Kaskus

News

metrotvnews.comAvatar border
TS
metrotvnews.com
Pengungsi Rakhine State Rutin Pantau Keluarga Lewat Telepon
Pengungsi Rakhine State Rutin Pantau Keluarga Lewat Telepon

Metrotvnews.com, Makassar: Terpisah jauh dari rumah tak membuat pengungsi asal Rakhine State, Myanmar, di Makassar melupakan kampung halamannya. Orang-orang bersuku Rohingya itu secara rutin terhubung dengan keluarga di negara asal melalui perangkat komunikasi telepon.


Ibnu Jamil, salah satunya. Lelaki yang bermukim di Makassar sejak 2010 mengaku selalu menyempatkan waktu untuk menanyakan kabar keluarga di kampung halaman. Biasanya melalui sambungan telepon, satu minggu sekali. Namun intensitasnya meningkat seiring konflik yang kembali memanas di Rakhine.


“Saya hanya bisa tahu keadaan mereka lewat telepon. Mereka sekarang berjalan tanpa tujuan meninggalkan rumah, dan setiap saat terancam nyawanya,” kata Ibnu Jamil di Makassar, Selasa 5 September 2017.


Baca: Akar Konflik Rakhine State tak Hanya Agama


Jamil mengatakan, orang-orang Rakhine sudah terbiasa dengan pemandangan orang dibunuh atau dibakar. Belakangan, korban adalah mereka yang mencoba menyeberang ke Bangladesh, negara tetangga.


“Pembantaian sungguh keji, terutama dua minggu terakhir ini. Orang Rohingya bisa habis, hampir tidak ada yang bisa lolos. Mereka dikepung pakai tembak dan senjata lain,” ujarnya.


Dalam pengasingannya di Indonesia, Jamil berharap segera ada solusi terhadap konflik di Myanmar. Dia memimpikan orang-orang Rohingya bisa beraktivitas normal seperti manusia umumnya.


“Kami memohon pertolongan kepada siapa saja, bagaimana menghentikan pembunuhan. Selain itu bagaimana kami bisa pulang dan mendapatkan hak-hak. Karena orang yang pergi rata-rata meninggalkan semua harta bendanya,” Jamil melanjutkan.


Klik, PBB: Pengungsi dari Rakhine Kelaparan dan Butuh Bantuan Medis


Di Makassar, United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) dan International Organization for Migration (IOM) memfasilitasi pengungsian terhadap sekitar 200 orang Rakhine. Mereka tinggal menetap delapan tahun terakhir pada sejumlah lokasi rumah-rumah kontrakan.


Setelah tujuh tahun, Jamil mengungkapkan cukup senang berada di Makassar. Di kota ini dia diterima dengan baik oleh masyarakat setempat. Dia mengaku bisa hidup baik dengan makan cukup sehari-hari berkat uang pemberian UNHCR. Meski begitu, dia tetap memimpikan kehidupan baru.


“Saya juga mau bebas seperti orang Makassar. Di sini saya hidup baik, tapi sebagai pengungsi tidak bisa apa-apa karena tidak dibolehkan bekerja. Anak-anak tidak bisa belajar,” kata Jamil.




Sumber : http://news.metrotvnews.com/daerah/O...-lewat-telepon

---

Kumpulan Berita Terkait :

- Pengungsi Rakhine State Rutin Pantau Keluarga Lewat Telepon Said Aqil Tegaskan Pemerintah Banyak Berjuang untuk Rohingya

- Pengungsi Rakhine State Rutin Pantau Keluarga Lewat Telepon PBB: Pengungsi dari Rakhine Kelaparan dan Butuh Bantuan Medis

- Pengungsi Rakhine State Rutin Pantau Keluarga Lewat Telepon Warga Makassar Temui Pengungsi Rohingya

anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
1K
0
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan