alexa-tracking

Anak Desa Biasa

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/57ecd3fca09a393f6c8b4569/anak-desa-biasa
Anak Desa Biasa
Ini hanya serpihan serpihan kisah anak desa, masih kencur, generasi biru (ingusnya), masa sekitar pra sekolah sampai lulus SD, ceritanya cenderung tidak penting,
Quote:


lalu kenapa diceritakan, mmm daripada menuh menuhin otak, tak coba tumpahkan disini, kali bikin otak gak lemmot lagi. mumpung posting di kaskus gak kena bayar.

sedang untuk yang baca?
gak tau manfaatnya apa
Kayaknya gak ada
ya mungkin pembaca disini pada khilaf, dah bosen baca trit yang bagus

Spoiler for INDEX:
P E R A N G


Anak Desa Biasa

Image courtesy of saronglinta.wordpress.com


Namaku Anto, lahir di desa, tepatnya di desa Bajulmati, sebuah desa di pinggir hutan Taman Nasional Baluran di Jawa paling timur. Hampir sepanjang tahun di pakai untuk latihan tempur TNI. Jadi sudah menjadi hal biasa bila anak anak usia SD tiap hari permainannya perang-perangan. Ditambah TVRI tiap hari minggu ada film serial Combat. Sehabis nonton adrenalin anak anak pada naik, langsung dilampiaskan main perang perangan.

Dalam permainan itu, masing masing kelompok harus punya benteng yang harus dipertahankan dari serbuan lawan. Dan masing masing kelompok mempunyai wilayah yang menjadi kekuasaannya, dimana yang boleh menembak adalah yang punya wilayah saja, sementara pihak penyerang hanya boleh menyusup dan membom benteng. Jadi kalau berada di wilayah sendiri, bisa menembak musuh dan menawannya, namun kalau berada di wilayah musuh yang dilakukan adalah sembunyi dan berusaha menyusup mendekati benteng mereka untuk membomnya. Dan kalau ketahuan ya.. cepat cepat lari agar tidak tertawan. Karena menjadi tawanan sangat tidak enak. Tawanan yang ditangkap akan di interograsi dengan sedikit siksaan dan diikat di pohon dekat benteng mereka.

Taruhan kami untuk perang tersebut ya.. harta kekayaan kami saat itu, yaitu kelereng, karet gelang, bungkus rokok 76 sampai tutup botol seven-up yang kami simpan dekat benteng. Harta itu kami kumpulkan secara kolektif antar anggota.
Permainan ini baru berhenti bila menjelang magrib, karena kami harus berangkat mengaji ke surau. Di perbatasan kami biasanya saling tukar tawanan atau hanya mencatat siapa saja yang tertangkap untuk dilanjutkan keesokan harinya.

Kadangkala kami lanjutkan pertempuran sepulang dari mengaji. Namun hal itu jarang dilakukan karena kalau ketahuan orang tua, kami pasti di jewer pulang.

Senjata yang kami gunakan bermacam macam sesuai musimnya. Mulai memakai selondop, saltog, yaitu pipa bambu dengan penusuknya dengan mimis dari bunga jambu air. atau kalau tidak ada bunga jambu bisa diganti dengan kertas koran basah. Terus menggunakan pistol korek api, yaitu menggunakan kepala korek api yang dimasukkan ke dalam besi lobang ban sepeda yang ditancapkan ke kayu. kemudian ditutup dengan kertas penggoresnya ditahan dengan paku. Peledak itu dirakit kedalam pistol kayu dengan pemantik menggunakan selongsong peluru yang ditarik dengan karet pentil sepeda. Jadilah pistol yang bisa meledak.

Kadang menggunakan katepel karet dengan peluru dari tangkai daun ketela pohon, berkembang ke senapan katepel menggunakan bunga jambu yang masih kuncup atau bunga kecubung yang masih kuncup dengan cara di jepit lalu dikaitkan ke karet pelontar. Dan yang berbahaya senapan ketepel ini terakhir sudah menggunakan biji asam kadang kerikil untuk peluru. Jadi bisa dibayangkan bagaimana sakitnya bila kena tembak. Aku pernah kena di leher, sakit sekali, pas aku lihat ternyata bukan biji asam, tapi kerikil.

Terkadang menggunakan pedang-pedangan dari kayu kapok randu yang ringan (kayu Gabus), hal ini diilhami oleh serial televisi The Time Tunnel di TVRI. Perang perangan menggunakan pedang ini lebih berbahaya karena kena pentung beneran. Peperangan sering dihentikan dikarenakan salah satu peserta nangis kesakitan lalu mengadu ke orang tuanya. Jadilah peperangan berubah menjadi kejar kejaran dengan orang tua anak yang nangis tadi.

Perang baru selesai bila salah satu benteng bisa diledakkan oleh pihak lawan. Bukan meledak betulan melainkan di lempar menggunakan abu gosok yang dimasukkan ke dalam kantong plastik kiloan. atau memakai air yang diberi kesumba merah. Supaya bila bentengnya terkena bom bisa ada buktinya. Maka yang menang dapat merampas harta karun lawannya.

Merdeka...!!! merdeka...!!! merdeka...!!!


Pertempuran bisa dimana saja, di pasar sapi, di kuburan, kebun singkong, di sungai yang penuh batu batu besar juga sawah.

Di lokasi terakhir ini ajang pertempuran menjadi ajang kejar kejaran horor. Bagaimana tidak horor, tanpa sadar kami merusak kebun cabe yang baru ditanam. Melihat tanamannya hancur diinjak injak, Pak Tani mengejar kami dengan celurit diangkat. Untung kami sigap menyeberangi sungai bersembunyi di hutan, meski haru lari terbirit birit jatuh bangun.

Bosan perang di kampung, kami memindahkan ajang pertempuran ke hutan dekat bendungan. Saat memulainya kami bersemangat sekali, bunyi ledakan pistol korek kami bergema di keheningan hutan, serasa perang beneran. Terjadilah pertempuran sengit dalam hayalan kami, bunyi tembakan menggema , tanpa sadar ajang pertempuran bergerak masuk jauh ke dalam hutan, kami yang awalnya bergerak berbanjar semakin lama semakin merapat.

"Sst ngapain mendekat? Nanti kita mudah disergap musuh!" Tanyaku sambil memberi kode untuk kembali menyebar.
"Susah jalannya," Imran menunjuk tebalnya semak semak didepan. Teman teman kuperintahkan merapat untuk duduk sembunyi, sedang imran kusuruh kedepan memantau kelompok Sidik. Kelompok lawan.

Hening

Sepertinya kelompok Sidik terlalu jauh bersembunyi kedalam hutan. Kamipun sepakat menyusul mereka dengan berjalan beriringan.

"Toloooong!!" Terdengar teriakan ketakutan. Bergegas kami menuju asal teriakan. Sesampai disana, kami tertawa geli melihat Hosen -kelompok Sidik- terperangkap dalam semak berduri, sarang babi hutan. Hosen menangis tidak bisa keluar sarang. Satu persatu kelompok Sidik akhirnya muncul bergabung termasuk Sidik sendiri. Bersama sama mengeluarkan Hosen dari sarang celeng.

"Dik, lanjut enggak nih perangnya?" Tanyaku.
Sidik tengak tengok ke yang lain, "mending jalan jalan aja."
"Emang tau jalannya?"
"Ikuti jalan setapak ini, nanti akan ketemu jalan raya," papar Sidik yakin. Membuat kami percaya idenya.

Beriringan kami menerobos semak, mengikuti alur setapak yang semakin rimbun. Susah payah melewati hutan memasuki safana, padang rumput terbentang luas menutup bukit bukit kecil.
"Lewat pinggir saja, jangan ditengah, nanti kalau ada harimau atau binatang buas lainnya, kita bisa manjat pohon." Sidik sebagai yang tertua memberi pengarahan. Yang lain menuruti sambil lihat sekeliling. Takut kalau apa yang dikatakan sidik kejadian. Hiii tak sadar kami berebut berada ditengah barisan.

Perasaan saat itu seperti di adegan film Combat, episode pelarian. Dimana jagoannya cedera tertinggal pasukannya dan harus melakukan perjalanan di hutan yang dikuasai pasukan Jerman.

Matahari condong ke barat. Kami mulai lelah dan kelaparan. Dengan meniru gaya di film Combat, sayangnya gak ada pohon apel seperti di film, kami makan pucuk pucuk rumput, daun daun yang tidak bergetah. Bergantian sebagai tester terhadap tanaman yang bisa dimakan. Dengan perhitungan kalau makanan itu beracun hanya satu yang keracunan.

Akhirnya sampai di mata air yang jernih. Kami mandi dan minum sepuasnya sampai kenyang. Temanku, Ochim buang air besar di bawah pohon besar, sakit perut dia. Tak sadar kalau perbuatan dia membuat marah penghuni hutan.

Setelah istirahat, kami berembuk, jalan terus atau kembali kejalan semula. Untungnya kami sepakat kembali kejalan semula karena kalau jalan terus kami akan semakin tersesat.

Sesampai di rumah sudah magrib disambut omelan orang tua kami yang kebingungan karena sejak pagi anaknya hilang. Malam itu Ochim mimpi dicekik tangan yang besar sekali. Esoknya Dia sakit demam. Sepertinya mahluk penunggu pohon itu marah karena Ochim mengotori tempatnya.
b e r s a m b u n g
PERANG (lanjutan)

BUNKER

Diilhami dari film film perang, Kami juga membuat bunker rahasia dibawah tanah untuk menyimpan harta kekayaan. Bunker itu kami gali di kebun dekat rumah berbentuk gua yang bisa untuk sembunyi sampai tiga anak. Fungsinya berkembang dipakai sebagai tempat persembunyian apabila dicari Orang tua kami untuk disuruh makan siang atau tidur siang atau disuruh ke warung beli minyak tanah.

Aku juga membuat bunker di selatan rumah. Berhari hari sepulang sekolah aku menggali. Semua mainan kusimpan disana. Lobang masuknya aku rahasiakan. Aku tutup pakai papan kayu dengan beberapa barang untuk penyamaran.

Sialnya pernah kelupaan menutup pintu bunker. Orang tuaku bingung mencari ayam jagonya. Kami mencari kemana-mana tidak ketemu. Setelah seharian baru ingat, mungkin ayamnya terjatuh masuk bunker. Dan benar ayamnya kebingungan di dalam sana.

Orang tuaku tahu, langsung aku disuruh menutup bunker itu dengan sampah rumah tangga.
"Untung cuma ayam, coba kalau mbah yang terperosok kesana.... Belum lagi kalau lobang itu dimasuki ular, kamu mau dipatuk ular? Atau tanahnya tiba tiba ambruk dan kamu terkubur didalam tanpa ada yang tahu?!"
Aku hanya bisa mengangguk pasrah.
Hancurlah pertahanan terakhirku.

###

IKUT LATGAB ABRI

Anak Desa Biasa

foto sumber

Sekali waktu aku ikut latihan perang-perangan ABRI. Aku akrab dengan tentara yang nama panggilannya Pepeng. Dia dulu guru namun berhenti setelah diterima menjadi tentara angkatan darat.
Kenal Mas Pepeng bertugas sebagai gerilya yang harus meledakkan benteng. teman-teman begitu terpesona mendengarkan Dia menceritakan pengalamannya selama menjadi tentara, di teras masjid selepas solat dhuhur.

Sejak itu seperti umumnya anak kecil aku mengikuti kemanapun Dia pergi. Betapa senangnya saat diajak memantau benteng yang harus di bom, apalagi dipercaya menenteng senjatanya, mengikuti rapat yang diadakan di rumah seorang penduduk di bukit Tenggiran. Pokoknya perasaanku seperti tentara saja.

Hari hariku jadi jarang di rumah. Sampai malampun ikut Mas Pepeng menyusup ke wilayah musuh mengintip kekuatan mereka. Aku tidak sadar kalau dimanfaatkan Mas Pepeng agar tidak dicurigai musuh, dan mengiranya sebagai penduduk kampung. Aku lebih sibuk mengendalikan pacuan adrenalin untuk ikut bertempur merebut benteng musuh.

Tapi akhirnya aku kecewa karena dilarang ikut penyerangan dadakan. Meski dijelaskan kalau anak anak tidak boleh ikut pertempuran yang menggunakan senjata api dan bom, apalagi dilakukan malam hari. Aku tetap menangis tidak terima.
Malam itu aku hanya bisa mendengar bunyi dentuman bom dan tembakan dari kamar tidur dengan mata berair.

Saking menghayati mengikuti latihan militer, buku harian hadiah kakak aku isi dengan kegiatanku mengikuti pertempuran.
Quote:


Begitu isi buku harianku, isinya hanya catatan pertempuran yang dilakukan tentara beneran yang sedang latihan. Sampai pindah ke kota untuk sekolah SMP, buku harianku tidak bertambah isinya, meski kubawa ke kost.

Suatu hari teman teman menutup kamar kos. Terdengar suara tawa mereka. Aku yang curiga, berusaha masuk kamar, namun terkunci. Tak lama mereka keluar masih dengan ekspresi menahan tertawa.

Quote:


Aku langsung masuk kamar, membuka laci meja memeriksa diary.

Sial
Diaryku diacak acak mereka.
Ditambah sana sini yang pikir mereka lucu.
Membuatku sakit hati, apalagi tuduhan mereka kalau aku dianggap pengkhayal.

Sejak itu,
aku kapok nulis diary.

Kocak, keinget masa kecil yakin
Quote:


makasih dah mampir
otak masih penuh memory kecil nih

lumayan juga sensasi bikin trit disini
emoticon-Wakakakocah nih om crita'y, jadi keinget masa" pas SDemoticon-Wkwkwk
keep update om.
Om lindung

Entah siapa yang memulai ejekan ini. Yang pasti hampir seluruh anak anak di kampungku tahu bagaimana mengejek seorang pastur yang tiap hari lewat di jalan dengan mengendarai sepeda gayung. Om Lindung, begitu orang biasa memanggilnya. Kalau nama lengkapnya aku tidak tahu, mungkin orang Medan, marga Parlindungan dipanggil oleh orang kampung menjadi Om Lindung, praktisnya saja. Aku tidak tahu rumahnya dimana, mungkin di desa Sidodadi, sebuah desa di selatan desaku. Sedangkan dinasnya di desa Wonorejo, desa sebelah utara sungai yang membatasi desaku dengan desa itu. Wonorejo adalah lokasi translok dan penduduknya banyak Nasrani. Entah di gereja mana berdinas. Aku tahunya setiap hari Om Lindung lewat jalan besar depan rumah dengan sepeda kayuhnya.

Alasan diledek juga gak jelas. Tidak ada ketegangan antar umat beragama di tempatku. Kami tidak memikirkan perbedaan agama sama sekali. Yang paling masuk akal karena hanya Om Lindung yang dipanggil Om. Sebuah panggilan asing bagi orang desa seperti kami. Bersambung dengan lawakan ludruk kampung
"Namanya siapa?"
"Om...."
"Om siapa?"
"Ommmplong!"
Jadilah ledekan yang nyambung dan mudah ditangkap orang orang desa.

Sudah menjadi kebiasaan teman teman, setiap Om Lindung lewat. Serempak mereka menghentikan kegiatan bermainnya, beralih berteriak teriak keras, OMPLOOOOONG!!!.OMPLOOONG!!!

Teriakan teriakan itu dimeriahkan dengan joget dangdut pantat, saling senggol satu dengan yang lain. Dan menjadi kebiasaan, Om Lindung akan berhenti, turun dari sepeda lalu mengejar anak anak bandel itu. mengetahui dikejar, anak anak berlarian berhamburan. Ketika Om Lindung beranjak pergi, anak anak kembali berteriak dan berjoged dengan ritmis, OMPLOOOOONG!!!.OMPLOOONG!!!

Sementara kalau tahu Om Lindung akan lewat di jalan. Anak anak menyiapkan kaleng susu atau kaleng cat lalu dilemparkan dijalan yang dilalui, menimbulkan suara gaduh. Kaleng itu alias Omplong dalam bahasa madura dan jawa, menjadi simbol ejekan tersebut.

Ketika mandi di sungai pun anak anak masih sempat melakukan ritual itu melihat Om Lindung lewat di jembatan. Tak menyadari kalau Om Lindung mengejar mereka. Jadinya, dalam keadaan telanjang bulat mereka berhamburan naik, mengambil tumpukan pakaian tanpa sempat mengenakannya. Berlari sejauh jauhnya.

###

Hari itu aku bermain disebelah rumahku, dirumah Mak Diah. Bermain dibawah pohon jambu. Tiba tiba temanku teriak, Omplooong!!! Omplooong!!! sembari berlari pergi. Pikiranku saat itu tidak nyambung dengan apa yang diteriakkan teman teman. Aku hanya konsentrasi mencari tempat untuk buang air kecil, abis kebelet sekali.

Quote:


Aku menuruti duduk disana. Orang itu cepat cepat memarkir sepeda gayungnya lalu berjalan menghampiriku. Aku kebingungan ada apa ini, kenapa aku dipaksa duduk disini, mana teman teman yang lain.
Ya ampun, baru aku tersadar, teriakan teman teman tadi telah memancing orang ini datang kesini. Dan yang jadi korbannya adalah aku. Celaka dua belas!
Mendengar suara ribut ribut, orang orang keluar berbondong ke tempat kami ribut.

Quote:


Ya ampun kok malah pada memojokkan aku.

Sepertinya Om Lindung ingin menumpahkan segala unek uneknya atas perilaku anak anak selama ini. Tapi aku tak tahan menahan kencing yang sudah berada diujung. Perlahan aku beranjak ketika Om Lindung terlibat pembicaraan dengan orang orang. Baru saja kuangkat pantatku dari korsi, Om Lindung langsung melotot ke arahku. Batal deh aku kebelakang untuk buang air.
Berkali kali aku ingin protes, bahwa bukan aku yang meneriaki. Tapi keinginanku terhalang sakit menahan kencing.
"Aku panggil polisi saja biar dipenjara!" Om Lindung mengancam.
Aku terkejut, hah dipenjara? Di kantor polisi, berkumpul dengan penjahat penjahat disana. Jangankan dipenjara, melihat bangunan kantor polisi saja aku ketakutan.
Aku tengok ke rumah, ini mana saudara saudaraku kok tidak ada yang menolongku.

Karena ketakutan akan dipenjara di kantor polisi. Kontrolku menahan kencing terlepas sudah. Aku terkencing di celana, membasahi tempat dudukku. Menetes ke lantai. Aku berdoa semoga orang orang tidak tahu kalau aku terkencing di celana. Aduh bagaimana malunya, apalagi volume air kecilku banyak sekali tidak bisa ditahan ditengah jalan.

Untunglah Om Lindung bisa diajak bicara baik baik dengan Kang Adi, (ternyata Kang Adi bergaya mendukung Om Lindung agar bisa meredam amarahnya). Ia lama lama melunak. Sebelum pergi Dia mengancamku, kalau aku sekali lagi ketahuan meledeknya. Aku akan dipenjara benar benar. Aku tertunduk diam. Perasaan takut, keki karena ini bukan salahku dan malu karena jadi tontonan orang banyak.

Setelah Om Lindung pergi, orang orang serentak tertawa terpingkal pingkal. Aku ikut tertawa lega. Namun tawaku tak bertahan lama. Orang orang ternyata tidak tertawa mendukungku, malah menertawakanku sambil menunjuk nunjuk dibawah tempat dudukku.

Ya ampun…
Sedari tadi orang orang sudah tahu kalau aku terkencing di celana. Namun karena sungkan kepada Om Lindung yang marah marah, mereka menahan tawa sekuat tenaga. Setelah Om Lindung pergi, mereka tak kuat menahan tawa lama lama. Aku malu sekaligus benci. Apalagi teman teman yang tadi teriak teriak ikut bergabung menertawakanku.

Sejak itu setiap ada Om Lindung lewat, selain mengejek Om Lindung seperti biasanya, teman teman menertawakanku habis habisan.
Sialan!

Rusak reputasiku didepan gadis gadis.
ane mejeng di pejwan dulu ya gan
Quote:


Makasih ya, sering sering kemari,
Idah update kok

Quote:


Silahkan, moga betah di cerita asal asalan inj
Salken ya om..

Seru nih ceritanya kocak..

Keep apdte om..
Hahaha ceritane sableng gan.. kocak

Quote:


salam kenal agan memet. perasaan ceritanya biasa aja. malah cenderung bongkar aib ha ha ha.
Insya Allah akan selalu update.

Quote:

yang sableng tuh temen temen. masa itu dipikirannya hanya main main dan main. bahkan sampai sekarang prinsipku "bila sekolah sudah mengganggu main. berarti sekolahnya nggak benner"

threadnya ditamatin ya gan...
syukur2 kl ada adegan romantisnya untk bumbu penyedap...
MAS*** kali...
hehe
btw semangat mas.. ane pantengin dr sini...
Ajib nih, bikin terkenang masa kecil sewaktu pohon mangga masih tinggi menjulang, sungai masih bersih dan tanah lapang memang benar-benar lapang.

Rindu semak belukar dibelakang rumah jadinya ane gan, dulu itu udah kayak taman bermain semua anak kampung tuh. Malah dulu sering jadi lahan pertempuran sepak bola mempertaruhkan harga diri dan martabat kampung tuh. emoticon-Big Grin
LEBARAN

Anak Desa Biasa


Bila ditanya hari paling indah dalam hidupku adalah hari lebaran. Memakai baju baru (aku dibelikan baju baru hanya tiap lebaran saja), sarung baru. Ini masih mending, banyak temenku lebaran dibelikan baju seragam merah hati. Ukurannya lebih besar satu strip, biar bajunya tetep bisa dipakai kalau dia tambah besar. Jadinya kalu dipakai kedodoran, ganteng mirip chaplin. Padahal boro boro bisa dipakaj sampai badannya besar. Beberapa bulan saja, baju itu sudah lusuh sobek di pantatnya karena dipakai terus.

Lebaran berarti banyak makanan dan kalau keliling ketetangga akan banyak dapat uang. (aku sudah buat daftar rumah rumah mana saja yang harus didatangi bahkan sampai berapa besarnya uang yang nanti aku dapat).

Baju baruku aku pakai mulai malam takbiran. Wuih seneng sekali. Setelah menyerahkan zakat fitrah, kami malam itu kumpul didepan masjid. Menunggu truk truk yang membawa orang orang takbir keliling desa. Kalau ada truk datang dalam keadaan kosong, kami berebut naik. Aku lebih senang didepan masjid saja. Teman teman sudah menyiapkan petasan yang akan dibakar ditengah jalan. Mereka gak peduli jalan sampai macet. Atau tetangga sebelah masjid yang marah marah karena ada anak kecil.
Door !! Door !!
Hooi jangan dibakar disini !!!
Bummmm..!!!!
Ha..ha..
Door !!! Door!!!
Kurang ajar !!!
Bummmm!!!
Awas..awasada mercon besar !!
Bummm !!!
Horeee !!!
Mereka tidak peduli. Bukankah besok pagi sudah minta maaf?

Yang paling sedih kakak perempuanku, Mbak Tati, tiap lebaran dia malah sibuk menjahit pakaian pesanan yang belum selesai. Kadang aku membantu memasang kancing atau nisik. Dan sedihnya kalau ada yang marah marah karena bajunya belum selesai. Kalau aku sih maunya gak usah nerima jahitan. Tapi karena kami butuh uang untuk hidup kami, ya diterima saja ocehan orang orang itu. Kadang aku dapat bonus baju lebaran dari bahan sisa, cuma jadinya pas lebaran kupat, alias lebaran coret.

Paginya aku sudah diseret Bapak untuk mandi kesungai. Dingin dan ngantuk ternyata bisa aku lawan dengan keinginan memakai sarung dan baju baru. Dimasjid aku duduk bersama teman teman dibarisan belakang dekat bedug. Aku sebetulnya ingin sekali memukul bedug, namun karena aku tidak kuat mengayunkan pemukulnya yang besarnya seperti paha kakiku.

Dihalaman masjid, orang orang menggelar tikar. Itupun banyak yang tidak kebagian tempat. Tapi jangan salah, yang ramai ya di tempat itu, sisi luar masjid. Sedangkan di dalam masih banyak tempat kosong. Sepertinya mereka berebut shaft terakhir.

Setelah Shalat Id, kami tidak langsung bubar. Kami berdiri berjajar sesuai shaf shalat. Mulai dari imam shalat diikuti shaf depan paling kanan berjalan menyalami satu persatu sampai keluar masjid semua. Yang shaf depan banyak yang nangis, aku tidak tahu apa yang ditangiskan. Kata Guru ngaji kami menangisi ramadhan yang pergi. Tapi ada juga, kata temanku, yang menangisi nasibnya. Karena ditinggal orang tuanya. Atau ditinggal calon istrinya yang seharusnya lebaran ini diajaknya berkeliling kampung untuk silaturahmi. Atau akting. Jelasnya aku tidak tahu.
Spoiler for ancak:


Tibalah saatnya kenduri didepan masjid. Tradisi ini biasa dilakukan setelah shalat id. Kami membawa mampan, talam atau bancak dari pelepah pisang ditusuk sujen bambu berbentuk kotak trus diberi alas daun pisang. Didalamnya diisi nasi putih, nasi kuning dengan telor dan ikan ayam atau sapi.

Kami duduk berhadapan mengelilingi makanan yang dihidangkan. Kami sebetulnya agak iri, makanan yang didepan takmir dipilih yang enak enak, jauh dengan yang ada dihadapan kami. Saat doa dipanjatkan, sambil mengangkat tangan dan mengucap amiien.. kami saling lirik menduga dibalik tutup makanan itu lokasi ikannya dimana, daging sapi, ayam, telor atau tahu. Sehingga pas gerakan pertama, tangan langsung mendarat di sasaran. Karena ini kejadian yang butuh waktu setahun sekali, jadi butuh strategi matang, kadang sampai mencuri start segala. Kalau tidak ingin menunggu setahun lagi.

Sekali waktu aku menghadap ancak yang berisi telur masak merah kesukaanku. Kami semua bersiap nunggu kode aamiin selesai. Tanpa mengusap wajah, aku langsung mencomot semua telur masak merah itu. Melihat aksiku, ada orang dewasa protes. Sepertinya dia mengincar juga. Dengan enteng aku jawab, "terserah aku, ini ancakku sendiri, bawa dari rumah."
Teman teman yang mendengar penjelasanku pada tertawa.

Sepulang dari masjid aku langsung mencari Bapak dan Emak, lalu keluarga yang lain. Habis itu aku melanjutkan dengan berkeliling dari rumah ke rumah. Terutama ke Wak Ju, juragan palawija. Kalau memberi uang besar sekali, 100 rupiah. Terus Tuan Dullah, juragan Arang. Kadang memberi 100, kadang 50 rupiah. Yang lain kecil kecil, antara 5 rupiah dan 25 rupiah. Kalau ke tempat Ji Padli, kami diberi permen kadang kembang api satu satu. Yang gak enak kalau ketempat nenek nenek. Kalau bersalaman pasti didoakan, Semoga dapat istri cantik gak peduli masih kecil apa sudah besar. Semuanya dipukul rata.

Kalau pengalaman malu, aku pernah bertamu. Dimeja dihidangkan kue yang paling aku suka. Wafer Kong Guan. Meski dipersilahkan aku tidak mengambilnya. Tempatnya agak jauh. Untung pemilik rumah masuk dapur menemui tamu yang baru masuk lewat belakang. Dengan kecepatan kilat aku mengambil wafer incaranku, masuk saku. Aman! Teman teman hanya bisa melongo karena keduluan aku dan tidak berani melakukan hal yang sama denganku.

Ayo dimakan kuenya, kata pemilik rumah mempersilahkan setelah menghampiri tamu dibelakang. Dengan sopan kami mengangguk terima kasih, berdiri mau ke rumah rumah yang lain. Bergantian kami menyalami, mencium tangan. Wah teman teman diberi uang sehabis bersalaman. Pas giliranku, aku ditahan sebentar, Ibu tuan rumah mengambil kantong plastik trus mengambil wafer di kaleng biskuit. Diisinya terus diberikan kepadaku, kalau mau bawa pulang kueh, jangan masukkan saku, kotor ya.

Sebuah nasehat yang membuat aku malu tak terkira. Apalagi teman teman diluar tertawa terpingkal pingkal sampai terduduk ditanah. Awas nanti gak akan aku bagi wafernya ! Huh

Dari sekian kejadian dalam hari lebaran, hanya satu kejadian yang pantas digambarkan dalam gerak lambat he..he..
Mm cerita gak ya ?

Pada waktu itu aku suka sekali dengan Ani. Anaknya cantik, anggun dan cerdas. Bagiku dia seperti Nirmala dalam majalah Bobo. Aku suka sekali memandanginya dari jauh. Tentu saja dengan cara sembunyi sembunyi agar tidak ketahuan teman teman. Kadangkala tak sengaja bertemu pandang dengannya, aku seperti terkena strom ikan didadaku dan yang membuatku semakin suka, dia hanya tersenyum melihat kegugupanku. Kalau ada Dia, aku menjadi mudah tertawa, lincah dan semua lagak kampungan lainnya kuperagakan tanpa sadar. Meski upahnya hanya seulas senyum saja.

Lebaran ini aku belum bersalaman dengan dia. Berkali kali aku mencoba mengatur situasi tapi gagal. Dari jauh aku sudah bingung mau mendekat atau lari saja melihat Dian berjalan bersama teman temannya. Sekelebatan mata kami beradu pandang, lalu aku menyingkir jauh.

Sampai lebaran habis, aku masih belum berani. Sementara kerlingan dan senyumnya selalu berulang dalam benakku, dalam gerakan super lambat. Karena hanya itu kenanganku. Makanya dilambat lambatin adegannya ha..ha.. karena cuma itu kejadiannya
Memang..aku kecil kecil sudah genit ha..ha..

Quote:


ditamatin ya
apa maksudnya langsung ditamatin hehe
diusahain deh update terus.
apalagi pada komen minta diterusin.
jadi gak merasa ngpmong sendiri. monoblog alias gila he he he
ini bumbunya cuman garem doang. jadi maaf kalau asin
emang mantaunya dari manas nih?
Quote:


toss dulu kita he he
kenangan kita berarti masih alami
sedang anak sekarang kenangannya sudah digital
emoticon-Shakehand2

Yooo.. toss lah.

Dulu kenangannya 4 dimensi ya gan emoticon-Ngakak (S)

Kalo luka berdarah beneran
Kalo lari-lari ya capek keringetan beneran
Kalo berenang basah beneran
Kalo hujan-hujanan besoknya sakit beneran, barengan lagi.
kalo pulang lewat maghrib kena jewernya juga beneran.
DI SEKOLAH

Anak Desa Biasa

ilustrasi

#1 Perbatasan

Aku masuk SD umur 5 tahun, dulu syaratnya yang aku percaya adalah bisa memegang telinga kiri dengan tangan kanan melewati atas kepala. Namun tahun pertama aku tidak naik kelas karena tidak masuk sekolah, hampir sebulan sakit gigi. Tahun berikutnya aku didaftarkan lagi. Kebetulan bersamaan dengan Imin dan Daus, teman main sehari hari. Jadinya kami duduk bertiga. Meskipun ada bangku kosong tapi kami tidak mau dipisahkan. Guru kami mengalah (ini baru guru !!!) dengan membiarkan kami tetap duduk bangku di pojok belakang.

Hari hari kami lalui dengan ribut, dihukum di depan kelas adalah hal biasa. Hal yang paling bikin kami ribut adalah perbatasan. Kami kan duduk bertiga. Daus dipinggir dekat dinding kelas, Imin ditengah dan aku di sisi luar. Meja, bangku, pintu masuk sampai papan tulis kami bagi tiga. Bangku dan meja kami garis dengan kapur dibagi menjadi tiga bagian. Siapa yang melewati batas itu dan memasuki wilayah lainnya langsung dipukul oleh yang dilewati perbatasannya. "Perbatasaan!!" seru kami sambil memukul yang melanggar.

Waktu mau pulang itu yang paling susah, Imin dan Daus harus merayap melewati bangku dan meja didepannya untuk keluar supaya tidak melanggar perbatasan. Hal itu mereka terima daripada duduk di tempatku yang selalu didatangi guru untuk dilihat tulisannya, dan kalau ribut yang pertama di jewer ya.. yang duduk di pinggir jalan.

Kamipun naik ke kelas dua. Daus tidak naik kelas, katanya dia masih terlalu muda dan tidak mampu mengikuti pelajaran (umur aku dengan Daus selisih enam bulan lebih tua aku), tapi pendapat yang lain, kami sengaja dipisah salah satu supaya tidak terus ribut di kelas. Ada benarnya tapi banyak salahnya kalau mengganggap dengan tidak dinaikan salah satu keributan akan terhenti. Meski tinggal berdua kami tetap eksis ributnya, malah menjadi jadi. Akhirnya waktu kenaikan kelas, aku naik ke kelas 3, sedang Imin tetap kelas 2 menemani Daus.


###


#2 Belajar Membaca


Saat pelajaran pertama di kelas dua Bu Guru mengumumkan bahwa kelas akan dibagi dua menjadi kelas 2A dan 2B, yang kelas 2A untuk anak yang bisa membaca, menulis dan matematika. Meskipun sekarang sudah ada dua kelas namun akan dikelompokkan lagi. Pengumuman itu aku sampaikan pada Bapak.
"Kamu bisa apa ? Matematika bisa ?" tanya Bapak.
"Bisa," jawabku yakin.
"Membaca ?" tanya Bapak lagi.
Aku hanya terdiam, karena memang tidak bisa membaca.(jangan heran, gak bisa baca kok naik kelas. Masa itu mau sekolah aja syukur).
"Baik sekarang kamu ambil kertas, pensil dan penggaris. Akan Bapak ajari sampai kamu bisa, kamu jangan sekolah sebelum bisa membaca dan menulis," perintah Bapak tegas.
Hari itu belajar membaca dan menulis bercampur isak tangis ditengah bentakan dan sabetan penggaris kayu. Menyesal mengambilkan penggaris kalau gunanya hanya untuk itu.

Pagi pagi sebelum Bapak pergi kerja menyusuhku menghapal abjad yang ditulis besar besar pada selembar kertas.
"Jangan kemana-mana sebelum kamu hapal semua, awas kalau nanti ketahuan kamu main."
Jadilah menghapal ABCDEF..... sambil sekali sekali melirik Bapak apa sudah berangkat atau belum. Saat melihat Bapak mengayuh sepedanya ke jalan raya, aku merasa dada lega sekali. Kalau Emak sih tidak pernah marah apalagi mukul seperti Bapak. Makanya sepeninggal Bapak, aku bersantai, sarapan, mandi terus balik ke meja belajar. Tiba tiba dalam benak timbul pikiran kalau kusobek kertas hapalan sialan ini pasti penderitaanku selesai, tidak harus menghapal, tidak menerima pukulan penggaris lagi. Bapak tidak akan mengajar lagi karena kertasnya kusobek. Dengan semangat kusobek kertas itu kecil kecil lalu berlari pergi main ke teman teman yang tidak sekolah.

Saat seru serunya main, aku dicari Kakak, katanya dicari Bapak. Dan benar saat masuk rumah pantatku lansung dipukul, oe....tangisku keras.
"kamu berani melawan Bapak ya...!?" Buk !
"Oeeeeeee.............!!!"
"Diam....!!! Jangan nangis !!!" Buk !
"Oeeeeeee.............!!!"
Aku didudukkan di korsi belajar, masih dengan sesenggukan menghabiskan tangis, kulihat Bapak menulis abjad yang sama seperti yang kusobek tadi.

Ya..ampun ternyata sia sia usahaku tadi sampai harus babak belur begini. Ternyata Bapak masih bisa membuat lagi (maklum pikiran anak kecil). Sejak itu aku bertekat bisa membaca dan menulis untuk terlepas dari sabetan penggaris. Dua hari kemudian sudah bisa membaca. Meski tidak lancar amat, tapi lebih lancar dibanding teman teman sekelas. Sudah bisa menulis t r a n s m i g r a s i.
Terimakasih Bapak

###
Quote:




kalo sekarang banyakan maen cheat
ya gan he he he
×