CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
John Lie Sang Hantu Selat Malaka
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/599bbb6fd44f9fe14f8b456c/john-lie-sang-hantu-selat-malaka

John Lie Sang Hantu Selat Malaka

John Lie Sang Hantu Selat Malaka

Apa yang kalian pikirkan ketika mendengar kata penyelundup? Penyelundup sering berarti negatif. Namun enggak semua tindak penyelundupan itu tergolong kejahatan loh, Gan!

Quote:


Salah satu tindak penyelundupan yang dibenarkan itu terjadi pada saat zaman penjajahan Indonesia. Sosok ini, misalnya, melakukan penyelundupan demi tercapainya kemerdekaan untuk tanah air tecinta. Apa yang dia kerjakan justru heroik buat negara namun musuh bagi para penjajah. Di thread terakhir ‘Tidak Merdeka Tanpa Mereka’ kali ini akan membahas siapakah “pelaku kejahatan” yang menjadi pahlawan kemerdekaan Indonesia.

Lie Tjien Tjoan atau dipanggil John Lie. Lahir 9 Maret 1911 di Manado, Sulawesi Utara, John Lie adalah anak pengusaha vetkol di Manado. Dengan kehidupannya sebagai anak pengusaha dia bisa mendapatkan apa saja yang dia inginkan apabila meneruskan usaha yang dirintis orang tuanya. Tapi John Lie lebih memilih pergi ke Batavia (Jakarta) untuk mewujudkan mimpinya, lepas dari tanggungan orang tuanya dan punya obsesi untuk menjadi seorang pelaut yang hebat dengan usahanya sendiri.

John Lie Sang Hantu Selat Malaka

John Lie bekerja sebagai buruh di pelabuhan. Ia tidak segan melakukan pekerjaan kotor dan berat. Karena ulet, rajin dan gigih akhirnya dia diberikan pelatihan navigasi sampai menjadi Klerk Mualim III pada kapal pelayaran Belanda bernama Koninklijk Paketvaart Maatschappij. Setelah itu, beliau bergabung dengan Kesatuan Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS) sebelum akhirnya diterima di Angkatan Laut RI.

John Lie berpikir, seandainya suatu saat nanti Indonesia diserang siapa yang akan membela? Siapa lagi kalau bukan putra putrinya!

Itulah yang kemudian memotivasinya untuk pergi belajar di Singapura. Mengenyam pendidikan dari Royal Navy tentang pengamanan dan penyapuan ranjau, belajar taktik pertempuran laut dengan mengingat kembali Perang Dunia II, belajar peranan dan tugas dalam logistic ship dan taktik perang laut. Dia jugalah yang menyuarakan pentingnya indonesia memiliki kapal–kapal untuk bergerilya di lautan. John Lie selalu berusaha untuk bergaul dan bersahabat dengan para pemuda yang akhirnya bisa menggugah semangat mereka untuk sukarela berjuah melawan penjajah. Ketika akhirnya dia masuk Angkatan Laut, John Lie berpangkat Kapten dan bertugas sebagai pembersih ranjau yang ditanam penjajah Jepang untuk Belanda. Karena jasanya itu, pangkatnya naik dari Kapten jadi Mayor.

John Lie Sang Hantu Selat Malaka

Meski Jepang mengalami kehancuran total karena bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, yang kemudian membuat Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, pasukan Belanda dan sekutu masih ada di Indonesia dan berniat melakukan penjajahan kembali. Perjuangan belum berakhir.

John Lie ikut dalam pasukan melawan penjajah. Perjuangan tidak semudah mengarungi laut tenang. Kucing-kucingan dengan kapal-kapal Angkatan Laut Belanda yang sering patroli di laut Indonesia pun kerap dilakukan. Belum lagi kapal yang digunakannya tidak secanggih kapal milik Belanda.

Lewat sebuah seleksi ketat, John Lie terpilih untuk menjalankan mandat misi rahasia. ‘The Outlaw’, kapal kecil yang digunakannya untuk misi tersebut. Selama hidupnya, John Lie sudah melakukan 15 kali operasi rahasia. Penyelundupan. Dan yang satu ini tugasnya adalah mengamankan pelayaran kapal yang mengangkut komoditas ekspor Indonesia untuk diperdagangkan di luar negeri dalam rangka mengisi kas negara yang saat itu masih tipis.

Pada masa awal (tahun 1947), ia pernah mengawal kapal yang membawa karet 800 ton untuk diserahkan kepada Kepala Perwakilan RI di Singapura, Utoyo Ramelan. Sejak itu, ia secara rutin melakukan operasi menembus blokade Belanda. Karet atau hasil bumi lain dibawa ke Singapura untuk dibarter dengan senjata. Senjata yang mereka peroleh lalu diserahkan kepada pejabat Republik yang ada di Sumatera seperti Bupati Riau, Usman Effendi, sebagai sarana perjuangan melawan Belanda.

Pada suatu misi, ketika John Lie dan Kawan-kawan membawa 18 drum minyak kelapa sawit, John sempat ditangkap perwira Inggris dan dibawa ke Singapura untuk diadili. Beruntung John saat itu dibebaskan karena tidak terbukti melanggar hukum. Tidak hanya itu saat membawa senjata semi otomatis dari Johor (Malaysia) ke Sumatera, kapal John dihadang pesawat patroli Belanda. John Lie mengatakan, kapalnya sedang kandas. Dua penembak, seorang berkulit putih dan seorang lagi berkulit gelap, mengarahkan senjata ke kapal mereka. Dia dan awak kapal selamat dari insiden tersebut.

John Lie Sang Hantu Selat Malaka

Setelah menyerahkan senjata kepada Bupati Usman Effendi dan komandan Batalyon Abusamah, mereka lalu mendapat surat resmi dari Syahbandar bahwa kapal The Outlaw adalah milik Republik Indonesia dan diberi nama resmi PPB 58 LB. Seminggu kemudian John Lie kembali ke Port Swettenham di Malaya untuk mendirikan pangkalan Angkatan Laut yang menyuplai bahan bakar, bensin, makanan, senjata, dan keperluan lain bagi perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Keberhasilan ‘The Outlaw’ menyelundupkan senjata ke Indonesia atau hasil bumi ke Singapura hingga Thailand terus terjadi pada misi-misi berikutnya. Siaran stasiun radio BBC di London sampai-sampai menjuluki kapal tersebut dengan nama ‘The Black Speedboat’.

Kepala Subdinas Sejarah Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut Kolonel Syarif Thoyib mengatakan, John Lie memiliki koneksi yang baik dengan orang-orang di pelabuhan Singapura, Thailand, bahkan hingga Afrika. Maka tidak heran operasi-operasinya berjalan sukses atas bantuan mereka.

Quote:


John Lie Sang Hantu Selat Malaka

Dibantu "keajaiban" Suatu ketika di awal Agustus 1949, ‘The Outlaw’ harus menjalani perbaikan total dengan naik galangan atau docking di Penang. Selesai perbaikan, ‘The Outlaw’ kembali ke Phuket menjemput awak kapal. Mereka berlayar kembali ke Aceh pagi-pagi buta, saat kapal memasuki Delta Tamiang, kapal Belanda menghadang. Dengan membabibuta, kapal penjajah menembakkan meriam ke badan ‘The Outlaw’.

Suasana sangat mencekam. Peluru mendesing-desing. Ledakan terjadi di jarak 3 meter tempat John Lie berlindung. Dalam kondisi kritis, 'The Outlaw' sama sekali tidak berdaya. Namun ajaib, kapal Belanda mengalami kandas di karang sehingga tidak bisa bergerak lagi. 'The Outlaw' melarikan diri bersembunyi di Delta Tamiang.

Lolos dari armada laut Belanda, kini armada udara yang menyergap. Namun, lagi-lagi keajaiban terjadi. Pesawat dengan juru tembaknya hanya berputar-putar di atas delta. Mereka seakan-akan tidak melihat 'The Outlaw' yang porak poranda di bawahnya.

Quote:


Tidak berhenti sampai di situ. John Lie kemudian memutuskan kembali ke Penang. Apalagi, satu baling-baling mesinnya copot. Sulit pasti melarikan diri jika dikejar Belanda. Pagi-pagi buta keesokan harinya, 'The Outlaw' sudah sedikit lagi memasuki Selat Malaka. Namun, di tengah kegelapan malam, sebuah kapal tanker milik Belanda melintas.

Nakhoda kapal tanker itu kemudian menghubungi patroli militer Belanda. Benar saja. Tidak lama kemudian, kapal patroli Belanda kembali menghadang 'The Outlaw'. Tembakan meriam Bofors dan senapan mesin 12,7 milimeter memecah kesunyian laut. Sadar jarak ke Penang masih jauh, John Lie dan awak pasrah. Seisi kapal berserah pada Tuhan. Bahkan, John Lie tidak menyadari kapal Belanda mengirimkan sandi morse agar 'The Outlaw' menyerah. Namun, ajaib. Tiba-tiba cuaca buruk melanda perairan. Kabut menyelimuti permukaan laut. Hujan turun dengan sangat deras. Gelombang laut tiba-tiba berkecamuk. Kapal Belanda tidak sanggup mengejar 'The Outlaw' dengan cuaca yang demikian.

John Lie Sang Hantu Selat Malaka

Perjalanan menyeramkan Phuket-Aceh itu juga terus dipantau radio BBC di London. Penyiar menyebut, 'The Outlaw' dengan segala pengalamannya lolos dari sergapan itu di luar nalar. Bahkan, saat John Lie untuk kesekian kalinya bertandang ke Phuket, wartawan Roy Rowan dari majalah Life mengulas secara khusus operasi-operasi 'The Outlaw' dari halaman 49 sampai 52.

Pada 30 September 1949, John Lie dipindahkan ke Bangkok. Di sana, ia bertugas di Pos Hubungan Luar Negeri. Tugasnya di darat sama saja, mendapatkan pasokan senjata yang lebih banyak untuk para pejuang di tanah air.

Pada awal 1950 ketika ada di Bangkok, ia dipanggil pulang ke Surabaya oleh KSAL Subiyakto dan ditugaskan menjadi komandan kapal perang Rajawali. Pada masa berikut ia aktif dalam penumpasan RMS (Republik Maluku Selatan) di Maluku lalu PRRI/Permesta. Ia mengakhiri pengabdiannya di TNI Angkatan Laut pada Desember 1966 dengan pangkat terakhir Laksamana Muda.

Menurut kesaksian Jenderal Besar AH Nasution pada 1988, prestasi John Lie ”tiada taranya di Angkatan Laut” karena dia adalah ”panglima armada (TNI AL) pada puncak-puncak krisis eksistensi Republik”, yakni dalam operasi-operasi menumpas kelompok separatis Republik Maluku Selatan, Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia, dan Perjuangan Rakyat Semesta.

Kesibukannya dalam perjuangan membuat beliau baru menikah pada usia 45 tahun, dengan Pdt. Margaretha Dharma Angkuw. Pada 30 Agustus 1966 John Lie mengganti namanya dengan Jahja Daniel Dharma.

Jiwa patriotisme, cinta tanah air, membela negara, tak hanya diperlihatkan Laksamana Muda John Lie lewat kata-kata, tapi perbuatan. Sejak bergabung dengan TNI Angkatan Laut pada awal kemerdekaan, sebagian besar hidup John Lie dibaktikan kepada negara dan bangsanya di lautan.

Salah satu pernyataan beliau pada saat berjuang:

Quote:


John Lie Sang Hantu Selat Malaka

Jiwa nasionalismenya tumbuh seperti apa yang dikatakan Lie dalam majalah LIFE, 26 Oktober 1949:

Quote:


Quote:


John Lie meninggal dunia karena stroke pada 27 Agustus 1988 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Atas segala jasa dan pengabdiannya, beliau dianugerahi Bintang Mahaputera Utama oleh Presiden Soeharto pada 10 Nopember 1995, Bintang Mahaputera Adipradana dan gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 9 November 2009.

Pemerintahan era Susilo Bambang Yudhoyono pada 9 November 2009 menganugerahkan Gelar Pahlawan Nasional dan Bintang Mahaputera Adipradana kepada mendiang John Lie. Nama John Lie, pada awal Januari 2017, diabadikan sebagai nama Kapal Perang Indonesia, KRI John Lie.

John Lie Sang Hantu Selat Malaka

emoticon-I Love Indonesia emoticon-I Love Indonesia emoticon-I Love Indonesia

Diolah dari berbagai sumber.


Quote:

Diubah oleh KASKUS.Editor
Halaman 1 dari 4
ntabz ndro
emoticon-Cool
keren sekali bapak john lie ini emoticon-Matabelo
kirain bintang pelem bre...
namanya keren pak emoticon-Wowcantik
nasionalismenya tinggi emoticon-I Love Indonesia
:iluvindonesia
pahlawan nih
Kan main pak John keren pak merdeka
Diubah oleh pabloo
Salute keren ada misi rahasianya dengan kapal sederhana emoticon-I Love Indonesia emoticon-I Love Indonesia
klo diangkat jdi film psti oke bgt ni, storynya john lie udh sgt menarik soalnya
bner banget gan patut buat dicontohh
emoticon-Jempol
Quote:


Keren kisahnya. Dari buluh kasar. Terus Clark. Terus belajar di Royal Navy jadi penyapu ranjau. emoticon-Recommended Seller


Terima kasih atas jasanya emoticon-Nyepi
pejawen doloemoticon-Hai
Keren ini jasa pahlawan.

Trid ini layak ane jadikan hot thread. emoticon-Stick Out Tongueencet
Kok yang turunan ngarap malah jarang ya? emoticon-Bingung

Quote:


Hot thread DONE. emoticon-shakehand
Quote:


Emang keren dan udah ht
Quote:


Iya bro..

Kan ane jadikan hot thread. emoticon-Shakehand2
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 12
Gembok tampan.

Jangan lupakan jasa para pahlawan.

emoticon-I Love Indonesia
Diubah oleh kuekoya
Jangan lupa diwalik ya, gan. emoticon-Traveller
Halaman 1 dari 4


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di