alexa-tracking

Black Part Of Woman

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/58ee29e6ddd770f07a8b4569/black-part-of-woman
icon-hot-thread
Black Part Of Women
Spoiler for Peringatan:



Spoiler for Anissa : Aku Bukan Pelacur:


Spoiler for Ibu?!:


emoticon-roseWanita itu unik. Karena itu perlakuan terhadap mereka pun berbeda-beda dan spesial. emoticon-rose
emoticon-rose mereka selalu punya cerita menarik yang pantas disimak emoticon-rose

Anism & (edit by) Fanzangela
image-url-apps
Quote:


emoticon-rosemereka selalu punya cerita menarik yang pantas disimak emoticon-rose
Quote:


Trims ya buat editingnya. Saya pinjam ya sist kalimatnya....emoticon-Peace

KASKUS Ads
image-url-apps
Lanjut sis.
Yg penting isi cerita tidak ada yg melanggar rules SFTH emoticon-Cool
Bad Brain Storming 1
Bantingan suara di kamar sudah merupakan hal yang biasa. Itu artinya akan ada suara perang selanjutnya.
Itu adalah meriam pembuka bagi pertarungan antara ayah dan Ibuya.

Anissa hanya bisa menyumbatkan headset dan menyetel musik kuat-kuat untuk mengalahkan suara perkelahian ayah dan ibunya,
Sebenarnya ini hanya hal kecil biasa. Ada banyak masalah kecil yang dibesar-besarkan oleh mereka.

Mereka menyebutnya sebuah 'tanggung jawab masing-masing dalam keluarga". Bagi Anissa itu bullshit.
Yang benar adalah mereka justru melemparkan tanggung jawab mereka.

Tanggung jawab untuk membesarkan Anissa. Kenapa? Bukankah mereka orang tua Anissa,
Bukankah mereka wajib bertanggung jawab atas Anissa?

Ya, mungkin mereka juga benar. Anissa adalah anak hasil hubungan terlarang sang Ibu dengan pacarnya terlebih dahulu.
Demi menyelamatkan harga diri dan karir yang sedang di kejar Sang Ibu. Dia harus mencari seorang pria untuk menjadi ayah Anissa.

Dan inilah mereka. Keluarga kecil yang sempurna. Ayah, Ibu dan Anak.

Anissa terus mendengarkan lagu sampai ada bantingan suara yang lebih keras lagi. Dan juga bantingan pagar. Ya, ayah pergi keluar lagi malam ini. Pikiran Anissa melayang. Pasti ayahnya punya seseorang di luar.

Ayahnya pernah bilang pada Anissa. Pria tidak akan tahan dengan wanita yang terlampau cerewet. Marah saat suaminya pulang ke rumah.

Anissa saat itu dengan lugu bertanya," Jadi apa yang akan dilakukan si pria?"

Ayahnya hanya menerawang jauh dan berkata,"Dia akan mencari kenyamanan di luar sana."

Sebagai wanita, Anissa memiliki sisi egois juga. Ia terluka mendengar kata-kata seperti itu.
Itu seperti menggambarkan wanita hanya diposisikan untuk memuaskan si pria.

Jadi Pria hanya menjadi tukang judge apakah dia puas atau tidak. Puas maka dia akan bertahan, menghadiahi si wanita dengan berbagai pujian dan kasih sayang.
Jika tidak, maka pria akan mencari kesenangan di luar sana.

Jadi bagaimana jika pria tidak memuaskan? Bagaimana kalau si pria yang payah di ranjang?

Anissa terkekeh dan kemudian menutup matanya.
Quote:


Iya gan/sist. Saya juga berharap semoga cerita saya gak ngelanggar rules SFTH...
Soalnya lagi semangat nulis juga...
emoticon-Toast
image-url-apps
Quote:


Semangat sis emoticon-Keep Posting Gan
Quote:


Wokeh.... Makasih....emoticon-Embarrassment

Bad Brain Storming 2

Anissa mulai mencoba untuk bolos sekolah. Dia berjalan-jalan hingga malam. Dia memutuskan untuk pergi ke pasar malam. Disana dia bertemu dengan seorang pria. Pria itu adalah tukang tato. Namanya Ario. Ario memperagakan kemampuan menatonya yang sangat cepat sehingga pelanggan yang ditato tidak akan merasakan sakit.

Anissa tertarik dengan hal itu. Apa yang menyakitkan? Ini pasti masih lebih baik dibandingkan keadaan rumahnya yang seperti neraka. Dia tidak tahu kenapa ada banyak sekali suara-suara jahat yang berputar dikepalanya. Kemudian tanpa ragu, ia melangkah ke galeri Ario.

Di sana Ario tampak sudah mau memberes-bereskan peralatannya. Ario tidak memperoleh pelanggan hari ini. Dia hanya melakukan peragaan bersama seorang wanita yang badannya hampir sudah habis di rajam tato. Wanita itu sudah pulang terlebih dahulu. Tinggallah Ario sendiri yang berada di sana. Di bawah temaram lampu yang bergoyang-goyang, Anissa bisa melihat garis tegas di muka Ario.
Dia punya muka yang menarik. Setidaknya menarik bagi Anissa.

Anissa mematut dirinya melalui pantulan bayangannya. Dia sudah berdandan tadi, Dia pasti cukup menarik. Sedari tadi ada beberapa pria menyiuli dia di jalan.Hal itu bukannya membuatnya risih. Entah kenapa, dia malah merasa bangga dan menganggap bahwa itu adalah pengakuan dari orang-orang bahwa dirinya menarik.

Dia menghampiri galeri Ario. "Mas, bisa tato?"

"Sudah tutup neng", balas Ario tanpa melihat. Ia masih memberes-bereskan barangnya.

Namun, entah kenapa bayangan yang kakinya bergerak-gerak cemas dan menyilangkan kaki membuat Ario terganggu konsentrasinya.
Tidak biasa, Dia sangat sering bertemu dengan orang-orang. Maksudnya adalah wanita-wanita dengan "kemampuan menggoda". Ario tidak akan mudah digoyahkan mereka.

Dia pernah melihat berbagai jenis tubuh dan berbagai jenis kulit. Dari yang putih mulus sampai hitam gosong.

Melihat seorang Anissa yang berdiri tidak karuan di depan galerinya yang sudah mau tutup. Entah kenapa, hal itu membuat hatinya berdesir. Dia merasakan aura sesuatu yang masih 'fresh'.

Bulu romanya bergidik. Bisakah? Dia melihat bagian tubuh indah itu. Tubuh tidak sempurna yang masih murni. Tangannya gemetar ingin mengeksplorasi tubuh itu dengan jarum-jarumnya.
image-url-apps
mantau dulu bree lanjutken emoticon-Cool
Quote:

Oke gan... Silahkn ya... emoticon-Embarrassment

image-url-apps
mantab gan, teruskan sampai anisa ngamar eh jadian sama aryoemoticon-Cool
image-url-apps
lanjutt..
Pujangga Hati Anissa

"Tapi kalau neng mau, saya tinggal gak jauh dari galeri. Saya bisa buatkan ditempat tinggal saya", ujar Ario kalem.

Ajakan malam huh? Batin Anissa.
Malam itu Anissa berada dalam dilema antara dua hal. Entah mengapa ia merasa nyaman dengan melihat telapak tangan kasar dari pria itu.

Tapi, dia masih seorang perawan. Yang benar saja ia harus melepasnya untuk pria yang baru dikenalnya semalam. Dan memangnya pria yang bekerja sebagi tukang seni bisa punya pelindung didalam galerinya?

Anissa mulai menggerak-gerakkan kakinya gusar. Pria itu selalu terdorong saat melihat tingkah Anissa yang satu ini.
Aku punya banyak kamar. Kalau kamu takut , kita bisa tato diruangan yang tidak ada pintunya. Galeri kita ada tempat itu.

Anissa kemudian hanya mengikuti pria itu. Entah apa yang membuatnya merasa nyaman.

"Aduh", erang Anissa.

"Neng, ini baru pake alkohol kali. Jarumnya aja lom siap", gelak Ario melihat tingkah Anissa yang ketakutan ditato.

Anissa ingin menato pergelangan kakinya. Anissa memilih gambar rantai. Entah kenapa.

"Tapi kalau boleh tahu nih. Kenapa anak baik-baik kayak eneng mau ke tempat seperti pasar malam dan minta ditato pula?", tanya Ario.

"Mas, tahu dari mana saya anak baik-baik?", tembak Anissa.

"Lah, dari muka aja nampak kali neng. Makanya saya agak terkejut melihat ada wanita lugu cantik yang berkeliaran disini.", ujar Ario.

Anissa agak tersipu. Anissa merasa dirinya sangat biasa. Kebanggaannya bertambah karena Ario mengatakan bahwa dirinya cantik.

"Aku malas dengan kehidupanku mas"

Malam pun menjadi sunyi. Hanya ada suara-suara serangga malam yang mewakili kehampaan malam itu.
Quote:


Wakakakak... Langsung amat kamu gan...
Dipantengin terus aja. Ini agak kelam. Jangan dipraktekkan ya..
Hahahahhah....
emoticon-Wakaka
Quote:


wokeeeehh
image-url-apps
Di tunggu part selanjutnya Sista....
Quote:


Oke sist.. Dtunggu yaaa... Lagi ngumpulin ide jugaa... ^^
Makasih ya dah mampir buat baca.
image-url-apps
Quote:


Sama2 sist..
image-url-apps
salam kenal sistemoticon-shakehand
gembok dulu ah
×