CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
From Cethe Town : Diary Siswa Biasa (True Story)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/583b20a0dac13ece3b8b4567/from-cethe-town--diary-siswa-biasa-true-story

From Cethe Town : Diary Siswa Biasa (True Story)

Quote:
emoticon-Ultah

Cover:


From Cethe Town : Diary Siswa Biasa (True Story)

NB: Sorry Bad Editing


Klik Link Berikut Untuk Melihat Daftar Chapter


Chapter 1.1 : Mimpi Awal dari Sebuah Cerita

Tak ada satupun hal yang spesial dalam hidupku untuk saat ini. Semua terasa membosankan, aku menjalani rutinitasku yang sewajarnya. Berangkat sekolah, belajar tak kurang dari tujuh jam kemudian pulang kerumah. Monoton. Seperti siklus hidrosfer yang berulang-ulang.

Tahun ini adalah tahun terakhirku di SMA, tak kurang dari lima bulan lagi aku lulus dari bangku sekolah. Itu artinya, sebentar lagi aku akan meninggalkan masa-masa yang orang bilang adalah masa-masa terindah dalam hidup seseorang. Masa putih abu-abu. Naik tingkat menuju bangku perkuliahan. Bermetamorfosis menjadi anak kos.

Aku memutuskan untuk melanjutkan studiku. Orangtuaku juga mendukung, karena pendidikan adalah prioritas utama yang harus dikejar selagi masih muda. Hal itulah yang menjadi masalah yang membuatku bimbang berhari-hari. Akan kemanakah tujuanku? Ini bukan persoalan remeh, tetapi menyangkut pilihan hidup.

Jujur saja, dalam pikiranku terlintas banyak tujuan, terlintas banyak angan-angan yang tak jelas. Semu nan memusingkan. Aku belum bisa memutuskan rencana akan kuliah dimana nantinya. Teman-temanku ada yang sudah santai dengan pilihannya, tapi tak jarang pula yang masih bimbang dengan dirinya sendiri. Sedangkan aku? Terjebak dalam sebuah labirin ketidakpastian.

Termasuk Eru, salah seorang sahabatku sekaligus konsultan atas segala permasalahanku sewaktu-waktu. Kurang lebih hampir lima tahun kami saling mengenal. Tumbuh bersama. Dengan berbagai pemikiran sederhana yang tak jarang pula terbilang gila. Dengan berbagai karakter yang berbeda. Meski demikian, ketika kami nongkrong bareng pemikiran kami terkoneksi satu sama lain. Dalam satu waktu, kami membicarakan banyak hal. Terkait tentang isu politik, cinta, filosofi, problem kehidupan, mimpi, angan-angan, serta apapun yang bisa dijadikan topik kami bicarakan.

Keseharianku dan Eru sama seperti pelajar lainnya, belajar dikelas lalu mengerjakan tugas. Hanya satu mungkin yang membedakan kami berdua dengan yang lain, persepsi dalam belajar yang cenderung santai dan selow. Bagi kami berdua belajar tak perlu serius, sesekali kita harus menikmati proses belajar tersebut dengan santai. Antara belajar dan relaksasi itu perlu seimbang, kami tahu kapan harus serius kapan harus bercanda. Tak jarang ia tertidur pulas ditengah-tengah pelajaran ketika suasana dalam kelas membosankan. Sedangkan aku, lebih senang berkarya abstrak dalam selembar kertas putih bergaris. Corat-coret pulpen tak jelas.

Kami berdua memiliki hobi yang berbeda. Aku adalah seorang blogger pemula, bagiku dunia blog memiliki keunikan tersendiri. Darisinilah ketertarikanku terhadap dunia kepenulisan berawal. Memposting bermacam-macam artikel, bercerita tentang pengalaman hidup, walau terkadang hanya sedikit visitor yang bersedia mampir untuk membaca karyaku. Selain itu aku juga suka bernyanyi dan menikmati lagu bergenre pop galau atau lagu barat. Musisi-musisi seperti Scorpion, Bruno Mars, Maroon V, Avril Lavigne, lagu-lagu mereka mendominasi perpustakaan musik dilaptopku.

Berbeda denganku, Eru adalah penggemar game. Tak tanggung-tanggung dia memainkan game secara totalitas tak peduli menghabiskan banyak waktu dan tenaga. Contoh saja dulu dia demen banget dengan Clash of Clan, game android yang pernah bertengger paling atas di playstore. Baru-baru ini, dia lebih sering menghabiskan waktunya untuk bermain dota 2 di laptopnya. Lebih jauh lagi flashback ke beberapa tahun yang lalu, ia penggila Stronghold Crusader. Bagiku, ia masih dalam batas wajar. Tak seperti anak-anak warnet yang sebelas dua belas sama abang Toyib, saking kecanduan game tak pulang-pulang ke rumah.

Ia adalah anak keempat dari lima bersaudara. Bapaknya adalah petani tembakau yang cukup terkenal didesanya. Berkilo-kilo atau berton-ton tembakau pernah hilir mudik dirumahnya. Setiap kali musim panen, jangan heran jika banyak rajangan tembakau dijemur dipekarangan rumahnya yang sederhana itu.

Meskipun ekonomi keluarganya tak terlalu mapan. Orangtuanya mampu menyekolahkan kedua abangnya hingga menjadi sarjana. Yang tertua adalah lulusan elektronika, pernah bekerja di Surabaya sebagai teknisi listrik. Sedangkan yang kedua adalah lulusan akuntansi, karena lebih menekuni bidang informasi dan teknologi, ia sekarang membuka usaha bengkel komputer sederhana dirumahnya sendiri. Saat ini, mbaknya Eru juga sedang melakukan studi, mengambil sarjana di kota sendiri. Entah, Eru akan menjadi seperti apa nantinya. Hanya dia dan Tuhan yang tahu.

Selain Eru, salah seorang sahabatku yang lain adalah Ardan. Dari awal kami berjumpa, disuatu masa orientasi sekolah, entah mengapa aku seringkali berbeda pendapat dengan dia. Mungkin karena perbedaan cara pandang kami terhadap sesuatu. Itu bukan menjadi sebuah permasalahan serius, bukankah perbedaan adalah hal yang wajar dalam persahabatan. Saling menghargai, itu yang penting.

Ia adalah anak tunggal, sama sepertiku. Orangtuanya memiliki usaha ayam potong. Meski tak terlalu besar, namun usahanya telah memiliki banyak pelanggan setia. Ia hobi menikmati musik, sama sepertiku. Dalam hal ini pun, kami punya sudut pandang yang berbeda pula. Selera musiknya tak sama denganku. Ia lebih gandrung ke musik blues dan rock, sedangkan aku lebih demen lagu pop galau nan mellow. Tak jarang aku dan dia memperdebatkan hal sepele tentang lagu siapa yang paling enak. Selain menikmati musik, dia merupakan seorang drummer dan sering tampil diberbagai event atau dikafe-kafe. Namun, akhir-akhir ini dia sibuk mengikuti bimbingan belajar demi ujian nasional serta ujian masuk perguruan tinggi.

Meskipun hobi kami berbeda, ada satu hobi sekaligus kegiatan rutin yang senantiasa kami lakukan yaitu nongkrong diwarung kopi alias ngopi. Entah itu seminggu sekali atau beberapa hari sekali. Berganti-ganti tempat tak menentu. Disanalah momen yang paling pas untuk kami bertukar pikiran dan membahas hal-hal baru. Bisa dikatakan, ngopi adalah sarana pemersatu diantara perbedaan-perbedaan yang ada.

***

Di suatu waktu yang membosankan, ketika jam istirahat sekolah berlangsung.

“Eh bro nanti sepulang sekolah ayo ngopi di warungnya pak Panjoel?” Aku mendekati Eru yang sedang duduk santai dibangku panjang didepan kelas. Menatap gadis-gadis anjay yang melintas berlalu lalang.

“Oke siap, sekalian nebeng pulang ya hahaha.” Wajahnya cengar-cengir. Ia selalu siap sedia jika diajak ngopi bareng, kecuali jika dia memang sibuk sungguhan.

“Ya udah gampang, gue yang traktir kopinya deh entar.” Sahutku, kemudian aku melangkah pergi menuju kekelasku yang hanya terpisah beberapa meter dari kelasnya.

Kelas dimulai pukul 10.00 WIB, pelajaran setelah ini adalah pelajaran Sosiologi. Aku sebenarnya tak terlalu tertarik dengan pelajaran ini. Masalahnya sederhana, karena ada sedikit kejenuhan akan berlembar-lembar tugas folio yang dulu diberikan oleh guruku ditahun lalu. Namun berhubung sekarang gurunya di-resuffle dan wataknya itu humoris nan asik kalau mengajar, sedikit demi sedikit aku mulai menikmatinya.

Bangku pojok belakang paling kiri, adalah tempat duduk favoritku. Tempat yang paling strategis dalam segala situasi. Bermain gadget ketika jenuh, tidur ketika mengantuk, atau yang paling menyenangkan, melirik-lirik teman perempuanku yang paling cantik dan aduhai dikelas.
Dari belakang aku mendengarkan penjelasan dari pak Udin tentang gejala-gejala sosial yang ada dimasyarakat. Sesekali bercanda dengan geng omes bangku pojok belakang.

Cukup beberapa menit beliau menyampaikan subtansi-subtansi dari materi pelajaran, selebihnya dia mendongeng kisah-kisah berdasarkan realitas sehari-hari. Ekspresi wajahnya yang luwes dan jenaka, dengan nada bicaranya yang mengandung unsur tawa, membuat para siswa betah jika diajar olehnya. Jika peribahasa mengatakan sambil menyelam minum air, maka pak Udin memiliki ungkapan tersendiri “Sambil mengajar, tak apalah stand up comedy”.

Kali ini beliau membahas masalah kenakalan remaja. Hal yang sangat mengkhawatirkan di era modern ini.
“Anak-anak, diusia-usia kalian sekarang, itu rawan sekali terjadi hal yang tidak-tidak. Ada yang hamil diluar nikahlah, minuman keraslah. Bikin malu orangtua. Moral bangsa ini diambang kehancuran jika tidak segera dibenahi.” Pak Udin bercerita dengan nada serius, seluruh kelas merenung diam. Tak ada satupun yang berkomentar.

“Begini ya, misalkan kalau kalian yang perempuan hamil diluar nikah, masih untung kalau ada yang mau tanggung jawab. Coba kalau tidak, ada banyak diluar sana yang digilir beramai-ramai oleh pria yang tak bertanggung jawab. Masalahnya satu, karena mereka salah pergaulan. Kalian mau seperti itu? Makanya saat ini pergaulan kalian mesti dijaga, mumpung masih muda. Jangan berpikiran bahwa main begituan enak, halah itu hanya sesaat dan mudharat-nya berat.” Beliau melanjutkan dengan penuh takzim.

“Oleh sebab itu, untuk yang laki-laki jangan mikir nikah saja. Kontrol nafsu, pertebal iman. Setelah lulus kalian harus cari keahlian, kursus atau sejenisnya. Kuliah? Halah buat kalian-kalian ini kuliah bukan jaminan, sekarang banyak sarjana pengangguran, mereka terlalu gengsi untuk bekerja kasar. Baru jika sudah punya penghasilan dan punya calon, mikir berumah tangga. Untuk yang perempuan, setelah lulus lebih baik segera menikah kalau sudah ada calon agar terhindar dari zina. Saya tanya, kalian kalo cari calon suami itu seperti apa?” Pembicaraan mulai serius, gurat wajah beliau berubah.

“Yang tampan pak, menyenangkan jika dipandang, membuat hati tentram dan nyaman.” Salah satu temanku perempuan menjawab. Disusul jawaban-jawaban lain yang hampir senada. Mengangguk setuju.

“Halah, tampan bukan jaminan. Tampan atau cantik itu relatif, sedangkan jelek itu realitas. Cinta tak selalu jadi prioritas. Perempuan pintar, cari suami itu yang mapan. Cinta bisa diurus belakangan, memang kalian mau hidup keteteran sewaktu berumah tangga hanya karena termakan cinta buta. Malah ujung-ujungnya nanti perceraian. Gini ya saya kasih tahu, menikah itu enaknya hanya 10% !” Pak Udin kembali memberikan statement yang cukup mengejutkan kami.

“Saya pertegas kembali, kalian ingat ini baik-baik! Menikah itu enaknya hanya 10%...”

Aku pun dalam hati bertanya heran, mungkin benar apa yang beliau sampaikan. Manisnya hanya dimalam-malam pertama setelah menikah, selebihnya mungkin akan banyak rintangan dan badai dalam rumah tangga. Aku menyimak serius. Beliau penuh tanda tanya.

“Yang 90%....”Kata-kata beliau terpotong.

Seluruh kelas hening, menahan nafas sambil menunggu kata-kata berikutnya.

“Ueeeeeeenaaaaaaaaaaakk.” Ekspresi serius tadi berubah menjadi jenaka, seketika suasana kelas mencair. Semua tertawa terpingkal-pingkal. Jawaban yang sungguh tak dinyana muncul dari sosok pak Udin.

Satu hal yang aku salut dari pak Udin. Dalam proses pembelajaran, beliau menekankan prinsip kejujuran. Proses adalah segalanya, sedangkan nilai itu bukan penentu utama. Meski terkadang itu adalah hal-hal yang menjadi target utama bagi para pelajar, dengan menghalalkan berbagai cara.

Beliau juga lebih menekankan kepada praktik bukan hanya teori-teori belaka. Untuk apa belajar teori jika pada penerapannya kosong. Lebih baik langsung ke praktik dengan sedikit teori, itu akan mempermudah siswa dalam memahami materi.

***

Pukul 14.30 WIB, bel pulang berbunyi. Aku segera melangkah keluar kelas. Memenuhi janji yang kubuat dengan Eru pada jam istirahat tadi.
Banyak siswa dengan seragam putih abu-abu berlalu lalang, membawa tas dan helm dengan beragam warna. Mereka bergegas menuju tempat parkir, hendak pulang kerumah. Aku tetap berjalan, cukup beberapa menit aku sampai didepan kelas Eru.

Eru yang juga duduk dibangku paling belakang sedang bersiap mengemasi buku-buku yang berserakan dibangkunya,

“Bentar ya Megg.” Sahut dia kearahku. Kembali terfokus memasukkan buku itu satu persatu kedalam tasnya.
Aku mengangguk, mencoba mencari kesibukan lain sembari menunggu dia mengemasi barang-barangnya.

“Oke, let’s go.” Tak perlu menunggu lama, dengan jaket warna hijau pupus beserta helm hitam tanpa kaca penutup muka itu, ia berjalan santai. Aku berjalan dibelakangnya sambil sedikit memainkan kunci motorku, kulempar keatas pelan lalu kutangkap dengan sigap. Meski sesekali tanganku meleset, kunci itu jatuh ke lantai.

Butuh beberapa menit untuk keluar dari sesaknya parkiran sekolah yang luasnya terbilang cukup sempit. Motorku terjebak diantara motor-motor lainnya. Akibat sempitnya lahan parkir, suasana diparkiran itu lumayan pengap.

“Gue bantu Megg, biar gue yang mindahin motor ini, keluarin motor lo gih.” Tangannya menyambar motor yang tadi hendak kupindahkan ke ruang kosong diantara rentetan-rentetan motor lainnya karena menghalangi jalan keluar. Dengan cekatan ia memindah motor tersebut.
Beberapa menit, akhirnya motorku dapat dikeluarkan. Kuhidupkan motorku lalu kutancap gas pelan, bersamaan dengan siswa-siswa lain yang juga hendak meninggalkan sekolah.

Tepat setelah keluar dari gerbang sekolah, aku langsung menambah kecepatan. Menuju warung “Mas Panjoel” yang jaraknya tak jauh dari sekolahku. Sesampai disana kami langsung mencari posisi yang pas untuk ngopi. Aku duduk disalah satu meja yang kosong. Meletakkan tasku disampingku.

Eru perlahan menuju ke tempat pemilik warung untuk memesan dua kopi ijo dan juga sebungkus rokok mild untuk menemani sore ini.
Setelah memesan, ia melangkah menuju posisiku. Tangannya melemparkan sebungkus rokok tadi ke meja. Kemudian sebuah korek api bensol diletakkan didekat rokok itu. Aku meraihnya, kunyalakan sebatang rokok tadi lalu kuhisap pelan dan kunikmati setiap kepulan asap.

“Eh bro, lo udah mikir belum habis ini mau kuliah dimana?” Aku mulai membuka pembicaraan.

“Gue udah memutuskan kalau gue bakalan kuliah ke Jogja bro.” Dengan santai dia menjawab.

“Yah enak, lo udah punya tujuan. Gue bingung nih, banyak opsi yang bikin gue susah milih.” Jawabku dengan ekspresi sedikit bingung.

“Tapi mungkin gue bakalan kuliah di Malang. Orangtua gue mendukung kalau gue kuliah disana.” Aku menyambung pernyataanku barusan tanpa sempat ia berkomentar.

“Santai sob, masih lama kok. Lo pikir matang-matang aja dulu. Siapa tau dapet hidayah dari langit, hehe.” Dia mencoba menghiburku yang sedang dilanda kebingungan. Dengan sedikit banyolan.

Disela-sela perbincangan kami, pesanan Eru tadi telah sampai ke meja kami. Diantar oleh mas-mas pelayan warung. Dua gelas kopi ijo bercampur susu putih kental.

Kopi ijo adalah kopi khas dari kotaku, Tulungagung. Kopi ini dinamakan kopi ijo bukan karena warnanya yang murni hijau. Melainkan karena proses pembuatannya yang benar-benar teliti, kopi disangrai cukup lama lalu dihaluskan sampai bubuknya benar-benar lembut. Ketika diseduh warnanya seperti kopi pada umumnya, hitam gelap.

Namun, cita rasalah yang membedakan kopi ini dengan kopi lainnya. Sesuatu yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, pahit pasti namun ada sentuhan khas. Ampas dari kopi ini juga bermanfaat. Orang-orang yang senantiasa ngopi, biasanya memakai cethe (ampas kopi) sebagai pelengkap rokok. Mereka mengoleskan secara halus cethe yang masih berupa cairan lembut tadi ke rokok mereka. Hampir mirip seperti lotion. Bagi para pecinta seni, hal ini juga dapat dijadikan ajang kreasi untuk membatik diatas rokok. Tentu dengan teknik tertenu untuk menghasilkan motif yang bagus. Aroma dari rokok yang dilapisi cethe juga memiliki ciri khas tersendiri. Rasanya berubah seperti ada aroma-aroma kopi hijau tadi.

Berbicara tentang Tulungagung, mungkin begitu asing ditelinga masyarakat. Kota ini berada disisi paling selatan dari wilayah Jawa Timur. Kota ini memang tak terlalu dikenal, tak dapat dibandingkan dengan Jakarta, Surabaya, atau Yogyakarta. Namun, kota ini menyimpan kejaiban kecil. Pesona alam yang luar biasa, pantai-pantai yang belum terjamah maupun yang sudah. Selain itu, kota ini punya catatan historis yang terekam dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, sejak era prasejarah. Fosil homo wajakensis pernah ditemukan didaerah Wajak, diteliti oleh sejarawan-sejarawan Belanda. Ada banyak juga arca-arca di kota ini, serta candi-candi peninggalan zaman dulu. Sebagai pengingat, perlu dicatat juga bahwa kota ini adalah salah satu penghasil marmer terbesar di Indonesia bahkan di Asia Tenggara.

Kembali ke topik perbincanganku dengan Eru.

“Er, besok ada sosialisasi tentang universitas kan di aula?” Aku bertanya kepada Eru yang sedang asik membatik halus diatas rokoknya dengan sebatang tusuk gigi kecil.

“Yap, jam delapan pagi.” Dia menjawab pertanyaanku sekenanya, masih terfokus pada rokoknya. Meski patut diacungi jempol, ukirannya abstrak tak jelas.

‘Semoga besok gue udah punya jawaban atas kebingunganku selama ini.’Aku bergumam sendiri dalam hati.

Selepas itu, kami membicarakan beberapa hal yang kurang penting. Sesekali terkait persiapan ujian masuk perguruan tinggi melalui jalur tulis. Eru masih santai-santai saja. Aku sesekali menyindir dia, padahal aku sendiri telah mencicil materi sedikit demi sedikit.

Hari mulai sore, aku memutuskan untuk pulang ke rumah. Kami beranjak dari tempat duduk kami, lalu beringsut meninggalkan warung kopi tersebut. Aku menghidupkan motorku, dia duduk dibelakangku. Kutancap gas sedang, dan kunikmati perjalanan pulang sore itu. Bersama langit yang mulai berubah warnanya.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
fransjabrik dan 7 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh sandriaflow
Halaman 1 dari 5
Chapter 1.2 : Mimpi Awal dari Sebuah Cerita

Pukul 08.00 WIB, seluruh siswa berkumpul di aula sekolah. Acara sosialisasi perguruan-perguruan tinggi dari para alumni sekolahku hendak dimulai.

Aku duduk didekat Eru dan Abi yang merupakan wakil ketua kelasku.

“Eh Megg, lo pengen kuliah dimana?” Abi bertanya kepadaku. Mukanya yang cukup maskulin, dipenuhi rasa penasaran.

“Entahlah, gue bingung. Lo sendiri gimana?” Sambil menggaruk-garuk kepalaku, aku bertanya kembali kepada Abi.

“Sama Megg, gue bingung juga.” Ekspresinya kurang lebih sama sepertiku, ekspresi orang yang belum memiliki tujuan. Tak tentu arah.
Disela-sela perbincangan kami, acara sosialisasi ini dibuka oleh salah satu guru bimbingan dan konseling disekolahku. Dilanjutkan oleh penyampaian-penyampaian sosialisasi oleh kakak kelas dari berbagai almamater perguruan tinggi di Indonesia, mayoritas didominasi oleh universitas yang berada di pulau Jawa. Berhubung jarang sekali, alumni yang melanjutkan studi diluar pulau Jawa.

Tayangan slide demi slide dilayar proyektor ditampilkan bergantian. Kulihat lamat-lamat, meski tak jarang mataku sedikit kabur karena kurang jelas. Kadang diselingi video dokumenter tentang universitas mereka agar lebih jelas potret dan keadaan lingkungan di universitas mereka.
Pada awalnya semua siswa menyimak secara tenang dan serius. Namun mendekati siang hari, fokus mereka semua hilang. Kebanyakan mereka bercanda dan bergurau. Malah ada yang sibuk memainkan gadgetnya sendiri-sendiri. Kakak-kakak alumni masih terus menyampaikan materi meski tak digubris.

Eru didekatku sudah tertidur pulas. Aku hanya menggeleng-geleng kepala. Hanya Abi yang masih tetap fokus mendengarkan. Aku terlalu bosan berlama-lama di aula, ingin segera keluar meninggalkan aula yang pengap ini.

Menurutku, cara penyampaian kakak-kakak alumni kurang menarik, monoton. Konsepnya kurang lebih itu-itu saja, lebih baik aku mencari informasi dari internet saja terkait universitas-universitas di Indonesia. Toh itu sama saja.

Ditengah-tengah kebosananku, salah seorang pembicara dari salah satu universitas ternama di Indonesia memasuki aula. Ia kemudian menyampaikan sekilas tentang almamaternya. Dia bukanlah salah satu alumni dari sekolahku. Namun diundang oleh ketua panitia. Entah ada angin apa, aku tertarik mendengarkan presentasi darinya. Kata-katanya seperti menghipnotis, memicu setiap angan-angan yang tercerai berai menyatu menjadi satu.

Tak kurang dari lima menit ia berbicara didepan aula. Sebelum ia menutup presentasinya, ia memberikan sepatah kalimat yang menurutku itu sangat memotivasi.

“Temen-temen, berhubung belum ada satupun kakak-kakak alumni dari kalian yang mampu menaklukkan universitas ini. Maka kalianlah yang harus menaklukkannya nanti, kalianlah yang harus mengisi salah satu kursi di universitas ini dari sekian banyak pesaing dari sekolah lain dari Sabang sampai Merauke. Kalianlah yang nanti akan jadi jalan pembuka bagi adik-adik kelas kalian. Sekian, terimakasih.” Itu adalah kalimat penutup darinya sekaligus sebagai motivasi untukku.

Quote:


Awalnya aku tak tertarik sama sekali untuk kuliah disana. Dikarenakan faktor jauh dari tempat tinggalku yang membuat aku enggan kesana.
Disatu sisi, perjuangan menembus universitas itu sangat sulit. Jujur, tak ada satupun alasan kuat untuk kuliah disana.
Namun spontan, obsesi bodoh untuk bisa kuliah disana terlintas sejenak dipikiranku. Ah, buru-buru aku melupakan itu. Aku masih bingung dengan opsi-opsi lainnya yang harus kupertimbangkan.

“Eh Megg, udah selesai ya acaranya?” Eru tiba-tiba terbangun dari tidurnya.

“Udah, lo tidur aja lagi. Paling-paling sebentar lagi usai.” Aku menyeringai, sedikit tertawa menatap wajah masamnya. Jerawatnya sepertinya beranak pinak, lebih banyak dari beberapa hari yang lalu.

“Ini udah urutan ke berapa?” Ekspresi wajahnya bertanya penasaran.

“Entahlah, gue nggak ngitung tadi.” Aku menjawab sekenanya.

Ditengah heningnya suasana aula karena semua sudah mulai lelah mendengarkan, salah satu alumni bukannya menyampaikan sosialisasi tentang almamaternya malah berorasi dari menit awal hingga akhir. Teriak-teriak memenuhi seluruh aula, suara berat dan serak itu terdengar meledak-ledak. Cumiikkan semangat-semangat baru menjadi mahasiswa. Membahas tentang perubahan, pembangunan negeri, keberanian melawan penindasan, atau apalah. Perlahan suaranya memecah keheningan aula yang beberapa detik lalu senyap.

Beberapa siswa menutup telinga masing-masing karena tak kuat menahan teriakannya tadi. Sisanya, tak mempermasalahkan hal itu.

“Njirr, keren bro. Mahasiswa tukang demo tuh, hahaha.” Eru tertawa gelagapan. Matanya masih tampak sedikit kemerah-merahan.
Aku mengangguk sambil tertawa kecil.

Beberapa saat kemudian, acara itu usai. Dilanjutkan dengan acara bazar kampus dihalaman sekolah. Para siswa yang ingin bertanya atau berkonsultasi, mereka langsung menuju stand-stand universitas yang mereka impikan. Semua siswa memenuhi halaman sekolah. Aku sengaja ikut-ikutan, barangkali ada inspirasi dan solusi atas kebimbanganku.

Ada beberapa stand yang ramai dikerumuni siswa, ada juga yang begitu sepi karena tak ada yang mampir. Melihat kerumunan-kerumunan itu, bukannya mendapat solusi malah aku tambah bingung, diam tak tahu harus berbuat apa. Saat itu, aku hanya meminta selembaran pamflet dari kakak kelas dari berbagai almamater. Kemudian aku pulang, memikirkan langkahku selanjutnya dirumah dengan matang. Dengan cepat aku meninggalkan bazar tersebut.

***

Malam hari, aku mencoba bertanya kepada ibuku. Meminta pendapat. Seperti biasa beliau sedang duduk khidmat menikmati sinema Uttaran disalah satu televisi swasta. Ketika ibuku sudah seperti itu, mengganti channel adalah hal yang mustahil kulakukan. Takut menjadi anak durhaka, aku rela berlapang dada melihat TV satu-satunya dikuasai ibuku.

“Buk, bisa bicara sebentar?” Aku membuka suara, volume televisi diturunkan. Icha dan Tapasya masih sibuk bertengkar, sepertinya adegannya lagi memanas.

“Iya, ada apa nak?” Ibuku bertanya lembut. Sesekali masih melirik pertengkaran mereka di TV.

“Aku setelah ini enaknya kuliah dimana?” Aku meminta pendapat dari ibuku.

“Ya terserah kamu nak, di Malang saja dekat. Nanti bisa berkunjung kerumah beberapa minggu sekali.” Jawab ibuku pelan, menenangkan.
“Kalau semisal, aku ingin kuliah di Depok gimana buk?” Setengah takut aku menanyakan hal itu, walaupun aku sudah menduga bahwa ibuku akan keberatan. Berhubung aku adalah anak tunggal.

“Kok jauh sekali nak, disana kan nggak ada temen, ibu nggak rela kamu kuliah disana. Takut kalau misalkan ada apa-apa.” Gurat wajahnya berubah serius, dia sungguh keberatan dengan pernyataanku barusan.

“Tapi disana kan ada mas Kurnia bu, jadi kalau apa-apa bisa minta bantuanya.” Aku mencoba membujuk.

Ibuku diam saja, beliau belum berani merestui. Ibuku mencoba menelpon bapakku, meminta pendapatnya. Bapakku bekerja diluar negeri, hanya sebagai seorang TKI di Brunei Darussalam. Hampir sepuluh tahun beliau bekerja disana, kemudian berhenti sejenak. Kurang lebih hampir empat tahun menghabiskan waktu dirumah, mencari nafkah di negeri sendiri, meski hasilnya tak seberapa.

Bapakku kembali lagi ke Brunei untuk mencari biaya kuliah. Beliau merasa jika bekerja dirumah tentu tidak cukup nantinya. Sebenarnya aku sedikit sungkan memberatkan orangtuaku, namun orangtuaku memberitahuku bahwa itu sudah kewajiban sebagai orangtua untuk mendukung anaknya sepenuhnya. Mereka ingin melihatku sukses, melihatku berpendidikan tinggi. Mereka ingin anaknya bekerja tanpa menggunakan tenaga kasar.

Inilah salah satu alasanku yang kuat untuk kuliah. Sukses adalah misi wajib dalam hidupku. Aku ingin membuktikan konsep mobilitas sosial yang pernah diajarkan pak Udin. Bahwa jika bapakku hanyalah seorang buruh di negeri tetangga, maka aku harus menaikkan derajat keluargaku setelah lulus kuliah nanti. Entah jadi seorang guru ataupun sosok yang lain. Itulah tujuanku, aku tak ingin menyia-nyiakan perjuangan orangtuaku. Aku bahagia memiliki orangtua seperti mereka, meski sederhana bagiku itu sudah cukup.

Mendengar percakapan mereka ditelepon. bapakku sepertinya sependapat dengan ibuku. Jarak antara Tulungagung dan Depok terlalu jauh, takut nanti terjadi apa-apa denganku. Disana kehidupan keras tak seperti di Tulungagung. Pergaulan bebas, kriminalitas cukup tinggi. Maklum kota metropolitan.

Aku masih tetap keras kepala, mencoba membujuk dengan berbagai cara. Setelah beberapa waktu, akhirnya orangtuaku menyetujuinya. Ibuku luluh sesaat. Hatiku sedikit lega. Aku tak pernah menyangka ada niat untuk kuliah disana, padahal tujuan awalku hanyalah kota Malang. Entahlah, ini adalah mimpi spontanitas yang muncul gara-gara sepatah kalimat di aula sekolah. Aku tak peduli ini akan menjadi nyata atau tidak, yang jelas aku akan berusaha semampuku. Demi mimpi gila itu.

Keesokan harinya dibangku depan kelas, aku memberitahukan hal ini kepada Eru.

“Wih gue dukung lo sob, gue kemarin juga baru berdiskusi sama abang gue.” Eru terlihat sumringah mendengar penjelasanku tentang mimpi gilaku itu.

“Emang diskusi tentang apa Er?” Aku bertanya penasaran.

“Abang gue mendukung kalau gue kuliah di Jogja. Tapi dia berharap banget gue bisa diterima di Universitas Gajah Mada. Mau nggak mau gue terpaksa mengangguk, yah semoga aja nanti jalannya dipermudah.” Eru menjelaskan, matanya berkaca-kaca. Aku mengangguk-angguk, mengucapkan kata-kata penuh dukungan kepada dia.

Ternyata, bukan hanya aku yang memiliki mimpi gila dan obsesi bodoh. Ada dia, yang memiliki mimpi gila setara denganku. Sesekali kita tertawa, terkadang meragukan diri kami sendiri. Melihat keadaan kami yang sekarang, rasa-rasanya tak ada kelayakan sama sekali untuk menyandang almamater universitas ternama itu. Masih ada langit diatas langit, tapi kami akan berusaha semaksimal dengan cara kami masing-masing.

Quote:

profile-picture
profile-picture
profile-picture
fransjabrik dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh sandriaflow
Wuidih mantab kali genk apdetanye
Lanjutken...
hura, another great story emoticon-Jempol
semangat ya TS
lanjutkan



Quote:


bah, lu dah dimari pulak nyo ? emoticon-Big Grin
Numpang tidur gan. Nunggu update Tan. Ceritanya mangtaps
Thank you gan... ane bakal usahain sering updateemoticon-Big Grin
Quote:



Chapter 2.1 : Kegagalan Awal, Langkah Baru

Bulan Februari, hari-hari berlalu tanpa kusadari sejak impian gila itu muncul. Pendaftaran seleksi masuk perguruan tinggi lewat jalur undangan telah dibuka atau biasa dikenal dengan sebutan SNMPTN. Semua orang sibuk mengisi daftar nilai rapot secara online, mengisi borang, melalui beberapa prosedur sekaligus menentukan pilihan universitas dan jurusan.

Tak perlu berpikir banyak, aku pada saat itu memilih jurusan Antropologi di Universitas Indonesia. Aku tahu, sebenarnya itu adalah hal yang mustahil untukku taklukkan lewat jalur ini. Dari awal mendaftar, aku sudah mempersiapkan berbagai skenario buruk jika nanti aku gagal. That’s simple thingking.

Alasan mengapa aku cukup optimis untuk gagal dijalur ini adalah karena tak ada satupun alumni yang kuliah disana apalagi pernah diterima disana lewat jalur ini. Satu hal lagi, SMA-ku adalah sekolah yang tak terlalu terkenal. Luas bangunannya hanya beberapa hektar, sekitar setengah luas lapangan sepakbola. Aku sadar, masih ada sekolah-sekolah lainnya yang punya prestise lebih tinggi dibandingkan sekolahku.

Menurutku sendiri, mendewakan jalur ini adalah hal terbodoh yang pernah dilakukan oleh mereka yang menyandang status pelajar. Maaf jika mengandung sarkasme, memang peluangnya sangat minim. Meskipun nilai mereka dirapot itu bagus, belum tentu hal itu akan membuat mereka dengan mudahnya diloloskan.

Aku berpikir, lebih baik belajar mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi melalui ujian tulis serentak secara nasional atau biasa dikenal dengan sebutan SBMPTN, daripada mengharap sesuatu yang tak jelas seperti jalur undangan tadi.

Quote:


Dibangku depan kelas, pada jam istirahat seperti biasa aku bercakap-cakap santai dengan Eru.

“Eh lo udah mendaftar dijalur undangan belum?” Aku bertanya kepada Eru, mencoba memberikan topik yang serius. Walaupun sudah kuduga, dia akan menjawab belum.

“Ah santai dululah, gue masih menikmati party di game yang kemarin. Mungkin minggu depan gue daftar, Lo sendiri gimana Megg?” Eru bertanya balik kepadaku.

“Gue udah daftar tadi malem.” Jawabku singkat dan jelas.

“Wihh, Universitas Indonesia.” Tanpa perlu kujelaskan dia terlebih dulu menebaknya. Aku tertawa kecil. Tangannya menepuk-nepuk bahuku ringan.

Perbincangan kami tak berlangsung lama, aku meninggalkan Eru dan pergi menuju kantin sekolah. Mencari cemilan ringan sebelum jam istirahat selesai. Melewati kerumunan siswa yang sedang mengantri untuk membayar ke ibu kantin, ada yang membawa mangkuk berisi soto ayam, duduk sambil menikmati makanannya. Terdengar suara sendok memenuhi langit-langit kantin tersebut.

Aku membeli sebungkus roti dan juga teh poci dalam gelas plastik ukuran cup, kemudian langsung kembali menuju ruang kelasku.
Jam ini adalah jam pelajaran Bu Sri, guru ekonomi disekolahku. Beliau adalah seorang guru yang sangat kuhormati. Sosok yang disiplin, berkarakter, dan tentunya sering memberikan cerita-cerita motivasi dikelasku. Cara penyampaian materinya mudah dipahami, candaan khas beliau juga mampu membuat suasana kelas tak terlalu serius. Orangnya sungguh supel dan cekatan, itu yang menjadi ciri khasnya. Motto hidup beliau adalah untuk tetap berjuang dan melakukan yang terbaik dalam segala hal.

“Anak-anak, kurang dua bulan lagi sudah ujian nasional. Mohon belajarnya ditingkatkan, apalagi tahun ini ujian nasional disekolah kita berbasis komputer.” Setelah menyampaikan beberapa materi tentang konsep-konsep manajemen serta konsep-konsep akuntansi pada perusahaan dagang, beliau tak lupa berpesan kepada kami untuk belajar yang giat.

“Meggy, kamu setelah ini rencananya mau kuliah dimana?” Bu Sri bertanya kepadaku yang sedang duduk termenung dibelakang. Bisa dikatakan aku adalah murid paling rajin dikelasku jika dibandingkan dengan yang lain, dari kecil aku biasa menduduki peringkat antara rank satu sampai rank sepuluh. Makanya banyak guru yang hafal dengan denganku.

“Ehm, ini masih pikir-pikir bu.” Aku menjawab setengah ragu, setengah berbohong. Tak mungkin aku berterus terang, itu sungguh gila. Bisa-bisa aku ditertawakan oleh beliau.

“Yah minimal bisa kuliah diluar kota, kejar pendidikan setinggi mungkin. Banyak diluar sana yang sistem pendidikannya lebih bagus dibandingkan dengan yang ada di kota ini.” Beliau menasihatiku lantas menuju kedepan kelas untuk melanjutkan materi yang hanya tinggal beberapa sub bab lagi habis.

Detik demi detik masih bergerak, menit masih terus bergulir, jam perlahan bergeser naik ke angka berikutnya. Semakin siang, mata ini tak dapat diajak kompromi. Ingin rasanya aku tidur didalam kelas karena tak kuat menahan kantuk yang sungguh menyiksa. Terlebih tepat disebelah kelasku adalah areal persawaan. Semilir angin berdesis pelan, memasuki pentilasi-pentilasi kaca jendela. Tak kalah dengan pendingin ruangan. Suara desauannya begitu kencang, membawa virus-virus ngantuk didalam kelas.

Waktu yang pas untuk tidur siang. Namun itu tak kulakukan, demi menghormati sejengkal ilmu yang diberikan oleh pahlawan moral tersebut, aku mempertahankan mataku dalam kondisi terjaga.

Aku masih melihat jam tanganku, waktu masih menunjukkan pukul sebelas lebih dua puluh menit. Bel pulang masih cukup lama. Ah, sudahlah.

Sepulang sekolah aku berencana pergi ke toko buku untuk mencari salah satu buku yang memuat kumpulan soal seleksi masuk perguruan tinggi lewat jalur tulis. Meskipun aku tidak ikut bimbingan belajar, minimal dengan buku itu aku akan punya modal yang dapat menunjang kemampuanku nantinya.

Ketika bel pulang telah berbunyi, aku langsung bergegas menuju parkiran sekolah. Kupacu motorku dan dengan segera motor itu telah melaju kencang dijalan raya. Melewati kerumunan kendaraan yang ramai lalu lalang, melewati beberapa lampu lampu lalu lintas. Sesekali mataku melirik genit jijik kearah pak polisi yang sedang berjaga diposnya.

Beberapa menit kemudian, aku sampai di toko buku. Kulihat banyak macam buku berjejer rapi di rak-rak. Ada juga yang ditumpuk secara teratur diatas meja panjang. Aku berjalan menyusuri buku-buku tersebut. Novel, buku fiksi, cerita anak, komik remaja, dan sejenisnya. Sekilas kubaca satu persatu judul buku yang ada disana. Tanpa ada yang membekas satupun.

Aku kemudian berhenti disalah satu meja yang diatasnya tertumpuk beragam kumpulan soal-soal ujian masuk perguruan tinggi. Kulihat halaman demi halaman secara kilat dan kubandingkan antara satu buku dengan buku yang lainnya dari berbagai macam penerbit.

Tanpa sengaja, aku meihat sebuah buku yang berisi kumpulan soal-soal ujian masuk Universitas Indonesia atau bisa disingkat SIMAK UI. Aku berencana mendaftar disana lewat jalur ini, bukan jalur tulis serentak secara nasional. Minimal jika nanti aku gagal menaklukkan impianku itu, aku masih punya jalan lain. Aku tak terlalu bodoh untuk mengambil resiko yang sama.

Kuputuskan untuk membeli dua buah buku saat itu yaitu buku yang berisi kumpulan soal-soal SBMPTN dan buku yang berisi kumpulan soal-soal SIMAK UI.

Langit mulai mendung, aku segera meninggalkan toko buku itu. Ingin rasanya aku cepat sampai dirumah untuk membaca buku baru itu. Diperjalanan pulang aku sungguh tidak sabar.

Astaga, ditengah-tengah jalanan hujan deras mengguyur seluruh aspal jalanan. Hampir saja aku kebasahan, segera aku menepi disalah satu toko baju yang cukup besar dipinggir jalan. Aku tak sabar menanti hujan reda, dengan cepat kubuka jok motorku dan kuambil jas hujan disana. Perjalanan pulang yang sempat tertunda beberapa menit itu kembali dilanjutkan.

Meskipun hujan turun deras dan angin berhembus cukup kuat, aku tetap memacu motorku. Kuabaikan semua itu. Badai pasti berlalu, aku tahu itu.

Satu langkah awal kumulai dari sini, aku akan belajar dan berusaha. Meskipun aku tak mengikuti bimbingan belajar, itu bukan ancaman. Tekad kuatlah yang membuatku yakin untuk menaklukkan mimpiku itu.
profile-picture
profile-picture
fransjabrik dan coxi98 memberi reputasi
Diubah oleh sandriaflow
Chapter 2.2 : Kegagalan Awal, Langkah Baru

Memasuki bulan April, berlembar-lembar halaman buku yang kubeli beberapa saat yang lalu sudah kubaca seksama, meski mayoritas aku tak paham. Diselingi beberapa materi ujian nasional.

Ujian nasional tahun ini disekolahku berbasis komputer. Awalnya memang menakutkan, jika sekali saja keliru memasukkan password dan username, atau salah prosedur. Semua itu kulewati dengan lancer, tak ada hambatan. Aku cukup optimis dengan hasilnya nanti.

Di pertengahan bulan ini, pendaftaran SIMAK UI telah dibuka. Aku begitu bersemangat kala itu. Kubuka laptopku dan kunyalakan koneksi internet yang kebetulan tersambung dengan wifi disekolahku.

Darahku berdesir, mimpi itu seperti lebih dekat. Mungkin ini terlihat seperti terlalu berlebihan, namun faktanya itulah yang kurasakan. Aku membuat akun terlebih dahulu, mengisi identitas diri dengan menggunakan alamat surelku. Tak peduli ada berapa banyak anak diluar sana yang jauh lebih pintar dariku yang mendaftar di jalur ini. Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri, tak perlu minder. Lakukan yang terbaik, just do it. Kalah atau menang, biar Sang pemilik hidup yang mengatur.

Setelah membuat akun, aku mengisi borang pendaftaran. Dimulai dari nama, nomor induk siswa sekolah, dan seterusnya. Hingga tiba pada form pemilihan jurusan. Jujur saja, aku tak berani mengambil jurusan yang passing grade-nya terlalu tinggi. Amboi, perjuanganku akan jadi lebih susah nantinya. Saat itu, aku mulai tertarik dengan bahasa asing, meskipun pada awalnya aku lebih nyaman dengan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan masalah sosial dan ekonomi. Namun setelah kupikir-pikir, aku lebih tertarik dengan bahasa asing. Alhasil, Sastra Belanda-lah yang kupilih. Memang ini jurusan yang paling jarang diminati, kupikir peluangku akan lebih besar jika memilih itu. Pilihan keduaku jatuh kepada Ilmu Perpustakaan. Entahlah, mungkin aku terlalu ngawur untuk yang satu ini.

Kala itu, aku duduk didekat tangga aula. Tepat disampingku ada Abi yang juga tengah asik memainkan laptopnya.

“Eh Megg, Lo lagi ngapain sih?” Jari-jarinya perlahan berhenti memainkan keyboard-nya, fokusnya teralihkan kearah layar laptopku.

“Wihh, lo jadi daftar kesana. Ngomong-ngomong ngambil jurusan apa?” Tanpa sempat aku menjawab, dia kembali bertanya kepadaku.

“Sastra Belanda bro.” Aku menjawab datar, sedikit tersenyum.

“Keren deh, sukses buat elo Megg. Bisa jadi sejarawan lo nanti.” Abi menepuk-nepuk bahuku. Aku mengucapkan terimakasih atas dukungannya. Meskipun sedikit tak paham dengan ungkapan ‘menjadi sejarawan’ tersebut.

Beberapa hari kemudian, aku membayar biaya pendaftaran disalah satu bank. Sengaja aku bangun pagi dan berpakaian serapi mungkin. Bergegas menuju bank yang terletak sebelah timur dari pusat kota.

Ini adalah pertama kalinya aku memasuki bank sendirian. Aku melihat-lihat suasana didalam bank, seperti orang linglung. Aku disambut oleh suara telepon yang berdering, pengharum ruangan yang begitu semerbak. Ada beberapa orang yang sedang melakukan transaksi pagi itu, tak terlalu ramai.

Seorang satpam berseragam putih dengan perangai yang gagah menghampiriku.

“Ada yang bisa dibantu dek?” Satpam itu bertanya ramah. Ia tahu aku sedang kebingungan.

“Saya mau membayar biaya seleksi pendaftaran pak.” Jawabku sedikit menunduk.

Tanpa banyak bicara satpam itu mengambil secarik kertas transaksi berisi form-form biodata dan tujuan-tujuan transaksi, lalu menyerahkannya kepadaku. Tangannya memberi isyarat agar aku menuju ke salah satu teller untuk melakukan transaksi.

“Maaf mbak, ini saya mau membayar biaya pendaftaran kesini?” Aku membuka suara, sambil menyerahkan secarik kertas dari satpam tadi yang telah kuisi lengkap. Dengan tujuan, Universitas Indonesia.

“Sebentar ya.” Jawab mbak-mbak teller itu ramah. Dalam hitungan detik, segera mbak-mbak itu mengutak-atik computer yang ada didepannya. Mencoba memproses transaksiku.

“Wah maaf ya mas, ini kok nggak bisa. Mungkin ada kesalahan dipendaftaran anda.” Seketika gurat wajahku berubah, aku tak menyangka hal ini terjadi. Berkali-kali dicoba tetap saja gagal. Daripada bingung tak tentu arah, aku memutuskan untuk pulang. Sekali lagi mbak-mbak teller itu meminta maaf atas ketidaknyamanan ini. Its okay, I’m fine.

Sesampainya dirumah, aku hanya linglung. Memainkan jari telunjukku, bertanya sendiri kujawab sendiri. Apa yang salah dengan semua ini.
Siangnya, aku meminjam kartu ATM ibuku. Mencoba mentransfer biaya pendaftaran melalui mesin ATM. Sialnya, yang kulakukan tetap sia-sia saat itu. Dilayar mesin ATM tertera bahwa transaksiku tidak bisa diproses.

Aku pulang dengan menelan kekecewaan. Ya Tuhan, apa mungkin memang Engkau tak merestuiku untuk kuliah disana? Aku bertanya dalam hatiku. Beban pikiranku terlalu menumpuk, aku merebahkan tubuh dikasur. Tertidur cukup pulas, meski dalam tidurku aku masih saja mencemaskan hal itu. Setengah terlelap, setengah sadar.

Adzan Ashar membangunkanku, dari kaca jendela kulihat langit-langit mulai terlihat memerah. Aku bangkit dari tempat tidurku, sesekali memainkan smartphone-ku, Aku masih bingung, belum kudapatkan solusi satupun.

Selepas maghrib, aku memutuskan untuk kembali ke ATM. Mencoba sekali lagi, aku berharap pada kesempatan kali ini berbeda dengan tadi siang. Kutekan tombol pin, lalu kupilih transaksi lainnya. Melalui berbagai prosedur, kemudian kutekan nomor pendaftaranku. Beberapa detik aku menunggu…..

Dilayar monitor, muncul biodataku serta berapa nominal yang harus dibayar. Kutekan OK. ‘Transaksi berhasil’ kalimat singkat itu perlahan merubah moodku seratus delapan puluh derajat. Hanya beberapa detik moodku yang tadinya hancur kembali membaik. Receipt bukti tanda pembayaran keluar dari mesin itu. Aku mengambilnya dan kusimpan baik-baik. Kali ini, hanya tinggal menunggu hari dimana tes berlangsung.

***

Memasuki bulan Mei. Waktu berlalu begitu cepat semenjak kejadian dimesin ATM itu. Perlahan namun pasti, aku giat membaca dan mencoba memahami materi demi materi yang akan diujikan nanti. Meski dalam percobaan hasilku seringkali dibawah rata-rata, aku terkadang sedikit pesimis. Mimpi itu seperti bualan belaka untukku. Aku tetap berusaha.

Ketakutan terbesarku diujian nanti adalah matematika. Soal matematika yang ada dalam soal sangat berbeda dengan soal matematika pada umumnya. Ini bukan tentang penjumlahan dan pengurangan semacam soal anak sekolah dasar. Bukan juga tentang pengkuadratan dan phytagoras sederhana dari anak sekolah menengah. Ini soal yang tak bisa dipecahkan dalam hitungan detik untuk orang-orang sepertiku.Butuh beberapa jam mungkin, maka dari itu aku hanya berharap mampu mengerjakan dua sampai tiga soal saja ketika ujian nanti. Bagiku itu sudah lebih dari cukup. Soal-soal matematika itu seperti pembunuh bayangan, diam-diam mematikan.

Buah kejujuranku dalam mengerjakan ujian nasional bulan lalu akhirnya kutuai. Dengan skor nilai yang cukup membanggakan, jika ditotal angkanya diatas empat puluh. Meskipun banyak kecurangan-kecurangan diupayakan oleh segelintir orang yang hidup di negara yang berasaskan Pancasila ini, bagiku jujur adalah keutamaan. Meski sering diabaikan oleh orang lain.

Senin, 10 Mei 2016 adalah hari pengumuman seleksi lewat jalur undangan. Hasil pengumuman dapat dilihat tepat pada pukul 13.00 WIB.

Aku saat itu sedang berada disekolah karena ada kepentingan tertentu. Sebentar saja aku nongkrong di warung kopi “Mas Panjoel”, lantas aku ingin cepat pulang, tak sabar untuk melihat pengumuman tersebut. Disalah satu grup di whatsapp, teman-temanku telah ramai membicarakan hasil pengumuman. Aku membacanya satu persatu, siapa-siapa saja yang diterima. Kebanyakan anak dari jurusan IPA.

Didalam kamarku yang luasnya tak terlalu besar, aku membuka website pengumuman tersebut. Jantungku deg-degan, yang jelas aku tidak sedang jatuh cinta. Kutarik nafasku dalam-dalam lalu kukeluarkan perlahan. Aku menenangkan diriku, ‘nggak apa-apa Megg, meski banyak temen lo yang udah diterima, lo harus siap dengan segala konsekuensi’ gumamku dalam hati.

Kumasukkan namaku dan juga NISN-ku. Kutekan secara hati-hati, dan….

Spoiler for Deg-Degan Bro:


Aku meraih handphone-ku, mengirim pesan kepada Ardan dan juga Eru. Aku penasaran dengan hasil mereka berdua, apakah senasib denganku atau malah justru sebaliknya? Tapi sia-sia, tak ada respon dari Ardan, sedangkan Eru sendiri belum melihat pengumuman itu, dia masih santai nge-game dirumahnya.

Satu hal yang kupahami detik itu, bukan kegagalan yang membuatku bersedih saat itu, melainkan melihat teman-temanku lain telah diterima di universitas impian mereka. Ada sedikit rasa iri, tapi disatu sisi aku juga turut senang. Kabar baiknya, kudengar Dinda juga telah diterima dijalur ini. Ia diterima di Universitas Negeri Yogyakarta, Pendidikan Seni Tari.

Detik itu aku membaringkan tubuhku dikasur, melupakan segala hal yang terjadi barusan. Tak perlu ada kekecewaan, tak perlu ada sakit hati. Kulelapkan mata dan kuistirahatkan tubuh serta hatiku yang lelah dikasur yang usianya hampir lima tahun.

Beberapa jam berlalu, aku terbangun dari tidurku. Hari telah mulai sore, aku melihat smartphone-ku. Ada pesan singkat dari Eru, dia mengajakku nongkrong diwarung kopi dekat perempatan Tunggangri bersama Kelis dan Ardan selepas maghrib. Ada motif tersembunyi sepertinya.

Waktunya sangat tepat. Kebetulan aku merasa begitu sumpek berada dikamar. Ingin rasanya melepaskan segala penat yang ada. Dengan nongkrong bersama mereka, penatku mungkin bisa hilang. Kurapikan tempat tidurku yang acak-acakan kemudian aku menuju kamar mandi untuk menyegarkan tubuhku.

Sesuai yang dijanjikan, selepas maghrib aku langsung menuju warung kopi didekat perempatan Tunggangri. Sebelumnya aku mampir diwarung sebentar untuk membeli sebungkus rokok, kemudian mampir ke SPBU untuk mengisi bensin motorku yang sudah menipis.

Keadaan malam itu sangat dingin, aku mengenakan jaket hitam yang biasa kupakai sehari-hari sewaktu disekolah. Rasa dingin itu tak terlalu menusukku, namun masih terasa sedikit menyengat kulitku. Desau angin malam mendesah, semilir menyentuh kulit-kulitku yang tak tertutup pakaian.

Adalah lima belas menit waktu yang kubutuhkan untuk sampai disana. Tiga orang tengah asik duduk bercanda, aku menghampiri mereka. Entah aku tak tahu apa yang tadi mereka bicarakan, aku bergabung kedalam obrolan mereka.

“Hasil lo gimana Er?” Aku membuka pertanyaan, tak sabar ingin mendapat jawaban.

“Selow bro, I’m with you.” Eru menjawab pertanyaanku dengan gurauan. Melihat ekspresinya sepertinya dia sama sepertiku. Tidak lolos. Kami tertawa, menertawakan diri kami sendiri.

“Hahahahaha, tampang lo. Ngomong-ngomong lo sendiri gimana Ar?” Aku kemudian bertanya kepada Ardan yang tengah asik memakan pentol goreng ditangannya.

“Kita sama bro, nggak lolos. Yah belum rejeki aja.” Ardan menjawab santai, menerima hasil dengan lapang dada. Tak seperti Eru yang masih menertawakan kegagalanya.

“Yaelah, udah santai aja. Masih ada ujian tulis, ini masih permulaan. Tapi jujur aja, gue sedikit iri dengan teman-teman kita yang lolos.” Aku sedikit mengeluh, ada sedikit sesal.

“Udahlah bro, santai saja.” Eru menyahut, disusul kemudian Ardan mengangguk pelan. Kelis hanya diam menyimak.

Berbicara tentang Kelis, dia adalah sahabat kami bertiga sejak SMP. Ddia melanjutkan pendidikannya disalah satu pesantren didaerah Jombang setelah lulus SMP. Dilain kesempatan kami jarang sekali bertemu, lebih-lebih nongkrong bareng seperti ini. Kelis hanya pulang beberapa bulan sekali, berbeda dengan kami bertiga yang hampir setiap hari bertemu karena sekolah di SMA yang sama.

“Oh iya, Dewi gimana bro?” Aku bertanya kepada Eru yang sedang asik memainkan gadgetnya. Perhatiannya langsung teralihkan.

“Patut disayangkan Megg, dia nggak lolos.” Eru menjawab jujur, gurat mukanya sedikit kecewa melihat Dewi yang bisa dikatakan jenius tidak lolos lewat jalur ini. Aku tahu, ada something diantara mereka berdua, aku tak bisa menuliskannya rinci. Itu adalah cerita mereka, mereka yang lebih tahu.

Sebelum perbincangan kami lanjutkan, aku menghampiri mas-mas warung yang tengah sibuk menyeduh kopi.

“Mas, pesen kopi ijo pakai susu ya!” Aku memesan segelas kopi hijau kepada mas-mas warung, kuambil tiga lembar uang bergambar Pattimura lalu kuberikan ke mas-mas tersebut.

“Oke cuy, ditunggu ya.” Mas-mas itu menjawab santai, melanjutkan pekerjaannya. Aku kembali ke tempat mereka bertiga.

Pembicaraan kami malam ini berlanjut. Kebanyakan membahas hal-hal yang absurd ketimbang hal-hal yang serius. Kelis sesekali bercerita tentang kehidupannya di pondok pesantren. Berbicara petuah-petuah agama, kami bertiga mendengarkan takzim. Malah justru menyindir halus Kelis, tiga tahun di pondok pesantren lagaknya sudah seperti pak Kiai.

Seketika hening. Pergantian topik. Aku kemudian bertanya kepada mereka bertiga tentang rencana selanjutnya.

“Trus rencana kalian sekarang gimana?” Aku bertanya kepada mereka bertiga.

“Entahlah bro, rencana gue tetep ke Jogja. Universitas Negeri Yogyakarta.” Eru menjawab singkat nan mantap.

“Kalau elo Ar?” Eru bertanya kepada Ardan.

“Ini gue sedang mempersiapkan ikut tes kedinasan. Alhamdulillah seleksi yang pertama kemarin gue lolos, tinggal menunggu tes-tes berikutnya saja. Lo sendiri gimana Megg?”

“Gue kemarin udah daftar seleksi masuk Universitas Indonesia. Tinggal tes bulan depan.” Aku menjawab datar.

Kelis masih diam saja, dia memang tak punya kehendak kuliah diluar kota seperti kami bertiga. Rencananya setelah ini, dia hanya ingin kuliah didalam kota sendiri.

“Wihh, semangat Megg. SBMPTN ikut kan?”Ardan bertanya balik kepadaku.

“Ya ikutlah, tapi rencana gue nggak milih Universitas Indonesia. Bisa-bisa bunuh diri gue nanti. Gue milih Universitas Negeri Malang, dijurusan sastra nanti bro. Meskipun mimpi utama gue di UI, namun jika gagal tentunya gue masih punya mimpi kedua. Jadi itu rencana gue sekarang.” Aku mencoba menjelaskan pelan. Tak ada keraguan.

“Eh Er, lo nggak minat ikut ujian tulis di UGM?” Aku mencoba bertanya kepada Eru.

“Entahlah bro, biayanya mahal. Gue nggak enak sama abang gue kalau minta duit ke dia, yah tergantung nanti aja deh.” Jawab Eru, ekspresi wajahnya sedikit ragu.

Aku mengangguk, memaklumi apa yang disampaikan oleh Eru.

Malam itu kami lewati dengan berbagai gurauan dan cerita ringan. Hidup terlalu singkat untuk dinikmati dengan bersedih. Masih ada banyak kebahagiaan diluar sana. Memiliki teman sekaligus sahabat seperti mereka, buatku itu sudah cukup untuk berbagi segala kesedihan. Ditambah kopi hijau dan sebungkus rokok sebagai saksi bisu.
profile-picture
profile-picture
fransjabrik dan coxi98 memberi reputasi
Diubah oleh sandriaflow
Quote:


Sip gan, ditunggu aja ya
Quote:


Ajip gan...

[QUOTE=u910;583b8d7556e6af87378b4567]hura, another great story emoticon-Jempol
semangat ya TS
lanjutkan

Thanks gan udah mampir... Tetep ngikutin alurnya yaemoticon-Big Grin


Chapter 3.1 : Reuni Kecil dan Keputusan

Persahabatan tak lekang oleh waktu. Meskipun tak bertemu rentang waktu yang cukup lama, terpisah oleh ribuan jarak, sahabat tetaplah sahabat. Menjalani perbedaan, terkadang sering mempermasalahkan hal kecil adalah hal yang wajar.

Ada banyak orang sukses didunia ini yang meniti karir tak sendirian. Dibalik karirnya ada dorongan dari orang-orang disekitarnya. Orangtua, kekasih, lalu sahabat. Sahabat akan selalu memiliki tempat didalam hati seorang manusia, selalu ada cerita tentang persahabatan.

Hari ini, aku menerima kabar bahwa Ali akan kembali pulang ke Tulungagung, Setelah selama tiga tahun ia menetap di Gorontalo, Sulawesi Utara. Ia juga merupakan sahabat kami berempat sejak SMP. Ia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya disalah satu sekolah ternama di Indonesia, MAN Insan Cendekia. Sekolah yang didirikan oleh bapak presiden ketiga Indonesia, B.J Habibie.

Kabar baiknya lagi, dia sekarang juga telah diterima di Institut Teknologi Bandung lewat jalur undangan. Mendengar hal itu, aku sangat senang sekaligus termotivasi. Ali memang jenius dari sejak awal aku mengenal dia. Tiga tahun kami belajar bersama, memahami karakter masing-masing. Dia begitu lihai memahami soal-soal matematika, pandai logaritma, seringkali ikut Olympiade. Sungguh itu pencapaian yang luar biasa, aku tak heran.

Aku sangat tidak sabar untuk bertemu dengannya. Tentunya Eru, Ardan, dan Kelis juga sepakat denganku. Entahlah, mungkin dia sekarang punya pemikiran yang berbeda dengan kami. Dengan kepribadian yang berbeda pula.

Aku masih sering berkunjung ke SMA-ku karena beberapa hal, meskipun telah dinyatakan lulus. Kadang bertemu dengan teman-temanku yang lain, mengurusi berkas-berkas yang nanti harus kubawa sewaktu ujian tulis nanti. Sekaligus mempersiapkan acara wisuda, sebagai momentum puncak selama tiga tahun belajar disekolah ini.

Seperti biasa, sebelum menuju sekolah aku mampir terlebih dahulu ke rumah Eru. Hari ini dia nebeng denganku. Aku tak mempermasalahkan hal itu. Dirumahnya ada sambungan wifi dengan koneksi internet yang lumayan cepat. Abangnya seorang teknisi komputer, jadi bukan hal yang mengherankan lagi.

Sekitar pukul delapan pagi aku tiba dirumahnya. Kuparkirkan motorku didepan pekarangan rumahnya, dibawah pohon rambutan didekat kursi tua panjang. Pintu rumah itu terbuka, aku langsung masuk tanpa perlu mengetuk pintu atau mengucap permisi. Sudah jadi kebiasaanku, berhubung sudah berkali-kali aku main kerumahnya. Langsung nyelonong masuk.

Kulihat dia masih terpaku dengan laptopnya, dengan kondisi masih seperti orang bangun tidur.

“Woi, cepetan mandi sono.” Aku sedikit berteriak keras sambil tertawa.

“Selow bro, ini masih seru-serunya. Gue lagi ada party.” Entah aku tak tahu menahu soal game yang ia mainkan. Masa bodoh. Aku sedang tak diburu waktu. Kukeluarkan smartphone-ku dari tasku, kemudian kusambungkan dengan wifi yang terpancar dirumahnya Eru.

Kukira itu hal yang cukup untuk membunuh kebosananku, sambil menunggu Eru bersiap-siap, mandi dan sejenisnya. Kutatap smartphone-ku sejenak, kulihat ada beberapa pesan masuk dari temanku. Tak terlalu penting.

Akhir-akhir ini, hubunganku dengan Dinda mulai membaik. Kami berdua seringkali chatting-an setiap malam. Pagi ini aku sempat juga membalas chat dia disalah satu media sosial. Mungkin bisa dibilang jika saat ini hubungan kita berdua itu hanya sebatas teman. Tak lebih. Walaupun, aku masih memiliki sedikit perasaan untuknya sejak kejadian malam itu.

Tak tahu mengapa, aku jadi sedikit melankolis seperti ini. Termenung menatap langit-langit ruangan. Kuabaikan semuanya, ragaku terdiam namun angan-anganku bergerak ke segala arah.

“Wooii, ngelamun aja lo. Ayo berangkat.” Suara Eru yang cukup menggelegar perlahan menyadarkan lamunanku.

“Ah ngganggu orang lagi ngelamun aja lo. Efek kelamaan nunggu lo nih.” Aku bergegas merapikan tasku, segera berdiri meninggalkan rumah sederhana itu.

Kuhidupkan motorku, Eru menata posisi duduknya dibelakangku. Segera kuputar balik motorku lalu melenggang cepat melewati jalanan yang berlubang. Motorku sedikit bergoyang, semilir angin berhembus sepoi. Pohon-pohon rindang dipinggir jalan seakan berdansa tertiup angina itu. Pun sawah-sawah yang terlihat kekuningan, alam yang sangat memesona.

“Eh Megg, tadi malem gue chatting-an sama Ali.” Eru membuka pembicaraan, aku masih fokus mengemudi.
“Serius lo Er? Ajak nongkrong bareng gih. Emangnya dia udah di Tulungagung?” Aku bertanya balik, kakiku sesekali menginjak pedal rem, menekan persneling untuk mengurangi kecepatan.

“Siap deh. Nanti gue kasih tau dia buat nongkrong ditempat biasa.” Eru berkata mantap.

Kurang lebih sekitar lima belas menit kami sampai disekolah. Motorku kuparkirkan didekat ruang guru. Lantas, kami berdua melangkah mendekati kursi-kursi didekat tangga aula. Disana cukup ramai, teman-temanku sibuk dengan urusannya masing-masing. Keluar masuk dari ruang tata usaha, membawa secarik kertas.

Dari awal niatku memang ingin mengambil secarik kertas tersebut. Pengganti ijazah sementara. Berkas itu nanti yang akan kubawa sebagai persyaratan mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Aku dan Eru berjalan bersisian, sudah seperti sepasang kekasih, tapi kami bukan sepasang homo. Membayangkannya saja sungguh menjijikkan.

“Eh Megg, lo masuk duluan.” Tanpa ba-bi-bu aku melangkah duluan, mendorong pintu kaca ruangan itu. Lantas, menuju ke salah satu meja staf tata usaha.

Mengambil beberapa kertas berisi biodata untuk kami isi, kemudian kami berikan kepada staf tersebut Untuk diproses lebih lanjut.
“Bisa diambil besok ya, ijazah sementara.” Staf tata usaha itu berkata ramah. Menerima kertas tadi.

Kami mengangguk, mengucapkan sepatah kata terimakasih sebelum meninggalkan meja yang dipenuhi berkas-berkas penting tersebut. Hanya butuh beberapa detik kami telah berada diluar ruangan itu.

“Sekarang ngapain? Cuman gini aja, trus pulang.” Aku bertanya kepada Eru yang duduk disalah satu anak tangga aula sekolah.

“Kita nunggu Ardan sebentar Megg, kayaknya dia bakalan kesini deh. Habis ini kita ngopi bareng aja ke Panjoel.” Sambil menatap smartphone-nya Eru menjawab pertanyaanku.

Aku mengangguk, kemudian mencari tempat duduk yang pas untuk bersantai sejenak.

Tempat ini menyimpan banyak kenangan. Lorong-lorong sekolah yang setiap hari tak kurang dari delapan ratus hari kulewati. Bertemu kawan-kawan dikelas sosial, tertawa dan bercanda sepanjang hari. Kantin sekolah warna oranye sebagai markas paling tepat ketika jam kosong. Dan hal yang paling tak terlupakan, disini ada sepucuk hati yang tertinggal menjadi sebuah kenangan. Kenangan masa remaja.

Hampir setengah jam aku menunggu, Ardan akhirnya datang juga. Ia bergegas ke ruang tata usaha, sama seperti yang kami lakukan tadi. Mengurus berkas-berkas yang akan digunakan untuk ikut ujian nanti.

“Megg, Er. Kita berangkat ngopi yuk.” Setelah beberapa menit diruang tata usaha mengurus ijazah sementara, Ardan menyeru kami.

Tanpa basa-basi kami berdiri, melangkah menuju tempat dimana motorku tadi kuparkir. Beringsut menuju tempat nongkrong seperti biasa.

Diwarung pak Panjoel, kami duduk dibangku panjang dekat tiang penyangga bangunan. Kami berdua seperti biasa memesan dua gelas kopi hijau, tak lupa sebungkus rokok sebagai pelengkap. Berbeda dengan Ardan, ia bukanlah perokok dan tak terlalu menyukai kopi. Ia hanya memasan segelas susu soda dalam gelas besar.

“Eh Megg, elo sudah daftar SBMPTN apa belum?” Ardan bertanya kepadaku.

“Udah beberapa hari yang lalu, kemarin gue juga udah membayar biaya pendaftaran. Tinggal ngurus berkas-berkas ini buat persyaratan.” Aku menjawab serius.

“Ngomong-ngomong, lo ngambil jurusan apa?” Ia melanjutkan, bertanya kepadaku penasaran.

“Ada deh, haha.” Aku menyeringai, bergurau menjawab pertanyaan Ardan tadi. Mukanya sedikit menahan kekesalan.

“Gue ngambil pendidikan bahasa Jerman di Universitas Negeri Malang bro.” Tanpa sempat ia mencercaku, aku menjawab cepat. Kekesalannya teredam dengan cepat.

“Wihh serius lo?” Ia sedikit kaget mendengar jawabanku, memang terdengar sedikit gila. Serius, aku tak tahu satu katapun dari bahasa Jerman saat itu selain ich liebe dich. Namun, aku tertarik sekali mempelajari bahasa asing.

Teori-teori Adam Smith, Irving Fisher, Keynes, dengan berat hati kutinggalkan. Padahal aku dulu sangat menyukai pelajaran ekonomi serta teori-teori mereka. Ada satu hal yang kusadari, aku tak mungkin mengambil jurusan ekonomi yang notabene persaingannya sangat ketat dibandingkan jurusan lain. Aku terlalu takut. Hingga aku memutuskan untuk mengubah alur, ke arah yang lain.

Eru hanya diam saja, sedikit tertawa kecil. Dia sudah tau tempo hari. Tepat setelah aku mendaftar, aku langsung memberitahu dia. Sesekali ia menyeruput kopi didepannya yang telah diantarkan ke meja kami beberapa menit lalu.

“Eh bro, Ali nanti malem kayaknya setuju. Kita ngumpul seperti biasa di warung dekat perempatan nanti malam.” Eru menyahut, mengubah topik pembicaraan ke arah yang lain.

“Oke, nanti malem gue ikut.” Ardan menjawab duluan, aku mengangguk. Nanti malam adalah pertemuan pertama kami dengan Ali semenjak dua tahun yang lalu.

“Eh kasih tau Kelis juga, biar nanti malem rame.” Aku menyahut ringan. Jangan sampai ada yang tak datang.

“Sip.” Eru menjawab singkat nan mantap.

Kurang lebih hampir satu setengah jam kami duduk membicarakan banyak hal. Perkembangan tes kedinasannya Ardan. Rencana Eru selain mengikuti ujian SBMPTN. Ia menjelaskan bahwa tadi malam ia telah memutuskan untuk ikut ujian masuk Universitas Gadjah Mada, setelah berunding dengan abangnya. Keluarganya mendukung penuh. Aku dan Ardan demikian.

Percakapan telah usai, kami pulang. Kali ini Eru pulang dengan Ardan, berhubung rumah mereka cukup dekat. Aku mengemudi sendirian. Tak sabar untuk reuni kecil nanti malam.

***
Malam hari, selepas maghrib aku segera berangkat untuk bertemu di tempat yang sudah kami sepakati tadi siang. Dari kamarku, aku melangkah menuju ruang belakang. Mengambil motorku. Sialnya, saat itu motorku sedang ada kendala, entah kenapa distarter tidak bisa hidup.

Aku tak kehilangan akal, malam ini buatku malam yang vital. Aku terpaksa meminjam motor matik pamanku.

Untung, pamanku berkenan meminjamkan motornya kepadaku. Tak butuh waktu lama, aku segera berangkat. Mengendarai motor matik, pelan namun pasti. Aku tak terlalu biasa mengendarai motor matik ini.

Kerlap-kerlip lampu jalanan, semilir angin malam yang dingin menentramkan, mobil-mobil yang berlalu lalang dan terkadang suka seenaknya saja memainkan lampu dim. Aku tetap berkendara dengan santai. Sesekali terngiang wajah Dinda malam itu, wajah yang tak akan mudah kulupakan.

Adalah sepuluh menit lebih beberapa detik aku sampai ditempat yang dijanjikan. Yang lain belum ada yang datang, akulah yang sampai pertama kali. Kakiku melangkah menuju mas-mas warung, melewati beberapa orang yang tengah asik duduk lesehan.

“Mas kopi hijaunya satu ya.” Tanpa banyak bertanya, mas-mas itu segera membuatkan pesananku.

Aku kemudian mencari tempat duduk yang pas didepan warung. Menatap lampu-lampu yang bergantung remang, terkadang menatap jalanan yang ramai kendaraan lalu lalang. Aku melihat-lihat smartphone-ku, ada pesan masuk dari Eru. Memberitahukan bahwa dia masih berada di jalan. Begitu juga dengan Ardan dan Kelis.

Beberapa saat berlalu. Pesananku telah diantar ke mejaku. Aku duduk bersila diatas kursi yang bercat hijau itu. Kuambil rokokku dari saku jaket, lalu kunyalakan dengan korek api bensol yang kubawa dari rumah. Kuhisap pelan, asap-asap rokok mengepul lambat, perlahan membaur dengan udara di atmosfer.

Kutuangkan segelas kopi hijau tadi ke sebuah lepek. Kemudian kudiamkan beberapa saat untuk membuat cethe. Kuseruput pelan air kopi yang berada dilepek tersebut.

Eru dan yang lainnya telah sampai. Ia menyapaku ringan, berlalu menuju tempat mas-mas warung untuk memesan. Disusul Ardan dan juga Kelis. Tak butuh waktu lama, mereka kemudian duduk berhadapan denganku. Ardan membawa beberapa makanan kecil seperti pentol, bakwan, dan tahu goreng with sebutir cabe. Kelis mengeluarkan rokoknya, dan Eru masih menatap smartphone-nya, mencoba menghubungi Ali yang belum datang. Padahal, dialah tamu istimewa malam itu.

“Ali jadi datang nggak?” Semua bertanya penasaran kepada Eru.

“Udah ditunggu aja, dia kelihatannya masih ada sedikit urusan.” Eru merespon santai.

Sambil menunggu kedatangan Ali, kami berbincang-bincang ringan. Sesekali mengenang masa lalu, masa-masa ketika kami masih berada di SMP. Kadangkala mereka menyinggung tentang masalah asmaraku. Aku setengah tersipu, setengah kesal, namun juga setengah melayang. Apalagi mereka menyebut-nyebut nama Dinda. Ah, sudahlah. Tak hubungan apa-apa lagi dengan Dinda. Semua usai dalam satu malam.
Kelis seperti biasa lebih senang menjadi pendengar setia Bukan perkara ia tak ingin bercerita, melainkan sungkan dengan kami bertiga yang lebih sering mendominasi pembicaraan. Namun ketika gilirannya bercerita tiba, akan memakan waktu lama untuk menghentikan ceramahnya yang terkadang sedikit ngawur. Ekspresi wajahnya yang terkadang sedikit konyol, berlagak berwibawa, membuat semua yang ada disitu tertawa terpingkal-pingkal.

Tak jarang pula, kami membahas hal-hal yang berbau sedikit dewasa. Contohnya film aksi, kesukaan remaja yang baru pubertas, hehe.
Hampir satu jam kami menunggu. Ada suara motor berhenti. Kulihat dari tempatku duduk, remang-remang, namun aku tahu sosok yang baru turun dari motor itu. Tamu istimewa itu akhirnya datang.

Aku tak pernah menyangka, Ali yang sekarang berbeda dengan sosok Ali yang dulu. Badannya lebih tegap, ia berkacamata, kulitnya masih tetap putih. Dulu, dia itu tak setinggi sekarang, malah lebih pendek dariku. Tak jarang pula kami dulu menjulukinya ‘adek kecil’. Sindiran yang terkesan menjadi ikon sekaligus perekat kebersamaan. Sekarang tingginya menyalipku.

“Masih inget nggak.” Ali sekarang sudah berdiri didepan kami, dengan gayanya yang lebih cool. Wajahnya dibuat-buat seperti ingin mengajak tawuran ala Takiya Genji di Crows Zero.

“Beda banget lo yang sekarang.” Semua berpikiran yang sama.

Kami mempersilahkannya duduk disalah satu bangku kosong didekat kami. Logat Jawanya yang dulu begitu khas perlahan mulai menghilang dari dirinya, tergantikan oleh logat dari Gorontalo. Efek tiga tahun belajar disana.

“Kabar lo gimana?” Eru menyahut, bertanya kabar kepada Ali.

“Baik kok. Cuman ini doang ya, yang lain kok nggak ikut kumpul?” Ali menanyakan perihal teman-temanku yang lain.

Eru menjelaskan bahwa hanya kami bereempat yang senantiasa nongkrong. Teman-teman yang lain seperti Ubed dan Fatih, tak terlalu suka nongkrong ditempat seperti ini. Mereka punya idealisme masing-masing. Mereka sepertinya sudah tak sepaham, tak sepemikiran, makanya jarang sekali kami berkumpul bersama. Namun disuatu kesempatan kami semua masih berkomunikasi dengan baik.

“Oh gitu, eh setelah ini mau kuliah dimana?” Pertanyaan itu membuat suasana seketika hening. Tak ada satupun dari kami yang telah mendapatkan tempat baru, kami masih luntang-luntung. Berusaha mengejar universitas yang kami impikan. Kami semua bercerita kepada Ali. Aku dengan pilihanku, Eru dengan pilihannya, begitupun Ardan dengan sekolah kedinasannya. Kelis hanya diam, sedikit membuka suara.

“Wah, lo enak Al sekarang udah dapet universitas. Kita-kita turut seneng denger lo keterima di ITB. Harusnya malam ini lo yang traktir kita-kita, hahaha.” Aku mencoba menggoda Ali. Dia hanya tertawa, tentu saja aku tak berniat dia yang mentraktir malam ini.

Internet diwarkop itu cukup lelet. Gadget kami, masing-masing ditumpuk diatas meja. Kami tahu, tanpa gadget pun kami masih bisa menikmati waktu. Waktu untuk bercanda dengan sesama teman, untuk bertukar pikiran. Gadget itu sekedar alat, meski tak jarang pula manusia diperalat oleh gadget itu sendiri.

“Alhamdulillah, gue seneng banget bisa diterima disana. Ibu gue juga bangga.” Dengan logat khas Gorontalo dia menjawab.

Reuni malam itu, meski sederhana namun cukup berkesan.

“Sejak kapan elo ngerokok Megg?” Ali bertanya heran menatapku yang sedang asik mengepul-ngepulkan asap ke udara.

“Udah dari dulu sih Al, mungkin karena kita jarang ngumpul aja. Jadinya lo nggak tahu.” Aku menjawab santai, memang udah dua tahun ini aku sering merokok. Bukan masalah gaya hidup, tapi faktor lingkungan yang membuatku hobi merokok. Kakekku, pamanku, bapakku pun adalah perokok, sadar atau tidak aku pun mengikuti mereka.

Aku tak mempermasalahkan jika ada orang yang berpikir negatif ketika seorang remaja merokok. Satu hal yang kusepakati dengan Eru, merokok itu bukan masalah serius bagi kami. Ini masih dalam batas wajar, tak melanggar norma agama. Bagi kami, yang terpenting kami tidak melanggar batas-batas agama, seperti minuman keras atau apalah. Kami tak sudi mencoba hal itu.

Quote:


Ali hanya manggut-manggut seolah ia paham dengan yang terjadi. Ia masih setengah menatap sinis kearahku. Aku memakluminya. Mungkin karena suasana disana yang bercorak santri, pergaulan juga diatur ketat. Berbeda dengan kami disini. Dengan pemikiran kami disini.

Hampir satu jam kami berbicara dengan Ali, memang benar dia sekarang berbeda. Perlahan, ia mulai kehilangan dirinya yang dulu, berubah menjadi sosok lain. Orangnya sedikit kaku jika diajak bercanda, pembawaannya terkesan selalu serius. Tapi tak apalah, perbedaan bukan jadi alasan untuk dijadikan konflik dalam persahabatan. Kami menolerir hal itu.

Malam semakin larut, reuni kecil itu kami akhiri. Waku telah menunjukkan hampir sepuluh tepat. Sebelum pulang, kami saling berjabatan tangan. Tradisi yang senantiasa kami lakukan ketika bertemu atau hendak berpisah, kecuali jika kami lupa.

Jalanan mulai lengang. Lampu jalan remang, kendaraan hanya satu dua yang melintas. Suasana sedikit mencekam, aku tetap memacu motorku pelan. Sesampai dirumah, aku bergegas merebahkan tubuhku keatas kasur. Sambil memeluk guling, kupejamkan mataku. Menuju alam mimpi, sedikit berharap bahwa Dinda akan hadir dalam mimpi tidurku nanti.
profile-picture
profile-picture
fransjabrik dan coxi98 memberi reputasi
Quote:


Chapter 3.2 : Reuni Kecil dan Keputusan


Detik masih terus bergulir, hari-hari berlalu begitu cepat. Hanya tinggal seminggu lagi rentang waktu ujian SBMPTN dilaksanakan. Lokasi ujianku adalah di gedung D1, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Aku telah membeli tiket kereta api ke Malang. Lima hari lagi, aku akan berangkat bersama beberapa temanku, termasuk Eru.

Setiap hari aku membuka-buka buku pelajaran, mencari materi dan referensi dari internet. Supaya menambah wawasan. Sesekali melihat video pemecahan soal matematika dari youtube. Selain mempersiapkan ujian SBMPTN, aku juga mempersiapkan ujian masuk Universitas Indonesia. Tak ada progress yang cukup signifikan, aku tetap berusaha belajar. Berjam-jam, berhari-hari. Dalam kurun waktu sebulan ini, tak ada satu haripun tanpa belajar. Ini semua demi mimpiku. Meski terkadang mood-ku naik turun, semangatku terpatahkan, aku berjuang melawan semua itu.

Ibuku tersenyum melihatku yang setiap hari belajar rutin. Tak ada satupun didunia ini yang lebih indah kecuali melihat orang yang kita sayangi tersenyum. Semua berjalan normal.

Hari ini, Ibu mas Kurnia yang merupakan adik kandung dari nenekku datang berkunjung ke kediaman keluargaku. Beliau mampir kerumah nenekku yang letaknya hanya beberapa meter dibelakang rumahku. Hanya terpisah oleh pekarangan halaman belakang yang tak terlalu luas.

Aku saat itu tak sempat berbincang-bincang dengan beliau. Terlalu asik sendiri didalam kamar, memainkan gadget sejenak ketika kepala pusing belajar seharian. Atau terkadang memainkan gitar, menanyikan lagu-lagu cinta untuk Dinda. Beralih ke lagu galau yang membuat hati menjadi mellow.

Ibuku kebetulan ikut menyambut kedatangan ibu mas Kurnia tadi. Seperti kebanyakan orang dewasa, perbincangan mereka hanya perbincangan ringan. Membahas hal-hal umum seperti kabar, kesibukan sekarang, tentang musim panen, atau tak jarang juga menggosip santai. Terlintas aku berpikir bahwa ibuku akan menyinggung sedikit tentangku yang punya keinginan untuk kuliah di Depok. Kupikir akan baik-baik saja jika ibuku membicarakan hal itu, berhubung mas Kurnia tinggal disana.

Matahari mulai beranjak meninggi, teriknya perlahan menyengat. Waktu hampir mendekati waktu siang. Ibu mas Kurnia telah berpamitan pulang.

Aku masih tetap bersantai didalam kamar. Mungkin inilah rasanya jadi seorang pengangguran, tak ada kerjaan sama sekali. Pada awalnya memang enak, namun lama kelamaan bosan juga sehari-hari bermalas-malasan seperti ini.

Melihatku yang tengah asik dikamarku sambil memainkan gitar, ibuku perlahan mendekatiku. Gurat wajahnya sepertinya menyimpan kekhawatiran yang cukup berlebihan. Memang ada hal serius yang ingin beliau sampaikan, menyenangkan atau tidak hal itu harus beliau sampaikan.

“Meggy. Ibu ingin bicara denganmu?” Suara ibuku sedikit berat membuka percakapan kami saat itu.

“Iya buk, ada apa?” Aku menjawab tenang, meskipun hatiku harap-harap cemas mendengar kata-kata selanjutnya dari ibuku.

“Sebaiknya kamu tidak usah kuliah di Depok, tadi ibu sempat berbicara dengan ibunya mas Kurnia. Kamu anak ibu satu-satunya, disana itu keras nak. Semua keluargamu juga tak mendukung jika kamu kuliah disana. Ini bukan soal biaya, ayahmu masih sanggup untuk menanggung pendidikanmu. Ibu harap kamu mengerti, ibu takut terjadi apa-apa denganmu disana nak.” Suara ibuku bergetar, aku terhanyut. Gurat mukanya seperti menunjukkan kesedihan yang dalam, rasa tak rela tergambar jelas diwajahnya.

Aku diam sejenak. Disatu sisi aku tak tega menentang ibuku, disatu sisi aku sangat terpukul. Mimpi yang kubangun dan kuyakini berhari-hari, sepertinya akan kandas disini. Mimpi itu tak akan terwujud. Orangtuaku tak merestui pilihanku, aku mengangguk pasrah.

“Pak Galih, saudara kita yang juga pernah bekerja didaerah sana juga sedikit keberatan. Beliau kaget mendengar kamu ingin kuliah disana. Semua melarang nak. Keluarga besarmu juga.” Kata-kata itu cukup untuk membuatku terbungkam. Aku tak berani berkata apa-apa kecuali menuruti keinginan ibuku.

“Baik buk. Aku kuliah di Malang saja nanti, sesuai dengan tujuan awal. Tapi aku minta satu hal, aku tetap ingin pergi ke Surabaya untuk tes ujian itu buk.” Aku membuka suara, menunggu jawaban dari ibuku.

“Kenapa nak kamu masih tetap ingin kesana? Uang pendaftaran itu sudah ibu ikhlaskan tak perlu dipikirkan lagi.” Ibuku sedikit heran dengan keputusanku itu, tapi itu sudah kupikirkan dengan seksama. Ujian ini adalah ajang pembuktian dari mimpiku. Tak ada salahnya mencoba, jika nanti lolos aku akan melepaskannya meski sedikit berat hati, jika memang gagal aku akan berlapang dada.

Mendengar penjelasanku, ibuku akhirnya luluh. Ia mengizinkanku untuk mengikuti tes di Surabaya. Dengan catatan, aku tidak akan bersikeras untuk kuliah disana. Aku mengangguk, tidak masalah.

Aku percaya, Tuhan punya jalan yang terbaik untukku. Ini adalah salah satu rencana Tuhan, aku hanya bisa berbaik sangka kepada-Nya. Mungkin selama ini aku terlalu egois, terlalu mendambakan mimpiku. Inilah waktunya, aku harus mengikuti jalan yang telah Tuhan tetapkan untukku. Berperan sesuai alur yang telah Dia tentukan.
profile-picture
profile-picture
fransjabrik dan coxi98 memberi reputasi
Diubah oleh sandriaflow
ceritanya isinya kok cowok semua emoticon-Hammer
Lanjutkan gan emoticon-Big Grin numpang di pejwan dulu emoticon-Ngakak
Nunpang nenda gan.
sekota Dan setongkrongan nih emoticon-thumbsup
ijin mejeng gan
belum baca langsung dapat sop iler.. emoticon-Hammer (S)
mending di apus aja gan sop ilernya
Quote:


Hehe ini mayoritas jalan ceritanya bukan tentang cinta gan, tapi nanti ada part tersendiri. Ikutin aja gan, makasih udah mampir baca thread ane
Quote:


Oke gan, thanksemoticon-Big Grin
Quote:


Sipp gan
Halaman 1 dari 5


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di