TS
metrotvnews.com
Satu Gedung 5 Sekolah

Metrotvnews.com, Jakarta: Menggunakan seragam dinas cokelat muda, Supriani duduk di sudut ruang berukuran 4x8 meter. Kerudung motif bunganya diikat sekenanya di leher.
Matanya terus menatap atap ruangan mencari-cari agar kipas angin bisa digantungkan di atap itu. Kepala sekolah SD 02 Tambora Jakarta Barat itu mencari cara bagaimana tiga belas guru lainnya bisa nyaman bekerja dalam ruangan tersebut.
Tidak ada sekat beton di dalamnya. Semua hanya ditandai meja kerja saja.
Sementara, bagian tata usaha sekolah berada di sudut paling pojok hanya difasilitasi seperangkat komputer beserta meja dan kursinya. Ruang kepala sekolah pun sama berada di depan meja TU hanya disekat seadanya.
Buku dan lembaran dokumen sekolah diletakkan bertumpuk di atas beberapa lemari kayu. Kondisi ini menggambarkan aktivitas sekolah yang puluhan tahun menumpang dengan sekolah lain.
“Beginilah kondisinya yang penting siswa didik kami harus terus sekolah mereka harus nyaman belajar walau pun kami tidak tahu sampai kapan sekolah akan tetap menumpang,” ujar Supriani, di Jakarta, Rabu (11/1/2017).
Sekolah dasar ini, lanjut Supriati, ada sejak 1990 yang berada di bangunan cagar budaya yang sudah ditetapkan oleh pemerintah daerah. Di dalam gedung tersebut terdapat lima sekolah yaitu SD 01-03, SMP 63 dan SMA 19. Semua sekolah ini beraktivitas bersamaan. Hanya 221 murid SD 02 yang masuk sore hari.
“Semua murid masuk sore karena kelas dipakai bergantian. Dengan lingkungan sekolah yang banyak begini bisa dibayangkan bisingnya seperti apa,” terang Supriati yang sesekali membetulkan letak kerudungnya
Aktivitas belajar sekolahnya menggunakan sembilan kelas yang dipinjamkan oleh SD 01 Tambora termasuk fasilitas lainnya seperti kursi belajar. Satu kelas berisi 32 murid.
Aktivitas belajar diakui sering terganggu dengan suara bising. Tidak hanya itu, aktivitas belajar juga akan terhenti jika banjir datang.
"Kalau sudah banjir bisa mencapai satu meter. Semua aktivitas belajar berhenti belum lagi semua dokumen sekolah bisa rusak. Kami bingung harus bagaimana di tengah keterbatasan ini,” ungkapnya.
Supriati mengaku sudah bosan mengadukan hal ini ke dinas terkait. Menurutnya kewajibannya mencetak generasi berkualitas jauh lebih penting.
Sementara itu menurut kepala sekolah SMA 19 Aidarus aktivitas belajar tidak efisien karena kekurangan ruang kelas. Alhasil 568 murid harus belajar dengan sistem moving. Di mana siswa secara aktif bertukar kelas.
“Sistem ini dulunya pernah diterapkan di semua sekolah, tapi ternyata tidak efisien, karena murid yang datang ke kelas bukan guru. Tapi kami masih terapkan itu karena kami masih kekurangan ruang kelas,” jelasnya
Kelas yang digunakan sebanyak tujuh belas ruangan. Jumlah tersebut sudah termasuk ruang laboratorium yang juga dipakai untuk ruang belajar. Aidarus yang baru empat bulan menjadi kepala sekolah di SMA ini mengaku cukup bingung dengan lingkungan sekolah yang bergabung dengan sekolah lain. Akibatnya beberapa aktivitas organisasi siswa tidak berjalan maksimal.
"Tentu terbatas sekali. Untuk upacara saja sempit sekali, sedangkan lapangan hanya ada satu dan itu digunakan untuk semua sekolah,” cetusnya.
Dia menambahkan sekolah juga terkendala status bangunan yang merupakan cagar budaya yang tidak dibolehkan dirombak, selain direnovasi.
“Jika memang mau direnovasi tidak bisa hanya sekolah ini saja harus semua sekolah di sini. Sedangkan ini bangunan bersejarah yang dulunya sekolah Tionghoa Pah Kwa sejak 1901. Inilah yang membuat saya bingung,”tandasnya.
Sumber : http://news.metrotvnews.com/read/201...dung-5-sekolah
---
Kumpulan Berita Terkait PENDIDIKAN :
-
Satu Gedung 5 Sekolah-
Disdik Sumut: Tak Ada Biaya SPP SMA-
Jepara Alihkan Biaya Operasional SMA ke Tunjangan Kepala SDanasabila memberi reputasi
1
903
0
Komentar yang asik ya
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan