CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
SPIRITUAL ADVENTURE (perjalanan menembus batas logika)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/58a66591dc06bd09598b456c/spiritual-adventure-perjalanan-menembus-batas-logika

SPIRITUAL ADVENTURE (perjalanan menembus batas logika)

Tampilkan isi Thread
Halaman 15 dari 18
Quote:


pengen sih gan, cuma ane kaga ngarti main telegram emoticon-Big Grin
Quote:

setelah itu polos dipertanyakan, yang penting harus selalu rendah hati, ya kan om? emoticon-Malu
haha ditunggu, sambil maem molen arab dulu.. emoticon-Leh Uga
emoticon-Games
Asekk dahh punya khodam :'v
om wir, dedek polos minta apdet om emoticon-Ngakak
Quote:


Jangan lupa mbah, ikut tirakat biar tambah ganteng kaya saya emoticon-Big Grin

tes
persiapan update
Quote:


aseeekkk..
tak nteni suhu....
d tunggu updatenya mbahhh
pesen 2 kapling
pesen 2 kapling
1 kapling lagi deh
Quote:


yuhuuuuu
emoticon-Salam Kenal
Quote:


bakar dupa dulu
kalo ga jadi apdet diapain ya enaknya emoticon-Hammer2
Kehendak sama Ijin beda gan.
Bedakan kata antara Tuhan menghendaki dengan Tuhan mengijinkan.

Kehendak Tuhan selalu baik, damai, bukan kejahatan.

Kekacauan yang terjadi di dunia adalah seijin-Nya, bukan kehendak-Nya.
Diubah oleh jon.sansiro
Om numpang Cerita dikit nih :emoticon-Wink

Baru abis makan pagi belum bisa move on dari kasur. Cek WA dan Tele ada yang ngajakin Jalan. Langsung minta di jemput emoticon-Embarrassment ( Ini enak bener udah gratis minta jemput lagi ).
Skip ane pikir udh mulai langsung meditasi selang 5 menit eh g tau y belum mulai emoticon-Big Grin di chat om wir bilang udh siap belum ( Mungkin nungguin ane jg ) dasar kurang peka jadi y gini nih emoticon-Gila start duluan tanpa konfirmasi. emoticon-Sorry
Ane bilang siap langsung meditasi dengan niat dan tidak lupa meminta izin dari yang maha kuasa semoga di perlancar dan di berikan kemudahan dan perlindungan.emoticon-Maaf Agan
Selama meditasi fokus, sabar, ikhlas, dan pasrah g lama kemudian pandangan ane kenapa jadi terang bener ane pikir apa lampu flash hp hidup karena setting hp ane kalo ada yang nelpon notif lampu flash jg nyala. Ane hiraukan Saja lanjut lagi meditasinya di depan ane kayak ada lingkaran berbentuk oval dan kadang berbentu lingkaran ( Mungkin ini yang disebut portal ) ane fokusin buat ke portal tersebut dan alhasil mungkin udah masuk kesana dan dapat gambaran.
Spoiler for Mungkin ini yang ane lihat:


Dan ada bangunan yang tidak bisa ane jelaskan karena hanya siluet saja walau udah fokus dan bener-bener fokus ke bangunan tersebut dan iya ada yang lewat sayang mukanya doangemoticon-Embarrassment emoticon-Embarrassment emoticon-Embarrassment

Spoiler for mungkin seperti ini:
emoticon-Malu


Sekian cerita ane om hehehhehhehehhehehemoticon-Cendol Gan emoticon-Sundul emoticon-Sundul emoticon-Sundul
Diubah oleh dejavu40
Quote:



waah ini nih yg di tunggu2..
akhirnya bisa pecah sukmo jugaa..
nice om, kapan2 lagi yuk ke realm yg lebih menantang..
emoticon-Ngakak

enak bener ya jadi dirimu om
di ajak jalan2
di jemput
destinasinya pun ke tempat cewe cantik
emoticon-Ngakak
Quote:


emoticon-Ngakak
ampun bung ahay

jadi update kok, udh diketik
Quote:


oke gan
nice info
terimakasih banyak
kedepan coba ane perhatikan lagi masalah penulisannya

emoticon-Salam Kenal
persiapan update 2 part
CERITA TENTANG TEMAN SATU PERJALANAN

The Last Story - Part 1

2008




“wira, bangun. Sudah siang nih”, ucap seseorang yang suaranya sudah tak asing lagi di telingaku

“wira, ayo bangun”, kali ini kurasakan dinginnya air yang terasa menggigit mukaku

“hah iya”, aku bangun dengan kaget dan tergagap. Aku terduduk, mengembalikan sisa- sisa nyawa yang tercecer di alam mimpi

“jam berapa ini?”, tanyaku

“sudah jam setengah enam, ayo buruan bangun. Kita kan harus mencari bahan buat praktikum taksonomi tumbuhan dulu? makanya harus berangkat pagi. Jangan sampai terlambat”, suara itu begitu fasih langsung mendikteku di pagi ini

“oh iya bener, oke deh tungggu sebentar”, jawabku

“ya udah, aku ganti baju dulu”, katanya kemudian keluar ruangan. Bau khas shampo yang ia pakai saat masih tercium di kamarku, membuat udara kamarku menjadi segar dan wangi, harum khas tubuh wanita

“dia mandi keramas”, gumamku dalam batin

Ku ambil handuk dan seperangkat alat mandi yang ada di luar kamar, kemudian langsung menuju kamar mandi dengan mata masih setengah terpejam. Aku mulai mengguyur badanku dengan air yang sudah memenuhi bak mandi

“berrrrr, dingin bener pagi ini”, aku mandi dengan kondisi gigi bergemeletak, dan sontak dinginnya air membuat mataku terbuka sepenuhnya. Walaupun berada di tengah panasnya kota surabaya, namun air di pagi hari ini memang tergolong cukup dingin. Air yang memenuhi bak mandi ini ku taksir suhunya sekitar 20an derajad celcius, terbukti dari kulitku yang mengkerut dan menggigil karena dinginnya. Segera ku raih sabun mandi dengan tangan kanan dan shampo dengan tangan kiri sekaligus, lalu dengan sigap melakukan keramas dan sabunan secara bersamaan. Setelah semua rambutku tertutup busa shampo, akupun meraih sikat gigi dengan tangan kiri dan mulai menyikat gigiku sementara tangan kananku masih sibuk menyelusuri seluruh badanku dengan sabun. Ku akhiri ritual mandi pagi ini dengan cepat. Segera ku seka air yang tersisa di tubuhku dengan handuk dan aku segera berlari ke dalam kamar, berganti kemeja dan mengambil tas ransel yang di dalamnya sudah berisi diktat kuliah hari ini. Terasa berat saat ku angkat tas ranselku, karena isinya adalah text book setebal bantal tidur, dan jumlahnya tidak hanya satu. Hari ini jadwal kuliahku padat, ada tiga mata kuliah dalam satu hari. Dua di antaranya berbobot tiga SKS, dua SKS teori dan satu SKS praktikum.

“bismillah”, ku mantabkan hati dan tekatku untuk mengangkat beratnya ransel ini, karena seberat- beratnya ranselku ini tidak lebih berat dari masa laluku yang kelam.

“aku harus bisa dan aku harus berhasil”, kataku pada diriku sendiri dengan optimis dan penuh semangat

Aku berjalan melewati lorong kecil di depan kamarku, dan aku sempat menoleh ke arah kaca yang tergantung di salah satu dindingnya. Aku melihat pantulan diriku, sesosok laki- laki muda, pendek dan berwajah bulat. Kupangkas rambutku hingga benar- benar habis, seperti orang yang sedang menjalani kemo-terapi. Aku punya alasan untuk tidak memanjangkan rambut, karena dengan rambut yang nyaris habis dan kepala yang hampir gundul, membuat konsumsi shampoku lebih hemat. Otomatis dengan begitu, aku tidak harus sering beli shampo sehingga uangnya dapat kupergunakan untuk keperluan yang lain. Selain itu, dengan rambut yang sedikit maka akan lebih cepat kering saat aku mandi sehingga aku tidak perlu berlama- lama menggosok handuk di kepalaku. Otomatis dengan begitu, aku bisa mengalokasikan lebih banyak waktu untuk melakukan hal- hal yang lain. Apakah ada alasan lain lagi? Ya, sudah pasti dengan rambut yang jumlahnya minimal ini aku juga tidak perlu mahal- mahal membeli sisir dan juga tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk bersisir. Apapun aktifitasku, gaya rambutku tidak akan berubah karena saking pendeknya.

Kemejaku khas, kotak- kotak. Bahkan sebelum orang nomor satu di negeri ini populer dengan baju kotak- kotaknya, aku sudah mengenakannya. Selain kemeja kotak- kotak, aku juga sering mengenakan baju batik. Bahkan sebelum batik Indonesia terkenal hingga memunculkan hari Batik nasional, aku sudah mengenakannya terlebih dahulu. Dan ya bisa ditebak, akulah satu- satunya mahasiswa yang mengenakan batik hingga teman- teman memanggilku pak Lurah. Ah masa bodoh dengan penampilan, karena disini aku sedang mengisi otakku dengan ilmu, bukan sedang mengumbar penampilan untuk tebar pesona kepada lawan jenis. Karena aku memang bukan cowo yang Good Looking, bahkan jauh dari kesan cowo yang bisa dipamerkan kepada teman- teman di cewe. Pada masa itu, sedang populer kegiatan saling memamerkan pacar. Jika ia cowo maka ia akan memamerkan cewenya di depan teman- teman cowonya. Sedangkan jika ia cewe, maka ia akan memamerkan cowonya di depan teman- teman cewenya.

Kutuntun sepeda motor kesayanganku keluar dari ruang tamu rumah itu. Sampai di halaman, mulai ku nyalakan. Tak lama kemudian, seseorang keluar menyusulku dari dalam rumah. Dia memakai baju lengan panjang berwarna putih dengan motif bunga- bunga yang ditutup dengan hoodie tipis berwarna hitam yang tidak ditutup sempurna di bagian depannya, kemudian dipadukan dengan rok dari bahan jeans panjang sampai menyentuh mata kaki. Kepalanya dibalut kerudung berwarna coklat terang. Wajahnya terlihat bulat, matanya yang teduh tertutup oleh kacamata bergaya modern yang disebut dengan frame gantung. Tubuhnya tegap dan tinggi, mungkin sekitar 162 cm karena memang dia lebih tinggi dariku. Badannya terlihat bagus, padat, dan kencang karena dia adalah mantan atlit taekwondo. Kulitnya putih bersih, tapi tetap terlihat segar seperti keturunan campuran jawa – cina, ya karena memang salah satu neneknya adalah orang cina. Jika ku perhatikan dengan seksama, wajahnya mirip dengan artis Tasya Kamila yang pada saat aku masih kecil dulu terkenal dengan lagu Libur Telah Tiba. Bedanya adalah, jika Tasya Kamila punya lesung pipi, maka ia punya gigi taring yang gingsul. Yup, gigi taring gingsul yang selalu tersembul terlihat saat ia tersenyum yang menambah manis dan lucu wajahnya. Gigi taring gingsul ini juga yang menjadi ciri khasnya saat tertawa.

“yuk berangkat”, katanya sambil menenteng tas ransel besar yang dalam sekejab mata telah berpindah dari tangannya ke punggungnya.

“ayuk. sarapan dulu gak?”, tanyaku sambil menstater sepeda motor

“roti goreng aja ya, takut telat nih”, jawabnya

“oke deh, suapin ya tapi?”, pintaku sambil tersenyum

“enak aja, makan sendiri lah”, jawabnya

“kan nyetir? jadi gak bisa sambil makan. Tar kalau nabrak gimana?”, kataku kemudian

“ya sudah, oke deeh”, jawabnya

“asiik”, jawabku sambil tertawa

Aku membelokkan sepeda motorku ke kiri melewati jembatan Rolak, kemudian ke kanan menuju ke arah pasar Karah. Disitu aku berhenti dulu untuk beli roti goreng, lima ribu rupiah dapet sepuluh biji. Ku lanjutkan perjalananku ke arah perumahan di daerah karah dan sekitaran kantor Jawa Pos Lama sambil mencari beberapa sampel bunga segar seperti kembang sepatu, mawar, kamboja dan yang lain sesuai dengan kebutuhan praktikum taksonomi tumbuhan. Sambil berkeliling, keluar masuk gang perumahan, aku sambil makan roti goreng yang kubeli tadi.

“lagi donk rotinya?”, pintaku pada seseorang yang ku bonceng dibelakang

“nih”, jawabnya dan tak lama kemudian roti goreng sudah ada di depan mulutku

“buruan di gigit”, tersengar suara dari belakang diikuti dengan helm ku terasa ditekan kedepan

“iya iya”, kubuka mulutku lebar- lebar dan ku gigit roti dalam ukuran besar

“masyaAllah setengah lebih? masuk semua ini?”, terdengar suara protes dari belakang

“hemmb, yaa ya”, aku masih mengunyah roti yang memenuhi mulutku dan berusaha menelannya. Seret, rotinya berhenti di kerongkongan

“makanya, kalau nggigit itu secukupnya aja, jangan besar- besar”, terdengar lagi suara dari belakang

“hemmb”, aku cuma bisa menggeram saja karena mulutku masih penuh

“berhenti- berhenti, itu ada bunga sepatu”, katanya sambil menepuk- nepuk pundakku

Aku kaget dan seketika mengerem sepeda motorku, sontak yg ku bonceng meluncur mendorongku kedepan sampai aku ikut terdorong dan turun dari sadel sepeda. Kami berpandangan, lalu tertawa bersama

“ha ha ha, untung aja gak jatuh?”, katanya

“he he, iya tapi tetep aku kaget”, jawabku

“terus? kamu sengaja kan? biar aku nempel ke kamu? dasar”, jawabnya lagi di ikuti dengan pukulan pada helm ku

“hemmb, yah gak usah ngasih bonus gitu juga keles”, gerutuku

Setelah setengah jam berkeliling dan semua bahan yang kami cari ketemu, kami meluncur ke kampus. Setelah aku parkir sepeda motorku, aku berjalan di belakang temanku ini menuju ruang kelas perkuliahan.

Jika ku perhatikan, dia temasuk gadis yang istimewa. Ahli IT, namun juga suka olah raga. Gak pernah aku melihatnya sehari saja tanpa berkeringat. Dia memang termasuk gadis yang aktif dan cekatan. Suka lari kesana kemari. Diam- diam aku sering suka memperhatikannya, karena aku memiliki banyak kesempatan untuk berjumpa dengannya. Dia satu angkatan, satu jurusan dan juga satu kelas denganku. Dia merupakan anak tunggal dari keluarga yang broken home. Ayahnya pergi jauh ke luar kota sehingga ia hanya tinggal bersama dengan ibunya. Ibunya sendiri merupakan wanita karir yang bekerja siang dan malam sehingga jarang berada di rumah. Karena jarang di rumah itu juga, maka ibunya tidak pernah memasak. Akhirnya jika ia ingin makan ia selalu beli, sama sepertiku yang anak kos yang selalu beli juga jika ingin makan. Ia tidak di ijinkan oleh ibunya untuk mengendarai sepeda motor, sehingga jika ingin bepergian kemana- mana selalu memintaku untuk mengantarkannya. Ah aku jadi teringat, bukankah saat pertama kali aku berkenalan dengannya pun juga karena dia memintaku untuk mengantarkannya pulang? Kala itu sudah pukul 12.45 atau 12.50, sedangkan kami ada kuliah jam 13.00 siang. Karena salah satu tugasnya ketinggalan di rumah, dia memintaku untuk mengantarkannya pulang ke rumah mengambil tugasnya yang ketinggalan tadi. Sebelum meminta tolong padaku, dia sudah meminta bantuan pada beberapa teman tapi semuanya tidak ada yang bersedia mengantar dengan alasan sebentar lagi jam kuliah dimulai. Hingga akhirnya dia meminta tolong padaku, dan aku menyanggupi untuk mengantarnya pulang ke rumah. Saat itu rasa- rasanya adalah pertama kali aku bertemu dengannya, mengenal namanya, sekaligus mengetahui di mana rumahnya. Saat itu, aku merasa biasa saja mengantarkannya ke rumah. Tidak ada pikiran yang macam- macam atau aneh- aneh karena aku masih dalam suasana berkabung selepas meninggalnya Viona. Tak disangka, malah justru momen inilah yang membuat kami saling mengenal satu dengan yang lain.

Karena padatnya jadwal kuliah kami, maka kami sering makan bersama. Karena merupakan pemborosan waktu jika kami makan tidak di waktu yang bersamaan karena aku harus mengantarkannya ke warung untuk membeli makanan. Saat pagi hari, kami berangkat bersama dari rumah dan sering memakan roti goreng saja untuk sarapan karena praktis bisa dimakan sambil berkendara. Aku yang nyetir sepeda motor, dia yang menyuapi dari belakang kursi penumpang. Saat siang, jika kami sempat makan maka kami makan. Namun alih- alih rutin makan, lebih seringnya kami tidak sempat makan siang karena padatnya jam kuliah dan praktikum. Setelah semua kesibukan di kampus selesai, maka kami pulang ke rumah. Kemudian kisaran jam 19 malam kami keluar lagi untuk membeli makan malam. Kami sering makan di daerah kodam, karena kami punya tempat makan langganan. Menu yang disediakan memang hanya soto ayam saja, tapi yang membuatnya istimewa adalah karena harganya yang terjangkau dan potongan ayamnya yang banyak. Tempatnya tidak mewah, hanya berupa kaki lima yang menggelar tikar di pinggiran lapangan kodam. Kami biasa makan sambil ngobrol kesana- kemari, membahas kuliah, membahas teman, membahas tugas, membahas orang yang pacaran di kodam, membahas apapun yang kami lihat. Kami juga sering dengan sengaja memakai mantel hujan, kemudian pergi ke kodam saat cuaca sedang mendung- mendungnya dan hujan bersiap jatuh dari langit. Ya, kami suka melihat orang yang panik pulang kencan karena kehujanan. Padahal mereka adalah pasangan muda mudi yang cantik dan ganteng sebelum bedak mereka luntur terkena air hujan.





Bersambung ya gan..
Akan ada banyak yang ane kisahkan di cerita kali ini
Walaupun ini Judul terakhir
namun ceritanya akan sangat panjang

ditunggu ya gan
terimakasih sudah setia menunggu lanjutan cerita ane

Semoga Allah senantiasa bersama kita semua
aamiin

emoticon-Salam Kenal

Diubah oleh tirakat.batin
Halaman 15 dari 18


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di