga usah takut” ujar Nia yang jadi agak sedikit kesal dengan permintaan Nayla.
Tapi Nayla tetap bersikukuh ingin pulang karena sudah merasa tidak nyaman lagi di villa tersebut
“Kakak ga tau apa yang Nay rasakan disini! Pokoknya Nay mau pulang aja!”
Akhirnya akupun mengajukan untuk pulang duluan mengantar Nayla,
“Yud, kalau gitu biar gw yang anter Nayla aja pulang malam ini, kalian tetap disini aja”
Tapi Joni pun berkata
“ Enggak bisa, kalau satu pulang…semua pulang kalau gitu!”

Akhirnya kami sepakat untuk pulang kembali ke Jakarta malam itu juga. Aku tetap menemani Nayla di ruang tamu, sementara yang lain langsung berberes dan packing untuk persiapan pulang. Saat aku sedang menemani Nayla diruang tamu,aku pun sambil membaca doa dan berdoa untuk Nayla. Saat sedang berdoa tersebut tiba-tiba lampu di ruang tamu langsung berkedip-kedip, sama seperti saat kamar di lantai 1. Dan saat itu juga akupun kembali memejamkan mata. Tak kusangka apa yang bisa aku rasakan dan lihat, ternyata di luar villa kami ini sudah berkumpul banyak sekali makhluk-makhluk halus. Terlihat mereka menunggu diluar jendela sambil menatap kami didalam yang saat itu sedang beres-beres. Tapi walau begitu, aku juga bisa merasakan bahwa tak satupun dari mereka berani untuk masuk kedalam villa dan mendekati kita. Namun bisa kupastikan kondisi kami saat itu seperti sedang dikepung.

Setelah Nia sudah selesai berberes, dia pun menghubungi penjaga Villa yang rumahnya katanya dekat dengan Villa tersebut. Kami menginformasikan kepada penjaga villa tersebut bahwa kami memutuskan untuk kembali ke Jakarta malam itu juga dan minta kalau bisa kami di antarkan sampai ke parkir mobil.
Tiba-tiba Angel menghampiri aku dan berbisik kepada ku, “Ko, kayaknya kita mending doa bareng dulu deh sebelum kita pulang…takutnya mereka ada yang ngikutin kita…”

Aku pun mengiyakan permintaan Angel tersebut dan memanggil teman-teman yang lain untuk berkumpul.
“teman-teman, ada baiknya kalau kita berdoa terlebih dahulu sebelum pulang. Tapi sebelum itu gw pengen ingetin kepada kalian…”
“JANGAN TAKUT! kalian jangan sampai terlihat ketakutan oleh mereka karena itu hanya akan membuat mereka semakin tertarik untuk mengganggu kita. Kita semua punya Tuhan dan kita makhluk yang lebih mulia dari pada mereka, oleh karena itu gw minta kalian jangan takut”
Setelah berkata demikian, akupoun memimpin doa tersebut. Namun di tengah-tengah saat kami sedang berdoa tersebut, tiba-tiba seperti ada sesuatu yang berdiri di belakang ku dan menekan pundak serta leherku dengan sangat beratnya. Kepalaku pun saat itu langsung pusing dan aku tidak konsen lagi dalam membacakan doa. Sempat terdiam beberapa saat sambil mencoba menggeleng-gelengkan kepala.
“ Ya Tuhan, ada apa ini….kenapa kepalaku pusing sekali….bantu aku Tuhan, tolong aku…” ucapku dalam hati…

Namun akhirnya doa tersebut berhasil juga aku selesaikan dan segera kami pun mengambil tas untuk keluar dari villa. Di depan villa, Nampak bapak penjaga villa yang sudah menunggu kami. Kami pun berjalan kaki menuju parkiran sambil di terangi cahaya dari lampu senter dan hp karena memang tidak ada pencahayaan apa-apa lagi di sepanjang jalan. Kami pun menuruni anak tangga yang cukup banyak dengan pelan-pelan. Jalanan yang licin karena sehabis gerimis memang membuat kami harus extra hati-hati dalam melangkah, apalagi sambil membawa barang-barang. Di tengah perjalanan tersebut, tiba-tiba aku merasakan kembali seperti saat sedang berdoa tadi, hanya saja kali ini ditambah pandangan ku semakin kabur. Sambil di iringi doa dalam hati aku memaksakan diri untuk tetap melangkah sampai parkiran. Namun sesampainya kami di parkiran, aku sudah tidak tahan lagi. Langsung saja aku belari menuju pepohonan dan disitu aku muntah. Anehnya tidak ada apapun yang keluar dari mulut ku, tapi aku merasakan saat aku muntah tersebut seperti ada sesuatu yang mengganjal keluar.
Dimas pun langsung menghampiri aku sementara teman-teman yang lain sepertinya takut untuk mendekat.

“Bro, lu ga papa kan bro?” tanya Dimas kepada ku
“ga papa bro…tapi gw boleh minta tolong ga? Tolong lu yang bawa mobil gw donk, kayaknya gw ga kuat” kataku lagi kepada Dimas.

Akhirnya Dimas mau membawa mobil ku, sementara aku duduk dibelakang dengan Nayla karena memang Nayla tampaknya tidak mau jauh dulu dari aku. Sedangkan yang duduk didepan Istriku Bersama Dimas.
Namun ada saja yang terjadi saat kami hendak meninggalkan Villa tersebut. Entah kenapa tiba-tiba mobil yang satu lagi wipernya tidak bisa berfungsi, padahal saat itu sedang turun gerimis lagi. Kami sempat kuatir bahwa perjalanan ini akan cukup membahayakan, apalagi salah satu mobil tidak berfungsi wipernya. Namun akhirnya kami tetap nekat untuk berangkat pulang. Kami pun berjalan beriringan melewati kembali jalanan yang rusak, dimana salah satu sisi jalanan tersebut adalah jurang. Di tengah perjalanan, tiba-tiba kami terpaksa kembali harus berhenti di karenakan mobil teman ku ban nya seperti masuk ke lubang yang cukup dalam dan tidak dapat keluar. Dimas pun bergegas keluar dari mobil untuk membantu mengarahkan mobil temanku yang satu lagi supaya bisa keluar dari lubang tersebut. Sementara Dimas sedang diluar, didalam mobil tinggal aku, istriku dan Nayla.

Saat sedang menunggu Dimas itulah tiba-tiba Istriku teriak “Eh kaget!” karena dia merasakan ada tetesan air ditangannya. Tak lama kemudian Dimas kembali kemobil dan kami pun melanjutkan perjalanan.
Kami pun berhasil melalui jalanan rusak tersebut dan hampir masuk ke jalan raya puncak. Namun saat itu aku tiba-tiba merasakan sesuatu yang aneh, bukan untukku melainkan pada istriku sendiri. Aku melihat ada yang aneh dengan tingkah laku Istriku saat itu. Dia tiba-tiba memegang kepalanya dan lehernya sambil bilang

“Aduh, kok leher aku tiba-tiba sakit banget ya….”
Tak lama setelah dia berkata demikian, tiba-tiba istriku langsung menundukan kepalanya. Kemudian dia kembali bangun tapi kali ini dengan mata melotot. Aku melihat ini sudah sangat tidak wajar, kemungkinan besar istriku sudah di hinggapi salah satu makhluk halus dari villa itu. Aku pun minta kepada Dimas untuk mencari tempat untuk berhenti sebentar.
Kami pun memutuskan untuk berhenti di depan restaurant Pizzahut yang berada di jalan raya Puncak. Aku pun segera ngomong kepada Dimas dan Nayla yang saat itu sedang satu mobil dengan ku.

“Nay, coba kamu ke mobil kak Nia dulu ya sebentar”
“Dim, helep dunk untuk pindahin Eva supaya duduk di belakang”

Bukan tanpa alasan kenapa aku meminta Dimas untuk mengawal Istriku supaya pindah duduk kebelakang, karena aku juga pernah ada pengalaman menghadapi orang yang kerasukan seperti ini. Dimana tiba-tiba orang tersebut langsung lari saat hendak di doakan, dan aku mencegah hal itu terjadi.

Terlihat ada penolakan oleh istriku saat hendak di pindahkan oleh Dimas, namun pada akhirnya Dimas berhasil juga memindahkan Istriku untuk duduk dibelakang.
Aku pun meminta Dimas untuk keluar sebentar menuju mobil yang satu lagi, hingga tinggal aku dan istriku berdua saja di dalam mobil.
Aku pun mengamati istriku yang dari tadi melotot kearahku. Kemudian aku berdoa didalam hati sebelum memberanikan diri berkomunikasi. Setelah berdoa aku pun mengambil tangan Istriku dan memencet diantara jempol dan telunjuk dari tangan Istriku. Terlihat tidak ada reaksi apa-apa. Lalu aku mencoba berkomunikasi dengan makluk tersebut.

“Dengan siapa aku bicara?” kata ku, namun tidak ada jawaban dari mulut Istriku.
“Sekali lagi aku bertanya, Dengan siapa aku bicara!” kali ini aku sambil membentak.

Sesudah berkata demikian tiba-tiba Istriku seperti pingsan lagi dan bangun kembali. Kali ini dia berbicara sesuatu

“Ada apa ya? Kamu lagi ngapain?” kata Istriku seakan-akan dia tidak ingat apapun yang terjadi padanya.

Namun disini aku belum sepenuhnya percaya bahwa makhluk tersebut sudah benar-benar keluar dari tubuh istirku. karena aku ingat Setan dengan segala tipu muslihatnya akan selalu berusaha untuk mengelabui kita. Aku pun kembali berdoa minta kekuatan dari Tuhan dan setelah itu aku pun meminta Istriku untuk berdoa Bersama dengan ku. Saat itu datanglah Andi dan Joni ke mobil ku untuk menengok keadaan kami. Aku pun mengajak mereka berdua untuk ikut berdoa. Ditengah doa kami, tiba-tiba Istriku mengalami sesuatu dimana dia merasa sangat mual. Segera saja aku membuka pintu mobil dan mengarahkan Istriku untuk muntah diluar.
“Muntahin aja saya, jangan ditahan!” kataku kepada Istriku sambil kami tetap melanjutkan berdoa.
Akhirnya dia muntah juga sama seperti yang aku alami sebelumnya. Setelah muntah tersebut tiba-tiba badannya merasa sangat lemas dan capek. Menurut Istriku dia tidak ingat apa-apa lagi setelah kejadian dimana dia merasa ada tetesan air menetes ditangannya.

Setelah kejadian tersebut kamipun melanjutkan perjalanan pulang ke Jakarta dan kami dapat tiba dengan selamat. Kami pun menyempatkan diri untuk kumpul-kumpul sebentar sebelum kembali kerumah masing-masing untuk bercerita mengenai pengalaman yang baru saja kita alami di villa tersebut.

Ternyata Angel, salah seorang dari teman kami telah memiliki kemampuan melihat makhluk halus dengan bentuk lebih jelas dibandingkan aku maupun Nayla, hanya saja dia tidak berani cerita kepada siapapun dan cenderung menutup-nutupinya selama kita ada di Villa. Angel pun bercerita mengenai semua makhluk yang ada di villa tersebut. Ditengah-tengah kita sedang bercerita tersebut tiba-tiba saja kesadaranku seperti terlempar kembali ke villa tersebut. Tiba-tiba saja aku melihat diriku ada didepan lukisan yang ada di lantai dua villa tersebut, Lukisan seorang penari jaipong. Tak lama setelah menatap lukisan tersebut aku pun melihat sesosok makhluk yang sangat menyeramkan, wanita berambut sangat Panjang dan berantakan. Memakai pakaian putih dengan kuku tangan dan taring yang Panjang. Wanita itu menatapku dengan begitu tajamnya seakan-akan hendak menerkamku. Tapi tiba-tiba kesadaranku pun kembali dan merasakan semua tanganku gemetaran.
Aku pun menceritakan sosok yang baru saja aku lihat itu kepada Angel dan dia mengiyakan kalau ada sosok tersebut di lukisan tersebut. Sosok itu juga yang mencakarkan kuku nya di dinding lantai 2 saat kami sedang bermain malam-malam di ruang tamu villa tersebut.

Sosok itu masih membekas di kepalaku hingga sekarang. Akupun menyadari sesuatu yang cukup aneh, entah ini sebuah kebetulan atau tidak. Sosok wanita yang sama juga pernah aku temui 17 tahun lalu, tepatnya saat aku masih SMP. Saat itu aku sedang tidur dan tiba-tiba aku “ketindihan”. Ya memang aku sering sekali mengalami apa yang orang sebut dengan ketindihan, namun ketindihan yang saat itu aku rasakan sangatlah berbeda. Lebih dari sekedar ketindihan biasa, aku pun merasakan kalau jiwaku keluar dari tubuhku saat aku ketindihan tersebut. Aku bisa melihat tubuhku yang sedang tertidur sambil aku terbang ke langit. Tiba-tiba saat aku sudah tiba dilangit, aku melihat sosok wanita tersebut. Persis seperti apa yang aku lihat didalam lukisan tersebut. Rambut Panjang berantakan dengan taring dan kuku yang Panjang. Wanita tersebut coba menangkap ku namun hal itu tidak terjadi karena tiba-tiba ada sesosok sinar yang terang melintas di antara aku dan hantu wanita tersebut. Sinar itu juga yang melempar aku kembali ke raga ku sehingga seketika itu juga aku langsung tersadar dari tidurku….


--THE END?--

Spoiler for Ilustrasi:
Diubah oleh shippuuden
Cisarua penuh misteri
serem amat itu gambarnya


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di