- Beranda
- Komunitas
- Entertainment
- The Lounge
Ada' Mappurondo dari Hulu Sungai Saddang
TS
dewaagni
Ada' Mappurondo dari Hulu Sungai Saddang
EDISI KHUSUS
Ada' Mappurondo dari Hulu Sungai Saddang
Agama yang diturunkan Debata kepada Urudian, manusia pertama. Memiliki siklus masa bekerja, bergembira, pernikahan, dan kematian dalam periode kehidupan penganutnya. Diskriminasi dan intimidasi mewarnai upaya panjang penganut dalam mengukuhkan identitas keyakinan mereka. Kurikulum dan pengajar khusus sedang disiapkan.
Talodo keluar dari biliknya mengenakan baju dan belangkon dengan motif batik warna cokelat. Setengah badannya berbalut selempang kain sarung. Ia adalah seorang tomatua tonda atau pemimpin spiritual Mappurondo. Sebelum doa dimulai, Talodo berpetatah dalam bahasa setempat. Isinya mensyukuri pertemuan. Lalu, ia melantai di sudut kiri palanta, sebutan tempat kehormatan dalam struktur rumah adat Mappurondo. ''Kami sedang fokus patotibojongan,'' ujarnya lirih.
Banua atau rumah adat tomatua tonda terletak di Desa Penatangan, Kecamatan Buntu Malangka, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat. Pagi masih berkabut, hawa dingin menyergap saat saya menyusuri jalan menuju kediaman Talodo itu.
Dua anak perempuan Talodo membawa keluar tiga nampan bulat dan meletakkannya di samping cangkir-cangkir kopi. Masing-masing wadah yang terbuat dari rotan itu berisi empat buah pinang dan dua helai daun sirih yang ditaburi kapur putih. Satu nampan tambahan berisi lipatan kain putih dihidangkan khusus buat saya. Di atas kain diletakkan dua buah pinang, dua helai sirih bertabur kapur, dan sebiji telur ayam kampung. Sekantong beras dan lima ekor ikan mas di atas ketiding bulat juga dipersembahkan untuk Debata (Tuhan).
Dalam siklus masa peribadatan Mappurondo, patotibojongan adalah masa bercocok tanam. Bila benih sudah turun, menjadi pemalli (pantangan) buat Talodo menggelar ritual sesembelihan atau memimpin upacara syukuran yang lain. Biasanya, rasa syukur atas pertemuan dengan maksud baik, dirayakan dengan ritual sesembelihan.
Talodo lalu berdiri menghampiri baki sesembahan yang ada di hadapan saya. Badannya sedikit membungkuk dengan kepala tertunduk. Lalu ia mulai merapal doa sambil memicingkan mata. Semua yang berada di ruangan turut menundukkan kepala. Doa dalam bahasa Mappurondo itu berlangsung sekitar lima menit. Setelah itu Talodo menjabat tangan saya.
''Semoga Anda setelah ini selamat sampai tujuan, terwujud apa yang diinginkan. Tetua juga berdoa untuk kebaikan Mappurondo ke depan,'' kata Buntu, sekretaris Organisasi Mappurondo, menerjemahkan inti doa Talodo.
***
Mappurondo merupakan agama asli suku Toraja Barat yang sebagian besar wilayahnya meliputi Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat. Dikenal juga sebagai agama asli masyarakat Pitu Ulunna Salu di Sulawesi Barat. Biasa disebut dengan 'Aluk' atau Ada' Mappurondo.
Masyarakat Mappurondo meyakini agama suku ini diturunkan oleh Tuhan kepada manusia pertama Mappurondo bernama Urudian. Menurut Ketua Organisasi Mappurondo, Dettu, Urudian adalah leluhur. Uru berarti awal, sedangkan dian berasal dari kata "jadi'' atau ''kejadian''. Artinya awal terjadinya orang. ''Leluhur menurunkan secara turun temurun sampai generasi sekarang,'' kata Dettu, menjelaskan.
Agama ini diturunkan Tuhan di Hulu Sungai Saddang atau Sa'dan yang mengalir membelah Tana Toraja dengan 294 anak sungai, sejak pertama manusia diciptakan. Dettu mengaitkan turunnya ajaran ini dengan cerita rakyat yang turun-temurun tentang eran di langi (tangga dari langit).
Ada empat inti ajaran Mappurondo yang dikenal sebagai Pemalli Appa'Randanna. Pertama, ajaran pa'bannetauan, tentang benih-benih manusia. Yakni menyangkut perkembang biakan manusia. Kedua, patotibojongan. Ajaran ini berkaitan dengan perekonomian. Ketiga, gentengan tubuh atau pa'bisuan. Ajaran yang mengatur cara perlakuan terhadap manusia mulai lahir sampai dewasa. Keempat adalah patomatean atau tentang kematian. ''Tuhan mengatakan manusia tidak hidup kekal,'' kata Dettu.
Manifestasi dari Pemalli Appa'Randanna terwujud lewat ritual dan upacara-upacara. Siklus waktu pelaksanaanya runut, tidak bisa serentak. Tidak bisa saling mendahului atau dicampur aduk. Harus berurutan, terutama untuk dua periode besar, patotibojongan dan Pealloan, yakni masa bekerja dan perayaan suka cita (syukuran).
***
Pekan-pekan terakhir ini, sebagian besar penganut Mappurondo sedang menggarap sawah. Termasuk Dettu. Meski sehari-hari ia bekerja sebagai pengajar di SMP Negeri 4 Kecamatan Tabulahan, di masa patotibojongan sekarang ini, Dettu turun ke sawah. Dalam kalender Mappurondo, patotibojongan relatif dilaksanakan pada bulan Juni.
Kendati patotibojongan merupakan masa bercocok tanam, bukan berarti penganut tak boleh berkebun kopi, cokelat, dan sebagainya selain menggarap sawah. Bahkan penganut juga boleh menekuni pekerjaan lain. Walau bagaimanapun, sawah menjadi bagian dari sistem religi patotibojongan. Sehingga mustahil kepala keluarga Mappurondo tak memiliki sawah garapan.
Selesai masa tanam, sekitar tujuh-delapan bulan menunggu padi menguning dan siap panen. Waktunya pada November - Desember. Para penganut, di awal tahun sudah mulai panen. Tetua adat Mappurondo biasanya menetapkan masa panen sampai Februari. Setelah itu digelar serentak upacara syukuran panen dengan mempersembahkan sembelihan babi bagi Debata.
Selama patotibojongan sampai panen berlangsung, dilarang melaksanakan dua upacara besar, yakni pa'bannetauan (pernikahan) dan pa'bisuan. Pengecualian berlaku untuk upacara patomatean atau kematian. ''Jika ada yang meninggal di masa bercocok tanam, patotibojongan harus ditinggalkan dulu. Fokus pada upacara kematian. Tidak bisa dicampur baur,'' kata Dettu.
Pada masa patotibojongan, pemeluk Mappurondo juga menggelar pealloan berupa syukuran tahapan dari Gentengan tubuh menuju puncak pa'bisuan. Tiga urutan tahapannya antara lain, kelahiran manusia yang ditandai dengan upacara atau ritual dikassiam. Mensyukuri kelahiran dengan sesajian, biasanya menyembelih ayam. Syukuran ini dilakukan oleh tiap-tiap keluarga saja tanpa perlu diselenggarakan secara massal di rumah adat.
Tahap kedua, upacara memasukkan anak ke ayunan. Juga sembelihan ayam. Biasanya saat anak berumur satu minggu. Tahapan berikutnya adalah disono'. Keyakinan Mappurondo, seseorang melaksanakan disono' ini setelah memasuki usia setengah tahun atau satu tahun. Memakaikan pakaian baru, warna yang mencolok (merah). Meskipun sudah menginjak remaja tetap dianggap berstatus bayi kalau belum disono'.
Ada juga rentetan upacara kecil lain yang berlaku pada anak-anak, seperti memohon umur panjang saat bayi berumur satu tahun, anak menginjak kaki ke tanah pertama kali, dan menindik kuping bayi perempuan. ''Puncak dari gentengan tubuh itu pa'bisuan. Orang Mappurondo belum bisa menikah kalau belum diupacarakan pa'bisuan,'' tutur Buntu.
Siklus patotibojongan ini berakhir dengan diselenggarakannya syukuran panen. Setelah itu, tetua adat akan memberikan waktu bagi jemaahnya untuk melaksanakan pealloan (upacara sukacita) pa'bisuan, upacara pernikahan atau pa'bannitauan, serta upacara membangun rumah, setelahnya.
Masa bekerja, masa bergembira, masa pernikahan, dan kematian menjadi satu siklus kehidupan penganut Mappurondo dalam menjalankan agama. Buntu menjelaskan, manifestasi empat ajaran inti Mappurondo secara sekilas memang tampak sederhana. Namun, setiap satu ajaran adalah hukum yang mengandung sebanyak 7.777 jabaran pasal dan aturan, larangan dan kewajiban. Ayat-ayat itu tidak tertulis dalam kitab suci lazimnya instrumen sebuah agama. ''Kitab kita ada dalam hati,'' kata Buntu.
***
Dettu memperkirakan penganut Mappurondo sebanyak 10.000 jiwa. Sebagian besar tersebar di Kecamatan Tabulahan, Buntu Malangka, Aralle, Bambang, Rante Bulahan Timur, dan Kecamatan Mehalahan, yang masuk wilayah III Kabupaten Mamasa. Di luar wilayah III, penganut Mappurondo juga ada di Kecamatan Sumarorong dan Messawa di wilayah II, dan di Kecamatan Balla di wilayah I. Kabupaten Mamasa memiliki 17 Kecamatan yang terbagi dalam tiga wilayah.
''Di Sumarorong dan Messawa, mereka secara KTP sudah Hindu, tapi saya dengar masih menjalankan Mappurondo,'' ujar Dettu.
Sejak dideklarasikan menjadi anggota Majelis Luhur Ketuhanan Yang Maha Esa Indonesia (MLKI) September tahun lalu, Ketua Dewan Presidium MLKI Naen Soeryono mengamanatkan Mappurondo memverifikasi kembali data penganutnya.
Berdasarkan jumlah yang terverifikasi di wilayah III, Buntu menyebutkan ada 5.864 jiwa penganut Mappurondo. Angka itu katanya masih akan bertambah. Sebab pendataan masih dalam proses. Namun, dalam satu kecamatan, desa-desa yang penduduknya menganut Mappurondo relatif sedikit. Kecuali di Kecamatan Bambang, ada 12 desa atau yang terbanyak berpemeluk Mappurondo.
Berdasarkan data, dalam satu desa di wilayah III pemeluk Mappurondo jumlahnya rata-rata di atas 50% dari populasi penduduk. Bahkan di Desa Salu Kepopo dan RanteTarima di Kecamatan Bambang, 100% penduduknya adalah pemeluk Mappurondo.
Tidak hanya mendata pemeluk, MLKI juga meminta pengurus organisasi menyusun database jumlah anak didik Mappurondo. Dettu memperkirakan ada sekitar 4.000 anak yang berpendidikan SD hingga perguruan tinggi.
Problem anak didik penganut Mappurondo berbanding lurus dengan masalah yang dihadapi pemeluk agama minoritas (di luar agama-agama besar yang telah diakui pemerintah) di Indonesia. Yang paling menonjol adalah perlakuan diskriminatif di dunia pendidikan formal. Di sekolah belum ada mata pelajaran Mappurondo. Para siswa hanya punya dua pilihan pelajaran agama: Islam atau Kristen.
Istri Buntu, Emilia, adalah guru kelas di SD Negeri 04 Sumu'a, Desa Buntu Malangka, Kecamatan Buntu Malangka. Belum genap setahun dia lulus menjadi calon pegawani negeri sipil (CPNS) lewat jalur K2. Dia mengatakan, sekolah di tempatnya mengajar, pelajaran agama Mappurondo masuk dalam mata pelajaran budi pekerti. Untuk kelas I dan II muatan materi Mappurondo mencapai 75%. Sedangkan di kelas berikutnya, materi Mappurondo sangat sedikit.
''Masalahnya sekarang, anak-anak ini belum bisa mendapat pelajaran agama Mappurondo sepenuhnya. Di SD, SMP, juga SMA,'' kata Emilia, mengeluh.
Pasangan Buntu-Emilia mempunyai lima anak. Tiga di antaranya bersekolah di SD, SMP, dan SMA. Di sekolah itu kata Buntu, ketiga anak mereka dicekoki dengan pelajaran agama Kristen. ''Kami takut bila anak anak disuap terus dengan pelajaran yang bukan agamanya. Bahaya buat generasi bisa kehilangan identitas,'' ujar Emilia.
Masalah pendidikan anak menjadi aspirasi hampir seluruh penghayat kepercayaan. Inilah isu yang tengah diperjuangkan MLKI. Mereka mengaku masih mengalami diskriminasi dan intimidasi di dunia pendidikan. ''Terakhir saya ingat pada 2013, anak didik kami diskors kalau tidak mau belajar pelajaran agama. Itu intimidasi,'' kata Noen.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Mamasa, Muhammad Syukur, mengatakan bahwa pemerintah daerah sudah memberikan solusi bagi anak didik Mappurondo. Dia tak menampik selama ini anak-anak Mappurondo tak punya pilihan. Sebab itu, sekembali dari sarasehan MLKI di Malang bulan lalu, Syukur langsung meminta organisasi Mappurondo menyusun silabus dan bahan ajar pelajaran Mappurondo. ''Akan ada kurikulum khusus dan tokoh Mappurondo yang mengajar,'' kata Syukur menjanjikan.
Menurut Syukur, kini saatnya membuka ruang buat anak Mappurondo untuk belajar tentang agamanya sendiri. Tidak ada lagi istilah dipaksa belajar agama lain. Teknisnya nanti, pengajar dari Mappurondo mendatangi sekolah-sekolah tempat anak-anak Mappurondo belajar. Mereka kata Syukur, diminta juga bikin soal ujian. ''Kami menyadari ini adalah agama asli nenek moyang kami. Kami berangkat dari sini semua,'' kata Syukur.
Joni Aswira Putra
= = =
MAPPURANDO
Agama: Mappurondo
Asal: Mamasa, Sulawesi Barat
Merupakan agama asli suku Toraja Barat yang sebagian besar ada di wilayah Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat. Juga dikenal sebagai agama asli masyarakat Pitu Ulunna Salu di Sulawesi Barat. Biasa disebut Aluk atau Ada' Mappurondo. Pemalli Appa'Randanna menggambarkan empat siklus hidup manusia, yaitu masa bekerja, masa bergembira, masa pernikahan, dan kematian
Lokasi penganut:
Kecamatan Tabulahan, Kecamatan Buntu Malangka, Kecamatan Aralle, Kecamatan Bambang, Rantebulahan Timur, dan Kecamatan Mehalaan, Kecamatan Sumarorong, Kecamatan Messawa, Kecamatan Balla.
Kitab ajaran : -
Kekuasaan tertinggi:
Debata (Tuhan Sang Pencipta)
Tradisi upacara:
Upacara dalam agama Mappurondo secara garis besar digolongkan menjadi dua periode utama, patotibojongan dan pealloan. Patotibojongan, masa masyarakat bekerja, dari bercocok tanam, panen, hingga menyimpan padi. Pealloan, masa masyarakat melakukan upacara perayaan sukacita atau kegembiraan.
http://arsip.gatra.com/2016-07-11/ma...l=23&id=162388
Ada' Mappurondo dari Hulu Sungai Saddang
Agama yang diturunkan Debata kepada Urudian, manusia pertama. Memiliki siklus masa bekerja, bergembira, pernikahan, dan kematian dalam periode kehidupan penganutnya. Diskriminasi dan intimidasi mewarnai upaya panjang penganut dalam mengukuhkan identitas keyakinan mereka. Kurikulum dan pengajar khusus sedang disiapkan.
Talodo keluar dari biliknya mengenakan baju dan belangkon dengan motif batik warna cokelat. Setengah badannya berbalut selempang kain sarung. Ia adalah seorang tomatua tonda atau pemimpin spiritual Mappurondo. Sebelum doa dimulai, Talodo berpetatah dalam bahasa setempat. Isinya mensyukuri pertemuan. Lalu, ia melantai di sudut kiri palanta, sebutan tempat kehormatan dalam struktur rumah adat Mappurondo. ''Kami sedang fokus patotibojongan,'' ujarnya lirih.
Banua atau rumah adat tomatua tonda terletak di Desa Penatangan, Kecamatan Buntu Malangka, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat. Pagi masih berkabut, hawa dingin menyergap saat saya menyusuri jalan menuju kediaman Talodo itu.
Dua anak perempuan Talodo membawa keluar tiga nampan bulat dan meletakkannya di samping cangkir-cangkir kopi. Masing-masing wadah yang terbuat dari rotan itu berisi empat buah pinang dan dua helai daun sirih yang ditaburi kapur putih. Satu nampan tambahan berisi lipatan kain putih dihidangkan khusus buat saya. Di atas kain diletakkan dua buah pinang, dua helai sirih bertabur kapur, dan sebiji telur ayam kampung. Sekantong beras dan lima ekor ikan mas di atas ketiding bulat juga dipersembahkan untuk Debata (Tuhan).
Dalam siklus masa peribadatan Mappurondo, patotibojongan adalah masa bercocok tanam. Bila benih sudah turun, menjadi pemalli (pantangan) buat Talodo menggelar ritual sesembelihan atau memimpin upacara syukuran yang lain. Biasanya, rasa syukur atas pertemuan dengan maksud baik, dirayakan dengan ritual sesembelihan.
Talodo lalu berdiri menghampiri baki sesembahan yang ada di hadapan saya. Badannya sedikit membungkuk dengan kepala tertunduk. Lalu ia mulai merapal doa sambil memicingkan mata. Semua yang berada di ruangan turut menundukkan kepala. Doa dalam bahasa Mappurondo itu berlangsung sekitar lima menit. Setelah itu Talodo menjabat tangan saya.
''Semoga Anda setelah ini selamat sampai tujuan, terwujud apa yang diinginkan. Tetua juga berdoa untuk kebaikan Mappurondo ke depan,'' kata Buntu, sekretaris Organisasi Mappurondo, menerjemahkan inti doa Talodo.
***
Mappurondo merupakan agama asli suku Toraja Barat yang sebagian besar wilayahnya meliputi Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat. Dikenal juga sebagai agama asli masyarakat Pitu Ulunna Salu di Sulawesi Barat. Biasa disebut dengan 'Aluk' atau Ada' Mappurondo.
Masyarakat Mappurondo meyakini agama suku ini diturunkan oleh Tuhan kepada manusia pertama Mappurondo bernama Urudian. Menurut Ketua Organisasi Mappurondo, Dettu, Urudian adalah leluhur. Uru berarti awal, sedangkan dian berasal dari kata "jadi'' atau ''kejadian''. Artinya awal terjadinya orang. ''Leluhur menurunkan secara turun temurun sampai generasi sekarang,'' kata Dettu, menjelaskan.
Agama ini diturunkan Tuhan di Hulu Sungai Saddang atau Sa'dan yang mengalir membelah Tana Toraja dengan 294 anak sungai, sejak pertama manusia diciptakan. Dettu mengaitkan turunnya ajaran ini dengan cerita rakyat yang turun-temurun tentang eran di langi (tangga dari langit).
Ada empat inti ajaran Mappurondo yang dikenal sebagai Pemalli Appa'Randanna. Pertama, ajaran pa'bannetauan, tentang benih-benih manusia. Yakni menyangkut perkembang biakan manusia. Kedua, patotibojongan. Ajaran ini berkaitan dengan perekonomian. Ketiga, gentengan tubuh atau pa'bisuan. Ajaran yang mengatur cara perlakuan terhadap manusia mulai lahir sampai dewasa. Keempat adalah patomatean atau tentang kematian. ''Tuhan mengatakan manusia tidak hidup kekal,'' kata Dettu.
Manifestasi dari Pemalli Appa'Randanna terwujud lewat ritual dan upacara-upacara. Siklus waktu pelaksanaanya runut, tidak bisa serentak. Tidak bisa saling mendahului atau dicampur aduk. Harus berurutan, terutama untuk dua periode besar, patotibojongan dan Pealloan, yakni masa bekerja dan perayaan suka cita (syukuran).
***
Pekan-pekan terakhir ini, sebagian besar penganut Mappurondo sedang menggarap sawah. Termasuk Dettu. Meski sehari-hari ia bekerja sebagai pengajar di SMP Negeri 4 Kecamatan Tabulahan, di masa patotibojongan sekarang ini, Dettu turun ke sawah. Dalam kalender Mappurondo, patotibojongan relatif dilaksanakan pada bulan Juni.
Kendati patotibojongan merupakan masa bercocok tanam, bukan berarti penganut tak boleh berkebun kopi, cokelat, dan sebagainya selain menggarap sawah. Bahkan penganut juga boleh menekuni pekerjaan lain. Walau bagaimanapun, sawah menjadi bagian dari sistem religi patotibojongan. Sehingga mustahil kepala keluarga Mappurondo tak memiliki sawah garapan.
Selesai masa tanam, sekitar tujuh-delapan bulan menunggu padi menguning dan siap panen. Waktunya pada November - Desember. Para penganut, di awal tahun sudah mulai panen. Tetua adat Mappurondo biasanya menetapkan masa panen sampai Februari. Setelah itu digelar serentak upacara syukuran panen dengan mempersembahkan sembelihan babi bagi Debata.
Selama patotibojongan sampai panen berlangsung, dilarang melaksanakan dua upacara besar, yakni pa'bannetauan (pernikahan) dan pa'bisuan. Pengecualian berlaku untuk upacara patomatean atau kematian. ''Jika ada yang meninggal di masa bercocok tanam, patotibojongan harus ditinggalkan dulu. Fokus pada upacara kematian. Tidak bisa dicampur baur,'' kata Dettu.
Pada masa patotibojongan, pemeluk Mappurondo juga menggelar pealloan berupa syukuran tahapan dari Gentengan tubuh menuju puncak pa'bisuan. Tiga urutan tahapannya antara lain, kelahiran manusia yang ditandai dengan upacara atau ritual dikassiam. Mensyukuri kelahiran dengan sesajian, biasanya menyembelih ayam. Syukuran ini dilakukan oleh tiap-tiap keluarga saja tanpa perlu diselenggarakan secara massal di rumah adat.
Tahap kedua, upacara memasukkan anak ke ayunan. Juga sembelihan ayam. Biasanya saat anak berumur satu minggu. Tahapan berikutnya adalah disono'. Keyakinan Mappurondo, seseorang melaksanakan disono' ini setelah memasuki usia setengah tahun atau satu tahun. Memakaikan pakaian baru, warna yang mencolok (merah). Meskipun sudah menginjak remaja tetap dianggap berstatus bayi kalau belum disono'.
Ada juga rentetan upacara kecil lain yang berlaku pada anak-anak, seperti memohon umur panjang saat bayi berumur satu tahun, anak menginjak kaki ke tanah pertama kali, dan menindik kuping bayi perempuan. ''Puncak dari gentengan tubuh itu pa'bisuan. Orang Mappurondo belum bisa menikah kalau belum diupacarakan pa'bisuan,'' tutur Buntu.
Siklus patotibojongan ini berakhir dengan diselenggarakannya syukuran panen. Setelah itu, tetua adat akan memberikan waktu bagi jemaahnya untuk melaksanakan pealloan (upacara sukacita) pa'bisuan, upacara pernikahan atau pa'bannitauan, serta upacara membangun rumah, setelahnya.
Masa bekerja, masa bergembira, masa pernikahan, dan kematian menjadi satu siklus kehidupan penganut Mappurondo dalam menjalankan agama. Buntu menjelaskan, manifestasi empat ajaran inti Mappurondo secara sekilas memang tampak sederhana. Namun, setiap satu ajaran adalah hukum yang mengandung sebanyak 7.777 jabaran pasal dan aturan, larangan dan kewajiban. Ayat-ayat itu tidak tertulis dalam kitab suci lazimnya instrumen sebuah agama. ''Kitab kita ada dalam hati,'' kata Buntu.
***
Dettu memperkirakan penganut Mappurondo sebanyak 10.000 jiwa. Sebagian besar tersebar di Kecamatan Tabulahan, Buntu Malangka, Aralle, Bambang, Rante Bulahan Timur, dan Kecamatan Mehalahan, yang masuk wilayah III Kabupaten Mamasa. Di luar wilayah III, penganut Mappurondo juga ada di Kecamatan Sumarorong dan Messawa di wilayah II, dan di Kecamatan Balla di wilayah I. Kabupaten Mamasa memiliki 17 Kecamatan yang terbagi dalam tiga wilayah.
''Di Sumarorong dan Messawa, mereka secara KTP sudah Hindu, tapi saya dengar masih menjalankan Mappurondo,'' ujar Dettu.
Sejak dideklarasikan menjadi anggota Majelis Luhur Ketuhanan Yang Maha Esa Indonesia (MLKI) September tahun lalu, Ketua Dewan Presidium MLKI Naen Soeryono mengamanatkan Mappurondo memverifikasi kembali data penganutnya.
Berdasarkan jumlah yang terverifikasi di wilayah III, Buntu menyebutkan ada 5.864 jiwa penganut Mappurondo. Angka itu katanya masih akan bertambah. Sebab pendataan masih dalam proses. Namun, dalam satu kecamatan, desa-desa yang penduduknya menganut Mappurondo relatif sedikit. Kecuali di Kecamatan Bambang, ada 12 desa atau yang terbanyak berpemeluk Mappurondo.
Berdasarkan data, dalam satu desa di wilayah III pemeluk Mappurondo jumlahnya rata-rata di atas 50% dari populasi penduduk. Bahkan di Desa Salu Kepopo dan RanteTarima di Kecamatan Bambang, 100% penduduknya adalah pemeluk Mappurondo.
Tidak hanya mendata pemeluk, MLKI juga meminta pengurus organisasi menyusun database jumlah anak didik Mappurondo. Dettu memperkirakan ada sekitar 4.000 anak yang berpendidikan SD hingga perguruan tinggi.
Problem anak didik penganut Mappurondo berbanding lurus dengan masalah yang dihadapi pemeluk agama minoritas (di luar agama-agama besar yang telah diakui pemerintah) di Indonesia. Yang paling menonjol adalah perlakuan diskriminatif di dunia pendidikan formal. Di sekolah belum ada mata pelajaran Mappurondo. Para siswa hanya punya dua pilihan pelajaran agama: Islam atau Kristen.
Istri Buntu, Emilia, adalah guru kelas di SD Negeri 04 Sumu'a, Desa Buntu Malangka, Kecamatan Buntu Malangka. Belum genap setahun dia lulus menjadi calon pegawani negeri sipil (CPNS) lewat jalur K2. Dia mengatakan, sekolah di tempatnya mengajar, pelajaran agama Mappurondo masuk dalam mata pelajaran budi pekerti. Untuk kelas I dan II muatan materi Mappurondo mencapai 75%. Sedangkan di kelas berikutnya, materi Mappurondo sangat sedikit.
''Masalahnya sekarang, anak-anak ini belum bisa mendapat pelajaran agama Mappurondo sepenuhnya. Di SD, SMP, juga SMA,'' kata Emilia, mengeluh.
Pasangan Buntu-Emilia mempunyai lima anak. Tiga di antaranya bersekolah di SD, SMP, dan SMA. Di sekolah itu kata Buntu, ketiga anak mereka dicekoki dengan pelajaran agama Kristen. ''Kami takut bila anak anak disuap terus dengan pelajaran yang bukan agamanya. Bahaya buat generasi bisa kehilangan identitas,'' ujar Emilia.
Masalah pendidikan anak menjadi aspirasi hampir seluruh penghayat kepercayaan. Inilah isu yang tengah diperjuangkan MLKI. Mereka mengaku masih mengalami diskriminasi dan intimidasi di dunia pendidikan. ''Terakhir saya ingat pada 2013, anak didik kami diskors kalau tidak mau belajar pelajaran agama. Itu intimidasi,'' kata Noen.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Mamasa, Muhammad Syukur, mengatakan bahwa pemerintah daerah sudah memberikan solusi bagi anak didik Mappurondo. Dia tak menampik selama ini anak-anak Mappurondo tak punya pilihan. Sebab itu, sekembali dari sarasehan MLKI di Malang bulan lalu, Syukur langsung meminta organisasi Mappurondo menyusun silabus dan bahan ajar pelajaran Mappurondo. ''Akan ada kurikulum khusus dan tokoh Mappurondo yang mengajar,'' kata Syukur menjanjikan.
Menurut Syukur, kini saatnya membuka ruang buat anak Mappurondo untuk belajar tentang agamanya sendiri. Tidak ada lagi istilah dipaksa belajar agama lain. Teknisnya nanti, pengajar dari Mappurondo mendatangi sekolah-sekolah tempat anak-anak Mappurondo belajar. Mereka kata Syukur, diminta juga bikin soal ujian. ''Kami menyadari ini adalah agama asli nenek moyang kami. Kami berangkat dari sini semua,'' kata Syukur.
Joni Aswira Putra
= = =
MAPPURANDO
Agama: Mappurondo
Asal: Mamasa, Sulawesi Barat
Merupakan agama asli suku Toraja Barat yang sebagian besar ada di wilayah Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat. Juga dikenal sebagai agama asli masyarakat Pitu Ulunna Salu di Sulawesi Barat. Biasa disebut Aluk atau Ada' Mappurondo. Pemalli Appa'Randanna menggambarkan empat siklus hidup manusia, yaitu masa bekerja, masa bergembira, masa pernikahan, dan kematian
Lokasi penganut:
Kecamatan Tabulahan, Kecamatan Buntu Malangka, Kecamatan Aralle, Kecamatan Bambang, Rantebulahan Timur, dan Kecamatan Mehalaan, Kecamatan Sumarorong, Kecamatan Messawa, Kecamatan Balla.
Kitab ajaran : -
Kekuasaan tertinggi:
Debata (Tuhan Sang Pencipta)
Tradisi upacara:
Upacara dalam agama Mappurondo secara garis besar digolongkan menjadi dua periode utama, patotibojongan dan pealloan. Patotibojongan, masa masyarakat bekerja, dari bercocok tanam, panen, hingga menyimpan padi. Pealloan, masa masyarakat melakukan upacara perayaan sukacita atau kegembiraan.
http://arsip.gatra.com/2016-07-11/ma...l=23&id=162388
0
2K
5
Thread Digembok
Urutan
Terbaru
Terlama
Thread Digembok
Komunitas Pilihan