alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5808d7c49e7404a77a8b4568/update--diskusi-hasil-persidangan-kasus-kopi-maut---part-12
UPDATE : Diskusi hasil persidangan kasus kopi maut
UPDATE : Diskusi hasil persidangan kasus kopi maut
Menanti Sidang tanggal 20 Oktober 2016

Thanks to agan snipertarget emoticon-Big Grin
Quote:Original Posted By snipertarget
Summary TANGGAPAN JPU (REPLIK) TERHADAP PLEDOI PH pada sidang Jessica tgl 17 Jan 2016

1. Replik terdiri dari 60 halaman dan kebanyakan isinya di luar substansi hukum.

2. JPU di dalam Repliknya, kebanyakan isinya menolak Nota Pembelaan (PLEDOI) dari PH tanpa bisa memberi penjelasan yg detail terhadap fakta2 yg disampaikan oleh PH di pledoinya seperti:
- Tentang perbedaan bentuk botol dari wadah BB kopi, dimana kesaksian Devi/Yohanes mengatakan botolnya dari plastik dan Devi membantah di persidangan kalau botol dari kaca tsb bukan berasal dari Olivier.
- Jumlah volume kopi yg meluber2 dan kontradiksi dgn volume gelas.
- Tentang posisi sedotan.
- Dan lain-lain.

3. Pembacaan Replik diawali dgn asumsi JPU dgn mempertanyakan momen Jessica menangis baru pada saat pembacaan pleidoi padahal di sidang2 sebelum2nya Jessica menurut JPU tdk pernah menangis.
Fakta: - Jessica terlihat menangis bukan hanya saat pembacaan pledoi tetapi juga saat Hakim B mengatakan kalau ada contoh kasus kalau seseorang juga bisa dihukum walaupun tdk ada saksi yg melihat. Pernyataan Hakim B tsb ternyata salah karena si terdakwa pada contoh kasus tersebut mengakui kesalahannya.

Kesimpulan: JPU tdk mengetahui fakta persidangan yg sebenarnya.

4. Replik: Kebohongan itu bisa menular, dan Jessica menularkan kebohongan kepada PH.
Comment:
- Tdk ada landasan teori atau literatur yg menyatakan kalau kebohongan itu bisa menular. JPU hanya berasumsi.
- JPU tdk menunjukkan data pembanding sebagai bantahan terhadap keterangan Jessica, namun dgn tiba2 bisa menyatakan kalau Jessica adalah pembohong. Seperti bukan lulusan sarjana saja.

5. JPU keberatan soal penayangan video rekaman TVOne dari PH soal keterangan Tante Mirna kalau keluarga DS sudah menghambur-hamburkan banyak uang utk persidangan.

6. JPU menampilkan photo dimana Jessica tampak sedang duduk di sofa dgn ada meja, AC split dan televisi di dekatnya. Menurut JPU, kesaksian terdakwa soal ruang tahanan yg kecil, bau dan banyak kecoa, itu merupakan pilihan terdakwa supaya tdk digabung dgn tahanan lain. Bahkan, ruang tahanan di Polda Metro Jaya, yg ditempati oleh terdakwa termasuk yg paling mewah.
Fakta:
- Photo2 yg ditunjukkan oleh JPU adalah ruang konseling/psikologi..
- Belum ada di dunia ini termasuk itu di negara maju sekalipun, yg memiliki ruang tahanan dimana ada sofa, AC split, karaoke, teve dan meja kaca di dalamnya.

Kesimpulan:
- Dari pernyataannya tersebut, secara tdk langsung JPU sdh membenarkan kalau sel tikus yg kecil, bau, dan banyak kecoa itu memang benar2 ada.
- Selain melakukan pembohongan publik, JPU sebenarnya sdh melecehkan pihak kepolisian soal keberadaan sofa, AC split dan meja kaca di ruangan tahanannya.

7. Pledoi PH: Pertanyaan PH tentang keterangan JPU di Surat Tuntutannya yg mengatakan ada 5 gram Sianida di dalam gelas, padahal tdk ada di fakta persidangan maupun di laporan Toksikologi Nursamran.
Replik: JPU mendapatkan kata "5 gram sianida" tersebut berasal dari Youtube pada menit 18:07 sampai menit 18:48. Ahli Nursamran menyatakan bahwa kandungan isi gelas itu 5 gram per 350 ml.
Fakta:
- Pada Percobaan Nursamran dan Gel Gel di kafe Olivier tsb didapat pH= 11,5. Padahal BB1 dan BB2 kopi di laporan toksikologi Nursamran mempunyai pH = 13. Itu artinya percobaan dgn laporan Toksikologi benar2 kontradiktif dan terjadi perbedaan hasil yg sangat besar.
- Konsentrasi awal dari sianida di kopi Mirna menurut perhitungan Nursamran sebesar 9880 mg/liter (sekitar 6,5 gram). Konsentrasi 7400 mg/l dan 7900 mg/l (yg menurut Nursamran setara 5 gr) merupakan konsentrasi sianida saat diukur. Artinya pernyataan JPU di repliknya ini sdh terbantahkan oleh perhitungan Nursamran sendiri.

Kesimpulan:
- Kalkulasi Surat Tuntutan soal 5 gram yg dimaksud JPU tanpa dilampiri bukti.
- Baru kali ini ada Prosecutor (JPU) di dunia ini mendasarkan pembuktiannya berdasarkan Youtube. Benar2 aneh dan sangat lucu. Selain keaslian dari video tsb sangat diragukan, percobaan tersebut juga bukan merupakan fakta persidangan. Dan hasil percobaan juga sangat kontradiktif dgn laporan Toksikologi Nursamran.

8. Pledoi PH: Tdk ada di BAP soal wajah Mirna berwarna merah. Di BAP hanya disebutkan wajah Mirna dirias (di make up) ketika jenazah berada di rumah duka Dharmais.
Replik JPU: Ada pembacaan keterangan Lia Amalia di persidangan soal wajah Mirna yg berwarna merah. Namun JPU tdk bisa menunjukkan rekaman atau transkripnya.
Fakta:
- Biasanya jenazah saat dirias, wajahnya diberi make up berwarna pink (merah jambu), bukan merah terang (cherry red/bright red)
- Menurut keterangan dokter Beng Beng Ong, dokter Gatot, dan ahli lain, biasanya cherry itu berada di daerah punggung karena faktor gravitasi. Ini artinya tdk mungkin ada cherry red di wajah Mirna, karena itu sama dgn mengatakan kalau Mirna meninggal dgn cara menungging.
- Menurut keterangan dokter Adrianto (RSAW), dokter Slamet di VeR, dan dokter Djaja, bahwa bibir dan kuku Mirna ditemukan biru kehitaman (tdk ditemukan adanya Red Cherry). Bahkan menurut keterangan dokter Djaja, didapati kalau dua ciri keracunan sianida yg lain jg tdk ditemukan pada tubuh Mirna yaitu adanya bau bitter almond dan warna lambung Mirna yg berwarna merah. Justru di lambung Mirna ditemukan bercak2 hitam yg terjadi akibat korosif (luka lambung) yg merupakan ciri2 kadar asam lambung terlalu tinggi. Keterangan dokter Djaja sama dgn keterangan dokter Slamet di VeR.

Kesimpulan: Pernyataan JPU bertentangan dgn VeR dari dokter Slamet, bertentangan dgn keterangan dokter Djaja dan juga tdk sesuai dgn BAP.

9. Pledoi PH: Rekaman CCTV M Nuh sdh ditempering/direkayasa karena banyaknya momen2 gerakan yg tdk bisa ditunjukkan oleh JPU spt pemindahan kopi dari gelas ke botol dan di wrapping sampai diambil penyidik, kesaksian Hartanto kalau Jessica sedang menelpon dan adanya jari mak lampir yg seolah2 menggaruk akibat gerakan yg diulang2. Juga adanya pengurangan resolusi dan pengurangan frame dari 25 fps menjadi 10 fps.
Replik: Analisa Rimson tdk sah karena 3 rekaman CCTV dari stasiun TV diperoleh secara tdk resmi, hanya rekaman dari INews yg diperoleh resmi.

Kesimpulan:
- JPU tdk bisa menjelaskan soal banyaknya momen yg tdk bisa ditunjukkan dari rekaman CCTV.
- JPU meragukan analisa Rismon soal adanya tempering namun di sisi lain JPU tdk mempersoalkan keaslian dari rekaman CCTV yg ada di flash disk M Nuh, terhadap rekaman yg ada di DVR CCTV.
- JPU tdk mengakui keabsahan rekaman yg diambil tdk resmi dari 3 stasiun teve, namun anehnya justru di surat tuntutan dan repliknya JPU berpedoman pada rekaman Youtube.

10. Pledoi PH: Dokter Djaja menyatakan kalau dia tdk menemukan tiga ciri khas keracunan sianida pada Mirna. Dan berdasarkan fakta tersebut serta laporan Toksikologi Nursamran, dokter Djaja berkesimpulan kalau Mirna meninggal bukan karena Sianida.
Replik JPU: Dokter Djaja menyebutkan Mirna tdk meninggal karena Sianida.

Kesimpulan: JPU membantah pledoi PH tersebut namun tdk bisa menunjukkan transkrip rekaman persidangan saat dokter Djaja memberi kesaksian.

11. Pledoi PH: ada kamera CCTV mengarah ke meja Jessica (meja 54).
Replik: menurut Devi, kamera tersebut baru dipasang pada 6 Februari 2016.

Comment:
- Tdk ada bukti seperti nota pembelian dan teknisi yg bisa ditunjukkan oleh JPU utk dikonfrontir utk mendukung pernyatan JPU tsb.
- Tdk ada bukti rekaman CCTV yg bisa ditujukkan kalau kamera tsb baru dipasang.

12. Pledoi: Tentang BB yg disita oleh Polsek Tanah Abang berbeda dgn Puslabfor.
Replik: BAP Fauzan harus diuji terlebih dahulu di persidangan baru diketahui kebenarannya sehingga menjadi fakta persidangan. Jadi harus dikesampingkan oleh hakim.

Kesimpulan:
- JPU meragukan keterangan dari BAP Fauzan (seorang penyidik) namun dgn mudah bisa mempercayai keterangan dari Kristie yg tdk bisa dihadirkan di persidangan. Apalagi keterangan Kristie tsb juga tanpa surat sumpah penterjemah serta tdk adanya tanda tangan dari pihak AFP di keterangan tsb.

13. Mengenai perbedaan warna kopi dari barang bukti (BB) dari kopi Mirna yaitu kuning kunyit dgn percobaan Gel Gel yakni warna coklat
Replik:
- Di kafe ada pencahayaan.
- Percobaan Gel Gel: tdk ada pencahayaan.
Fakta:
- JPU tdk bisa membuktikan faktor pencahayaan bisa berpengaruh terhadap perubahan warna kopi. Tdk ada percobaan atau hanya berasumsi.
- Baik barang bukti kopi maupun kopi hasil percobaan Gel Gel sama2 dibuat di kafe dan perubahan warnanya disaksikan oleh pegawai olivier.

Kesimpulan: Pernyataan JPU di repliknya hanya berdasarkan asumsi belaka.

14. Perbedaan bau antara BB kopi Mirna (telur busuk) dgn bau kopi hasil percobaan Gel Gel (bitter almond).
Replik: Aroma spt telur busuk itu terjadi karena saksi tdk mengetahui soal deskripsi mengenai bau sianida. Dan menurut JPU, bau telur busuk itu sama dgn bau sianida.
Fakta:
- Percobaan Gel Gel juga dilakukan dihadapan para pegawai Olivier dan mereka hanya melaporkan baunya sedikit menyengat, menyengat, dan menyengat sekali. Tdk ada bau telur busuk spt BB kopi.
- Tdk ada satupun ahli baik dari JPU maupun PH yg menyatakan bau telur busuk = bau bitter almond.

Kesimpulan: JPU hanya berasumsi saja.

15. Pledoi: Jessica tdk memasukkan sesuatu ke dalam gelas kopi Mirna.
Replik JPU:
- Menurut M Nuh/Christoper, terlihat secara jelas Jessica mengambil sesuatu dari dari tas kemudian memasukkan ke dalam gelas.
- Rekaman CCTV dari Olivier terlihat Jessica memindahkan gelas kopi.
Fakta:
- Dari rekaman persidangan, M Nuh/Christoper hanya mengatakan melihat J mengambil sesuatu dari tas. Tdk ada kata2 "memasukkan ke dalam gelas".
- Di rekaman CCTV tdk terlihat Jessica memindahkan gelas kopi.

Kesimpulan: JPU menambah2 pernyataan yg memang tdk ada di fakta persidangan.

16. JPU menyatakan tentang waktu penuangan racun sianida di kopi pada jam 16.30-16.45 pada Rabu, 6 Januari 2016. Process kimiawi menurut Nursamran memakan waktu 90 jam 9 menit 36 second. Jika dihitung mundur dari saat percobaan dilakukan pada 10 Januari 2016 jam 10.30, Nursamram memperoleh waktu mundur menjadi 6 Januari 2016 jam 16.39. Dan akhirnya Nursamran mengatakan racun dituang antara 16.30-16.45 dimana rentang waktu tersebut dimana kopi berada di dalam penguasaan pemesan minuman.
Fakta:
- Jika dihitung berdasarkan kata2 Nursamran, seharusnya waktu mundur adalah 16 Januari 2016 jam 16.21. Artinya kopi yg diminum Mirna belum ada dibawah penguasaan Jessica (meja 54).
- Belum pernah sejarahnya seorang Toksikolog bisa menghitung kapan racun Sianida dituang ke minuman karena terlalu banyaknya variabel/parameter yg diperhitungkan spt suhu ruangan, volume susu, banyak/sedikitnya es, takaran kopi, dsbnya.

Kesimpulan: Nursamran sendiri salah menghitung waktu mundur yg dibuatnya sendiri.

17. Replik JPU: Sianida banyak dijumpai di perkampungan nelayan, pertambangan emas dan pembuatan plastik yakni Potas. Dan ayah Jessica yg bekerja sebagai pengusaha plastik pasti banyak dijumpai potas di sana, dan ini artinya Jessica tdk sulit utk mendapatkan sianida.
Fakta:
- Potas atau Potasium = KCN --> terdiri dari ion Kalium dan ion Sianida.
- Laporan Toksikologi: BB1 (sisa kopi Mirna dalam gelas) menunjukkan adanya konsentrasi ion sianida 7400 mg/l dan ion Natrium 7857 mg/l, dan BB2 (sisa kopi Mirna dalam botol) mengandung ion sianida 7900 mg/l dan ion natrium 9142 mg/l. Artinya tdk terdapat ion K sebagai pembentuk senyawa KCN (POTAS).

Kesimpulan: Berdasarkan laporan Toksikologi, sianida di dalam kopi berupa NaCN. Kenapa berubah menjadi Potas (KCN)?? Ini persidangan apa dagelan. emoticon-Gila

18. Replik: Tentang Motif--> kesaksian Arif dimana Mirna pernah menasehati Jessica. Kesaksian Arif relevan dgn kasus Jessica dan mempunyai nilai pembuktian meskipun kesaksian Arif merupakan Testimonium de Auditu (hearsay=gosip, rumor). Apalagi menurut keterangan psikiater Natalia dimana Jessica punya potensi menyakiti diri dan orang lain.
Fakta:
- Testimonium de Auditu tdk pernah diakui di pengadilan.
- Psikiater Natalia hanya mengatakan kalau Jessica berpotensi menyakiti diri sendiri. Tdk ada kata "orang lain".

Kesimpulan: JPU tdk bisa membuktikan motif karena memang tdk ada motif.

19. Replik: JPU mengutip keterangan dari Kristie kalau Jessica punya dua kepribadian berbeda. Potensi mengancam orang terlihat dari kemarahan Jessica di rumah sakit dimana Jessica pernah mengancam Kristie bisa memakai pistol dan punya dosis yg tepat.
Fakta:
- Menurut psikiater Natalia, Jessica tdk punya kepribadian ganda.
- Kesaksian Kristie soal Jessica mengancam dirinya dan melaporkan Jessica ke police tdk ada terlihat pada Police Report (catatan kepolisian) dari NSW John Torres.
- Kristie tdk bisa dihadirkan ke persidangan
- Tdk ada keterangan sumpah dari penterjemah atas penterjemahan keterangan Kristie.
- Tdk ada tanda tangan dari AFP police pada keterangan Kristie dimana JPU mengatakan keterangan Kristie dibuat di gedung AFP police.

Kesimpulan: Kesaksian Kristie diragukan kebenarannya.

20. Replik: pasal 340 itu tdk perlu motif.
Comment:
- Bagaimana membuktikan unsur disengaja dan unsur direncanakan.
- Hanya orang gila (psikopat) yg bisa melakukan pembunuhan tanpa motif. Padahal orang gila tdk bisa dijerat oleh hukum.

21. Replik JPU: rekaman CCTV itu sah sebagai barang bukti asalkan sesuai dgn aslinya.
Fakta: rekaman DVR CCTV yg asli sdh terhapus atau sengaja dihapus.

Kesimpulan: Bagaimana membuktikan rekaman CCTV tsb asli sementara rekaman aslinya sdh tdk ada.

22. JPU: Tindakan Jessica menghapus foto selfie utk menghilangkan barang bukti.
Fakta: Jessica tdk melakukan selfie di kafe Olivier. Yg benar, Jessica dipotret oleh Marlon.

Comment: JPU tdk menunjukkan bukti apa yg ada di photo.

23. JPU: Sejumlah pelaku pembunuhan memiliki sifat emosi yg tdk stabil.
Fakta: Banyak orang memiliki sifat emosi tdk stabil namun bukan berarti orang tsb seorang pembunuh. Terlalu general.

24. JPU: teori fisiognomi dan gesture bertujuan utk mendalami karakter seseorang terhadap suatu kasus.
Fakta:
- Agen FBI menggunakan teori fisiognomi utk membantu penyelidikan namun tdk pernah menggunakannya utk mendakwa seseorang di pengadilan. Digunakan sebagai petunjuk utk mencari alat bukti maupun barang bukti. Biasanya digunakan utk pencegahan teror yg akan dilakukan teroris.
- Kebenaran teori fisiognomi paling tinggi (maksimal) hanya 90%, jadi tdk bisa dipercaya.
- John Navarro tdk pernah menggunakan teori fisiognomi ini hanya berdasarkan dgn melihat CCTV yg buram dan tdk jelas spt yg dilakukan oleh prof Rony.

25. Replik JPU: DVR CCTV 500 GB dicopy ke flashdisk 32 GB oleh pegawai kafe Olivier, utk menghindari rekaman CCTV terhapus karena waktu rekaman CCTV terhapus dgn masa hanya 2 minggu saja.

Comment: - Peristiwa kematian Mirna terjadi tgl 6 Januari 2016. Artinya penyidik masih punya waktu banyak utk menyita DVR.

26. JPU: Tdk harus ada saksi mata yg melihat seseorang memasukkan racun ke dalam minuman. Cukup dgn melihat hal2 spt ini (circumstamtial evidence): Apakah benar pelaku yg memesan kopi? Apakah benar pelaku yg menguasai minuman paling lama?
Fakta:
- Tdk ada sianida di dalam tubuh Mirna.
- Sebelum diuji laboratorium forensik, penguasaan kopi paling lama berada di tangan pegawai kafe.

Kesimpulan:
- Mirna meninggal bukan karena sianida dan penyebab kematian sebenarnya tdk diketahui karena tdk ada otopsi.
- NO OTOPSI = NO CRIME.

27. JPU menyamakan kasus Jessica dgn kasus Polycarpus dimana tdk diketahui dari mana Arsenic didapat sebagaimana Jessica juga tdk diketahui darimana menfapatkan sianida.
Fakta:
- Munir di otopsi di Belanda sementara Mirna tdk diotopsi dan dari hasil laporan Toksikologi tdk ditemukan sianida di tubuh Mirna.
- Penyebab kematian Munir diketahui: Arsenik sementara penyebab kematian Mirna tdk diketahui.

Kesimpulan: Kasus Polycarpus dan Jessica sangat berbeda jauh. Tdk bisa disamakan.

29. Dan sebagainya..


KESIMPULAN:
1. Persidangan kali ini mengejutkan dimana JPU dalam Repliknya mengatakan:
- Sianida dimasukkan Jessica sebesar 5 gram berdasarkan video Nursamran di Youtube. Artinya bukan berdasarkan adanya fakta persidangan.
- Sianida yg diduga sebagai penyebab kematian malah dimentahkan kembali oleh JPU dengan mengalihkan ke POTAS (Potasium= KCN). Padahal Sianida yg dibahas selama persidangan adalah sianida dalam bentuk Natrium Sianida (NaCN).

2. JPU melakukan pembohongan publik dgn menuduh Jessica tinggal di tahanan mewah dgn dilengkapi AC Split, sofa, dan meja, dsbnya.

3. JPU tdk pernah menguraikan Analisa Yuridis (pasal 384) di Surat Tuntutannya maupun di Repliknya.

4. JPU memaksakan menuntut Jessica dgn Circumstantial Evidence, bukan dgn Direct Evidence. JPU menerangkan beberapa PETUNJUK yg mengarahkan soal Circumstantial Evidence dan JPU lupa kalau Petunjuk menurut KUHAP pasal 188, hanya berdasarkan Keterangan Saksi, Surat dan Keterangan Terdakwa. Walaupun begitu terlihat jelas JPU sangat mengalami kesulitan utk merangkai peristiwa2 dan barang bukti tertier, yg sebenarnya barang bukti tersebut tdk ada hubungannya dgn kasus serta masih sangat diragukan kebenarannya dan JPU pun tdk mau susah utk melakukan pembuktian2. Apalagi dari hasil Labfor, terlihat jelas Mirna meninggal tidak karena Sianida.

5. Dari 30 persidangan memang terlihat jelas kalau JESSICA TIDAK SEHARUSNYA DITETAPKAN SEBAGAI TERSANGKA atas kematian Mirna. JESSICA TIDAK SEHARUSNYA DIDAKWA MELAKUKAN PEMBUNUHAN BERENCANA (pasal 340 KUHP). Dan tidak seharusnya kasus ini menjadi P21 dan dibawa ke pengadilan.

6. Sampai sekarang belum menemukan MOTIF dari DS dan keluarganya sehingga bisa sampai sedemikian ngototnya menuduh Jessica sebagai pembunuh/peracun Mirna sampai mengeluarkan pernyataan2 yg membabi buta, yg tdk ada hubungannya dgn kasus dan bahkan ada yg kontradiksi dgn fakta2 persidangan.

7. Kasus Jessica membuktikan bagaimana mudahnya melakukan KRIMINALISASI terhadap seseorang di Indonesia tanpa adanya alat bukti satupun, semuanya bisa diatur dan dikondisikan. Dan fenomena ini dimanfaatkan dgn benar oleh oknum-oknum penegak hukum, utk mencari popularitas (mendongkrak pangkat) dan mendapatkan uang. TUGAS BERAT DARI PEMIMPIN NEGERI UNTUK MEREFORMASI DAN MEMPERBAIKINYA. Perlu Revolusi Mental.

emoticon-Traveller





Rangkuman super singkat sidang yang lain dapat dilihat di #post 5 di bawah.


Gak nyangka klo ternyata trit ini bisa berkali2 jadi Top Trit BP (udah males ngitungnya emoticon-Ngakak (S)) emoticon-Malu

Dan terima kasih banyak utk Momod yang sudah bantu merubah Judul emoticon-Malu

Serta terima kasih banyak kepada agan2 yang sudah rela dan ikhlas memberikan cendol utk TS emoticon-Toast

Dan terima kasih juga utk agan2 pengunjung trit yang saling berdiskusi secara sehat sehingga isi trit menjadi menarik dan semoga menambah pengetahuan bagi agan2 lain yg mengikuti trit ini. Semuanya silahkan kembalikan kepada penilaian masing2, namun marilah kita jaga bersama supaya trit ini tetap sehat walafiat.

FAQ ada di post #10



Berita awal masih TS pertahankan sebagai bukti bahwa TS memang mengikuti aturan forum BP

youtube-thumbnail



Pengacara Jessica: Barista Terima Uang Rp 140 Juta dari Arief untuk Bunuh Mirna

selengkapnya BACA
Sumber: http://megapolitan.kompas.com/read/2...campaign=Kknwp

Autolock Thread by Hansip

Thread ini adalah thread lanjutan dari :
UPDATE : Diskusi hasil persidangan kasus kopi maut - Part 10
UPDATE : Diskusi hasil persidangan kasus kopi maut - Part 11
reservedemoticon-Motret
Berkenaan dengan sidang lanjutan tanggal 3 Agustus 2016 tentang kesaksian ahli forensik dan ahli toksikologi dari polisi, bagi yg ingin melihat dari sudut pandang lain, silahkan baca penjelasan agan pieceofcrap, sekedar informasi agan ini mempunyai pengetahuan di bidang Forensic Science dan Chemistry Forensic.

Quote:Original Posted By pieceofcrap
OK, gue emang blm nonton full sidang yg baru2 ini. Gue cm baca2 artikel Kompas, jd ga tau yg di berita akurat ataw ga.

Mengenai otopsi. Ternyata comment gue di awal2, otopsi yg prosesnya dibawah 1 jam ga menyeluruh & ga akurat hasilnya, ternyata beneran terbukti. Dokter forensik mengaku TIDAK otopsi si Mirna. Cuma ambil lambung (tanpa dibuka & diperiksa stomach contents), hati, empedu & urine. Hasilnya cm di lambung terdapat 0.02mg sianida & yg lain bersih. Padahal buat kematian yg ga bisa dijelaskan sebabnya malah harus full otopsi & prosesnya bisa 2-4 jam, bahkan bisa lebih. Buat deteksi keracunan sianida ante mortem, biasanya darah, urine & cairan lambung (kalo racun masuk lewat oral) yg paling pertama diperiksa. Kalo post mortem, pemeriksaan yg lumayan lengkap di darah, lambung, hati, limpa, urine, jantung, otak.

Terus mengenai penjelasan knp di hati, empedu & urine knp ga ada konsentrasi sianida sama sekali gara2 proses metabolisme stop setelah 30menit krn si Mirn koit.... BWAHAHAHAHAHA. Ini bullshit. Gue udah pernah jelasin hal ini di post gue sebelumnya. Cara mekanisme sianida itu menempel ke iron-rich protein (zat besi) yg terdapat di sel darah merah. Lha sel darah merah itu apa ga didistribusikan ke seluruh tubuh & organ tiap kali jantung berdetak? Jd selama 30 menit si Mirna msh hidup, berapa kali tuh sel2 darah merah yg ditempeli ion CN bolak balik keluar masuk organ2 tubuh yg butuh oksigen? Silahkan hitung sendiri ye. 1 menit aja jantung bisa pompa sekitar 5 liter darah ke seluruh tubuh. Kalo detak jantung cepat, ya bisa lbh banyak lg. Tabel di bawah ini gue ambil dr buku. Situ bs cek sendiri hasil post mortem dr kasus2 cyanide poisoning yg pernah terjadi. Yg ga ada isinya ataw simbolnya --- berarti ga diperiksa. Cocokin hasil temuan konsentrasi sianida di organ & berapa lama korban bertahan hidup seblm akhirnya koit. Kalo emang si Mirna langsung mati detik itu jg ya berarti metabolisme stop, tp kenyataanya kan dia koitnya sejam lebih seabis minum VIC.

UPDATE : Diskusi hasil persidangan kasus kopi maut - Part 12hosting images

Terus mengenai pernyataan sianida yg dipakai bukan sianida murni. BWAHAHAHAHA. Sianida (kecuali HCN bentuk gas yg bisa 99.9% pure) yg beredar di pasaran, export, import, digunakan di mining industry, electroplating, pancing ikan, lab, dll, semuanya ga ada yg 100% murni. NaCN & KCN puritynya cuma 98%, sisanya bisa berupa Chloride, Hexacyanoferrate, Sulfide, Lead, Sodium Hydroxide, Sodium Carbonate & senyawa2 lain yg ga bs dilarutkan air, tergantung bahan2 & cara pembuatannya. Sianida yg puritynya lbh rendah dr 98% bisa dibikin sendiri, tp prosesnya ga segampang masak nasi & sangat2 berbahaya terutama kalo ga pake perlengkapan yg aman & pengetahuan kimianya minim.

Terus mengenai garuk2. Dalam keadaan kering, NaCN & KCN ga berbahaya (bener ini serius, swear!), tapi lembab sedikit aja langsung bereaksi & kalo di kulit, bukan gatal2nya yg hrs dikahwatirkan krn bs dibilas air banyak2, tp penyerapan yg hrs ditakuti. Sianida yg basah, terkena kulit bisa terserap melalui pori2 & menimbulkan gejala keracunan sampai bahkan koit (tergantung jumlah & daya serap). Kecuali kalo kulit yg bersentuhan dgn sianida itu super super dry, maka ga ada reaksi, tp keringat setetes aja bs bikin sianida aktif. Kalo emang si Jess garuk2 gara2 sianida, dia kan ikut ke Abdi W sampe malem tuh. Ada ga saksi yg lihat si Jess terus garuk2 selama dia di sana? Yg namanya gatel tuh maunya digaruk terus. LOL.

Terus masalah volume VIC yg ditelan si Mirna. KOK MALAH JADI PERCOBAAN SEDOT2AN? Kalo mau ukur volume yg akurat ya VIC sebelum si Mirna minum & sesudah diminum hrs diukur. Gimana sih? Ini malah asisten yg coba2 sedot. Yakin banget kalo yg diminum si Mirna 20ml. Pake ngomong "bila satu kali sedotan sekitar 5 mililiter hingga 10 ml baru sampai leher. Namun, dalam kasus Mirna, Nursamran menemukan 0,2 mg per liter sianida dalam lambung Mirna." Dosis obat batuk pilek demam, dll yg bentuk syrup buat anak2 umur 2.5-5 taon tuh rata2 5ml diminum 2-3 kali perhari. Kalo cm nyangkut di tenggorokan, gimana caranya tubuh nyerap obatnya? Biarpun minum obatnya ga pakai air putih setelahnya, pasti bs masuk ke lambung apalagi bisa dibantu dgn saliva.

Terus masalah prediksi jam brp si Jess tuang sianida ke VIC, gmn cara percobaan dilakukan? Apa persis seperti yg terjadi tgl 6 Jan sampe VIC dibawa ke labfor. Maksud gue suhu diperhitungkan, perpindahan wadah diperhitungkan, cara menyimpan VIC diperhitungkan, dll. Dan jg jumlah sianida yg diperkirakan diminum si Mirna pakai perhitungan yg complex. Kalo ada rumus yg akurat, gue jg mau tau nih. Toxicologist LN aja ngaku susah ukur konsentrasi sianida dlm darah kalo ga cepet2 diperiksa seabis korban terpapar ataw ditemukan jejak sianida di TKP, kok ini malah segitu gampangnya bisa tau si Mirna telan berapa banyak? Sifat half-life sianida yg cm 1 jam udah diperhitungkan? Kemampuan tubuh untuk menyerap sianida? Faktor2 lain yg bs bikin kadar sianida naik misal asap rokok? Kemampuan liver buat detoxifikasi sianida secara alami udah dicek? Kadar Thiocyanate di liver & urine udah diukur jg? Genius sekali yg bs menemukan formula ini.

Sampe di sini gue rasa cukup keanehan2 yg gue baca di Kompas. Gue yakin pasti ada lg keanehan tp sekarang enaknya masuk ke bagian pertanyaan yg timbul seabis baca berita.
1. Kenapa polkis cm "order" partial autopsy? Cm Lambung, hati, empedu & urine yg dianalisa.
2. Kalo ga salah, lambung ga dibuka. Bener apa ga nih? Kalo bener, apa alasannya?
3. Kenapa darah post mortem ga dianalisa?
4. Setau gue, papi si Mirna ini pernah bilang dia suruh dokter Abdi W pompa isi perut si Mirna spy dianalisa. Apa ini udah dilakukan? Hasilnya?
5. Gue yakin sewaktu di Abdi W, dokter sana pasti ambil darah si Mirna & dianalisa. Standar rutin di semua RS. Hasilnya?

Kenapa gue tanya ini? Ya karena buat deteksi keracunan sianida yg paling akurat ya lewat test darah. Mustinya darah diambil ante mortem & post mortem, diukur cyanide concentration di darah, apa jumlahnya 50-200mg (lethal dosis) atau lbh tinggi atau lbh rendah atau ga ada sama sekali? Alasannya kenapa, bg yg ga ngerti, plz baca lg mekanisame dr cyanide poisoning. Selama ini yg beredar di berita cm volume sianida di VIC & lambung. Itu aja. Ga pernah diberitakan tentang jumlah konsentrasi sianida dlm darah si Mirna. Dan dokter forensic & ahli toksikolog bisa ambil kesimpulan kalo si Mirna bener2 keracunan cm dr penemuan sianida di VIC & lambung, dicocokan ke CCTV? Pengalaman dokter forensic yg baru pertama kali periksa korban keracunan sianida & kesaksiannya sebagian besar hny dia dapatkan dr literatur yg dia pernah baca, ini jg jd tanda tanya kompetensinya. Kalo sampe di sini masih ada yg percaya ama bullshitnya polkis, yah... emang mereka satu species kali. Peace, brah!


PEMERIKSAAN PADA KASUS KEMATIAN TIDAK WAJAR

Jika pada pemeriksaan luar dokter menemukan adanya luka, adanya bau yang mencurigakan dari mulut atau hidung, adanya tanda bekas suntikan tanpa riwayat berobat ke dokter, serta adanya tanda keracunan lainnya, maka kasusnya kemungkinan merupakan kematian yang tidak wajar. Kematian yang tidak wajar dapat terjadi pada kematian akibat kecelakaan, bunuh diri atau pembunuhan. Pada kasus-kasus ini dokter sebaiknya hanya berpegang pada hasil pemeriksaan fisik dan analisisnya sendiri dan bisa mengabaikan anamnesis yang bertentangan dengan kesimpulannya. Biasanya pada kasus kematian tidak wajar, ada kecenderungan keluarga korban untuk membohongi dokter dengan mengatakan korban meninggal akibat sakit, karena malu (misalnya pada kasus bunuh diri, narkoba) atau karena mereka sendiri pelakunya (pada kasus penganiayaan anak, pembunuhan dalam keluarga) atau takut berurusan dengan polisi (pada kasus kecelakaan karena ceroboh).

Dokter Puskesmas yang menemukan kasus dengan dugaan kematian yang tidak wajar, berdasarkan Pasal 108 KUHAP, sebagai pegawai negeri (dokter PTT dianggap sebagai pegawai negeri) wajib melaporkan kasus tersebut ke polisi resort (polres) setempat. Pada kasus ini dokter Puskesmas TIDAK BOLEH memberikan surat Formulir A kepada keluarga korban dan mayat tersebut harus ditahan sampai proses polisi selesai dilaksanakan. Dokter Puskesmas sebaiknya tidak memberikan pernyataan mengenai penyebab kematian korban ini sebelum dilakukan pemeriksaan otopsi terhadap jenazah.

Berdasarkan adanya laporan tersebut, penyidik berdasarkan pasal 133(1) KUHAP dapat meminta bantuan dokter untuk melakukan pemeriksaan luar jenazah (pemeriksaan jenazah) atau pemeriksaan luar dan dalam jenazah (pemeriksaan bedah jenazah atau otopsi), dengan mengirimkan suatu Surat Permintaan Visum et Repertum (SPV) jenazah kepada dokter tertentu.

Untuk daerah DKI Jakarta, pemeriksaan bedah jenazah umumnya dimintakan ke Bagian Ilmu Kedokteran Forensik FKUI/RSCM, akan tetapi pemeriksaan luar jenazah dapat dimintakan kepada Puskesmas dan Rumah Sakit manapun. Dokter yang diminta untuk melakukan pemeriksaan jenazah bisa dokter yang melaporkan kematian tersebut, bisa juga dokter lainnya.

Setiap dokter yang diminta untuk melakukan pemeriksaan jenazah oleh penyidik WAJIB melakukan pemeriksaan sesuai dengan permintaan penyidik dalam SPV. Dokter yang secara sengaja tidak melakukan pemeriksaan jenazah yang diminta oleh penyidik, dapat dikenakan sanksi pidana penjara selama-lamanya 9 bulan (pada kasus pidana) dan 6 bulan (pada kasus lainnya) berdasarkan Pasal 224 KUHP. Dengan demikian, seorang dokter Puskesmas yang mendapatkan SPV dari penyidik untuk melakukan pemeriksaan jenazah WAJIB melaksanakan kewajibannya tersebut.

Segera setelah menerima SPV dari penyidik, dokter harus segera melakukan pemeriksaan luar terhadap jenazah tersebut. Jika pada SPV yang diminta adalah pemeriksaan bedah jenazah, maka dokter pada kesempatan pertama cuma perlu melakukan pemeriksaan luar jenazah saja. Selanjutnya dokter baru boleh melakukan pemeriksaan dalam (otopsi) setelah keluarga korban datang dan menyatakan kesediaannya untuk dilakukannya otopsi terhadap korban. Penyidik dalam hal ini berkewajiban untuk menghadirkan keluarga korban dalam 2 x 24 jam sejak mayat dibawa ke dokter Selewat tenggang waktu tersebut, jika keluarga tidak ditemukan, maka dokter dapat langsung melaksanakan otopsi tanpa “izin” dari keluarga korban.

Pemeriksaan luar jenazah dalam rangka SPV dari penyidik harus dilakukan secara seksama, selengkap dan seteliti mungkin, dan bila dianggap perlu dilengkapi dengan sketsa atau foto luka-luka yang ditemukan pada tubuh korban. Untuk mencegah kemungkinan adanya data yang terlewatkan, maka dokter yang melakukan pemeriksaan luar hendaknya berpedoman pada formulir laporan obduksi. Lihat formulir laporan obduksi dari Bagian Ilmu Kedokteran Forensik FKUI pada lampiran..

Jika pemeriksaan yang diminta oleh penyidik hanya pemeriksaan luar jenazah (pemeriksaan jenazah) saja, maka setelah pemeriksaan luar selesai dilakukan, mayat dan Formulir A dapat langsung diserahkan kepada keluarga korban. Pada Formulir A tersebut, dokter harus menyatakan bahwa penyebab kematian korban “ tidak dapat ditentukan karena tidak dilakukan bedah jenazah sesuai dengan permintaan penyidik”. Kesimpulannya harus demikian karena pada kematian yang tidak wajar berlaku ketentuan bahwa “penyebab kematian hanya dapat ditentukan berdasarkan pemeriksaan dalam (otopsi atau bedah jenazah)”.

Jika penyidik meminta dokter untuk melakukan pemeriksaan luar dan dalam (pemeriksaan bedah jenazah atau otopsi), dan keluarga korban tidak menyetujuinya, maka dokter Puskesmas wajib menjelaskan tujuan otopsi kepada keluarga korban. Dokter pada kesempatan tersebut hendaknya memberikan beberapa keterangan sebagai berikut:
Bahwa kewenangan meminta pemeriksaan dalam atau otopsi ada di tangan penyidik POLRI, berdasarkan Pasal 133(1) KUHAP.

Dokter yang diminta melakukan pemeriksaan jenazah hanya melaksanakan kewajiban hukum, sehingga setiap keberatan dari pihak keluarga hendaknya disampaikan sendiri ke penyidik yang mengirim SPV. Keputusan boleh tidaknya dilakukan pemeriksaan luar saja pada kasus ini, ada di tangan penyidik. Jika penyidik mengabulkan permohonan keluarga korban, kepada keluarga korban akan dititipkan surat pencabutan visum et repertum, untuk diserahkan kepada dokter yang akan melakukan pemeriksaan jenazah. Dalam hal ini, dokter hanya perlu melakukan pemeriksaan luar jenazah saja.

Jika penyidik tidak menyetujui keberatan keluarga korban, maka keluarga korban masih mempunyai dua pilihan, yaitu menyetujui otopsi atau membawa pulang jenazah secara paksa (disebut Pulang Paksa) dengan segala konsekuensinya. Jika keluarga menyetujui otopsi, maka untuk kasus di DKI Jakarta, mayat akan dibawa ke RSCM untuk diotopsi.
Jika keluarga memilih pulang paksa, maka mereka baru boleh membawa pulang jenazah setelah menandatangani Surat Pulang Paksa. Surat Pulang Paksa merupakan surat yang menyatakan bahwa mayat dibawa pulang secara paksa oleh keluarga, sehingga tidak terlaksananya pemeriksaan jenazah merupakan tanggung jawab keluarga korban dan bukan tanggung jawab dokter. Berdasarkan surat ini, maka keluarga korban yang menandatangani surat tersebut dapat dikenakan sanksi pidana penjara selama-lamanya 9 bulan karena menghalang-halangi pemeriksaan jenazah, berdasarkan Pasal 222 KUHP. Bagi dokter surat ini penting, karena merupakan surat yang mengalihkan beban tanggung jawab atas tidak terlaksananya pemeriksaan jenazah dari dokter ke keluarga korban. Atas dasar itulah, maka surat ini harus disimpan baik-baik oleh dokter sebagai bukti pulang paksa, jika di kemudian hari penyidik menanyakan Visum et Repertum kasus ini ke dokter. Untuk amannya, pada kasus semacam ini dokter sebaiknya memberitahukan adanya pulang paksa ini ke penyidik yang mengirim SPV sesegera mungkin.

Dalam hal keluarga korban cenderung untuk memilih pulang paksa, maka dokter hendaknya menerangkan terlebih dahulu konsekuensi pulang paksa kepada keluarga korban, sebagai berikut :
Dokter tidak akan memberikan surat kematian (formulir A). Tanpa adanya surat formulir A, maka keluarga korban akan mengalami kesulitan saat akan mengangkut jenazah keluar kota/negeri, menyimpan jenazah di rumah duka atau saat akan mengubur atau melakukan kremasi di tempat kremasi/kuburan umum.
Karena tidak diberikan Formulir A, maka keluarga korban tak dapat mengurus Akte Kematian korban di kantor Catatan Sipil. Akte Kematian merupakan surat yang diperlukan untuk pengurusan berbagai masalah administrasi sipil, seperti pencoretan nama dari Kartu Keluarga, dasar pembagian warisan, pengurusan izin kimpoi lagi bagi pasangan yang ditinggalkan, pengajuan klaim asuransi dsb.
Dokter tak akan melayani permintaan keterangan medis dalam rangka pengajuan klaim asuransi sehubungan dengan kematian korban.
Dokter tidak akan membuat Visum et Repertum, sehingga kasus tersebut tidak mungkin bisa dituntut di pengadilan.
Di kemudian hari mayat dapat digali kembali jika penyidik menganggap perlu dan jika hal itu dilakukan, maka biaya penggalian menjadi tanggungan pihak keluarga korban.
Keluarga yang membawa pulang mayat secara paksa dapat dikenakan sanksi pidana menghalang-halangi pemeriksaan jenazah berdasarkan Pasal 222 KUHP dengan ancaman hukuman penjara selama-lamanya 9 bulan.

Pada kasus kematian tidak wajar yang diotopsi, setelah dokter selesai melakukan pemeriksaan dalam, mayat dan formulir A dapat segera diserahkan kepada keluarga korban. Dalam Formulir A, dokter hendaknya menuliskan penyebab kematian sesuai dengan kesimpulannya berdasarkan temuan otopsi. Dalam hal masih perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan sedangkan penyebab kematian belum dapat ditentukan, dokter hendaknya menulis penyebab kematian “belum dapat ditentukan”.

Jika terhadap mayat yang meninggal tidak wajar perlu dilakukan pengawetan jenazah, maka pengawetan baru boleh dilakukan setelah mayat selesai diperiksa sesuai dengan permintaan penyidik. Untuk kasus yang pulang paksa, pengawetan jenazah TIDAK BOLEH dilakukan, karena tindakan pengawetan jenazah dapat menyebabkan hilangnya banyak barang bukti biologis sehingga dapat menyulitkan penentuan penyebab kematian jika kemudian mayatnya digali lagi. Dokter yang nekad melakukan pengawetan pada kasus kematian tidak wajar sebelum proses polisi selesai, dapat dituntut oleh penyidik karena secara sengaja menghilangkan barang bukti dari suatu tindak pidana.

posted by AtmadjaDS,dr.SpF,SH,PhD,DFM http://pemeriksaanluarjenazah.blogsp...ian-tidak.html
Thanks to agan nightwalker7069


Fakta :
Yg menyarankan tempatnya di Cafe Olivier adalah H
Yg minta pesenin Vietnam Ice Cofee adalah si J
Bisa diliat di video di bawah ini, thanks to agan@Jabluk007 emoticon-Big Grin
youtube-thumbnail


Mengenai mekanisme kerja sianida

Quote:Original Posted By RyoEdogawa


Jadi sianida itu kerjanya di intraseluler (di dalam sel), yaitu di dalam mitokondria, terutama di komplek IV di sitokrom c oksidase (ini enzim). Komplek IV adalah komplek terakhir terjadinya transfer elektron dalam proses pembentukan energi (pembentukan ATP) pada rantai pernafasan.

Transfer elektron ini, bisa dibilang diwakili oleh Oksigen. Nah si sianida, menghalangi ikatan si Oksigen ini dengan sitokrom c oksidase. Sehingga oksigen tidak bisa diangkut. Padahal sel2 di tubuh kita ini sangat butuh oksigen.

Klo kita zooming out. Kita narik napas, oksigen masuk ke paru2, diangkut ke jantung trus diedarkan ke seluruh tubuh. Nah karena sianida, itu oksigen gak bisa masuk ke dalam sel, karena ikatannya tadi udah diganggu/dihambat. Akhirnya sel2 kehabisan oksigen, sel2nya mati demikian juga dgn organ/jaringannya, ikut mati.

Nah, sianida dosis letal itu maksudnya adalah dgn jumlah sianida segitu, efeknya sudah sistemik alias sudah kemana2 termasuk sudah sampe ke otak, ke jantung maupun ke paru2. Nah klo sel2 otak, sel2 jantung, dan atau sel2 paru2 udah diganggu angkutan oksigennya sama sianida, ya matilah otaknya, matilah jantungnya, matilah paru2nya, dan yg pasti matilah orangnya. Dan dosis letal ini efeknya cepet banget, cuma hitungan menit (semakin besar dosisnya ya semakin cepat). Kasarnya, dalam hitungan menit itu, sianida sudah lgs membuat sel2 di jantung, paru2 dan atau otak mati seketika.

Kira2 begitu Gan, semoga bisa dipahami emoticon-Peace



Mengenai metabolisme Sianida dalam tubuh

Quote:Original Posted By pieceofcrap


Fakta ilmiah:

Ketika sianida masuk ke dalam tubuh, sampai dgn 80% dr jumlah awal akan diubah menjadi Thiocyanate dlm proses detoxifikasi yg nantinya akan dikeluarkan lewat urine. Tubuh manusia yg mempunya liver yg sehat, mampu detox sianida di kecepatan rata2 0.017 mg/kg berat badan per menit. Sifat half life Thiocyanate jg jauh lbh lama dr sianida yg cm 1 jam. Thiocyanate mempunyai half life sekitar 2.7 hari di tubuh dgn fungsi ginjal yg sehat sampai sekitar 9 hari di tubuh dgn disfungsi ginjal.

Kesimpulan:

Ga ada Thiocyanate di hati & urine, berarti ga ada Cyanide yg masuk ke tubuh.

Berdasarkan Aturan ini, kita bisa tau bahwa memang dalam mengumpulkan bukti2 terdapat pelanggaran2 aturan yg dilakukan oleh pihak tertentu emoticon-Cape d... (S)

https://www.polri.go.id/pustaka/pdf/...K%20TEMPAT.pdf

PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2009
TENTANG TATA CARA DAN PERSYARATAN
PERMINTAAN PEMERIKSAAN TEKNIS KRIMINALISTIK TEMPAT KEJADIAN PERKARA DAN LABORATORIS KRIMINALISTIK BARANG BUKTI KEPADA LABORATORIUM FORENSIK KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

Pasal 59
(1) Pemeriksaan barang bukti keracunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 wajib memenuhi persyaratan formal sebagai berikut:
a. permintaan tertulis dari kepala kesatuan kewilayahan atau kepala/pimpinan instansi;
b. laporan polisi;
c. BAP saksi/tersangka atau laporan kemajuan;
d. Visum et Repertum atau surat pengantar dokter forensik bila korban meninggal atau riwayat kesehatan (medical record) bila korban masih hidup;
e. BA pengambilan, penyitaan dan pembungkusan barang bukti.
(2) Pemeriksaan barang bukti keracunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 wajib memenuhi persyaratan teknis sebagai berikut:
a. jumlah barang bukti:
1. korban masih hidup (kasus keracunan):
a) sisa makanan minuman (bila ada);
b) muntahan (bila ada);
c) cairan tubuh korban seperti:
1) urine (25 ml);
2) darah (10 ml); dan
3) cairan lambung.
d) sisa obat-obatan yang diberikan dokter beserta resepnya (bila korban sempat mendapat perawatan dokter).
2. korban mati/meninggal:
a) organ/jaringan tubuh:
1) lambung beserta isi (100 gr);
2) hati (100 gr);
3) ginjal (100 gr);
4) jantung (100 gr);
5) tissue adipose (jaringan lemak bawah perut) (100 gr);
dan
6) otak (100 gr).
b) cairan tubuh:
1) urine (25 ml);
2) darah (10 ml);
dan
c) sisa makanan, minuman, obat-obatan, alat/peralatan/wadah antara lain piring, gelas, sendok/garpu, alat suntik, dan barangbarang
lain yang diduga ada kaitannya dengan kasus; dan
d) barang bukti pembanding bila diduga sebagai penyebab kematian korban.
3. korban mati telah dikubur:
a) apabila mayat korban belum rusak, maka barang bukti yang diperlukan sama dengan barang bukti sebagaimana dimaksud pada angka 2;
b) apabila mayat korban sudah rusak/hancur maka barang bukti yang diperlukan adalah:
1) tanah bagian bawah lambung/perut korban;
2) tanah bagian bawah kepala korban;
3) rambut korban; dan
4) kuku jari tangan dan jari kaki korban.
b. pengambilan barang bukti:
1. pengambilan barang bukti organ tubuh/jaringan tubuh dan cairan tubuh untuk korban mati dilakukan oleh dokter pada saat otopsi;
2. pengambilan barang bukti darah dan cairan lambung untuk korban hidup dilakukan oleh dokter atau para medis; dan
3. apabila penyidik tidak dapat mengambil barang bukti di TKP segera menghubungi petugas Labfor untuk mengambil barang bukti.
c. pengumpulan barang bukti:
1. tiap jenis barang bukti ditempatkan dalam wadah yang terpisah;
2. khusus untuk organ tubuh, gunakan wadah berupa botol mulut lebar/toples yang terbuat dari gelas atau plastik yang masih bersih dan baru (hindari pemakaian botol/toples bekas);
3. barang bukti tidak diawetkan dengan formalin, kecuali untuk pemeriksaan Pathologi Anatomi, menggunakan bahan pengawet formalin 10%;
4. barang bukti yang mudah membusuk, organ tubuh, muntahan, dan sisa makanan diawetkan dengan menggunakan alkohol 96% hingga terendam;
5. contoh alkohol yang digunakan sebagai bahan pengawet juga dikirimkan sebagai pembanding;
6. untuk kasus dengan dugaan keracunan alkohol, barang bukti tidak diawetkan dengan Alkohol, tetapi barang bukti yang telah ditempatkan dalam wadah, wadahnya dimasukkan ke dalam Ice Box yang telah diisi es batu;
7. untuk kasus-kasus keracunan gas CO, alkohol dan obat-obatan, barang bukti darah diawetkan dengan antikoagulan heparin; dan
8. setiap wadah barang bukti ditutup serapat mungkin, gunakan cellotape atau yang sejenis untuk menghindari kebocoran.
d. pembungkusan dan penyegelan barang bukti:
1. tiap jenis barang bukti harus dibungkus terpisah, diikat, dilak, disegel dan diberi label;
2. tempat barang bukti dalam tempat/peti yang cukup kuat dan tidak mudah rusak;
3. memberikan sekat antara botol yang satu dengan botol yang lain agar tidak berbenturan dan pecah;
4. menutup peti dengan rapat, diikat dengan tali dan disegel serta diberi label; dan
5. menandai peti dengan tanda “jangan dibalik dan jangan dibanting, awas pecah”.

Terima kasih kepada agan spot8ptr emoticon-Big Grin


Quote:Original Posted By resi.betmen
klo boleh merangkum
1. apakah BENAR terjadi pembunuhan? --> belum pasti
Spoiler for ALASAN::


note: hasil uji lab di RS AW tidak dibuka oleh polisi. pdhl di RS AW pasti ada uji darah.


2. bagaimana proses pembunuhan dan dimana TKPnya? --> belum pasti
Spoiler for ALASAN::


note:
- CCTV kondisi kafe O pasca kejadian (terutama di pantry) tidak diperlihatkan oleh JPU.
- CCTV utuh saat kumpul2 M juga tdk diperlihatkan oleh JPU.
- apakah JPU mampu memperlihatkan gelas yg jd tempat minum kopi (brarti ada sidik jari M dan J)?
- apakah KUHP - tidak menjamin hak terdakwa utk menguji alat bukti????

3. J sangat mencurigakan --> subjektif krn dinilai stlh kejadian dan J dijadikan terdakwa.
Spoiler for ALASAN:


note: mencurigakan/tidak umum bukan brarti kriminal.. meski bisa jadi dasar utk menyidik seseorang lbh lanjut (fokus mencari bukti terkait orang tsb). tp itu bukan alat buktinya sendiri.

mohon dikoreksi jika salah merangkum.






Krishna Murti Pastikan soal Uang Rp 140 Juta Tak Ada di BAP Rangga

Kamis, 28 Juli 2016 | 15:32 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Salah satu saksi dalam kasus pembunuhan Wayan Mirna Salihin, Rangga Dwi Saputra, disebut kuasa hukum Jessica Kumala Wongso, Otto Hasibuan, mengaku didatangi polisi menerima uang Rp 140 juta dari Arief Sumarko, suami Mirna, untuk membunuh Mirna.

Menanggapi hal itu, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Krishna Murti mengatakan, pernyataan Rangga itu saat diperiksa oleh tim psikiater.

"Tidak ada di BAP, jadi itu kan kami mem-profile semua potential suspect. Jadi salah satu caranya kami membawa ke psikiater. Itu adalah hasilnya, psikiater hasil dari curhatannya Rangga," ujar Krishna kepada Kompas.com, Kamis (28/7/2016).

Krishna menjelaskan, saat itu, yang mendatangi Rangga bukanlah orang yang mengaku polisi, melainkan seorang wartawan. Wartawan itu mendatangi Rangga untuk mengonfirmasi mengenai uang sebesar Rp 140 juta yang diterima dari Arief.

"Rangga curhat ke psikiater ada wartawan yang menuduh dia, datangi dia dan bilang Rangga dapet transferan dari Arief. Jadi itu curhatan Rangga di psikiater. Itu catatan medis dari psikiater," ucapnya.

Krishna mengungkapkan, pemeriksaan psikiater tidak hanya dilakukan pada Rangga, tetapi kepada semua potential suspect dalam kasus tersebut.

"Jadi itu bukan hanya Rangga yang kami bawa ke psikiater, yang lain juga kami periksa, kami profile, supaya untuk mencari tahu keterangan itu valid atau tidak," kata Krishna.

Sumber:http://www.tajuk.id/read/kompas/kris....di.bap.rangga

soktaudotcom mode on
Klo wa sih berharap, "misi" Otto utk membuat org lain terutama tim Hakim berpikir bahwa bisa saja kemungkinan pelakunya org lain dapat menjadi pertimbangan.

Tapi karena ini sidang Jessica, dimana tim hakim akan menilai apakah si J bersalah atau tidak, dan juga bukan kewajiban hakim mencari tau siapa pelaku sebenernya karena itu sudah di luar koridor persidangan. Maka kemungkinan yg disebut Otto, baru bisa ditangani lebih lanjut dengan serius apabila hasil sidang memutuskan bahwa si J tidak bersalah.

Dan wa pribadi, seandainya emg bener si J tidak bersalah nanti, akan memberikan informasi (bagi pihak yg membutuhkan) ttg kemungkinan2 bagaimana kasus ini bisa terjadi sehingga semoga bisa menuntun kepada pelaku sebenarnya. Karena setelah mengikuti persidangan, wa punya teori, namun teori itu perlu dibuktikan dengan data2 yg hanya bisa dikumpulkan oleh pihak berwenang. Apabila data2 tsb mendukung teori wa, maka pelakunya bisa ketahuan emoticon-Peace

soktaudotcom mode off





Reserved for Update 2

Mulai dari menit 65:40

youtube-thumbnail


Terima kasih kepada Agan Kondektur
Rangkuman Super Singkat Sidang tanggal 5 Oktober 2016.. Didakwa dengan pasal 340 dan tidak ada bukti meringankan, tapi tuntutan hanya 20 tahun penjara? GPU nya sendiri seperti gak yakin sama dakwaan dan tuntutannya emoticon-Hammer (S)

Thanks to agan snipertarget
Quote:Original Posted By snipertarget
Summary dari SURAT TUNTUTAN JPU yg dibacakan pada Sidang tgl 5 October 2016::

1. JPU: Ada pernyataan Arif kalau Mirna pernah menasehati untuk memutuskan hubungannya dgn Patrick.
Fakta:
- Jessica mengaku di persidangan kalau dia pernah berbicara soal teman dekatnya pada Mirna namun tdk pernah menyebutkan nama orangnya karena masih tahap pendekatan.
- Arif membantah sendiri pernyataannya di persidangan di KompasTV. Arif mengetahui Mirna pernah menasehati Jesica justru dari dari teman2 Mirna/Jessica. Di kesempatan lain, Arif membantah lagi dgn mengatakan kalau Mirna pernah menasehati Patrick justru diketahuinya dari police.

Kesimpulan: Pernyataan Arif selain dibantah oleh Jessica juga dibantah oleh Arif sendiri.

2. PERKAP hanya mengikat anggota kepolisian, bukan masyarakat. Jadi pengambilan sample dokter tdk sesuai dgn PERKAP adalah tdk masalah.
Fakta:
- Kapolri itu pejabat setingkat menteri. Di UU disebutkan kalau peraturan pejabat setingkat menteri adalah utk mengatur keluar institusi, tapi kalau hanya mengatur kedalam cukup diatur dgn Surat Edaran (SE). Contoh lain: Perkap no. 9 thn 2012 tentang SIM.
- Otopsi adalah golden standard seluruh dokter forensik di seluruh dunia utk kematian diduga tdk wajar. Ini makanya hal itu diatur di Perkap.
- Ada surat permintaan resmi dari penyidik utk melakukan otopsi namun dokter S justru tdk melakukannya.

Comment: Pernyataan JPU ini konsekuensinya sangat luas. Ini artinya peraturan menteri atau setingkat menteri spt Perkap, Peraturan Jaksa Agung, peraturan BKPM, dsbnya boleh dilanggar. Ini membuat para JPU diragukan kualitas dan kredibilitasnya sebagai penegak hukum.

3. Kesaksian Beng Beng Ong cacat hukum dan bisa dikesampingkan karena secara kesusilaan dan cara hidupnya berbeda serta melanggar keimigrasian.
Fakta:
- Soal kesusilaan dan cara hidup Beng Beng Ong hanya asumsi dari JPU. Tdk ada bukri.
- Beng Beng Ong pernah menangani kasus Bom Bali 2002 dan masuk ke Indonesia dgn menggunakan model Visa yg sama yaitu Visa Kunjungan dan mendapat penghargaan dari Kapolri saat itu.
- Beng Beng punya pengalaman menangani 2 kasus keracunan Sianida. Dan tentu saja pengalaman ini dibutuhkan utk dibagikan di persidangan.

4. Kesaksian Michael Robertson bisa dikesampingkan karena Robertson pernah punya masalah hukum dan menjadi buronan.
Fakta:
- Tdk ada pernyataan resmi dari pihak berwewenang (FBI, Kedubes US/Australia) soal Robertson pernah terlibat masalah hukum(kriminal).
- Dugaan ini hanya berdasarkan artikel di Daily Mail semata (belum tervalidasi).

Kesimpulan: Pernyataan JPU ini secara tdk langsung sdh menghina kemampuan dari FBI karena tdk bisa menangkap Robertson sejak 2001, padahal Robertson hidup di Aussy tdk lah sembunyi2, punya pekerjaan, dan sering memberikan konsultasi soal Toksikologi kemana2. Pernyataan JPU ini juga meragukan kredibilitas dan kemampuan kedubes US di Australia dan CIA utk melacak keberadaan Robertson.

5. Kesaksian Kristie menggambarkan kepribadian Jessica di Australia, telah dilakukan dibawah sumpah sehingga kesaksiannya bisa digunakan.
Fakta:
- Sdh dipanggil 3 kali oleh JPU namun tdk datang tanpa pemberitahuan alasan.
- Sumpah dari translater (penterjemah) tdk ada.
- Keterangan Kristie soal Jessica mengancam Kristie dan melaporkan hal itu ke police, justru dibantah sendiri oleh John Torres (police NSW) saat membacakan Police Report (catatan Kepolisian) dari Jessica. Torres mengatakan Kristie memang pernah melaporkan Jessica hanya karena alasan Jessica yg tdk masuk kerja.

Kesimpulan: Kesaksian Kristie tdk valid dan tdk bisa dipertanggungjawabkan.

6. Pendapat Psikolog: J marah kalau ada kondisi yg tdk sesuai dgn kemauannya.
Fakta: Tdk ada manusia yg tdk pernah marah, pernyataan psikolog terlalu umum dan subjectif.

7. Kriminolog: Teori Fisiognomi dan Gesture menunjukkan Jessica adalah pelaku kejahatan.
Fakta:
- Teori fisiognomi dan gesture dipakai di abad ke-19 karena memang saat itu tdk didukung oleh kecanggihan teknologi forensik, peralatan laboratorium yg canggih, dan teknologi canggih lainnya.
- Teori fisiognomi dan Gesture terakhir dipakai di persidangan di Amerika di awal abad ke-20 dan hasilnya tdk valid. Setelah itu teori ini tdk pernah dipakai lagi saat persidangan.

8. Barang bukti boleh diambil siapa saja. Tdk perlu berita acara, dan ini tdk melanggar hukum dan sah.
Fakta: KUHAP dan Perkap mensyaratkan agar barang bukti diamankan oleh penyidik dan ada berita acara dgn tujuan utk menghindari kesewenang2an dari penyidik dan menghindari manipulasi barang bukti.

9. Setelah putus dari Patrick, Jessica semakin marah kepada Mirna.
Fakta:
- Tdk ada bukti kalau Jessica pernah marah/bertengkar dgn M.
- 8 Desember 2015, Arif dan Mirna pergi makan bersama Jessica di sebuah restauran dan berlanjut pergi bersama ke cafe teman Mirna.
- Jessica pernah main ke rumah Mirna.
- Adanya janjian gathering ber-4 di Olivier tgl 6 Jan 2016, dan Jessica terlihat berpelukan dan cipika-cipiki ketika bertemu Mirna/Hani.

Kesimpulan: JPU hanya berasumsi saja. Hubungan J dan Mirna terlihat tetap erat, terbukti dari beberapa kali saling mengunjungi dan traktir-mentraktir.

10. Terdakwa mengambil sianida dari tas coklat.
Fakta:
- Tdk merupakan fakta persidangan
- Tdk ada bukti kalau Jessica pernah memiliki, membawa, atau membeli sianida.
- Tdk ditemukan adanya residu sianida di meja, tas, dsbnya.
- Tdk ada luka atau iritasi di tangan Jessica.
Kesimpulan: Pernyataan ini hanya asumsi dari JPU saja.

11. JPU menjelaskan asumsi2 tentang hilangnya sianida dari literatur dan buku yg diterjemahkan sesuai dgn keinginan JPU.
Fakta: Hal yg sama sering dilakukan pada saat mendengar keterangan ahli dan JPU sering diperingatkan oleh para ahli utk tdk mengutip sebagian2 dan menterjemahkannya harus benar.

Comment: Harusnya JPU membuat Surat Tuntutan berdasarkan keterangan ahli saja bukan malah mengutip literature yg belum jelas referensi dan kebenarannya.

12. Menurut keterangan Lia (petugas embalming) yg tdk pernah dibacakan dalam persidangan, ada bercak merah di pipi korban.
Fakta: Di VeR disebutkan pipi korban diberi perona merah.
Kesimpulan: JPU memanipulasi fakta.

13. Process embalming bisa mengurangi sianida sehingga konsentrasi 0.2 mg/l itulah dianggap sebagai sisa sianida yg diminum Mirna.
Fakta:
- Embalming dilakukan melalui pembuluh darah, jadi itu tdk bakalan mempengaruhi kandungan siamida di organ tubuh lain seperti lambung, kandung kemih (urine).
- Pada barang bukti tdk terdapat adanya kandungan formalin/formaldehid di hati, di empedu, di lambung dan di urine.
- Michael Robertson membantah sianida/ thiosianat hilang karena formalin (formaldehid) karena berdasarkan fakta hasil laboratorium forensik, tdk ditemukan adanya formalin/formaldehid di organ spt hati, empedu, lambung, dan kandung kemih (urine).
- Ahli2 lain baik ahli toksikologi maupun patologi forensik juga berpendapat sama.

Kesimpulan: JPU hanya berasumsi saja.

14. Sianida korosif bisa melepuhkan kulit.
Fakta:
- Devi mencicipi kopi Mirna dgn cara ditetesin di telapak tangan terus dijilat dan diludahkan lalu Devi muntah2. Namun tdk ditemukan Devi gatal2 dan tangannya melepuh.
- Hani minum langsung dari sedotan dan ditelan justru malah tdk muntah2. Hani sehat2 saja dan tdk ditemukan lidah dan mulutnya melepuh berdasarkan hasil pemeriksaan dr. Adrianto (RSAW).

Kesimpulan: kopi yg diminum Mirna, Hani, dan Devi tdk mengandung sianida.

15. Jessica benar mempunyai potensi utk meyakiti diri sendiri dan orang lain.
Fakta:
- Jessica tdk pernah mengancam orang lain berdasarkan Police Report (Catatan Kepolisian) NSW yg dibacakan oleh John Torres.
- Dari Police Report terlihat kalau Jessica memang tidak pernah benar2 menyakiti dirinya. Apalagi menurut terdakwa itu hanya utk menarik perhatian supaya Patrick membayar hutangnya sebesar 10 ribu Aus dolar.

Kesimpulan: Sptnya JPU hanya berasumsi berdasarkan keterangan Kristie, sementara kebenarannya tdk bisa dipertanggungjawabkan karena keterangan tsb tdk bisa diverifikasi/divalidasi oleh hakim dan PH di persidangan. Dan beberapa alasan lain spt yg disebutkan di item sebelumnya.

16. JPU membahas masalah percobaan Nursamran/Gel Gel di cafe Olivier.
Fakta:
- Antara percobaan di Olivier dan hasil yg didapat Nursamran hasilnya kontradiktif.
BB1 dan BB2 mempunyai pH= 13, sementara pd percobaan di Olivier mempunyai pH=11,5.
- Pada percobaan Gel Gel yg pertama, kopi bersianida berwarna coklat susu, sementara percobaan di Olivier berwarna kuning. Ada kontradiksi soal warna.
- Percobaan Nursamran/Gel Gel di Olivier dilkukan pada pagi hari dan belum ada pengunjung. Ini mencerminkan temperature ruangan yg tdk sama dgn kejadian pada saat Mirna minum kopi (sore hari dan banyak pengunjung).

17. JPU membahas waktu mundur Nursamran. Dimana process kimiawi menurut Nursamran memakan waktu 90 jam 9 menit 36 second. Jika dihitung mundur dari saat percobaan dilakukan pada 10 Januari 2016 jam 10.30, Nursamram memperoleh waktu mundur menjadi 6 Januari 2016 jam 16.39. Dan akhirnya Nursamran mengatakan racun dituang antara 16.30-16.45.
Fakta:
- Jika dihitung berdasarkan kata2 si ahli seharusnya waktu mundur adalah 16 Januari 2016 jam 16.21. Artinya kopi yg diminum Mirna belum ada di meja 54.
- Belum pernah sejarahnya seorang Toksikolog bisa menghitung kapan racun Sianida dituang ke minuman karena terlalu banyak variabel/parameter yg diperhitungkan spt suhu ruangan, volume susu, banyak/sedikitnya es, takaran kopi, dsbnya.

Kesimpulan: Walaupun melakukan kesalahan mengenai waktu mundur, Nursamram perlu diusulkan utk mendapatkan hadiah Nobel.

18. Ayah Jessica pengusaha plastik, tdk sulit bagi terdakwa utk mendapatkan Sianida.
Fakta:
- Bukan fakta persidangan
- Ayah Jessica tdk pernah dipanggil utk mengklarifikasinya.

Kesimpulan: Pernyataan ini hanya asumsi JPU dan cenderung fitnah.

19. Cairan lambung 1 cc terlalu sedikit utk dianalisa.
Fakta:
- Pernyataan tsb bukan merupakan fakta persidangan.
- Menurut dr. Djaja/Budiawan, alat2 laboratorium sekarang sdh canggih2 termasuk alat di laboratorium Forensik bisa mengukur dalam satuan mikro liter bahkan nano liter.
- Sesuai literatur bisa digunakan metode pengenceran.
- Bila memang tdk bisa dianalisa, harusnya di laporan ditulis tdk bisa dianalisa.

Kesimpulan: Sebagai seorang Kepala Laboratorium forensik, pastilah beliau sdh mengerti sistem dam metode pengukuran di laboratorium kimia. Ini terbukti dari ditulisnya NEGATIF bukan ditulis TIDAK BISA DIANALISA. Bila pernyataan JPU tsb memang benar merupakan pernyataan dari Nursamran, sptnya beliau memang tdk layak menjadi Kepala laboratorium Forensik. Keraguannya terhadap hasil pengukuran berimplikasi terhadap diragukannya validitas dari keseluruhan pengukuran sample lainnya; dan ini sama saja dgn meragukan/mempermalukan kinerja Laboratorium Forensik yg dipimpinnya.

20. Bahwa terlihat dgn nyata bahwa terdakwa menuangkan 5 gram sianida ke gelas korban.
Fakta:
- Bukan merupakan fakta persidangan.
- Tdk ada saksi yg melihat Jessica menuangkan sesuatu ke dalam kopi Mirna.
- Tdk ada bukti kalau Jessica pernah memiliki, membawa atau membeli sianida.
- Dari percobaan Nursamran/Gel Gel di cafe Olivier diperlukan banyak gerakan2 dan waktu yg lama serta rawan terkontaminasi ke tangan si penuang.
- Tdk ada residu sianida ditemukan tumpah di meja, tas, dan dibagian tubuh Jessica.
- Tdk ada iritasi atau luka ditemukan di tangan, wajah, dan kepala padahal terdakwa sering terlihat memegang tangan, wajah, dan menyibak rambut.
- Konsentrasi awal dari sianida di kopi Mirna menurut perhitungan Nursamran sebesar 9880 mg/liter (lebih dari 6-7 gram) bukan 7900 mg/l (yg menurut Nursamran setara 5 gr). Artimya pernyataan JPU ini sdh terbantahkan oleh hitung2an Nursamran meskipun hitung2an tsb meragukan.
- Di rekaman CCTV yg keasliannya sangat diragukan saja, tdk terlihat Jessica menuang racun.

Kesimpulan: Pernyataan JPU di Surat Tuntutan tsb hanya asumsi dari JPU saja dan tdk ada pembuktiannya.

21. Kejang2, mual, dada sesak dan pusing2 merupakan gejala keracunan sianida.
Fakta: Menurut para ahli patologi forensik, gejala2 tsb bukan hanya gejala karena keracunan sianida, bisa juga disebabkan oleh penyakit alami yg disebabkan oleh jantung, otak, atau paru2.

22. Dan sebagainya.

KESIMPULAN:
- Sebagian besar dari pernyataan JPU di SURAT TUNTUTANnya TIDAK MERUPAKAN FAKTA PERSIDANGAN, semuanya bersifat ASUMSI, kecurigaan yg tendensius, dan beberapa sdh menjurus ke fitnah.
- Dari apa yg terlihat di persidangan dan TIDAK ADANYA ALAT BUKTI (hanya asumsi2) membuktikan kualitas dari penegakan hukum di Indonesia mulai dari penyidikan sampai penuntutan, benar2 buruk dan sangat memprihatinkan.
- Dari Surat Tuntutan yg penuh dgn asumsi tsb menunjukkan bagaimana sebenarnya kualitas dan integritas dari para JPU sangat buruk. Para JPU memaksakan seluruh asumsi2 pribadinya demi mencari PEMBENARAN utk menghukum TERDAKWA, bukan mencari KEBENARAN MATERIAL. Dan lucunya JPU/Penyidik berani menggunakan pasal 340 (pembunuhan berencana) hanya berdasarkan asumsi2 dan semakin aneh dgn menuntut terdakwa dgn hukuman 20 thn penjara dgn hanya berdasarkan semua asumsi2 tsb.
- HUKUM ITU ADALAH KEPASTIAN DAN PENUH DENGAN PEMBUKTIAN. Lebih baik melepaskan 100 orang bersalah ketimbang menghukum orang yg tdk bersalah. Itulah hukum yg berlaku di negara2 beradab. Perlu reformasi dan perbaikan.


emoticon-Traveller




Bagi yang kepengen tau SOP olah TKP

Quote:Original Posted By ulatbulugatal


agak panjang nih gan yah,

prosedural SOP olah tempat kejadian perkara,



Sebelumnya, kami akan menyebutkan pengertian penyelidikan yang terdapat dalam Pasal 1 angka 5 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (“KUHAP”), yaitu serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukan dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini. Dari sini, kita bisa mengetahui bahwa dalam proses penyelidikan, belum tentu ada tindak pidana yang dilakukan.

Lain halnya dengan penyidikan. Menurut Pasal 1 angka 2 KUHAP, penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya.

Artinya, dalam proses penyidikan sudah ditemukan suatu tindak pidana, namun tindak pidana tersebut perlu dibuat terang lagi dengan cara dicari atau dikumpulkannya bukti-bukti. Penjelasan selengkapnya dapat Anda simak dalam artikel Soal Penyidik, Penyelidik, Penyidikan, dan Penyelidikan.

Untuk menjawab pertanyaan Anda mengenai adakah kaitannya olah TKP dengan penyelidikan, maka kita mengacu pada Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2012 Tentang Manajemen Penyidikan Tindak Pidana(“Perkapolri 14/2012”).

Berdasarkan Pasal 12 ayat (1) Perkapolri 14/2012, kegiatan penyelidikan meliputi:
pengolahan TKP;
pengamatan (observasi);
wawancara (interview);
pembuntutan (surveillance);
penyamaran (under cover);
pelacakan (tracking); dan
penelitian dan analisis dokumen

Dari sini bisa kita ketahui bahwa salah satu kegiatan penyelidikan adalah pengolahan TKP. Jadi, menjawab pertanyaan Anda, pengolahan TKP itu memiliki keterkaitan dengan proses penyelidikan karena pengolahan TKP merupakan bagian dari proses penyelidikan.

Adapun kegiatan-kegiatan dalam pengolahan TKP itu meliputi (Pasal 24 huruf a Perkapolri 14/2012):
mencari dan mengumpulkan keterangan, petunjuk, barang bukti, identitas tersangka, dan saksi/korban untuk kepentingan penyelidikan selanjutnya;
mencari hubungan antara saksi/korban, tersangka, dan barang bukti; dan
memperoleh gambaran modus operandi tindak pidana yang terjadi;

Ketentuan lain yang mengatur tentang Pengolahan TKP adalah Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2010 Tentang Manajemen Penyidikan Oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil (“Perkapolri 6/2010”) yang kami akses dari laman resmi Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN). Dari peraturan ini diketahui bahwa pihak yang berwenang melakukan pengolahan TKP bukan hanya Polri melainkan juga Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS).

Dalam rangka pengolahan TKP, tindakan yang dilakukan oleh PPNS sebagai berikut [Pasal 20 ayat (1) Perkapolri 6/2010]:
a. mencari keterangan, petunjuk, barang bukti serta identitas tersangka dan korban maupun saksi untuk kepentingan penyelidikan selanjutnya; dan
b. pencarian, pengambilan, pengumpulan, dan pengamanan barang bukti, yang dilakukan dengan metode tertentu atau bantuan teknis penyidikan seperti laboratorium forensik, identifikasi, kedokteran forensik, dan bidang ahli lainnya.
Selanjutnya dalam Pasal 20 ayat (2) Perkapolri 6/2010 dikatakan bahwa tindakan yang dilakukan oleh PPNS dalam pengolahan TKP dituangkan dalam berita acara pemeriksaan di TKP.

Sebagai contoh, kami akan menjelaskan mengenai pengolahan TKP untuk tidak pidana tertentu, yakni Tindak Pidana Pertambangan (Illegal Mining). Dalam sebuah Petunjuk Lapangan (Juklap) Badan Reserse Kriminal Polri Direktorat Tindak Pidana Tertentu, yakni Penanganan Tindak Pidana Pertambangan (Illegal Mining)yang kami akses dari laman resmi Humas Polri, dikatakan bahwa pengolahan TKP dilakukan oleh team olah TKP (Penyidik Polri, Badan Planologi, BPN, Dinas Pertambangan Kabupaten/Propinsi, Dinas Kehutanan Kabupaten/Propinsi), dengan disaksikan oleh orang yang berada di TKP khususnya orang yang melakukan kegiatan pertambangan ilegal.

Tindakan pengamanan di TKP dilakukan dengan menutup dan mengamankan TKP (mempertahankan status quo) dengan membuat batas/tanda garis polisi (police line) di TKP bila lokasi memungkinkan.Atau membuat tanda patok batas TKP yang didasari hasil pengambilan titik-titik koordinat (hal. 16).

Selain itu, dalam Juklap tersebut juga disebutkan mengenai tahapan tindakan penanganan di TKP, antara lain: melakukan pemotretan dengan maksud untuk mengabadikan situasi TKP termasuk keberadaan saksi-saksi, kegiatan/aktivitas pertambangan dan barang bukti yang berada di TKP dan untuk memberikan gambaran nyata tentang situasi dan kondisi TKP serta untuk membantu melengkapi kekurangan-kekurangan dalam pengolahan TKP termasuk kekurangan-kekurangan dalam pencatatan dan pembuatan sketsa, obyek pemotretan TKP secara keseluruhan dan berbagai sudut, detail atau close-up terhadap setiap obyek yang diperlukan untuk penyidikan; dan pembuatan sketsa TKP. Sketsa dibuat dengan maksud untuk menggambarkan TKP seteliti mungkin dan sebagai bahan untuk menggambarkan kondisi TKP pada saat dilakukan olah TKP (hal. 16-17).

SOURCE :
http://m.hukumonline.com/klinik/deta...hukum-olah-tkp






Update: Kurang tepat klo update kyknya, cuma merefresh aja kali yaaa. Dan karena persidangan sedang berjalan serta berkaitan dgn kesaksian pegawai cafe, gak ada salahnya kita kembali sebentar ke masa lalu emoticon-Peace

Awal2 kasus wa inget pernah baca berita ini, tp sampe skr wa gak tau siapa orgnya, dan karena dari awal pak pol udah "fokus" ke si J, wa berasumsi org ini pun luput dari pemeriksaan.

Depresi Kasus Pembunuhan Mirna, Pegawai Kafe Olivier Resign

Sumber : http://m.okezone.com/read/2016/01/27...=utm_source=br

Rangkuman super singkat sidang 14 dan 15/9/2016

Menghadirkan ahli toksikologi, yang keterangan nya mendukung kesaksian ahli2 forensik sebelumnya, tentang keberadaan thyosianat yang menjadi kunci dalam kematian akibat keracunan sianida, yang justru faktanya tidak ditemukan dalam kasus ini. Ditambah lagi keberadaaan Barang Bukti 4, yaitu cairan lambung korban yg diambil 70 menit pasca kematian, yang terbukti tidak mengandung sianida (sehingga sianida sebanyak 0,2 mg/L, kemungkinan besar adalah sianida yang tercipta karena proses post mortem, yang menurut literatur seperti yg dijelaskan Prof Beng Ong, bisa mencapai sampai 1 mg/L). Dan pada kesempatan kali ini juga, ahli toksikologa menegaskan, menentukan penyebab kematian bukanlah kewenangan seorang toksikolog, melainkan kewenangan seorang dokter forensik (yang telah melakukan pemeriksaan secara lengkap dan menyeluruh, bukan sampel doank).

Selanjutnya, menghadirkan ahli dari PBB, Prof Gatot, yang selain spesialis Patologi Anatomi, beliau juga ahli forensik. Seperti saksi ahli sebelumnya, beliau pun meragukan penyebab kematian korban. Beliau menjelaskan bagaimana urutan2 dalam menentukan penyebab kematian seseorang (Cause Of Death), karena dalam tubuh manusia, sebelum kematian terjadi, akan didahului oleh mekanisme kematian terlebih dahulu. Akan ada mekanisme dan kondisi2 sebelum kematian menjemput, yang disebut dengan underlying cause of death. Namun pada kasus ini, hal2 tersebut tidak dapat diketahui dengan pasti, karena KACAUnya pemeriksaan yang dilakukan, alias tidak lengkap karena tidak diotopsi. Akan tetapi, untuk menyingkirkan penyebab kematian akibat sianida, dapat diketahui, karena data2 yg ada memang tidak mendukung, seperti keberadaan BB4 yang negatif sianida, dan pemeriksaan sampel2 yang negatif sianida dan thyosianat, sedangkan 0,2 mg/L sianida dalam lambung, kemungkinan karena adanya proses post mortem, dan bukan masuk saat korban masih hidup. Hal ini diperkuat dengan laporan Visum et Repertum hasil patologi anatomi pada sampel lambung, yang ditemukan keberadaan LIMPOSIT, yang menurut beliau dan juga menurut literatur, limposit ini terdapat pada luka yang kronis, alias bukan pada luka yang baru saja terjadi. Sehingga bisa disimpulkan, luka yg tadinya diduga sebagai akibat zat korosif, ternyata adalah luka yang sudah lama terjadi.

Sidang di hari selanjutnya, menghadirkan ahli IT dan psikolog. Yang intinya, ternyata data zuming zuming yg lalu, bukan diperoleh dari membongkar DVR CCTV cafe, karena pihak GPU mengatakan DVRnya terkunci password. Begitu hebatnya pihak cafe pemilik CCTV, sehingga aparat berwenang dan ahli IT GPU tidak mampu memperoleh password tsb ckckckck... Jadi, data yg dipake pihak GPU adalah data hasil sedekah dari pihak cafe yg telah memindahkan sendiri data tsb ke flash disk sebesar 32 giga, dan itulah yg dizuming zuming. Dan data zuming2 tsb dibawa2 oleh ahli IT GPU, sehingga jelas, itu bukan termasuk Barang Bukti, yg diiyakan GPU bewokan. Jadi bagaiaman membandingkan bahwa data di Flash disk tersebut adalah asli tanpa rekayasa (karena kita tidak melihat si J minum cocktailnya, kita juga tidak melihat si J menelepon) sedangkan data sesungguhnya masih ada di dalam DVR yg terpassword sampe sekarang???? emoticon-Cape d... (S)

Rangkuman sidang super singkat 7/9/206

Menghadirkan 3 orang saksi, di mana 2 orang saksi adalah pengunjung yang berada dekat meja si J, dan 1 orang adalah ahli forensik. Kesaksian dir KIA ( salah satu pengunjung cafe ) yang menyatakan terganggu oleh suara telepon seseorang yg dalam hal ini si J, semakin mendukung kecurigaan bahwa ada yang aneh sama CCTV nya. Karena dalam CCTV yang beredar sama sekali tidak menunjukkan si J yang sedang menelepon seperti yang dibilang saksi. CCTV yang sama juga sama sekali tidak menunjukkan kapan si J meminum 2 gelas cocktail. Padahal si J memesan 1 cocktail dan dapet free 1 gelas cocktail dan ke duanya diminum oleh si J, tapi sama sekali tidak ada rekaman tsb dalam CCTV. Jreeenggg validkah barang bukti CCTV???

Kesaksian lebih seru diutarakan oleh ahli forensik. Karena ternyata, beliau adalah dokter mengembalming korban. Sebelum melakukan embalming, dokter telah menyarankan bahwa korban harus dilakukan otopsi, namun pak pol yg ada disitu keukeuh bilang gak perlu karena keluarga menolak. Karena sudah berusaha menjelaskan apa adanya sesuai aturan ke pak pol dan sudah ada surat kematian korban juga (alias sudah ada dokter lain yg bertanggung jawab), maka dilakukanlah embalming, sehingga jenazah korban tidak menjadi sumber infeksi karena tidak langsung dikuburkan. Namun, ahli ini tetap melakukan pemeriksaan sebelum embalming, melihat kematian yg tidak wajar ini dan korban masih muda, maka ditekanlah bagian dada dan perut sambil mencium aroma yang keluar dari mulut korban. Bila ada bau bawang putih, artinya itu kemungkinan dari arsen, bila ada bau seperti bitter almond, artinya dari sianida. Yang kebetulan ahli forensik ini adalah 1 orang dari 84 orang yang mampu mencium bau siandia. Ahli juga menerangkan lebih spesifik ttg bau sianida, yaitu seperti bau dari daun singkong yang dilumatkan (literatur menyebutkan hanya 40% dari populasi yang dapat mencium bau sianida ini). Dari pemeriksaan tadi, ahli tidak mencium bau yang dimaksud ataupun bau2 lain yang mencurigakan. Kemudian ahli juga memeriksa tubuh korban apakah ada luka ato tidak (karena klo ada luka ya harus dijahit dulu supaya cairan embalming tidak bocor keluar), ternyata tidak ditemukan luka, dan lebam mayat korban pun tidak khas, alias tidak ditemukan warna merah terang pada korban seperti halnya orang yang keracunan sianida. Ahli bersaksi dengan lancar seperti air yang mengalir ke luar dari kran, menjelaskan dengan kata2 yang mudah dimengerti (tidak salah klo ahli dijuluki Text Book Berjalan emoticon-Big Grin ) dan ahli berkesimpulan sesuai dengan keilmuwannya dan pemeriksaannya, bahwa kematian korban bukan disebabkan oleh sianida, klarena tidak ditemukannya tanda-tanda yg khas pada orang keracunan sianida, yaitu tidak adanya warna kemerahan pada kulit korban, tidak tercium bau khas siandia pada korban, lambung korban tidak berwarna kemerahan, dan dari hati tidak ditemukan adanya sianida dan tidak ditemukan thyosianat emoticon-army.

Yang lucu dan juga mengesalkan di sini adalah tim jakza yang tanpa malu-malu memamerkan kegoblokan mereka di seluruh negeri. Ada jakza yang sama sekali tidak mengerti perbedaan antara pendapat ahli dengan asumsi, namun tidak sadar klo dia salah, malah bilang 'Saya ini Jakza", (heloowwwww emangnya klo elu jakza, elu jadi tuhan yang gak bakal salahh??? emoticon-Ngakak (S)). Ada juga jakza yang membentak2 saksi sehingga sidang diskors (entah kemana etika persidangan si jakza ini emoticon-Cape d... (S)). Dan puncaknya jreeenggggg siapa lagi klo bukan aktor stand up comedy kita huakim B. Dengan gayanya yang biasa dan super ngotot, sudah menyimpulkan sendiri bahwa korban mati akibat minum sianida dalam kopi (padahal itulah yg berusaha dibuktikan di persidangan ini dan harusnya kesimpulannya muncul di akhir, tapi huakim B ini sudah yakin memang itulah penyebabnya dari awal). Terjadilah ngotot2an antara saksi ahli yg menjelaskan sesuai keilmuwannya, dengan huakim B yg membantah sesuai dengan kegoblokannya, maaf kenapa wa sampe bilang goblok, ya goblok karena jelas2 dokter forensik emg lebih tau kenapa seseorang itu bisa mati daripada seorang huakim tapi si huakim gak percaya (malah ngancem2 pake pasal). Huakim B keukeuh saat sianida masuk, korban lgs mati sehingga sianida mengendap di lambung dan tidak ke mana2 karena sudah mati. Mungkin huakim B molor saat pelajaran biologi dulu, saat penyebaran sari2 makanan ke seluruh tubuh. Pak huakim B yang terhormat, sianida itu bikin mati orang klo sudah masuk ke seluruh tubuh dan menyebabkan organ2 vital seperti Jantung, Paru2 dan atau Otak berhenti bekerja karena kekurangan oksigen. Tapi ya itu karena sudah ngotot menyimpulkan sendiri si korban mati akibat kopi sianida yang diminum, maka pak huakim B ini tidak mampu mencerna penjelasan ahli. Malah huakim B bilang lagi, jadi dari mana sianida masuk? Dari pantat? Oalaaahhhh Pak Pak.. Bikin malu saja. Ahli dengan gamblang menjelaskan, ya matinya jangan dipaksa gara2 sianida dunk Pak, bisa saja oleh racun lain yang tidak terperiksa, namun huakim yang entah kenapa seperti sudah dirasuki uang suap ini eh masih keukeuh sama kesimpulannya sendiri. Dan yg anehnya, saat huakim B memperlihatkan foto korban yang dengan ajaibnya bisa berada di meja huakim. yang notabene itu gak termasuk barang bukti, tidak ada di BAP dan tidak ada sama sekali cerita serah terimanya, dan menghubung2kan foto tsb sama kasus ini, padahal yg jelas2 itu barang ilegal dalam persidangan... Waaawwwww jadi teringat juga sama sidang sebelumnya, huakim B ini menanyakan kisah yang sama sekali tidak tercantum dalam BAP ( karena kisah itu disampaikan ayah korban di ILC). Ada dengan mu pak huakim B? Lupakah engkau bahwa sebelah kakimu itu berada di neraka? Terakhir, huakim B malah mengatakan bahwa keterangan ahli bertentangan dengan pendapat ahli2 sebelumnya 3 vs 1 (lha? Prof Beng Ong gak dihitung ahli?). Dengan teguh ahli berkata " Kebenaran tidak dilihat dengan cara begitu". Salut buat Bapak Dr. Djaja Surya Atmadja SpF,SH,PhD,DFM. Sekali lagi Salutttt Paaakkkk. Memperbaiki citra forensik yang tercoreng karena kemarin dipermainkan oleh si baju putih yang juga berbaju cokelat dan baju2 cokelat lainnya sehingga mereka mengorbankan keilmuwannya sendiri emoticon-Frown emoticon-Frown emoticon-Frown


Rangkuman sidang super singkat 5/9/2016

Pihak PH menghadirkan satu orang ahli Forensic Pathology dari Brisbane Australia, seorang profesor. Dan keterangannya sangat terang benderang dan menyilaukan bagi yang memang sudah mengerti kasusnya dari awal. Beliau bersaksi benar2 sesuai dengan pengetahuan keilmuwannya. Saksi ahli terbaik yang ada sampai saat ini, setelah Bu Nathalia kemaren (karena Bu Nathalia bersaksi duluan toh). Beliau ini telah menangani sekitar 2500 kasus, dan 2 di antaranya kasus keracunan sianida, dan dari 2 itu satu kasus lgs ditanganinya. Pernah membantu waktu kasus Bom Bali dan mendapat sertifikat penghargaan dari pihak kepolkisan.

Berdasarkan pengalaman dan pengetahuan sebagai seorang ahli Forensic Pathology, dengan melihat bahwa pada korban tidak ditemukan warna merah terang akibat keracunan sianida, dari cairan lambung yang diperiksa dari tubuh korban setelah 70 menit kematian yang hasilnya negatif utk sianida, dari manifestasi klinis yang dialami korban setelah meminum kopi yang tidak begitu spesifik sebagai gejala2 keracunan sianida, dari pemeriksaan lambung setelah 4 hari kematian hanya ditemukan 0,2 mg/L sianida (di mana proses post mortem dapat menghasilkan sianida sampai 1 mg/L), ketidaksesuaian tingginya dosis sianida dalam kopi dengan yang ditemukan pada hasil toksikologi, serta tidak ditemukannya sianida pada hati, empedu dan urine, beliau menyimpulkan bahwa kematian korban pada kasus ini bukan disebabkan oleh sianida.

3 hal yang TS perhatikan di sini yang cukup menghibur dari sidang yang berjalan dari sore sampe tengah malem adalah
1. Saat jakza mencoba menyerang ahli dengan menyebut sertifikat sianida, yang di mana pun di dunia ini tidak ada sertifikat seperti itu. Si jpu ngedumel saat ahli lewat penterjemah mencounter pernyataan tolol tersebut emoticon-Ngakak (S)
2. Saat jpu yang mencoba menjebak dengan memancing jumlah kandungan sianida dari proses post mortem, yang setelah dijawab ternyata jumlahnya sampai 1mg/L, di mana pada lambung korban ditemukan hanya 0,2 mg/L, jpu lgs terdiam dan lgs digantikan oleh rekannya utk bertanya. emoticon-Ngakak (S)
3. Bapak B yang selalu berada di depan dan kanan layar tipi kita, yg seharusnya beliau menyimpulkan masalah setelah semuanya selesai, malah bertanya2 dengan pertanyaan2 memaksa dan arah pertanyaannya sendiri ternyata sudah menyimpulkan kejadian pada kasus ini. Salah satu pertanyaan maksanya seperti " Seandainya tidak ditemukan zat lain selain sianida di dalam lambung korban, apakah ada kemungkinan zat lain bisa masuk dalam lambung korban? Jawab Iya ato Tidak!". Pertanyaan yg jawabannya sudah pasti karena dikarang sendiri. Jelas2 klo ditemukan cuma sianida, bagaimana mungkin zat lain bisa masuk? Klo zat lain bisa masuk ya pasti yg ada dalam lambung bukan cuma sianida dunk. Sehingga jawabannya sudah pasti Tidak lah, gakperlu nanya ahli klo pertanyaannya kyk gitu emoticon-Nohope.
Menurut TS, lebih cocok Bapak B ini menggantikan pihak jakza aja, soalnya perannya lebih condong sebagai jakza daripada seorang huakim. emoticon-Nohope


Rangkuman sidang super singkat 1/9/2016

Menghadirkan ahli kriminologi dan psikologi. Yang menurut kesaksian para kaskuser yg menonton persidangan, mengambil kata2 ahli sebelumnya, ahli2 ini sangat tidak lazim dan sangat tidak umum dalam memberikan kesaksiannya, berkesan semaunya dan seenaknya saja. TS saat itu ada kasus, sehingga tidak mengikuti jalannya persidangan. Yang jelas di sini Jess lebih banyak berkata2 daripada sidang2 sebelumnya, antara lain "Pendapatnya banyak yang tidak benar. Bohong semuanya. Terima kasih" dan "Keterangan ahli banyak yang tidak benar. Saya pertegas lagi, saya tertarik hanya kepada laki-laki, dulu, sekarang dan selamanya"

Rangkuman sidang super singkat 31/8/2016

Saksi ahli forensik dr BS. Berpendapat bahwa Otopsi adalah Golden Standart, namun kemudian berdasarkan apa yang dilihat di CCTV, gejala2 korban, maka menyimpulkan kematian korban sesuai dengan tanda-tanda keracunan Sianida. Dan yang aneh menurut TS, saat menjelaskan kenapa Thyosianat tidak ditemukan, beliau berteori bahwa thyosianat telah rusak karena adanya formalin sehingga tidak ditemukan, dan berdalih bahwa formalin tidak sampai ke lambung, hanya sampai di dinding lambung, sehingga sianida tidak hilang. Padahal, sesungguhnya thyosianat ini jauh lebih stabil zatnya daripada sianida yg sangat mudah menguap, ditambah lagi di lambung sianida bertemu dengan HCl, belum lagi kenyataan bahwa suhu jenazah sudah sama dengan suhu lingkungan, di mana sianida malah tambah gampang menghilang di suhu tersebut.

Rangkuman super singkat sidang 30/8/2016

Saksi 2 orang dokter yang ada di IGD saat itu di RSAW. Korban datang sudah dalam kondisi DOA (Death On Arrival). Pada korban sempat dilakukan resusitasi. Mulut korban kebiruan, kuku korban pucat. (Sekedar informasi, pada keracunan sianida, karena terbentuknya sianmethemoglobin akibat adanya sianida, akan memberikan warna pink pada lebam mayat, yang biasanya dapat dilihat pada daerah kuku, lebam mayat ini mulai timbul sekitar 15 menit - 30 menit setelah kematian. KOREKSI Warnah merah terang bukan karena sianmethemoglobin, tetapi karena oksihemoglobin, yaitu banyaknya oksigen yang terikat dalam darah karena tidak bisa memasuki sel2 akibat dihalangi oleh sianida, jd bukan karena adanya ikatan sianmethemoglobin. emoticon-Peace )

Berita terkait http://www.solopos.com/2016/08/29/si...jessica-748477
Rangkuman Singkat Sidang tanggal 26/09/2016

Menghadirkan ahli hukum Pidana, ahli ini seperti memberi kuliah pada GPU2, bahkan HPU B pun tidak dapat memaksakan apa yang sering dipaksakannya pada ahli2 lainnya. Ahli juga mengkritik aturan-aturan dan prosedur yang dilanggar dalam penegakan kasus ini, seperti Peraturan Kapolri no 10 Tahun 2009 tentang Tata Cara dan Persyaratan Permintaan Pemeriksaan Teknis Kriminalistik TKP dan Laboratoris Kriminalistik Barang Bukti kepada Labfor Polri, di mana yang terjadi bertentangan dengan isi aturan tsb, termasuk juga pelanggaran prosedural pengambilan barang bukti rekaman CCTV. Tentang pasal yang didakwaan ke terdakwa yaitu pasal 340, mengatakan perlunya motif dalam tindak pidana pembunuhan sehingga perbuatan kesenjangan, apalagi direncanakan, pasti ada motifnya. Motif merekonstruksi adanya niat dan adanya kejahatan. Tidak mungkin, seseorang membunuh tanpa ada motif. "Niat itu berangkat dari motif. Ini bagian dari kejahatan. Jadi, kalau dikatakan tidak perlu ada motif, itu tidak tepat," kata Mudzakkir.

Selanjutnya menghadirkan seorang anggota polisi dari Australia, yang pangkatnya bila di Indonesia adalah setingkat brigadir polisi satu (bengkok dua), karena ternyata, yang tadinya digembor2kan sebagai criminal record, ternyata adalah police report. Di mana laporan2 ringan ditangani oleh polisi2 di tingkat ini. Police report di sini berkaitan laporan seseorang atau laporan orang lain yang berkaitan dengan orang tertentu. Contoh orang yg terganggu karena tetangganya ribut, atau anjing tetangganya berisik, minta tolong kucingnya diturunkan dari pohon. Dalam hal yg berhubungan dengan terdakwa, J pernah melaporkan pencurian di stasiun dan laporannya tercatat, dan kemudian laporan dari pacar si J ke polisi saat si J ingin bunuh diri, sehingga polisi mendatangi rumah si J untuk mengkonfirmasi kabar tsb, yg hal ini terjadi berulang kali, seperti halnya seseorang yang ingin minta perhatian lebih dari org yang dicintainya, karena faktanya si J tidak benar2 berusaha membunuh dirinya. Dari 14 laporan yang disebutkan, mengendara dalam kondisi mabuklah yang lumayan berat tapi tidak dihukum, melainkan harus berkelakuan baik selama beberapa waktu. Dari kesemuanya tidak ada satupun yang berhubungan dengan kasus peracunan sianida yang dituduh dilakukan oleh si J.

Kemudian dilanjutkan kesaksian seorang ibu2 yang pernah mengalami hal yg sama dialami mirna, kolaps seketika setelah minum kopi. Sehingga tidak harus sianidalah yg dapat menyebabkan seseorang lgs tidak sadarkan diri setelah minum kopi. Kemudian dibacakan juga BAP Kristi yang mengaku tidak begitu mengenal Jessica namun isinya detail banget mengenai Jessica, yang lucunya begitu panjang lebar dibacakan tetapi FAKTANYA tidak ada BAP sumpah penerjemah saat "cerita" itu dibuat, sehingga bagaimana mempertanggungjawabkan sebuah dokumen yang gak jelas keabsahan hukumnya? emoticon-Big Grin

Quote:Original Posted By snipertarget
Dari hasil persidangan sampai Kamis, 22 September 2016 bisa diambil kesimpulan sbb:

1. Bisa dipastikan Mirna meninggal bukan karena sianida dgn alasan:
- Bau khas tdk ada, lebam mayat khas tdk ada, warna organ lambung yg khas juga tdk ada.
- Tdk ada bukti toksikologis kalau Mirna meninggal karena keracunan sianida. Sianida tdk ditemukan di hati, empedu, dan urin. Cairan lambung yg diambil setelah 70 menit Mirna meninggal, juga tdk ditemukan sianida (NEGATIF). Adapun sianida hanya ditemukan di sample lambung yg diambil setelah 3 hari Mirna meninggal sebanyak 0,2 mg/l, dan ini tdk lethal dose (tdk mematikan) dan merupakan proses post mortem process (pembusukan).
- Hani minum kopi yg sama dgn kopi yg diminum Mirna, namun tdk ditemukan gejala atau ciri2 yg khas kalau Hani minum kopi bersianida. Hani sehat2 saja..
- Konsentrasi 7400 mg/liter ternyata suatu jumlah yg sangat besar namun Devi (manager cafe) dan karyawan lainnya yg ikut meminum dan mencium2 gas sianida (HCN) yg ada pada kopi, tdk kelihatan spt orang yg terpapar sianida.

2. Penyebab kematian Mirna yg sebenarnya tdk bisa diketahui karena tidak diotopsi, namun penyebab kematian karena sianida sdh bisa disingkirkan. Mirna kemungkinan meninggal karena penyakit yg ada pada otak, atau jantung, atau paru2.

3. Kejang2, mual, dan pusing2 bukan hanya gejala yg disebabkan oleh keracunan sianida, namun bisa juga gejala yg disebabkan oleh penyakit alami lainnya seperti penyakit pada jantung, otak, dan paru2..

4. Korosif di lambung tdk disebabkan oleh sianida namun karena gastritis yg diderita Mirna. Dan korosif tsb sdh berlangsung lama (kronis).

5. Kemungkinan besar sianida dimasukkan ke kopi setelah Mirna meninggal. Hal ini disebabkan:
- Tdk ditemukannya sianida di tubuh Mirna.
- Volume cairan kopi sebesar = 150 ml + 200 ml + 20 ml (diminum Mirna) + diminum Hani = lebih dari 370 ml. Sementara volume gelas hanya 350 ml. Artinya volume cairan kopi tdk sinkron dgn volume gelas, meluber-luber...
- Konsentrasi sianida 7400 mg/liter merupakan konsentrasi yg sangat tinggi dan bisa menyebabkan orang disekitar juga terpapar sianida. Seandainya di kopi benar sianida dgn konsentrasi sebesar itu, bukan hanya Mirna yg kolaps, Hani dan Jessica bisa dipastikan kolaps juga setelah mencium gas HCN yg menguap dari kopi..

6. Teori Fisiognomi dan gesture tdk bisa digunakan utk membuktikan seseorang sebagai pelaku kejahatan karena memang hasilnya tdk valid. Teori fisiognomi dan gesture digunakan pada abad ke-19 dimana pada saat itu teknologi forensik, toksikologi, dan peralatan2 laboratorium belum secanggih yg sekarang. Zaman sdh canggih, kok masih ada yg memakai ilmu nujum...Apa kata dunia..

7. Rekaman CCTV tdk bisa dijadikan sebagai acuan/asumsi kalau Jessica dicurigai sebagai orang yg paling berpotensi menaruh yg diduga racun sianida ke kopi karena:
- Tdk adanya Hash antara rekaman DVR HDD CCTV dan Hash flash disk yg diberikan pihak Olivier ke police.
- Tdk ada BAP penyerahan rekaman flash disk ke police.
- Resolusi yg direndahkan dan Frame Rate yg diperkecil.
- Adanya tempering spt menambah dan mengurangi frame sehingga banyak gambar dan gerakan2 aneh seperti jari mak lampir.
- Ditemukannya di BAP Christoper penggunaan software photoshop CS6 dan analyser berbasis web buatan seorang photografer photo. Software ini bukan software yg biasa digunakan oleh ahli video forensik.

8. Seputar percobaan Gel Gel dan Nursamran di Cafe Olivier:
- Disebutkan sianida yg digunakan yg biasa ditemukan di pasaran (potassium) dan bukan NaCN.
- Tdk disebutkan purity dari sianida.
- PH kopi bersianida dalam percobaan hanya 11,5 sementara pH BB1 dan BB2 = 13..Hasilnya sangat kontradiktif dan ini mengindikasikan kalau BB1 dan BB2 memang benar2 bermasalah.
- Pada percobaan Gel Gel yg pertama, kopi sianida berwarna coklat susu, sementara percobaan Gel Gel/Nursamran di Cafe O berwarna kuning. Ada kontradiksi.
- Percobaan dilakukan pada pagi hari dan belum ada pengunjung di cafe. Ini mencerminkan temperature ruangan yg tdk sama dgn kejadian pada saat kejadian Mirna minum kopi (sore hari dan banyak pengunjung).
- Jumlah 5 mg ternyata jumlah yg sangat banyak dan membutuhkan wadah seperti ziplog bag. Orang yg menuang sianida pada saat percobaan membutuhkan banyak gerakan dan waktu saat menuang sianida ke kopi. Tdk cukup hanya dgn satu tangan namun kedua tangan harus benar2 digunakan. Apalagi kalau dituang sampil WA dan teleponan, bisa dipastikan tdk mungkin dan bisa mengakibatkan tangan terkontaminasi sianida. Dan itu makanya, orang yg melakukan percobaan menggunakan hand gloves (sarung tangan) saat menuang sianida ke kopi susu.
- Bila benar hingga 40 menit, kopi yg telah ditaruh sianida pada percobaan ini belum mengeluarkan bau, artinya penguapan gas HCN belum terjadi. Berarti waktu tuang sianida harus dikurangi lagi hingga es mencair, sesuai percobaan es masih ada sekitar 40 menit-an, berarti waktu tuang 16:30. -40 = 15:50 . Dan faktanya Jessica belum memesan kopi pada jam 15.50.

Percobaan Gel Gel dan Nursamran ini gagal total dan berlawanan dgn keterangan2 mereka saat di persidangan..Benar2 parah sekali..emoticon-Wkwkwk

9. Hakim B dan JPU sptnya memang benar2 berhubungan dan berkomunikasi dengan DS selama persidangan. Adapun fakta2nya sbb:
- Hakim B menanyakan "soal ciuman" spt yg disebut2 oleh DS di luar persidangan, padahal di BAP tdk disebutkan soal ciuman tersebut.
- Hakim B membahas photo Mirna dgn "warna spt pink" di wajah, padahal photo tsb tdk pernah dibahas di BAP dan juga tdk sesuai dgn kesaksian dokter patologi forensik Djaja dan dr Ardito (RSAW).
- Hakim B menyatakan Hani tdk ikut meminum kopi yg sama dgn kopi yg diminum Mirna dan ingin mengkonfrontirnya dgn Hani yg pada saat itu hadir, padahal sebelum2nya Hani sdh tdk pernah hadir lagi. Padahal di BAP, di persidangan, dan keterangan dokter Ardito (RSAW) jelas2 Hani mengaku minum.
- Seseorang melihat DS memberikan artikel Daily Mail seputar gosip kehidupan pribadi Doctor Michael Robertson (ahli toksikologi). Dan tanpa validasi/verifikasi ke pihak berwenang (Kedubes US/Australia, dan FBI), Jaksa langsung melontarkan artikel di persidangan..Ini persidangan apa infotainment.??

Dilihat dari fakta2 tsb, besar kemungkinan Hakim B dan JPU dengan DSjuga selalu berhubungan dan berkomunikasi di luar persidangan..

10. Saksi ahli dari PH yg didatangkan ke pengadilan memang benar2 mumpuni termasuk ada yg punya pengalaman dgn sianida:
- Ahli patologi forensik, dokter Beng Beng Ong, pernah menangani 2 kasus keracunan sianida dgn 1 kasus diotopsi langsung oleh dia.
- Ahli patologi forensik, dokter Richard Coliin, sdh pernah otopsi 30 kasus keracunan sianida.
- Dokter Djaja, selain dokter patologi forensik juga seorang pengajar mata kuliah toksikologi dan melakukan beberapa penelitian seputar sianida.
- dsbnya..


Kembali silent reader.. emoticon-Traveller

Rangkuman Super Singkat Sidang tanggal 28 September 2016

Berita terkait ttg kesaksian si Jess yg dipaksa mengaku oleh KM ( https://m.tempo.co/read/news/2016/09...gakuan-jessica )

Berkaitan dengan curhatan korban M kepada si Jess http://m.tribunnews.com/nasional/201...n-arief?page=3

Bagi yg masih bingung ttg sedotan, dari CCTV yg jadi pelor emasnya tim GPU, terlihat bahwa korban lah yg memasukkan sedotan tsb

Quote:Original Posted By kopivietnam
Iseng2 bikin ini buat yang masih penasaran sama 'Sedotan'.

Frame utuh, 100% tidak ada rekayasa hanya enhancement supaya tampilan bisa lebih halus

Bentar ane post yg utuh.

youtube-thumbnail




Kalo ada yg mo bandingin dgn dr agan yg td pagi/siang yah, lupa. emoticon-Bingung (S)

youtube-thumbnail



emoticon-Salaman


Ini GIF saat korban M mengambil dan memasukkan sedotannya

Quote:Original Posted By juming.juming
detik-detik minum kopi.

Apakah mirna memasukan sedotan ?
awal menarik gelas.
tangan kanan mengaduk
perhatikan juga tangan kiri mirna


gue gak bisa kasih jawaban krn cctv gak jelas.

full screen:
https://giphy.com/gifs/26hitUfaiaZM2...Tmo/fullscreen


UPDATE : Diskusi hasil persidangan kasus kopi maut - Part 12





Mirna itu penyuka kopi. jadi tahu kondisi kopi baru (blm diaduk) atau kopi bekas (sdh diaduk).
mirna sdh pernah minum VIC di oliper krn menyukainya (base on WA).

apakah mirna mau menerima KOPI yg sdh diaduk (bekas) ??
Jika tdk diaduk, sianida rentan utk diketahui oleh korban.


UPDATE : Diskusi hasil persidangan kasus kopi maut - Part 12


Keputusan MK, CCTV TIDAK SAH di pengadilan (Thanks again to Agan spot8ptr)

http://www.mahkamahkonstitusi.go.id/...U-XIV_2016.pdf
Nomor 20/PUU-XIV/2016

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

Berdasarkan beberapa Undang-Undang tersebut di atas ternyata telah terang bahwa penyadapan untuk kepentingan hukum pun harus dilaksanakan berdasarkan prosedur hukum yang telah ditentukan oleh Undang-Undang, oleh karena itu penyadapan yang dilakukan tanpa melalui prosedur yang ditentukan oleh Undang-Undang adalah tidak dapat dibenarkan agar tidak terjadi pelanggaran hak asasi manusia sebagaimana telah dijamin oleh UUD 1945;

Menimbang bahwa selain itu, Mahkamah perlu juga mempertimbangkan mengenai bukti penyadapan berupa rekaman pembicaraan sesuai dengan hukum pembuktian. Dalam hukum pembuktian, rekaman pembicaraan adalah real evidence atau physical evidence. Pada dasarnya barang bukti adalah benda yang digunakan untuk melakukan suatu tindak pidana atau benda yang diperoleh dari suatu tindak pidana atau benda yang menunjukkan telah terjadinya suatu tindak pidana. Dengan demikian, rekaman pembicaraan dapat dijadikan bukti sebagai barang yang menunjukkan telah terjadi suatu tindak pidana. Persoalannya adalah apakah rekaman pembicaraan merupakan bukti yang sah dalam hukum acara pidana? Untuk menilai rekaman tersebut merupakan bukti yang sah adalah dengan menggunakan salah satu parameter hukum pembuktian pidana yang dikenal dengan bewijsvoering, yaitu penguraian cara bagaimana menyampaikan alat-alat bukti kepada hakim di pengadilan. Ketika aparat penegak hukum menggunakan alat bukti yang diperoleh dengan cara yang tidak sah atau unlawful legal evidence maka bukti dimaksud dikesampingkan oleh hakim atau dianggap tidak mempunyai nilai pembuktian oleh pengadilan.

http://www.mahkamahkonstitusi.go.id/...d=13292&menu=2
Penyadapan Harus Atas Permintaan Penegak Hukum
Rabu, 07 September 2016 | 16:05 WIB

[color=blue] ... ... ... ... ... ... Mahkamah juga menegaskan penyadapan bisa dijadikan alat bukti yang sah. Dalam hukum pembuktian, rekaman pembicaraan adalah real evidence atau physical evidence.Pada dasarnya barang bukti adalah benda yang digunakan untuk melakukan suatu tindak pidana atau benda yang diperoleh dari suatu tindak pidana atau benda yang menunjukkan telah terjadinya suatu tindak pidana. Dengan demikian, rekaman pembicaraan dapat dijadikan bukti sebagai barang yang menunjukkan telah terjadi suatu tindak pidana asalkan memenuhi kaidah hukum pembuktian pidana yang dikenal dengan bewijsvoering, yaitu penguraian cara bagaimana menyampaikan alat-alat bukti kepada hakim di pengadilan.

Ketika aparat penegak hukum menggunakan alat bukti yang diperoleh dengan cara yang tidak sah atau unlawful legal evidence, bukti dimaksud dikesampingkan oleh hakim atau dianggap tidak mempunyai nilai pembuktian oleh pengadilan. Berdasarkan seluruh pertimbangan di atas, menurut Mahkamah permohonan Pemohon beralasanmenurut hukum untuk sebagian,” tandasnya. ... ... ... ... ... ... [/blue]
Reserved
FAQ

Spoiler for Frequently Asked Question (FAQ):
Spoiler for Bukti TT 1:


Spoiler for Bukti TT 2:


Spoiler for Bukti TT 3:
beres yah. plis jgn nyampah....jika tidak mau permanen emoticon-Angkat Beer
pekiwan

asyu ada momod nikon diatas..

nunggu replik hari senen..emoticon-Ngacir

yang senen nanti upacara. gw cuma ingetin aja ye..
mengheningkan cipta buat para pahlawan, bukan buat mantan..emoticon-Ngacir
Mungkinkah lisan terpatahkan?
Mejeng di pekiwan dulu.nunggu prof2 dtng
Sudah pindah emoticon-Hammer2

La Decima emoticon-Ultah
edaaan part 10, lumayan mekiwang
pekiwan. moga2 part 10 ini habis sinetron berkepanjangan ini
ga dapet pejwan