alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Tech / ... / Audio & Video /
[ERC] Bluedio T2 Turbine, Low Budget High Quality Bluetooth Headphone
3.86 stars - based on 7 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5800e2f06208814a528b456b/erc-bluedio-t2-turbine-low-budget-high-quality-bluetooth-headphone

[ERC] Bluedio T2 Turbine, Low Budget High Quality Bluetooth Headphone

Bluedio T2 Turbine
Low Budget High Quality Bluetooth Headphone
Full Review


Spoiler for For Momod & Panitia ERC:


Daftar Isi
01. Prolog_____2
02. Paket Pembelian & unboxing_____2
___ a. Paket pembelian_____2
___ b. Unboxing_____2
03. First impression, build quality_____2
___ a. 360 overview_____2
___ b. Tombol dan interface_____2
04. Fungsi & Cara Kerja_____2
___ a. Fungsi_____2
___ b. Bluetooth Mode_____2
___ c. Wired Mode_____2
05. Spesifikasi produk_____2
06. Cara pakai_____3
___ a. First Pairing_____3
___ b. Paired device_____3
___ c. PC/Laptop/OS lain_____3
___ d. Off & Disconnect_____3
___ e. Mode wired_____3
___ f. Telephony_____3
___ g. Saran penggunaan_____3
07. Review feature_____3
___ a. HSP/HFP_____3
___ b. AVRCP_____3
___ c. Multipoint_____3
___ d. Auto Power save_____3
___ e. Audio Sharing_____3
___ f. ISSC app_____4
___ g. Equalizer_____4
___ h. Noise Cancellation_____4
08. Perfomance_____4
___ a. Kenyamanan_____4
___ b. Audiophile level_____5
___ c. Perbandingan kualitas audio_____6
___ d. Microphone_____6
___ e. Volume Headphone_____6
___ f. Sound Leak_____6
___ g. Dynamic Frequency Response_____6
___ h. Jarak bluetooth_____6
___ i. Interferensi_____6
___ j. Latency_____7
___ k. Battery Life_____7
___ l. Charging_____7
09. Konektivitas / addon_____7
___ a. Keyevent media button_____7
___ b. Tasker/Autohotkey/EventGhost integration_____7
10. Kelebihan kekurangan_____7
___ a. Kelebihan_____7
___ b. Kekurangan_____7
11. Kompetitor & alternatif_____7
12. Kesimpulan & epilog_____7
13. FAQ_____8
14. Appendix_____9
___ a. Daftar testing yang dilakukan_____9
Diubah oleh Desmanto
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 11
01. Prolog
Awal ane bisa ketemu dengan Bluedio T2 Turbine ini tidaklah spesial. Bluetooth headphone ane sebelumnya, baterenya memang bocor dari awal beli. Ane lagi kepengen pake headphone yang full cover, bukan hanya sekedar headset saja; setelah ngetes headphone kabel dari titipan teman untuk keponakannya. Akhirnya ane berpetualang ke toko langganan ane dan melihat berbagai pilihan yang ada. Nah kebetulan produk ini terdaftar sebagai produk baru, meskipun belum ada stoknya. Lihat ada beberapa alternatif lain, rata2 harganya lebih mahal dari T2 Turbine ini, bisa ampe jutaan. Sementara T2 Turbine ini di toko langganan ane, tidak lebih dari 340K, tidak perlu ampe jual ginjal untuk beli ini. Selain itu, mempertimbangkan berbagai spek yang akan ane bahas nantinya, akhirnya ane memutuskan untuk menunggu produk ini ready stok.

Tibalah hari bersejarah, ada notifikasi produk ready stok, ane pesan, bayar dan Headphone pun tiba beberapa hari kemudian. Ane pun memakainya dan merasakan headphone nya yang Warbyazah.
Spoiler for Kotak tiba:

Dari awal ane sudah ingin membuat review mengenai headphone ini. Ane sudah mengambil beberapa foto, melakukan bebeberapa testing. Namun karena ada kesibukan lain, jadinya terlupakan. Bisa aja headphone ini jadi produk bagus yang tidak pernah ane review. Kebetulan ane jalan2 ke forum Electronic dan melihat ada ERC. Challenged Accepted!!! Akhirnya baru termotivasi dah untuk ngetik review panjang ini.

02. Paket Pembelian & unboxing
a. Paket pembelian
Kotaknya lumayan besar, berukuran dengan berat 437,6 gram, tidak perlu ampe pake crane untuk ngangkatnya. Meskipun begitu, di toko online nya, tertera berat pengiriman adalah 0,8 Kg. Tentunya ini disebabkan ukuran kotak yang lumayan besar untuk standard kurir : 19,7 x 16,7 x 8,5 cm.
Spoiler for Berat Kotak:

Kotak nya memiliki segel kertas biasa dan ada kode verifikasi yang bisa digores untuk mengecek keaslian di website bluedio. Warna produk ada beberapa : Hitam, putih, merah dan biru. Namun di toko tempat ane beli, cuma ada warna hitam. Pengennya sih yang transparan kalau ada #bermimpi_indah Ane sih tidak begitu masalah, yang lebih penting fungsi dan perfomanya.
Spoiler for Belakang dan Samping:

Di kotak ada tertera namanya sebagai T2 Turbine dan ada tulisan Hurricane di bagian kanan. Untuk selanjutnya ane akan lebih sering menggunakan “T2 Turbine” ataupun “Headphone ini” untuk mengacu pada produk ini. Perhatikan juga T2 nya, ini maksudnya adalah generasi kedua. Ada varian lain dari Turbine ini yang ane ketahui belakangan pada saat buat review ini, yaitu T2S dan T2+. T2S menambahkan modul FM Radio. Sementara versi T2+, selain FM radio, ada slot microsd nya, dan bisa play musik langsung tanpa bluetooth/audio cable. Tentunya yang T2S dan T2+ akan lebih mahal, mungkin lebih mahal sekitar 50-100 ribu. Versi ane adalah T2 saja, tanpa embel2 S maupun +.

b. Unboxing
Spoiler for Kotak Dibuka:

Barang-barang yang ada dalam kotak produk:
1 x Bluedio T2 Turbine Wireless Bluetooth Headphones
1 x USB Cable
1 x 3.5mm Audio Cable
1 x Manual Book
Spoiler for Kelengkapan:

Tidak ada charger yang tersedia seperti kebanyakan bluetooth headset/headphone lainnya. Untuk ngecas, kita bisa pake charger HH ataupun USB port 2.0 dari PC/laptop juga uda cukup. Kalau headphone sudah dikeluarkan dan ingin dimasukkan kembali ke dalam kotak, pastikan untuk menarik slider nya sedikit supaya bisa muat di dalam (seperti pas unboxing). Kalau langsung dimasukkan, pasti tidak muat. Ane sempat kebingungan kemarin setelah unboxing di kantor, mo masukkan kembali malah tidak muat. Kirain karena “Barang yang Sudah Dibeli Tidak Bisa Dikembalikan”. emoticon-Ngakak (S) Rupanya slider memang harus ditarik dikit. Kabel USB dan audio nya ada di dalam kotak kecilnya. Kitab sucinya berada di bawah tempat plastiknya.
Spoiler for Kitab Suci:

Kabel USB nya sepanjang 1 meter, dengan ujung USB port biasa (colok ke charger) dan ujung satu lagi Micro USB (seperti kebanyakan kabel charger HH). Kabel USB bawaan sangat tipis seperti barusan diet ekstrim, dan ane menduga kabelnya hanya pake AWG 28 (sangat tipis), tanpa ada kabel data pair. Setelah dites, ternyata benar. Kabel USB bawaan memakai DCP standard, artinya tidak support untuk transfer data untuk HH. Kalau agan mencoba memakai kabel bawaannya untuk flash, copy data Android via MTP; bakalan frustasi karena ga bakalan detek sama sekali di PC. Dites charging dengan HH lain pada charger dengan output 2 A pun, kabel ini hanya bisa max di 0,45 A. Ya, wajar saja sih. Headphone ini hanya mampu menerima arus in 0,36 A (akan dibahas nantinya).
Spoiler for Audio cable dan Micro usb:

Kabel audio bawaan adalah tipe 3.5 mm jack audio standard, panjang 1,5 meter, dengan konektor TRS. Artinya kalau headphone dipakai dalam mode wired, tidak ada konektor untuk mic nya, meskipun headphonenya sendiri ada mic (dan berfungsi pada saat mode bluetooth). Memang headphone ini lebih fokus untuk audio out nya saja. Untuk mic, biasanya kita akan lebih cenderung memakai mic terpisah, karena mayoritas mic bluetooth headset/headphone memang standard saja, tidak jelek namun juga tidak begitu bagus.

03. First impression, build quality
a. 360 overview
Spoiler for Headphone di atas kotak:

Ketika dikeluarkan, posisi headphone dalam keadaan terlipat seperti gambar. Jadi selama dalam packaging, headphone ini sudah berlatih yoga dalam waktu yang sangat lama. emoticon-Big Grin Ini mempermudah penyimpanan seandainya headphone ini dibawa ke mana2, salah satu fitur plus menurut ane.
Spoiler for Berlatih Yoga:

Materialnya kebanyakan terbuat dari plastik, busa dan plastik yang dilapisi warna metalik. Secara overall, memang tidak premium banget feelnya, tapi masih OK lah. Mungkin ini disengaja supaya tidak terlalut berat, supaya tidak perlu forklift untuk bawa ke mana2. Beratnya 225,6 gram, menurut ane cukup pas, tidak terlalu berat untuk bentuknya yang terlihat besar. Ketika dipasang, tidak membebani ataupun menekan kepala.
Spoiler for Berat Headphone:

Dari kiri kanan, bisa terlihat slider yang bisa diatur panjang/pendeknya (max 2,5 cm), untuk menyesuaikan dengan kepala. Di bagian atas speaker ada label R dan L yang menandakan kanan kiri nya.
Spoiler for Slide Max:

Untuk memakainya, dengan posisi sesuai label, yaitu R di kanan dan L di kiri, putar bagian speakernya 195 derajat hingga mentok di kanan kirinya, sehingga terlihat seperti gambar. Tentunya agan tidak harus putar sampai mentok, masih bisa diatur untuk menyesuaikan dengan keinginan agan.
Spoiler for Engsel:

Berkat latihan yoga nya selama di dalam kotak, engselnya juga cukup OK, tidak ketat, tidak longgar.
Spoiler for Kabel tersembunyi:

Jika diperhatikan di bagian slider, ada kabel tersembunyi di bagian tengah, yang menghubungkan kiri dan kanan.
Spoiler for Slide Min:

Slider bisa didorong masuk, sehingga ukuran headphone lebih pendek.
Spoiler for Atas Turbine:

Di bagian atas ada tulisan TURBINE, sama seperti di bagian slider juga ada tulisannya. Di kiri kanan speakernya ada tulisan Bluedio.
Spoiler for Speaker kanan:

Di Spek tertulis driver speaker berdiameter 57 mm. Kalau diukur memang memungkinkan, karena diameter luar nya sepanjang 85 mm (masih muat). Bagian atas adalah busa dan cukup lunak. Selama pemakaian, ane tidak pernah merasakan tekanan maupun ancaman yang tidak nyaman dari busa ini. Di kiri kanan speaker juga ada busa. Seperti kebanyakan headphone lainnya, perlu waktu beberapa untuk bisa terbiasa dengan busa nya. Kalau dipakai dalam keadaan sedikit berkeringat, tentunya pasti akan terasa gerah.

b. Tombol dan interface
Sekarang ke bagian tombol2 dan interfacenya. Di speaker kanan, bagian bawah ada lubang micro usb female untuk ngecas. Di sebelah kanan micro usb port ada microphone.
Spoiler for Micro USB dan Mic:

Di atas nya ada tombol2 headphone, mulai dari tombol volume +/- yang mengontrol volume onboard, tombol on/off/call (di manual disebut sebagai MF button = Multi Function), dan tombol media play/pause, next dan previous.
Spoiler for Tombol Interface:

Di sisi kanan speaker dekat tombol on/off ada status LED, bewarna biru dan merah. Tombol media nya terlihat seperti bisa diputar, tapi sebenarnya hanya bisa ditekan seperti switch lampu sein pada motor. Jadi semua tombol2 headphone ada di sebelah kanan. Untuk mengaksesnya jika agan pasang sesuai petunjuk, maka agan harus menggunakan tangan kanan dan menekan tombolnya yang menghadap ke belakang di speaker kanan.
Spoiler for Tombol interface tampak samping:

Di speaker kiri hanya ada satu port di bagian bawah, yaitu 3.5 mm audio jack port. Port ini bisa digunakan sebagai audio line in pada mode wired, ataupun sebagai audio out pada mode bluetooth (audio sharing).
Spoiler for 3.5 mm audio jack:


04. Fungsi & Cara Kerja
a. Fungsi
Fungsi dari Headphone ya sudah jelas, sebagai audio output dari HH, PC/laptop, media player ataupun device audio lainnya. Headphone bisa digunakan untuk telepon, dengar musik, nonton video, main game ataupun voice command dan output. Bedanya dengan headset adalah ukuran driver speaker headphone yang lebih besar, sehingga diharapkan kualitas suaranya lebih bagus dan lebih sanggup menghalangi kebisingan dari luar. Jika dbandingkan dengan speaker besar, Headphone akan lebih personal dan tidak mengganggu lingkungan sekitar. Agan bisa setel volume tinggi tanpa mengganggu tetangga sebelah.

b. Bluetooth Mode
Tergantung pada mode yang digunakan maka cara kerjanya berbeda sedikit dalam hal metode koneksinya. Untuk mode bluetooth, Headphone akan terhubung secara bluetooth ke audio device sumber. Stream audio yang dikirim oleh sumber audio berupa sinyal digital melalui bluetooth dan diterima oleh headphone. Stream audio digital ini kemudian diubah menjadi sinyal audio analog oleh DAC (Digital to Analog Converter) T2 Turbine dan diperkuat oleh AMP (Amplifier) bawaannya. Sinyal audio analog ini kemudian diteruskan ke kedua speaker dengan driver 57 mm ini dan akhirnya menjadi suara yang didengar telinga kita. Pada metode bluetooth ini, DAC & AMP dari sumber audio (HH/PC/Laptop) akan kena bypass dan tidak terpakai. Karena tidaklah mungkin untuk mengirim sinyal audio analog via koneksi yang bentuknya digital (bluetooth). Yang terpakai adalah DAC & AMP dari T2 Turbine (yang biasanya lebih superior, lihat bagian kualitas audio untuk lebih lanjut). Proses Koneksi bluetooth, DAC dan AMP nya T2 Turbine tentunya membutuhkan daya tersendiri, makanya hanya bisa digunakan sebatas kapasitas baterenya (diklaim bisa tahan 40 jam).

Masih pada koneksi bluetooth, T2 Turbine punya fitur untuk audio sharing. Jika ada headset ataupun speaker lain yang dicolok melalui kabel audio ke port 3.5 mm jack nya, maka headset/speaker tersebut akan mendapat audio in dari DAC & AMP nya T2 Turbine. Sehingga kualitas audio in nya tetap superior, dan hanya dibatasi perfoma headset/speaker yang dicolok tadi.

c. Wired Mode
Sementara pada mode wired, T2 Turbine dalam keadaan off. Kita perlu colok kabel audio yang telah disediakan ke port 3.5 mm audio jack nya. Ujung satunya lagi juga dihubungkan ke port 3.5 mm audio jack out dari sumber audio, baik itu audio jack HH ataupun audiou jack out dari PC/Laptop/Soundcard sejenis. Pada mode wired ini, T2 Turbine menerima langsung sinyal audio analog dari DAC & AMP nya sumber audio. Sinyal audio analog langsung diproses menjadi suara di speaker. Jadi kualitas audionya bisa bervariasi tergantung kualitas DAC & AMP sumber audio (dalam kebanyakan kasus, masih kalah dibanding DAC & AMP nya T2 Turbine). Pada mode wired ini, T2 Turbine tidak perlu power sama sekali, karena semua daya audio berasal dari DAC & AMP sumber audio. Meskipun batere habis total sekalipun, Headphone tetap bisa dipake dalam mode wired ini.

05. Spesifikasi produk
Berikut adalah spesifikasi lengkap Bluedio T2 Turbine – Hurricane, dari kotak dan buku manual :
Bluetooth Profiles : A2DP, AVRCP, HFP, HSP
Bluetooth Version : 4.1
Operating Distance : Up to 10 m (free space)
Transducer Type : Dynamic
Speakers : 57 mm x 2
Impedance : 16 Ohm
Frequency Response : 20 Hz – 20 Khz
Sensitivity : 110 dB
Dsitortion : <0.1% (THD)
Battery Type : Li-Polymer
Music Playtime : 40 hours
Talk Time : 45 hours
Standby Time : 1625 hours
Extra Features : Foldable, Last Call Redialing, Equalizer, 3,5 mm audio jack Line-In, Audio sharing, Acoustic Echo Suppression, Noise Cancellation
Dimension : 18.60 X 8.50 X 20.00 Cm / 7.31 X 3.34 X 7.86 Inches
Fully Charged Time : About 2hrs
Operating Enviroment : -10 – 50 C

Spesifikasi di atas tidak begitu detail. Jadi ane melakukan berbagai tes, pengukuran dan menyimpulkan spek serta fitur yang lebih lengkap lagi :
Weight : 225,6 gram
Folded size : 12 cm x 8,5 cm x 19 cm
Slider Adjustment : max 2,5 cm
Battery capacity : ~550 mAh
Lowbat warning : 2 seconds of "Battery Low" every 19 seconds
Full charged from lowbat : 2 hours 20 minutes (tested)
Onboard Volume step : 16 steps
Button : ON/OFF/Call button (Multi Funtion Button), Volume up & down (onboard), Media Play/Pause, Media Next, Media Previous
Tasker Integration : Supported, via Media button
Mic : Single mono
Call Feature (HFP) : Answer, Reject, End Call, Call Waiting, Resume Call Waiting
Idle power save delay : 7 seconds
Maximum bluetooth range tested : 17 meter
Bluetooth latency : ~300 ms
Multipoint : 2 simultaneous devices
Maximum remembered paired : 5 devices
Media Codec : Audio SBC
AptX : not supported
Sampling Frequency : 16 Khz, 32 Khz, 44,1 Khz, 48 Khz
Channel Mode : Mono, Dual Channel, Stereo, Joint Stereo
Block Length : 4, 8, 12, 16
Subbands : 4, 8
Allocation Method SNR : supported
Allocation Method Loudness : supported
Minimum Bitpool : 2
Maximum Bitpool : 53
Default connected : Audio SBC, 44,1 Khz, Joint Stereo, Block Length 16, Subbands 8, Allocation Method SNR Off, Allocation Method Loudness On, Bitpool 2-53 (maximum bitrate 328 kbps)
Audio bit Depth : 16 bit
LMP Subversion : 518
Bluetooth Manufacturer Name : Integrated System Solution Corp.
Android App : ISSC Demo_1.00*apk, com.issc.isscaudiowidget
Equalizer : Off, Soft, Bass, Treble, Classic, Rock, Jazz, POP, Dance, R&B, Custom
Language voice prompt : English, Chinese, Spanish, French
Bluetooth default name : Bluedio
Firmware : v2.06
Bluetooth Mac : 16
3.5 mm jack type : TRS with no mic
3.5 mm audio cable : 1,5 meter TRS.
Charging Port : Micro Usb female
USB cable spec : 1 meter USB to micro USB, DCP standard, max current 0,45 Ampere
Diubah oleh Desmanto
06. Cara pakai
Cara pakai Headphone ini tentunya tergantung dengan mode koneksi yang diinginkan. Untuk mode Bluetooth, berarti kita perlu menghidupkan bluetooth, pairing ke device lain sebagai sumber audio, baru bisa memakai headphone nya. Sementara untuk mode wired, tinggal colok kabel audio saja. Keduanya cukup sederhana dan tidak pake ribet.

Untuk mode bluetooth ada dua kondisi.
a. First Pairing
1. Nyalakan T2 Turbine dengan tekan dan tahan tombol On/Off selama 6 detik hingga ada bunyi “Ready to pair”. LED biru akan menyala terus tanpa berkedip, yang berarti dalam mode pairing. Pada saat tahan tombol tersebut, di detik ke 3 akan ada bunyi “Power On”, diabaikan saja dulu.
2. Dari HH tinggal search bluetooth device baru dan tap di Bluedio (jika belum diganti nama Headphone nya).
Spoiler for Pairing:

3. Akan terjadi pairing, dan akan ada bunyi “Pairing Completed” Lalu menyusul itu, akan ada bunyi “Device Connected”, artinya sudah terhubung ke phone (HFP) dan akan ada beep sekali lagi baru artinya sudah terhubung ke media (A2DP).
4. Anda sudah bisa telepon maupun dengar musik dari HH ke Headphone.

b. Paired device
1. Nyalakan Bluetooth di HH yang sudah pernah paired sebelumnya. (boleh terbalik, T2 Turbine dulu juga bisa)
2. Nyalakan T2 Turbine dengan tekan dan tahan tombol On/Off selama 3 detik hingga ada bunyi “Power On”.
3. Jika Device terakhir yang connect sama dengan device yang sekarang agan pake, maka seharusnya sudah langsung auto connect ulang. Akan ada bunyi “Device Connected” diikutin dengan beep (seperti di atas).
4. Anda sudah bisa telepon maupun dengar musik dari HH ke Headphone.

Lama delay antara HFP ke A2DP (bunyi beep) bervariasi antara 1 – 5 detik. Yang jelas untuk device yang sudah pernah paired, lama waktu dari headphone mulai dihidupkan sampai terhubung penuh (phone & media) ke HH seharusnya tidak sampai 15 detik. Jika setelah bunyi “Power On”, dan tidak ada device paired sebelumnya yang connect, maka 11 detik dari itu (14 detik dari off), Headphone akan masuk pairing mode dengan bunyi “Ready to Pair” dan LED biru tidak berkedip.

Semua device baru wajib melalui mode pairing dulu baru bisa terhubung ke Headphone. Sehingga tidak sembarang orang bisa serta merta konek ke headphonenya. Jika ingin masuk mode pairing dari keadaan headphone on, maka headphone perlu dimatikan dulu dan kemudian dihidupkan lagi dengan tahan tombol on/off 6 detik (pairing mode).

Jika terkadang bunyi beep tidak keluar, HH tidak bisa dengar musik dan di bagian bluetooth ada status (no media); berarti A2DP nya tidak terhubung. Agan bisa tes disconnect bluetooth dan connect ulang secara manual ke Headphonenya (tap Bluedio). Jika masih tetap (no media), tap di panah ataupun advanced option untuk device Bluedio, pastikan opsi media tercentang/aktif. BTW, ini adalah masalah umum di bluetooth headset/headphone lain, di T2 Turbine belum pernah terjadi sekalipun selama 1 bulan ini.
Spoiler for No Media:


c. PC/Laptop/OS lain
Untuk PC/laptop, caranya juga kurang lebih sama, tapi bisa sedikit berbeda tergantung driver bluetooth nya. Ane pake bluetooth 4.0 dengan chipset CSR dan driver Toshiba. Caranya juga mirip dengan HH, tinggal double klik di Bluedio dan ketika ada prompt untuk share information ataupun use audio gitu, accept/yes kan saja. Bedanya di driver bluetooth ane, auto reconnect nya tidak terjadi seketika begitu bluetooth headphone dihidupkan, tapi periodik per beberapa menit sekali. Makanya untuk PC, ane buat shortcut untuk langsung konek ke Bluedio nya secara manual setiap kali dihidupkan. Lalu Protocol A2DP dan HFP di driver bluetooth PC ane tidak bisa nyala bersamaan. Defaultnya adalah A2DP. Jika ane ingin telepon atau menggunakan mic nya, harus disconnect dan connect ulang ke procotol HFP nya (ada pilihannya). Sementara untuk OS lain seperti ipin, winpho, mac maupun linux, ane tidak pake dan tidak ada unit untuk bisa dites. Tapi seharusnya tidak beda jauh cara koneknya.

d. Off & Disconnect
Untuk mematikan Headphone, tahan tombol On/Off selama 4 detik, LED biru akan berkedap/I hingga mati total, dan akan ada bunyi “Power off”. Jika tombol hanya ditahan 1,5 detik akan terdengar bunyi beep, LED biru juga akan berkedap/i; karena tombol ini dipakai juga untuk telepon dan menjawab telepon. Atau kalau agan ada pakai google search atau voice recognition lainnya, tahan 1,5 detik ini akan mengaktifkan voice search.

Sementara untuk hanya memutuskan koneksi bluetooth tanpa mematikan headphone, tinggal matikan saja bluetooth dari sumber audio nya. Akan ada bunyi “Device Disconnected” ketika agan mati bluetooth sumber audio nya. Ini dilakukan misalnya agan mo switch dari dengar musik di HH ke PC. (sebenarnya tidak perlu dilakukan, akan dijelaskan nanti).

e. Mode wired
Untuk mode wired, jauh lebih gampang. Agan tidak perlu turn on T2 Turbine ini lagi. Tinggal colok aja kabel audio nya ke port 3.5 mm audio jack di Headphone dan sumber audio nya. Sudah bisa langsung pake, tidak perlu turn on, tidak perlu pairing, tidak perlu turn off lagi. Dan ini pasti kompatible di semua device yang punya audio out 3.5 mm port. Tapi perlu diperhatikan bahwa pada mode wired, mic tidak berfungsi sama sekali.

f. Telephony
Kalau misalnya ada panggilan masuk di HH, maka ada bunyi “Incoming Call” tanpa ada penyebutan siapa yang menelpon. HH tetap berdering seperti biasanya. Agan bisa tap tombol MF untuk menjawab teleponnya atau tahan tombol MF 2 detik untuk reject teleponnya. Kalau dijawab, tap tombol MF untuk mengakhiri telepon. Kalau direject, akan ada bunyi “Call Rejected”.

Untuk fitur call waiting tidak ane coba, jarang pernah telepon ampe serumit itu. HH nya tentunya perlu support call waiting. Kalau dari petunjuk bukunya, pada saat ada call 1 masuk, kita jawab seperti biasa dengan tap tombol MF. Kemudian masuk call 2, tahan tombol MF 2 detik untuk hold call 1 dan menjawab call 2. Setelah call 2 selesai, untuk kembali ke call 1 yang dihold tadi, tahan tombol MF 2 detik lagi.

g. Saran penggunaan
Karena headphone bisa dipakai dalam dua mode, terus mana kah mode yang harus dipake untuk keperluan tertentu? Secara umum, tentunya kita ingin selalu pake mode bluetooth saja, karena lebih flexibel. Tapi ada kalanya kita terpaksa harus pake mode wired. Berikut skenario yang disarankan untuk masing2 mode :
Mode Bluetooth : Dengar musik, nonton film, nonton video tutorial, Main game casual yang tidak perlu real time audio, mendengar audio book, binaural beats, telepon, audio sharing/receiver, Media button trigger.
Mode Wired : Gaming real time, terutama FPS shooter, VR apps/games, game yang berhubungan dengan musik, buka kamus/app yang ada pronouncation, rekam suara dengan mic lain dan perlu feedback realtime, Batere headphone habis, banyak interferensi wireless (wifi, microwave).

07. Review feature
a. HSP/HFP
Dalam kebanyakan waktu nya ketika konek ke HH maupun PC, hanya fitur HFP (Hands Free Profile) yang aktif (HSP setingkat di bawah HFP). Profile inilah yang bisa dipakai untuk telepon ataupun sebagai microphone di skype sejenis. Stream max hanya mentok di mono 16 Khz, hanya cocok untuk percakapan ataupun telephony. Tombol MF (Multi Function) bisa digunakan untuk menjawab/menolak/mengakhiri panggilan.

Kelebihan headphone ini di fitur HFP nya adalah headphone ini tidak pilih2 HH. QCY Q8 ane juga support call (ga tau HSP atau HFP). Ane tes di Pureshot Plus 2, bisa dipakai untuk terima panggilan. Tapi ketika dites di HH samsul, siomay, feverc*ss, headsetnya bisa dipake untuk telepon keluar, tapi tidak bisa menerima panggilan masuk. Ane tes di andromax lawas juga sama, tidak bisa terima panggilan masuk. Padahal itulah fungsi utamanya sebuah bluetooth headset selain untuk dengar musik. Ketika ditap answer ataupun tap di tombol headset, bluetoothnya langsung diskonek dan suaranya kembali ke speaker atas HH. Ini sangat mengganggu sekali, dan ternyata bukan cuma ane yang kena. Ada banyak bluetooth headset di luar sana yang juga milih2 HH. Feverc*ss teman ane uda dicoba pairing ke berbagai bluetooth headset/headphone, bahkan yang resmi dari vendornya pun tidak bisa digunakan untuk menerima telepon masuk.

Begitu dia tes dengan T2 Turbine ini, sekali tes langsung bisa terima telepon, tidak ada diskonek ataupun putus. Ane juga tes dengan andromax ane, ternyata benar. Sebelumnya di QCY Q8 akan langsung diskonek setiap ada panggilan masuk dan tes dijawab. Sementara pake T2 Turbine, ane bisa terima/tolak/akhiri panggilan bahkan hanya lewat tombol MF nya, tidak perlu pegang HH nya. Ini baru benar2 “hands-free”. Namun ane masih kurang sreg dengan mic nya. Meskipun dijawab melalui tombol MF, mic yang terpake adalah mic dari HH, bukan dari headphone. Mungkin HH ane yang ga support mic dari bluetooth atau memang implementasi nya seperti itu. Sampai saat ini, ane memang masih susah banget untuk menggunakan mic dari bluetooth, ada ane bahas di bagian Microphone

b. AVRCP
Audio/Video Remote Control Profile, adalah profile yang membuat Headphone ini bisa mengendalikan media playback di sumber audio. Tombol media yang tersedia hanya ada 3, yaitu Media Previous, Media Play/Pause dan Media Next. Tombol tidak bisa ditekan lama untuk menghasilkan fungsi lain, memang hanya 3 itu saja tombol media yang tersedia. Tidak ada tombol Media Fast Forward ataupun Media Rewind. Tentunya tombol ini hanya berfungsi kalau HH/PC nya memang support. Ini kebanyakan lebih digunakan di app yang memang support media button, seperti winamp, media player classic, dan mayoritas music/video player di android.

Perlu diperhatikan bahwa media button hanya akan dikirim ke media player yang lagi aktif pada waktu itu, baik yang di HH maupun PC. Jika koneksinya adalah multipoint seperti yang dibahas di bawah, maka media button hanya akan diterima oleh device yang menjadi fokus audio pada saat itu.

c. Multipoint
Headphone ini support thr**s*m*, alias mampu connect ke 2 device sumber audio sekaligus (multipoint). Ane uda tes berulang kali, dan memang max cuma 2 device pada saat bersamaan. Mencoba konek dari device ketiga akan selalu gagal. Device yang konek bisa keduanya HH ataupun HH dan PC. Streaming audio hanya akan berasal dari salah satu device saja, dan headphone akan digilir sesuai mana yang lagi aktif sumber audionya. Namun ada prioritas stream, di mana device yang konek dengan mode HFP + A2DP (biasanya HH), akan mendapatkan hak veto untuk interupsi device lain. Tapi device yang hanya konek dengan mode A2DP saja (biasanya PC dan laptop), akan menjadi kasta rendahan, tidak bisa mencegat stream dari device dengan HFP.

Contohnya ane tes koneksi multipoint dengan HH dan PC ane. HH terkonek full HFP + A2DP (Phone + Media), sementara PC cuma A2DP (Media) aja. Dalam keadaan idle, tidak ada suara di headphone. Ane tes play musik di PC, maka suara musik dari PC masuk ke Headphone. Kemudian jika ane play musik lagi di HH, musik dari PC hilang (tapi masih tetap lanjut play di PC nya), digantikan oleh musik dari HH. Artinya HH jadi dapat prioritas mencegat audio stream nya PC. Kalau misalnya musiknya HH di pause, maka akan ada jeda 7 detik sebelum akhirnya audio stream dari PC masuk kembali ke Headphone (fokus audio balik ke PC). Sementara jika sebaliknya, HH play musik duluan, di Headphone sudah terdengar lagu dari HH. Kemudian di PC play musik lagi, musik ini tidak akan pernah sampai ke headphone, karena tanpa HFP, kasta rendah tidak bisa mencegat audio stream HH yang punya HFP. Hanya setelah musik di HH berhenti, setelah jeda 7 detik lah, baru suara dari PC bisa masuk kembali ke Headphone. Di sini terlihat jelas HH memiliki prioritas lebih tinggi.

Fitur ini sangat berguna tentunya kalau agan sering dengar musik dari PC tapi juga tidak ingin kehilangan notifikasi dari HH. Soalnya kalau uda pake headphone dan dengar musik, agan sudah terisolasi dari dunia luar. Dengan stream audio dari HH bisa mencegat musik agan, minimal agan tidak akan miss notifikasi penting. Jika ada yang telepon masuk ke HH pun, maka akan muncul bunyi “Incoming Call”, musik dari PC tidak akan masuk ke Headphone selama panggilan berlangsung.
Spoiler for Multipoint:

Nah, bagaimana kalau seandainya multipoint nya adalah dua HH yang sama2 terhubung full HFP + A2DP? Keduanya akan memiliki prioritas yang sama, artinya mereka bisa mencegat musik satu sama lain. Jika ane play musik di HH A, musik A masuk ke Headphone. Ane play musik di HH B, musik A hilang (tapi masih tetap lanjut play di HH nya), musik B masuk ke Headphone. Kalau ane tap pause lalu play lagi di A, tetap tidak bisa cegat B. Musik playernya harus distop dulu, supaya ada jeda audio dulu (biar dianggap stream baru). Kemudian buka kembali dan play lagi musik yang sama pun, baru bisa cegat B. Begitu seterusnya, A dan B bisa saling cegat, yang penting ada jeda audio di app nya. Jika sekarang fokus audio ada di A dan kemudian musik di A distop, maka akan ada jeda 7 detik (yang sama seperti di PC), sebelum akhirnya fokus audio kembali ke B. Ini tentunya tidak begitu berguna, karena kapan sih agan perlu ampe play musik dari dua HH dengan cara seperti ini. Testing ini cuma sebagai dokumentasi saja deh.

Headphone ini support paired maximum 5 device. Jika ada device ke 6 yang mau ditambahkan, maka device pertama akan dihapus. Device yang sudah dihapus biasanya akan membutuhkan pairing ulang sebelum bisa konek ke bluetooth nya. Namun ada juga yang bisa langsung pairing, misalnya di android ane tes cuma perlu reconfirm pairing (meskipun headphone bukan dalam mode pairing). Mungkin ini karena kunci autentikasinya sudah tersimpan sebelumnya. Tapi ada juga yang perlu pairing ulang dari awal, di mana headphone wajib masuk mode pairing dulu (Tahan on/off 6 detik).

d. Auto Power save
Jeda 7 detik yang disebutkan di atas ternyata kalau ditelusuri adalah metode power save nya ketika beroperasi di Bluetooth mode. Tidak ada cara untuk mematikannya. Mungkin inilah sebabnya standby time nya bisa sangat lama. Kalau dari sumber audio tidak ada audio stream selama 7 detik, Headphone akan masuk mode power save ini, terdengar dari suara nya seolah2 hilang. Ketika diberikan audio stream lagi, misalnya play musik, akan ada delay 0,3 – 1 detik sebelum akhirnya musik terdengar. Delay tersebut akan memotong suaranya. Ini terutama sangat jelas terdengar ketika kita menggunakan kamus yang bersuara. Ketika di kamus, kita tidak menggunakan pronouncation nya setiap saat, namun pada saat diperlukan saja. Ketika kita tap satu kata untuk dipronounce, misalnya “International”. Maka kebanyakan waktunya, inter- atau kadang internati- nya terpotong, hanya terdengar –national atau –onal nya saja. Ini tentunya sangat mengganggu kalau agan memang sering pake headphone ini untuk kamus ataupun app yang audio nya tidak continuous seperti di musik/video. Kejadian seperti ini tidak terjadi di QCY Q8. Saran ane sih, khusus untuk keperluan kamus dan sejenisnya ini, bagusan pake headset lain atau agan terpaksa pake mode wired.

e. Audio Sharing
Pada mode bluetooth, 3.5 mm audio jack port dari Headphone ini berfungsi sebagai audio out ke device lain. Ini memungkinkan kita untuk berbagi musik ke headset/headphone/speaker lain melalui kabel audio. Kualitas suaranya akan diambil dari DAC & AMP nya T2 Turbine, sehingga maksimal bisa sebagus headphone. Tapi tentunya masih dibatasi oleh kemampuan device target. Kelihatan fitur ini seperti gimmick dan mungkin tidak pernah dipake, karena itu berarti device yang dipasangin kabel audio tadi harus berada dekat2 dengan agan yang memakai headphone nya. Hilang dah kenyamanan fungsi utama bluetoothnya.
Spoiler for Audio Sharing ke Boomphones:

Tapi ane melihat kegunaannya dari sisi lain, yaitu sebagai bluetooth audio receiver. Agan bisa taruh headphone dan audio out ke speaker stationary yang lebih besar yang tidak support bluetooth, tapi cuma support 3.5 mm audio jack. Dengan begini, seolah2 speaker besar tadi menjadi bluetooth speaker, dengan menggunakan DAC & AMP dari T2 Turbine yang kita tahu cukup superior. Selain itu, jangkauan bluetooth nya lebih jauh dibanding headset standard dan baterenya juga tahan lama; membuat T2 Turbine ini cocok jadi receiver nya. Daripada agan beli receiver terpisah lagi, itu perlu 200-300 ribu sendiri, dan masih belum diketahui apakah DAC & AMP nya itu akan sebagus T2 Turbine.
Diubah oleh Desmanto
f. ISSC app
T2 Turbine menyediakan app khusus yang bisa digunakan untuk mengganti beberapa setting dari Headphone nya. App nya bernama ISSC Demo_1.00*apk, dengan package name com.issc.isscaudiowidget, bisa didownload di http://www.ibestme.com/downloads/issc*apk. Hanya tersedia versi android saja, untuk OS lain silahkan gigit jari emoticon-Big Grin ISSC sendiri adalah singkatan dari Integrated System Solution Corp. , perusahaan yang memproduksi chipset bluetooth yang dipakai di T2 Turbine ini.

Untuk menginstall apk ini, perlu centang unknown sources. Setelah install dan buka app nya, perlu konek dulu ke headphone nya untuk bisa request data dari firmware T2 Turbine. Ane tes app ini dengan bluetooth headset lain, akan muncul “No Supported Headset”.
Spoiler for Headset lain "Not Supported":

Karena memang app ini didesain hanya untuk Device yang memakai chipset dari ISSC. Dari app ini, tidak semua fiturnya bisa dipakai di T2 Turbine.
Spoiler for ISSC all feature:

1. Audio Effect dites, tidak ada perubahan.
2. Equalizer dan Noise Cancellation bisa dilihat di bawah.
3. Voice Prompt Language adalah untuk mengubah bahasa voice prompt, seperti “Power On”, “Device Connected” dan sejenisnya. Ada 4 bahasa yang disediakan : English, Chinese, Spanish dan French.
4. Battery Status kayaknya ngebug. Kadang ditampilkan 100%, kadang 70%, tidak turun2 setelah pemakaian bahkan disconnect-reconnect pun.
5. One Tap Pairing adalah untuk pairing device baru, bisa dilakukan secara manual, tidak perlu app ini.
6. Find My Accessory adalah untuk mengirim audio ke Headphone untuk mengetahui headphone mana yang terkonek dan lokasinya. Agak rancu sih, headphone segitu besar masa bisa ampe hilang. Kalaupun audio dikirim ke headphone nya, apa bisa terdengar cukup kuat. Volume audio yang dikirim bisa diatur di slidernya.
7. TTS Enable tidak ada perbedaan pas enable/disable
8. Device Name mungkin cukup berguna. Misalnya kalau di daerah yang berdekatan ada beberapa agan yang pake T2 Turbine yang sama. Kalau semuanya namanya default Bluedio, pasti bakalan susah banget pairing maupun konek nantinya. Jadi nama default ini bisa diganti ke yang lain, supaya lebih personal
9. Firmware Version menunjukkan versi nya, di ane v2.06.
10. Accessory Bluetooth address menunjukkan mac address bluetooth headphone nya.

Dari semua ini, mungkin yang lebh berguna hanya di Equalizer dan Device Name saja. Satu kekurangan app ini adalah tidak bisa exit secara sempurna. Nampaknya notif baterenya akan tetap jalan di background meskipun sudah diback. Jadi ane force stop aja untuk memastikan ISSC nya tidak running lagi di background.

g. Equalizer
Tanpa app ISSC, kita juga bisa mengganti equalizer mode dengan tekan dan tahan tombol volume + dan – secara bersamaan selama 1 detik. Ane tes, dan cuma bisa toggle 3 jenis aja, tidak tahu yang mana. Sementara dari app ISSC, ada lebih banyak mode yang bisa dipilih : Off, Soft, Bass, Treble, Classic, Rock, Jazz, POP, Dance, R&B, Custom.
Spoiler for Equalizer:

Misalnya ane tes Bass, maka suara bass akan terkesan lebih powerful. Pilih POP, maka suara vocal cenderung lebih keras. Setelah ane tes berbagai equalizer ini dengan berbagai lagu, ane cenderung memilih Off saja. Karena memilih salah satu akan membuat musik lain menjadi agak aneh. Ane lebih suka yang original apa adanya aja deh, "Alami itu indah".

h. Noise Cancellation
Info dari app nya sih T2 Turbine ini sudah ada noise cancellation. Namun dari hasil test ane, mo di Enable atau disable, tetap ga ada bedanya. Soalnya kalau uda play musik, pada volume tertentu suara dari luar sudah tidak kedengaran sama sekali. Jadi ane juga susah membedakannya. Ane googling, ikutin metode testing nya, ternyata juga sama aja. Ane tes pake HH lain, install frequency generator, generate suara dari berbagai frequency dan set ke lumayan keras. Lalu didekatkan ke Headphone, dites aktifkan noise cancellation dan nonaktifkan; hasilnya sama aja. Bisa jadi memang noise cancellation ini hanya gimmick. Mungkin kalau ada yang tau cara yang benar untuk testing noise cancellation, silahkan infokan dan akan ane coba nantinya.

08. Perfomance
a. Kenyamanan
Harus diakui bahwa sudah lama ane tidak pake bluetooth headphone yang full cover sebelum beli T2 Turbine ini. Jadi rasanya masih agak canggung pas pake Headphone lagi. Sesuai dengan petunjuk R L nya, maka ane memakainya dengan label yang sama. Biasanya kita akan memakai headphone dengan atasnya berada pas di tengah kepala. Namun entah gimana pun cara ane memposisikannya, terasa tidak nyaman kalau pas di tengah kepala. Kalau digeser sedikit ke belakang, pas ke posisi nyamannya, malah jadi sering jatuh ke belakang. Lagian kalau agak ke belakang, pas bersandar akan susah deh, headphonenya ketimpa.

Jadinya setelah mencoba 360 posisi, ane menemukan headphone ini perlu dipake agak condong ke depan, dengan slider dipanjangkan sekitar 0,5 cm di kiri kanan. Ini posisi ternyaman menurut ane. Telinga bisa tertutupi penuh, tidak gampang jatuh, dan tidak mengganggu posisi sandar. Namun tetap saja kalau sudah pakai lama tetap akan merasa gerah. Di awal2 pemakaian ane cuma bisa pake maks 2 jam sebelum harus lepas headphone nya dulu dengan jeda. Setelah dipakai 1 bulan gitu, nampaknya busanya sudah lunak dan menyesuaikan dengan bentuk kepala ane, jadi sekarang sih uda lebih nyaman.
Spoiler for Posisi nyaman:

Headphone ini termasuk cukup berat kalau dibawa olahraga. Tidak ada rating tahan air ataupun keringat di kotaknya, jadi bagusan jangan dipakai fitness deh. Kalau berkeringat, busanya bisa lebih gampang rusak. Sama seperti headphone full cover lainnya, jangan pernah pake headphone ini di tempat yang membutuhkan perhatian penuh ke sekitar, seperti jangan pake pas lagi naik motor (jadi ga pake helm donk), lagi menyetir (entar ga dengar apa2), jalan kaki (diklakson pun ga dengar apa2), di kantor lagi kerja (entar dipanggil bos ga kedengaran, telepon juga ga kedengaran) dan sebagainya. Yang jelas kalau lingkungan sekitar butuh perhatian (buper), jangan pake headphone ini deh. Dan usahakan ada jeda untuk mendengarkan lingkungan sekitar. Mana tau alien uda menyerang bumi, di sebelah uda pada jerit2an berlarian, agan masih santai2 aja dengarin lagu Justin Bieber. emoticon-Hammer (S)

Headphone ini memang lebih cocok dipakai di rumah, di waktu santai dan tidak terganggu. Agan bisa mendapatkan full immersive experience, terjerumus ke dunia sendiri, tanpa harus mengganggu anggota keluarga lain, teman kos ataupun tetangga sebelah. Apalagi kalau ada VR head mounted, bisa2 agan masuk ke Full Dive ataupun Burst Link dan terjebak hingga tidak bisa kembali ke dunia nyata.emoticon-Takut (S) Sayangnya, meskipun bisa menciptakan dunia sendiri untuk agan, headphone ini tetap tidak bisa membuktikan bahwa bumi itu bulat ataupun datar. Di sisi lain, headphone ini bisa dipake buat telepon, tapi kan lucu juga telepon pake full headphone gitu.
Diubah oleh Desmanto
b. Audiophile level
Disclaimer : Incoming wall of text… Ini hanyalah deskripsi detail supaya agan bisa memahami arah preferensi audio ane. Tidak harus dibaca semua, agan bisa skip langsung ke breakthrough pertama dan kedua (pembelian T2 Turbine ini). Pengalaman ane di bawah sudah sedikit terdistorsi oleh waktu, ane mungkin bisa lupa mana yang duluan dibeli.

Sebelum ane bicara soal kualitas suara dari Turbine T2 ini, ane perlu cerita dulu kisah hidup ane ... Eh, maksudnya level audiophile ane sekarang, atau lebih tepatnya kemampuan ane mengenali kualitas suara dari speaker/headset/headphone. Karena kalau sudah bahas soal kualitas audio, ane yakin banyak audiophile yang masih jauh di atas ane. Level ane mah belum seberapa, ibarat seberkas cahaya lilin kecil yang nyaris tidak kelihatan di bentangan pegunungan himalaya yang menjulang tinggi menembus batas-batas dunia.

Penilaian kualitas audio dari speaker sangat subjektif. Terlalu banyak faktor yang berpengaruh, di mana dengan speaker yang sama, musik yang sama, kondisi ruangan sama, dan segala jenis variabel yang sama; bisa membuat dua orang mendengarkan suara yang benar2 berbeda. Karena device audio yang pernah mereka pake akan mempengaruhi persepsi dan realitas mereka ketika mendengarkan suara tersebut. Bahkan juga ada kubu yang mengatakan kualitasnya bisa dinilai secara objektif, yang percaya dengan angka2, metode scientific, yang perlu melakukan blindtest dan pembuktian terbalik. Nah, bisa terjadi perang dunia IV dah kalau ngotot2an bilang mana yang lebih bagus dari yang lain.

Karena susah pake standard yang baku dan demi ikut serta menjaga perdamaian dunia, ane pake standard paling primitif aja deh, perbandingan relatif dengan audio device ane sebelumnya. Kalau setelah ganti speaker/headset/headphone, membuat ane pengen dengarin ulang semua musik ane, lebih lama dengar musik di device baru, dan tidak ingin kembali ke speaker lama sebelumnya; berarti kualitas suara device baru ini di atas device lama ane sebelumnya. Sederhana ya, dan ane yakin mayoritas setuju dengan standard ini. Pertanyaannya sekarang, sudah sampai manakah level audiophile ane?

Yang jelas, ane belum pernah beli/pake sendiri device audio yang harganya jutaan. Pernah ke konser, pernah dengar suara dari speaker sub woofer segede gajah, tapi tidak pernah setup sendiri dan tes sendiri untuk private use. Ane juga tidak pernah tes headset/headphone dari kelas sennheiser, Beats by Dre, Plantronic, AKG, Sony ataupun headset/phone terkenal lainnya.

Kisah audiophile ane harus dimulai dari sejak pertama kali pake handphone (waduh, lama nih). Skip2 .... dah.
Spoiler for Skip deh:


Loncatan pertama
Loncatan signifikan pertama di level audiophile ane adalah ketika ane beli Boomphones Pocket Speaker, setelah melihat review nya di berbagai tempat. Koneksinya menggunakan bluetooth, dan dengan gampang ane pair ke Max v dan bluetooh di laptop. Pas play pertama, terasa banget bass nya lebih nendang, suara lebih keras dan jauh lebih bagus deh dynamic rangenya. Ane pun tes lagu2 favorit ane, dan ternyata beda banget!!! Selama ini ane ga tau kalau lagunya ada bunyi bass, karena tidak kedengaran sama sekali di headset dan speaker max v. Contohnya di lagu Roar - Katy Perry, pas awal lagu, ada bunyi bass nya yang sangat khas; lagu I Love It - Icona Pop, bunyi beat nya sepanjang lagu; lagu Danza kuduro, bass nya juga kedengaran; lagu Shake It Off - Taylor Swift, opening bass nya terasa banget; bahkan lagu seperti Baby dari Justin Bieber emoticon-Big Grin, ane juga baru nyadar ada bass nya di background emoticon-Ngakak (S) Berarti selama ini ane bukan dengar lagu, tapi dengar HH nya komat/i kali ya emoticon-Hammer (S)

Gara2 beli speaker baru ini, ane ampe jadi bawa ke mana2 seminggu tu. Ampe teman kantor dengar, eh kok suaranya bagus, harganya masih masuk akal (tidak ampe 400 ribu). Dari sejak tu, ada 10 lebih yang beli speaker yang sama dengan berbagai variasi warna. Juga gara2 speaker inilah, ane dibimbing menuju jalan hidup audiophile (amatir). Perjalanan hidup audiophile memang pasti akan sangat mahal. It’s a one way trip, no way back, never go back effect. Sekali uda mendengar dan merasakan speaker bagus, kita tidak pernah akan bisa kembali lagi untuk menggunakan speaker murahan sebagai speaker utama. Memang bisa dipaksa untuk pakai speaker lama. Tapi bawah sadar kita akan selalu menjerit kalau ada yang kurang dari speaker lama ataupun speaker murah lainnya.

Ane dengarin balik semua lagu favorit ane. Memang terasa bedanya, dan baru mengerti kenapa kok dulu banyak yang bilang speaker max v cempreng, ya memang benaran cempreng gini dibanding Boomphones. Ane pun tes gaming, eh suara Captain Price nya jadi jelas banget, dan suara tembak2an nya juga lebih seru. Alhasil ane main ulang game COD MW 1, 2, 3 dengan speaker ini, padahal masih pake laptop jadul dengan framerate di bawah 25 fps emoticon-Berduka (S) Setelah ane ganti PC dengan VGA baru, toko langganan ane sempat kasih tau untuk beli speaker terpisah lagi. Tapi ya berhubung ane uda punya Boomphones ini, ga beli lagi deh. Ane lanjut dengar musik dan main game dengan speaker ini.

Karena boomphones ini lebih arah ke bass, ane juga jadi terbawa preferensi musik nya ke arah yang metal, rock dan sejenisnya; yang menekankan suara bass. Ane jadi cenderung mencari lagu2 yang bass oriented. Ketika cari lagu baru, itu juga jadi titik pentingnya. Lagu2 dari Icona Pop termasuk dalam daftar ane. Kemudian ane juga cari musik sejenis, dapat DJ tiesto. Ane pun download lagu2 nya, termasuk yang remix nya. Ane juga ada nonton GTA V funny moment dari redkeymon, yang mana background music nya juga termasuk OK2 semua.

Spoiler for Skip lagi:


Loncatan kedua
Waktu itu, stock belum ready. Ane sempat menunggu beberapa minggu ampe akhirnya ada notif bahwa barang ready stok. Akhirnya cepat2 pesan dah (bersamaan dengan barang lain), bayar dan menunggu beberapa hari hingga pesanan tiba. Nah ketika T2 Turbine ini tiba, ane pun unboxing pas jam makan siang nya. Dicas dulu bentar, sambil baca2 kitab suci nya (kertas manual). Pigi makan siang dan setelah balik baru tes. Langsung buka bluetooth di HH, on kan T2 Turbine ini, pairing sangat gampang, dan uda paired. Buka musixmatch, tanpa setel volume dan langsung tes play lagu Passion Pit - Carried Away (Tiesto Remix).mp3 – 320 kbps.

Seketika itu juga ane terkejut! Suara bass nya dahsyat luar biasa, menggemparkan bumi dan langit, membelah benua dan samudera, melampui celah ruang dan waktu, menembus batas-batas kehidupan serta menaklukkan seluruh alam semesta beserta isinya!!! Ane tidak peduli lagi apakah bumi kita bulat, datar, tabung, piramid ataupun dodekahedron; setelah dengar suaranya ane serasa punya dunia sendiri. Dinding pembatas audiophile pun runtuh dan hancur berantakan, level up lagi ke tingkatan baru. Sepersekian detik itu juga, ane sempat berpikir bahwa selama ini ane hanya mendengarkan suara musik kresek dari speaker/headphone murahan.

Ok, ane akui ane terlalu berlebihan di paragraf sebelumnya emoticon-Malu (S) Tapi kurang lebih seperti itulah yang terjadi saat itu. Adanya breakthrough yang mirip ketika ane pertama kali pakai boomphones. Malamnya setelah pulang rumah, ane melakukan ritual yang sama, yaitu mendengarkan ulang mayoritas lagu-lagu favorit ane. Dan memang ternyata beda banget hasilnya. Bass nya sangat terasa bedanya, background sound bisa terdengar dengan lebih jelas. Ternyata selama ini musik yang ane dengar itu seperti ini. Langsung dah jatuh ke godaan headphone ini, susah kembali ke speaker/headset lama. One way trip, never go back.
Spoiler for Never Go Back:

Mayoritas musik ane adalah mp3 256-320 kbps, dan lagu favorit ane kebanyakan penuh dengan bass. Ketika ane tes dengar lagu classic, sekalipun flac pun, suara memang terasa lebih bagus, tapi tidak sesignifikan di lagu-lagu bass-oriented. Jadi untuk lagu2 classic, tidak banyak perubahan drastis. Tapi ini tidak masalah buat ane, karena memang ane lebih ke bass nya. Tapi ini juga bukan berarti yang ga gitu condong bass, tidak akan merasakan peningkatan apapun. Lebih jernih, iya; tapi hanya tidak sesignifikan seperti bass nya.

Background sound ini terbawa ampe ke game juga. Ketika main game FPS, misalnya CS, COD sejenis; suara tembakan lebih jelas, langkah kaki lebih terdengar dan background sound effect lebih jelas dibanding lewat speaker ataupun headset zipper. Bahkan ketika ane barusan beli, waktu itu ane lagi main Talos Principle, game puzzle dengan POV versi FPS. Ane memang lebih sering pake headphone pas uda mulai agak larut malam, karena kalau abang dan kakak ane belum tidur, nanti begitu ane pasang headphone ini, bakalan susah kalau mau bicara dengan ane (sudah terjerumus ke dunia sendiri, tidak terdengar suara luar). Nah, ada di beberapa level tertentu di Talos Principle, background musik nya berbeda-beda. Memang musiknya hanya sejenis instrumental music aja. Tapi ada satu point di mana ada suara seperti jeritan wanita melengking di kejauhan (terkesan berasal dari luar headphone). Beberapa kali ane sempat terkejut dan langsung melepas headphone; karena suara nya terdengar seperti dari rumah sebelah di belakang ane. Tapi suaranya terlalu cepat hilang, jadi tidak sempat dicek tanpa headphone. Ane abaikan saja dengan mengganggap mungkin memang cuma suara dari game (tapi masih tetap bertanya2). Suara ini tidak terdengar pas ane pake speaker boomphones, makanya ane masih sangsi apa memang ini suara game atau suara misterius dari rumah sebelah emoticon-Takut (S) Ane masih sempat terkejut beberapa kali lagi, karena suara ini munculnya sangat random.

Akhirnya suatu malam, ane lagi berpikir keras cara menyelesaikan puzzle tertentu. Jadi ane pas lagi melepas/pasang headphone supaya nyaman. Ketika itu juga suara nya muncul dan langsung terputus (tidak terdengar full) ketika ane lepas headphonenya. Baru deh konfirm memang selama ini itu suara dari game nya. Background sound yang terlalu nyata membuat susah membedakan suara nya berasal dari game atau luar. Jadi bagi agan yang suka film horror dan sound efek menggerikan, boleh tes nontonnya malam2 pake headphone ini. Dan ane ucapkan selamat bermimpi buruk dan ngompol di celana emoticon-Ngakak (S)
Diubah oleh Desmanto
c. Perbandingan kualitas audio
Dari cerita panjang di atas, agan sudah tau bahwa T2 Turbine berada di mata rantai level tertinggi. Jadi ane melakukan pembuktian terbalik lagi untuk memastikan bahwa perbedaan yang terdengar bukan plasebo ataupun semu. Karena kalau memang benar, maka seharusnya ketika ane mendengarkan lewat headset dan speaker sebelumnya, pasti akan terasa bedanya, telinga ane akan menjerit karena perbedaan kualitas.

Ane pun melakukan serangkaian tes untuk mendengarkan sample musik yang sama, Passion Pit - Carried Away (Tiesto Remix).mp3. Tidak bisa blind test, karena device lain kan headset, jadi pasti ketauan ukuran fisiknya.
1. Ane tes pake QCY Q8 kembali, dan memang tidak berharap apa2 (kan mono nya saja). Hasilnya sudah tau, kualitas beda jauh.
2. Ane kemudian tes memakai headset zipper ke Pureshot Plus 2, ternyata benar, ada yang kurang ketika mendengarkan musik yang sama. Suara bass terasa kasar dibanding T2 Turbine.
3. Tes bluetrek musicall dengan headset zipper, eh rupanya suaranya masih kalah vs DAC internalnya Pureshot Plus 2. Sebelumnya, waktu ane masih sering pake bluetrek tu, ane masih pake Pureshot; yang memang secara DAC masih di bawah Pureshot Plus 2.
4. Tes dengan speaker Boomphones, memang terasa kurang bassnya dibanding yang T2 Turbine. Tapi wajar saja, karena beda pemakaian (kan ga mungkin boomphones nya dipasang di telinga emoticon-Ngakak (S)). Dan ane masih tetap terpaksa pake speaker ini kok kalau seandainya ane masih butuh dengar suara dari luar. (takut dipanggil ga nyahut)

Hasil akhirnya memang masih tetap T2 Turbine dengan koneksi bluetooth lah yang terbaik (DAC & AMP nya T2 Turbine). Tapi karena Headphone ini masih support koneksi via audio jack 3.5 mm, maka ane masih bisa tes dengan cara lain. Artinya ane bisa cek, apakah suara yang bagus itu lebih disebabkan oleh DAC & AMP atau oleh speakernya yang sebesar 57 mm (kita tahu dua ini berpengaruh tentunya).
1. T2 Turbine koneksi bluetooth dan audio sharing ke headset zipper via kabel audio 3.5 mm jack. Hasilnya suara di speaker T2 Turbine tetap dahsyat seperti biasa. Di headset zipper, suaranya juga max sampai kualitas headsetnya, masih kalah dibanding speaker bawaan T2 turbine. Berarti meskipun DAC & AMP nya sama (dari T2 Turbine), namun ukuran driver nya tetap berpengaruh (wajar donk, headset zipper cuma beberapa mm)
Spoiler for T2 Turbine share ke headset zipper:

2. T2 Turbine koneksi bluetooth dan audio sharing ke Boomphones pocket speaker via kabel audio 3.5 mm jack. Sama seperti headset zipper di atas, boomphones akan max sampai kualitasnya. Namun karena ini beda pemakaian, jadi agak susah disamakan penilaiannya. Ane mendengarnya hampir sama dengan Boomphones dicolok langsung ke Motherboard PC ane.
3. T2 Turbine off, koneksi via kabel audio ke Pureshot Plus 2. Hasilnya suaranya sedikit kurang nendang dibanding kalau konek via bluetooth (Dolby Digital Plus aktif). DAC bawaan Pureshot Plus 2 adalah Qualcomm WCD9330, 24 bit 192 Khz dengan AMP standard built-in. Artinya DAC & AMP nya Pureshot Plus 2 hanya sedikit di bawah DAC & AMP nya T2 Turbine.
4. T2 Turbine off, koneksi via kabel audio ke Motherboard PC Gigabyte GA-H97-Gaming 3. Hasilnya suaranya masih di bawah Pureshot Plus 2. Gigabyte H97 GA3 ini menggunakan soundcard Realtek HDA bawaan dengan setelan bass uda ane set ke 100%. Untuk bass yang seharusnya terdengar jelas di T2 Turbine via bluetooth, terdengar sedikit “menggulung” (ane susah jelasin seperti apa). Artinya DAC & AMP nya MB Gigabyte ane masih kalah vs Pureshot Plus 2 maupun T2 Turbine.
5. T2 Turbine off, koneksi via kable audio ke Bluetrek Musicall. Hasilnya suaranya masih di bawah Motherboard ane. Bass nya hampir tidak terdengar, dan beat nya samar2. Artinya meskipun driver T2 Turbine besar, tapi kalau DAC & AMP sumber audio nya jelek, ya hasilnya masih tetap jelek. (padahal dulu ane ga bisa bedain)
Spoiler for T2 Turbine off, line in dari Bluetrek Musicall:


Hasil akhirnya, lagi2 T2 Turbine dengan koneksi bluetooth lah yang paling unggul, baik dari segi DAC & AMP maupun driver speaker nya. Ane hanya terpaksa menggunakan mode wired ke PC kalau lagi perlu real time audio, seperti pas main game FPS. Namun ini adalah testing berurut. Jika ane dikasih blind test, ane mungkin agak susah membedakan apakah ini koneksi via bluetooth dengan DAC & AMP T2 Turbine ataupun koneksi kabel dari DAC & AMP Pureshot Plus 2 ataupun PC. Kalau dari Bluetrek Musicall sih uda jelas2 beda kasta, gampang dibedakan.

Setelah melakukan berbagai tes di atas dan tes2 lain, ane cenderung menyimpulkan bahwa yang paling berpengaruh terhadap kualitas audio T2 Turbine ini adalah AMP nya (Amplifier). Karena bisa terlihat bahwa koneksi bluetooth A2DP nya hanya menggunakan audio bit depth 16 bit / 44,1 Khz dengan max bitrate 328 Kbps; tapi hasil suaranya bisa mengalahkan DAC WC9330 di SD617 yang sudah 24 bit / 192 Khz. Jadi kalau dilihat seperti ini, 24 bit / 192 Khz di HH terasa jadi gimmick ataupun overkill. Vendor perlu lebih fokus ke AMP nya dibanding DAC nya.

d. Microphone
Bagi agan yang ingin beli headphone ini dan berharap lebih untuk kualitas microphone, pasti akan kecewa berat. Mic nya berukuran kecil dan terletak di bagian bawah speaker kanan. Mic hanya bisa digunakan di mode HFP, atau lebih tepatnya hanya untuk telepon saja. Itupun ane tes di HH ane, mic bluetoothnya tidak terpake. Kalau mic dipake untuk rekam lagu pasti akan beda jauh dengan harapan. Ya, memang dari awal yang dijual headphone ini adalah kualitas audio speaker nya, bukan mic nya.

Ane tes untuk mencoba merekam dari mic bluetoothnya di Android. Tes berbagai app, gagal. Pake fitur google voice search, yang terpakai juga masih mic bawaan HH. Uda dicek use bluetooth mic, tapi pas mo OK google, susah banget detect nya. Nyerah dah. Ane tes pake mic nya di PC, ternyata hanya bisa dipake dalam mode HFP. Driver Bluetooth PC ane kalau sudah mode HFP, kualitas suara akan turun menjadi mono 16 Khz. Setelah setting entah apa saja di bagian sound, akhirnya bisa pake mic dari bluetooth nya. Tapi hasilnya menurut ane sih tidak bagus dan diperparah oleh latency 0,3 detik nya. Mungkin driver bluetooth ane ikut berpengaruh. Tapi yang jelas mic nya tidak cocok untuk voice recognition, recording, karaoke maupun voice command; hanya cocok untuk telephony saja. Ane memang masih belum beruntung untuk bisa mendayagunakan mic di bluetooth headphone/headset manapun.

e. Volume Headphone
Volume +/- button dari headphone bisa digunakan untuk menaikkan/menurunkan volume secara terpisah dari sumber audio. Intinya, sama seperti bluetooth audio device lain yang menyediakan pengaturan volume terpisah dari sumber audionya. Volume step total ada 16, default dari unboxing di sekitar 12. Kalau ditekan volume - berkali2 sampai mentok, akan ada warning “Minimum Volume”. Begitu juga kalau ditekan volume + sampai maks, akan ada warning “Maximum Volume”.
Spoiler for Volume 50% di HH:

Dengan volume step ane set ke 12 (volume maks lalu tekan volume - 4 kali), play musik dengan volume bluetooth di HH 50% ataupun PC sekitar 20-30% uda cukup keras dan memblok hampir semua suara dari luar. Ane bahkan tidak tahu kalau di luar sedang hujan deras ketika dengar musik favorit. Baru ketahuan setelah ane lepas dan perlu ke kamar kecil. Ane bisa menurunkan volume step headphone ke 4 dan menaikkan volume HH/PC ke 80% untuk mengharapkan volume suara akhir yang sama, tapi ini tidak terjadi. Dari beberapa tes, ternyata volume button onboard yang lebih berpengaruh terhadap volume akhir (dan kualitas suaranya). Jadi Volume step headphone 12 dengan volume sumber 25%, hasilnya bass nya lebih bagus dan lebih keras dibanding volume step headphone 4 dengan volume sumber 75%. Ane belum pernah tes volume maksimal dari Headphone ini (volume step 16 dan sumber 100%), takut overload malah jadi pecah driver speakernya.

Untuk telepon, suaranya juga sangat kuat, jauh lebih kuat dibanding headset yang rata2 meskipun uda diset max volume, masih tetap ga bisa mengalahkan noise dari luar.

f. Sound Leak
Satu hal yang perlu diperhatikan dari speaker ini adalah sound leak nya. Pada volume step headphone 12 dan HH 50% atau PC 30%, suara yang kita dengar memang sanggup memblok suara dari luar. Namun karena rancangan speakernya ada lubang angin nya, tetap ada suara yang bocor keluar (sound leak). Jadi orang di sekitar agan masih tetap bisa mendengar musik yang sedang agan dengarkan secara samar2. Ini bisa dicek dengan cara melepas headphone, kemudian menggunakan kedua telapak tangan menutupi kedua speakernya, dan coba tes apakah masih terdengar suara musiknya.
Spoiler for Sound Leak Check:

Tentunya ini tidak bagus kalau agan pakainya di ruangan yang tenang ataupun dipenuhi orang2 yang sensitif terhadap suara musik meskipun samar2, seperti di perpustakaan, coffee shop, ataupun sekedar di rumah bersama famili/teman kos yang tidak suka musik agan. Ini juga berarti kalau agan perlu privasi, perlu menonton video edukasi biologis (Biology E-learning Video Tutorial), maka pastikan untuk menyetel volume nya ke minimum dan mengecek sound leak nya dulu sebelum melanjutkan. emoticon-Big Grin

g. Dynamic Frequency Response
Frequency response yang tertera di spesifikasi adalah frekuensi auditori manusia pada umumnya. Ane sengaja tes dengan app frequency generator pro dan generate dari frekuensi rendah (infrasonik) ampe frekuensi tinggi (ultrasonik). Pada frekuensi rendah, sekitar 16 Hz ane masih bisa mendengar nadanya. (Padahal di headset zipper ane, nada baru mulai terdengar setelah frekuensi di atas 30 Hz). Tapi memang perlu disetel pada volume lebih tinggi untuk bisa mendengarkannya. Bahkan termasuk frekuensi misterius 19 Hz yang diklaim adalah frekuensi resonansi bola mata, juga ane tes dan bisa terdengar jelas. Ane tes dengar selama beberapa menit, ane tidak merasakan pergerakan bola mata yang tidak terprediksi (mungkin perlu lebih lama lagi). Sempat dites juga dengan frekuensi lebih rendah dan yang terdengar hanya bunyi sejenis beat dengan jeda lebih pendek. Bagaimana juga, memang ternyata mendengarkan frekuensi rendah bikin capek. Ane merasa tidak nyaman kalau dilanjutkan, jadi ane hentikan ja dan akan eksperimen lagi di lain waktu.
Spoiler for Frequency Response:

Untuk frekuensi tinggi juga sempat ane tes. Namun berhubung ane sudah “tua”, maka dari hasil testing, ane cuma bisa mendengarkan secara jelas sampai max frequency 16,3 – 16,5 Khz. Di atas itu masih terdengar kalau didengar secara berurut dari frequency generator nya, suaranya sebenarnya masih bisa “dirasakan” sampai frekuensi di atas 20 Khz. Tapi kalau blind test pasti tidak bisa dibedakan lagi. Mendengarkan frekuensi tinggi terlalu lama akan mempengaruhi telinga, jadi bagusan jangan tes lama2.

Ane tes binaural beats, yang menghasilkan frekuensi yang berbeda di speaker kanan dan kiri; untuk mengkondisikan otak berada pada frekuensi tertentu. Hasilnya juga lebih terasa dibanding headset biasa. Mungkin karena driver nya besar makanya lebih akurat frekuensinya.

h. Jarak bluetooth
Jarak bluetooth yang tertera di spesifikasi adalah 10 meter, seperti kebanyakan standard bluetooth lainnya. Namun karena ini adalah headphone, tentunya kita berharap lebih, terutama karena antena nya pasti lebih luas dibanding headset yang ukurannya lebih kecil. Dan ternyata memang tidak mengecewakan. Dipakai konek ke Hisense Pureshot Plus 2 ane, yang memakai chipset Qualcomm SD617 dengan Bluetooth 4.1; ternyata mampu mencapai sekitar 15 meter, dengan satu tembok triplek penghalang. Biasanya dengan bluetooth headset lain, jarak 8 meter sudah mulai terdengar putus2. Ini pada jarak 15 meter dengan free position (ane gonta/I posisi tubuh), musik masih tetap lancar tidak ada putus sama sekali. Ane tes lebih dari 30 menit dan jalan bolak/I di lantai 1 dan memang tidak ada putus sama sekali selama itu.

Ane tes lagi seberapa jauh sampai akhirnya putus2, dan ternyata cuma selisih 2 meter lagi, yaitu di 17 meter dengan satu tembok triplek penghalang. Sampai jarak ini, ane bisa putar2, gonta/I posisi tubuh, musik masih tetap lancar. Di atas itu, mungkin masih lancar kalau ane tidak ganti posisi tubuh; tapi sudah ada intermitten putus2 jika bergerak. Sementara jika ada tembok batu penghalang, di jarak 10 meter sudah putus2.

Dengan begitu, jika agan taruh HH agan di tengah rumah berukuran 4x16 ataupun 8x16, agan bebas bergerak di satu lantai tersebut dan masih tetap bisa mendengarkan musik tanpa putus2. Tentunya hasilnya bisa berbeda2 tergantung berbagai faktor seperti interferensi frekuensi 2,4 Ghz lain, tembok penghalang, material di sekitar ruangan, kekuatan pemancaran bluetooth HH nya, gangguan mistis dan sebagainya.

Ketika HH dilock dan layar off, kemudian ditaruh di dalam kantong (jarak tidak lebih dari 1 meter); ada satu atau dua kali suara musiknya akan mengalami gangguan putus sebentar per 30 menit. Ane tau itu adalah problem dari HH nya, karena terjadi juga dengan bluetooth headset/headphone lain. Powersave dari android sering kali berusaha untuk mengganggu music app nya. Buktinya pada saat screen tidak pernah off di atas, tidak ada putus sama sekali meskipun sampai jarak di atas 10 meter.

i. Interferensi
Dengan memakai teknologi bluetooth, tentunya sama seperti teknologi wireless lainnya, Headphone ini pasti akan mengalami interferensi dari sinyal lain di frekuensi yang sama, seperti wifi, microwave, bluetooth lain, keyboard/mouse receiver dan sebagainya. Dari semua itu, biasanya wifi lah yang lebih sering mengganggu, karena biasanya daya transmisi pas aktif lebih tinggi. Dari hasil tes ane, Headphone ini cukup kebal terhadap gangguan transmisi dari wifi. Ane biasanya ada transfer data antara HH dengan PC via wifi, baik via esFTP, Samba share ataupun sejenisnya. Kecepatan transfer berkisar 3-5,5 MB/s. Bluetooh headset/headphone lain akan timbul-tenggelam suaranya. Dari sebulan pemakaian, meskipun dengan koneksi T2 Turbine ini berada di jalur persilangan dengan sinyal wifi nya, ane hanya mengalami satu kali saja interferensi (musik putus2) ketika mendengarkan musik. Ane bahkan sempat dekatkan HH ke Headphone, dikelilingin sambil masih transfer data sekaligus dengar musik, suaranya tidak terpengaruh sama sekali. Bisa jadi yang waktu interferensi itu, PC ane lah yang ngelag makanya musiknya putus2; bukan koneksi bluetoothnya. Ini adalah hasil testing ane, hasil di tempat lain bisa saja berbeda lagi, tergantung berbagai faktor interferensi lainnya.

Satu hal lagi yang mungkin dipikir sebagai interferensi, yaitu adanya suara hissing pada saat headphone idle, tidak ada audio apapun. Ini juga bisa didengar ketika pergantian lagu, ketika ada keheningan sesaat. Ada yang bilang ini adalah Noise Cancellation nya. Namun seperti yang ane kasih tau di atas, bahwa ane tidak bisa membedakan apakah noise cancellation nya berfungsi atau tidak. Yang cukup mengherankan adalah ini cenderung lebih keras hissingnya ketika ada tab kaskus di chrome yang terbuka. Ane juga tidak mengerti kenapa begitu. Tapi dari berbagai tes, begitu buka satu aja tab kaskus, suara hissing nya muncul. Ini terjadi di PC win 7 64 bit, chrome terbaru. Untungnya suara hissing tidak terdengar sama sekali ketika play musik ataupun video. (tertutupi)
Diubah oleh Desmanto
j. Latency
Sama seperti kebanyakan Bluetooth Headset/headphone di luar sana, T2 Turbine juga memiliki latency yang disebabkan oleh keterbatasan media codec bluetooth, di mana audio biasanya akan terlambat beberapa ratus milidetik. T2 Turbine menggunakan Bluetooth v4.1 dengan media codec masih Audio SBC, seperti yang digunakan mayoritas Bluetooth device. A2DP dengan codec Audio SBC ini memang memiliki latency yang cukup mengganggu untuk keperluan audio yang real time.

Dari hasil tes sederhana ane, ane menemukan bahwa latency nya jika terhubung dengan mode bluetooth ke Pureshot Plus 2 rata2 di 360 ms (miliseconds). Sementara jika konek ke PC, rata2 di 330 ms. Testing ini tidaklah akurat, karena ane menggunakan microphone pureshot ane sebagai perekam nya. Roundtrip nya audio latency pureshot ane sekitar 80 ms, berarti untuk rekamnya sekitar 1/2 nya 40 ms. Di pureshot Plus 2, juga ada latency outnya sekitar 35 ms (1/2 dari 70 ms), sementara PC di anggap real time. Dengan mengurangkan latency pureshot sebagai perekam, berarti latency bluetooth nya adalah sekitar 285 ms di Pureshot Plus 2 dan 290 ms di PC. Ane bulatkan dah jadi 300 ms. Artinya ada jeda 0,3 detik pada saat audio diplay dan akhirnya terdengar di headphone. Ini juga berarti audio terlambat 0,3 detik dari video nya jika nonton film.

Mungkin ada yang berpikir bahwa 0,3 detik atau 300 ms sangatlah singkat, tidak masalah. Untuk dengar musik, nonton video, youtube an memang tidak masalah. Kalaupun nonton video terasa subtitle jeda 0,3 detik, bisa disetel audio shift di Media player classic (Windows) ataupun MX Player (Android) sebanyak -300 ms. Tapi jeda 300 ms ini adalah masalah besar bagi aplikasi ataupun game yang membutuhkan real time audio processing. Sederhananya saja, jika agan rekam atau karaoke via mic external lainnya, suara agan baru akan terdengar di headphone 0,3 detik kemudian. Jeda ini keliatan sepele, tapi membuat kita sangat tidak nyaman dan jadi terbata2. Contoh lainnya jika main piano, setelah ditekan tuts nya, bunyi baru akan muncul 0,3 detik kemudian, membuat tangan kita menjadi tidak sinkron.

Yang lebih parah adalah di game yang sifatnya butuh real time audio, seperti semua game FPS shooter (contohnya CS GO, Call of Duty Series, Battlefield series, overwatch, dsb). Selisih 300 ms itu sangat besar. Biasanya game berjalan di 60 fps. 300 ms berarti 18 frame. Audio nya delay 18 frame terhadap apa yang sedang terjadi di game. 18 frame ini bisa menjadi pembeda apakah agan kena headshot atau bisa selamat, antara menang atau kalah. Kelalaian mendengarkan suara musuh mendekat, bomb yang akan meledak, senjata tertentu yang mematikan; bisa membuat perbedaan jauh di game seperti itu. Game2 lain yang akan mengalami gangguan dari latency ini seperti game genre RTS (DOTA, LOL), hand coordination (Ayo Dance), Racing (NFS), VR games dan sejenisnya. Itulah sebabnya mayoritas pro gamer masih tetap memakai wired headphone di game mereka, yang nampaknya soooo yester-year. Padahal memang latency seperti ini sangat tidak bisa ditolerir, terutama bagi mereka yang sudah terbiasa dengan monitor 144 Hz. (bisa jeda 44 frame)

Tapi kalau game2 casual yang mana delay audio ini tidak critical terhadap penentuan menang tidaknya, maka tidak masalah. Mayoritas game puzzle, education, mysteries case, RPG turn based, Strategy dan sejenisnya tidak akan begitu masalah dengan latency ini. Termasuk game Talos Principle yang baru ane tamatkan bersama Headphone ini.

Untuk game2 yang membutuhkan real time audio ini, tidak ada pilihan lain; agan perlu colok kabel dan menggunakan mode wired. Dari pengukuran, ane menemukan latency wired di sekitar 150 ms; tapi ane tau ini tidak akurat. Karena pada saat main game CS, bisa terlihat jelas perbedaannya tidak ada delay sama sekali antara graphic dan audio nya (atau delaynya terlalu kecil, tidak mungkin sampai 150 ms). Hal yang sama akan terjadi jika agan main game di HH dengan genre yang mirip. Jika dirasa delay nya terlalu jauh, maka sudah saatnya agan pake mode wired. Ya, untung aja headphone ini support dua mode.

Untuk bisa menikmatin audio dari bluetooh dengan latency rendah, bluetoothnya harus support AptX. T2 Turbine tidak support media codec AptX, yang biasanya hanya terdapat di bluetooth headset/headphone high-end. AptX menjanjikan latency yang jauh lebih kecil, sehingga bisa dipakai untuk gaming sekalipun. Namun karena AptX ini masih tergolong baru, masih sedikit vendor yang akan support, itupun hanya di kelas papan atas saja. Apalagi support AptX ini juga hanya ada di bluetooth chipset ataupun HH flagship, sehingga lebih sedikit lagi pangsa pasarnya.

k. Battery Life
Bicara soal Battery life, memang stamina headphone ini patut diacung jempol. Dengan volume 12 di headphone (75%) dan 50% di HH atau 30% di PC, ane sanggup pake headphone ini sekitar 5 hari sebelum akhirnya dicas. Perhari nya ane pake kira2 5 jam, dengan sabtu minggu lebih lama tentunya. Berarti jika ditotal2, ane pake lebih dari 30 jam. Klaim nya bisa sampai 40 jam, ya kurang lebih mendekati lah, karena kan masih tergantung volume nya. Bahkan pada saat ane liat ada kontes ERC ini, ane sengaja mo habiskan batere nya supaya bisa dites cas dari keadaan kosong; ane butuh 3,5 hari untuk menghabiskannya emoticon-Ngakak (S) (bukan dari full). Kalau dipakai di HH, dengan anggapan 1 kali full charge adalah 1 ronde, maka headphone ini sanggup tahan 5-6 ronde sebelum akhirnya lowbat. (ada yang bisa lawan? emoticon-Big Grin) Kalau agan pakainya moderate 3-4 jam perhari, ya kurang lebih bisa tahan 1 minggu gitu.

Tidak ada indikasi sisa batere headphone ini tinggal berapa persen. App ISSC juga tidak memberikan data akurat. Jadi paling ditebak2 saja uda pake berapa hari dengan rata2 pemakaian berapa jam perharinya. Makanya bagusan dicas aja per beberapa hari. Batere lithium ini memang bagusan lebih sering dicas aja kalau memang bisa. Jadi kalau ane ingat (bisa ampe lupa cas emoticon-Hammer (S)), ya ane cas aja ampe mo pake baru dicabut.

Ketika low bat, maka akan ada audio warning “battery low” per 19 detik (angka aneh, tapi memang itulah hasil tes berkali2). Pada saat “battery low” disebutkan per 19 detik tadi, LED biru akan berkedip cepat beberapa kali. Sehingga kalau mungkin battery low nya terjadi ketika agan lepas headphonenya, maka minimal agan bisa melihat kedap/i nya lebih cepat. Ketika dibiarin lebih lama (sekitar 15 menit tergantung pemakaian), maka kedipannya pun mulai berwarna merah (setiap 19 detik). Audio warning ini berlangsung selama 2 detik, menimpa suara musiknya, pasti akan mengganggu musik agan kalau diabaikan. Jadi agan hanya akan mendapatkan 17 detik ketenangan, sebelum “battery low” warning mencuri 2 detik dari musiknya. Saran ane segera dicas aja. Sangat tidak nyaman dengar musik dengan adanya warning itu, seperti ditampar setiap 17 detik sekali.

Setelah menyiksa telinga ane selama hampir 30 menit, headphone pun akhirnya tertidur dengan lelap tanpa pemberitahuan lain lagi. Ane langsung tes hidupkan lagi, ternyata masih bisa hidup dan sempat pairing lagi dengan PC. Masih sempat play musik selama 10 detik lebih. Tapi sebelum ada pengumuman “battery low” di interval 19 detik, headphone langsung padam lagi tanpa indikasi lain. Jadi pengumuman warning “battery low” ini berlangsung sekitar 20-30 menit (tergantung volume nya) sebelum akhirnya padam total. Setelah batere total habis sampai padam pun, agan tetap bisa menggunakan 3.5 mm audio jack nya untuk tetap melanjutkan musik tanpa perlu dicas. Tentunya ini berarti agan tidak konek lewat bluetooth dan memakai DAC bawaan dari sumber audio, bukan DAC T2 Turbine ini lagi.

l. Charging
Setelah batere habis, ane cas dan lampu LED akan menyala merah. Tidak ada charger yang tersedia di paket pembelian, jadi ane perlu pake tenaga dalam untuk ngecharge nya. Eh, maksudnya charger HH ane. Di kitab suci (buku manual), ada info bahwa harus memakai charger dengan tegangan 5 Volt dan output lebih dari 400 mA. Ane memakai charger dual port, dengan output max 2 A nya, memakai kabel bawaan dan kemudian diukur dengan USB power meter. Bisa terlihat bahwa arus in adalah sekitar 0,36 A. Tegangan charger dalam kondisi tanpa load adalah 5,20 volt; turun menjadi 5,11 Volt ketika arus in 0,36 A ini. Ane pun mulai merekam dari sejak charging ini sampai charging selesai, untuk mengecek pola charging dan kapasitas maksimum dari baterenya. Perlu diketahui bahwa charging dimulai dari kondisi yang boleh dibilang benar2 kosong.
Spoiler for Cas dari Kosong:

Selama charging arus in 0,36 A ini akan menurun perlahan hingga posisi terakhir di 0,07 A; sebelumnya akhirnya cut off dan langsung jadi 0. Suhu selama charging tidak lebih dari 34 derajat di bagian speaker kanan (tempat colok microusb nya), dan hanya sekitar 31 derajat di bagian speaker kiri. Perlu diketahui termperature ruangan saat itu (meja, kursi, dan barang sekitar) hanya sekitar 30-31 derajat. Wajar saja adem, karena memang arus in juga tidak sampai 0,5 A. Total charging time adalah 2 jam 20 menit lebih, dengan total capacity in adalah 563 mAh. Dalam pengetesan ane dengan device lain, biasanya capacity in lebih dari kapasitas asli. Jadi seharusnya battery nya cuma 550 mAh saja. Herannya adalah setelah penuh ini pun, arus in uda menunjukkan 0 A, tapi LED masih tetap merah. Di buku petunjuk katanya sih seharusnya jadi biru ataupun LED mati.
Spoiler for Battery Full:

Dengan arus in hanya max di 0,36 A, berarti agan bisa menggunakan charger ori dari HH mana saja untuk ngecas Headphone ini. Bisa juga pake usb port 2.0 dari PC/laptop, termasuk yang port depan sekalipun. Mo pake powerbank juga bisa, port usb dari router wifi juga bisa. Atau mungkin lebih anti mainstream, bisa pake kabel OTG dari HH yang support untuk ngecas nya.

Headphone ini tidak support quick charge atau teknologi fast charging lainnya. Ya memang tidak diperlukan sama sekali, wong baterenya cuma 550 mAh. Dengan pengecasan 10 menit aja pun kalau dari lowbat total, dengan arus in sekitar 0,36 A; maka akan sudah terisi sekitar 60 mAh. Katakanlah 550 mAh itu cuma bisa pakai 30 jam seperti hasil tes ane. Maka 60 mAh / 550 mAh x 3 jam = 3,27 jam. Atau boleh dibilang ngecas 10 menit saja bisa dengar musik 3 jam. Mana perlu quick charge lagi, toh Headphone uda memang awet dari sono nya.

Untuk ukuran batere 550 mAh, T2 Turbine ini termasuk sudah sangat awet baterenya. Entah bagaimana caranya Bluedio bisa membuat headphone nya sehemat ini. Beberapa tipe Bluetooth headphone mereka juga diklaim sanggup tahan 40 jam. Mayoritas Bluetooth Headphone dari brand lain hanya sanggup bertahan 8 -12 jam (sesuai spek), dengan batere yang mungkin hanya 30 % lebih rendah. Jadi kalau soal battery life, memang ini adalah keunggulan Bluedio tersendiri.

09. Konektivitas / addon
Untuk addon tambahan, salah satu fitur yang sebenarnya bisa dibahas di sini adalah audio sharing yang bisa dihack menjadi Bluetooth audio receiver. Tapi karena sudah dibahas di bagian audio sharing, jadi tidak ane bahas lagi di sini. Tersisa lah media button yang merupakan hardware dari AVRCP nya.

a. Keyevent media button
Ketika dites di PC menggunakan autohotkey InstallKeybdHook, ketiga media button T2 Turbine akan menghasilkan scan code di bawah
B1 010 Media_Prev
B0 019 Media_Next
B3 022 Media_Play_Pause
Sementara jika dicek di Android dengan KeyEvent Display, hasilnya adalah
Code 88 SC 165 Media_Prev
Code 87 SC 163 Media_Next
Code 126 SC 200 Media_Play_Pause

b. Tasker/Autohotkey/EventGhost integration
Dengan adanya scancode dari ketiga media button nya, maka Headphone ini bisa dibuat sebagai remote control untuk keperluan lain. Yang diperlukan hanyalah mapping media button nya ke app yang support automation, seperti tasker di Android ataupun Autohotkey dan EventGhost di Windows. Ketika terjadi perkimpoian media button ini dengan app tersebut, secara harafiah boleh dibilang headphone ini mendadak menjadi super power. Karena apapun yang sudah digabungkan dengan mereka memang akan mendapatkan kemampuan untuk melakukan apapun yang sanggup dilakukan app nya.

Sebagai beberapa contoh sederhana, dengan mapping media button play/pause nya ke tasker dengan task auto input ataupun action button camera, ane bisa ngambil foto dengan cara tap di play/pause nya headphone ini. Tentunya ini sangat tidak praktis, karena headphone nya terlalu besar untuk dijadikan sebagai remote. Contoh lain adalah task juga bisa dimapping ke device lain yang pernah ane review juga di forum ini, yaitu Orvibo Wifi Smart Socket S20. Dengan penggabungan tersebut, ane bisa on/off alat elektronik hanya dengan tombol di headphone ini. Ini terutama lebih ke jahilin orang (prank). Kenapa headphone ini perfect jadi triggernya? Karena hampir tidak ada orang yang akan berpikir bahwa agan bisa on / off lampu nya lewat bluetooth headphone, atau membuat kipas angin hidup dan berputar tiba2 di tengah film horror emoticon-Ngakak (S) Agan akan menjadi suspect yang paling terakhir. emoticon-Big Grin

Tentunya ane ga share lagi cara mapping nya ke tasker lagi, karena akan menjadi tutor panjang tersendiri. Tujuan utama beli headphone ini kan karena kualitas suaranya. Jadi ini hanya sebagai bonus trik saja.

10. Kelebihan kekurangan
Setelah memakai kurang lebih 1 bulan, ane bisa menyimpulkan beberapa kelebihan dan kekurangan T2 Turbine ini. Untuk kelebihan sesuai spek, hanya akan ane sebutkan kalau memang lebih bagus dibanding bluetooth headset/headphone lain.
a. Kelebihan
01. Bisa dilipat, ada slider, ringan untuk ukurannya
02. Busa atas tidak menekan kepala, posisi speaker bisa diatur
03. Kualitas suara yang luar biasa dahsyat, bass-oriented
04. Batere tahan super lama, 40 jam
05. Audio sharing, yang bisa dihack menjadi Bluetooth audio receiver
06. Ada mode wired untuk keperluan low latency
07. Full immersive experience, tidak terganggu oleh suara luar
08. Jangkauan bluetooth di atas rata2, di atas 15 meter, lebih tahan interferensi wifi
09. Telephony supportnya tidak pilih2 HH, bisa terima panggilan
10. Multipoint 2 device dengan max paired 5 device
11. Ada app ISSC untuk ganti equalizer dan nama Headphone
12. Volume Headphone yang cukup kuat

b. Kekurangan
01. Plastik feel, tidak ada kesan premium
02. Mode wired tidak bisa menggunakan microphone nya
03. Kualitas microphone yang standard dan tidak berfungsi pas panggilan (hasil test ane)
04. Auto power save mode setelah 7 detik yang menganggu
05. Sound Leak yang mengganggu teman sekitar
06. Suara Hissing ketika idle
07. Latency bluetooth yang masih ada karena belum support AptX
08. Pada saat lowbat, warning “battery low” setiap 19 detik memaksa untuk dicas

11. Kompetitor & alternatif
Susah sekali untuk mencari kompetitor nya di level kualitas suara yang sama dengan T2 Turbine, di harga under 400K. Bukan karena tidak ada, tapi karena ane kan uda lama tidak beli headphone full cover seperti ini emoticon-Big Grin Dari Bluedio itu sendiri, ada Bluedio H+, harganya hampir sama, namun kualitas sedikit di bawah T2 ini, dengan bass yang kabarnya masih kalah dikit. Lalu ada pula Bluedio T3, yang tentunya adalah generasi ketiga, penerus T2 ini. Bedanya adalah uda metalik dan ada efek 3D surround sound (ga tau seperti apa), tapi sayangnya harganya hampir 2 kalinya T2.

Dari brand lain, mungkin ada Boomphones Headphone Phantom dan MEElectronics Air-Fi Runaway, tapi harganya juga hampir 2 kali nya T2. Sementara untuk harga yang lebih murah, ada banyak headphone tanpa merk ataupun merk tidak terkenal yang bisa jadi pilihan. Tapi, sekali agan uda pernah pake Headphone bagus seperti T2 Turbine ini, ane jamin agan ga pernah bisa kembali ke headphone murahan lagi. Telinga agan akan menjerit ketika diekspos dengan audio kualitas rendahan emoticon-Frown Ini adalah derita bagi yang audiophile nya uda naik level, budget headphone pun terpaksa naik. emoticon-Berduka (S) Jadi headphone yang lebih murah, under 200K mungkin akan tereliminasi total dari radar.

Alternatifnya, agan bisa pake headset biasa saja, yang cuma under 100K. Tapi lagi2 pengalaman audio nya pasti akan beda, wong ukurannya aja uda beda emoticon-Big Grin Alternatif lain, juga bisa beli speaker external saja yang support bluetooth seperti Boomphones pocket speaker ane.

12. Kesimpulan & epilog
Apakah ane nyesal beli T2 Turbine ini? Nyesal banget, kok gak dari dulu! Coba kalau ane dari dulu pake ini, kan ga perlu capek2 nyari yang lain lagi. T2 Turbine ini setidaknya uda ada di pasaran sejak 2015, tapi ane baru tau setelah pertengahan 2016.

Apakah worth dengan harga segitu? Dengan harga under 400K, worth banget dengan kualitas suara yang ditawarkan. Bagi agan2 yang sebelumnya cuma pake headset biasa, headphone murah ataupun headphone bluetooth tanpa merk, begitu switch ke T2 Turbine ini, ane yakin ga bakal kembali lagi. Apalagi jika agan termasuk yang bass-oriented seperti ane, maka semakin kuat alasan untuk memilih T2 Turbine ini. Tentunya tetap pertimbangkan juga kekurangannya yang tertera di atas. Jika agan bersedia menerima kekurangannya, maka selamat menempuh hidup yang bahagia dengan T2 Turbine ini.

Bagi yang sudah pake Headphone dengan kualitas di atas ini, yang harganya jutaan; kalau agan lagi berpikiran untuk mencari headphone alternatif dengan budget yang pas, maka bisa pertimbangkan T2 Turbine ini juga. Kualitas suara sih ane kurang tau jika dibandingkan dengan headphone papan atas. Tapi setidaknya dengan harga segitu, untuk jadi headphone alternatif uda termasuk cukup murah.

Akhir kata, ane mengucapkan terima kasih sudah membaca sepanjang ini. Mohon maaf kalau review nya terlalu panjang, ane tidak punya banyak waktu untuk membuatnya jadi lebih pendek lagi emoticon-Hammer (S) Mohon maaf juga bila ada kata2 yang salah, baik disengaja maupun tidak disengaja. Ane juga berterima kasih juga kepada Kaskus yang sudah menyelenggarakan ERC ini sehingga memotivasi ane untuk menyelesaikan review ini. Mudah2an review ini bermanfaat bagi kita semua.

Salam Dahsyat dan "Keep Reviewing"
emoticon-nulisah
Diubah oleh Desmanto

FAQ

FAQ

Q01. Harganya berapa gan?
Ans : Ane dapat di harga kurang dari 340K (di luar ongkir), tapi cuma ada stok warna hitam. Ada beberapa tempat lain yang jual 350-400K, lengkap warna hitam, putih, merah dan biru.

Q02. Mahal banget gan, apa layak harga segitu?
Ans : Layak sekali, bahkan melebihi ekspetasi. Kualitas suaranya jangan disamakan dengan bluetooth headset/headphone jangkrik-an.

Q03. Emank suaranya bagus?
Ans : Suaranya warbyazah, ntap, leh uga. Silahkan lihat lagi review ane di atas bagian Audiophile dan perbandingan kualitas suara

Q04. Belinya di mana gan?
Ans : BeOl aja gan (Belanja Online). emoticon-Big Grin Cari di toko langganan atau favorit agan. Yang jelas jangan tanya dimari, ane cuma user, review doank, ga jualan.

Q05. Volumenya cukup kuat gak untuk menangkis serangan suara bising dari luar?
Ans : Cukup kuat gan, ada onboard volume button terpisah untuk mengatur max volume nya. Di ane sendiri volume step 12 (75%) dengan 50% di HH (atau 30% di PC) uda cukup untuk memisahkan ane dari dunia luar.

Q06. Kan ada varian lain, T2S, T2+, H+ dan saudara2nya. Kenapa pilih yang ini?
Ans : Karena cuma ini yang ready stock di toko langganan ane emoticon-Hammer (S) H+ ada juga sih, tapi ane tau T2 ini lebih baru. T2S dan T2+ juga baru tau pada saat ane buat review ini. Ane juga ga gitu perlu sih FM radio dan micro sd nya, lebih sering dengar musik dari HH atau PC, lebih gampang gonta/I lagu

Q07. Apakah cocok untuk semua jenis HH, PC dan media player?
Ans : Untuk android, ane uda tes ampe ke device jadul SF andro dari 2012 juga bisa konek. PC ane tes di windows 7 64 bit, konek normal. Untuk windows lain juga sama aja, yang penting bluetooth driver agan uda terinstall benar. Sementara untuk ipin, mac, winpho dan sebagai nya ane ga ada device nya, jadi ga bisa tes. Seharusnya kalau device nya ada bluetooth dan support HFP dan A2DP, ya bisa konek ke headphone ini. Kalaupun tidak bisa, minimal bisa dipake lewat mode wired kalau devicenya support 3.5 mm audio jack.

Q08. Itu baterenya diklaim bisa 40 jam. Apa benar bisa selama itu?
Ans : Benar gan, tentunya tetap tergantung volume nya. Ane pake dengan volume PC 30% + volume Headphone 12 (75%) aja bisa tahan ampe 30 jam lebih. 40 jam itu pasti bisa tercapai kalau ane kecilin dikit suaranya. Bluetooth headphone lain kan juga klaim nya dengan cara yang sama, tapi pas dites tetap bervariasi tergantung volumenya.

Q09. Katanya headphone ini bass oriented. Ane sukanya lagu2 selain yang bass. Apa ane tetap bisa pake headphone ini?
Ans : Tetap bisa. Cuma mungkin agan ga akan merasakan kelebihan utamanya di bass yang mantap. Dipakai untuk lagu classic pun tetap OK, lebih jelas. Tapi karena memang melodi lagunya segitu, ya tidak terasa seheboh di lagu2 bass-oriented yang memang cenderung menggelegar.

Q10. Gimana dengan kualitas nya untuk telepon?
Ans : Headphone ini tidak pilih2 HH seperti headset lain yang akan disconnect ketika mo terima panggilan masuk. Fungsi telephony nya normal, telepon keluar maupun terima panggilan, namun ane belum bisa memakai mic dari bluetoothnya. Suara lawan bicara terdengar jelas, meskipun volume belum diset maks.

Q11. Headphone nya bisa dipake untuk voice chat gaming ataupun voice recognition gak?
Ans : Sayang sekali, agan akan kecewa kalau itu tujuan utama agan beli headphone ini. Ane belum ketemu cara untuk memakai mic nya dengan kualitas 44,1 Khz. Dipakai voice recognition juga susah detek. Bagusan cari headphone dengan mic lainnya. Atau terpaksa beli mic terpisah lagi.

Q12. Itu gimana agan bisa asal2an ketik spek yang tidak tertera dari spesifikasi produk?
Ans : Ya lewat hasil testing dan pengukuran ane sendiri. Bisa dilihat appendix daftar testing ane. Kalau cuma spek dari vendor, cenderung tidak mengatakan semuanya. Makanya ane test dan review dimari. Kalau ga, ngapain buat review emoticon-Hammer (S)

Q13. Koneksi bluetooth sering putus2 gak?
Ans : Bluetoothnya sangat stabil, tahan interferensi, jangkauan lumayan lebih jauh dibanding standard, pairingnya juga gampang dan tidak pake ribet. Kalau dengar musik terus menerus dan ada putus2, itu mayoritas karena ada fitur power save / mungkin lag dari HH ataupun PC/laptop nya.

Q14. Headphonenya nyaman gak dipake lama?
Ans : Di awal2 ane cuma bisa pake sekitar 2 jam sebelum merasa gerah. Mungkin karena busanya belum sink-in dengan bentuk kepala ane. Setelah sebulan, uda agak mendingan. Ane bisa pake lebih lama, mungkin 4-5 jam dan masih belum gerah. Tapi tetap ada interval di mana ane lepas/pasang balik headphone ini sebagai jeda.

Q15. Katanya ada suara hissing pas headphone nya idle. Apakah mengganggu?
Ans : Bagi beberapa agan, mungkin ini sangat mengganggu. Tapi karena kita pake headphone seringnya pas audio nya lagi streaming terus, jadi hissing ini tidak akan kedengaran. Hissing tidak akan muncul jika dipake di mode wired

Q16. Lalu sound leak nya katanya bisa membocorkan privasi kita. Berarti ane tidak bisa telepon untuk top secret call donk?
Ans : Top Secret agent gak bakalan pake headphone ini, terlalu mencolok. emoticon-Ngakak (S) Ga perlu sound leaknya, ukuran nya aja uda membocorkan identitas agan. emoticon-Ngakak (S) Yang penting ingat dicek aja deh sound leaknya sebelum set volume tinggi untuk konten2 yang bersifat “private and confidential”. emoticon-Malu (S)

Q17. Ane liat ada beberapa foto review di atas yang nampaknya kok overexposed?
Ans : Iya gan, memang ada beberapa yang terlalu terang karena fokus cameranya di bagian detail headphone. Yang pastinya semua foto di atas asli, bukan CGI emoticon-Frown. Semuanya diambil dengan app kamera bawaan Pureshot Plus 2 dengan setting auto dan pencahayaan dari lampu LED. Gambar kemudian diresize menjadi 1280x960. Sementara untuk SS nya juga dicombine dan diresize sekitar sisa 50% dari ukuran asli.

Q18. Kok review ini panjang banget sih?
Ans : Sorry gan, kebiasaan buruk ane, terlalu perfeksionis dalam hal detail yang menyeluruh. Awalnya sih ane cuma ingin outline biasa aja, menceritakan fitur2 standard dan keunggulan dari headphone. Tapi rasanya kurang afdol. Kalau ane adalah pembaca, ane juga berharap review yang ane baca itu detail dan menyeluruh, memberitahukan testing di real life usage. Kalau bagus, bagus seperti apa? Harus bisa diukur dengan satuan tertentu atau minimal perbandingan relatif terhadap produk lain. Apalagi headphone ini memang banyak fiturnya. Ane sendiri juga baru tau kalau ada banyak aspek yang bisa direview dari sebuah bluetooth headphone. Dan juga karena ane tidak punya banyak waktu untuk membuat review ini lebih singkat lagi. emoticon-Hammer (S) Lihat ini uda hari terakhir baru disubmit.

Q19. Jadi total berapa lama agan ketik review ini?
Ans : Ada 1 minggu lebih, termasuk dengan test dan recheck nya. Foto dan SS ane ambil pada beberapa sesi pengambilan foto dan dipilih yang terbaik. Total panjang review ini uda di atas 90.000 karakter, di luar tag dan formatting kaskus. Makanya 1 post tidak muat, dan harus dipisah jadi beberapa post di kaskus. Ane ketiknya di Ms Word, dengan ukuran font 11, dan page A4, total hampir 30 halaman. (masih belum termasuk gambar). Mo pindahin dari Ms Word ke kaskus aja butuh 4 jam emoticon-Berduka (S)
Diubah oleh Desmanto

Appendix

Daftar testing yang dilakukan
Berikut adalah daftar testing ataupun pengukuran yang ane lakukan dalam membuat review ini :
01. Microphone test, recording; voice recognition
02. Telephony, terima/tolak panggilan
03. Koneksi multi device, jumlah max device, jumlah device bersamaan, handling stream antar device, handling telepon dan notification.
04. Audio Sharing ke headset dan speaker
05. Latency test, bluetooth vs wired, dengan menggunakan pureshot sebagai perekam dan goldwave sebagai analisa nya.
06. Jarak bluetooth maksimal, Interference bluetooth lain, wifi lain, 2.4 Ghz receiver dari mouse/keyboard
07. 3.5 mm jack test, TRS atau TRRS, testing cable bawaan
08. ISSC app test, Audio effect, equalizer, noise cancellation, Voice Prompt Language, Battery status, One Tap pairing, Find My accessory, TTS, Device Name
09. Battery life, lowbat warning, lowbat period warning, Charging current, charging time, full indication, Battery Capacity
10. Media button key event, tasker integration, camera shutter, Orvibo remote
11. Volume min & max, onboard volume button vs audio source volume, Immersive test, sound leak
12. Cara pakai, lipat, slide dan simpan
13. Bluetooth HCI Snooping, mengecek protocol bluetooth dan supported feature
14. Dictionary test, idle test
15. Frequency response test, low, high, binaural beats
16. Audio Quality test, Bluetooth vs wired, perbandingan dengan device lain

Sementara untuk device2 yang ikut testing dalam review ini :
01. Bluedio T2 Turbine - Hurricane
02. Boomphones Pocket Speaker
03. Headset Zipper
04. Bluetrek Musicall
05. Bluetooth headphone tanpa merk
06. Bluetooth headset QCY Q8
07. Kabel audio bawaan T2 Turbine
08. Kable Micro Usb bawaan T2 Turbine
09. Charger Dual Port 2,1 & 1 A
10. PC dengan MB Gigabyte GA-H97-Gaming 3, Realtek HDA
11. Hisense Pureshot Plus 2
12. Hisense Pureshot
13. Andromax Es
14. Andromax C2
15. SF Andro

Charging Analisis
Perlu beberapa kali charge untuk menganalisis pola charging. Jadi kalau nanti ane bisa menemukan korelasinya, akan ane update dimari. Termasuk cara mengetahui persentase batere.

Tasker Profile
Kalau ada yang berminat, nanti akan ane SS dan kasih tutor dikit mengenai integrasi nya dengan tasker dimari
Diubah oleh Desmanto
sempat kepikiran pengeen beli ini merk tapi gak jadi. ane malah beli cliptec pbh 405 gan yang bluetooth. nunggu punya ane rusak dulu gan baru beli bluedio yang terbaru
Diubah oleh m.ramdhani1981
Ini trit apa skripsi gan ?? emoticon-Leh Uga
Analisis banget penjelasannya...
Udah bisa dapat gelar Sarjana Kaskus ente emoticon-Leh Uga
gila panjang banget,

headphone fullsize emang paling mantep, cuma kegedean aja klo dibawa kemana2

untuk saat ini sih ane cukup pake dbe ws10 rev3 aja, murah meriah, tapi suara ngga malu2in emoticon-Ngakak (S)
Thanks da mampir semuanya emoticon-Big Grin
Quote:

Harganya lebih mahal dari T2 Turbine kan? Ane sih gara2 harga sih dan liat spek lumayan bagus. Terutama baterenya tu yang bikin kaget, benaran lama banget. Ini ane pake dari hari minggu lalu ngecas yang analisis arus in di atas, uda pake bermalam2 (memang ga pake sesering sebelumnya karena sibuk ketik trit ini), ampe hari ini belum dicas emoticon-Ngakak (S)
Quote:

Kali aja ada gelarnya emoticon-Leh Uga
Quote:

Memang lebih untuk pake di rumah ja, ketika mo full immersive experience, pas lagi nyantai.emoticon-nyantai
Quote:


harganya lebih mahal cliptec gan, mantab banget baterainya gan. oh ya gan kalo baterainya soak aka bocor apa bisa diganti atau buang ganti baru headphonenya ?

Diubah oleh m.ramdhani1981
Quote:

Kalau di buku manual sih katanya batere non removable. Jadi kalau uda bocor ya ganti Headphone dah emoticon-Frown Tapi minimal kalaupun nanti bocor, ya minimal bilang lah masih sisa 10 jam, masih OK. Nanti setelah charging analisis selesai, ane bakalan sering2 ngecas aja. Lithium lebih awet kalau dipake 50% langsung dicas.
Quote:


makasih gan review yang analisis dan mendalam nanti ane coba beli bluedio yang spek diatasnya. emoticon-Big Grin mudah mudahan teknologi ke depan ada headphone yang baterainya bisa digganti.
Quote:

Sama2 gan.emoticon-Shakehand2 Senang bisa memberikan info detail.
nabung dikit lagi ente dah dapet sennheisser hd-202 yang speknya bagus bgt buat monitoring sama denger musikemoticon-Recommended Seller
ane baca semuanya. mantap banget agan desmanto ini kalau tiap review.

dari judul aja ane udah minat banget sm nih headphone. karena ngincer yang wireless n fullcover. cuma sayang item yg ente review bukan suport microsd ya. tp boleh lah di jadiin acuan buat saudara2 bluedio lain.
Wow,, ini mah uda expert level review nya,, emoticon-Wow
Tp wajar aja sih, enthu standart nya harus tinggi,, ntapz gan emoticon-2 Jempol
Quote:

Ane perlu yang bluetooth sih. Kemarin memang pengen nyoba tu, tapi liat masih pake kabel langsung coret.
Quote:

Thanks gan emoticon-Malu (S) Ane ja baru tau ada varian dengan microsd di T2+ pas buat ripiu jni emoticon-Hammer (S) kabarnya sih ada tombol yang diganti jadi navigasi microsd, jadi beda dikit dengan punya ane.
Quote:

emoticon-Shakehand2 BTW, agan gembok pejwan.
Halaman 1 dari 11


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di