TS
metrotvnews.com
Memahami Tren Saling Serang di Media Sosial

Metrotvnews.com, Jakarta: Tepo seliro, betapa sudah begitu jarang kata ini terdengar. Apalagi, dilakoni. Dalam hari-hari yang serba sibuk nan canggih, sikap yang diambil dari akar kata bahasa Jawa ini seakan tak lagi memiliki tempat. Dalam bahasa Indonesia, tata laku ini diucap tepa salira, alias prinsip menghargai, menghormati, serta menjaga setiap tindakan yang dapat menyinggung perasaan orang lain.
Tepa salira mulai langka, utamanya saat berada dalam arus komunikasi jejaring media sosial. Padahal, sejak ratusan tahun lampau, tepa salira menjadi kebanggaan dan ciri khas masyarakat Nusantara. Ia hadir menggenapi sikap sopan santun, juga gemar bergotong royong.
"Sebelum Pancasila menjadi dasar falsafah hidup bangsa, ia adalah nilai luhur budaya Indonesia yang dikenal dengan tepo seliro," tulis Pandji Setijo dalam Pendidikan Pancasila Perspektif Sejarah Perjuangan Bangsa.
Teknologi tentu tak salah mutlak. Ia hanya pisau bermata dua. Tergantung siapa dan bagaimana orang itu memanfaatkannya.
Saling hujat
Separuh lebih dari total penduduk Indonesia menggantungkan komunikasinya kepada internet. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) dalam hasil survei penetrasi dan prilaku pengguna internet 2016 menyebutkan, pengguna internet di Indonesia hari ini mencapai 132,7 juta orang. Sementara 129,2 juta orang di antaranya pengguna aktif media sosial.
Jika berkaca pada jumlah sebesar itu, maka wajar jika media sosial mejadi tempat meledaknya arus informasi yang tak ayal bisa mengundang perdebatan antarpengguna, baik dalam skala kecil maupun besar.

Pakar komunikasi dari Universitas Padjadjaran, Kunto Adi Wibowo mengatakan, potensi cekcok dan saling serang antarpengguna belakangan ini bisa dibaca dari dua sisi. Pertama, dimensi teknologi media sosial itu sendiri. Kedua, sudut psikologis pengguna.
Hampir semua media sosial yang ada saat ini, kata Kunto, mengandalkan algoritma dalam menyaring informasi dari satu pengguna ke pengguna yang lainnya. Mulanya, algoritma diterapkan demi memudahkan pengguna untuk agar tidak perlu repot menyeleksi secara manual jutaan informasi di news feed.
Ambil contoh, Facebook. Media sosial ini akan mengontrol apa yang tersaji di news feed tanpa disadari pengguna. Bayangkan saja, dua akun yang memiliki lebih dari 200 pertemanan yang sama, akan tetap memiliki tampilan news feed yang berbeda.
"Dampaknya, jika seseorang merasa pendapatnya berada di jalur mayoritas, maka ia tidak segan dalam menyampaikan pendapat. Sebaliknya, bagi yang dirasa tidak mendapat gambaran pemikiran yang sama, ia cenderung membisu," kata Kunto kepada metrotvnews.com, Rabu (14/12/2016).
Baca: Algoritma sebagai Ladang Uang di Media Sosial
Watak identitas sosial pun terbentuk. Tanpa disadari satu kelompok akan meninggikan dirinya sendiri, serta menganggap pendapat orang lain tak lagi bernilai, bahkan rendah.
"Sederhananya, Facebook pun harus bertanggung jawab. Sebab, algoritma itu sebagian mereka ukur untuk tujuan dagang. Bukan untuk diskusi dan perbincangan rasional antarwarga," kata dia.
Sementara dari sisi psikologis, secara manusiawi pengguna akan menangkap dan menerima dengan mudah setiap informasi yang sesuai dengan kepercayaanya. Hal itu, diperparah dengan tanpa tindakan memeriksa ulang keabsahan berita yang dibaca. Pola ini dipengaruhi dari cara pengguna memilih pertemanan atau laman penggemar.
"Pada babak ini, algoritma tak memiliki peran banyak," kata dia.
Baca: Telanjur Viral Padahal Hoax
Namun pada akhirnya, dimensi teknologi dan psikologi pengguna itu saling menguatkan. Konten yang diterima dari satu akun pertemanan yang disukai (like), dibaca, dan dibagikan (share) menjadi proses seleksi yang tanpa disadari tengah dilakukan pengguna.
Identitas sosial dan deindividuasi itu lantas mengantarkan pengguna kepada perdebatan-perdebatan yang menajam. "Karena pengguna kerap meninggalkan individualitasnya, kemudian dengan seragam identitas sosial itu mereka berdebat dengan tanpa menghadirkan wajah," kata Kunto.
Bijak bermedia sosial
Media sosial riuh dengan polarisasi. Kondisi ini dimulai seiring bergulirnya masa kampanye Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 lalu.
Kunto, yang kini tengah memperdalam kajian komunikasi di Wayne State University di Detroit, Michigan, Amerika Serikat (AS) itu mengatakan pada Pilpres 2014 terjadi polarisasi emosional di media sosial. Hal itu, terjadi dalam skala yang tidak pernah ditemukan sebelumnya.
"Persebaran berita begitu massif. Pengguna juga mulai melakukan 'bersih-bersih' pertemanan," kata dia.
Polarisasi yang memicu perdebatan tanpa ujung itu kembali mengerak belakangan hari. Ragam peristiwa turut memecah netizen menjadi beberapa kelompok yang saling berhadapan. Kunto berharap, kondisi itu bisa sedikit diredam dengan pola algoritma yang transparan.
"Pengguna harus sadar, ada algoritma dan bagaimana algoritma bekerja," ujar Kunto.
Sudah waktunya pula, kata Kunto, masyarakat membebaskan diri dari ketergantungan media sosial. Pola ini bisa dimulai dengan membiasakan diri untuk tidak terhubung dengan perangkat secara terus menerus.
"Memang ada juga penelitiannya, emosi bisa menular dengan cepat di media sosial," kata dia.
Pola komunikasi yang cenderung mengarahkan pengguna ke perdebatan ini dirasakan pula oleh Presiden Joko Widodo. Menurut dia, kebanyakan dari masyarakat Indonesia di media sosial hari ini seolah menjauh dari budaya ketimuran. Saling hujat dan menghina telah mengaburkan identitas bangsa sebagai negeri yang beradab.
"Perlu etika dalam media sosial," kata Jokowi, di Jakarta, Rabu (9/11/2016).
Perdebatan politik berbumbu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) menjadi konten paling rentan memicu permusuhan. Sementara dalam data APJII 2016 menyebutkan, sebanyak 108,6 juta pengguna menjadikan media sosial sebagai sarana dakwah agama. Oleh karenanya, diperlukan kemasan dakwah yang menyejukkan. Konten dengan muatan agama dan moral mestinya unjuk gigi sebagai sesuatu yang mampu membentengi masyarakat yang rawan provokasi di media sosial.
"Berdakwalah dengan penuh kearifan dan hikmah. Jika ada perdebatan, selesaikan dengan cara-cara terpuji," ucap Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj, di Jakarta, Jumat (2/12/2016).
Sumber : http://news.metrotvnews.com/read/201...i-media-sosial
---
Kumpulan Berita Terkait MEDIA SOSIAL :
-
Facebook Jajal Sembunyikan Iklan Sensitif-
Vine Berubah Jadi Vine Camera?-
Kini Anda Bisa Siaran Langsung dari Twitteranasabila memberi reputasi
1
435
1
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan