KOMUNITAS
Home / FORUM / All / Female / Sista /
[LOVE LETTER] Rembulanku Kembali Bersinar
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5889e84496bde6c9648b4567/love-letter-rembulanku-kembali-bersinar

[LOVE LETTER] Rembulanku Kembali Bersinar

Planet Bumi, 26 Januari 2017


Hai kamu,

Apa kabar Rembulanku yang sedang bersinar di sana? Aku harap kamu bahagia dan sejenak meneroka keadaan kehidupan para pecundang yang berkeliaran di dunia hanya untuk mencoba memilikimu. Kisah kita sungguh miris. Sayangnya aku mengingatnya sebagai kenangan terindah yang pernah aku dapatkan. Aku harap kamu tak jadi resah, setelah kamu—mungkin—membaca surat abstrak anomali penuh kata-kata geli. Mula-mula, aku memohon kepadamu.

Sungguh, bukan maksudku mempermalukanmu dengan caraku jatuh cinta kepadamu. Entah sampai kapan ini akan lekang, setidaknya, cobalah tuk sejenak memadangku. Kamu tahu? Bahkan sejak pertama kita saling tatap sampai kamu jadi asing, aku tak sekalipun berpaling. Tak akan pernah begitu.

Langkahmu selalu menarik, oh Rembulan. Sinar yang terpancar dari sana kerap menyilaukan raga pecundang yang tulus memujamu. Maafkan aku jika memelukmu terlalu erat, kamu terlalu berharga untuk kulepas. Janganlah merasa sakit, sebab itulah tanda kasihku yang teramat dalam tetapi sedikit menyiksa. Aku biarkan kamu berlarian saat langit senja, tetapi kembalilah saat bintang-bintang malam mulai berkelip. Aku tak rela mereka menarik perhatianmu, sebab telah menculikmu dari mereka. Aku takkan pernah rela kehilanganmu. Maaf jika ini ironi, berlebihan.

Ingatkah kamu dulu? Saat kita saling menjaga perasaan, dan saat sebuah kekerabatan hangat terjalin pada dua hati yang tak saling mengenal? Rembulan, kamu jatuh cinta pada seorang Manusia! Dan dia bukan Manusia biasa, dia seorang pecundang! Mimpi apa aku, cinta mula-mula pada sosok purnama yang bersinar sendu. Sebab kata mereka cinta pertama itu sakral, aku—terlalu—yakin hubungan ini akan lama, bahagia. Akan tetapi, siapakah aku? Aku bukanlah penentu takdir. Aku tak mengenal diriku. Akulah pecundang. Hingga saat-saat sore terakhir musim ini datang, detikmu tiba juga.

Waktu yang beranjak sepertinya membuatmu jemu, Rembulan. Ya, kamu benar soal sikapku yang dingin dan tak mencintai kamu dengan sempurna, seperti yang kamu harapkan. Dan saat malam berbintang bagi kita datang, kamu terbang. Melesat ke angkasa, sebab konstelasi langit buatmu terpana. Kamu yang menghilang dari bumi, kembali bersinar di langit. Selamat, kamu bebas dari hubungan yang kaku ini. Dasawarsa berlalu sungguh lama, tanpamu, bagai seribu tahun hidup di lubang hitam. Hampa.

Di angkasa aku lihat kamu terbahak dan bercengekrama bersama bintang-bintang, kawanmu yang sebenarnya. Senang rasanya, melihat kamu begitu lepas. Karma rasanya, sebab aku cinta padamu, pada Rembulan. Pancarnya, kusadari, untuk siapa saja. Bukan untukku saja. Aku menyadari bahwa aku tak bergerak, aku terpaku padamu. Aku cinta kamu diam-diam. Setelah satu dasawarsa berselang, tetapi dalam dimensi yang berbeda. Aku tak pernah berharap untuk diakui lagi, namun setidaknya izinkan aku tetap ada di antara kehidupanmu. Izinkan aku untuk merasa memilikimu lagi. Hanya merasa. Apa kamu, Rembulanku, tertawa atas kenaifanku? Silakan, aku terlalu bosan tuk didera. Persetan dengan bintang-bintangmu dan juga semesta. Romantisme mereka nomor satu, tetapi sesungguhnya ada skenario menyiratkan kepalsuan, yang tampak di pelupuk mata.

Ada kalanya aku bahagia, sebab kamu telah kembali ke peraduanmu yang pantas. Sungguh. Namun, ada kalanya juga aku nanar, sebab kamu tak akan pernah kembali ke sini. Bahagiaku juga nanar ini bertambah pula, saat kamu selalu menyempatkan untuk jatuh.

Terima kasih, kamu, kamu masih mau untuk jatuh—menatapku—walau hanya tuk memberi angan-angan yang menidurkan pejuang sekaligus pecundang ini. Saat kamu jatuh, oh Rembulan, aku pandangi kamu bagai gadis fatamorgana, berdiri di ujung tebing tinggi, dengan rambut panjangmu yang tertiup angin senja. Kamu menyadarkanku, jikalau kamu hanya sebatas ilusi buatku. Kamu menamparku dengan kerasnya, hingga saat aku lihat kamu membaur menjadi serpihan perak, aku sadar bahwa kamu terlalu anggun untuk dimiliki seorang pencuri.

Aku mencoba membencimu. Aku mencoba membenci rindu yang menyiksa. Kehidupan mortal yang aku harap bisa membuatku berpaling dari sang Rembulan, dari kamu, nyatanya tak ada daya. Aku hanya berharap kamu tak jatuh lagi, walau aku akan tetap merasa memilikimu.

Pesan-pesanku ini, semoga terhembus oleh angin, sehingga kamu bisa menangkap gema yang lemah ini. Tolong, sekali lagi, jangan jatuh lagi. Jangan meninggalkan sebuah momen yang menyakitkan lagi. Cukuplah kamu di atas sana, percaya saja. Sinarmu yang sendu telah menenangkan rasa yang telah menuju mati. Sebab kalau kamu jatuh sekali lagi, bilamana raga ini akan terus tegak menghentak jika rindu dan perasaan itu selalu tiba.

Untuk seluruh bualan dari ‘naskah dongeng’ ini, aku harap kamu, setidaknya, membacanya dengan seksama. Aku tak butuh air mata, jangan, itu terlalu sia-sia untukmu. Aku cuma butuh hati untuk memahami makna dangkal yang tertuang di setiap abjadnya, juga mata yang melihat tentang sebuah impian yang setia. Dua bait kepahitan ku tulis sebagai puncak segala intervensi rindu antara Manusia dan Rembulan.

Semua itu, kapan saja, akan selalu sama. Selalu begitu. Sedari dulu.

Keadaan ini tak pernah serius jalannya, dan yang terindah selalu muluk untuk digapai
Impianku selalu sama sejak pertama kita saling tatap, memilikimu
Sudah sejak lama, kau tahu, biarkanmu bercumbu dengan yang lain
Terbahak terbawa dalam dunia yang beda, apapun tentang gemilangnya dunia

Tolong kenali gumam ini, sejujurnya, apakah rasamu telah mati?
Diam di sisi kelabu tak pernah buatku jadi membuyar terberai, aku bertahan
Maki diri ini, kemana pun ku bawa ragaku, sanjungan mustahil ku terima, juga darimu
Aku yang sejak dulu terlepas, aku tak pernah dibalas, tak sanggup tuk tak memelas

Kamu benar akan suatu sikap. Ambil jalanmu sendiri, bagiku kamu akan terus bersinar. Pandu aku menuju suatu filosofi realita, yang bebaskanku di antara berjuta imajinasi dan mimpi-mimpi yang suram.


Di sini selamanya,

R


[LOVE LETTER] Rembulanku Kembali Bersinar
profile-picture
profile-picture
aldysadi dan tata604 memberi reputasi
Thread sudah digembok
Pertamaxemoticon-Stick Out Tongueertamax
Sepi y..
Quote:


ya beginilah gan emoticon-Big Grin
klo punya masa sih bisa minta diramaiken
klo cuma cecunguk macem saya ya cuma bisa pasrah
emoticon-Smilie
Quote:


Hehe, kita senasib bre kagak punya suporter.emoticon-Toast

Btw, ente ikut event ini ngga?
Quote:


ikut dong..malahan jatah gw dah abis nih.
iseng ngramein, sekalian biar puyeng jurinya
emoticon-Leh Uga
Quote:


Wihh langsung hajar semua y slotny..
Jurinya puyeng bgt tuh pasti, yg ikut banyak bgt soalnya. Wkwkwk
×
© 2023 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di