CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
UPDATE : Diskusi hasil persidangan kasus kopi maut - Part 1
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/57befbef98e31bac3f8b456a/update--diskusi-hasil-persidangan-kasus-kopi-maut---part-1

UPDATE : Diskusi hasil persidangan kasus kopi maut

Menanti Sidang tanggal 5 September 2016

Rangkuman sidang super singkat 1/9/2016

Menghadirkan ahli kriminologi dan psikologi. Yang menurut kesaksian para kaskuser yg menonton persidangan, mengambil kata2 ahli sebelumnya, ahli2 ini sangat tidak lazim dan sangat tidak umum dalam memberikan kesaksiannya, berkesan semaunya dan seenaknya saja. TS saat itu ada kasus, sehingga tidak mengikuti jalannya persidangan. Yang jelas di sini Jess lebih banyak berkata2 daripada sidang2 sebelumnya, antara lain "Pendapatnya banyak yang tidak benar. Bohong semuanya. Terima kasih" dan "Keterangan ahli banyak yang tidak benar. Saya pertegas lagi, saya tertarik hanya kepada laki-laki, dulu, sekarang dan selamanya"

Rangkuman sidang super singkat 31/8/2016

Saksi ahli forensik dr BS. Berpendapat bahwa Otopsi adalah Golden Standart, namun kemudian berdasarkan apa yang dilihat di CCTV, gejala2 korban, maka menyimpulkan kematian korban sesuai dengan tanda-tanda keracunan Sianida. Dan yang aneh menurut TS, saat menjelaskan kenapa Thyosianat tidak ditemukan, beliau berteori bahwa thyosianat telah rusak karena adanya formalin sehingga tidak ditemukan, dan berdalih bahwa formalin tidak sampai ke lambung, hanya sampai di dinding lambung, sehingga sianida tidak hilang. Padahal, sesungguhnya thyosianat ini jauh lebih stabil zatnya daripada sianida yg sangat mudah menguap, ditambah lagi di lambung sianida bertemu dengan HCl, belum lagi kenyataan bahwa suhu jenazah sudah sama dengan suhu lingkungan, di mana sianida malah tambah gampang menghilang di suhu tersebut.

Rangkuman super singkat sidang 30/8/2016

Saksi 2 orang dokter yang ada di IGD saat itu di RSAW. Korban datang sudah dalam kondisi DOA (Death On Arrival). Pada korban sempat dilakukan resusitasi. Mulut korban kebiruan, kuku korban pucat. (Sekedar informasi, pada keracunan sianida, karena terbentuknya sianmethemoglobin akibat adanya sianida, akan memberikan warna pink pada lebam mayat, yang biasanya dapat dilihat pada daerah kuku, lebam mayat ini mulai timbul sekitar 15 menit - 30 menit setelah kematian).

Berita terkait http://www.solopos.com/2016/08/29/si...jessica-748477

Gak nyangka klo ternyata trit ini bisa 7 kali jadi Top Trit BP, lebih gak nyangka sampe ke part 1 emoticon-Malu

Dan terima kasih banyak utk Momod yang sudah bantu merubah Judul emoticon-Malu

Dan terima kasih juga utk agan2 pengunjung trit yang saling berdiskusi secara sehat sehingga isi trit menjadi menarik dan semoga menambah pengetahuan bagi agan2 lain yg mengikuti trit ini. Semuanya silahkan kembalikan kepada penilaian masing2, namun marilah kita jaga bersama supaya trit ini tetap sehat walafiat.

Spoiler for Bukti TT 1:


Spoiler for Bukti TT 2:


Spoiler for Bukti TT 3:


Spoiler for Frequently Asked Question (FAQ):



Bagi yang baru membaca page one, sebenernya hanya sebagian kecil diskusi dari keseluruhan diskusi yang ada di trit ini, dan di page belakang, diskusinya sudah tidak berkaitan dengan judul trit ini lg, karena isinya berkaitan dengan berlangsungnya persidangan kasus kopi bersianida ini emoticon-Big Grin

Contoh, dari hasil diskusi di dalam trit ada bbrp yg TS angkut ke depan, sayangnya tidak semuanya bisa diangkut mengingat kapasitas terbatasnya page one, dapat dilihat di post ke 2 di bawah, ttg mekanisme kerja sianida, metabolisme sianida, dan SOP Olah TKP.

Update berita ada di post ke 3




Pengacara Jessica: Barista Terima Uang Rp 140 Juta dari Arief untuk Bunuh Mirna

JAKARTA, KOMPAS.com — Salah seorang barista kafe Olivier yang bersaksi dalam persidangan kasus kematian Wayan Mirna Salihin, Rangga Dwi Saputra, disebut menerima uang Rp 140 juta dari Arief Sumarko, suami Mirna.

Hal itu diungkapkan salah satu kuasa hukum Jessica, Otto Hasibuan, pada sidang lanjutan untuk mengadili terdakwa dalam kasus itu, yaitu Jessica Kumala Wongso.

"Rangga itu mengaku sama dokter waktu diperiksa, dia juga mengiyakan kalau dia menerima transfer dari Arief untuk membunuh Mirna. Rangga mengiyakan dan itu ada dalam BAP (berita acara pemeriksaan) polisi. Kami bukan mengada-ngada," kata Otto pada Rabu (27/7/2016) malam.

Menurut Otto, dari data yang dia miliki, seseorang mengaku polisi sempat mendatangi kafe dan mencari orang yang namanya Rangga. Orang itu mengatakan bahwa Rangga adalah suruhan Arief untuk meracuni Mirna.

Sebagai imbalannya, Rangga ditransfer bayaran sebesar Rp 140 juta.

Saat mendengar keterangan seperti itu, anggota majelis hakim, Binsar Gultom, menanyakan langsung kepada Rangga yang hadir pada persidangan itu.

Rangga mengungkapkan, dia telah membantah pernyataan Otto dan sebelumnya sudah pernah melaporkan hal itu ke Jatanras Polda Metro Jaya atas tuduhan pencemaran nama baik.

"Saya membantah, Yang Mulia. Kalau saya terima, saya sudah berhenti kerja," tutur Rangga.

Meski sudah dibantah, Otto bersikeras bahwa keterangan Rangga yang dia ucapkan tadi bukan keterangan palsu. Otto kembali menegaskan bahwa keterangan Rangga yang membenarkan menerima uang ratusan juta rupiah dari Arief untuk membunuh Mirna adalah valid.

Secara terpisah, Arief yang masih mengikuti jalannya persidangan juga membantah. Menurut Arief, dia belum pernah bertemu dengan Rangga sebelum di persidangan kasus pembunuhan istrinya.

"Enggak pernah (ketemu Rangga), enggak benar itu," ujar Arief.

Sidang untuk mengadili Jessica masih akan dilanjutkan pada Kamis (28/7/2016) besok dengan agenda pemeriksaan saksi dari kafe Olivier yang belum memberi keterangan pada sidang hari ini.

Sidang yang berlangsung sejak tadi pagi menghadirkan belasan saksi, termasuk Darmawan Salihin dan Hanie, selaku ayah dan teman Mirna.

Sumber: http://megapolitan.kompas.com/read/2...campaign=Kknwp

Waaawwww saat2 injury time menjelang sidang ditutup ada info yg bikin panik sekelompok org kyknya nih emoticon-Hammer (S)

Taktik jitu dari pengacara si J emoticon-Big Grin

Dengan begini, klo hakim mau, hakim bisa minta bukti2 baru, dan mau tak mau, apa yg diminta sama pak hakim harus dipenuhi, jd walopun kinerja pak pol melempem, dan ada data2/bukti2 yg kurang karena dari awal terlanjur sudah fokus nuduh si J sehingga mengabaikan kemungkinan yg lain. Bisa diperbaiki lewat "celetukan" injury time ini.

Ada 2 hal sih yg perlu dilakukan utk membuktikan "isu" ini (yg seharusnya dikerjain pak pol dari awal kasus). Dan semoga itu yg terjadi nanti emoticon-Peace

Walopun hasilnya blom pasti sih, tp namanya penyelidikan itu, ya semua tersangka emg harus diperiksa, biar jelas.

-----------------------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------------------

Quote:




Diubah oleh RyoEdogawa
Thread sudah digembok
Halaman 1 dari 501

Autolock Thread by Hansip

PEMERIKSAAN PADA KASUS KEMATIAN TIDAK WAJAR

Jika pada pemeriksaan luar dokter menemukan adanya luka, adanya bau yang mencurigakan dari mulut atau hidung, adanya tanda bekas suntikan tanpa riwayat berobat ke dokter, serta adanya tanda keracunan lainnya, maka kasusnya kemungkinan merupakan kematian yang tidak wajar. Kematian yang tidak wajar dapat terjadi pada kematian akibat kecelakaan, bunuh diri atau pembunuhan. Pada kasus-kasus ini dokter sebaiknya hanya berpegang pada hasil pemeriksaan fisik dan analisisnya sendiri dan bisa mengabaikan anamnesis yang bertentangan dengan kesimpulannya. Biasanya pada kasus kematian tidak wajar, ada kecenderungan keluarga korban untuk membohongi dokter dengan mengatakan korban meninggal akibat sakit, karena malu (misalnya pada kasus bunuh diri, narkoba) atau karena mereka sendiri pelakunya (pada kasus penganiayaan anak, pembunuhan dalam keluarga) atau takut berurusan dengan polisi (pada kasus kecelakaan karena ceroboh).

Dokter Puskesmas yang menemukan kasus dengan dugaan kematian yang tidak wajar, berdasarkan Pasal 108 KUHAP, sebagai pegawai negeri (dokter PTT dianggap sebagai pegawai negeri) wajib melaporkan kasus tersebut ke polisi resort (polres) setempat. Pada kasus ini dokter Puskesmas TIDAK BOLEH memberikan surat Formulir A kepada keluarga korban dan mayat tersebut harus ditahan sampai proses polisi selesai dilaksanakan. Dokter Puskesmas sebaiknya tidak memberikan pernyataan mengenai penyebab kematian korban ini sebelum dilakukan pemeriksaan otopsi terhadap jenazah.

Berdasarkan adanya laporan tersebut, penyidik berdasarkan pasal 133(1) KUHAP dapat meminta bantuan dokter untuk melakukan pemeriksaan luar jenazah (pemeriksaan jenazah) atau pemeriksaan luar dan dalam jenazah (pemeriksaan bedah jenazah atau otopsi), dengan mengirimkan suatu Surat Permintaan Visum et Repertum (SPV) jenazah kepada dokter tertentu.

Untuk daerah DKI Jakarta, pemeriksaan bedah jenazah umumnya dimintakan ke Bagian Ilmu Kedokteran Forensik FKUI/RSCM, akan tetapi pemeriksaan luar jenazah dapat dimintakan kepada Puskesmas dan Rumah Sakit manapun. Dokter yang diminta untuk melakukan pemeriksaan jenazah bisa dokter yang melaporkan kematian tersebut, bisa juga dokter lainnya.

Setiap dokter yang diminta untuk melakukan pemeriksaan jenazah oleh penyidik WAJIB melakukan pemeriksaan sesuai dengan permintaan penyidik dalam SPV. Dokter yang secara sengaja tidak melakukan pemeriksaan jenazah yang diminta oleh penyidik, dapat dikenakan sanksi pidana penjara selama-lamanya 9 bulan (pada kasus pidana) dan 6 bulan (pada kasus lainnya) berdasarkan Pasal 224 KUHP. Dengan demikian, seorang dokter Puskesmas yang mendapatkan SPV dari penyidik untuk melakukan pemeriksaan jenazah WAJIB melaksanakan kewajibannya tersebut.

Segera setelah menerima SPV dari penyidik, dokter harus segera melakukan pemeriksaan luar terhadap jenazah tersebut. Jika pada SPV yang diminta adalah pemeriksaan bedah jenazah, maka dokter pada kesempatan pertama cuma perlu melakukan pemeriksaan luar jenazah saja. Selanjutnya dokter baru boleh melakukan pemeriksaan dalam (otopsi) setelah keluarga korban datang dan menyatakan kesediaannya untuk dilakukannya otopsi terhadap korban. Penyidik dalam hal ini berkewajiban untuk menghadirkan keluarga korban dalam 2 x 24 jam sejak mayat dibawa ke dokter Selewat tenggang waktu tersebut, jika keluarga tidak ditemukan, maka dokter dapat langsung melaksanakan otopsi tanpa “izin” dari keluarga korban.

Pemeriksaan luar jenazah dalam rangka SPV dari penyidik harus dilakukan secara seksama, selengkap dan seteliti mungkin, dan bila dianggap perlu dilengkapi dengan sketsa atau foto luka-luka yang ditemukan pada tubuh korban. Untuk mencegah kemungkinan adanya data yang terlewatkan, maka dokter yang melakukan pemeriksaan luar hendaknya berpedoman pada formulir laporan obduksi. Lihat formulir laporan obduksi dari Bagian Ilmu Kedokteran Forensik FKUI pada lampiran..

Jika pemeriksaan yang diminta oleh penyidik hanya pemeriksaan luar jenazah (pemeriksaan jenazah) saja, maka setelah pemeriksaan luar selesai dilakukan, mayat dan Formulir A dapat langsung diserahkan kepada keluarga korban. Pada Formulir A tersebut, dokter harus menyatakan bahwa penyebab kematian korban “ tidak dapat ditentukan karena tidak dilakukan bedah jenazah sesuai dengan permintaan penyidik”. Kesimpulannya harus demikian karena pada kematian yang tidak wajar berlaku ketentuan bahwa “penyebab kematian hanya dapat ditentukan berdasarkan pemeriksaan dalam (otopsi atau bedah jenazah)”.

Jika penyidik meminta dokter untuk melakukan pemeriksaan luar dan dalam (pemeriksaan bedah jenazah atau otopsi), dan keluarga korban tidak menyetujuinya, maka dokter Puskesmas wajib menjelaskan tujuan otopsi kepada keluarga korban. Dokter pada kesempatan tersebut hendaknya memberikan beberapa keterangan sebagai berikut:
Bahwa kewenangan meminta pemeriksaan dalam atau otopsi ada di tangan penyidik POLRI, berdasarkan Pasal 133(1) KUHAP.

Dokter yang diminta melakukan pemeriksaan jenazah hanya melaksanakan kewajiban hukum, sehingga setiap keberatan dari pihak keluarga hendaknya disampaikan sendiri ke penyidik yang mengirim SPV. Keputusan boleh tidaknya dilakukan pemeriksaan luar saja pada kasus ini, ada di tangan penyidik. Jika penyidik mengabulkan permohonan keluarga korban, kepada keluarga korban akan dititipkan surat pencabutan visum et repertum, untuk diserahkan kepada dokter yang akan melakukan pemeriksaan jenazah. Dalam hal ini, dokter hanya perlu melakukan pemeriksaan luar jenazah saja.

Jika penyidik tidak menyetujui keberatan keluarga korban, maka keluarga korban masih mempunyai dua pilihan, yaitu menyetujui otopsi atau membawa pulang jenazah secara paksa (disebut Pulang Paksa) dengan segala konsekuensinya. Jika keluarga menyetujui otopsi, maka untuk kasus di DKI Jakarta, mayat akan dibawa ke RSCM untuk diotopsi.
Jika keluarga memilih pulang paksa, maka mereka baru boleh membawa pulang jenazah setelah menandatangani Surat Pulang Paksa. Surat Pulang Paksa merupakan surat yang menyatakan bahwa mayat dibawa pulang secara paksa oleh keluarga, sehingga tidak terlaksananya pemeriksaan jenazah merupakan tanggung jawab keluarga korban dan bukan tanggung jawab dokter. Berdasarkan surat ini, maka keluarga korban yang menandatangani surat tersebut dapat dikenakan sanksi pidana penjara selama-lamanya 9 bulan karena menghalang-halangi pemeriksaan jenazah, berdasarkan Pasal 222 KUHP. Bagi dokter surat ini penting, karena merupakan surat yang mengalihkan beban tanggung jawab atas tidak terlaksananya pemeriksaan jenazah dari dokter ke keluarga korban. Atas dasar itulah, maka surat ini harus disimpan baik-baik oleh dokter sebagai bukti pulang paksa, jika di kemudian hari penyidik menanyakan Visum et Repertum kasus ini ke dokter. Untuk amannya, pada kasus semacam ini dokter sebaiknya memberitahukan adanya pulang paksa ini ke penyidik yang mengirim SPV sesegera mungkin.

Dalam hal keluarga korban cenderung untuk memilih pulang paksa, maka dokter hendaknya menerangkan terlebih dahulu konsekuensi pulang paksa kepada keluarga korban, sebagai berikut :
Dokter tidak akan memberikan surat kematian (formulir A). Tanpa adanya surat formulir A, maka keluarga korban akan mengalami kesulitan saat akan mengangkut jenazah keluar kota/negeri, menyimpan jenazah di rumah duka atau saat akan mengubur atau melakukan kremasi di tempat kremasi/kuburan umum.
Karena tidak diberikan Formulir A, maka keluarga korban tak dapat mengurus Akte Kematian korban di kantor Catatan Sipil. Akte Kematian merupakan surat yang diperlukan untuk pengurusan berbagai masalah administrasi sipil, seperti pencoretan nama dari Kartu Keluarga, dasar pembagian warisan, pengurusan izin kimpoi lagi bagi pasangan yang ditinggalkan, pengajuan klaim asuransi dsb.
Dokter tak akan melayani permintaan keterangan medis dalam rangka pengajuan klaim asuransi sehubungan dengan kematian korban.
Dokter tidak akan membuat Visum et Repertum, sehingga kasus tersebut tidak mungkin bisa dituntut di pengadilan.
Di kemudian hari mayat dapat digali kembali jika penyidik menganggap perlu dan jika hal itu dilakukan, maka biaya penggalian menjadi tanggungan pihak keluarga korban.
Keluarga yang membawa pulang mayat secara paksa dapat dikenakan sanksi pidana menghalang-halangi pemeriksaan jenazah berdasarkan Pasal 222 KUHP dengan ancaman hukuman penjara selama-lamanya 9 bulan.

Pada kasus kematian tidak wajar yang diotopsi, setelah dokter selesai melakukan pemeriksaan dalam, mayat dan formulir A dapat segera diserahkan kepada keluarga korban. Dalam Formulir A, dokter hendaknya menuliskan penyebab kematian sesuai dengan kesimpulannya berdasarkan temuan otopsi. Dalam hal masih perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan sedangkan penyebab kematian belum dapat ditentukan, dokter hendaknya menulis penyebab kematian “belum dapat ditentukan”.

Jika terhadap mayat yang meninggal tidak wajar perlu dilakukan pengawetan jenazah, maka pengawetan baru boleh dilakukan setelah mayat selesai diperiksa sesuai dengan permintaan penyidik. Untuk kasus yang pulang paksa, pengawetan jenazah TIDAK BOLEH dilakukan, karena tindakan pengawetan jenazah dapat menyebabkan hilangnya banyak barang bukti biologis sehingga dapat menyulitkan penentuan penyebab kematian jika kemudian mayatnya digali lagi. Dokter yang nekad melakukan pengawetan pada kasus kematian tidak wajar sebelum proses polisi selesai, dapat dituntut oleh penyidik karena secara sengaja menghilangkan barang bukti dari suatu tindak pidana.

posted by AtmadjaDS,dr.SpF,SH,PhD,DFM http://pemeriksaanluarjenazah.blogsp...ian-tidak.html
Thanks to agan nightwalker7069


Fakta :
Yg menyarankan tempatnya di Cafe Olivier adalah H
Yg minta pesenin Vietnam Ice Cofee adalah si J
Bisa diliat di video di bawah ini, thanks to agan@Jabluk007 emoticon-Big Grin


Mengenai mekanisme kerja sianida

Quote:


Mengenai metabolisme Sianida dalam tubuh

Quote:


Bagi yang kepengen tau SOP olah TKP

Quote:








Update: Kurang tepat klo update kyknya, cuma merefresh aja kali yaaa. Dan karena persidangan sedang berjalan serta berkaitan dgn kesaksian pegawai cafe, gak ada salahnya kita kembali sebentar ke masa lalu emoticon-Peace

Awal2 kasus wa inget pernah baca berita ini, tp sampe skr wa gak tau siapa orgnya, dan karena dari awal pak pol udah "fokus" ke si J, wa berasumsi org ini pun luput dari pemeriksaan.

Sumber : http://m.okezone.com/read/2016/01/27...=utm_source=br

Depresi Kasus Pembunuhan Mirna, Pegawai Kafe Olivier Resign

JAKARTA - Banyaknya pemberitaan mengenai kasus tewasnya Wayan Mirna Salihin (27) juga berdampak ke salah satu pegawai Kafe Olivier di West Mall Grand Indonesia, Jakarta Pusat.

Menurut pengakuan pegawai yang masih aktif bekerja di kafe itu, ada rekannya memilih resign dari Kafe Olivier. Alasannya, pegawai tersebut mendapat teguran dari atasannya karena memberikan pernyataan kepada media mengenai kasus Mirna.

"Dia depresi gara-gara pemberitaan di media yang pakai nama dia, jadinya dia ditegur sama atasan, akhirnya dia memilih untuk resign," ungkap seorang pegawai Kafe Olivier yang enggan disebut namanya kepada Okezone di Jakarta, Rabu (27/1/2016).

Penyebab lain dari depresinya sendiri adalah karena ada beberapa media yang mengutip penuturannya, namun menggunakan nama yang berbeda.

"Iya, kemarin ada lima media yang salah pakai namanya. Sampai beda-beda namanya, itu bikin dia kepikiran sampai depresi," ungkapnya.

Sebelumnya, Kafe Olivier berusaha menutupi alasan sesungguhnya mengapa ada salah satu rekan pegawai yang keluar dari sana. Bahkan, beberapa pegawai menyebutkan alasan resign dari rekan mereka tersebut adalah karena kinerjanya yang kurang bagus. (fmi)


Kejutan sidang tanggal 25 Agustus 2016

Surat Permintaan Visum (SPV) untuk korban yg dibacakan oleh Penasehat Hukum, ternyata Permintaan dilakukan Pemeriksaan Luar dan Dalam (Otopsi), dan bukan pengambilan sampel seperti fakta di kesaksian persidangan sebelumnya. Penasehat Hukum akan memanggil ahli forensik untuk memeriksa kebenaran isi SPV tersebut.

Thyosianat diakui oleh ahli toksikologi tidak ditemukan pada korban. Sang ahli berteori bahwa Thyosianat tersebut menghilang karena telah mengalami penguraian menjadi karbon monoksida dan lain-lain karena adanya mikrobiologi/mikoorganisme. TS pribadi sangat kagum sama mikroorganisme super tersebut, karena masih mampu bekerja keras membanting tulang padahal pada korban telah dilakukan embalming/pengawetan dengan menggunakan formalin. Dan padahal saksi ahli forensik sebelumnya pernah bersaksi, karena adanya proses pengawetan semua proses (pembusukan) terhenti.

Menurut laporan langsung dan pendengaran seorang kaskuser (gajah.tewur) melalui tipi kreditannya "karyawan ol***r memindahkan data dvr dari tanggal 1 sd tanggal sebelum kejadian ke suatu media/penyimpanan tersendiri, sedangkan data rekaman pada hari kejadian dipindahkan oleh karyawan ol***r ke flashdisk, dan kemudian flasdisk tsb yang disita ke poli ciandehlu". Kejutan yg ini blom dapat dipastikan kebenarannya karena didahului oleh kata2 ilustrasi oleh JPU.

Dan bagi sebagian penonton persidangan kali ini, setelah selesai mendengarkan kuliah dari saksi ahli hukum pidana, masing2 merasa telah merasa bergelar S.S.H.B.K.B (Sadar Suramnya Hukum Bikinan Kolonial Belanda). Ternyata kita masih dijajah sodara2 emoticon-Frown

Demikianlah laporan singkat sidang hari ini 25/8/2016

emoticon-Leh Uga emoticon-Leh Uga




Quote:






Krishna Murti Pastikan soal Uang Rp 140 Juta Tak Ada di BAP Rangga

Kamis, 28 Juli 2016 | 15:32 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Salah satu saksi dalam kasus pembunuhan Wayan Mirna Salihin, Rangga Dwi Saputra, disebut kuasa hukum Jessica Kumala Wongso, Otto Hasibuan, mengaku didatangi polisi menerima uang Rp 140 juta dari Arief Sumarko, suami Mirna, untuk membunuh Mirna.

Menanggapi hal itu, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Krishna Murti mengatakan, pernyataan Rangga itu saat diperiksa oleh tim psikiater.

"Tidak ada di BAP, jadi itu kan kami mem-profile semua potential suspect. Jadi salah satu caranya kami membawa ke psikiater. Itu adalah hasilnya, psikiater hasil dari curhatannya Rangga," ujar Krishna kepada Kompas.com, Kamis (28/7/2016).

Krishna menjelaskan, saat itu, yang mendatangi Rangga bukanlah orang yang mengaku polisi, melainkan seorang wartawan. Wartawan itu mendatangi Rangga untuk mengonfirmasi mengenai uang sebesar Rp 140 juta yang diterima dari Arief.

"Rangga curhat ke psikiater ada wartawan yang menuduh dia, datangi dia dan bilang Rangga dapet transferan dari Arief. Jadi itu curhatan Rangga di psikiater. Itu catatan medis dari psikiater," ucapnya.

Krishna mengungkapkan, pemeriksaan psikiater tidak hanya dilakukan pada Rangga, tetapi kepada semua potential suspect dalam kasus tersebut.

"Jadi itu bukan hanya Rangga yang kami bawa ke psikiater, yang lain juga kami periksa, kami profile, supaya untuk mencari tahu keterangan itu valid atau tidak," kata Krishna.

Sumber:http://www.tajuk.id/read/kompas/kris....di.bap.rangga

soktaudotcom mode on
Klo wa sih berharap, "misi" Otto utk membuat org lain terutama tim Hakim berpikir bahwa bisa saja kemungkinan pelakunya org lain dapat menjadi pertimbangan.

Tapi karena ini sidang Jessica, dimana tim hakim akan menilai apakah si J bersalah atau tidak, dan juga bukan kewajiban hakim mencari tau siapa pelaku sebenernya karena itu sudah di luar koridor persidangan. Maka kemungkinan yg disebut Otto, baru bisa ditangani lebih lanjut dengan serius apabila hasil sidang memutuskan bahwa si J tidak bersalah.

Dan wa pribadi, seandainya emg bener si J tidak bersalah nanti, akan memberikan informasi (bagi pihak yg membutuhkan) ttg kemungkinan2 bagaimana kasus ini bisa terjadi sehingga semoga bisa menuntun kepada pelaku sebenarnya. Karena setelah mengikuti persidangan, wa punya teori, namun teori itu perlu dibuktikan dengan data2 yg hanya bisa dikumpulkan oleh pihak berwenang. Apabila data2 tsb mendukung teori wa, maka pelakunya bisa ketahuan emoticon-Peace

soktaudotcom mode off





Reserved for Update 2

Mulai dari menit 65:40



Terima kasih kepada Agan Kondektur
Diubah oleh RyoEdogawa
Rangkuman - update berkala

Quote:


Ayo2 kumpulin bukti2nya,
Quote:


gan emoticon-Malu
Ada bukti transfernya ya monggo
Lah lah melengosnya kok ke pegawai cafe nih kasus, mana bapaknya mirna ngaku ga pegang rekaman cctv yg dulu sering dia bilang di media lagi. Apa pertanda win win solution kah?
jurus apa pula ini... canggih canggih...
lohhh naaahhh emoticon-Bingung
agak ganjil juga kalau rangga naro minuman buat bunuh mirna, secara yang pesen jessica. atau mau bunuh jessica, apa motifnya?
Hakim bisa minta bank buka data rekening si Rangga kan??

reserved

Diubah oleh knight
Quote:


Duit lah bro, aneh jga tuh si rangga
Quote:


Iya Gan, makanya wa sediakan tempat buat update emoticon-Big Grin

Besok itu bener2 besok hari kamis 28 Juli, atau maksudnya besok dipersidangan selanjutnya (yg mungkin bisa seminggu mendatang)?

Quote:


Alo Gan koray emoticon-Big Grin...

Akhirnya wa gak ditanyain villa lagi deh wkwkwk emoticon-Big Grin

Quote:


kenapa makin semrawut yah ini kasus emoticon-Bingung
Jgn2 ini pelornya bapaknya mirna emoticon-Big Grin
Dear pak hakim, bsk tolong summon dtektif conan kalau ga si sherlock ajaemoticon-Big Grin
Rumitnya kasus ni hadeh..
tinggal buka bukti trnsferan di rekening
seiring berjalannya waktu, ada hal2 baru yg terungkap emoticon-Big Grin
semakin lama akan semakin menunjukkan kinerja plokis yg bobrok emoticon-Big Grin

khususnya ayah mirna tuh, ampe kejang2 td waktu ane nonton tipi emoticon-Ngakak (S)
ampe pengacara jess meminta hakim supaya ayah mirna dijauhkan dari para saksi emoticon-Ngakak (S)

harusnya para saksi khususnya rangga kudu di masukkan dlm perlindungan saksi emoticon-Big Grin

ada 2 hal baru,
ternyata sedotan gak ilang tapi dibuang oleh pelayan kafe.
ada isu rangga didatangi sesorang utk menanyakan duit 140 jt.

yg ane penasaran dan curiga ame si yohannes, kesaksiannya berbeda dgn rangga mengenai sedotan.
yohannes bilang sedotan udah gak ada saat di pantry, dan dia liat si devy memakai sedotan baru..
padahal rangga dan devy bilang sedotan msh ada, dan devy bilang sedotan dibuang ame pelayan kafe lainnya setelah ia mencicipin kopi itu.

hakim harus konsen pada hal2 yg tidak masuk akal, sehingga gak terpaku ame isi dakwaan jaksa.

yg ane heran itu, napa cctv kliatan buram??
pengacara harus jeli jg meliat hal ini, baiknya mengenai kualitas cctv harus dijadikan perhatian, misalnya manggil ahli cctv utk memeriksa cctv kafe itu.
Halaman 1 dari 501
GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di