alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Militer /
[BOOK]KOMPI X DI RIMBA SIGLAYAN (konfrontasi dengan Malaysia)
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/580aab0cdac13e592e8b4567/bookkompi-x-di-rimba-siglayan-konfrontasi-dengan-malaysia

[BOOK]KOMPI X DI RIMBA SIGLAYAN (konfrontasi dengan Malaysia)

KOMPI X DI RIMBA SIGLAYAN
Konfrontasi dengan Malaysia
By : Sopoduto Citrawijaya


[BOOK]KOMPI X DI RIMBA SIGLAYAN (konfrontasi dengan Malaysia)

Bab 1


Politik Konfrontasi terhadap Malaysia
Situasi politik pada tahun 1960-an diwarnai ketegangan dunia yang diakibatkan oleh perseteruan antara dua blok, Blok Barat yang dipimpin Amerika Serikat dan Blok Timur pimpinan Uni Soviet. Presiden Soekarno dalam pidatonya di majelis umum PBB pada bulan September tahun 1960 antara lain menyebutkan hal itu.
Beliau menyatakan:
"Imperialisme dan kolonialisme dan berlanjutnya kekuatan yang memecah belah bangsa -Saya tekan kan kata-kata itu- adalah akar hampir semua kejahatan internasional dan ancaman kita ini. Selama kejahatan kejahatan yang di benci pada masa lalu itu belum tidak akan ada ketenangan dan perdamaian di seluruh dunia".

Presiden Soekarno menegaskan lagi pendapatnya di Beograd, Yugoslavia, pada konferensi pertama negara-negara non-blok bulan September tahun 1961:
"Pendapat dunia yang ada dewasa ini membuat kita percaya bahwa sumber dan perselisihan internasional yang sesungguhnya ialah konflik ideologi antar negara negara adikuasa. Saya kira hal itu tidak benar. Ada konflik yang menembus lebih dalam rangka manusia, yaitu konflik antara kekuatan yang baru Bangkit Bagi kemerdekaan dan keadilan, dengan kekuatan dominan yang lama, yang satu mendorong kan kepalanya tanpa belas kasihan melalui lapisan bumi yang telah memberinya darah kehidupan, sedangkan yang lain berjuang tanpa lelah untuk mempertahankan semua yang ia dapat untuk menahan jalannya sejarah"

Pada masa itu Indonesia percaya akan adanya ruang bagi kekuatan ketiga, karena dalam konflik dunia yang berakar dari konflik endemik antara keadilan dan ketidakadilan, masih terdapat kesempatan untuk dapat hidup berdampingan secara damai. Indonesia dibawah Bung Karno berpendapat, saat itu dunia terbagi antara kekuatan baru yang sedang bangkit, New Emerging Force, yaitu bangsa-bangsa Asia, Afrika, Amerika Latin, negara negara sosialis, dan kekuatan progresif di negara-negara kapitalis, berhadapan dengan kekuatan kekuatan lama yang telah mapan.

Dengan didasari cara berpikir demikian, Indonesia pun menentang pembentukan negara federasi Malaysia. Presentasi dengan Malaysia adalah cermin ketidakpercayaan Indonesia terhadap rencana pembentukan negara federasi Malaysia. Indonesia memandang bakal negara federasi tersebut sebagai suatu negara yang tidak mewakili aspirasi rakyat setempat, tetapi lebih merupakan bentukan asing untuk mempertahankan kepentingan politik, militer dan ekonominya di Asia Tenggara. Hal ini dinilai akan menjadi sebuah ancaman terhadap bangsa dan negara kesatuan RI. Karena itu, Indonesia menyatakan dukungan pada pemberontakan di Brunei yang pada waktu itu merupakan protektorat Inggris. Hal ini didukung oleh pengalaman pahit Indonesia sendiri di masa terjadinya pemberontakan dalam negeri akhir tahun 1950-an, yang telah didukung oleh kekuatan-kekuatan asing.

Pemberontakan di Brunei pada tanggal 5 Desember 1962 yang terjadi di Serawak yang berbatasan dengan Sabah ( waktu itu disebut Kalimantan Utara jajahan Inggris), mendapat tanggapan dan seperti umum dari Indonesia karena perjuangan rakyat Kalimantan Utara tersebut dirasa sama dengan perjuangan bangsa Indonesia dalam upaya mencapai kemerdekaannya dari cengkraman kolonialisme. Pemberontakan Brunei tersebut dilakukan oleh para pendukung Partai Rakyat pimpinan AM Azahari. Dukungan rakyat Brunei pada waktu itu tercermin dari pernyataan ketidaksetujuannya terhadap masuknya Brunei ke dalam negara federasi Malaysia. Mereka mengajukan alternatif membentuk suatu negara baru yang merdeka, negara Kalimantan Utara,yang meliputi Brunei dan wilayah yang belum merupakan kekuasaan raja Brunei. Pemberontakan ini berhasil ditumpas oleh Inggris dengan menggunakan pasukan Gurkha yang didatangkan dari Singapura.

Sejak awal, pemerintah Indonesia sudah bereaksi terhadap usul pemimpin Malaya Tengku Abdul Rahman Putra pada tanggal 27 mei 1961,yang menghendaki bahwa Semenanjung Malaya, Singapura, dan jajahan Inggris di Kalimantan Utara termasuk Brunei digabungkan dalam suatu kerangka politik tunggal. Mengingat pada waktu itu Indonesia sendiri masih berjuang untuk mencapai tujuan penyatuan seluruh wilayah NKRI, dengan meyakinkan dunia terhadap tuntutan Indonesia atas Irian Barat yang masih dikuasai kolonial Belanda, maka Indonesia pun bersikap hati-hati terhadap usulan Tengku Abdul Rahman tentang penggabungan Malaya dan jajahan Inggris lainnya di Asia Tenggara dalam suatu negara federasi.

Sesuai dengan pengalaman Indonesia sejak mencapai kemerdekaannya, yang selalu mendapat ancaman dari negara-negara asing, pemerintah Indonesia menganggap federasi tersebut sebagai "konsentrasi kekuatan kolonial baru yang letaknya justru di perbatasan wilayah Republik". Bagi Indonesia, federasi ini dilihatnya merupakan perwujudan neokolonialisme.

Apa yang terjadi di Kalimantan Utara tersebut bagi Indonesia tak dapat dipisahkan dari gerakan NEFOS (New Emerging Force). Sebaliknya pihak Malaya secara tak langsung menuduh keterlibatan Indonesia dalam pemberontakan yang kemudian menimbulkan kemarahan Indonesia.

Perbedaan persepsi antara kedua pihak makin berlanjut kata Indonesia menanggapi tuduhan Tengku Abdul Rahman tersebut dengan menegaskan kembali dukungannya terhadap perjuangan rakyat Kalimantan Utara.

Indonesia menentang berdirinya federasi Malaysia itu dengan alasan, karena negara ini merupakan manifestasi neokolonialisme, dan merupakan produk pemikiran dan usaha mempertahankan kolonialisme dalam bentuk baru. Indonesia tidak ingin munculnya neokolonialisme di sekitarnya. Pembentukan Malaysia dinilai sebagai Perhubungan terhadap Indonesia yang sedang berusaha menyatukan kekuatan kekuatan baru(NEFOS) untuk menentang kekuatan lama.

Dalam situasi seperti itulah maka Indonesia menolak gagasan pembentukan negara federasi Malaysia oleh Inggris, dan timbulah Apa yang dinamakan "Politik Konfrontasi" terhadap Malaysia bentukan Inggris.

TO BE CONTINUE
Diubah oleh scrb
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Thread sudah digembok
Halaman 1 dari 2
Makin Memanas
Situasi politik di kawasan Asia Tenggara pun semakin memanas. Indonesia gerah dan makin gencarnya tekanan yang disebutnya nekolim (neo-kolonialisme-imperalis) yang dipimpin Amerika Serikat. Indonesia sebagai salah satu pemuka negara-negara nonblok merasa makin dijepit dari selatan dan utara. Blok Barat mencoba menekan Indonesia dengan makin memberdayakan SEATO (South East Asia Treaty Organization) yang antara lain terdiri dari Filipina,Amerika Serikat, Inggris, Australia dan Thailand. Pada waktu itu Malaya, Singapura, Kalimantan Utara, Sabah, dan Serawak masih dibawah kekuatan Inggris.

Terjadinya pemberontakan yang dipimpin Azahari pada tahun 1962 di Kesultanan Brunei mendapat simpati yang luas di Indonesia. Pemerintah Indonesia menginginkan agar ada negara baru di Kalimantan Utara yang merupakan perwujudan dari keinginan rakyat Serawak dan Sabah untuk keluar dari penjajahan serta penguasaan Inggris. Secara terbuka Indonesia mendukung perjuangan rakyat Brunei untuk Merdeka sendiri di luar negara baru Malaysia. Kondisi semacam ini tentu menggunakan pihak Inggris yang telah menghendaki dapat menancapkan pengaruhnya di Kalimantan Utara.

Sementara itu, Tengku Abdul Rahman Putra, Perdana Menteri PTM (Persekutuan Tanah Melayu) bersama Inggris telah menyepakati skenario pembentukan negara baru yang akan menggabungkan Serawak dan Sabah dengan PTM, termasuk Singapura, sehingga Serawak dan Sabah akan menjadi bagian dari negara baru Malaysia. Gagasan tersebut ditolak oleh Indonesia yang curiga proyek negara baru itu sengaja diciptakan untuk menutup akses Indonesia ke utara, dalam rangka menggalang kekuatan baru, kelompok negara-negara "New Emerging Force".

Pada masa itu sudah tergalang apa yang dikenal dengan poros politik Jakarta-Hanoi-Peking-Pyongyang sebagai jawaban terhadap Apa yang dinilai sebagai upaya "pengepungan" terhadap Indonesia. Indonesia yang selalu menentang adanya Pakta Pertahanan kawasan seperti SEATO, dianggap sebagai duri di kawasan ini. Indonesia bersama negara-negara non-blok lainnya juga sangat menentang adanya pangkalan militer asing, termasuk di Asia Tenggara, karena dipandang dapat membahayakan kawasan apabila suatu saat terjadi konflik fisik antara dua blok yang saling berhadapan.

Dalam kondisi demikian, pihak Barat tetap berusaha mewujudkan rencananya membentuk negara baru Malaysia. Negara baru tersebut terbentuk pada tanggal 31 Agustus 1963, tanpa menghiraukan protes Indonesia dan Filipina. Pada waktu itu Filipina menuntut Sabah menjadi bagian wilayahnya karena menurut bukti sejarah yang diklaim Manila, Sabah dahulu adalah bagian dari Kesultanan Sulu di Filipina Selatan.

Dengan pembentukan negara Malaysia, maka konfrontasi antara Indonesia dan Filipina di satu pihak dengan Malaysia bersama sekutunya Inggris, yang didukung Australia dan Selandia Baru tak terhindarkan lagi. Pemerintah Indonesia menanggapi pembentukan negara baru itu dengan antara lain memperkuat daerah perbatasan dengan tetangganya. Tindakan tersebut diwujudkan dengan mengirimkan pasukan. Pertama-tama di kirimkan lah pasukan sukarelawan, yang terdiri dari gabungan antara anggota tentara nasional (reguler) dan rakyat sipil. Pengiriman itu dilakukan baik di Kepulauan Riau yang berbatasan dengan Malaya maupun Kalimantan Barat dan Timur yang berbatasan dengan Serawak dan Sabah. Penempatan pasukan di Pulau Rupat, Pulau Batam dan sekitarnya, di Riau, Pontianak dan sekitarnya, Kalimantan Barat dan kota Tarakan, Pulau Nunukan dan Pulau Sebatik di Kalimantan Timur berada di bawah Komando Operasi "Ganyang Malaysia" (KOGAM) dan KOTI (Komando Operasi Tertinggi). Setelah itu menyusul pula pengiriman pasukan reguler ABRI ke perbatasan dengan Malaysia.

Komando Mandala Siaga
Sebagai tindak lanjut politik konfrontasi, maka setiap angkatan baik darat, laut, maupun udara, menyiapkan embrio Komando Mandala Siaga sebagai dukungan ABRI terhadap politik luar negeri Indonesia. Angkatan Laut (ALRI) membentuk Armada Siaga dan sebagai tindak lanjut akan segera mengirimkan pasukan marinir atau Korps Komando AL (KKO) ke perbatasan, baik di Kepulauan Riau maupun Kalimantan Timur. Di setiap kawasan, pasukan KKO itu diperkuat dengan 1 Brigade pendarat yang mulai dilaksanakan pada bulan Desember 1964.

Sejak tahun 1963 sebagai orang Indonesia sudah mengirim pasukan dalam skala kecil ke wilayah-wilayah tersebut. Mula-mula dikirimkan kompi sukarelawan dibantu Kompi senapan reguler. Namun, dengan semakin berujung jauh bukan Indonesia dengan Inggris dan sekutunya dalam Blok Barat (khususnya SEATO), maka tindakan penguatan di perbatasan sebagai tekanan politik makin ditingkatkan. Di setiap kawasan ditempatkan Brigade Brigade ABRI termasuk Brigade Pendarat Marinir yang siap tempur. Di Pulau Nunukan dan Pulau Sebatik disiapkan satu brigade, yakni Brigade Pendarat I Marinir dipimpin Letkol K Soemardi, sedangkan Brigade Pendarat II di pulau Batam dipimpin oleh Letkol Mohammad Anwar. Kedua Komandan ini dinaikkan pangkatnya menjadi Kolonel. Disposisi pasukan ini dilakukan efektif pada akhir tahun 1964
Diubah oleh scrb
Asyeek, nambah lagi nih bahan bacaan yang bermamfaat. Dutunggu terus lanjutannya yah gan
lanjuuuut agaan. terimakasih bacaannya yg bermutu ini
Situasi Umum Sepanjang Pendaratan
Perbatasan darat antara Kalimantan timur dengan Serawak dan Sabah, pada umumnya belum tertata dengan baik. Penyelundupan antara kedua wilayah itu merupakan peristiwa sehari-hari. Pada awal tahun 60-an, Tawau kota terbesar di Sabah merupakan pusat perdagangan yang cukup ramai. Penyelundupan dari Tawau ke daerah sekitarnya bahkan sampai ke Parepare dan Tarakan sangat ramai. Keadaan ini dimanfaatkan pula oleh gerombolan DI/TII Kahar Muzakar yang beroperasi di Sulawesi Selatan.

TNI AL merasa perlu mengamankan wilayah ini dari perbuatan kriminal para penyelundup tersebut sekaligus mencegah gerombolan DI/TII memasuki Tawau. Karena itu dibentuklah satuan tugas operasional yang mampu mengatasi kerawanan antara Sabah dan Kalimantan Timur, khususnya daerah perairan kepulauan antara Tawau, Nunukan ,Sebatik Tanjung Haus, Mandul, Bunyu dan Tarakan.

Situasi politik di Asia Tenggara juga makin memanas dengan rencana pembentukan proyek negara Malaysia oleh Inggris sejak tahun 1961. Semula proyek ini masih merupakan wacana. Namun, lama-kelamaan pihak pemerintah dan rakyat Indonesia merasa proyek itu semakin mengganggu perdamaian di Asia Tenggara. TNI AL pun mulai mengantisipasi keadaan tersebut. Maka dibentuklah suatu kesatuan operasional yang terdiri dari satu Kompi Marinir diperkuat yang akan ditugaskan di Kalimantan Timur, khususnya di perbatasan darat atau laut Sabah. Yang dimaksud dengan "diperkuat", adalah diperkuat kemampuan tempurnya, yaitu dengan menambahkan senjata bukan organik yang diperlukan untuk dapat melakukan tugasnya, seperti du pucuk STB 75 ( senjata tanpa tolak balik kaliber 75mm) dan dua pucuk mortir 81, biasa disebut 1 seksi mortir 81. Disamping itu, alat komunikasinya juga ditunjang dengan satu peleton peralatan perhubungan. Satu peleton Sekoci Pendarat Pasukan (SPP) juga ditambahkan sebagai sarana angkut yang dapat melalui laut, selat, atau sungai seperti yang ada di Kalimantan. Personel yang diperlukan sebanyak 530 orang. Sebagai komandan, ditunjuk Mayor Marinir Sumantri. Untuk mendukung operasi dibentuklah Peleton 'X' yang bertugas selaku pencari dan pengumpul data intelejen, dipimpin oleh Letnan Sutanto.

Tugas Kompi diperkuat ini adalah menyelenggarakan operasi teritorial untuk menjaga daerah perbatasan terhadap kemungkinan terjadinya pelanggaran wilayah dan melindungi gerilyawan yang bertugas di daerah itu serta melindungi warga Indonesia yang diusir dari Sabah.

Pasukan diberangkatkan dari Surabaya dengan KRI Halmahera pada tanggal 27 September 1963 dan tiba di Tarakan tanggal 2 Oktober 1963.

Kekuatan Lawan
Pada akhir tahun 1963, kekuatan militer Inggris dan sekutunya termasuk satuan Gurkha, ditempatkan di beberapa lokasi yang dianggap penting seperti dua peleton di sekitar Tawau(Sabah), satu peleton di Tanjung Lalang(Sebatik), satu peleton di Kalabakan, dan satu seksi di Serudong(Sabah). Masih ada satu peleton lagi di Kp.Melayu Sebatik. Disamping pasukan darat, Inggris juga menyiagakan beberapa kapal perangnya jenis fregat dan destroyer yang dibantu oleh kapal-kapal patroli milik polisi perairan (marine police) maupun kekuatan udara (RAF) seperti pesawat dan beberapa helikopter angkut.

Melihat kekuatan lawan, TNI merasa memerlukan data intelijen yang lebih akurat. Cara untuk mendapatkan data intelijen adalah dengan mengadakan patroli tempur atau raid, yakni serangan secara mendadak dan cepat dan segera kembali ke Pangkalan.
Dengan adanya Ton X sebagaimana disebutkan diatas, maka tugas mencari data ini tentu saja dibebankan kepada mereka.

Pada saat itu di Tarakan terdapat pula badan yang melakukan kegiatan intelijen yang dikendalikan oleh KOTI yang melakukan operasi Intel dalam rangka menghadapi kemungkinan perang terbuka. Badan itu lebih dikenal dengan nama Ops. A. Agar tidak terjadi tumpang tindih di lapangan, Panglima AL (Pangal) memerintahkan agar Ton X diperbantukan ke KOTI/Ops A di Tarakan yang dikenal dengan Basis VI KOTI. Namun di sisi lain Marinir tetap memerlukan jasa Ton X yang dalam hal ini tetap melakukan operasi nya dengan menyusupkan sukarelawan atau gerilyawan ke wilayah lawan.

Kegiatan Ton X ini antara lain berhasil menyusupkan sukarelawan yang berhasil menggegerkan pasukan Inggris di Kalabakan seperti raid yang dipimpin Serda Robani. Raid ini sangat berhasil dan menewaskan 8 Serdadu Inggris Termasuk komandan Kompi nya yang berpangkat mayor dan melukai sekitar dua puluh sampai tiga puluh serdadu lainnya. Namun di pihak lain, Marinir juga harus rela menyerahkan jiwa raga seorang Perwira Muda, komandan Peleton X Letnan Sutanto di Mantadak Sebatik.

Dalam rangka perjuangan Indonesia mendukung proses dekolonisasi, melalui Keputusan Presiden, Panglima Tertinggi ABRI No. 142/th 1963 tanggal 19 Juli 1963 telah dibentuk suatu komando yang disebut Komando Operasi Tertinggi, lebih dikenal dengan singkatan nya KOTI. Badan ini merupakan wadah tertinggi operasi gabungan ABRI, khususnya untuk menghadapi pembentukan Malaysia, yang dianggap dapat mengancam integritas Negara Kesatuan Republik Indonesia. Untuk kepentingan pengumpulan data intelijen, kegiatannya dikoordinasikan oleh staf G-1 KOTI dan dipimpin oleh Brigjen TNI magenda, sedangkan pelaksanaannya oleh Ops A. Kenyataannya, dalam operasional di lapangan ternyata ada dua badan pengumpul intelijen yakni G-1 KOTI dan BPI (Badan Pusat Intelijen) di bawah kendali Dr. Soebandrio yang menjabat juga sebagai Menteri Luar Negeri Indonesia. Untuk menghindari bentrokan di lapangan diadakan pembagian tugas masing-masing, yakni G-1 KOTI diberikan wewenang melakukan operasi intelijen strategis militer, sedangkan BPI menangani bidang intelijen strategis politik. Ketika berada di Nunukan, Saya pernah bertemu seorang kawan tamatan dari Fakultas Hukum UGM, Saudara Wibakswo. Ketika saya tanyakan tugasnya di Nunukan dia menyatakan dari BPI. Selanjutnya saya tidak pernah bertemu lagi, mungkin ditugaskan di tempat lain.

Quote:
Peran Peleton X Marinir dalam Operasi Intel
KOTI mempunyai dua macam rencana operasi yang disebut sebagai Rencana A dan Rencana B. Korps Marinir diminta mendukung rencana A. Dalam tahap pertama telah mengirimkan kesatuan operasional, baik yang ditugaskan di Kalimantan Timur maupun di Riau Kepulauan, Yakni dengan membawah perintahkan satuan IPAM (Intai Para Amfibi Marinir) kepada Komandan Basis II Ops.A di Riau dan Peleton X kepada Komandan Basis VI di Tarakan, Kalimantan Timur. Peleton X merupakan bagian dari kesatuan Marinir yang bertugas di Kalimantan Timur. Pada tahap berikutnya, karena Ops.A memerlukan tenaga lebih banyak lagi maka Korps Marinir diminta mengirimkan lagi satuan-satuan baru. Panglima kemudian memerintahkan kepada para komandan komando utama (kotama) di Surabaya untuk mengarahkan sebanyak 300 anggota Marinir yang terdiri dari perwira pertama, bintara, dan tamtama. Mereka ini diberi pembekalan seperlunya dengan pelatihan di Cisarua selama 1 bulan. Selesai diserahkan ke Ops.A KOTI, untuk ditugaskan sesuai kebutuhan KOTI, khususnya di basis II dan basis VI. Anggota Marinir yang ditugaskan di basis VI Ops.A tergabung dalam Kesatuan Brahma IV dengan komandan Kompi nya Letnan Yus Winahtodan wakilnya Letnan Sugiharto. Tugas yang dibebankan kepada pasukan Brahma IV adalah mendapatkan data Intel mengenai musuh, menyelenggarakan kantong Gerilya di daerah lawan, melakukan sabotase, demolisi terhadap objek objek yang bernilai ekonomi maupun militer, serta mendidik gerilyawan yang berasal dari dalam (daerah lawan) dan mengembalikan ke sasaran. Tugas yang terakhir adalah membangkitkan semangat perlawanan rakyat Kalimantan Utara
Operasi Pontian Johor Baru
Peran anggota marinir dalam Ops.A KOTI sebenarnya cukup banyak dan berhasil memainkan pihak lawan. Ops.A adalah suatu operasi intelijen yang lebih menekankan hasil pada efek politis daripada efek militer. Keberhasilan infiltrasi pasukan Marinir ke daerah lawan baik di Malaya( Malaysia Barat), Singapura, maupun Sabah, telah membuktikan bahwa lawan tidak mampu menjaga wilayahnya dengan baik. Beberapa upaya infiltrasi yang berhasil, antara lain peristiwa pendaratan di Pontian Johor pimpinan Serda Marinir Mursid dan Serda Marinir A. Siagian yang didukung dengan pendaratan udara di Labis oleh personel sukarelawan TNI AU, penyusupan ke Serawak oleh unsur sukarelawan Kodam, penyerangan ke Serudong dan Kalabakan oleh unsur sukarelawan Marinir pimpinan Serda Robani, keberhasilan Kopral Usman Janatin dan Prajurit Marinir Harun alias Tohir meledakkan McDonald House Singapura dan lain-lain. Operasi-operasi itu secara nyata menggambarkan keberhasilan dan operasi Intel. Operasi-operasi yang tergolong nekat ini diakui pihak lawan ( walaupun mereka berusaha menutupi ) dengan menyiarkan keberhasilan mereka menangkap para gerilyawan tersebut.

Dalam rangka menunjang Ops A tersebut, satuan satuan operasional Marinir telah dikirim baik ke wilayah perbatasan barat, yakni Kepulauan Riau, maupun di wilayah perbatasan Utara di Kalimantan Timur yang berbatasan dengan Sabah ( Malaysia Timur ). Pada awalnya, Korps setelah membentuk satuan operasional yang terdiri dari anggota IPAM yang diperbantukan kepada Basis II di Riau dan Basis VI di Tarakan. Berikutnya, sesuai permintaan pimpinan, dibentuk lagi kesatuan-kesatuan kecil yang disebut sebagai tim, yakni Tim A sampai dengan Tim M, sebanyak 300 personel dengan status sebagai sukarelawan Dwikora. Untuk memantapkan kemahiran di lapangan, mereka terlebih dahulu diberikan pelatihan di Cisarua selama satu bulan. Mereka mendapatkan materi pelatihan seperti pengetahuan intelijen, kontra intelijen, sabotase, demolisi( pengetahuan tentang penggunaan bahan peledak), perang gerilya dan perang hutan. Seorang Marinir pada dasarnya sudah pernah mendapatkan pengetahuan tersebut selama dalam pendidikan dasar dan lanjutan di lembaga pendidikan Marinir di Surabaya. Sehingga, pelatihan di Cisarua lebih berupa pemantapan saja. 13 tim yang terbentuk kemudian diserahkan ke KOTI untuk dioperasionalkan. Tim tersebut terdiri dari
Tim.A sebanyak 24 anggota pimpinan Letnan Paulus Subekti,
Tim.B 24 orang pimpinan Letnan Yus Winahto,
Tim.C 24 orang pimpinan Letnan Sudarno,
Tim.D 24 orang pimpinan Letnan Muda W.Christianto,
Tim.E 24 orang pimpinan Letnan Muda Siregar,
Tim.F 25 orang pimpinan Letnan Radian Dally,
Tim.G 24 orang pimpinan Letnan W.Siwanto,
Tim.H 22 orang pimpinan Letnan Sugiharto,
Tim.I 21 orang pimpinan Letnan Musahid,
Tim.J 23 orang pimpinan Letnan Muda Sam Sarayar,
Tim.K 22 orang pimpinan Letnan Muda Supryanto,
Tim.L 20 orang pimpinan Letnan Muda Waluyo,
Dan Tim.M 21 orang pimpinan Letnan Muda Nandang.

Operasi Pontian melibatkan tiga tim gabungan Tim Syiwa I (unsur sukarelawan AU) sebanyak 2 tim dan 1 tim Brahma. Mereka harus sudah ada di sana pada tanggal 17 Agustus 1964. Tiap tim dengan anggota 33 atau 34 orang, campuran dari eks-militer dan sipil termasuk warga Malaysia yang akan menjadi penunjuk jalan. Tiap tim mendapat sasaran masing-masing, namun kemudian bergabung dengan 2 tim lainnya di tempat yang sudah ditentukan. Mereka akan diberangkatkan dari Pulau Panjang sekitar pukul 22.00. Tim 1 dan Tim 2 dipimpin oleh Serma Udara Suparmin dan Serma Udara Saikun, sedangkan tim 3 oleh Serda Marinir A.Siagian dan Serda Marinir Mursid. Instruksi yang diterima Serda Mursid sebelum berangkat adalah ,setelah mendarat tim bergerak ke dalam sejauh 4 mil dan kemudian bergerak ke Gunung Pulai, bertemu dengan Tim 2, setelah itu bergerak ke arah utara, menyebrangi jalan raya Johor-Kuala Lumpur untuk bergabung dengan tim lainnya. Tim 3 baru diberangkatkan pada tanggal 17 Agustus 1964 pada pukul 02.30.

Misi yang diemban dalam tugas Raid ke Pontian ini adalah untuk mendampingi sukarelawan lokal dalam operasi militer, memberi pelatihan pada kader-kader setempat yang dikumpulkan di daerah sasaran, dan setelah dianggap cukup kembali ke Pangkalan
Penuturan Pelaku Operasi
Dari keterangan Seorang anggota Marinir yang kembali pada tahun 1967, Serma Z.Yacobus, yang dalam operasi tersebut berpangkat Kopral, penulis mendapat keterangan sebagai berikut:

Tim 3 dari Brahma II menggunakan kapal patroli cepat, Kalau tidak salah milik Bea dan Cukai. Tim operasi ini terdiri dari 21 anggota. Rombongan dibawa menuju suatu tempat di perbatasan pada tanggal 17 Agustus 1964 sekitar pukul 20.00 waktu setempat. Pelayaran memakan waktu sekitar 4 jam.

Setelah mendapat perintah dari masing-masing komandan tim dan juga menerima perlengkapan tambahan, sekitar pukul 01.30 tengah malam rombongan menerima briefing dari Komandan Basis II, dilanjutkan dengan embarkasi ke dalam dua perahu motor yang telah dipersiapkan. 9 orang sukarelawan lokal dari Malaysia ikut dalam tim dan akan bertindak sebagai penunjuk jalan (guide). Dengan demikian jumlah Tim menjadi 30 orang.

Dengan menggunakan formasi berbanjar berangkatlah kedua Perahu tersebut menuju sasaran. Namun apa hendak dikata, salah satu perahu mengalami kerusakan mesin, sehingga terpaksalah ketua tim ini bergabung menjadi satu sampai daerah pendaratan.

Sekitar pukul 06.30 ketua tim sampai ke daerah sasaran tanpa diketahui musuh. Ternyata pantai pendaratan merupakan rawa-rawa yang berlumpur. Ketua tim memutuskan untuk tetap bertahan di situ yang jaraknya sekitar 50 meter dari pantai pendaratan. Namun rencana penyusupan ini dikhawatirkan sudah diketahui musuh. Sehingga mereka memutuskan tidak melanjutkan gerakan dulu dan tetap berlindung di semak-semak sambil menunggu hari menjadi gelap.

Pukul 19.00 tim baru dapat meninggalkan medan persembunyian tersebut dengan mencoba berjalan melalui rawa-rawa berlumpur dengan susah payah. Pukul 03.00 Pagi, tim memutuskan untuk beristirahat (menurut istilah Marinir disebut harbouring).

Demi keamanan, kedua tim terpaksa berpisah. Tim pertama dipimpin oleh Serda Mursid sebagai komandan tim dan Kopral Ponadi sebagai wakil. Tim kedua dipimpin oleh Serda A.Siagian dan Kopral Yacobus sebagai wakil merangkap kepala kelompok 1.

Rupanya kedudukan infiltran sudah diketahui pasukan keamanan setempat, Karena setelah sekitar 3 jam pasukan berada di situ, kedudukannya sudah dikepung musuh. Diperkirakan kekuatan musuh sekitar satu peleton(30-40 orang). Musuh menembak sebagai pancingan untuk mengetahui kedudukan pasukan, disusul ledakan granat tangan. Maka pertempuran tidak dapat dihindari lagi.

Ternyata kemampuan musuh bertempur masih di bawah kemampuan tim marinir, sehingga beberapa orang musuh tertembak mati. Di pihak tim gugur satu orang penunjuk jalan. Merasa tidak dapat menghadapi kemampuan tempur marinir, mereka mendatangkan bantuan dua helikopter dan satu pesawat lainnya. Namun sebelum bantuan tiba di lokasi kontak senjata, dengan cepat tim meninggalkan lokasi dan mencari tempat lain yang dirasakan lebih aman untuk bertahan di semak-semak dalam rawa tersebut. Rupanya musuh kemudian menggunakan anjing pelacak untuk mengendus jejak tim marinir.

Tanggal 19 Agustus 1964, komandan Ti memerintahkan dua penunjuk jalan untuk melakukan pengintaian dan mencari informasi dengan berpakaian preman seperti penduduk setempat. Namun, sampai Senja hari keduanya belum nampak batang hidungnya. Untuk mengatasi keraguan itu, komandan tim memutuskan untuk tidak menunggu kedatangan kedua orang itu dan melanjutkan gerakan selanjutnya. Perlengkapan dan senjata kedua sukarelawan Malaysia itu terpaksa disembunyikan. Senjatanya dikubur dalam lumpur untuk menghilangkan jejak.

Selanjutnya tim melanjutkan gerakan menuju sasaran yang telah ditentukan. Dalam perjalanan itu tiba-tiba tim mendapat serangan musuh secara mendadak. Namun, dengan sekuat tenaga dan dijiwai semangat dan semboyan marinir "Pantang mundur, mati sudah ukur", perlawanan tetap gigi sehingga beberapa lawan gigih sehingga beberapa lawan terluka. Hal itu berdasarkan keterangan penduduk setempat yang sempat ditemui setelah selesainya pertempuran. Di pihak Marinir, gugur lagi seorang penunjuk jalan.

Malam itu, setelah selesai kontak senjata, tim terpaksa istirahat di rawa-rawa lagi berlindung selama 1 hari. Setelah istirahat satu hari, tim melanjutkan gerakan menuju sasaran.

Namun, mereka tidak dapat menuju sasaran sesuai yang direncanakan karena sudah diduduki musuh. Hal ini diketahui karena dari tempat sasaran terdengar bunyi rentetan tembakan. Rupanya telah terjadi kontak senjata dengan tim yang dipimpin Sabda Mursyid. Sedangkan tugas yang kedua adalah mengadakan pencegatan. Karena kedua tim tidak dibekali alat komunikasi, maka di antara mereka tidak terjadi komunikasi, sehingga tugas penghadangan ini gagal.

Setelah pertempuran reda satu jam kemudian, tim Marinir memutuskan untuk bersembunyi di rawa tak jauh dari perkampungan penduduk. Setelah tim istirahat sekitar 1 jam, gerakan diteruskan mendekati Kampung dan sampailah ke sebuah rumah dan menemui penghuninya yang bernama Hasan yang mengaku keturunan Jawa.

Di rumah tersebut di mendapat pelayanan yang cukup baik, sehingga terjadilah percakapan yang kurang hati-hati yang menyangkut penugasan tim. Tanpa rasa curiga, akhirnya Hasan pun bersedia bekerja sama dengan tim marinir. Bahan Hasan pun sudah menunjuk tempat perlindungan yang jaraknya tidak jauh dari rumahnya, sekitar 1 km dari kampung tersebut.

Pada tanggal 30 Agustus setengah hari, datanglah Hasan membawa seorang laki-laki yang diakuinya sebagai pamannya ke tempat persembunyian tim, untuk menyampaikan informasi. Kemudian dia menyarankan agar tim pindah lagi ke Gubug lain sejauh kira-kira 500 meter dari persembunyian pertama. karena sudah terlanjur percaya pada si Hasan ini, tim pun segera bergerak ke lokasi yang baru. Namun apa yang terjadi? Hanya sekitar setengah jam kemudian, tim mendapat serangan mendadak sehingga menewaskan 2 anggota tim, yakni Prajurit Satu Kahar dan seorang guide. Kopral Yakobus terkena tembakan di siku tangannya, sehingga senjatanya lepas. Prajurit Satu Sipianu Sahuri mendapat luka parah, sedangkan Kopral S Priyono dapat menyelamatkan diri seseorang. Dalam situasi terjebak di tengah bunyi tembakan yang gencar, musuh berteriak "Surrender,surrender!" teriakan ini diulangi lagi lebih keras "Kalau awak mau hidup, surrender cepat!".Dalam keadaan luka parah, yang pingsan, dan lemah karena banyak mengeluarkan darah, anggota tim ini tertangkap musuh. Selanjutnya mereka dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan seperlunya dan kemudian dibawa ke Balai Polis (kantor polisi). Si Hasan itu ternyata penghianat. Pura-pura mau menolong, rupanya Ada udang Dibalik Batu. Ia mengharapkan hadiah yang cukup besar dari aparat keamanan setempat, apalagi kalau berhasil dapat menangkap anggota Marinir Indonesia. Siagian sendiri tertawan, namun tiga anggotanya dapat kembali dengan selamat ke Pangkalan.

Regu 1 yang dipimpin Serda Mursid, akhirnya sampai ke Gunung Pulai. Namun karena lokasi itu sudah diketahui, terjadilah pertempuran sengit melawan musuh yang jauh lebih kuat. Regu Mursid akhirnya kehabisan peluru. namun tetap melawan dengan gigih sehingga tiga orang gugur termasuk Serda Mursid sendiri, dan anggota regu lainnya ditawan oleh pihak musuh.

Quote:
Diubah oleh scrb
Pembinaan Teritorial
Setiap operasi militer, tanpa dukungan operasi teritorial tidak akan berhasil dengan baik. Ini merupakan pengalaman yang cukup panjang bagi TNI dalam setiap melakukan operasi nya di seluruh tanah air. Demikian pula pengalaman marinir dalam operasinya selama ini, terutama dalam memberantas pemberontakan bersenjata. Operasi militer tentu memerlukan dukungan masyarakat setempat. Artinya, tanpa dukungan masyarakat operasi tidak akan efektif. Apalagi kalau sampai "dimusuhi" rakyat akibat sikap para anggota yang misalnya dianggap masyarakat setempat melanggar adat.

Sebaliknya akan sangat berbahaya bila musuh justru dapat memengaruhi masyarakat sehingga rakyat setempat mau memberikan informasi tentang aktivitas pasukan kita. Karena itu dari pihak Brigade selalu berupaya untuk mendorong terciptanya kesatuan antara Marinir dengan masyarakat setempat. Dari pembinaan teritorial tersebut sangat nampak hasilnya dari sikap masyarakat.

Bagi rakyat Nunukan dan Sebatik khususnya, maupun rakyat yang tinggal di pulau-pulau lain disekitarnya yang berdekatan dengan dua pulau tersebut, semangat "Ganyang Malaysia" sangat membanggakan. Mereka sangat menyadari bahwa kedudukan kedua pulau tersebut sangat dekat dengan wilayah lawan. Mereka juga menyadari keberadaan pasukan marinir di sana adalah untuk mengemban tugas negara, untuk menjaga perbatasan negara yang berarti menegakkan kedaulatan negara Republik Indonesia. Karena itu mereka berusaha untuk sedapat mungkin memberikan bantuan semampunya. Demikian pula sebaliknya, pihak Brigade melarang keras semua tindakan anggota yang dapat merugikan atau melukai hati rakyat.

Dalam hal memenuhi kebutuhan lauk pauk misalnya, mereka harus membeli dengan uang yang diberikan sebagai jatah uang lauk pauk masing-masing. Tidak pernah ada laporan tentang anggota yang meminta secara paksa kepada warga masyarakat. Sikap ramah, tidak suka meminta, dan selalu bersikap sopan mendorong warga bersikap sama kepada marinir. Warga sangat menghargai dan bersimpati meskipun tahu benar, musuh ada di seberang sana dan bila terjadi pertempuran terbuka rakyat akan kena getahnya.

Untuk mengajak rakyat bergiat di bidang keamanan, para pemudanya diajak untuk menjaga keamanan kampungnya. Anggota juga mendidik para pemuda agar mau menjadi hansip. Selain itu, anggota juga membantu pembangunan tempat ibadah, baik Masjid, Surau, maupun gereja. Hal itu sangat dihargai masyarakat. Makan di bidang pembinaan kesehatan, Rumah Sakit Brigade sangat terbuka bagi warga masyarakat yang memerlukan dan sama sekali tidak memungut bayaran. Untuk memenuhi kebutuhan seorang perawat gigi, seorang gadis setempat telah direkrut untuk membantu di ruang kesehatan gigi. Demikian pula di pedalaman, prajurit ikut mendorong pemberantasan buta huruf dan beberapa ikut mengajar di sekolah dasar.

Dalam buku ini, Saya tidak akan menceritakan penempatan pasukan Marinir secara keseluruhan, Tetapi hanya yang saya saksikan dan alami langsung di Kalimantan Timur. Khususnya tentang kasiagaan Brigade Pendarat 1 yang bertugas di Pulau Nunukan, Pulau Sebatik, dan sekitarnya. Sebelum kedatangan Brigade Pendarat 1 Marinir, di kedua Pulau ini hanya ditempatkan satu Kompi senapan dari Batalyon 1 Marinir yang bermarkas di Surabaya.

Kedatangan pasukan sebesar 1 Brigade Pendarat pada bulan Desember 1964, yang berjumlah hampir 4000 personel, tentu merupakan peristiwa besar pada waktu itu. Hal ini merupakan suatu perkembangan strategis yang harus diperhitungkan oleh Malaysia dan Inggris. Pulau Nunukan langsung penuh dengan pasukan Marinir beserta perlengkapan dukungan tempurnya seperti artileri, tank, dan panser, serta kemudian diperkuat dengan Satuan Udara Armada dari Skuadron 400 Helikopter AL. Batalyon 1 Marinir yang terdiri dari Kompi C dan Kompi X ditempatkan di Pulau Nunukan dan Kompi Brahma ditempatkan di daratan Kalimantan(Pembeliangan-Sebuku). Demikian pula di Pulau Sebatik, ditugaskan pasukan Batalyon 3 yang didukung oleh satu peleton tank dan satu peleton panser amfibi dari Batalyon Tank Amfibi dan Batalyon Panser Amfibi. Perlu diketahui bahwa Pulau Sebatik sejak masa penjajahan telah terbagi menjadi dua, Yani sebelah utara menjadi wilayah jajahan Inggris yang kemudian menjadi Malaysia, dan paruh selatan pulau menjadi wilayah Republik Indonesia.
Kendala Pelaksanaan Operasi
Secara umum kendala yang mengganggu kelancaran operasi di wilayah Brigade Pendarat 1adalah medan di daerah pedalaman, yang umumnya merupakan Rimba Raya yang sangat lebat dan belum dijamah manusia, seperti yang diduduki Kompi X di Siglayan.

Daerah pantai umumnya terdiri dari rawa rawa yang dipenuhi dengan pohon bakau yang sulit ditembus walaupun menggunakan perahu kecil atau kole-kole yang hanya mampu membawa dua orang prajurit. Di dahan pohon bakau tersebut banyak terdapat ular bakau yang kulitnya mirip dengan bakau asli, sehingga sulit dibedakan antara ular dengan dahan yang ada di atasnya. Karena itu demi keamanan, penumpang perahu dianjurkan memakai topi. Ular bakau tersebut sering dimanfaatkan sebagai tambahan lauk pauk oleh prajurit Kompi X.

Dalam melaksanakan patroli, maka semak-semak di hutan pedalaman maupun pohon-pohon yang lurus tinggi, sulit untuk dijadikan tanda Medan. Karena itu, anggota yang kurang waspada akan mudah tersesat di hutan. Di sana masih banyak terdapat hutan rotan yang sulit untuk ditembus karena pasukan hanya dilengkapi dengan parang.

Yang disebut Jalan hanyalah merupakan Jalan Setapak yang sepintas lalu sulit dibedakan dengan medan di sekitarnya, kecuali bagi prajurit yang sudah mengenal kondisi hutan di Kalimantan. Keterbatasan lain adalah sangat kurangnya alat komunikasi terutama antara peleton dengan kompi, sehingga pasukan selalu mengalami kesulitan dalam penyampaian laporan. Hal ini dialami oleh Kompi X yang ditempatkan di Siglayan. Kompi X hanya memiliki satu sarana komunikasi, yaitu radio GRC/9. Waktu berhubungan ditentukan 3 kali sehari, pada pukul 08.00, 12.00, 16.00. Akibatnya, laporan kejadian dari Siglayan sering terlambat diterima oleh markas Batalyon di Nunukan.

Dukungan logistik bagi para pasukan di garis terdepan sangat kurang memadai. Padahal dukungan logistik merupakan kebutuhan vital bagi sebuah operasi militer. Setiap pasukan yang beroperasi di pedalaman harus mampu menghemat persediaan logistik khususnya persediaan peluru, beras, dan makanan kaleng. Sangat sulit untuk dapat membantu pasukan lain dengan cepat karena faktor jalan dan angkutan yang harus melalui air( laut, selat, dan sungai). Keadaan itu berbeda sekali bila dibandingkan dengan lawan yang selalu didukung dengan helikopter. Mereka dengan mudah mengirimkan dukungan logistik ke garis depan.

Perlengkapan pakaian yang sebenarnya kami perlukan adalah jenis pakaian tipis tapi kuat dan cepat kering, karena hampir setiap hari hujan turun dan kamu sering bergerak melalui rawa-rawa. Perlengkapan tambahan seperti jaket, obat-obatan, anti serangga terutama untuk mengusir lintah dan nyamuk, serta pil yang digunakan untuk menjernihkan air juga kami perlukan. Karena semua itu tidak tersedia, kami membiasakan bergerak di hutan dengan hanya menggunakan celana pendek dan melepas sepatu lapangan(nyeker). Ternyata dengan perlengkapan seringan-ringannya kami dapat bergerak lebih lincah.
Kekuatan Lawan
Menurut informasi intelijen yang kami peroleh, di Malaysia terdapat pasukan Persemakmuran (Commonwealth) yang berpangkalan di Malaysia, Singapura, dan Hongkong. Pada tahun 1965 pasukan Inggris yang berada di Malaysia antara lain Skuadron Artileri Medan ke 1 dari Queen Dragon Guard.
Kesatuan-kesatuan lain yang ada di antaranya adalah:
Gordon Highlander 1, Batalyon Scots Guards, Batalyon Kings Town Scots Borders, Resimen Artileri, dan Batalyon Green Jackets.

Sedangkan yang dihadapi langsung oleh Brigade Pendarat 1 adalah satuan dari Brigade Infanteri di Labuhan, dan Batalyon II Ranger Malaysia, kemudian Batalyon campuran terdiri dari satuan SAS Australia dan Detasemen SAS Selandia Baru, skuadron pengintai (Recce), Batalyon Artileri II, dan skuadron helikopter angkut.

Khusus di Pulau Sebatik terdapat Batalyon II Ranger Malaysia dengan penempatan satu Kompi di Tanjung Lalang, satu peleton di Simpang Tiga, satu Kompi di Bergosong, satu peleton di Sungai Limau ( di depan pos marinir di Sungai Nyamuk), satu Kompi di Serudong.

Disamping itu terdapat satu skuadron SAS Australia dan satu detasemen SAS Selandia Baru di Kalabakan. Kemudian Batalyon Artileri 105 di Tanjung Lalang dan Marutai, skuadron pengintai di Tawau, dan satu satuan helikopter di Tawau.
Next menunggu persetujuan dari para formiler dilanjutkan ceritanya atau tidak

Bab 2


Berangkat ke Wilayah Perbatasan
lanjut gan
lanjutkan gan...seru inih
Marinir, pasukan Komando
Sayang marinir ga dilengkapi ama artileri 122 saat itu.

Kalo ga bisa rame duelnya

Seokarno salah

Simply seokarno understanding is wrong..when most indonesian in poor live and conflic with comunist he try to divert people attention to look he as Indonesia is more superior. He said Malaysia n Singapore independence is a gift from British, and the fact is Indonesia indepandance is gift from japan. Seokarno and Hatta meet japananise emperror at Viatnam for pledges Independence.
Quote:


I think hirohito , emperor of Japan during 1945 sit on his reign in Tokyo. They go to Dalath, to meet IJA general Terauchi to talk about independence. But later its fail after japan surrender to allied
Quote:


Sukarno, Hatta PPKI as leader and as a former chairman Radjiman Wedyodiningrat BPUPKI flown to Dalat, 250 km north-east of Saigon, Vietnam to meet Marshal Terauchi. They reported that the Japanese were on the verge of defeat and will give independence to Indonesia

On August 12, 1945, Japan by Marshal Terauchi in Dalat, Vietnam, told Sukarno, Hatta and Radjiman that the Japanese government will soon give independence to Indonesia and the proclamation of independence can be implemented within a few days, depending on how the PPKI. Despite this independence for Indonesia Japan on August 24.
Quote:


Japan will give on 24th right? But we declare it on 17th august. And the other one if japanese give it they army like army and naval will support it but history tell other right
go go go. lanjutken


utk yg lain mohon balik lagi ke pembahasan.
Halaman 1 dari 2
×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di