CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
The Left Eye 2 (I Love You Ghost)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/58a25c4bd44f9ffa6e8b4567/the-left-eye-2-i-love-you-ghost

The Left Eye 2 (I Love You Ghost)

CHAPTER 1
INILAH KISAHKU

Namaku Lia, begitulah sehari-harinya aku dipanggil. Tahun ini aku akan berumur 26 tahun tepat pada tanggal 11 Maret nanti. Aku keturunan asli Jawa Tengah, dan aku dilahirkan di kota Wonosobo.

Hidupku sama seperti kalian, tidak ada yang “aneh”. Secara fisik, aku kategori orang yang sehat. Bahkan secara akademik, aku juga termasuk kategori orang yang cukup berprestasi. Dan tidak ada sesuatu yang membuat kehidupanku menjadi berbeda, mungkin sampai menjelang umurku ke-26 nanti.

Semenjak aku masuk SMA (Sekolah Menengah Atas) sampai dengan PT (Perguruan Tinggi), aku sudah belajar hidup mandiri. Karena itu aku sudah terbiasa hidup berjauhan dengan kedua orang tuaku dan adikku.

Meskipun aku adalah seorang perempuan, nyatanya niat dan semangatku untuk berjuang untuk kehidupan yang lebih baik kelak tidak kalah dengan anak laki-laki. Dan aku beruntung karena hal itu didukung penuh oleh keluargaku. Mereka menaruh kepercayaan mereka terhadapku kalau aku akan bisa menjaga harga diriku, martabatku dan nama baik keluarga kami dimanapun aku berada.

Dan aku menghargainya.

Kepercayaan mereka terhadapku aku bayar dengan prestasi-prestasi akademikku, sampai dengan mudahnya aku mendapatkan pekerjaan setelah aku lulus kuliah.

Aku bekerja di sebuah perusahaan swasta terkenal di bidang mining di Jakarta. Awal masuk kerja, aku ditempatkan di salah satu site mereka yang berada di Kalimantan. Dan setelah bekerja disana selama kurang lebih 4 tahun, aku dipindah tugaskan ke pusat yang berada di Jakarta.

Disinilah aku mulai merasakan ada keanehan yang terjadi di hidupku.

Sebelum aku mulai dengan kisah ini, aku ingin bertanya dulu pada kalian.

Apa kalian percaya dengan hal gaib?

Dalam agamaku, mempercayai adanya hal gaib itu merupakan salah satu bentuk rukun iman. Karena yang di dalam rukun iman ada yang namanya beriman kepada Allah, dan juga ada yang namanya beriman kepada malaikat. Jujur saja, aku juga bukan orang yang benar-benar agamis. Tapi setidaknya aku tahu dasar ajaran dari agama yang aku anut.

Inilah kisahku yang akan aku kisahkan kepada kalian. Kisah nyata yang pernah aku alami sendiri. Kisah yang mengubah rencana hidupku yang telah kurencanakan sebelumnya.

Hal gaib itu nyata adanya. Mereka ada disekitar kita, melihat kita atau bahkan mungkin mentertawakan kita.

-0o0-

Semua itu dimulai ketika aku memutuskan untuk tinggal di rumah itu, sebuah rumah yang aku beli di kawasan Jakarta Timur.

“Lia, ini mau di taruh dimana?” ucap rian. Rian adalah salah satu teman kantorku. Saat itu rian, andi, dini dan reva sedang membantuku membersihkan rumah yang minggu kemarin baru aku beli.

“Ehhm, taruh di kamar itu dulu aja ian.” jawabku. Kemudian rian pun melakukan yang aku minta.

“Pada mau pizza gak?” tanyaku. Aku tahu mereka sudah cukup capek, setidaknya ini yang harus aku lakukan untuk membalas jasa mereka.

“Maaauuuuu” ucap mereka berbarengan. Dan aku pun mulai mengorder pizza sesuai dengan pesanan mereka.

“Yuk ah, istirahat dulu” ucap dini.



“Hoki banget sih lu lia bisa dapet rumah harga segini” ucap andi.

“Nah lu juga harusnya nyadar kalau mau punya rumah mesti nabung, ini gaji dua minggu masih nyisa aja udah sukur” ucap dini.

“Ya tapi harga rumah segini itu apalagi di kawasan ini ya, udah termasuk murah banget” balas andi membela diri.

“Iya emang” ucap rian sambil meminum sirup yang baru saja dibuat reva.

Ting tong ting tong…

“Eh tu kayanya pesanan pizza nya deh” ucap andi.

“Ya udah biar aku yang liat” ucapku dan langsung bergegas ke pintu masuk.

Sebelum aku lanjutkan cerita ini, aku ingin menceritakan keempat sahabatku ini. Mereka adalah teman-teman seangkatanku sedari kami mulai masuk di perusahaan tempatku bekerja.

Dini, dia orang yang supel. Kupikir dia lah yang membuat kami semakin akrab, meskipun kami sempat terpisah setelah beberapa dari kami ditugaskan di site-site yang cukup jauh dari Jakarta, pada akhirnya dia juga lah yang membuat hubungan kami berempat kembali akrab.

Reva, berbeda dengan dini yang supel, reva tipe orang yang pendiam. Tapi dia selalu bisa diandalkan ketika aku butuh masukan baik itu masalah pekerjaan ataupun masalah pribadi. Mungkin itulah sisi terbaik dari orang pendiam, mereka bisa dipercaya untuk menjaga rahasia kalian.

Andi, dia hobi makan. Karena itulah tubuhnya lebih gemuk dibandingkan rian. Dia orang Jakarta asli, sehingga apapun yang kami butuhkan dan kemanapun tempat yang ingin kami kunjungi, andi adalah solusi bagi kami.

Dan yang terakhir, Rian. Rian adalah orang yang bisa kami percaya untuk melindungi kami. Mungkin memang karena badannya yang cukup kekar, tinggi dan tegap. Pernah dia berantem dengan cowok yang sudah membuat dini menangis karenanya. Bukan karena dia suka pada rini, tapi bagi dia menyakiti temannya sama saja menyakiti dirinya.

“Aku gak peduli siapa aja yang aku lawan, aku gak peduli kalaupun aku dihadang! Kalau mereka berani menyakiti kawanku, aku bakar mereka!” ucap rian penuh emosi di kantor polisi saat itu.

Kupikir saat itu dia keren, he he he.

Malam harinya, sesuai dengan kepercayaan yang sudah turun temurun dilakukan di keluargaku. Aku mengundang beberapa tetangga dan para orang tua yang dikenal sebagai para imam di mesjid komplek untuk melakukan acara “selametan” rumah yang baru akan ditinggali.

Acara selametan itu menurutku acara yang tujuannya berupa rasa terima kasih atas rezeki yang telah diberikan oleh Allah dan memohon perlindungan dari-NYA agar yang menghuni rumah bisa dijaga dari segala hal. Segala hal tersebut, secara kepercayaan agar dijaga dari hal yang kasat mata maupun yang tidak kasat mata.

Acara tersebut diisi dengan membaca ayat-ayat suci Al Quran dan diakhiri dengan makan bersama.

“Wah jadi neng lia ya yang bakal ninggalin ini rumah?” tanya salah satu warga.

“Hebat ya, umur masih muda sudah bisa beli rumah sendiri” ucap salah satu warga lain.

“Iya pak, alhamdulillah” jawabku.

“Pak, dulu yang ninggalin rumah ini siapa ya?” tanya dini.

Sempat terjadi keheningan sebelum bapak Ardhy membuka jawaban atas pertanyaan dini, bapak ardhy adalah orang yang memimpin acara selametan di rumahku.

“Kalau setahu bapak sih, dulu rumah ini dihuni satu keluarga. Kalau gak salah namanya, Pak Budi, beliau seorang pengusaha” jawab pak ardhy.

“Ah iya, kata agen properti kemaren sih bilangnya dulu yang ninggalin ini rumah pengusaha.”

“Tapi gak lama, dia sama keluarganya pergi. Katanya gak betah.” ucapku.

“Ya kurang lebih seperti itulah ceritanya, memang kita-kita juga tidak terlalu paham dengan beliau”

“Mungkin karena profesi beliau yang seorang pengusaha makanya jarang ikut ngumpul di acara komplek” sambung pak ardhy.

“Iya, mereka sekeluaga memang jarang ikut ngumpul-ngumpul kalau ada acara komplek. Lebih sukanya bepergian keluar kota setiap weekend nya.” ucap salah seorang warga.

“Iya betul” jawab beberapa warga lain ikut mengamini.

Setelah cukup lama kami mengobrol, mereka akhirnya pulang. Dan yang tersisa hanya kami berlima. Karena sudah cukup malam, andi mengajak yang lain pulang. Pada awalnya rian agak berat meninggalkanku sendirian malam itu, karena dia pikir kebanyakan orang biasanya akan mengalami “paranoid” jika menginap bahkan tinggal di tempat yang asing bagi mereka.

“Ah, lu sotoy ah ian! Jaman udah canggih begini masih aja percaya yang aneh-aneh!” gerutu andi.

“Lagian kan lu macam gak tau gimana lia aja, dia itu lebih berani dibanding gua.” mendengar ucapan andi, aku otomatis tertawa. Memang andi orangnya lebih penakut dibandingkan diriku.

“Bukan gitu di, ini perempuan soalnya. Kalau elu mah gua juga bodo amat mah.” Jawab rian.

“Oh jadi elu gitu sekarang ian!? Arti kawan lu sekarang lebih condong ke gender nih!?” tanya andi cemburu.

“Bukan gitu juga sih, ah lu kenapa sih!?”

“Udah, udah. Gak papa kok kalian pada pulang” ucapku.

“Lagian besok kita ada monday briefing kan di kantor, jadi kalian mending pulang dulu terus istirahat”

“Beneran lu gak papa lia sendirian?” tanya rian padaku

“Iya rian, aku gak papa kok. Kamu tenang aja, besok kita ketemu lagi di kantor.” jawabku.

“Kalau gitu biar aku sama reva aja deh yang malam ini tidur disini” ucap dini.

“Ah, aku juga?” tanya reva kaget.

“Iya, sama kamu juga va. Kenapa? Kamu mau pulang? Ada yang mau dikerjain di rumah?”

“Gak ada sih, tapi besok ke kantor gimana?” tanya reva lagi.

“Udah tenang aja, kan kalau baju kita bisa pinjem punya lia dulu” jawab dini.

“Tapi emang gak papa?” tanya reva lagi yang kali ini sambil melirikku.

“Ya kalau mau gitu, ya gak papa”

“Asal kamu mau aja pake bajuku” ucapku sembari tersenyum.

“Ya udah, kalau gitu kita pulang ian.”

“Atau lu mau nginep disini juga trus besok ngantor pinjem baju lia gitu?” tanya andi ke rian.

“Muke lu bekibar!” balas rian.

“Lu kira muka gua bendera!?” jawab andi lagi.

“Ha ha ha, udah udah…”

-0o0-

“Sampai sekarang gua masih belum ngerti deh jalan pikiran lu lia” tanya dini padaku.

“Gak ngerti apaan?” tanyaku lagi bingung.

“Iya kenapa lu mutusin pindah dari kontrakan lu sama reva?”

“Daripada lu beli rumah, kan lu bisa invest yang lain” ucap dini.

“Karena kamu pikir beli rumah itu gak mesti kita-kita yang cewek ini yang beli? Toh nanti ada suami kita? Gitu maksudmu?”

“Beli rumah itu bukan sekedar invest, punya rumah bikin aku tuh merasa lebih nyaman. Keluargaku juga bisa datang kapan aja tanpa harus takut ngeganggu orang lain”

“Hidup itu seperti roller coaster. Kadang kita berada di bawah, kadang kita berada di atas.” belum kelar aku bicara dini langsung memotong omonganku.

“Iya iya, jadi jangan gantungkan hidupmu pada siapapun termasuk itu pada cowokmu atau suamimu!?”

“Iya deh, masih hapal gua kata-kata lu” ucap dini, dan aku tersenyum mendengarnya.



“Eh tadi yang terakhir di kamar mandi siapa?”

“Itu air lupa dimatiin ya?” tanyaku.

“Perasaan tadi udah gua matiin deh” ucap dini yang kemudian beranjak dari kasur menuju ke kamar mandi.

Ting tong ting tong…

“Eh tu sapa? Perasaan ini udah jam 10 malam, siapa yang mau bertamu jam segini!?” ucap dini yang langkahnya terhenti setelah mendengar bunyi bel rumahku.

“Tadi emang anak-anak ada ngubungin kalian mau kesini lagi?” tanya dini lagi pada aku dan reva.

“Gak ada” ucapku dan reva juga menggelengkan kepalanya.

“Ya udah biar aku liat” kata reva.

“Gak usah va, kamu disini aja.”

“Biar aku yang liat” ucapku.

Setelah andi dan rian pulang, kami bertiga berkumpul di kamarku. Dan sekarang waktu juga sudah menunjukkan pukul 10 malam. Rasanya aneh saja ada orang yang bertamu jam segini apalagi di rumah yang baru dihuni oleh orang baru. Andi dan rian juga gak mungkin karena mereka gak memberi kabar kalau mau datang lagi.

“Keanehan” itu sudah terjadi semenjak malam pertama aku menempati tempat ini.

“Siapa ya?” teriakku.

Namun tak ada yang menjawab. Penasaran aku kemudian membuka sedikit gorden jendela di samping pintuku. Mencoba memastikan sebelum aku membukakan pintu untuk orang yang tidak aku kenal.

Tapi di depan pintuku itu tidak ada siapa-siapa!

“Ah, siapa yang iseng nih jam segini!” ucapku kesal.

Aku kemudian membuka pintu untuk benar-benar memastikan kalau tidak ada orang. Ceroboh memang sebenarnya yang kulakukan, tapi karena andi biasanya sering mengerjai kami seperti itu makanya aku spontan melakukannya. Terlebih lagi aku bakal kesal kalau benar andi yang melakukannya di saat-saat aku sudah capek seperti ini.

“Andi, jangan becanda ya!” ucapku agak keras.

Tapi apa yang terjadi!? Benar-benar tidak ada siapa-siapa disana.

Tidak lama pintu kubuka, listrik di rumah tiba-tiba padam. Kemudian terdengar teriakan dini dari dalam kamar.

“Dini!?” ucapku. Aku pun langsung kembali menutup pintu rumah dan menguncinya, sambil berlari ke arah kamar sebisaku dalam keadaan gelap gulita.

“Aaarrggh!” aku terjatuh karena tersandung sesuatu saat berlari menuju kamar.

“Liaaaaaaa, revaaaa!!!!” teriak dini lagi.

“Diniiiiiiiiiii!!!”

Bersambung...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aryanti.story dan 12 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh rafa.alfurqan
Halaman 1 dari 16

INTRO

The Left Eye 2 (I Love You Ghost)


"Lia, kamu harus sadar kalau dia beda sama kita!"
"Iya lia, lu juga harus tau semenjak lu ngerasa dekat sama dia lu udah jauh banget berubah tau gak!?"
"Gini aja deh, lu masih milih temenan sama kita atau milih dia!?"
...
"Aku...aku...bukan gini yang aku pengen..."
"Tuh kan, lu masih bisa-bisanya bimbang buat kita lia..."
...
"Kamu..jangan pergi..."
"Aku gak peduli sama yang lain atau apapun kata orang lain!"
"Pokoknya aku gak mau kamu pergi!"


profile-picture
indahmami memberi reputasi
Diubah oleh rafa.alfurqan
wah wong wonosobo, wonosobo ne ngendi mbak
btw ini kejadian nya kapan ya, semangat update yak
profile-picture
jmontefiore memberi reputasi

Lanjutkan

Kentang
profile-picture
jmontefiore memberi reputasi
Mejeng aaah
profile-picture
jmontefiore memberi reputasi
Ayo dilanjut Sis...
profile-picture
jmontefiore memberi reputasi
Chapter 2 kayaknya bakal ane apdet kamis malem (malam jumat)
emoticon-Jempol
profile-picture
indahmami memberi reputasi
ditunggu lanjutanya ganemoticon-Cool
profile-picture
jmontefiore memberi reputasi
ninggalin jejak ya Fa emoticon-linux2emoticon-coffee

moga apdetnya ga lama kaya Y.I.D.I.D emoticon-Embarrassment
profile-picture
profile-picture
oetoes8 dan jmontefiore memberi reputasi
Quote:


Hahaa emoticon-Cape d...

Iyaaaa semoga ini lancar.
Nanti kalau mood udah enakan Y.I.D.I.D sambil dilanjut kok.

Kalem yooo emoticon-2 Jempol
profile-picture
indahmami memberi reputasi

Chapter 2 ~ Teror "Horor"

CHAPTER 2
TEROR “HOROR”

Memasuki chapter 2, aku akan mengajak kalian berpikir apakah peristiwa-peristiwa yang aku alami ini terjadi wajar adanya karena bisa saja itu terjadi akibat dari kelalaianku sendiri atau merupakan sebuah kejadian yang benar-benar merupakan bentuk dari gangguan yang sifatnya tak kasat mata?

Awal mula mungkin sama seperti kalian yang berpikir: ah, paling itu cuma halusinasiku saja, aku juga berpikir seperti itu. Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri kalau itu semata hanya bentuk “paranoid” yang bisa dialami oleh tiap orang baru saja menempati rumah yang baru mereka tempati.

Tapi lama-kelamaan gangguan-gangguan itu menggangguku!

Tidak hanya mengganggu secara mental, tapi lama-lama menggangguku secara fisik. Aku mulai lelah dengan semua gangguan itu, mengapa tidak!? Gangguan itu tidak hanya terjadi di rumahku saja. Tapi juga menggangguku meski aku berada di luar rumah.

Aku pernah merasa “didorong” ketika aku mau menyeberang jalan tepat ketika sebuah mobil melaju cukup kencang. Kalian bisa bayangkan bagaimana rasanya didorong dengan terjatuh secara tidak sengaja sehingga tubuh kita terdorong kedepan bukan!?

Ini bukan main-main, untuk apa aku bermain-bermain dengan keselamatanku di jalan raya!?

Apa yang terjadi padaku!? Memangnya apa yang sudah aku lakukan sampai aku “diganggu” seperti ini!? Pertanyaan itu akhirnya terjawab ketika aku bertemu dengan seorang yang mempunyai bakat melihat sesuatu yang tidak biasa, atau yang lebih kita kenal dengan “indigo”.

-0o0-

“Diniiiiiiiiiii!?” aku berusaha bangkit secepatnya setelah terjatuh karena tersandung sesuatu. Rasanya saat itu aku sudah tidak merasakan rasa sakit apa-apa pada kakiku meski setelahnya baru aku sadari bahwa kaki mengalami bengkak yang cukup besar setelah tersandung tadi. Bagiku saat itu keadaan dini lebih penting dibandingkan rasa sakit itu.

Namun baru beberapa langkah aku kembali terjatuh karena lagi-lagi tersandung sesuatu sampai-sampai aku menjatuhkan sesuatu yang aku sendiri itu tidak tahu apa. Bagaimana aku bisa lekas sampai ke kamar jika aku sendiri harus berjuang keras untuk tidak tersandung lagi. Belum ingatnya aku akan posisi kamarku karena belum terbiasa di rumah ini ditambah kondisi rumah yang gelap gulita membuatku semakin kesusahan.

“Liiiaaaaa, reeevaaaaaa!!!!” namun teriakan dari dini yang tidak berhenti-hentilah yang membuatku terus berusaha agar bisa ke kamar secepatnya. Tapi apa yang terjadi!? Kali ini bukan hanya suara teriakan dari dini, kali ini reva pun berteriak kesakitan.

“Aaaahhhh!” teriak reva.

“Reeevaaa!!!!!” aku kembali berusaha bangkit kembali, namun sebelum bangkit aku merasa ada sesuatu yang terpegang oleh tanganku. Aku raba-raba benda itu, dan itu seperti…

“Senter!?” ucapku kaget. Iya itu sebuah senter, tapi bagaimana senter itu tiba-tiba ada disamping tanganku? Apa senter itu benda yang tidak sengaja terjatuh tadi setelah aku tabrak? Tidak mungkin, aku ingat sekali kalau senter itu rian letakkan di kamar tadi siang.

Quote:


“Apa ada yang membawa senter ini keluar sebelumnya!?” tanyaku dalam hati.

Ah sudahlah, aku tidak mau memikirkannya. Bukan itu yang penting saat ini, yang penting aku harus ke kamar sekarang! Aku pun langsung bergegas ke kamar setelah menyalakan senter itu.

Setelah tiba di kamar aku langsung refleks ke kamar mandi karena aku masih ingat sebelum aku keluar kamar, dini juga masuk ke kamar mandi untuk mengecek suara air yang sepertinya sudah memenuhi bak mandi.

“Diniiiii!”

“Liaaaaaaa!” teriak dini.

“Pintunya gak bisa kebuka liaaaaa!” teriak dini lagi. Benar, pintu itu tidak bisa dibuka padahal pintu itu hanya bisa dikunci dari dalam.

Jadi bagaimana bisa pintu itu tidak bisa terbuka!?

“Reva!” tiba-tiba aku teringat reva.

“Reva! Reva!” ucapku memanggil reva sambil mengarahkan cahaya senter ke sekililing kamar. Dan aku lihat reva tergeletak di kasur.

“Vaaa! Revaa!” teriakku berusaha membangunkan reva, namun reva tidak memberikan respon apa-apa.

“Liaaaaa!!!” teriak dini lagi di dalam kamar mandi. Aku hampir terlupa dengan dini setalah melihat kondisi reva.

“Dini, kamu menjauh dari pintu!”

“Elu mau ngapain!?”

“Udah cepetan minggir!”

“Iya”

Aku kemudian memukul gagang pintu itu dengan senter yang kupegang sekuat tenagaku. Setelah gagang pintu itu agak terlepas aku langsung menendang pintu kamar mandi itu sekuat tenagaku lagi.

Dan akhirnya pintu kamar mandi itu terbuka!

“Liiiaaaaaaa!” teriak dini histeris sembari langsung memelukku erat.

“Kamu gak papa!?” ucapku pada dini
.
“Iya aku gak papa, ah reva! Reva mana!?” tanya dini.

Tiba-tiba listriknya menyala kembali dengan sendirinya!

“Revaaaa!!!!” ucapku dan dini bersamaan setelah melihat reva. Reva benar-benar tidak sadarkan diri.

“Kepalanya kayanya kebentur terus dia pingsan” ucapku setelah melihat kondisi reva lebih teliti.

“Gimana ini lia!? Kita bawa ke rumah sakit aja yuk!?”

“Ah rian! Andi! Kita hubungin mereka biar mereka kesini!” ucapnya kemudian buru-buru mengambil handphonenya.

“Dinii!” teriakku yang mengejutkan dirinya.

“Tenang. Tenangin diri dulu.”

“Kita gak akan bisa berpikir jernih kalau kita gak tenang” ucapku padanya.

“Iya lia, tapi ini gawat!” ucap dini yang masih gelisah.

“Dini!” kali ini aku berteriak lebih tegas.

“Iya” mendengar dan melihatku seperti ini, dini pun tunduk. Dia mengikuti perkataanku, kemudian langsung refleks mencari kotak P3K.

“Kaki lu gak papa lia?” ucap dini sambil mencoba mengobati memar di kakiku yang sudah mulai berdarah.

“Gak papa, cuma sakit sedikit. Ah pelanan dikit din!” ucapku meringis kesakitan.

“Elu kok bisa-bisanya masih bisa tenang dalam kondisi gini?” tanya dini padaku, aku cuma bisa tersenyum mendengarnya.

Ayahku adalah mantan prajurit, prajurit yang terlatih. Setidaknya cukup untuk membuat beliau pernah ditugaskan ke timor-timur dan irian jaya. Karena itulah selama beliau bersamaku waktu aku kecil dulu, aku selalu dilatih bagaimana mengendalikan emosi begitu juga bela diri.

Aku memang tidak begitu pandai bela diri, tapi kupikir cukup untukku untuk bertahan jika aku dalam bahaya, mudah-mudahan saja aku selalu dalam kondisi yang aman. Semua karena didikan ayahku, dan terima kasih karenanya aku berhasil melewati situasi aneh di malam ini yang terjadi padaku dan temanku.

Keempat sahabatku itu tahu betul bagaimana “bahayanya” aku jika aku dalam mode serius seperti itu. Dini pernah bilang kalau aku harusnya masuk tentara bukannya masuk ke perusahaan swasta. Sedangkan andi malah sebaliknya, dia bilang padaku kalau aku seperti itu keren.

“Kamu keren, itu kayak Super Saiyan!” ucapnya sambil mengacungkan jempolnya padaku, (Super Saiyan itu ada di bacaan komik kesukaannya, komik Dragon Ball).

Karena itulah jika aku sudah seperti “tadi”, semuanya bakal diam dan menurut padaku. Tidak ada yang berani padaku jika aku sudah serius seperti itu. Mungkin kalian sekarang bisa mengerti kenapa dini tiba-tiba menurut padaku meskipun kondisi mentalnya saat itu sedang terguncang.

“Liaa, dini.”

“Kalian gak papa?” ucap reva yang akhirnya siuman.

“Reva!!!” ucapku dan dini bersamaan.

“Kamu yang gak papa!? Kami aman kok” ucapku.

“Aku gak papa kok, tadi aku cuma tersandung terus kepalaku kejedot” jawabnya.

“Kamu hati-hati makanya!” ucap dini kemudian memeluk reva.

“Aku takut kamu sampai kenapa-kenapa” ucap dini lagi.

“Iya aku gak papa kok, tadi aku jatuh waktu mau datengin kamu”

“Kamu beneran gak papa!? Tadi kenapa!?” tanya reva pada dini.

“Tadi aku kekunci di kamar mandi! Pintunya kayaknya rusak! Untung tadi lia nolongin” jawab dini.

“Kamu gak papa lia!?” tanya reva kali ini padaku.

“Iya aku gak papa kok va.”

“Pintunya kayanya rusak, terus listriknya juga tadi turun makanya mati. Tadi aku udah telpon agennya yang kemarin juga buat ngasih tau” jawabku.

“Oh ya udah, yang penting semua baik-baik aja” ucap reva yang mengakhiri percakapan kami di malam yang “aneh” itu.

-0o0-

“Lia kamu kenapa!?” tanya rian padaku setelah melihat aku berjalan agak pincang di kantor.

“Gak papa kok, cuma kesandung tadi malem” jawabku.

“Kesandung gimana!?” tanya rian sambil menatap aku, dini dan reva secara bergantian.



“Aneh” ucap andi.

“Apanya yang aneh?” tanya dini.

“Kalau memang listriknya turun, kok listriknya nyala sendiri lagi? Harusnya kan gak.” jawab andi.

“Jangan-jangan…”

“Jangan-jangan apa!? Udah ah gak usah mikir macam-macam!” timpalku.

“Maaf lia, harusnya tadi malam aku juga nginep disana” ucap rian dengan nada menyesal. Dini menceritakan semua kejadian tadi malam pada andi dan rian ketika istirahat makan siang.

“Apaan sih, gak kenapa-kenapa kok lagian. Gak usah dibikin heboh.” jawabku.

“Iya rian, lu gak usah khawatir. Lia gak papa kok, malah kalau gak ada lia gak tau deh bakal kaya gimana tadi malam” ucap dini.

“Gak papa gimana, itu kakinya sampai memar gede gitu. Terus kepala reva juga kebentur!” ucap rian kesal.

“Udah udah kenapa sih!” kali ini aku yang jadi kesal karena masalah itu terus diributkan.

“Mau ada kamu juga tadi malam gak bakal merubah apa-apa. Listriknya tetap bakal turun, dini juga mungkin tetep bakal kekunci di dalam kamar mandi, reva juga tetep bakal kepeleset terus kepalanya kejedot!” jelasku.

“Tapi kalau aku ada disana seenggaknya…”

“Udah!” kali ini nadaku lebih tegas. Dan rian pun menjadi diam, seperti yang sudah kubilang sebelumnya. Jika aku sudah serius maka tidak ada yang berani padaku.

“Kita ke dokter aja yuk?” ucap andi memecah kesunyian.

“Iya kita ke dokter, kalian pasti belum pada ke dokter kan!?” ucap rian menimpali.

“Iya nanti sebelum balik ke rumah aku ke dokter bareng reva” ucapku.

“Ya udah nanti gua hubungin dokternya dulu aja biar gak antri” kata andi. Begitulah andi, dia selalu bisa diandalkan disaat seperti ini. Selain menjadi solusi bagi kami mengenai kota Jakarta, dia juga bisa menjadi solusi bagi kami jika kami perlu pergi ke dokter tanpa perlu mengantri. Maklum ayahnya adalah seorang dokter, sehingga dia dengan mudahnya menghubungi dokter bidang apa saja dengan bantuan ayahnya.

“Tar biar aku yang anter kalian” ucap rian.

“Aku ikut!” kata dini.

“Banyak amat sih yang pergi ke dokter, emang mau shalat berjamaah disana sekalian!?” tanya andi heran.

“Iya kebanyakan, udah nanti aku ke dokter bareng dini sama reva aja”

“Rian sama andi, aku minta tolong ke rumahku dulu ya liatin pintu kamar mandi yang rusak sama listriknya udah dibenerin apa belum sama agennya” ucapku menengahi.

“Gitu aja lebih bagus” ucap andi.

“Beneran aku gak usah ikut?” tanya rian sekali lagi padaku.

“Lu apaan sih ian!? Tengil amat mau nempel ma cewek mulu!?” ucap andi pada rian.

“Tengil tengil muka lo berkarat!?” balas rian.

“Enak aje lu, lu kira muka gua besi apa!?” jawab andi.

“Ha ha ha, udaah…”

-0o0-

“Untung hasil rontgen kalian gak kenapa-kenapa!” ucap dini lega.

“Iya alhamdulillah” ucapku.

“Kamu juga reva, harus lebih hati-hati. Aku masih mending kejedot di kaki, tapi kamu di kepala lho!” ucapku was-was pada reva.

“Iya lia” jawab reva.

“Eh bentar, aku mau ke toilet” ucapku.

“Ya udah gua ma reva nunggu di situ yah” balas dini.

“Iya”



Setibanya di kamar mandi, aku langsung buru-buru membereskan urusanku. Aku udah kebelet pipis semenjak aku diruangan dokter tadi.

Namun tepat seketika aku ingin menurunkan celanaku tiba-tiba lampu di toilet itu mati!

“Aaaahh, apaan lagi sih ini!” aku kemudian mengencangkan celanaku lagi dan membuka pintu kamar mandi.

“Sialan, gak di rumah gak di luar kok gagang pintu pada rusak semua sih!” ucapku kesal.

“Halo halo permisi!?” teriak salah seorang yang kupikir itu tidak jauh dari depan kamar mandi wanita.

“Iya halo halo pak! Pak bisa tolongin saya, pintunya ini macet gak bisa kebuka!” teriakku berharap laki-laki itu bisa menolongku. Aku malas jika harus merusak pintu lagi, terlebih ini pintu untuk ruangan publik, bukan pintu di rumahku.

“Iya sebentar” ucap suara itu.

“Pak, saya disini ya!” ucapku sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi itu agar bapak itu tahu aku dimana.

“Mbak agak menjauh dari pintu ya” ucap laki-laki itu.

Aku mengerti perintah bapak itu, karena aku juga memerintahkan seperti itu pada dini tadi malam. Sehingga aku pun beralih ke ruang kosong agar tidak berhadapan langsung dengan pintu itu.

“Mbak gak papa?” ucap laki-laki itu setelah mendobrak pintu kamar mandi yang aku tempati tadi.

“Iya, saya gak papa pak. Terima kasih” ucapku.

“Untung ada bapak, toiletnya pas kebetulan lagi sepi gak ada orang” ucapku sambil melihat sekeliling ruangan.

“Iya, tadi juga pas kebetulan saya baru keluar dari toilet sebelah (toilet khusus untuk laki-laki)”

“Nah waktu itu kebetulan saya denger suara mbak yang bilang gagang pintunya rusak. Eh ternyata bener ada yang kekunci di dalam”

“Iya pak, ah iya pak kita keluar dulu aja. Toilet wanita soalnya” ucapku padanya.

Laki-laki itu kalau dilihat sudah cukup berumur, kupikir 40 tahunan lah namun badannya cukup kekar. Beliau ke rumah sakit untuk melakukan proses check up, dan masih menunggu antrian.

“Paman!” teriak reva pada laki-laki yang menyelamatkanku tadi kemudian mendekati kami.

“Reva” ucap laki-laki itu.

“Paman ngapain di sini?” tanya reva lagi.

“Bentar-bentar, ini pamanmu reva?” tanyaku pada reva setengah tidak percaya dengan kebetulan ini.

“Iya, dia pamanku lia.” jawab reva.

“Betul, saya fajar pamannya reva” ucapnya menimpali sembari menjulurkan tangannya padaku untuk berkenalan.

“Ah iya, sampai lupa kenalan. Saya lia dan ini teman saya juga namanya dini” ucapku memperkenalkan diri sekaligus memperkenalkan dini pada beliau.

“Om ngapain di rumah sakit? Om sakit?” tanya dini kali ini.

“Oh om disini lagi mau check up, ini masih nunggu antrian. Lumayan masih panjang antriannya. He he.” jawab beliau.

“Kalau kalian ngapain disini?” kali ini beliau bertanya balik pada kami, khususnya pada reva keponakannya.

Seperti biasa, dini lah yang menceritakan semua kronologis kejadian yang terjadi tadi malam di rumahku pada paman reva. Kalian sudah kuberitahu kan kalau reva itu orangnya pendiam, kupikir bertemu dini dan reva secara bersamaan adalah bukti kekuasaan Tuhan. Kenapa? Karena mereka saling melengkapi satu sama lain. Yang satu pendiam dan yang satu lagi cerewet (maafin aku ya din, secerewetnya kamu tetep kamu yang paling kece! He he).

“Jadi gitu ya. Tapi kalian beneran gak papa kan!?” tanya pamannya reva pada reva juga padaku.

“Iya, kami baik-baik aja kok paman.” jawab reva.

“Namanya rumah baru memang wajar kalau ada kejadian seperti itu apalagi kalau sudah cukup lama tidak ditinggali”

“Yang penting kalian udah lapor ke agennya untuk diperiksain lagi semuanya” saran beliau.

“Iya om, tadi malam saya langsung ngehubungin agennya kok.”

“Sekarang juga udah ada temen-temen kami yang lain buat ngecekin semuanya di rumah bareng agennya langsung.” ucapku meyakinkan beliau bahwa semuanya sudah terkontrol.

“Bagus kalau gitu. Ya udah om harus balik ke ruangan dokter lagi, takut antriannya kelewat”

“Ah iya, kita hampir lupa. He he.” ucap dini.

“Reva, masih ada nomor paman kan!?”

“Masih paman.”

“Kalau ada apa-apa, jangan ragu buat ngehubungin paman ya!” tegas beliau.

“Iya paman.” jawab reva.

-0o0-

“Tumben ya bisa kebetulan gitu ketemu pamanmu va” ucap dini.

“Iya” jawab reva singkat.

“Apalagi tadi kamu kekunci di kamar mandi kaya aku tadi malam lia, untung banget ada pamannya reva” ucap dini lagi.

“Iya” jawabku singkat juga.

“Tapi kok kayaknya kekunci dalam kamar mandi lagi ngetren banget sih buat kita ya?” kali ini ucap dini heran.
“Ah ngaco aja kamu kalau ngomong. Eh bentar ya, aku mau beli buah dulu di seberang” ucapku pada dini dan reva, kemudian langsung bergegas untuk menyeberang jalan.

“Aku ikut lia” ucap reva sambil bergegas mengejarku.

Dan “teror” itu kembali menyerangku.

Baru aku mau berhenti karena melihat ada mobil yang melaju cukup kencang sebelum menyeberang, tiba-tiba badanku “terdorong” ke depan sehingga aku terjatuh dan terguling ke tengah jalan raya.

“Liiiiiiaaaaaaaaa!”

“Liiiaaaaa awaaasssssss!!!!” teriak dini yang melihatku dari tempat yang tadi dia kutinggalkan.

-0o0-

“Andi, Rian.” ucap dini terisak di telepon.

“Cepetan ke rumah sakit sekarang juga!” perintah dini pada mereka.

“Kamu kenapa din!?” tanya andi kaget dan bingung.

“Liaaa…liaaa”

Bersambung...
profile-picture
profile-picture
indahmami dan jimmi2008 memberi reputasi
Diubah oleh rafa.alfurqan
Quote:


padahal gw kangen nya sama Dilan kakak emoticon-Malu
ckckckck

baiklah baiklah aku agak sedikit pandai dalam hal menunggu emoticon-linux2emoticon-Malu


udah apdet ternyata emoticon-Belo
baca dulu deh emoticon-Ngacir
Quote:


dilannya lagi istirahat emoticon-Ngakak

profile-picture
indahmami memberi reputasi
Wah cerita horor . lagi ngtren ane buka lapak .
profile-picture
jmontefiore memberi reputasi
Quote:


pliss jangan samakan cerita ane dengan cerita yang lain emoticon-Sorry

bukannya mendiskreditkan karya orang lain,
tapi semua "karya" punya ke"identikan" sendiri.

cerita ini sekuel dari cerita ane yang pertama
The Left Eye

anyway, selamat datang di cerita ane emoticon-Big Grin
profile-picture
indahmami memberi reputasi

Chapter 3

CHAPTER 3
2 KUBU “PENGHUNI” RUMAHKU

“Jadi sebenarnya yang meneror mbak itu “penghuni” di rumah mbak?” tanya salah seorang audien.

“Yang saya percayai, iya.”

“Berarti itu menyimpulkan bahwa “penghuni” itu bisa keluar dari “tempat” dimana dia seharusnya berada?”

“Maksud saya begini, sejauh yang saya tahu atau berdasarkan dari cerita-cerita yang pernah saya dengar khususnya. Jika ada “penghuni” yang menghuni di suatu tempat, katakanlah itu sebuah rumah. Seharusnya “penghuni” itu tidak bisa jauh dari rumah tersebut.”

“Tapi dengan jawaban mbak, secara tidak langsung mbak membantah persepsi itu. Begitu mbak?” tanya audien itu lagi yang masih penasaran.



“Katakanlah memang aku membantah persepsi tersebut, tapi dalam tanda kutip untuk case yang terjadi padaku.” ucapku.

“Mereka benar-benar bisa mengikuti kita kapan saja dan dimana saja. Dan gangguan yang terjadi padaku di rumah sakit itu salah satu dari mereka.”

“Salah satu? Berarti yang ngikutin mbak itu lebih dari satu?” tanya audien lain yang sekarang ikut penasaran.

“Iya, dan mereka pihak yang berseberangan.” jawabku tersenyum.

“Jadi maksud anda ada 2 kubu “penghuni” di rumah itu? Kubu jahat dan kubu baik?”

“Jujur aku sendiri bimbang harus menjelaskannya bagaimana. Tapi yang jelas awal mula aku disana meski jelas ada 1 sisi yang jahat, 1 sisi lainnya bersikap sebaliknya.” jawabku.

“Kalau memang ada kubu baik, berarti mereka melakukan hal yang sebaliknya pada anda. Dalam artian mereka melindungi anda begitu?” pertanyaan-pertanyaan pun semakin bertambah seiring aku menceritakan ceritaku lebih jauh.

“Iya, dari awal kubu yang baik itu mencoba melindungiku.” jawabku. Melihat reaksi mereka atas jawabanku tampaknya mereka senang karena ada peran protagonis disini.

“Mbak pertanyaan terakhir sebelum sesi penjelasan berikutnya dimulai, saya ingin bertanya tentang sejarah rumah itu? Dan apakah penghuni sebelum mbak itu, maksud saya Pak Budi, apakah keluarga beliau diteror juga seperti anda?”

“Ha ha ha, jelas sekali kalau pertanyaan anda itu jika saya jawab maka akan menjelaskan hampir separuh misteri yang pernah saya alami. Jadi maaf, saya pikir belum saatnya saya menjawab pertanyaan itu.” ucapku sekaligus menutup sesi tanya jawab pertama setelah sesi pembukaan acara yang kuhadiri ini.

-0o0-

Di hari itu, ketika aku mengalami insiden di rumah sakit. Mungkin ada satu berkah lain yang bisa di dapat. Blessing in disguise, mungkin itu kata-kata tepat untuk menafsirkannya. Pertemuanku dengan pamannya reva itulah yang menjadi awal terkuaknya misteri yang telah terjadi padaku, dini dan reva sejak malam itu.

Siapa yang menyangka kalau beliau mempunyai kemampuan indera keenam, yang membuat beliau bisa melihat bahkan berkomunikasi dengan makhluk gaib.



“Din, lia kenapa!? Lia kenapa!?” ucap rian sekarang yang sepertinya mengambil alih telpon yang sebelumnya dipegang oleh andi.

“Rian, lia kecelakaan! Cepetan kesini!” ucap dini histeris.

“Ya udah, gua langsung kesana!” kata rian yang langsung menutup telponnya.

“Sial, seharusnya tadi gua ikut mereka kan!”

“Harusnya gua tadi ikut! Harusnya tadi gua ikut!” ucap rian masih sambil menggurutu sendiri sembari menuju mobil andi.

“Udah ian, kita juga gak tau bakal jadi kaya gini. Namanya juga musibah kan.” ucap andi.

“Harusnya lu gak usah ngelarang gua kesana!” teriak rian kesal. Melihat reaksi rian yang tampak emosi, andi pun mendiamkannya

Ketika andi menyalakan mobilnya, seketika ada kucing hitam melompat ke mobil andi.

“Waaanjjjiiiiirrrrr!” teriak andi kaget.

“Bajingan, ngagetin kucing sialan!” teriak andi lagi kemudian mengusir kucing itu yang tidak mau langsung turun dari mobil.

“Udah buruan di! Anak-anak nungguin kita di rumah sakit!” ucap rian keras.

“Iya iya.” setelah mengusir kucing itu pergi, andi mencoba menyalakan mobilnya kembali.

Namun apa yang terjadi!? Mobil itu tidak mau menyala, meski dicoba dihidupkan kembali berkali-kali.

“Ah kenapa lagi sih!? Kalau tau gini, gua bawa mobil sendiri kesini!” rian kali ini tambah kesal setelah mobil andi tidak bisa dihidupkan.

“Gua juga gak tau kalau bakal kaya gini ian! Lu gak usah marah-marah terus kenapa.”

“Ini mobil baru minggu lalu gua service padahal!” kata andi yang kali ini gantian kesal.

“Ah sialan! Gua liat dulu mesinnya” kata andi lagi. Andi pun mencoba melihat kondisi mesin mobilnya dan mencoba mengutak-atik.

“Rian, coba nyalain” teriak andi. Mengikuti permintaan andi, rian pun mencoba menyalakan mobil itu. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya mobil itu pun dapat menyala.

“Udah ayo buru masuk! Biar gua yang bawa (mobilnya)!” teriak rian.

Baru memundurkan beberapa meter mobilnya, tiba-tba andi dan rian merasakan ada sesuatu yang aneh pada mobil itu

“Aaaaahh! Apaan lagi sih ini!?” Ucap rian kesal, dan sama seperti tadi andi kembali keluar mengecek mobil tanpa menanggapi keluhannya rian.

“Ian, kayaknya kita mesti cari taksi aja deh. Atau kalau mau lebih cepet kita ngojek aja.” ucap andi ke rian.

“Kenapa lagi sih di!?” tanya rian yang kali ini tambah kesal, rian merasa waktu mereka habis banyak cuma karena persoalan tetek bengek seperti itu.

“Lu keluar terus liat sendiri deh!” hardik andi yang kali ini sudah tidak bisa menahan emosinya. Rian pun akhirnya keluar dari mobil untuk melihat apa yang terjadi juga.



“Gila kan!?”

“Padahal beberapa jam lalu nih mobil baik-baik aja”

“Tapi coba lu pikir deh!? Sehabis ada kucing tadi yang lompat ke mobil gue, mobil gue jadi ngenes gini nasipnya.” ucap andi kesal bercampur sedih. Memang kalau dipikir-pikir itu mungkin hanyalah sebuah kebetulan biasa. Tetapi jika dirunut kejadiannya, apa yang dialami andi dan rian itu memang benar-benar sebuah keanehan!

Ketika kucing itu melompat tiba-tiba ke mobil andi, mobilnya tiba-tiba tidak bisa dinyalakan. Padahal sebelumnya tidak ada masalah sama sekali apalagi kata andi mobilnya baru-baru saja di-service.

Apakah itu sebuah pertanda kalau andi dan rian tidak diinginkan pergi ke rumah sakit untuk menjengukku!?

Oke jika kita anggap kucing itu mungkin cuma sekedar lewat, dan mobilnya andi yang tidak bisa menyala tiba-tiba itu murni sebuah kebetulan. Lantas apa makna yang terjadi setelahnya!? Hanya karena mereka terus berusaha agar tetap bisa pergi, kenapa tiba-tiba ban mobilnya andi kempes parah!?

Apakah itu kebetulan juga!? Lantas kenapa mobilnya aman-aman saja ketika memasuki rumahku!?

Terserah dengan pendapat kalian, yang jelas aku tidak ingin memaksakan hal-hal yang tidak masuk akal untuk kalian percayai.

-0o0-

Saat itu aku berada di sebuah hutan belantara. Hanya ada aku disana, ditengah hujan deras yang mengguyur di seluruh hutan itu. Aku tidak bisa membedakan apakah itu siang hari atau sudah menjelang malam hari. Yang ada hanyalah bagaimana aku bisa keluar dari tempat ini.

“Sebelum malam aku harus bisa keluar!” ucapku dalam hati. Aku tahu persis bagaimana susahnya bertahan di hutan malam hari, di tempat yang belum pernah kukenal sebelumnya tanpa membawa apapun. Dulu aku sering belajar survival di tengah gunung sindoro, jawa tengah, bersama ayahku.

Aku terus berlari dan berlari, sambil menajamkan pandanganku di sekitar. Adanya hujan akan semakin menambah kecilnya aku keluar dari hutan ini, karena hujan akan menghilangkan bekas jejak-jejak kaki atau tanda dari orang-orang yang mungkin pernah ada di hutan ini juga.

“Lia” panggil seseorang yang kemudian menghentikan langkahku.

“Siapa itu?” apa ada orang yang bernasip sama denganku disini pikirku, tapi suara itu tampak familiar bagiku. Aku pun langsung menoleh ke belakang, ke sumber suara.

“Lia” ucapnya lagi.

“Ibu”

“Ibu kok bisa disini!?” tanyaku kaget seakan tidak percaya kalau aku bisa bertemu ibuku di tempat yang aku sendiri tidak tahu dimana.

“Maafkan ibu ya nak, ibu tidak bisa mendampingimu lebih lama lagi” seketika ibuku ditarik ke belakang pohon besar itu oleh sesuatu yang besar! Hitam pekat dan bermata merah!

“Ibuuuuuuuuuuuu!” teriakku.

“Jaga adikmuu lia!” teriak ibu kencang. Aku pun langsung berlari ke tempat ibuku ditarik itu. Aku tidak perduli dengan apa yang akan aku temui di dalam sana, aku hanya ingin ibuku!

“Ibuuuu! Ibuuuuuu!” teriakku sambil terus berlari.

Namun sayang aku tetap kehilangan jejak beliau.

“Ibu…ibuuu…” ucapku menangis. Hanya berselang beberapa menit aku lagi-lagi mendengar suara yang kukenal.

Kakak…

“Rizki!?” ucapku pelan. Sungguh pemandangan yang kulihat membuat hatiku hancur. Betapa tidak, hanya beberapa menit aku melihat ibuku hilang dan tidak bisa kutemukan. Kali ini aku melihat adikku, rizki, dalam keadaan terlentang tidak berdaya dan penuh darah.

“Rizki, kamu kenapa sayang!? Kamu kenapa!?”

“Kak lia…sakit…” ucap rizki lemah. Dan tidak lama kemudian rizki pun menghembuskan nafas terakhirnya.

“Rizzkkiiiiiii!” teriakan keras yang menandakan aku benar-benar terpukul.

Lia…

“Ayah!? Ayah!? Ayah!?” itu suara ayah pikirku pasti, dan aku langsung menoleh ke arah suara itu.

“Ya Tuhan, ayaahhhh!” aku berlari dan memeluk ayahku kuat-kuat.

“Ayah, ayah jangan tinggalin lia sendiri lagi ayah! Lia mohon!”

“Ayah, lia mohon ayah, jangan tinggalin lia sendirian disini” ucapku sambil menangis histeris di pelukan ayahku.

Ayahku…ayahku…ayahku datang menemuiku dengan kondisi yang tidak kalah mengenaskan. Beliau bersimbah darah dan dengan kondisi hanya dengan satu tangan, tangan beliau yang lain terpotong.

“Lia, maafin ayah.”

“Ayah sudah berusaha menolong ibumu dan adikmu, tapi ayah tidak bisa” ucap ayah lemah.

“Kamu…harus pergi…”

“Kamu…harus…selamat dari…sini…” itulah ucapan terakhir ayahku sebelum ayahku menghembuskan nafas terakhirnya.

Entah apa yang terjadi padaku, dan entah apa yang aku pikirkan. Aku hanya terus berlari dan terus berlari. Aku meninggalkan jasad ayahku dan juga adikku disana, harusnya aku membawa serta mereka, tetapi aku hanya terus belari dan berlari.

Hanya perintah ayahkulah yang menggaung sangat keras di benakku saat ini! Aku harus pergi dari tempat ini! Aku harus menuruti perintah terakhir ayahku!

Setelah terus-terusan berlari aku akhirnya bisa keluar dari hutan itu. Namun melihat apa yang ada didepanku membuatku terjatuh lemas. Aku terjatuh tidak berdaya, dadaku rasanya seperti mau meledak karena terus-terusan berlari, dan lututku sudah mencapai batasnya karenanya aku sudah tidak sanggup berdiri kembali.

Sekarang bukan hanya fisik, tetapi mentalku juga sudah hancur karena apa yang kulihat di depanku sekarang. Aku memang berhasil keluar dari hutan belantara itu, tapi tetap tidak ada jalan keluar lain! Di depanku hanya lautan luas!

Bagaimana aku bisa keluar dari sini ayah!?

“Ibuu…ibuu…ayaahh…rizkii” ucapku sambil menangis tersedu-sedu.

Quote:


-0o0-

“Liaaaa…liaaa!” teriak rian saat membuka salah satu ruangan rumah sakit dimana aku berada.

“Rian jangan berisik! Ini rumah sakit!” ucap dini.

“Kenapa sama lia!?” tanya rian panik pada dini setelah melihat kondisiku.

“Lia gak papa kok, cuma tadi dia hampir ketabrak mobil”

“Apa!?” teriak andi kaget.

“Andi!!!” balas dini sambil mengisyaratkan agar tidak berisik di rumah sakit.

“Gimana ceritanya!?” tanya andi lagi.

Dini pun akhirnya menjelaskan kembali apa yang telah terjadi padaku saat itu ke andi dan rian. Kemudian diteruskan dengan andi yang bercerita bagaimana mereka akhirnya ke rumah sakit setelah apa yang terjadi pada mobilnya di rumah lia.

“Ini bukan kebetulan atau hanya sebuah kecelakaan biasa. Tapi semua ada hubungannya”

“Paman!?” tanya reva kaget.

“Paman? Paman siapa?” tanya andi pada reva.

“Dia pamannya reva” jawab dini cepat ke andi.

“Maksud bapak apa!?” tanya rian kali ini.

“Teman kalian itu, lia. Sejak awal aku bertemu dengannya dia memang diikuti oleh makhluk gaib” ucap beliau.

“Makhluk gaib gimana maksud bapak? Maksud bapak roh? Hantu? Setan?” tanya andi memastikan.

“Kejadian di kamar mandi, kejadian waktu lia menyeberang jalan tadi dan bahkan kejadian yang kalian alami di rumah lia tadi”

“Kamar mandi!?” tanya rian bingung.

“Semuanya mungkin berhubungan” ucap paman reva tanpa menghiraukan rian yang sedang kebingungan.

“Pak, maaf ya. Bukannya kami ini tidak percaya gitu-gituan tapi…” belum selesai rian berbicara, reva mengucapkan sesuatu yang akhirnya membuat mereka diam tak bisa membantah.

“Pamanku bisa melihat hal gaib”

“Dan beliau gak mungkin bohong. Percayalah”

-0o0-

“Siapa kamu?” ucapku menoleh ke arah suara yang tidak kukenal itu.

“Peraturan pertama di tempat ini, jangan pernah biarkan dirimu terkena air “hujan” ini.” ucapnya sambil melindungiku dari hujan itu dengan payungnya.

“Kenapa?” tanyaku.

“Ini bukan “hujan” biasa, tapi hujan buatan yang sanggup membuat orang berhalusinasi dan membuat orang putus asa” jawabnya.

“Halusinasi?” tanyaku padanya.

“Iya” jawabnya lagi.

“Jadi semua yang kulihat tadi hanya halusinasi!?”

“Kamu mau pergi dari sini!?” tanyanya balik tanpa menghiraukan pertanyaanku.



“Iya” jawabku.

“Tapi ada syaratnya” ucapnya.

“Syarat? Apa?”

“Pergilah dari rumahmu saat ini”

“Kenapa?”

“Kamu mau pergi dari sini atau tidak?” tanyanya lagi.

“Iya”

“Kamu bisa pergi dari rumahmu?”

“Iya” jawabku.

Bersambung...
profile-picture
profile-picture
indahmami dan jimmi2008 memberi reputasi
Diubah oleh rafa.alfurqan
ijin bangun apartemen di sini gan. Apartemen ane nyaman dah. Ogah ada yg gtu2an 🙈
profile-picture
jmontefiore memberi reputasi


Quote:

Monggo gan, lapak ane juga masih luas.
Pokoknya beda dah sama lapak-lapak yang laen 😂
profile-picture
indahmami memberi reputasi
pas banget gw buka sfth pas ada apdetan juga emoticon-Big Grin
apa ini kebetulan ? ah mana mungkin kebetulan aku sendiri aja ga percaya dgn yg namanya kebutulan
ckckckck

entah kenapa gw nyengir pas baca since bersambungnya hahaha

kebiasaannya Rafa alurnya pasti maju mundur bikin gw mikir keras emoticon-Hammer (S)
Pejawan digembok

Nc story gan btw wonosobonya daerah mana tuh, ane juga dari wonosobo emoticon-Shakehand2
profile-picture
jmontefiore memberi reputasi
Diubah oleh candletines1121
Quote:


benernya sih mau maren apdet, eh lupa belom dikelarin.
jadi yodah tadi dikerjain mumpung bos gak ada emoticon-Hammer2

kalau maju terus gak enak ah,
enakan maju-mundur biar ada goyangannya emoticon-Leh Uga




Quote:


itu rahasia bray,
ane takut kalau ketemu ente di jalan tar emoticon-Ngakak
profile-picture
indahmami memberi reputasi
Halaman 1 dari 16


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di