TS
metrotvnews.com
Stigma Politik Uang Harus Dihapus dari Golkar

Metrotvnews.com, Jakarta: Syahrul Yasin Limpo, salah satu dari dua calon ketua umum Partai Golkar yang tidak memberikan mahar politik. Ia tak ingin, mahar politik menjadi budaya yang tumbuh di tubuh Golkar.
Ia menuturkan, bila dirinya ikut memberikan uang sama halnya memberi legitimasi pada cara-cara yang tidak benar. Menurutnya, uang bukan segalanya. Partai dan negara tidak hanya dihidupi dengan uang saja.
"Golkar adalah partai besar. Seluruh bentuk yang dilakukannya bisa menentukan cara dan budaya Golkar. Rekrutmen pintunya ada pada partai. Tidak boleh ada bentuk uang," kata Syahrul di Jakarta Pusat, Minggu (8/6/2016).
Dia mengaku tak masalah bila dirinya kalah. Paling penting, dirinya sudah bisa menghentikan politik uang pada proses rektumen caketum Golkar.
"Menang atau kalah tidak masalah. Itu bukan utama, yang paling penting menghentikan distorsi yang berkaitan dengan rektutmen tidak bisa dibudayakan," ungkap Syahrul.
Ia bertekat mengubah stigma bahwa pemegang kekuasaan harus berdompet tebal. Syahrul menuturkan, dirinya sudah mematahkan stigma tersebut pada lima kali pilkada.
"Saatnya stigma seperti itu diubah dan di situ posisi saya. Saya lima kali pilkada tidak pernah melakukan politik uang," tandas Syahrul.
Kendati tak menyerahkan uang senilai Rp1 miliar, Syahrul Yasin Limpo dan Indra Bambang Utoyo lolos menjadi bakal calon ketua umum Partai Golkar.
Ketua Pengarah (Steering Comittee/SC) Nurdin Halid mengungkapkan, proses administrasi pendaftaran dengan membayar Rp1 miliar menyalahi ketentuan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) serta Undang-undang Partai Politik Nomor 34 tentang Keuangan Partai. Maka, uang pendaftaran Rp1 miliar dijadikan sebagai sumbangan.
"Sumbangan dalam AD/ART dan UU Parpol Nomor 34 tentang Keuangan Partai memang tidak ada istilah uang pendaftaran, yang ada hanya iuran dan sumbangan. Oleh karena itu SC melakukan perubahan sesuai dengan UU Parpol maupun AD/ART yakni sebagai iuran atau sumbangan," papar dia.
Dalam AD/ART, sumbangan merupakan iuran yang tidak mengikat. Karena itu, pembebanan Rp1 miliar kepada bakal calon ketua umum Partai Golkar adalah sumbangan yang tidak mengikat. Dengan demikian, kata dia, tidak menjadi dasar kepada kandidat yang telah mendaftar untuk tidak diloloskan meski tak membayar Rp1 miliar.
"Khusus kepada Pak Syahrul dan Pak Indra Bambang memang persyaratan administrasi yang belum dipenuhi adalah belum ada sumbangan. Tapi karena sumbangan itu tidak mengikat, maka tidak menjadi kewajiban untuk tidak meloloskan peserta dalam persyartan administrasi," imbuh Nurdin.
Dengan demikian, bakal calon yang dapat mengambil nomor urut caketum Partai Golkar adalah Aziz Syamsudin, Mahyudin, Setya Novanto, Priyo Budi Santoso, Ade Komarudin, Airlangga Hartanto, Syahrul Yasin Limpo dan Indra Bambang Utoyo.
Sumber : http://news.metrotvnews.com/read/201...us-dari-golkar
---
Kumpulan Berita Terkait GOLKAR :
-
Mahasiswa NTT Kritik Pencalonan Setya Novanto Jadi Ketum Golkar-
Panitia Klaim Persiapan Munaslub Sudah Rampung-
Stigma Politik Uang Harus Dihapus dari Golkar0
799
2
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan