alexa-tracking

UPDATE : Diskusi hasil persidangan kasus kopi maut - Part 12

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5808d7c49e7404a77a8b4568/update--diskusi-hasil-persidangan-kasus-kopi-maut---part-12
UPDATE : Diskusi hasil persidangan kasus kopi maut
UPDATE : Diskusi hasil persidangan kasus kopi maut
Menanti Sidang tanggal 20 Oktober 2016

Thanks to agan snipertarget emoticon-Big Grin
Quote:





Rangkuman super singkat sidang yang lain dapat dilihat di #post 5 di bawah.


Gak nyangka klo ternyata trit ini bisa berkali2 jadi Top Trit BP (udah males ngitungnya emoticon-Ngakak (S)) emoticon-Malu

Dan terima kasih banyak utk Momod yang sudah bantu merubah Judul emoticon-Malu

Serta terima kasih banyak kepada agan2 yang sudah rela dan ikhlas memberikan cendol utk TS emoticon-Toast

Dan terima kasih juga utk agan2 pengunjung trit yang saling berdiskusi secara sehat sehingga isi trit menjadi menarik dan semoga menambah pengetahuan bagi agan2 lain yg mengikuti trit ini. Semuanya silahkan kembalikan kepada penilaian masing2, namun marilah kita jaga bersama supaya trit ini tetap sehat walafiat.

FAQ ada di post #10



Berita awal masih TS pertahankan sebagai bukti bahwa TS memang mengikuti aturan forum BP




Pengacara Jessica: Barista Terima Uang Rp 140 Juta dari Arief untuk Bunuh Mirna

selengkapnya BACA
Sumber: http://megapolitan.kompas.com/read/2...campaign=Kknwp

Autolock Thread by Hansip

Thread ini adalah thread lanjutan dari :
UPDATE : Diskusi hasil persidangan kasus kopi maut - Part 10
UPDATE : Diskusi hasil persidangan kasus kopi maut - Part 11
reservedemoticon-Motret
KASKUS Ads
Berkenaan dengan sidang lanjutan tanggal 3 Agustus 2016 tentang kesaksian ahli forensik dan ahli toksikologi dari polisi, bagi yg ingin melihat dari sudut pandang lain, silahkan baca penjelasan agan pieceofcrap, sekedar informasi agan ini mempunyai pengetahuan di bidang Forensic Science dan Chemistry Forensic.

Quote:


PEMERIKSAAN PADA KASUS KEMATIAN TIDAK WAJAR

Jika pada pemeriksaan luar dokter menemukan adanya luka, adanya bau yang mencurigakan dari mulut atau hidung, adanya tanda bekas suntikan tanpa riwayat berobat ke dokter, serta adanya tanda keracunan lainnya, maka kasusnya kemungkinan merupakan kematian yang tidak wajar. Kematian yang tidak wajar dapat terjadi pada kematian akibat kecelakaan, bunuh diri atau pembunuhan. Pada kasus-kasus ini dokter sebaiknya hanya berpegang pada hasil pemeriksaan fisik dan analisisnya sendiri dan bisa mengabaikan anamnesis yang bertentangan dengan kesimpulannya. Biasanya pada kasus kematian tidak wajar, ada kecenderungan keluarga korban untuk membohongi dokter dengan mengatakan korban meninggal akibat sakit, karena malu (misalnya pada kasus bunuh diri, narkoba) atau karena mereka sendiri pelakunya (pada kasus penganiayaan anak, pembunuhan dalam keluarga) atau takut berurusan dengan polisi (pada kasus kecelakaan karena ceroboh).

Dokter Puskesmas yang menemukan kasus dengan dugaan kematian yang tidak wajar, berdasarkan Pasal 108 KUHAP, sebagai pegawai negeri (dokter PTT dianggap sebagai pegawai negeri) wajib melaporkan kasus tersebut ke polisi resort (polres) setempat. Pada kasus ini dokter Puskesmas TIDAK BOLEH memberikan surat Formulir A kepada keluarga korban dan mayat tersebut harus ditahan sampai proses polisi selesai dilaksanakan. Dokter Puskesmas sebaiknya tidak memberikan pernyataan mengenai penyebab kematian korban ini sebelum dilakukan pemeriksaan otopsi terhadap jenazah.

Berdasarkan adanya laporan tersebut, penyidik berdasarkan pasal 133(1) KUHAP dapat meminta bantuan dokter untuk melakukan pemeriksaan luar jenazah (pemeriksaan jenazah) atau pemeriksaan luar dan dalam jenazah (pemeriksaan bedah jenazah atau otopsi), dengan mengirimkan suatu Surat Permintaan Visum et Repertum (SPV) jenazah kepada dokter tertentu.

Untuk daerah DKI Jakarta, pemeriksaan bedah jenazah umumnya dimintakan ke Bagian Ilmu Kedokteran Forensik FKUI/RSCM, akan tetapi pemeriksaan luar jenazah dapat dimintakan kepada Puskesmas dan Rumah Sakit manapun. Dokter yang diminta untuk melakukan pemeriksaan jenazah bisa dokter yang melaporkan kematian tersebut, bisa juga dokter lainnya.

Setiap dokter yang diminta untuk melakukan pemeriksaan jenazah oleh penyidik WAJIB melakukan pemeriksaan sesuai dengan permintaan penyidik dalam SPV. Dokter yang secara sengaja tidak melakukan pemeriksaan jenazah yang diminta oleh penyidik, dapat dikenakan sanksi pidana penjara selama-lamanya 9 bulan (pada kasus pidana) dan 6 bulan (pada kasus lainnya) berdasarkan Pasal 224 KUHP. Dengan demikian, seorang dokter Puskesmas yang mendapatkan SPV dari penyidik untuk melakukan pemeriksaan jenazah WAJIB melaksanakan kewajibannya tersebut.

Segera setelah menerima SPV dari penyidik, dokter harus segera melakukan pemeriksaan luar terhadap jenazah tersebut. Jika pada SPV yang diminta adalah pemeriksaan bedah jenazah, maka dokter pada kesempatan pertama cuma perlu melakukan pemeriksaan luar jenazah saja. Selanjutnya dokter baru boleh melakukan pemeriksaan dalam (otopsi) setelah keluarga korban datang dan menyatakan kesediaannya untuk dilakukannya otopsi terhadap korban. Penyidik dalam hal ini berkewajiban untuk menghadirkan keluarga korban dalam 2 x 24 jam sejak mayat dibawa ke dokter Selewat tenggang waktu tersebut, jika keluarga tidak ditemukan, maka dokter dapat langsung melaksanakan otopsi tanpa “izin” dari keluarga korban.

Pemeriksaan luar jenazah dalam rangka SPV dari penyidik harus dilakukan secara seksama, selengkap dan seteliti mungkin, dan bila dianggap perlu dilengkapi dengan sketsa atau foto luka-luka yang ditemukan pada tubuh korban. Untuk mencegah kemungkinan adanya data yang terlewatkan, maka dokter yang melakukan pemeriksaan luar hendaknya berpedoman pada formulir laporan obduksi. Lihat formulir laporan obduksi dari Bagian Ilmu Kedokteran Forensik FKUI pada lampiran..

Jika pemeriksaan yang diminta oleh penyidik hanya pemeriksaan luar jenazah (pemeriksaan jenazah) saja, maka setelah pemeriksaan luar selesai dilakukan, mayat dan Formulir A dapat langsung diserahkan kepada keluarga korban. Pada Formulir A tersebut, dokter harus menyatakan bahwa penyebab kematian korban “ tidak dapat ditentukan karena tidak dilakukan bedah jenazah sesuai dengan permintaan penyidik”. Kesimpulannya harus demikian karena pada kematian yang tidak wajar berlaku ketentuan bahwa “penyebab kematian hanya dapat ditentukan berdasarkan pemeriksaan dalam (otopsi atau bedah jenazah)”.

Jika penyidik meminta dokter untuk melakukan pemeriksaan luar dan dalam (pemeriksaan bedah jenazah atau otopsi), dan keluarga korban tidak menyetujuinya, maka dokter Puskesmas wajib menjelaskan tujuan otopsi kepada keluarga korban. Dokter pada kesempatan tersebut hendaknya memberikan beberapa keterangan sebagai berikut:
Bahwa kewenangan meminta pemeriksaan dalam atau otopsi ada di tangan penyidik POLRI, berdasarkan Pasal 133(1) KUHAP.

Dokter yang diminta melakukan pemeriksaan jenazah hanya melaksanakan kewajiban hukum, sehingga setiap keberatan dari pihak keluarga hendaknya disampaikan sendiri ke penyidik yang mengirim SPV. Keputusan boleh tidaknya dilakukan pemeriksaan luar saja pada kasus ini, ada di tangan penyidik. Jika penyidik mengabulkan permohonan keluarga korban, kepada keluarga korban akan dititipkan surat pencabutan visum et repertum, untuk diserahkan kepada dokter yang akan melakukan pemeriksaan jenazah. Dalam hal ini, dokter hanya perlu melakukan pemeriksaan luar jenazah saja.

Jika penyidik tidak menyetujui keberatan keluarga korban, maka keluarga korban masih mempunyai dua pilihan, yaitu menyetujui otopsi atau membawa pulang jenazah secara paksa (disebut Pulang Paksa) dengan segala konsekuensinya. Jika keluarga menyetujui otopsi, maka untuk kasus di DKI Jakarta, mayat akan dibawa ke RSCM untuk diotopsi.
Jika keluarga memilih pulang paksa, maka mereka baru boleh membawa pulang jenazah setelah menandatangani Surat Pulang Paksa. Surat Pulang Paksa merupakan surat yang menyatakan bahwa mayat dibawa pulang secara paksa oleh keluarga, sehingga tidak terlaksananya pemeriksaan jenazah merupakan tanggung jawab keluarga korban dan bukan tanggung jawab dokter. Berdasarkan surat ini, maka keluarga korban yang menandatangani surat tersebut dapat dikenakan sanksi pidana penjara selama-lamanya 9 bulan karena menghalang-halangi pemeriksaan jenazah, berdasarkan Pasal 222 KUHP. Bagi dokter surat ini penting, karena merupakan surat yang mengalihkan beban tanggung jawab atas tidak terlaksananya pemeriksaan jenazah dari dokter ke keluarga korban. Atas dasar itulah, maka surat ini harus disimpan baik-baik oleh dokter sebagai bukti pulang paksa, jika di kemudian hari penyidik menanyakan Visum et Repertum kasus ini ke dokter. Untuk amannya, pada kasus semacam ini dokter sebaiknya memberitahukan adanya pulang paksa ini ke penyidik yang mengirim SPV sesegera mungkin.

Dalam hal keluarga korban cenderung untuk memilih pulang paksa, maka dokter hendaknya menerangkan terlebih dahulu konsekuensi pulang paksa kepada keluarga korban, sebagai berikut :
Dokter tidak akan memberikan surat kematian (formulir A). Tanpa adanya surat formulir A, maka keluarga korban akan mengalami kesulitan saat akan mengangkut jenazah keluar kota/negeri, menyimpan jenazah di rumah duka atau saat akan mengubur atau melakukan kremasi di tempat kremasi/kuburan umum.
Karena tidak diberikan Formulir A, maka keluarga korban tak dapat mengurus Akte Kematian korban di kantor Catatan Sipil. Akte Kematian merupakan surat yang diperlukan untuk pengurusan berbagai masalah administrasi sipil, seperti pencoretan nama dari Kartu Keluarga, dasar pembagian warisan, pengurusan izin kimpoi lagi bagi pasangan yang ditinggalkan, pengajuan klaim asuransi dsb.
Dokter tak akan melayani permintaan keterangan medis dalam rangka pengajuan klaim asuransi sehubungan dengan kematian korban.
Dokter tidak akan membuat Visum et Repertum, sehingga kasus tersebut tidak mungkin bisa dituntut di pengadilan.
Di kemudian hari mayat dapat digali kembali jika penyidik menganggap perlu dan jika hal itu dilakukan, maka biaya penggalian menjadi tanggungan pihak keluarga korban.
Keluarga yang membawa pulang mayat secara paksa dapat dikenakan sanksi pidana menghalang-halangi pemeriksaan jenazah berdasarkan Pasal 222 KUHP dengan ancaman hukuman penjara selama-lamanya 9 bulan.

Pada kasus kematian tidak wajar yang diotopsi, setelah dokter selesai melakukan pemeriksaan dalam, mayat dan formulir A dapat segera diserahkan kepada keluarga korban. Dalam Formulir A, dokter hendaknya menuliskan penyebab kematian sesuai dengan kesimpulannya berdasarkan temuan otopsi. Dalam hal masih perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan sedangkan penyebab kematian belum dapat ditentukan, dokter hendaknya menulis penyebab kematian “belum dapat ditentukan”.

Jika terhadap mayat yang meninggal tidak wajar perlu dilakukan pengawetan jenazah, maka pengawetan baru boleh dilakukan setelah mayat selesai diperiksa sesuai dengan permintaan penyidik. Untuk kasus yang pulang paksa, pengawetan jenazah TIDAK BOLEH dilakukan, karena tindakan pengawetan jenazah dapat menyebabkan hilangnya banyak barang bukti biologis sehingga dapat menyulitkan penentuan penyebab kematian jika kemudian mayatnya digali lagi. Dokter yang nekad melakukan pengawetan pada kasus kematian tidak wajar sebelum proses polisi selesai, dapat dituntut oleh penyidik karena secara sengaja menghilangkan barang bukti dari suatu tindak pidana.

posted by AtmadjaDS,dr.SpF,SH,PhD,DFM http://pemeriksaanluarjenazah.blogsp...ian-tidak.html
Thanks to agan nightwalker7069


Fakta :
Yg menyarankan tempatnya di Cafe Olivier adalah H
Yg minta pesenin Vietnam Ice Cofee adalah si J
Bisa diliat di video di bawah ini, thanks to agan@Jabluk007 emoticon-Big Grin


Mengenai mekanisme kerja sianida

Quote:


Mengenai metabolisme Sianida dalam tubuh

Quote:

Berdasarkan Aturan ini, kita bisa tau bahwa memang dalam mengumpulkan bukti2 terdapat pelanggaran2 aturan yg dilakukan oleh pihak tertentu emoticon-Cape d... (S)

https://www.polri.go.id/pustaka/pdf/...K%20TEMPAT.pdf

PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2009
TENTANG TATA CARA DAN PERSYARATAN
PERMINTAAN PEMERIKSAAN TEKNIS KRIMINALISTIK TEMPAT KEJADIAN PERKARA DAN LABORATORIS KRIMINALISTIK BARANG BUKTI KEPADA LABORATORIUM FORENSIK KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

Pasal 59
(1) Pemeriksaan barang bukti keracunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 wajib memenuhi persyaratan formal sebagai berikut:
a. permintaan tertulis dari kepala kesatuan kewilayahan atau kepala/pimpinan instansi;
b. laporan polisi;
c. BAP saksi/tersangka atau laporan kemajuan;
d. Visum et Repertum atau surat pengantar dokter forensik bila korban meninggal atau riwayat kesehatan (medical record) bila korban masih hidup;
e. BA pengambilan, penyitaan dan pembungkusan barang bukti.
(2) Pemeriksaan barang bukti keracunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 wajib memenuhi persyaratan teknis sebagai berikut:
a. jumlah barang bukti:
1. korban masih hidup (kasus keracunan):
a) sisa makanan minuman (bila ada);
b) muntahan (bila ada);
c) cairan tubuh korban seperti:
1) urine (25 ml);
2) darah (10 ml); dan
3) cairan lambung.
d) sisa obat-obatan yang diberikan dokter beserta resepnya (bila korban sempat mendapat perawatan dokter).
2. korban mati/meninggal:
a) organ/jaringan tubuh:
1) lambung beserta isi (100 gr);
2) hati (100 gr);
3) ginjal (100 gr);
4) jantung (100 gr);
5) tissue adipose (jaringan lemak bawah perut) (100 gr);
dan
6) otak (100 gr).
b) cairan tubuh:
1) urine (25 ml);
2) darah (10 ml);
dan
c) sisa makanan, minuman, obat-obatan, alat/peralatan/wadah antara lain piring, gelas, sendok/garpu, alat suntik, dan barangbarang
lain yang diduga ada kaitannya dengan kasus; dan
d) barang bukti pembanding bila diduga sebagai penyebab kematian korban.
3. korban mati telah dikubur:
a) apabila mayat korban belum rusak, maka barang bukti yang diperlukan sama dengan barang bukti sebagaimana dimaksud pada angka 2;
b) apabila mayat korban sudah rusak/hancur maka barang bukti yang diperlukan adalah:
1) tanah bagian bawah lambung/perut korban;
2) tanah bagian bawah kepala korban;
3) rambut korban; dan
4) kuku jari tangan dan jari kaki korban.
b. pengambilan barang bukti:
1. pengambilan barang bukti organ tubuh/jaringan tubuh dan cairan tubuh untuk korban mati dilakukan oleh dokter pada saat otopsi;
2. pengambilan barang bukti darah dan cairan lambung untuk korban hidup dilakukan oleh dokter atau para medis; dan
3. apabila penyidik tidak dapat mengambil barang bukti di TKP segera menghubungi petugas Labfor untuk mengambil barang bukti.
c. pengumpulan barang bukti:
1. tiap jenis barang bukti ditempatkan dalam wadah yang terpisah;
2. khusus untuk organ tubuh, gunakan wadah berupa botol mulut lebar/toples yang terbuat dari gelas atau plastik yang masih bersih dan baru (hindari pemakaian botol/toples bekas);
3. barang bukti tidak diawetkan dengan formalin, kecuali untuk pemeriksaan Pathologi Anatomi, menggunakan bahan pengawet formalin 10%;
4. barang bukti yang mudah membusuk, organ tubuh, muntahan, dan sisa makanan diawetkan dengan menggunakan alkohol 96% hingga terendam;
5. contoh alkohol yang digunakan sebagai bahan pengawet juga dikirimkan sebagai pembanding;
6. untuk kasus dengan dugaan keracunan alkohol, barang bukti tidak diawetkan dengan Alkohol, tetapi barang bukti yang telah ditempatkan dalam wadah, wadahnya dimasukkan ke dalam Ice Box yang telah diisi es batu;
7. untuk kasus-kasus keracunan gas CO, alkohol dan obat-obatan, barang bukti darah diawetkan dengan antikoagulan heparin; dan
8. setiap wadah barang bukti ditutup serapat mungkin, gunakan cellotape atau yang sejenis untuk menghindari kebocoran.
d. pembungkusan dan penyegelan barang bukti:
1. tiap jenis barang bukti harus dibungkus terpisah, diikat, dilak, disegel dan diberi label;
2. tempat barang bukti dalam tempat/peti yang cukup kuat dan tidak mudah rusak;
3. memberikan sekat antara botol yang satu dengan botol yang lain agar tidak berbenturan dan pecah;
4. menutup peti dengan rapat, diikat dengan tali dan disegel serta diberi label; dan
5. menandai peti dengan tanda “jangan dibalik dan jangan dibanting, awas pecah”.

Terima kasih kepada agan spot8ptr emoticon-Big Grin


Quote:






Krishna Murti Pastikan soal Uang Rp 140 Juta Tak Ada di BAP Rangga

Kamis, 28 Juli 2016 | 15:32 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Salah satu saksi dalam kasus pembunuhan Wayan Mirna Salihin, Rangga Dwi Saputra, disebut kuasa hukum Jessica Kumala Wongso, Otto Hasibuan, mengaku didatangi polisi menerima uang Rp 140 juta dari Arief Sumarko, suami Mirna, untuk membunuh Mirna.

Menanggapi hal itu, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Krishna Murti mengatakan, pernyataan Rangga itu saat diperiksa oleh tim psikiater.

"Tidak ada di BAP, jadi itu kan kami mem-profile semua potential suspect. Jadi salah satu caranya kami membawa ke psikiater. Itu adalah hasilnya, psikiater hasil dari curhatannya Rangga," ujar Krishna kepada Kompas.com, Kamis (28/7/2016).

Krishna menjelaskan, saat itu, yang mendatangi Rangga bukanlah orang yang mengaku polisi, melainkan seorang wartawan. Wartawan itu mendatangi Rangga untuk mengonfirmasi mengenai uang sebesar Rp 140 juta yang diterima dari Arief.

"Rangga curhat ke psikiater ada wartawan yang menuduh dia, datangi dia dan bilang Rangga dapet transferan dari Arief. Jadi itu curhatan Rangga di psikiater. Itu catatan medis dari psikiater," ucapnya.

Krishna mengungkapkan, pemeriksaan psikiater tidak hanya dilakukan pada Rangga, tetapi kepada semua potential suspect dalam kasus tersebut.

"Jadi itu bukan hanya Rangga yang kami bawa ke psikiater, yang lain juga kami periksa, kami profile, supaya untuk mencari tahu keterangan itu valid atau tidak," kata Krishna.

Sumber:http://www.tajuk.id/read/kompas/kris....di.bap.rangga

soktaudotcom mode on
Klo wa sih berharap, "misi" Otto utk membuat org lain terutama tim Hakim berpikir bahwa bisa saja kemungkinan pelakunya org lain dapat menjadi pertimbangan.

Tapi karena ini sidang Jessica, dimana tim hakim akan menilai apakah si J bersalah atau tidak, dan juga bukan kewajiban hakim mencari tau siapa pelaku sebenernya karena itu sudah di luar koridor persidangan. Maka kemungkinan yg disebut Otto, baru bisa ditangani lebih lanjut dengan serius apabila hasil sidang memutuskan bahwa si J tidak bersalah.

Dan wa pribadi, seandainya emg bener si J tidak bersalah nanti, akan memberikan informasi (bagi pihak yg membutuhkan) ttg kemungkinan2 bagaimana kasus ini bisa terjadi sehingga semoga bisa menuntun kepada pelaku sebenarnya. Karena setelah mengikuti persidangan, wa punya teori, namun teori itu perlu dibuktikan dengan data2 yg hanya bisa dikumpulkan oleh pihak berwenang. Apabila data2 tsb mendukung teori wa, maka pelakunya bisa ketahuan emoticon-Peace

soktaudotcom mode off





Reserved for Update 2

Mulai dari menit 65:40



Terima kasih kepada Agan Kondektur
Rangkuman Super Singkat Sidang tanggal 5 Oktober 2016.. Didakwa dengan pasal 340 dan tidak ada bukti meringankan, tapi tuntutan hanya 20 tahun penjara? GPU nya sendiri seperti gak yakin sama dakwaan dan tuntutannya emoticon-Hammer (S)

Thanks to agan snipertarget
Quote:




Bagi yang kepengen tau SOP olah TKP

Quote:




Update: Kurang tepat klo update kyknya, cuma merefresh aja kali yaaa. Dan karena persidangan sedang berjalan serta berkaitan dgn kesaksian pegawai cafe, gak ada salahnya kita kembali sebentar ke masa lalu emoticon-Peace

Awal2 kasus wa inget pernah baca berita ini, tp sampe skr wa gak tau siapa orgnya, dan karena dari awal pak pol udah "fokus" ke si J, wa berasumsi org ini pun luput dari pemeriksaan.

Depresi Kasus Pembunuhan Mirna, Pegawai Kafe Olivier Resign

Sumber : http://m.okezone.com/read/2016/01/27...=utm_source=br

Rangkuman super singkat sidang 14 dan 15/9/2016

Menghadirkan ahli toksikologi, yang keterangan nya mendukung kesaksian ahli2 forensik sebelumnya, tentang keberadaan thyosianat yang menjadi kunci dalam kematian akibat keracunan sianida, yang justru faktanya tidak ditemukan dalam kasus ini. Ditambah lagi keberadaaan Barang Bukti 4, yaitu cairan lambung korban yg diambil 70 menit pasca kematian, yang terbukti tidak mengandung sianida (sehingga sianida sebanyak 0,2 mg/L, kemungkinan besar adalah sianida yang tercipta karena proses post mortem, yang menurut literatur seperti yg dijelaskan Prof Beng Ong, bisa mencapai sampai 1 mg/L). Dan pada kesempatan kali ini juga, ahli toksikologa menegaskan, menentukan penyebab kematian bukanlah kewenangan seorang toksikolog, melainkan kewenangan seorang dokter forensik (yang telah melakukan pemeriksaan secara lengkap dan menyeluruh, bukan sampel doank).

Selanjutnya, menghadirkan ahli dari PBB, Prof Gatot, yang selain spesialis Patologi Anatomi, beliau juga ahli forensik. Seperti saksi ahli sebelumnya, beliau pun meragukan penyebab kematian korban. Beliau menjelaskan bagaimana urutan2 dalam menentukan penyebab kematian seseorang (Cause Of Death), karena dalam tubuh manusia, sebelum kematian terjadi, akan didahului oleh mekanisme kematian terlebih dahulu. Akan ada mekanisme dan kondisi2 sebelum kematian menjemput, yang disebut dengan underlying cause of death. Namun pada kasus ini, hal2 tersebut tidak dapat diketahui dengan pasti, karena KACAUnya pemeriksaan yang dilakukan, alias tidak lengkap karena tidak diotopsi. Akan tetapi, untuk menyingkirkan penyebab kematian akibat sianida, dapat diketahui, karena data2 yg ada memang tidak mendukung, seperti keberadaan BB4 yang negatif sianida, dan pemeriksaan sampel2 yang negatif sianida dan thyosianat, sedangkan 0,2 mg/L sianida dalam lambung, kemungkinan karena adanya proses post mortem, dan bukan masuk saat korban masih hidup. Hal ini diperkuat dengan laporan Visum et Repertum hasil patologi anatomi pada sampel lambung, yang ditemukan keberadaan LIMPOSIT, yang menurut beliau dan juga menurut literatur, limposit ini terdapat pada luka yang kronis, alias bukan pada luka yang baru saja terjadi. Sehingga bisa disimpulkan, luka yg tadinya diduga sebagai akibat zat korosif, ternyata adalah luka yang sudah lama terjadi.

Sidang di hari selanjutnya, menghadirkan ahli IT dan psikolog. Yang intinya, ternyata data zuming zuming yg lalu, bukan diperoleh dari membongkar DVR CCTV cafe, karena pihak GPU mengatakan DVRnya terkunci password. Begitu hebatnya pihak cafe pemilik CCTV, sehingga aparat berwenang dan ahli IT GPU tidak mampu memperoleh password tsb ckckckck... Jadi, data yg dipake pihak GPU adalah data hasil sedekah dari pihak cafe yg telah memindahkan sendiri data tsb ke flash disk sebesar 32 giga, dan itulah yg dizuming zuming. Dan data zuming2 tsb dibawa2 oleh ahli IT GPU, sehingga jelas, itu bukan termasuk Barang Bukti, yg diiyakan GPU bewokan. Jadi bagaiaman membandingkan bahwa data di Flash disk tersebut adalah asli tanpa rekayasa (karena kita tidak melihat si J minum cocktailnya, kita juga tidak melihat si J menelepon) sedangkan data sesungguhnya masih ada di dalam DVR yg terpassword sampe sekarang???? emoticon-Cape d... (S)

Rangkuman sidang super singkat 7/9/206

Menghadirkan 3 orang saksi, di mana 2 orang saksi adalah pengunjung yang berada dekat meja si J, dan 1 orang adalah ahli forensik. Kesaksian dir KIA ( salah satu pengunjung cafe ) yang menyatakan terganggu oleh suara telepon seseorang yg dalam hal ini si J, semakin mendukung kecurigaan bahwa ada yang aneh sama CCTV nya. Karena dalam CCTV yang beredar sama sekali tidak menunjukkan si J yang sedang menelepon seperti yang dibilang saksi. CCTV yang sama juga sama sekali tidak menunjukkan kapan si J meminum 2 gelas cocktail. Padahal si J memesan 1 cocktail dan dapet free 1 gelas cocktail dan ke duanya diminum oleh si J, tapi sama sekali tidak ada rekaman tsb dalam CCTV. Jreeenggg validkah barang bukti CCTV???

Kesaksian lebih seru diutarakan oleh ahli forensik. Karena ternyata, beliau adalah dokter mengembalming korban. Sebelum melakukan embalming, dokter telah menyarankan bahwa korban harus dilakukan otopsi, namun pak pol yg ada disitu keukeuh bilang gak perlu karena keluarga menolak. Karena sudah berusaha menjelaskan apa adanya sesuai aturan ke pak pol dan sudah ada surat kematian korban juga (alias sudah ada dokter lain yg bertanggung jawab), maka dilakukanlah embalming, sehingga jenazah korban tidak menjadi sumber infeksi karena tidak langsung dikuburkan. Namun, ahli ini tetap melakukan pemeriksaan sebelum embalming, melihat kematian yg tidak wajar ini dan korban masih muda, maka ditekanlah bagian dada dan perut sambil mencium aroma yang keluar dari mulut korban. Bila ada bau bawang putih, artinya itu kemungkinan dari arsen, bila ada bau seperti bitter almond, artinya dari sianida. Yang kebetulan ahli forensik ini adalah 1 orang dari 84 orang yang mampu mencium bau siandia. Ahli juga menerangkan lebih spesifik ttg bau sianida, yaitu seperti bau dari daun singkong yang dilumatkan (literatur menyebutkan hanya 40% dari populasi yang dapat mencium bau sianida ini). Dari pemeriksaan tadi, ahli tidak mencium bau yang dimaksud ataupun bau2 lain yang mencurigakan. Kemudian ahli juga memeriksa tubuh korban apakah ada luka ato tidak (karena klo ada luka ya harus dijahit dulu supaya cairan embalming tidak bocor keluar), ternyata tidak ditemukan luka, dan lebam mayat korban pun tidak khas, alias tidak ditemukan warna merah terang pada korban seperti halnya orang yang keracunan sianida. Ahli bersaksi dengan lancar seperti air yang mengalir ke luar dari kran, menjelaskan dengan kata2 yang mudah dimengerti (tidak salah klo ahli dijuluki Text Book Berjalan emoticon-Big Grin ) dan ahli berkesimpulan sesuai dengan keilmuwannya dan pemeriksaannya, bahwa kematian korban bukan disebabkan oleh sianida, klarena tidak ditemukannya tanda-tanda yg khas pada orang keracunan sianida, yaitu tidak adanya warna kemerahan pada kulit korban, tidak tercium bau khas siandia pada korban, lambung korban tidak berwarna kemerahan, dan dari hati tidak ditemukan adanya sianida dan tidak ditemukan thyosianat emoticon-army.

Yang lucu dan juga mengesalkan di sini adalah tim jakza yang tanpa malu-malu memamerkan kegoblokan mereka di seluruh negeri. Ada jakza yang sama sekali tidak mengerti perbedaan antara pendapat ahli dengan asumsi, namun tidak sadar klo dia salah, malah bilang 'Saya ini Jakza", (heloowwwww emangnya klo elu jakza, elu jadi tuhan yang gak bakal salahh??? emoticon-Ngakak (S)). Ada juga jakza yang membentak2 saksi sehingga sidang diskors (entah kemana etika persidangan si jakza ini emoticon-Cape d... (S)). Dan puncaknya jreeenggggg siapa lagi klo bukan aktor stand up comedy kita huakim B. Dengan gayanya yang biasa dan super ngotot, sudah menyimpulkan sendiri bahwa korban mati akibat minum sianida dalam kopi (padahal itulah yg berusaha dibuktikan di persidangan ini dan harusnya kesimpulannya muncul di akhir, tapi huakim B ini sudah yakin memang itulah penyebabnya dari awal). Terjadilah ngotot2an antara saksi ahli yg menjelaskan sesuai keilmuwannya, dengan huakim B yg membantah sesuai dengan kegoblokannya, maaf kenapa wa sampe bilang goblok, ya goblok karena jelas2 dokter forensik emg lebih tau kenapa seseorang itu bisa mati daripada seorang huakim tapi si huakim gak percaya (malah ngancem2 pake pasal). Huakim B keukeuh saat sianida masuk, korban lgs mati sehingga sianida mengendap di lambung dan tidak ke mana2 karena sudah mati. Mungkin huakim B molor saat pelajaran biologi dulu, saat penyebaran sari2 makanan ke seluruh tubuh. Pak huakim B yang terhormat, sianida itu bikin mati orang klo sudah masuk ke seluruh tubuh dan menyebabkan organ2 vital seperti Jantung, Paru2 dan atau Otak berhenti bekerja karena kekurangan oksigen. Tapi ya itu karena sudah ngotot menyimpulkan sendiri si korban mati akibat kopi sianida yang diminum, maka pak huakim B ini tidak mampu mencerna penjelasan ahli. Malah huakim B bilang lagi, jadi dari mana sianida masuk? Dari pantat? Oalaaahhhh Pak Pak.. Bikin malu saja. Ahli dengan gamblang menjelaskan, ya matinya jangan dipaksa gara2 sianida dunk Pak, bisa saja oleh racun lain yang tidak terperiksa, namun huakim yang entah kenapa seperti sudah dirasuki uang suap ini eh masih keukeuh sama kesimpulannya sendiri. Dan yg anehnya, saat huakim B memperlihatkan foto korban yang dengan ajaibnya bisa berada di meja huakim. yang notabene itu gak termasuk barang bukti, tidak ada di BAP dan tidak ada sama sekali cerita serah terimanya, dan menghubung2kan foto tsb sama kasus ini, padahal yg jelas2 itu barang ilegal dalam persidangan... Waaawwwww jadi teringat juga sama sidang sebelumnya, huakim B ini menanyakan kisah yang sama sekali tidak tercantum dalam BAP ( karena kisah itu disampaikan ayah korban di ILC). Ada dengan mu pak huakim B? Lupakah engkau bahwa sebelah kakimu itu berada di neraka? Terakhir, huakim B malah mengatakan bahwa keterangan ahli bertentangan dengan pendapat ahli2 sebelumnya 3 vs 1 (lha? Prof Beng Ong gak dihitung ahli?). Dengan teguh ahli berkata " Kebenaran tidak dilihat dengan cara begitu". Salut buat Bapak Dr. Djaja Surya Atmadja SpF,SH,PhD,DFM. Sekali lagi Salutttt Paaakkkk. Memperbaiki citra forensik yang tercoreng karena kemarin dipermainkan oleh si baju putih yang juga berbaju cokelat dan baju2 cokelat lainnya sehingga mereka mengorbankan keilmuwannya sendiri emoticon-Frown emoticon-Frown emoticon-Frown


Rangkuman sidang super singkat 5/9/2016

Pihak PH menghadirkan satu orang ahli Forensic Pathology dari Brisbane Australia, seorang profesor. Dan keterangannya sangat terang benderang dan menyilaukan bagi yang memang sudah mengerti kasusnya dari awal. Beliau bersaksi benar2 sesuai dengan pengetahuan keilmuwannya. Saksi ahli terbaik yang ada sampai saat ini, setelah Bu Nathalia kemaren (karena Bu Nathalia bersaksi duluan toh). Beliau ini telah menangani sekitar 2500 kasus, dan 2 di antaranya kasus keracunan sianida, dan dari 2 itu satu kasus lgs ditanganinya. Pernah membantu waktu kasus Bom Bali dan mendapat sertifikat penghargaan dari pihak kepolkisan.

Berdasarkan pengalaman dan pengetahuan sebagai seorang ahli Forensic Pathology, dengan melihat bahwa pada korban tidak ditemukan warna merah terang akibat keracunan sianida, dari cairan lambung yang diperiksa dari tubuh korban setelah 70 menit kematian yang hasilnya negatif utk sianida, dari manifestasi klinis yang dialami korban setelah meminum kopi yang tidak begitu spesifik sebagai gejala2 keracunan sianida, dari pemeriksaan lambung setelah 4 hari kematian hanya ditemukan 0,2 mg/L sianida (di mana proses post mortem dapat menghasilkan sianida sampai 1 mg/L), ketidaksesuaian tingginya dosis sianida dalam kopi dengan yang ditemukan pada hasil toksikologi, serta tidak ditemukannya sianida pada hati, empedu dan urine, beliau menyimpulkan bahwa kematian korban pada kasus ini bukan disebabkan oleh sianida.

3 hal yang TS perhatikan di sini yang cukup menghibur dari sidang yang berjalan dari sore sampe tengah malem adalah
1. Saat jakza mencoba menyerang ahli dengan menyebut sertifikat sianida, yang di mana pun di dunia ini tidak ada sertifikat seperti itu. Si jpu ngedumel saat ahli lewat penterjemah mencounter pernyataan tolol tersebut emoticon-Ngakak (S)
2. Saat jpu yang mencoba menjebak dengan memancing jumlah kandungan sianida dari proses post mortem, yang setelah dijawab ternyata jumlahnya sampai 1mg/L, di mana pada lambung korban ditemukan hanya 0,2 mg/L, jpu lgs terdiam dan lgs digantikan oleh rekannya utk bertanya. emoticon-Ngakak (S)
3. Bapak B yang selalu berada di depan dan kanan layar tipi kita, yg seharusnya beliau menyimpulkan masalah setelah semuanya selesai, malah bertanya2 dengan pertanyaan2 memaksa dan arah pertanyaannya sendiri ternyata sudah menyimpulkan kejadian pada kasus ini. Salah satu pertanyaan maksanya seperti " Seandainya tidak ditemukan zat lain selain sianida di dalam lambung korban, apakah ada kemungkinan zat lain bisa masuk dalam lambung korban? Jawab Iya ato Tidak!". Pertanyaan yg jawabannya sudah pasti karena dikarang sendiri. Jelas2 klo ditemukan cuma sianida, bagaimana mungkin zat lain bisa masuk? Klo zat lain bisa masuk ya pasti yg ada dalam lambung bukan cuma sianida dunk. Sehingga jawabannya sudah pasti Tidak lah, gakperlu nanya ahli klo pertanyaannya kyk gitu emoticon-Nohope.
Menurut TS, lebih cocok Bapak B ini menggantikan pihak jakza aja, soalnya perannya lebih condong sebagai jakza daripada seorang huakim. emoticon-Nohope


Rangkuman sidang super singkat 1/9/2016

Menghadirkan ahli kriminologi dan psikologi. Yang menurut kesaksian para kaskuser yg menonton persidangan, mengambil kata2 ahli sebelumnya, ahli2 ini sangat tidak lazim dan sangat tidak umum dalam memberikan kesaksiannya, berkesan semaunya dan seenaknya saja. TS saat itu ada kasus, sehingga tidak mengikuti jalannya persidangan. Yang jelas di sini Jess lebih banyak berkata2 daripada sidang2 sebelumnya, antara lain "Pendapatnya banyak yang tidak benar. Bohong semuanya. Terima kasih" dan "Keterangan ahli banyak yang tidak benar. Saya pertegas lagi, saya tertarik hanya kepada laki-laki, dulu, sekarang dan selamanya"

Rangkuman sidang super singkat 31/8/2016

Saksi ahli forensik dr BS. Berpendapat bahwa Otopsi adalah Golden Standart, namun kemudian berdasarkan apa yang dilihat di CCTV, gejala2 korban, maka menyimpulkan kematian korban sesuai dengan tanda-tanda keracunan Sianida. Dan yang aneh menurut TS, saat menjelaskan kenapa Thyosianat tidak ditemukan, beliau berteori bahwa thyosianat telah rusak karena adanya formalin sehingga tidak ditemukan, dan berdalih bahwa formalin tidak sampai ke lambung, hanya sampai di dinding lambung, sehingga sianida tidak hilang. Padahal, sesungguhnya thyosianat ini jauh lebih stabil zatnya daripada sianida yg sangat mudah menguap, ditambah lagi di lambung sianida bertemu dengan HCl, belum lagi kenyataan bahwa suhu jenazah sudah sama dengan suhu lingkungan, di mana sianida malah tambah gampang menghilang di suhu tersebut.

Rangkuman super singkat sidang 30/8/2016

Saksi 2 orang dokter yang ada di IGD saat itu di RSAW. Korban datang sudah dalam kondisi DOA (Death On Arrival). Pada korban sempat dilakukan resusitasi. Mulut korban kebiruan, kuku korban pucat. (Sekedar informasi, pada keracunan sianida, karena terbentuknya sianmethemoglobin akibat adanya sianida, akan memberikan warna pink pada lebam mayat, yang biasanya dapat dilihat pada daerah kuku, lebam mayat ini mulai timbul sekitar 15 menit - 30 menit setelah kematian. KOREKSI Warnah merah terang bukan karena sianmethemoglobin, tetapi karena oksihemoglobin, yaitu banyaknya oksigen yang terikat dalam darah karena tidak bisa memasuki sel2 akibat dihalangi oleh sianida, jd bukan karena adanya ikatan sianmethemoglobin. emoticon-Peace )

Berita terkait http://www.solopos.com/2016/08/29/si...jessica-748477
Rangkuman Singkat Sidang tanggal 26/09/2016

Menghadirkan ahli hukum Pidana, ahli ini seperti memberi kuliah pada GPU2, bahkan HPU B pun tidak dapat memaksakan apa yang sering dipaksakannya pada ahli2 lainnya. Ahli juga mengkritik aturan-aturan dan prosedur yang dilanggar dalam penegakan kasus ini, seperti Peraturan Kapolri no 10 Tahun 2009 tentang Tata Cara dan Persyaratan Permintaan Pemeriksaan Teknis Kriminalistik TKP dan Laboratoris Kriminalistik Barang Bukti kepada Labfor Polri, di mana yang terjadi bertentangan dengan isi aturan tsb, termasuk juga pelanggaran prosedural pengambilan barang bukti rekaman CCTV. Tentang pasal yang didakwaan ke terdakwa yaitu pasal 340, mengatakan perlunya motif dalam tindak pidana pembunuhan sehingga perbuatan kesenjangan, apalagi direncanakan, pasti ada motifnya. Motif merekonstruksi adanya niat dan adanya kejahatan. Tidak mungkin, seseorang membunuh tanpa ada motif. "Niat itu berangkat dari motif. Ini bagian dari kejahatan. Jadi, kalau dikatakan tidak perlu ada motif, itu tidak tepat," kata Mudzakkir.

Selanjutnya menghadirkan seorang anggota polisi dari Australia, yang pangkatnya bila di Indonesia adalah setingkat brigadir polisi satu (bengkok dua), karena ternyata, yang tadinya digembor2kan sebagai criminal record, ternyata adalah police report. Di mana laporan2 ringan ditangani oleh polisi2 di tingkat ini. Police report di sini berkaitan laporan seseorang atau laporan orang lain yang berkaitan dengan orang tertentu. Contoh orang yg terganggu karena tetangganya ribut, atau anjing tetangganya berisik, minta tolong kucingnya diturunkan dari pohon. Dalam hal yg berhubungan dengan terdakwa, J pernah melaporkan pencurian di stasiun dan laporannya tercatat, dan kemudian laporan dari pacar si J ke polisi saat si J ingin bunuh diri, sehingga polisi mendatangi rumah si J untuk mengkonfirmasi kabar tsb, yg hal ini terjadi berulang kali, seperti halnya seseorang yang ingin minta perhatian lebih dari org yang dicintainya, karena faktanya si J tidak benar2 berusaha membunuh dirinya. Dari 14 laporan yang disebutkan, mengendara dalam kondisi mabuklah yang lumayan berat tapi tidak dihukum, melainkan harus berkelakuan baik selama beberapa waktu. Dari kesemuanya tidak ada satupun yang berhubungan dengan kasus peracunan sianida yang dituduh dilakukan oleh si J.

Kemudian dilanjutkan kesaksian seorang ibu2 yang pernah mengalami hal yg sama dialami mirna, kolaps seketika setelah minum kopi. Sehingga tidak harus sianidalah yg dapat menyebabkan seseorang lgs tidak sadarkan diri setelah minum kopi. Kemudian dibacakan juga BAP Kristi yang mengaku tidak begitu mengenal Jessica namun isinya detail banget mengenai Jessica, yang lucunya begitu panjang lebar dibacakan tetapi FAKTANYA tidak ada BAP sumpah penerjemah saat "cerita" itu dibuat, sehingga bagaimana mempertanggungjawabkan sebuah dokumen yang gak jelas keabsahan hukumnya? emoticon-Big Grin

Quote:

Rangkuman Super Singkat Sidang tanggal 28 September 2016

Berita terkait ttg kesaksian si Jess yg dipaksa mengaku oleh KM ( https://m.tempo.co/read/news/2016/09...gakuan-jessica )

Berkaitan dengan curhatan korban M kepada si Jess http://m.tribunnews.com/nasional/201...n-arief?page=3

Bagi yg masih bingung ttg sedotan, dari CCTV yg jadi pelor emasnya tim GPU, terlihat bahwa korban lah yg memasukkan sedotan tsb

Quote:


Ini GIF saat korban M mengambil dan memasukkan sedotannya

Quote:


Keputusan MK, CCTV TIDAK SAH di pengadilan (Thanks again to Agan spot8ptr)

http://www.mahkamahkonstitusi.go.id/...U-XIV_2016.pdf
Nomor 20/PUU-XIV/2016

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

Berdasarkan beberapa Undang-Undang tersebut di atas ternyata telah terang bahwa penyadapan untuk kepentingan hukum pun harus dilaksanakan berdasarkan prosedur hukum yang telah ditentukan oleh Undang-Undang, oleh karena itu penyadapan yang dilakukan tanpa melalui prosedur yang ditentukan oleh Undang-Undang adalah tidak dapat dibenarkan agar tidak terjadi pelanggaran hak asasi manusia sebagaimana telah dijamin oleh UUD 1945;

Menimbang bahwa selain itu, Mahkamah perlu juga mempertimbangkan mengenai bukti penyadapan berupa rekaman pembicaraan sesuai dengan hukum pembuktian. Dalam hukum pembuktian, rekaman pembicaraan adalah real evidence atau physical evidence. Pada dasarnya barang bukti adalah benda yang digunakan untuk melakukan suatu tindak pidana atau benda yang diperoleh dari suatu tindak pidana atau benda yang menunjukkan telah terjadinya suatu tindak pidana. Dengan demikian, rekaman pembicaraan dapat dijadikan bukti sebagai barang yang menunjukkan telah terjadi suatu tindak pidana. Persoalannya adalah apakah rekaman pembicaraan merupakan bukti yang sah dalam hukum acara pidana? Untuk menilai rekaman tersebut merupakan bukti yang sah adalah dengan menggunakan salah satu parameter hukum pembuktian pidana yang dikenal dengan bewijsvoering, yaitu penguraian cara bagaimana menyampaikan alat-alat bukti kepada hakim di pengadilan. Ketika aparat penegak hukum menggunakan alat bukti yang diperoleh dengan cara yang tidak sah atau unlawful legal evidence maka bukti dimaksud dikesampingkan oleh hakim atau dianggap tidak mempunyai nilai pembuktian oleh pengadilan.

http://www.mahkamahkonstitusi.go.id/...d=13292&menu=2
Penyadapan Harus Atas Permintaan Penegak Hukum
Rabu, 07 September 2016 | 16:05 WIB

[color=blue] ... ... ... ... ... ... Mahkamah juga menegaskan penyadapan bisa dijadikan alat bukti yang sah. Dalam hukum pembuktian, rekaman pembicaraan adalah real evidence atau physical evidence.Pada dasarnya barang bukti adalah benda yang digunakan untuk melakukan suatu tindak pidana atau benda yang diperoleh dari suatu tindak pidana atau benda yang menunjukkan telah terjadinya suatu tindak pidana. Dengan demikian, rekaman pembicaraan dapat dijadikan bukti sebagai barang yang menunjukkan telah terjadi suatu tindak pidana asalkan memenuhi kaidah hukum pembuktian pidana yang dikenal dengan bewijsvoering, yaitu penguraian cara bagaimana menyampaikan alat-alat bukti kepada hakim di pengadilan.

Ketika aparat penegak hukum menggunakan alat bukti yang diperoleh dengan cara yang tidak sah atau unlawful legal evidence, bukti dimaksud dikesampingkan oleh hakim atau dianggap tidak mempunyai nilai pembuktian oleh pengadilan. Berdasarkan seluruh pertimbangan di atas, menurut Mahkamah permohonan Pemohon beralasanmenurut hukum untuk sebagian,” tandasnya. ... ... ... ... ... ... [/blue]
Reserved
FAQ

Spoiler for Frequently Asked Question (FAQ):
Spoiler for Bukti TT 1:


Spoiler for Bukti TT 2:


Spoiler for Bukti TT 3:
beres yah. plis jgn nyampah....jika tidak mau permanen emoticon-Angkat Beer
pekiwan

asyu ada momod nikon diatas..

nunggu replik hari senen..emoticon-Ngacir

yang senen nanti upacara. gw cuma ingetin aja ye..
mengheningkan cipta buat para pahlawan, bukan buat mantan..emoticon-Ngacir
Mungkinkah lisan terpatahkan?
Mejeng di pekiwan dulu.nunggu prof2 dtng
Sudah pindah emoticon-Hammer2

La Decima emoticon-Ultah
edaaan part 10, lumayan mekiwang
pekiwan. moga2 part 10 ini habis sinetron berkepanjangan ini
ga dapet pejwan
×