alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/571e34a9de2cf202198b456c/dunia-yang-sempurna-tamat
Dunia Yang Sempurna
Dunia Yang Sempurna [TAMAT]


Dunia Yang Sempurna [TAMAT]
(credit to : risky.jahat for the beautiful cover)


PROLOG :

Gue selalu percaya, apapun yang kita alami di dunia ini selalu memiliki alasan tersendiri. Ga terkecuali dengan kehadiran orang-orang di kehidupan kita. Setiap orang, setiap hal, memiliki perannya masing-masing di kehidupan kita ini. Ada yang datang untuk sekedar menguji kesabaran kita, ada yang datang untuk menyadarkan kita akan mimpi dan harapan yang selalu mengiringi kita.

Gue menulis cerita ini, sebagai wujud rasa cinta gue terhadap segala yang pernah terjadi kepada gue. Ada yang ingin gue lupakan, dan ada yang ingin gue kenang selamanya. Tapi pada satu titik gue menyadari, bahwa ga ada yang harus gue lupakan, melainkan gue ambil pelajarannya. Dan untuk segala yang pernah hadir di hidup gue, ataupun yang akan hadir, gue mengucapkan terima kasih dari hati gue yang terdalam.

Cerita ini berawal pada tahun 2006, pada saat gue masih culun-culunnya menjalani kehidupan. Gue baru saja lulus SMA, dan memutuskan untuk merantau, meskipun ga jauh-jauh amat, ke ibukota untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi lagi. Gue masih mengingat dengan jelas momen ketika gue mencium tangan ibu, dan elusan kepala dari bapak, yang mengantarkan gue ke gerbang rumah, sebelum gue menaiki angkutan umum yang akan membawa gue ke ibukota.

Ketika angkutan umum yang membawa gue ke ibukota itu mulai berjalan, gue sama sekali ga bisa membayangkan apa yang akan terjadi di hidup gue selanjutnya. Tentu saja gue ga bisa membayangkan kehadiran seseorang, yang dengan segala keunikan dan keistimewaannya, memberikan warna tersendiri di hati gue.

Nama gue Gilang, dan semoga sekelumit cerita gue ini bisa berkenan bagi kalian semua.


Quote:INDEX

Prolog
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 16
Part 17
Part 18
Part 19
Part 20
Part 21
Part 22
Part 23
Part 24
Part 25
Part 26
Part 27
Part 28
Part 29
Part 30
Part 31
Part 32
Part 33
Part 34
Part 35
Part 36
Part 37
Part 38
Part 39
Part 40
Part 41
Part 42
Part 43
Part 44
Part 45
Part 46
Part 47
Part 48
Part 49
Part 50
Part 51
Part 52
Part 53
Part 54
Part 55
Part 56
Part 57
Part 58
Part 59
Part 60
Part 61
Part 62
Part 63
Part 64
Part 65
Part 66
Part 67
Part 68
Part 69
Part 70
Part 71
Part 72
Part 73 - Senandung Soraya (bagian 1)
Part 74 - Senandung Soraya (bagian 2)
Part 75 - Senandung Soraya (bagian 3)
Part 76
Part 77
Part 78
Part 79
Part 80
Part 81
Part 82
Part 83 - Farewell
Part 84
Part 85
Part 86
Part 87
Part 88
Part 89
Part 90
Part 91
Part 92
Part 93 - Sayap-Sayap Patah
Epilog - BAGIAN SATU
BAGIAN DUA (TAMAT)
Penutup
PART 1

Gue duduk sendirian di sebuah bangku kayu panjang di selasar kampus baru gue ini. Dengan memakai seragam ala ospek kampus dan segala tetek bengeknya, gue memandangi sekeliling. Hari udah sore, dan ospek hari itu udah berakhir dengan seabrek tugas dari senior untuk dikumpulkan keesokan harinya. Badan gue udah lusuh, dan gue menduga bau badan gue pun udah ga sedap, mengingat seharian ini kami upacara di lapangan dan kegiatan luar kelas lainnya.

Hari itu gue dimasukkan dalam sebuah kelompok yang terdiri dari 15 mahasiswa baru lainnya, dan diperintahkan untuk membuat yel-yel beserta pernak-pernik tugas ospek yang menurut gue aneh bin ajaib. Gue menghela napas panjang, dan mengurut-urut bagian belakang gue karena lelah. Gue mau pulang ke kos, tapi pikiran gue terganjal oleh tugas kelompok yang menumpuk. Seberat apapun tugas itu, harus udah jadi keesokan harinya.

“kok bengong disitu, Gil?” sapa seorang cewek.

Gue menoleh ke samping. Agak jauh disamping gue tampak sesosok cewek dengan dandanan ala ospek sama seperti gue. Si cewek ini satu kelompok dengan gue. Tadi pagi dia memperkenalkan diri sebagai Soraya.

“eh, Aya. Ga kok gapapa. Lagi capek aja, pengen duduk…” jawab gue sambil cengengesan.

Soraya berjalan ke arah gue sambil menggendong tas ransel besar yang berisi entah apa, kemudian dia duduk disamping gue. Ada rasa malu dan ga percaya diri ketika Soraya duduk disamping gue. Bukan apa-apa, tapi gue sadar kalo keadaan gue lagi lusuh dan lengket gini setelah seharian dihajar ospek.

“panggil gue Ara aja.” celetuknya tiba-tiba.

“Ara?” gue mengulangi.

Soraya mengangguk. “Iya, Ara.”

Gue tersenyum dan ga mendebat dia lebih jauh. “gak pulang, Ra?” tanya gue.

“pengen balik ke kos sih, cuma nanti kan masih kumpul-kumpul lagi.” Ara menoleh ke gue, “lo sendiri, gak balik?”

“alasan gue sama kayak lo, Ra. Nanggung soalnya…” gue terkekeh.

“lo dari mana, Ra?” sambung gue.

“dari toilet tadi…”

“bukan, maksud gue lo dulu tinggalnya dimana…” gumam gue sedikit kesel.

Ara tertawa pelan, “asli sini sih, tapi gue SMA di Surabaya.”

“disini ngekos ya, Ra?”

Ara mengangguk, “iya gue ngekos disini, orang tua gue dinasnya pindah-pindah, jadi ya gak ada domisili tetap deh…” sahutnya.

“kalo lo, darimana, Gil?” tanyanya lagi.

“gue dari sebuah kota kecil di Jawa Barat…” gue tertawa, “jangan tanya dimana, soalnya gue takut kota gue itu ga masuk di peta…”

Ara tertawa dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia kemudian asik merapikan rambutnya yang didandani cukup aneh. Gue diam-diam memperhatikan sosok Soraya alias Ara ini. Sialnya, Ara mendadak menyadari dan langsung menoleh ke gue.

“apa?” tanyanya.

Gue kikuk dan membuang pandangan gue ke arah lain. “enggak, ga papa kok…”

Ara meniup wajah gue, dan itu membuat gue kaget. Sementara Ara cuma tertawa-tawa ga jelas. Dari kejauhan tampak langit semakin temaram, tanda malam sebentar lagi datang. Gue menoleh ke Ara, persis ketika Ara juga menoleh ke gue. Kami terdiam sejenak.

“lo gak pulang ke kos? Bentar lagi malem loh…” kata gue.

Ara tertawa, “gue juga baru mau ngomong hal yang sama….” dan kemudian kami tertawa terkikih berdua.

Gak berapa lama kemudian kami beranjak berdiri, dan berjalan cukup jauh menuju jalan raya diluar kampus kami, mencari angkutan umum yang masih ada. Kami menunggu beberapa lama, hingga akhirnya ada angkutan umum yang berhenti di depan kami. Ara kemudian menyebut nama daerah kosnya dia, dan kebetulan itu daerah yang sama dengan kos gue. Ah, pasti disitu banyak kosan juga, kan masih wilayah kampus, batin gue. Angkutan umum itupun berjalan pelan-pelan menuju ke daerah tersebut.

Beberapa waktu kemudian akhirnya sang angkutan umum sampai di tempat yang dituju oleh Ara, karena dia meminta supir untuk berhenti. Ketika gue memandangi tempat yang dimaksud, gue terkejut, ternyata kosan yang dimaksud Ara adalah kosan gue juga, yang baru gue masuki kemarin sore.

Setelah kami berdua turun dari angkutan umum, dan mobil tersebut telah meninggalkan kami, gue bertanya ke Ara.

“loh, Ra, lo ngekos disini juga?” gue menunjuk sedikit ke gerbang kosan berwarna coklat itu.

“lo ngekos disini juga, Gil?” tanyanya ga kalah kaget.

“iya, baru kemaren juga gue masuk. Sumpah gue ga sadar kalo ini kosan campur. Kirain cowok doang…”

Ara mengangguk sambil tertawa, “iya, awalnya sih gue ga mau kosan campur, tapi gara-gara gue cari kosannya mepet dan yang lain udah pada penuh, yaudah deh mau ga mau di kosan campur kayak gini.”

“gue malah ga tau, Ra….” sahut gue pelan.

Kami berdua melangkah masuk ke gerbang kos-kosan besar itu, dan melihat areal parkir didalamnya yang dikelilingi dengan kamar-kamar penghuni kos.

“lo disebelah mana, Ra?”

“itutuh di lantai dua yang pojok, dapetnya tinggal disitu doang ih. Kan ngeselin.” Ara menunjuk ke salah satu kamar tertutup di sudut lantai dua.

“bentar-bentar, Ra, lo masuk kesini kapan emang?” gue menyelidiki.

“kemaren sore-malem gitu lah. Lo kapan emang?”

Gue tertawa heran, dan itu juga membuat Ara heran dengan gue. Tawa gue begitu absurd, karena menertawakan kejadian absurd.

“gue masuk sini kemaren siang agak sorean.”

“kamar lo yang disebelah mana emang, Gil?”

“di sebelah kamar lo…” jawab gue.
PART 2

“di sebelah kamar gue? Hahaha. Kok bisa sih?” Ara tertawa terheran-heran, gue yakin dia juga sama herannya seperti gue.

“waktu gue dateng kemaren siang, kosan ini masih sisa dua kamar, ya kamar gue sama kamar lo itu. Berhubung gue ogah di pojokan, makanya gue milih yang satunya.” jawab gue sambil menaiki tangga.

“berarti gue dapet di pojokan gara-gara lo dong ish!” sahutnya kesel sambil menonjok bahu gue pelan.

“ya kayanya sih gitu, Ra. Untung gue dateng sedikit lebih cepet dari lo…” gue meringis sambil mengelus-elus bahu yang ditonjok Ara barusan.

Kami berdua sampai di depan kamar masing-masing, dan gue masuk ke kamar, begitu juga dengan Ara. Setelah melepas kemeja putih buluk yang sepertinya harus gue pake lagi keesokan hari, gue keluar dari kamar dan bersandar di balkon depan kamar sambil mengenakan kaos dalam dan celana panjang yang gue kenakan seharian ini. Gue menyalakan sebatang rokok, dan menghisapnya dengan santai sambil menikmati udara malam.

Baru sebentar gue merokok, terdengar suara Ara dari kamarnya.

“Eh, Gil, gue kok ga liat lo ya kemaren?”

Gue tertawa, “iya lah lo ga liat gue, orang gue tidur ini. Tuh tas-tas gue aja belom gue bongkar.” Gue menunjuk ke dua tas besar yang masih teronggok di sudut kamar.

“kemaren gue sampe sini, bersih-bersih kamar bentar, langsung tidur.” sambung gue lagi.

“pantesan aja sih…” Ara tertawa.

Ga berapa lama kemudian Ara keluar dari kamarnya sambil membawa setumpuk baju.

“mau kemana lo?” tanya gue bloon.

“mandi lah, lo pikir mau kemana?” balas Ara.

Gue tertawa dan melambaikan tangan gue, dengan gesture mengusir seperti seseorang mengenyahkan lalat. Ara mencibir dan mendengus, kemudian dia berlalu ke kamar mandi di bagian tengah selasar.

“Ra…” panggil gue.

Ara yang udah didepan kamar mandi menoleh ke gue. “Apa?”

“jangan lama-lama, gue juga mau mandi. Hehehe…”

“gue lama-lamain aah…” sahutnya sambil mengunci pintu kamar mandi.

Gue memutarkan bola mata, dan menggelengkan kepala melihat kelakuan cewek satu ini. Kenal juga baru sehari, ternyata kamar kita tetanggaan. Waktu itu sama sekali ga terlintas di pikiran gue untuk berbuat yang aneh-aneh, barangkali karena gue waktu itu sedang lelah. Lagian gue disini buat kuliah, bukan untuk berbuat maksiat. Gue masih mengingat dengan jelas segala wejangan ibu dan bapak di kampung, dan gue masih belum cukup gila untuk jadi anak durhaka.

Agak lama kemudian, Ara keluar dari kamar mandi, dengan mengenakan kaos berbahan agak tipis dan celana jeans. Sambil berjalan ke kamarnya, Ara cengengesan ke gue.

“gue pikir lo ketiduran di kamar mandi….” kata gue pelan.

Mendadak Ara meletakkan handuknya yang masih basah ke kepala gue, sehingga gue ga bisa melihat. Langsung gue singkirkan tuh handuk dan mendapati Ara cengengesan di samping gue, bersandar di balkon.

“bawel amat si lo kaya cewe…” tukasnya sewot.

“yee biarin, udah gue bilang juga mandinya jangan lama-lama. Gue kan juga mau mandi, lengket nih badan gue…” jawab gue ga kalah sewot.

“ya udah makanya sono mandi gih, daripada ngedumel…”

“sebatang dulu…” gue mengacungkan rokok di jari sambil nyengir.

Ara mencibir, kemudian berlalu masuk ke kamarnya. Dia menutup pintu kamarnya, sementara gue masih merokok di balkon. Ga berapa lama kemudian, gue memutuskan untuk mandi, karena gue udah kegerahan dan rokok gue juga udah abis. Ditambah lagi malam ini anak-anak sekelompok udah janjian ketemu di kampus lagi untuk mengerjakan tugas.

Setelah mandi, gue berdiri di balkon depan kamar Ara lagi, dan melihat pintu kamarnya masih tertutup. Gue masuk ke kamar, dan bersiap-siap. Ketika jam menunjukkan pukul 19.30, gue mengetuk pintu kamar Ara. Jangan-jangan molor nih cewe, batin gue.

Gue mengetuk pintu beberapa kali, dan ga ada jawaban. Gue tunggu sejenak, kemudian gue ketuk lagi, kali ini gue berniat agak keras. Barangkali bener dia ketiduran, biar dia kebangun, gitu pikir gue.

Ketika gue mengetuk pintu dengan agak keras, mendadak pintu kamar Ara terbuka, dan alhasil ketukan dengan jari tengah gue itu mendarat di bagian atas bibirnya.

“aduh!” Ara terkena ketukan jari gue di bibir, dan seketika itu juga menutupi bibirnya.

Gue terkejut, dan langsung meminta maaf ke Ara.

“eh sorry sorry Ra, ga sengaja. Sorry… lo gapapa kan?” tanya gue khawatir.

Ara ga menjawab dan masih mengusap-usap bibirnya yang ga sengaja kena jari gue. Kemudian dia menonjok lengan gue dengan jengkelnya. Gue sih ga melawan apa-apa karena emang gue yang salah.

“sakit tau bego….” sungutnya.

“iyaa sorry, Ra. Gue kira lo ketiduran…”

“sabar napa sih, gue lagi dandan!” dia masih sewot.

“iya maafin gue ya Araaa. Dah yuk ke kampus lagi.” ajak gue sambil mengajaknya keluar kamar.

“ogah, males gue.”

“lah? Kok males? Ntar kalo ga kelar tugasnya kita semua bisa kena semprot…”

“biarin, sebodo amat. Ogah gue…” dia merajuk.

“Raa, jangan gitu dong ah… yuk keburu malem nih ntar…”

“tau ah, ogah. Ini udah malem…”

“ya makanya itu yok ke kampus yok….”

“……….”

“Raaa….”

“………”

“Ara….”

“………..”

“nanti pulangnya dari kampus gue traktir nasi goreng deh….”

“bener? Janji lo ya? Awas lo kalo boong gue lempar dari balkon…”

Gue cuma bisa geleng-geleng kepala memandangi cewek bernama Soraya ini. Cewek yang baru gue kenal sehari tapi udah memaksa gue untuk memohon-mohon kepadanya. Entah masih ada berapa hari lagi seperti ini, pikir gue lemas.
emoticon-Toast lanjut kan gan.. sepertinya menarik ceritanya... jangan kentang ya gan!!!emoticon-Sundul Up
PART 3

Seminggu setelah ospek selesai, gue dan Ara udah mulai terbiasa oleh rutinitas kuliah. Karena masih semester-semester awal, jadilah gue dan Ara sering, bahkan selalu sekelas. Pelan-pelan gue mencoba mengenal cewek yang hidup disamping gue ini. Malam itu gue dan Ara duduk bersila di lantai, di depan kamar Ara. Gue bersandar di balkon, sementara Ara duduk bersandar di kusen pintu kamarnya.

“ra…” panggil gue.

“hmm?” ara tampak sibuk memainkan handphonenya.

“lo punya pacar, Ra?”

Ara mengalihkan pandangan dari handphone yang dari tadi dia pegang, dan beralih ke gue. Dia terdiam sebentar, kemudian tertawa kecil.

“iya, punya. Kenapa emang?”

Gue menggeleng, “gapapa, nanya aja gue. Abisnya lo kayak asik gitu SMSan daritadi…”

“bilang aja lo ga betah gue cuekin sih…” sahutnya gemas sambil menyenggol kaki gue dengan kakinya.

“ya engga juga sih…”

“boong banget…” Ara menjulurkan lidah.

“betah-betah aja gue sih…” gue kekeuh.

“ya udah kalo gitu gue SMSan dikamar aja ya. Byeee…” sahutnya sambil beranjak berdiri dan mencoba menutup pintu.

“eh tega lo ninggalin gue diluar gini...” jawab gue sewot.

“ya tega aja, lagian gue juga capek, lo juga tidur sono gih!” perintahnya.

Ara nyengir kemudian menutup pintunya, meninggalkan gue yang masih duduk bersandar pada balkon sendirian. Kampret, pikir gue. Akhirnya dengan malas-malasan gue merangkak masuk ke kamar gue, mendorong sedikit pintu dengan kaki, sehingga masih ada celah sedikit untuk ventilasi udara. Gue kemudian berbaring di kasur, dan mata gue menerawang ke langit-langit, berharap mata gue mulai sedikit mengantuk karena hawa malam.

Gue terbangun karena ada suara seorang cewek yang memanggil nama gue. Entah berapa lama gue tertidur. Gue melihat Ara sedang berdiri di celah pintu yang tadi sengaja gue biarkan terbuka. Mungkin lebih tepatnya Ara lagi ngintipin gue.

“Gilaaang…” panggilnya lirih.

Gue bergidik. Itu beneran Ara apa jadi-jadian yang nyamar jadi Ara? Kok manggilnya lirih-lirih sedap gitu.

“Ara? Kenapa?”

Perlahan Ara membuka pintu kamar, dan memandangi gue dengan tatapan polos.

“Lo tidur?” tanyanya.

“enggak, gue lagi bikin bebegig sawah…” jawab gue sekenanya. Ya abisnya dia pasti lihat dong gue udah tidur tadi, masih nanya juga. “lo belom tidur, Ra?” tanya gue dari balik bantal.

“belom, ga bisa tidur gue, Gil…” jawab Ara, “gue boleh masuk?”

Gue menyingkirkan bantal yang menutupi muka gue, dan duduk sambil menggaruk-garuk rambut. “Boleh, masuk aja, Ra…” jawab gue sambil menguap.

Ara kemudian masuk ke kamar gue, dan gitu aja duduk di kasur, bersandar ke tembok di sebelah gue. Kepala gue rasanya pening, gara-gara baru tidur sebentar dan dipaksa bangun.

“temenin gue ngobrol dong…” pintanya.

Gue mengambil bantal dan memeluknya. “ya udah ngomong aja, gue dengerin….” jawab gue sambil memejamkan mata.

“gue lagi ada masalah sama cowok gue…..” dia mulai bercerita.

“uh – huh…”

“dia mulai posesif gitu sama gue. Waktu gue bilang ya gini ini konsekuensinya LDR, eh dianya marah-marah….”

“uh – huh….”

Ara mulai bercerita panjang lebar tentang masalahnya dengan cowoknya, dan gue cuma menjawab seadanya gara-gara ngantuk. Mendadak hidung gue dipencet dengan keras oleh Ara.

“aduhduhduh…” gue mengaduh mendadak, dan mata gue terbuka sepenuhnya. Gue lihat Ara ekspresinya kesel.

“napa sih Ra, sakit tau!” sahut gue keki.

“lah elo diajak curhat malah molor. Kan kesel gue!” balas Ara ga kalah keki.

“salah siapa lo curhat sama orang ngantuk….”

“lo kan tadi udah bilang iya, dengerin gue kek…” dia mulai merajuk.

Gue mengusap-usap muka gue, mencoba menghilangkan rasa kantuk gue ini demi seorang cewek rewel disamping gue. Gue menoleh ke Ara.

“iyaa udah ini gue dengerin. Gih cepet cerita, cepet bobo balik lagi ke kamar lo…” kata gue sambil tertawa.

“lo ngusir gue nih?”

“lah iyak masa lo mau tidur sini yang bener aja….” gue mulai lemes.

“ya udah gue balik ke kamar deh….” Ara merajuknya makin menjadi-jadi.

“lo mau cerita apa mau nguji kesabaran gue siiih….” gue mengerang sambil memeluk bantal erat. Rasanya kesel pengen cabik-cabik tuh bantal.

“ya makanya dengerin gue…..”

“IYA INI DARITADI GUE DENGER, SORAYAAAA….” gue merasa darah gue agak menggelegak seperti magma gunung berapi.

Akhirnya Ara pun mulai bercerita lagi panjang lebar, kali ini tanpa rewel karena gue udah sepenuhnya terbangun. Gue juga semampunya memberikan saran, dengan batasan-batasan yang ada, tentu saja, karena gue sama sekali ga tahu menahu dan ga kenal sama cowoknya Ara. Gue melihat jam di handphone gue udah menunjukkan pukul 2 pagi, sementara Ara semakin sedikit bercerita. Lama kelamaan suaranya semakin lirih dan akhirnya menghilang, dan dia tertidur di kasur gue.

Wah ini cewek bener-bener deh, pikir gue. Ngebangunin gue malem-malem buat ngegusur gue dari kasur. Akhirnya malam itu gue habiskan dengan tidur di tikar alas kasur gue, sementara Ara tidur di samping gue, dan diatas kasur gue.
masih anget emoticon-Sundul
Soraya alias Ara... Lucu sekaligus ngeselin orangnya, tipikal cewek manja2 gitu yah emoticon-Big Grin

Lanjut om Gilang emoticon-Angkat Beer
pagi-pagi di kantor, iseng buka kaskus, nangkring disini hahaha. Gak biasanya gw baca thread yang masih baru, tapi buat yang ini gw rasa gw bakal menikmatinya emoticon-Big Grinemoticon-Big Grin

Ini keren lho, baru awal-awal aja udah rebutan kamar emoticon-Big Grin

Bener kata om Gilang diatas, entah masih ada berapa hari lagi didepan yang semacam ini. Kayaknya dia udah hopeless banget gitu hahahaha
PART 4

Semalaman gue tidur beralaskan tikar, dan itu membuat punggung gue terasa pegal. Sekali-kali gue berusaha mengambil bantal milik gue yang dikuasai Ara, tapi selalu gagal. Gue mencoba tidur berbantalkan tangan gue, tapi semakin lama tangan gue terasa kebas. Menjelang subuh, gue yang ga bisa tidur dengan nyenyak, memutuskan untuk keluar ke balkon, dan memandangi langit fajar. Angin berhembus cukup kencang dan dingin. Gue membalikkan badan, dan melirik Ara yang masih tertidur dengan nyenyak di kamar gue. Barangkali ini lah yang bisa gue lakukan untuk sedikit meringankan beban di hatinya.

Gue terbangun ketika ada sebuah tepukan lembut mendarat di pipi gue. Karena gue masih ngantuk, gue cuekin itu. Semakin lama tepukannya berubah jadi tamparan. Gue membuka mata.

“sakit, Ara!” gue mengusap-usap pipi gue.

Ara duduk berlutut disamping gue, dan tertawa-tawa ga jelas. Gue membuka mata lebih lebar, dan mencoba untuk duduk. Gue ingat, tadi pagi gue bangun sebentar dan berdiri di balkon, sampai gue merasa ngantuk berat. Gue memutuskan mau ga mau gue tidur di tikar, karena ga mungkin gue tidur di kamar Ara.

“bangun lah, udah siang ini. Bentar lagi kuliah.” sahut Ara sambil beranjak berdiri dan keluar kamar.

“sekarang jam berapa?”

“setengah sembilan.”

“kuliah jam berapa?”

“Sembilan.”

Mendengar itu buru-buru gue bangkit dari duduk, menyambar handuk dan pakaian gue, kemudian langsung menuju kamar mandi. Sialnya, kamar mandi 2 biji itu lagi dipakai dua-duanya. Gue mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi, dan dibalas dengan ketukan dari dalam. Gue menghela napas berat. Dari kejauhan gue melihat Ara berdiri di depan kamarnya sambil tertawa-tawa.

Gue berjalan kembali ke arah kamar, sementara Ara sedang merapikan rambutnya.

“yang di dalem kamar mandi siapa si?” tanya gue.

“itu mba-mba dari kamar delapan.”

“oh mba-mba yang mukanya serem itu?”

“gue bilangin lo ntar…” ancamnya dengan tengil.

“tukang ngadu lo kayak anak TK”

Ara mencibir, “dah gih cepetan mandi sono! Ntar telat lagi kita!” perintahnya.

“iya iya ini gue udah bawa handuk, bawel amat si. Lagi gue mau mandi dimana, tuh kamar mandi kepake semua” elak gue.

“pake dibawah, dibawah” Ara menunjuk ke lantai bawah dengan sisirnya.

“males turunnya”

“mau gue lempar dari sini?”

“lo mau bunuh gue?” tanya gue sewot.

“lah tadi lo bilang males turunnya, yaudah biar lo ga usah jalan ya gue lempar dari sini aja kan, beres…” Ara tertawa-tawa tanpa dosa.

“udah gila lo ya” sahut gue sambil beranjak masuk ke kamar.

Gue duduk di kasur bersandarkan dinding, sambil menenggak air mineral kemasan botol dari meja. Gue kemudian menyalakan sebatang rokok, dan menikmatinya sambil memejamkan mata. Maklum masih ngantuk gue.

Gue melihat Ara mondar-mandir dari kamar ke balkon, entah apa urusannya. Di dalam mondar-mandirnya yang kesekian kali itu Ara menengok ke gue yang masih duduk bersandar di kamar.

“cepetan mandi lah, laper ini gue” rengeknya.

“hubungannya gue mandi sama lo laper apa?”

“ya cepetan mandi trus kita sarapan trus ke kampus begooo…” Ara masuk ke kamar gue dan menarik gue untuk berdiri. Dengan malas-malasan gue menuruti perintahnya itu.

“liatin gih kamar mandinya masih dipake apa engga…” gue mengajukan syarat.

“lo mau mandi aja ribetnya ngelebihin cewe”

“gue masih ngantuk tau”

“kebo deh lo” dia berkacak pinggang.

“eh yang tadi malem rewel ngajak curhat trus akhirnya ngejajah kasur gue sapa yak?” balas gue.

“jadi lo ga ikhlas gue curhatin?” tanya Ara ga kalah galak.

“ya ga gitu sih…” mendadak nyali gue menciut.

“ya udah ga usah ngeluh. Mandi gih sono…”

“bentar, nunggu rokok gue abis nih, sayang tau…” gue mengacungkan rokok di jari.

“M-A-N-D-I!” Ara mengultimatum.

“iya iya…”

Gue mandi dengan perasaan kesel. Kalo gue ingat-ingat lagi, tadi malam dia deh yang ngotot minta ditemenin curhat sampe merajuk-rajuk gitu, trus ketiduran di kasur gue, dan sekarang dia juga main perintah gue buat mandi. Gue sengaja mandi agak lama, biarin aja Ara laper, emang gue ga laper apa.

Gue keluar kamar mandi dengan langkah santai, sengaja memancing emosi Ara. Gue mau lihat dia ngomel-ngomel kaya gimana lagi. Tanpa gue duga, ternyata dia udah ada di kamar gue. Mukanya kesel, seperti yang gue perkirakan.

“lama amat si lo” gerutunya.

“panggilan alam, Ra...”

“jorok ih”

Gue tertawa, “jadi makan ga lo? Yuk makan.”

“tuh udah gue beliin nasi bungkus” Ara menunjuk ke 2 bungkusan cokelat yang tergeletak diatas meja.

“lah lo beli nasi?”

“iya kelamaan si lo mandinya, laper kan. Gue beli aja nasi di seberang.”

Gue tertegun sesaat, kemudian tertawa. “lo ga makan duluan aja?” sahut gue sambil merapikan rambut yang masih agak basah.

“engga lah”

“nungguin gue ya?” gue nyengir lebar.

“………..”

“yuk makan” gue duduk bersila di depan meja, dan membuka bungkusan tadi.

Gue melihat Ara ga langsung makan, tapi cuma mengaduk-aduk nasinya. Semakin lama gue makin heran dengan tingkahnya.

“kenapa lo? Ga dimakan malah diaduk-aduk doang” tanya gue heran.

“gapapa”

Ucapan “gapapa” dari seorang cewek pasti berarti ada apa-apa. Sambil mengunyah gue bertanya lagi. Wajahnya murung.

“kenapa? Cowo lo?”

“iya”

“marah lagi?”

“marahnya belom ilang kali” jawabnya. Ara masih belum memakan nasinya.

“udah makan dulu aja lo, udah jam segini juga. Mau berangkat jam berapa kita?” gue mengingatkan.

“iyaa gue makan nih iyaaa….” sahutnya merajuk.

Gue menggelengkan kepala. Antara gedeg dan kasihan sama cewek satu ini. Akhirnya kami berdua berangkat ke kampus naik angkutan umum, dan bisa dipastikan kami berdua terlambat masuk kelas.
Quote:Original Posted By smile.182
emoticon-Toast lanjut kan gan.. sepertinya menarik ceritanya... jangan kentang ya gan!!!emoticon-Sundul Up


terimakasih udah mau mampir yee emoticon-Big Grin

Quote:Original Posted By oggg52
masih anget emoticon-Sundul


enak anget-anget gan emoticon-Big Grin

Quote:Original Posted By surya90
Soraya alias Ara... Lucu sekaligus ngeselin orangnya, tipikal cewek manja2 gitu yah emoticon-Big Grin

Lanjut om Gilang emoticon-Angkat Beer


terimakasih udah mampir yaa, insya Allah gue update terus setiap hari emoticon-Big Grin

Quote:Original Posted By jayanagari
pagi-pagi di kantor, iseng buka kaskus, nangkring disini hahaha. Gak biasanya gw baca thread yang masih baru, tapi buat yang ini gw rasa gw bakal menikmatinya emoticon-Big Grinemoticon-Big Grin

Ini keren lho, baru awal-awal aja udah rebutan kamar emoticon-Big Grin

Bener kata om Gilang diatas, entah masih ada berapa hari lagi didepan yang semacam ini. Kayaknya dia udah hopeless banget gitu hahahaha


wah ada mas Bas emoticon-Big Grin terimakasih udah mampir mas Bas, salam buat mba Anin hehehe

page one sambil marathonnn lahhh......


Bahasa ente bagus gan, mudah2an cerita ente juga bagus kaya penyampaiannya emoticon-Cendol (S)
kayaknya bakal menarik emoticon-Malu emoticon-Malu landmark dulu lah emoticon-Malu emoticon-Malu
PART 5

Sepulang dari kampus, gue dan Ara ga langsung balik ke kos. Kami berniat mampir ke toko buku, sekedar refreshing. Menurut Ara ini lebih baik daripada ngemall, karena baru gue sadari kalo Ara adalah seorang kutu buku. Dia menyukai buku apa aja, terutama novel-novel fiksi. Gue kebetulan juga menyukai buku, meskipun ga sebesar Ara. Gue mengikutinya selama di toko buku itu.

“lo suka buku ya?” tanya gue.

Ara menoleh ke gue, tersenyum dan mengangguk. “iya, boleh dibilang gue dibesarkan diantara buku-buku. Bokap nyokap juga suka buku.” jawabnya.

“buku kaya apa yang lo suka?”

“apa aja kok. Kecuali buku-buku pelajaran mungkin.” Ara terkikih.

“kalo buku pelajaran mah gue juga ga suka kali, Ra.” gue juga tertawa.

“gue jarang ke toko buku…” sambung gue.

“asik tau di toko buku. Gue ngerasa kaya ada di dunia yang lain gitu…” ujar Ara sambil mendongak, mengamati deretan buku yang terpajang di rak.

“serem dong?”

“bukan serem yang gue maksud” Ara menonjok lengan gue pelan, “tapi gue ngerasa kaya masuk ke dunia-dunia pemikiran orang gitu deh. Apalagi baca-baca buku tentang sejarah gitu, kaya kita dibawa ke zaman yang sama.” jelasnya dengan semangat.

Gue mengangguk-angguk mendengarkan penjelasannya sambil memandangi deretan buku novel fiksi di hadapan kami. Gue mengambil sebuah buku dengan sampul yang menarik perhatian gue. Sebuah novel berjudul Norwegian Wood, karya Haruki Murakami. Gue membolak-balik halaman-halaman pertama dari novel itu, dan Ara memandangi gue sambil tersenyum.

“bagus tuh” celetuknya.

“lo udah pernah baca?” gue memandangi sampul novel itu.

“belom” Ara menggeleng sambil menjulurkan lidah.

“kok lo tau kalo ini bagus?”

“itu lumayan terkenal kok, gue pernah baca reviewnya”

Gue mengangguk-angguk. “lo suka Harry Potter?” tanya gue.

“suka sih, cuma gue belum selesai bacanya. Order of The Phoenix aja gue belom kelar” sahutnya sambil tertawa.

“itu yang mana ya?” gue cengengesan.

“yang itu tuh” Ara menunjuk ke salah satu buku Harry Potter yang tebal di
bagian bawah rak. Gue mengambil buku itu, dan merasakan beratnya.

“buset berat bener, Ra” gue mengamati sampul depan-belakangnya.

Ara tertawa. “iya emang. Kadang-kadang kalo udah baca buku, gue bisa lupa sama dunia sekitar. Ga keluar kamar, ga makan gitu lah. Rasa penasaran gue terlalu besar buat dibunuh.”

“gue malah ga betah baca buku lama-lama” sahut gue.

“hobi lo apa emang?”

“apa ya? Rasanya gue ga punya hobi.”

“orang kok ga punya hobi” cibirnya.

“merokok mungkin” sahut gue sambil tertawa.

“merokok mah kebiasaan jelek, bukan hobi” sungutnya sambil menjitak kepala gue pelan. Gue cuma tersenyum kecut, sedikit meratapi diri gue sendiri yang ga berhobi.

“kenapa lo ga coba baca buku aja?” sambungnya.

Gue berpikir sejenak. Benar juga saran Ara ini, ga ada salahnya mencoba satu kegiatan baru. Selama ini gue membaca buku hanya untuk selingan aja, bukan karena gue menyukai buku. Kali ini gue akan mencoba menyukainya.
PART 6

Gue terbangun di pagi hari, dan duduk di tepi kasur. Gue menggaruk-garuk rambut. Hari ini hari sabtu, dan kuliah lagi libur. Tumben pagi-pagi begini ga ada suara cerewet dari kamar sebelah, batin gue. Dengan ngantuk gue mengambil botol air mineral dari meja, dan menenggaknya sekaligus. Gue berjalan keluar kamar, dan bersandar di balkon, melirik kamar sebelah. Masih tertutup ternyata. Mungkin dia masih tidur. Gue memutuskan untuk cuci muka dan ke toilet.

Sekembalinya dari toilet, gue mendapati penghuni kamar-kamar di bawah seperti sedang melakukan ritual hari liburnya. Ada yang mencuci motor, ada yang jemur kasur, ada yang bermain gitar di depan kamarnya. Gue tersenyum memandangi kegiatan itu.

“halo” terdengar suara seorang laki-laki bersuara serak. Gue menoleh ke arah sumber suara.

Gue melihat bang Ginanjar, tetangga kos gue. Bang Ginanjar atau biasa disapa Bang Bolot ini berwajah sangar, brewokan, tapi penakut. Umurnya kira-kira lima atau enam tahun lebih tua daripada gue. Bang Bolot kayanya baru bangun, dan rambutnya masih acak-acakan. Dia berdiri di depan pintu kamarnya.

“eh baru bangun, Bang?” sapa gue.

“iya nih tadi malem lembur gue”

“lembur kerjaan apa lembur yang lain?” gue terkekeh.

“lembur yang lain apaan gue jomblo gini. Pagi-pagi ngajak ribut lo ya!” cerocos bang Bolot sambil menjewer kuping gue. Sementara gue tertawa ga selesai-selesai.

“hihihi sorry sorry, Bang. Banyak kerjaan emangnya ya?”

“iya dapet proyek bikin denah kantor gitu, pegel mata gue liat komputer terus.” Bang Bolot memijat-mijat sudut matanya, tampaknya dia beneran capek. “Cewek lo belum bangun?” tanyanya.

“Cewek gue? Siapa? Ara?” tanya gue.

Bang Bolot menunjuk pintu kamar Ara yang tertutup dengan bibirnya. “iya noh kamarnya masih ketutup. Tadi malem brapa ronde lo?” cecarnya dilanjut dengan tawa yang menggelegar.

“asal aja lo kalo ngomong, Bang. Gue sama Ara ga pernah ngapa-ngapain, lagian dia bukan cewek gue, Bang.” elak gue.

“ngapa-ngapain juga gapapa, Lang. Asal jangan sampe bocor aja. Safety can be fun.” Bang Bolot tertawa menggelegar lagi. “gue lihat lo deket banget sama Ara. Kemana mana nempel kaya ganggang.”

Kali ini gue yang tertawa. “iya abisnya mau gimana lagi, Bang. Sekampus, sekelas, eh apesnya gue tetanggaan di kos.”

“jangan lo sia-siain tuh.”

“sia-siain apaan Bang?” tanya gue heran.

“ya Ara. Kalo menurut penerawangan gue nih, dia tuh cewek langka.” sahutnya sambil meringis.

“lo sekarang ganti profesi jadi paranormal Bang?” gue memandangi bang Bolot sambil tersenyum menahan tawa yang mau meledak.

“gue serius ini, dibilangin orang tua malah ngeledek, gue tabok juga lo pake sendal” semburnya keki.

Gue tertawa terkekeh melihat Bang Bolot sewot. Bang Bolot ini udah gue anggap seperti abang sendiri. Dia lah penghuni kos asli sini yang pertama kali gue kenal, karena gue dan Ara sama-sama anak baru. Orangnya somplak, tapi dewasa, sesuai deh sama umurnya yang udah menginjak kepala tiga. Herannya dia masih aja jomblo. Kalo gue ingat statusnya ini, membuat gue meragukan setiap wejangannya.

“langka kaya gimana emang, Bang?” gue menyandarkan punggung di balkon dan menoleh ke bang Bolot.

“ya langka, kalo gue liat sih dia punya banyak rahasia yang disimpen rapat-rapat.”

“bukannya cewek selalu punya rahasia ya Bang?”

“kayanya yang satu ini beda”

“bedanya gimana”

“ya nanti lo cari tau sendiri aja deh” ucapnya sambil tertawa.

“ah lo ngasih informasinya dipirit-pirit macem iklan aja, Bang.” sahut gue keki. Gue kemudian berdiri membelakangi balkon, bersandar pada dinding balkon.

“tuh, gue bilang juga apa” Bang Bolot menunjuk ke halaman bawah dengan dagunya. Gue melongokkan kepala ke bawah, dan melihat Ara baru saja masuk ke halaman kos dengan membawa sebuah bungkusan.

Ketika Ara sampai di lantai dua, dia kaget melihat Bang Bolot disamping gue, sama-sama bersandar pada balkon. Sementara kami berdua senyum-senyum melihat Ara. Pagi itu gue amati dia mengenakan celana training, dan baju kaos, serta membawa bungkusan plastik berwarna hitam.

“pagi, Cantik, darimana nih?” sapa Bang Bolot sok playboy. Buru-buru gue sikut perutnya pelan. Sementara Bang Bolot terkekeh-kekeh.

“eh, Abang. Dari lari pagi, Bang.” jawab Ara agak kikuk, karena dia mungkin ga menyangka Bang Bolot bakal menyapanya seperti itu.

“tumben lari pagi lo, Ra?” sambar gue.

“gue rutin olah raga kali, lo aja tuh yang kebo” balasnya sambil mencibir.

“ya bangunin gue bisa kali”

“ogah ngajak lo, ntar yang ada pasaran gue jadi turun”

“tega lo, Ra” sahut gue memelas.

Ara mengulurkan bungkusan plastik tadi ke gue. “Nih, sarapan buat lo, tadi gue beliin nasi bungkus.” Ara kemudian menoleh ke Bang Bolot, “sorry ya Abang, nasinya cuma satu, kalo gue tau lo udah bangun juga gue beliin, Bang.” kata Ara dengan nada semanis mungkin.

“patah hatiku, Dik Ara….” jawab bang Bolot dengan wajah sok tersakiti. Ara tertawa-tawa.

Gue tersenyum dan menggeleng-geleng melihat tingkah mereka berdua, kemudian gue beranjak masuk ke kamar dan diikuti oleh Ara. Sambil membuka nasi bungkusnya, gue bertanya ke Ara.

“tadi lari pagi dimana lo?”

“cuma di taman deket situ, sekalian cari sarapan”

“thanks ya nasinya. Lo udah makan emang?” gue mulai menyendok nasi bungkus dan memakannya.

“udah tadi”

“tumben biasanya lo nungguin sarapan bareng gue”

“laper om, nungguin lo bangun udah pingsan gue kelaparan” jawabnya sambil tertawa. Ara memandang berkeliling. “lo ada acara gak ntar, Gil?”

Gue menggeleng sambil mengunyah makanan. “ga ada, kenapa emang?”

“temenin gue yuk.” mata Ara berbinar-binar.

“kemana?”

“cari TV hehehe” ucapnya sambil berlalu pergi keluar kamar gue. Gue cuma bisa menggelengkan kepala dan melanjutkan makan nasi. Ternyata ungkapan lama itu bener, ga ada makan siang yang gratis. Sekarang ga ada sarapan yang gratis.
numpang baca gan...
ijin nenda bangemoticon-Salaman
ijin gabung di pejwan ya bang, sambil baca cerita ente hehehehe
Quote:Original Posted By saputra121
numpang baca gan...


silakan gan, terima kasih udah mampir ya emoticon-Smilie

Quote:Original Posted By tako96
ijin nenda bangemoticon-Salaman


bikin benteng juga gapapa gan emoticon-Big Grin

Quote:Original Posted By kandadwipa
ijin gabung di pejwan ya bang, sambil baca cerita ente hehehehe


silakan dinikmati emoticon-Big Grin komen juga yah emoticon-Big Grin

ijin bangun rumah emoticon-Embarrassment

ara cewek konyol juga ya emoticon-Ngakak (S)

lanjutgan emoticon-Big Grin
Quote:Original Posted By masterbata
ijin bangun rumah emoticon-Embarrassment

ara cewek konyol juga ya emoticon-Ngakak (S)

lanjutgan emoticon-Big Grin


silakan gan, terima kasih udah mampir emoticon-Big Grin sering-sering mampir ya emoticon-Big Grin