alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/56fb82311cbfaa2c378b456e/the-left-eye
[TAMAT] THE LEFT EYE
Kepada agans dan aganwatis, sebelumnya TS ucapin salam kenal. Gak lupa TS mohon izin khususnya kepada momod, juga pada agans serta aganwatis buat aplod ini cerita.

The important thing is TS rakyat baru di kaskus. Jadi jika TS belum terlalu familiar dengan kata-kata yang sudah lazim digunain di kaskus, mohon dimaafkeun emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin

Sebagai rakyat baru, biar terlihat sedikit eksis (eeetttt dahhh),,, TS mau share cerita fiksi horor-misteri. Bukan mau ikut-ikutan mumpung di thread yang lagi populernya cerita horor, tetapi emang genre cerita ini udah dibikin dari taun kapan. Jika dibandingin dengan thread cerita horor yang udah populer jauh lebih serem cerita penampakan mereka toh itu pengalaman pribadi mereka.

Intinya niat TS PURE buat nyoba nge-thread di kaskus aja emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin

Quote:Antusias-antusias agan-agan yang ngebaca
Quote:Original Posted By red.sin
Kirain tina punya kemampuan pre-cognation..

Taunya bisa komunikasi ama "mahkluk halus" tho..
emoticon-Takut


Quote:Original Posted By sptrheru
Updatenya mana gan emoticon-Big Grin


Quote:Original Posted By shagydog46
Ayo gan lanjutkan update an nya hahahah
Ane udah penasaran nunggui nih
Ijin gelar perumahan juga gan wkwkwk


Quote:Original Posted By Budidrmnsyh
Ijin gelar tenda.... asik ni ceritanya gan


Quote:Original Posted By Dracoon
mantep bro "triller"nya
he he he...jadi semakin penasaran....siapa rafa sebenarnya....dan shinta he he he


Quote:Original Posted By mythzzz
asik ini baca nya.. tolong di apdet terus yaakk TS..
jangan kentangin daku..




Update komen dari agan-agan
Quote:Quote:Original Posted By kucrut666
Seru bray...
Walopun fiksi tp ts nya hebat nih...
Penulis beneran ini ts nya...
Keren bray...
Lanjut lah...


Quote:Original Posted By acrulianbandrex

gan, ane baru nemu trit agan semalem jam set3. dan barusan banget kelar bacanya sampe page terakhir. boleh ane komenin dikit gan? menurut ane pemakaian kata2 agan masih kaku, tapi sangat cukup untuk menjelaskan apa yang agan coba ceritakan, tapi.......

jujur, trit agan DILUAR EKSPEKTASI ANE. detailnya bikin ane bener2 bisa mbayangin jadi rafa yang digunakan sebagai sudut pandang orang pertama dalam cerita agan, plot twist nya bener2 gak keduga, imajinasi agan juga kayaknya unlimited nih yee? emoticon-Mewek mind to make a story book gan? you should try it gan. semangat berceritanya yaa!!! ane tungguin apdet2an cerita agan selanjutnya deh, cheers! emoticon-Shakehand2


Quote:Original Posted By Christofer.Jr
Halo gan, ente cocok banget nih buat jadi penulis buku fiksi. Endingnya agak susah ditebak, dan plot twistnya itu lohhhhh..... Grrrrr-nha berantakan hahahahha.


Quote:Original Posted By bapak.die
Agan harus posting final chapter gan, Jangan ada kentang diantara kita emoticon-Ngakak
Bisa mati penasaran ane.

Ane serius gan, jika ane mati penasaran ente bakalan jadi orang pertama yang ane hantui karena ngentangin ane.

JK. emoticon-Wink


Quote:Original Posted By fucky4.20
Ane kira endingnya rafa bakalan emoticon-Kimpoi sama salah satu cwe, antara kiki dan alisha (tina) emoticon-Smilie.

Ane puas ini cerita sampe tuntas emoticon-Rate 5 Star



Kelanjutan cerita akan TS usahakan apdet tiap hari senin

Gak lupa-lupa TS ngingetin,,,, Like once a wiseman said, pengunjung yang baik (mau yang silent reader juga) jangan lupa tinggalkan jejaknya ya emoticon-Big Grin

ane juga terima kok kalau dikasih emoticon-Rate 5 Star atau emoticon-Toast

yang penting semakin ramai ini thread maka semakin kepikiran TS buat terus ngelanjutin ini cerita, nyampe kelar biar gak ngentangin agans sekalian emoticon-Blue Guy Peace


Langsung aja deh masuk ke cerita ya emoticon-Malu

Chapter 1
Chapter 2
Chapter 3.1
Chapter 3.2
Chapter 4.1
Chapter 4.2
Chapter 5.1
Chapter 5.2
Chapter 6.1
Chapter 6.2
Chapter 7.1
Chapter 7.2
Special
Chapter 8.1
Chapter 8.2
Chapter 9.1
Chapter 9.2
Special II
Chapter 10.1
Chapter 10.2
Chapter 11
Chapter 12
Chapter 13
Behind The Story (The Left Eye)
Final Chapter


Luaaarr biassaaaa! Terima kasih TS ucapkan buat semua pembaca terutama yang baru-baru aja baca cerita TS ini. Meskipun sebenarnya cerita ini sudah lama sekali kelar emoticon-Big Grin

Kesan-kesan yang mereka tinggalin cukup membuat TS antusias dan senang.

Sampai-sampai membuat TS berimajinasi membuat cerita lanjutannya, tentu aja dengan beberapa tokoh tambahan.


Quote:Berikut TS update review komentar-komentar para pembaca:
Quote:Original Posted By G.d.Legion
Asli.. nih cerita kereen gan, banyak hal yang ga terfikirkan disni... hari ini ane marathon bacanya..
setiap part itu ngebuat penasaran tuk baca part selanjutnya.. top dah..
tapi sayang, pas ending..rafanya jg harus pergi... emoticon-Big Grin

btw, cek kulkas gan.. cmiw


Quote:Original Posted By the.self
Ane ga stujuuu sama komenan kaskuser laen gan... Ane sukaaa smuanyaaa!!!!
Ane suka alurnya, ane sukaaa gaya penulisan ente, ane sukaa critanya, ane suka imajinasinyaaaaa.... Pokoknyaaa i am your fans!!! 😎😎


Quote:Original Posted By baronfreakz
Keren gan cerita nya..ga bisa ditebak

emoticon-Rate 5 Star


Quote:Original Posted By dam.dom
buseeett..alurnya susah beneer ditebak gan . jujur ini pertama kali ane baca fiksi di sfth sampe tamat hahaha.biasanya udah males di tengah gara gara plotnya yg monoton . ane demen bgt sama penulisannya biar dikata baku gpp yg penting dari tulisan agan yang ane tangkep agan make imajinasi pouuol .. bebas nulis.. mantap gan . thanks karya yang tampan .


Jika berkenan dan jika agan-agan sekalian bener-bener suka dengan cerita ini, agan-agan sekalian bisa bantu TS untuk membuat cerita ini lebih dikenal lagi. Mungkin dengan melihat itu semua bisa membuat TS benar-benar termotivasi untuk membuat cerita lanjutan.

Terima kasih emoticon-Smilie

Chapter 1 - Intro

Namaku adalah Rafa, saat ini aku masih berstatus sebagai salah satu seorang siswa sekolah menengah atas di Jakarta. Ini adalah tahun ketigaku di sekolah, dimana yang lain sudah mulai sibuk untuk menyiapkan diri menghadapi Ujian Nasional sedangkan aku sibuk dengan rutinitas sehari-hariku sebagai karyawan di salah satu supermarket. Setelah pulang sekolah aku menjadi karyawan toko di supermarket setiap harinya.

Hal itu aku lakukan karena aku tidak ingin merepotkan pamanku dan keluarganya. Sudah cukup aku merepotkan mereka karena telah mengasuhku sejak kedua orang tuaku meninggal. Aku tinggal bersama pamanku (Abimana) dan istrinya (Tyas) beserta anak tunggalnya (Aris). Pamanku adalah kakak dari almarhumah ibuku, pamanku dan istrinya sangat sayang padaku karena dengan mengasuhku paling tidak mereka bisa merasakan mempunyai anak saat itu. Sampai akhirnya Aris lahir 3 tahun kemudian, pamanku dan istrinya masih tetap perhatian kepadaku.

Namun setelah aku menerima donor mata pada mata kiriku yang buta karena terkena petasan, perlakuan mereka terhadapku menjadi agak berbeda. Aku dianggap menjadi orang yang mengerikan bagi mereka. Iya, dengan mata kiriku yang baru ini aku dapat melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Aku bisa melihat arwah-arwah gentayangan.

Aku sendiri sebenarnya sangat takut pada awalnya dengan kemampuan mata kiriku ini, namun setelah sekian lama akhirnya aku merasa dengan mata kiriku ini membuatku dapat melihat isi dunia ini lebih luas dibandingkan dengan orang lain. Aku sudah sering melihat arwah orang yang baru saja meninggal, atau penunggu pohon besar yang ada di taman bermain di dekat rumah pamanku. Bahkan aku sudah sering melihat orang-orang yang diikuti oleh arwah gentayangan.

Namun dibalik kelebihan mata kiriku ini aku tidak bisa mendengar dan mengerti apa yang diinginkan oleh arwah-arwah yang aku lihat tersebut. Karena sejauh yang aku pahami setelah beberapa tahun menggunakan mata kiriku ini aku tahu bahwa setiap arwah-arwah yang bergentayangan itu masih memiliki alasan yang membuat mereka mati dengan tidak tenang. Mereka akan menghilang setelah masalah yang belum terselesaikan mereka itu tersampaikan.

Terkadang arwah-arwah yang kulihat setelah mengetahui aku dapat melihat mereka, mereka kemudian akhirnya mengikutiku kemanapun aku pergi sampai akhirnya aku mau membantu mereka untuk menyelesaikan masalah mereka yang belum terselesaikan atau pesan mereka terhadap orang-orang yang berharga bagi mereka sudah tersampaikan.

Memang sebenarnya hal ini membuatku risih karena mereka yang selalu mengikutiku sampai aku mau membantu mereka. Aku sudah sering meminta bantuan kepada orang-orang pintar yang katanya mempunyai kemampuan supranatural ataupun kepada para pemuka-pemuka agama untuk bisa membantuku menghilangkan kemampuan dari mata kiriku ini. Namun semuanya percuma karena semua yang mereka lakukan tidak pernah berhasil. Bahkan kalau kalian tahu ada beberapa di antara mereka yang diikuti oleh arwah-arwah yang gentayangan, mereka malah menolak untuk percaya karena mereka bilang kalau mereka diikuti mereka sudah tahu dari awal.

Karena itulah aku merasa percuma untuk melakukan hal-hal seperti itu lagi. Yang mengetahui kemampuanku ini hanya pamanku dan keluarganya. Pamanku melarang keras kepada istri dan anaknya kalau hal ini sampai tersebar kemana-mana bahkan ke kerabat sendiri. Hal itu dilakukan karena selain pamanku tidak ingin membuat keluarganya terlihat aneh di lingkungan tempat tinggalnya, hal itulah yang dia bisa lakukan paling tidak untuk menghormati adiknya, almarhumah ibuku.

Pamanku sendiri juga bukannya berpangku tangan dan berdiam diri saja melihat keanehan yang terjadi padaku. Pamanku sudah berusaha mencari tahu siapa sebenarnya identitas pemilik mata kiriku ini. Namun dari keterangan pihak rumah sakit sendiri memberitahukan bahwa pemilik asli dari mata kiriku ini adalah seorang wanita yang sudah meninggal dan wanita tersebut dalam surat wasiatnya mengatakan bahwa dia tinggal seorang diri dan tidak mempunyai keluarga.

Begitulah yang bisa kuketahui dari mata kiriku ini. Karena sampai sekarang pun aku masih belum mengetahui kenyataan yang tersembunyi dari mata kiri ini. Sampai nanti pada suatu saat aku bertemu dengan seorang perempuan yang memiliki kemampuan spesial sepertiku. Aku akhirnya mulai bisa menemukan benang merah pada hal yang tidak pernah aku ketahui sebelumnya.

Chapter 2 - Puisi Untuk Ibu

Ibu Guru : Anak-anak kalian tahu hari ini hari apa?
Rafa : Bu, rafa bu rafa tau hari ini hari rabu! (Ucapku sambil mengangkat tangan sebelum teman-temanku yang lain ikut menjawab)
Ibu Guru : emoticon-Smilie Betul rafa, hari ini hari rabu. Tapi rafa tau hari ini hari ini kita memperingati hari apa?
Kiki : Ibuuu, kiki tau bu! Hari ini hari ibu
Rafa : Iya bu, hari ini hari ibu tapi hari ini juga hari rabu bu, terus besok hari kamis.
Ibu Guru : Betul, 100 buat kiki! Iya anak-anak hari ini adalah hari ibu.
Rafa : Ibu guru, rafa juga dapat 100 kan?
Ibu Guru : Kalau rafa dapat senyum dari ibu emoticon-Big Grin
Rafa : Ah kenapa rafa gak dapat 100 kaya kiki bu?
Ibu Guru : Ha ha ha, itu karena rafa jawabannya kurang tepat. Ibu gak bilang salah kan sama jawaban rafa yang bilang hari ini hari rabu, besok itu hari kamis. Ibu baru bilang salah kalau besok itu kamu jawab hari jumat (seisi kelas menertawakanku) emoticon-Wakaka

Hari itu adalah hari rabu, tepat tanggal 22 Desember dimana Indonesia sedang memperingati hari yang diresmikan sebagai hari ibu. Begitulah suasana yang terjadi di ruang kelas 5 SD di tempat aku sekolah.

Pelajaran hari itu diisi dengan membuat puisi untuk ibu yang kemudian puisi-puisi yang kami buat itu akan dipilih oleh ibu guru dimana puisi yang terbaik akan dibacakan ketika hari pembagian rapor setelah ujian semester dilaksanakan akhir bulan nanti.

-0o0-

Malam harinya aku sedang sibuk di kamar untuk mengerjakan tugas pekerjaan rumah. Sedangkan ibu sedang memasak di dapur. Sebelumnya ayahku juga sudah pulang dari kantornya, ayahku biasanya pulang agak larut malam apalagi ketika tiap menjelang akhir tahun. Namun malam ini ayah bisa pulang lebih cepat.

Ayah :Rafaaa, kamu sudah mandi?
Rafa : Iyaa sudah yah, sudah shalat juga
Ayah : Kamu masih ngerjain PR ya? Mau ayah bantuin? (ucap ayah yang sekarang tiba-tiba sudah ada di kamarku)
Rafa : He he he, gak usah yah. Tinggal sedikit lagi kok.
Ayah : Cieeeee, pinter yah anak ayah.
Rafa : Iya dong, anak siapa dulu?
Ayah : Anak ayah kan?
Rafa : Anak ibu emoticon-Cool
Ayah : Ha ha ha, jadi gitu ya sini sini, awas ya gak ayah kasih uang jajan lagi (ucap ayah gemas sambil menggelitiki tubuhku)
Rafa : Ha ha ha, iya yah iya, ampuunn, rafa anak ayah juga deh

Tiba-tiba ibu berada di depan pintu kamarku
Ibu : Iya iya, rafa itu anak ayah juga anaknya ibu. Ayo makan dulu, udah siap makan malamnya
Rafa : Horeeee, makaaannn

-0o0-

Hari-hari berlalu semenjak makan malam itu, saat ini sudah memasuki minggu ke-4 bulan desember, dan hari terakhir ujian akhir semester. Dan besok lusa adalah hari terakhir di bulan desember atau hari dimana pembagian rapor dilakukan.

Ibu Guru : Ya, waktunya habis. Ayo anak-anak kumpulkan lembar jawaban ujiannya kedepan
Dino : Bentar bu, masih belum kelar, dikit lagi
Ibu Guru : Hayo dikumpulin sekarang, waktunya sudah habis. Oh iya jangan langsung pulang dulu ya. Karena habis ini ibu mau umumin puisi siapa yang menjadi puisi terbaik dan yang akan dibacakan nanti ketika pembagian rapor
Agung : Ah iya, puisi tentang hari ibu kemarin ya bu?
Ibu Guru : Iya betul agung, ibu sudah menentukan puisi mana jadi yang puisi terbaik di kelas ini
Agung : Siapa bu? Siapa bu?
Ibu Guru : Iya nanti ibu umumin, makanya kumpulin dulu lembar jawabannya
Teddy : Ini bu semua lembar jawaban ujiannya
Ibu Guru : Makasih ya teddy, nah sekarang ayo semuanya duduk terlebih dahulu

Kemudian seketika suasana kelas menjadi sunyi senyap, semua siswa di kelas sudah duduk di kursi masing-masing dan siap-siap mendengarkan pengumuman dari ibu guru.

Agung : Siapa bu? Puisi siapa bu?
Ibu Guru : Puisi yang ibu pilih sebagai puisi terbaik dan yang akan dibacakan waktu pembagian rapor nanti adalah puisi buatan kiki
Kiki : Yeeeeeee, horeeeeeeee (kemudian sengaja menjulurkan lidahnya kepadaku) emoticon-Stick Out Tongue
Ibu Guru : Dan puisi buatan rafa (ucap bu guru sambil tersenyum) emoticon-Smilie
Rafa : Hooorrrreeeeeeeee
Kiki : Ibu, kok jadi 2 orang sih?
Ibu Guru : Iya memang seharusnya ibu memilih 1 puisi dari 20 puisi yang ada, tapi ibu akhirnya menyerah karena memang ada 2 buah puisi yang menurut ibu sangat bagus. Yaitu puisi kamu dan puisi rafa
Kiki : Yaaaaahhh (huh coba liat kelakuannya, joget joget gak jelas gitu) emoticon-No Hope
Ibu Guru : Selamat ya buat kiki dan rafa, nanti kalian harus menyiapkan diri buat membaca puisi kalian waktu pembagian rapor nanti

-0o0-

Malam harinya…

Ibu : Rafa, kamu beneran gak mau ikut ibu sama ayah pergi?
Rafa : Enggak bu, rafa lagi ada yang dikerjain buat lusa nanti
Ibu : Memangnya kamu sibuk ngerjain apa buat lusa? Kan lusa cuma pembagian rapor?
Ayah : Ah iya lusa ya, kalau kamu bisa juara 1 lagi ayah janji kasih hadiah deh
Ibu : Ciyeeee, emang rafa yakin bisa juara 1 lagi?
Rafa : Khusus untuk semester ini rafa yakin, tapi boleh gak kalau rafa minta hadiahnya duluan?
Ayah : Duluan? Terus kalau kamu ternyata gak juara 1 gimana?
Rafa : Gak mungkin gak mungkin, rafa yakin kok emoticon-Cool Tapi kalau emang rafa gak juara 1 semester depannya lagi kalau rafa juara 1 rafa gak perlu dikasih hadiah deh. Gimana?
Ibu : Ciyeeee anak ibu yakin banget ya, he he he…
Ayah : Memangnya rafa mau hadiah apa?
Rafa : Rafa mau ayah sama ibu sama-sama datang lusa nanti buat hadir waktu pengambilan rapor. Sekali ini aja rafa pengen ayah sama ibu datang bareng-bareng
Ayah : Hhhhmm gimana ya? Ayah belum bisa mastiin rafa
Ibu : Memangnya kenapa rafa pengen ibu dan ayah bisa sama-sama datang. Kan biasanya juga ibu yang datang, lagian rafa kan tau sendiri ayah sibuk di kantor
Rafa : Makanya rafa minta tolong sekali ini aja, lagi tadi ayah juga janji mau kasih hadiah sama rafa kalau rafa juara 1. Rafa yakin semester ini bisa juara 1 jadi tolong ayah sama ibu sama-sama datang bareng. Setelah ambil rapor, ayah boleh deh langsung balik ke kantor lagi. Tolong ya yah?
Ayah : Ayah usahain ya sayang (ucap ayah sambil tersenyum kepadaku)
Rafa : Janjiii yaaaaaa? emoticon-Smilie
Ibu : Ya udah yuk yah, nanti kita kemaleman

Malam itu ayah dan ibu berencana pergi keluar karena ada acara pertemuan dengan kolega kantor ayah. Sekalian pulangnya ibu juga mau cari titipan barang pesanan paman. Namun sebelum ayah dan ibu berangkat tiba-tiba ada seorang anak perempuan seumuranku mendatangi ayah dan ibu.

Saat itu aku belum mengenal siapa anak perempuan tersebut, cuma yang kulihat dia berbeda dengan kebanyakan anak lainnya. Dia berbicara kepada ayah dan ibuku agar mereka tidak pergi kemana-mana malam itu.

Anak kecil : Om, tante jangan pergi keluar malam ini. Jangan keluar tante (ucap anak kecil itu sambil memegang tangan ibuku)
Ibu : Kamu siapa sayang? Memangnya kenapa tante sama om gak boleh keluar?
Ayah : Bu, anak siapa ini?
Ibu : Ibu juga gak tau yah, ibu baru aja liat anak ini. Sayang nama kamu siapa?
Anak kecil : Tante jangan pergi tante, om juga jangan pergi, jangan kemana-mana malam ini saja
Ibu : Iya iya, tante dengar tapi kenapa tante sama om gak boleh pergi? Rumah kamu dimana sayang?
Anak kecil : Jangan pergi tante! percaya sama aku tante, om…

Tak lama kemudian datang seorang ibu-ibu yang nampaknya orang tua dari anak kecil itu.

Ibu-ibu : Tinaaa, tinaaa, kamu ibu cariin. Ayo kita pulang!
Ayah : Maaf, ibu ini siapa?
Ibu-ibu : Ah iya, saya ibu dari anak ini. Saya mohon maaf atas perlakuan anak saya terhadap bapak dan ibu, anak saya akhir-akhir ini memang seperti ini
Ayah : Seperti ini bagaimana maksudnya bu?
Ibu-ibu : Anak saya sedang sering mengalami halusinasi yang aneh-aneh mungkin karena kecapean karena tugas sekolah
Ibu : Oh begitu, anak ibu sepertinya seumuran dengan anak saya rafa. Anak saya rafa sekarang kelas 5 SD
Ibu-ibu : Iya bu, anak saya sekarang juga kelas 5 SD
Anak kecil : Tante jangan pergi ya tante, malam ini tante sama om di rumah aja
Ibu : Iya sayang, tante sama om gak jadi pergi. Jadi kamu gak perlu khawatir ya, itu ibu kamu sudah ngajakin kamu pulang. Ibu mau masuk dulu kedalam?
Ibu-ibu : Terima kasih bu, tapi sudah larut malam, mungkin lain kali saja. Sekali lagi terima kasih tawarannya dan saya mohon maaf atas perlakuan anak saya
Ibu : Iya gak papa bu, ah iya nama anak ibu ini siapa?
Ibu-ibu : Namanya tina
Ibu : Nah tina, itu anak ibu namanya rafa, dia seumuran dengan kamu. Lain kali kamu main kesini lagi ya ketemu sama rafa.
Anak kecil : Tante jangan pergi, aku banyak mendengar suara perempuan menangis dan suara perempuan cekikian disekitar tante dan om. Aku belum pernah mendengar ada suara perempuan menangis dan cekikian sebanyak ini sebelumnya

Mendengar hal tersebut ayah dan ibuku langsung terkejut.

Ibu-ibu : Tinaa! Cukup tina, sadar! Tidak ada suara apa-apa disini selain suara kita. Maaf pak, ibu. Anak saya memang kata dokter sedang mengalami stress berat yang membuat dia sering mendengar suara-suara aneh di sekitarnya, tapi kata dokter itu hanya khayalannya saja
Ibu : Memangnya kalau boleh tahu anak ibu stress berat karena apa? Rasanya tidak mungkin kalau hanya stress karena pekerjaan sekolah
Ibu-ibu : Aahh kalau itu, kalau itu sebenarnya (ibu-ibu itu menjadi serba salah untuk menjawab)
Ayah : Sudah gak papa bu, gak usah dilanjutkan, kami mengerti. Tina, iya om sama tante gak jadi pergi kok, jadi kamu tenang saja ya. Ibu rumahnya dimana? Mau saya antar?
Ibu-ibu : Tidak perlu pak, terima kasih tawarannya. Ayo tina kita pulang

Kemudian anak kecil yang bernama tina itu akhirnya dibawa ibunya pulang. Dan menyisakan kesan yang mendalam pada kami saat itu.

Ibu : Ayah, kenapa ayah memotong pertanyaan ibu tadi?
Ayah : Ibu, terkadang ada sesuatu hal yang tidak perlu kita ketahui untuk menjaga perasaan orang lain. Kita cukup percaya dengan apa yang dikatakan ibu-ibu tadi itu saja
Ibu : Tapi yah, ibu jadi takut mendengar apa yang dibilang anak kecil tadi. Gimana kalau kita gak jadi pergi aja malam ini?
Ayah : Ibu, tadi dengar kan apa kata ibunya tina tadi. Kalau itu cuma halusinasinya tina saja. Gak akan ada apa-apa kok bu, hayo kita berangkat nanti kita pulangnya kemaleman, kasian rafa di rumah sendirian
Rafa : Ayah, ibu gak bisakah ayah sama ibu gak usah keluar malam ini?
Ayah : Rafa, gak akan ada apa-apa sama ayah dan ibu. Jadi kamu tenang saja ya, tadi anak kecil itu sepertinya sedang sakit jadi kebayang yang aneh-aneh. Ayah janji paling lambat cuma 2 jam diluar habis itu langsung pulang. Jadi rafa kunci rumah baik-baik terus langsung tidur ya, terus kalau ada apa-apa langsung telpon ayah atau ibu. Oke?
Rafa : Iya yah, janji ya cuma 2 jam?
Ibu : Iya sayang, ayah dan ibu janji cuma 2 jam. Kalau ada apa-apa langsung telepon ibu ya. Rafa jangan nakal, rafa harus bisa mandiri kalau ibu sama ayah lagi gak ada seperti ini di rumah. Rafa sayang kan sama ibu?
Rafa : Iya rafa sayang sama ibu
Ibu : (Ibu kemudian memelukku), ibu juga sayang sama rafa dan ayah juga sayang sama rafa. Ya udah ingat kata ayah sama ibu tadi ya, sekarang kamu masuk ke dalam dan kunci pintunya
Rafa : Iya bu, ayah sama ibu hati-hati ya…

-0o0-

Hari pembagian rapor tiba…

Kiki : Ibu guru, rafa beneran bakal tetap datang ya?
Ibu Guru : Iya, ibu sudah menghubungi pamannya, kata pamannya rafa bakal datang kok
Kiki : Ibu guru, kalau rafa jadi datang. Bolehkah yang baca puisi hari ini rafa aja?
Ibu Guru : Kenapa memang sayang?
Kiki : Gak papa bu, kiki cuma lagi gak pengen baca puisi aja. Kiki mau liat rafa baca puisi aja di depan. Boleh ya bu?
Ibu Guru : Beneran kamu gak mau?
Kiki : Iya bu, maafin kiki ya bu…
Ibu Guru : Ya sudah gak papa, kalau gitu kamu duduk dulu ya
Kiki : Iya bu

Tak lama kemudian rafa datang bersama paman dan tantenya. Ibu guru mendekati rafa dan pamannya.

Ibu Guru : Rafa sudah gak papa pak?
Paman rafa : Iya bu, rafa memaksa tetap datang ke sekolah hari ini. Padahal saya sudah memberi tahunya untuk istirahat saja dulu di rumah
Ibu Guru : Rafa, kamu sehat sayang?
(Rafa hanya diam)
Paman rafa : Semenjak kejadian itu, rafa masih jarang berbicara bu. Saya sudah mencoba mengajaknya berbicara tapi rasanya saat ini saya juga belum bisa memaksanya
Ibu Guru : Iya sepertinya begitu pak, saya mengerti. Sebenarnya hari ini sebelum pembagian rapor akan ada pembacaan puisi yang sudah dipilih sebagai puisi yang terbaik. Dan puisi rafa terpilih menjadi puisi yang terbaik. Tapi kalau melihat kondisi rafa, sepertinya kita langsung masuk ke pembagian rapor saja
Paman rafa : Iya gak papa bu
Rafa : Rafa tetap mau baca puisi rafa bu guru
Paman rafa : Rafa…
Ibu Guru : (Ibu Guru tersenyum), iya sayang, kalau gitu rafa tetap boleh baca puisi rafa. Sekarang rafa sama tante dan pamannya duduk dulu ya, nanti bu guru panggil
Rafa : Iya

-0o0-

Ibu Guru : Selamat pagi bapak-bapak dan ibu-ibu, hari ini seperti yang tertulis di undangan kami akan mengadakan pembagian rapor semester genap yang baru saja berlalu. Sebelumnya saya sebagai wali kelas memohon maaf jika waktu pelaksanaan agak terlambat dikarenakan sesuatu hal.
Ibu Guru : Pertama-tama untuk memulai pembagian rapor akan kami beritahukan 3 orang yang menjadi 3 besar di kelas ini. Saya sampaikan selamat kepada juara 3 yang jatuh kepada teddy
(Seisi kelas bertepuk tangan setelah pengumuman ini)
Ibu Guru : Kemudian untuk juara 2 saya sampaikan selamat kepada kiki
(Seisi kelas kembali bertepuk tangan setelah pengumuman juara 2 disampaikan)
Ibu Guru : Dan untuk juara 1 semester genap kali ini saya ucapkan selamat kepada rafa
(Kali ini seisi kelas bertepuk tangan lebih kencang dari 2 kali pengumuman sebelumnya)
Kiki : Selamat ya rafaa (ucap kiki yang saat itu mendekati rafa untuk mengucapkan selamat)

Rafa hanya terdiam, dan suasana kelas menjadi hening sampai ibu guru memecah keheningan dengan pengumuman selanjutnya.

Ibu Guru : Dan sebelum kita memulai pembagian rapor selanjutnya akan ada pembacaan puisi terbaik yang telah dipilih dari puisi-puisi yang dibuat anak-anak kelas 5A. Puisi tersebut dibuat ketika hari ibu yang telah berlalu beberapa hari yang lalu. Puisi terbaik yang dipilih adalah puisi dari buatan rafa. Silahkan rafa maju kedepan.

Rafa kemudian maju kedepan kelas

Ibu Guru : Kamu sudah siap sayang?
Rafa : Iya bu
Ibu Guru : Kamu gak bawa puisi kamu?
Rafa : Rafa sudah hafal bu
Ibu Guru : (Ibu Guru tersenyum) emoticon-Smilie , baiklah silahkan rafa

-0o0-

Quote:Ibu

Ibu, engkau adalah cahaya hidupku
Cahaya yang selalu bersinar terang di dalam hatiku
Ibu, terima kasih untuk kasih sayangmu
Ibu, terima kasih untuk segala perhatianmu
Ibu, terima kasih karena telah menjagaku
Ibu, terima kasih karena telah menggenggam tanganku
Ibu, terima kasih karena telah memelukku
Ibu, terima kasih karena telah…
(Ucapan rafa mulai terbata-terbata)
Ibu, Ibu, Ibu terima kasih karena telah merawatku
Ibu, aku berjanji tidak akan menangis
Ibu, aku berjanji untuk jadi anak yang mandiri
Ibu, aku berjanji untuk jadi anak yang baik
Ibu, aku berjanji untuk jadi anak yang patuh
Ibu, Ibu, Ibu…
(Air mata itu perlahan menetes ke pipinya)
Ibu, rafa tidak menangis
Ibu, rafa juga tidak bersedih
Tapi bu, tapi bu, air mata rafa tidak bisa berhenti menetes sekarang
Ibu, rafa benar kan dapat juara 1 hari ini
Ibu, Ibu dan ayah harusnya datang bersama-sama hari ini
Ibu dan ayah sudah janji mau datang hari ini
Ibu, Ibu, Ibu… Ayah…
Rafa sayang Ibu…
Rafa juga sayang ayah…
Ibu, selamat ulang tahun
Rafa mencintai ibu


-0o0-

Malam itu, malam ketika ibu memelukku sebelum pergi bersama ayah adalah malam terakhir dimana aku dipeluk ibu. Ibu dan ayah mengalami kecelakaan lalu lintas di perjalanan mau pulang ke rumah.

Saat malam itu aku sudah berusaha untuk tidak menangis sampai dengan hari ini, karena aku sudah berjanji pada ibu karena aku akan menjadi anak yang kuat, anak yang baik dan anak yang mandiri. Kejadian itu adalah awal mula dari kisah hidupku yang masih akan aku ceritakan pada kalian kelanjutannya. Kejadian dimana terakhir kalinya aku bisa melihat ayah dan ibuku dan kejadian yang dimana mempertemukanku pertama kali dengan anak perempuan bernama tina itu.
Mantap bro lanjutkan
Lebih cepat lebih baik
psych detective.. yakumo bukan ya
jadi keinget itu.
lanjut gan emoticon-Big Grin
Quote:Original Posted By redstone.rs1
Mantap bro lanjutkan
Lebih cepat lebih baik


Makasih gan udah mampir dimari emoticon-Big Grin
Udah ada beberapa part gan tinggal di edit,
Tadi kebetulan lagi idle gak ada bos, jadi sempet-sempetnya ngedit 2 part awal emoticon-Ngakak
Quote:Original Posted By ytsob
psych detective.. yakumo bukan ya
jadi keinget itu.
lanjut gan emoticon-Big Grin


nah itu ane malah belum tau gan emoticon-Ngakak
boleh lah nanti ane cari tau itu si yakumo.
Quote:Original Posted By rafa.alfurqan


Makasih gan udah mampir dimari emoticon-Big Grin
Udah ada beberapa part gan tinggal di edit,
Tadi kebetulan lagi idle gak ada bos, jadi sempet-sempetnya ngedit 2 part awal emoticon-Ngakak


Genre nya apa gan nie cerita???
Quote:Original Posted By redstone.rs1
Genre nya apa gan nie cerita???



horor, misteri maunya ane gan emoticon-Ngakak
tp biar lebih afdhol agan simpulin sendiri aja sambil baca.

nanti ane apdet lagi juga gan, stok masih banyak emoticon-Big Grinemoticon-Big Grin
Quote:

nanti ane apdet lagi juga gan, stok masih banyak emoticon-Big Grinemoticon-Big Grin


Fix triple kill. Eh update

Chapter 3.1 - I Don't Tell A Lie

Bagian part ini ane pikir terlalu panjang dibanding 2 chapter awal, karena ane mau nyeritain gimana hidupnya rafa setelah ditinggal kedua orang tuanya sampai gimana sih karakter si tokoh utamanya ini. Jadi chapter ini sengaja ane pisah jadi 2 part, dan selamat membaca emoticon-Smilie


Quote:Sejak hari pembagian rapor itu aku lebih sering memilih berdiam diri di kamar. Banyak cara yang telah dilakukan paman dan tanteku agar bisa membujukku keluar kamar dengan cara mengajak teman-teman sekelasku datang ke rumah bersama ibu guru. Namun sayang hal itu masih belum bisa membuatku luluh. Hatiku masih keras sekeras batu untuk dilunakkan namun juga rapuh serapuh kertas yang terbakar untuk dikuatkan.
Empat hari setelah pemakaman ayah dan ibuku, paman memutuskan untuk pulang terlebih dahulu ke Surabaya dikarenakan pekerjaannya. Sedangkan tanteku memutuskan untuk tinggal lebih lama bersamaku dengan maksud agar aku mau dibujuk untuk ikut serta bersama mereka ke Surabaya.
Sedangkan sekolah, satu minggu setelah pembagian rapor harusnya kegiatan belajar mengajar di sekolah sudah berlangsung. Namun seminggu pertama aku sendiri memilih untuk tidak berangkat pergi ke sekolah. Sebenarnya aku sudah malas pergi ke sekolah namun aku kesal karena setiap hari kiki selalu datang ke rumahku untuk memarahiku.

Kiki : Rafa, mau sampai kapan kamu berdiam diri dikamar? Mau sampai kapan kamu tidak berangkat ke sekolah? Ibu guru nyariin kamu, agung juga katanya sudah rindu ingin main bareng sama kamu
(aku hanya diam) emoticon-Shutup (S)
Kiki : Jawab rafa, jawab! Kamu gak bisa ngomong ya? Aku capek kalau ngomong sendiri tapi kamunya cuma diam emoticon-Cape deeehh

Kiki : Kamu tau setelah kamu baca puisimu di kelas, aku suka dengan puisimu? Kupikir puisimu lebih bagus dibandingkan dengan puisiku. Tapi kamu bohong! Katamu kamu janji pada ibumu agar jadi anak yang kuat. Kamu juga janji pada ibumu untuk jadi anak yang baik. Tapi itu semua juga bohong!
Kiki : Waktu itu aku minta pada bu guru kalau kamu datang, puisi kamu saja yang dibacakan di kelas. Kalau tau jadinya seperti ini aku nyesal, harusnya aku juga membaca puisi itu di kelas karena hari itu adalah hari ulang tahunku
Kiki : Aku marah sama kamu, aku marah… aku gak akan datang ke sini lagi besok dan seterusnya emoticon-Marah

Tak lama setelah itu sepertinya kiki pulang dari rumahku karena aku sudah tidak mendengar suaranya lagi di depan pintu kamarku. Awalnya aku merasa sedih setelah tahu bahwa kiki waktu itu sengaja tidak membaca puisinya padahal puisinya juga terpilih jadi puisi terbaik yang bakal dibacakan di kelas. Benarkah hari ulang tahunnya sama dengan hari ulang tahun ibuku?
Keesokan harinya bahkan keesokan harinya lagi dia tidak pernah datang ke rumahku lagi, lambat laun aku mulai merasa sedih karena setelah kehilangan orang tuaku aku juga merasa telah kehilangan temanku.

-0o0-
Seminggu kemudian…
Ibu Guru : Anak-anak, sebelum kita mulai pelajaran ibu mau ngasih tau kalian
Teddy : Pengumuman apa bu?
Ibu Guru : Tadi setengah jam yang lalu rafa ke sekolah bersama paman dan tantenya, rafa pamit untuk pindah sekolah. Karena mulai hari ini rafa akan pindah ke rumah pamannya yang ada di Surabaya
Kiki : Rafa pindah ke Surabaya bu?
Ibu Guru : Iya sayang, rafa tadi sudah pamit ke ibu dan titip pesan ke kalian semua bahwa rafa minta maaf tidak bisa pamit secara langsung ke kalian
Kiki : Rafa gak akan ke sini lagi ya bu?
Ibu Guru : Sepertinya begitu kiki, soalnya tempat tinggal pamannya rafa memang di Surabaya. Dan di Jakarta rafa juga tidak punya kerabat lagi makanya rafa pergi di bawa paman dan tantenya ke Surabaya

Setelah bel pulang sekolah berbunyi, ibu guru kemudian memanggil kiki.
Ibu Guru : Kiki kemari sebentar
Kiki : Iya kenapa bu?
Ibu Guru : Ini ada titipan surat dari rafa untuk kamu (ucap ibu guru sambil tersenyum)
Kiki : Surat untuk kiki?
Ibu Guru : Iya, kata rafa surat untuk kamu. Ibu juga tidak tau isinya apa, kamu yang lebih berhak membacanya. Ya sudah itu saja, kamu boleh pulang sekarang
Kiki : Iya makasih bu
Kemudian kiki berjalan keluar kelas sambil membuka surat dari rafa untuknya.
Kiki : IIhh, apaan ini! Iiiibbbbuuuuuuuuuuuuuuu… emoticon-Mad (S)
(Surat dari rafa hanya berisi sebuah kertas yang bergambarkan emoticon menjulurkan lidah dan tulisan “kamu jelek” di bawah gambar emoticonnya)
Spoiler for untuk kiki:

Spoiler for kalian harus tau:


-0o0-
1 tahun kemudian…
Setahun sudah aku tinggal bersama paman dan tanteku di Surabaya. Mereka mengasuhku dengan baik meskipun aku hanya keponakan mereka. Aku sendiri sudah mulai terbiasa hidup tanpa kedua orang tuaku. Namun yang berbeda dengan diriku dari setahun yang lalu adalah saat ini aku dijuluki si peringkat terakhir. Dan bukan hanya itu dikelas juga aku hampir tidak mempunyai teman. Bukannya mereka yang cuek kepadaku tapi aku yang menghindari mereka. Jujur sampai saat ini masih sulit bagiku untuk membuka diri, entah kenapa aku lebih suka sendirian saat ini.

Paman : Kamu sudah makan?
Rafa : Belum
Paman : Mandilah terlebih dahulu kemudian langsung makan ya
Rafa : Paman harusnya tahu dari bu guru kalau rafa hari ini bolos, paman tidak marah?
Paman : Iya paman tahu
Rafa : Terus?
Paman : Kalau paman tanya kenapa kamu bolos itu hanya akan membuatmu semakin merasa tidak nyaman emoticon-Smilie
Rafa : Iya, maafin rafa paman…
Paman : Sudahlah, tapi kalau paman boleh meminta tolong sebentar lagi kamu akan lulus. Bisakah kamu lulus paling tidak dengan nilai yang tidak jelek supaya kamu juga bisa masuk SMP yang lebih bagus?
Rafa : Iya paman, rafa usahakan…


-0o0-
Semenjak percakapanku waktu itu dengan paman aku akhirnya mulai mencoba untuk serius belajar agar aku bisa lulus dan agar tidak sulit untuk mendaftar SMP yang bagus. Setidaknya dengan begitu paling tidak aku bisa membuat paman dan tanteku tidak khawatir padaku.
Hasilnya? Di luar dugaan teman-teman dan guru-guru di sekolahku waktu itu, aku yang akan dikira mengkhawatirkan apakah lulus atau tidak malah menjadi lulusan terbaik ke-4 di sekolah. Hal itu membuat paman dan tanteku menjadi bangga sekaligus senang, karena akhirnya mereka bisa datang dengan berwajah senang ketika ke sekolahku nanti, tidak seperti pada saat mereka kesekolah saat mereka di panggil karena nilai-nilaku yang buruk.
Tapi yang namanya manusia ya, selalu ada rasa iri dan dengki. Akan aku ceritakan kepada kalian, satu tokoh baru di cerita ini. Orang yang awalnya sangat aku benci namun pada akhirnya menjadi orang yang satu-satunya bisa aku percaya bahkan melebihi pamanku. Namanya adalah Zaki.
Semenjak aku berhasil membuktikan diriku bahwa aku bukanlah anak yang pantas dijuluki sebagai si peringkat terakhir, salah seorang temanku waktu itu Zaki yang juga akhirnya satu SMP denganku membuat rumor-rumor yang tidak beralasan bahwa aku adalah anak yang curang.

-0o0-
Siapa yang menyangka aku berhasil menjadi juara ke-2 dikelas setelah diprediksi bakal menjadi peringkat terakhir di kelas karena buruknya nilai-nilaiku dan seringnya aku membolos sekolah. Hal ini membuat perlakuan teman-teman dan guru-guruku yang awalnya cuek terhadapku berubah menjadi baik.
Meski pada akhirnya peringkatku masih dibawah zaki, karena pada saat itu zaki mendapat peringkat pertama di kelas. Dia masih bersikap tidak senang terhadapku. Tapi aku tak perduli, toh aku sudah berhasil membuktikan bahwa aku bukan pembohong dan bukan anak yang bodoh.
Zaki sendiri sebenarnya adalah anak dari teman pamanku. Ayahnya zaki dan pamanku bekerja di kantor yang sama, namun bedanya adalah ayahnya zaki merupakan atasan pamanku. Kata paman, ayahnya zaki memang orang yang suka membangga-banggakan anaknya. Sehingga tidak jarang mereka akan merayakan hari dimana anaknya berhasil menjadi yang terbaik. Termasuk di hari itu, hari dimana anaknya berhasil mendapat peringkat pertama di kelas. Mereka mengadakan acara syukuran dan tidak lupa mereka mengundang kami yang entahlah benar atau tidak kalau aku adalah orang yang dianggap saingan oleh anaknya.
Awalnya aku sendiri menolak untuk ikut, namun karena aku tidak ingin membuat paman dan tante merasa tidak enak karena aku tidak mau ikut, aku akhirnya bersedia untuk ikut ke rumah mereka.

Rafa : Paman, rafa tidak mau ikut ke rumahnya zaki
Paman : Kenapa? Kamu masih marah dengannya?
Rafa : Iya
Paman : Kamu tidak mau ikut karena masih marah sama zaki atau karena malu peringkatmu masih di bawah zaki? emoticon-Smilie
Rafa : Kok paman bisa mikir seperti itu?
Paman : Jadi kenapa kamu masih tidak mau ikut paman dan tante? Harusnya kalau paman jadi zaki, paman lah yang malas bertemu denganmu. Jadi tegakkanlah kepalamu kepada orang-orang yang berkata tidak benar terhadapmu
Mendengar ucapan paman tersebut membuat hatiku menjadi lebih ringan. Awalnya aku masih berat untuk memaafkannya, tetapi ketidak mampuanku untuk memaafkannya hanya akan membuatku menjadi anak yang lemah. Aku tidak boleh menjadi anak yang lemah. Aku sudah berjanji pada ibu dan ayah kalau aku akan jadi anak yang kuat dan anak yang baik. Akhirnya aku mau ikut paman dan tante ke rumah zaki.

-0o0-
Sesampainya di rumah zaki, aku melihat sudah ada beberapa orang yang datang. Ada teman-teman sekelasku yang lain seperti ikhsan, dani dan andreas. Mereka semua adalah anak dari teman-teman sekantor ayahnya zaki dan paman juga. Jadi kupikir wajar kalau aku melihat mereka ada disini.
Ayah Zaki : Jadi ini yang namanya rafa? (tanya ayah zaki kepada pamanku)
Paman : Iya, ini keponakan saya. Dia sudah kami anggap seperti anak kami sendiri
Ibu Zaki : Ganteng ya rafa, rafa juga satu sekolah sama zaki waktu kelas 6 dulu kan?
Paman : Iya, rafa memang sudah satu sekolah dengan zaki semenjak rafa pindah ke Surabaya. Dan kebetulan satu sekolah lagi di SMP ini.
Ayah Zaki : Ha ha ha, dunia itu memang sempit ya. Rafa, om harap kamu mau jadi teman akrab zaki ya? Seperti om dengan pamanmu
Rafa : Iya om…
Ayah Zaki : Anak pintar, ya sudah rafa bisa bergabung dengan zaki dan lain-lainnya diluar. Mereka sedang asyik main kembang api dari tadi. Zaakkiiiiiii (panggilnya kepada zaki)
Zaki : Iyaaaa paaaahhhh (tak lama kemudian zaki datang menghampiri ayahnya)
Ayah Zaki : Ini ada rafa datang, sana ajak rafa ikut main dengan kalian
Zaki : Iya pah. Ayo rafa kemari

Aku diajak oleh zaki untuk bergabung dengannya bermain bersama teman-teman lainnya di luar dan yang kuyakini itu semua dia lakukan karena terpaksa. Aku melihat di luar teman-teman yang lain sudah asik bermain kembang api dan petasan.
Ikhsan : Hai rafa kamu datang, kemari kita main bareng
Rafa : Iya
Ikhsan : Kamu pernah nyalain ini? (tunjuknya ke salah satu petasan yang ada di meja)
Rafa : Iya dulu
Zaki : Jadi bagaimana caranya kamu bisa dapat peringkat kedua rafa? (tanyanya kepadaku sambil berusaha menyalakan salah satu petasan)
Rafa : Maksudmu apa berkata seperti itu? Aku melakukannya secara jujur
Zaki : Sudahlah, disini cuma ada kita berlima jadi kamu jujur saja. Kita janji tidak akan memberitahukannya kepada siapa-siapa
Rafa : Aku bersumpah kalau aku benar-benar melakukannya dengan jujur
Andreas : Kata zaki, dia kemarin waktu ujian liat kamu buka contekan kecil
Rafa : Itu bohong!
Zaki : Jadi maksudmu aku yang berbohong?
Rafa : Memang iya kamu yang bohong!
Zaki : Kalu gitu buktikan kalau aku yang berbohong!
Rafa : Aku harus membuktikan apa lagi!?
Zaki : Kamu bingung atau memang kamu tidak tahu bagaimana caranya? Kamu memang pembohong. Kalau anaknya pembohong berarti ibunya juga pembohong
Mendengar ibuku dibilang pembohong, aku langsung refleks mendorongnya. Siapa yang tidak akan marah jika ibunya dikatakan pembohong!? Kalau kalian menjadi diriku kalian pasti akan melakukan hal yang sama.

Zaki kemudian terjatuh setelah kudorong, dan seketika zaki jatuh sebuah petasan meluncur ke arah zaki dan mengenainya. Suasana langsung menjadi hening seketika, seakan tak percaya ada petasan yang tepat mengenai mata zaki.

Bersambung...

Chapter 3.2 - I Don't Tell A Lie

Zaki kemudian terjatuh setelah kudorong, dan seketika zaki jatuh sebuah petasan meluncur ke arah zaki dan mengenainya. Suasana langsung menjadi hening seketika, seakan tak percaya ada petasan yang tepat mengenai mata zaki sampai akhirnya para orang tua yang ada di dalam berlari menghampiri kami.

Zaki langsung dibawa ke rumah sakit terdekat. Setelah mendapatkan perawatan dari dokter dapat dikatakan bahwa petasan yang mengenai mata zaki bisa saja membuatnya buta apabila dalam beberapa hari mendatang kornea pada matanya tidak kunjung membaik.
Ayah Zaki : Zaki sebenarnya apa yang terjadi?
Zaki : Rafa tiba-tiba mendorong zaki pah, sewaktu zaki jatuh tiba-tiba ada petasan yang mengenai zaki
Ibu Zaki : Kamu kenapa mendorong zaki rafa!? (tanyanya padaku dengan marah)
Ayah Zaki : Ibu tolong diam sebentar!
Ibu Zaki : Tapi pah, dia mendorong zaki
Ayah Zaki : Kamu benar mendorong zaki? (beda dengan istrinya, beliau bertanya padaku dengan nada biasa tapi sorot matanya tajam memandang mataku)
Rafa : Iya rafa mendorongnya, tapi karena… (belum selesai aku berbicara, ayah zaki memotongnya dan kembali bertanya pada anaknya)
Ayah Zaki : Bagaimana bisa petasan itu mengenaimu?
Zaki : Sewaktu zaki terjatuh petasan itu tiba-tiba mengenai zaki pah
Ayah Zaki : Siapa yang memegang petasannya waktu itu?
Zaki : Zaki tidak melihatnya
Andreas : Saya melihatnya om, petasan itu ada di meja waktu menyala
Ayah Zaki : Di meja? Lalu siapa yang menyalakannya?
Zaki : (tiba-tiba zaki berbicara) rafa yang menyalakannya pah
Rafa : Bohong! Rafa ti… (kembali belum selesai aku berbicara, ayah zaki kembali memotongnya)
Ayah Zaki : Kamu yakin? Kamu tahu kalau kamu berbohong apa resikonya?
Zaki : Iii…ii…yaa yah zaki yakin, andreas kamu juga lihat kan kalau rafa yang menyalakan petasannya?
Andreas : Iii..yyaa om andreas juga melihatnya
Rafa : Andreas!!! Maksudmu a…
Ayah Zaki : Kamu yang menyalakannya petasannya?
Rafa : Bukan rafa om! Bukan rafa!
Paman : Pak maaf sebelumnya, bukan saya ingin membela keponakan saya. Tapi menurut saya kita juga harus mendengar dari penjelasan rafa juga
Ayah Zaki : Apalagi yang harus saya dengar? Dia mengakui telah mendorong anak saya dan teman-temannya juga bilang seperti itu. Di sini ada saksi yang juga mengatakan sebaliknya.
Paman : Tapi pak?

Ayah Zaki : Kalau benar keponakanmu tidak menyalakannya maka berikan buktinya? Dengar abimana, kamu sudah melihat sendiri bagaimana aku menyikapi masalah ini seobjektif mungkin. Kamu juga tahu sendiri bagaimana aku sehari-hari di kantor. Kalau kamu mengerti, sekarang aku tanya kepadamu apa yang akan kamu lakukan jika kamu di posisiku sekarang?
(paman terdiam)
Rafa : Paman, bukan rafa yang menyalakannya. Paman, tante, rafa bersumpah pada paman dan tante kalau rafa tidak berbohong (aku menangis di hadapan paman, kalau paman tidak percaya padaku lantas siapa yang mau percaya padaku lagi?)
Tante : Ayah, bunda yakin bukan rafa yang menyalakannya (ucap tante kepada paman)
Paman : Pak, saya tahu persis bagaimana bapak. Bagaimana bapak menyelesaikan suatu masalah seobjektif mungkin dan saya juga belajar seperti itu dari bapak. Tapi bukannya saya ingin membela keponakan saya, saya percaya apa yang dikatakan rafa
Ayah Zaki : Jadi kamu bilang anakku dan anaknya Hendra berbohong (ayahnya andreas)?
Paman : Saya bukan dalam posisi menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah sekarang pak. Saya hanya ingin memberi masukan kepada bapak
Ayah Zaki : Baiklah, apa itu?
Paman : Pertama, cobalah bapak cari tahu di sekolah bagaimana perlakuan anak bapak dan teman-temannya terhadap rafa. Rafa dituduh sebagai anak yang curang dan anak pembohong
Ibu Zaki : Maksudmu apa!?
Ayah Zaki : Ibu, diam! Benar itu zaki?
Ibu Zaki : Tapi pah kalaupun itu benar, pasti semua ada alasannya. Lagipula itu tidak ada kaitannya dengan masalah ini
Paman : Betul, seperti yang ibu bilang semua ada alasannya. Dengan kata lain semua yang terjadi pasti karena ada sebab dan akibatnya. Begitu pula dengan rafa yang mendorong zaki, rafa pasti punya alasannya
Paman : Rafa, kenapa kamu mendorong zaki?
Rafa : Karena dia bilang ibu rafa seorang pembohong
Zaki : Pah itu karena… (belum selesai zaki berbicara, paman memotongnya)
Paman : Saya tidak akan melanjutkan kenapa zaki berbicara seperti itu kepada rafa, bapak bisa mencari tahu sendiri kenapa
Paman : Kedua, asal bapak tahu, anak ini (paman memegang kepalaku) adalah anak terkuat yang pernah saya lihat. Disaat kematian ayah dan ibunya tidak pernah saya lihat dia menangis, hanya meneteskan air mata dan itupun hanya sekali sampai dengan saat ini. Tak pernah dia mengeluh kenapa ayah dan ibunya meninggalkannya
Paman : Sama ketika anak ini dituduh sebagai pembohong yang membuatnya dijauhi oleh teman-temannya bahkan guru-gurunya di sekolah pun tak percaya padanya. Tapi dia tidak pernah menangis, tidak pernah sama sekali
Paman : Tapi pak, baru hari ini. Baru hari ini saya melihat dia menangis dan mengatakan kalau dia yang bukan menyalakan petasannya. Bagaimana saya bisa tidak percaya melihatnya? Bagaimana saya bisa tidak percaya terhadap orang yang belum pernah berbohong kepada saya?

(Suasana sempat hening sesaat sampai ayah zaki membuka suara)
Ayah Zaki : Ikhsan, dani, apa kalian lihat siapa yang menyalakan petasannya?
Dani : Saya lihat om, rafa yang menyalakannya
Ayah Zaki : Kamu ikhsan?
Ikhsan : (Ikhsan terdiam sesaat dan kemudian memandangku) maaf rafa, aku benar-benar tidak tahu
Rafa : Ikhsan…
Ayah Zaki : Abimana, sekarang aku harus bagaimana? 3 orang anak mengatakan kalau keponakanmu yang menyalakannya dan 1 orang lagi tidak tahu. Kamu tahu kan permasalahannya memang bukan yang menyalakan petasan yang salah tetapi bahayanya menyalakan petasan jika tidak digunakan dengan hati-hati
Paman : (paman terdiam) saya minta maaf pak atas apa yang telah terjadi. Saya akan pulang mengantar istri saya dan rafa terlebih dahulu kemudian saya akan langsung kemari lagi dan bertanggung jawab atas semuanya
Rafa : Paman, rafa tidak bohong paman
Tante : Ayah…
Paman : Ayo kita pulang…

-0o0-
Sampai seminggu setelah kejadian itu, paman sampai dengan saat ini tidak banyak berbicara di rumah. Bagaimana dengan zaki? Yang kudengar kata dokter untungnya retina matanya tidak sampai dengan rusak. Namun masih harus dilakukan check up terus menerus sampai mereka bisa memastikan kondisi matanya benar-benar tidak apa-apa.
Paman : Hari ini zaki keluar rumah sakit, kita sebaiknya datang ke rumahnya malam ini
(aku hanya diam)
Paman : Kamu juga ikut rafa, bagaimanapun juga kamu masih subjeknya disini
Rafa : Subjek bukan berarti tersangka bukan? Baik rafa akan ikut, tapi jika paman berharap rafa akan meminta maaf seperti paman maka jangan pernah berharap.
Paman : Oke paman mengerti

Malamnya kami tiba di rumah zaki, dan seperti yang aku bilang aku bersedia ikut. Sama seperti waktu sebelum kejadian, malam ini juga ada andreas, dani dan juga ikhsan. Ketika aku ingin menginjakkan kakiku ke dalam rumah itu sebenarnya hatiku sangat ingin menolaknya, tetapi akal sehatku malah ingin aku berbuat sebaliknya.
Tidak seperti sebelumnya ketika aku disambut dengan ramah oleh kedua orang tua zaki, saat ini malah sebaliknya. Aku seperti orang transparan disitu, ada tapi seakan tidak ada. Disamping itu aku juga melihat zaki bersama yang lain-lainnya sedang berada di luar namun yang berbeda kali ini mereka sedang tidak bermain kembang api ataupun petasan lagi.

Aku kemudian menghampiri mereka keluar…
Rafa : Kenapa tidak ada yang main kembang api dan petasan lagi? Apa karena kalian takut kalau akan ada petasan yang akan mengenai kalian lagi?
Ikhsan : Rafa…
Rafa : Diantara semua yang ada disini, meskipun jawabanmu kemarin mengagetkanku tapi paling tidak aku yakin kamu tidak berbohong kalau kamu benar-benar tidak melihatnya. Ucapku kepada ikhsan.
Andreas : Maksudmu apa rafa?
Zaki : Maksud dia selain ikhsan, kita semua telah berbohong
Andreas : Apa!? Kalau gitu buktikan kalau kami berbohong!
Dani : Iya, buktikan kalau kami yang berbohong
Zaki : Dia tidak akan bisa membuktikan apa-apa, dia memang pembohong dan terlahir sebagai seorang pembohong

-0o0-
Aku kemudian mengeluarkan sesuatu dari tas yang aku bawa. Aku mengeluarkan sebuah petasan, petasan yang benar-benar mirip dengan petasan kemarin yang membuat aku jadi tersangka.
Zaki : Kamu mau apa!? (tanya zaki panik)
Rafa : Tenang aku hanya mau merekayasa kembali kejadian yang kemarin
Dani : Papaaaaaaaaaaaaahhhh (dani berteriak ketakutan dan seketika itu para orang tua yang berada di dalam rumah langsung berlari keluar mendekati kami)
Paman : Rafa, apa yang kamu lakukan!?
Tante : Rafa hentikan rafa (pinta tante kepadaku sambil menangis)

Rafa : Sekarang sama seperti yang kamu bilang ke semua orang kalau akulah yang menyalakan petasannya bukan? (ucapku kepada zaki)
Rafa : Maka aku akan benar-benar menyalakan petasan ini, tapi jangan salah setelah menyalakan petasan ini aku tidak akan meletakkannya di meja tapi aku akan tetap memegangnya dan mengarahkannya ke matamu
Zaki : Apaaa!?
Paman : Rafaaaa!!!
Rafa : Jika memang benar aku pelakunya maka sekarang aku akan membuktikannya, aku akan mengarahkan petasan ini ke matamu setelah kunyalakan. Dan jangan berharap kalau kali ini petasan ini hanya mengenai sedikit matamu seperti dulu namun kali ini aku akan mengarahkannya benar-benar mengenai matamu
Zaki : Papaaaaahh, ibuuuuuuuu (panggil zaki kepada orang tuanya sambil ketakutan)
Ibu Zaki : Paahh, tolong zaki paahh
(namun ayah zaki masih terdiam melihat apa yang kulakukan)

Rafa : Zaki, aku akan memberikanmu kesempatan. Kamu masih mau bilang aku pembohong atau kamu akan berkata yang sebenarnya?
Zaki : Maksudmu apa? Aku sudah bilang aku tidak berbohong
Rafa : Baiklah kalau begitu kamu mau aku yang memegang petasan ini atau kamu yang mau memegangnya? Silahkan ambil petasan ini dan arahkan kepadaku, kalau kamu tidak mau mengambilnya maka aku yang akan mengarahkannya kepadamu

(saat itu petasan itu sudah kunyalakan, melihat petasan yang sudah menyala tanpa ragu zaki mengambil petasan itu dan mengarahkannya kepadaku)
Rafa : Paman, jika sebuah kebenaran itu sangat mahal harganya. Lihatlah paman, rafa tak akan pernah ragu terhadap kebenaran emoticon-Smilie

Paman : Rafaaaaaaaaa awaaass…

Dan petasan itu akhirnya meledak dan mengenaiku. Aku pun langsung tersungkur kesakitan dan tak lama kemudian aku merasa sakit yang luar biasa pada mata kiriku. Iya, petasan itu benar-benar mengenai mata kiriku.
Asekkk. Btw kiki cowok apa cewek gan???. Cie ada perhatian
Klo cewek pasti cinta pertama wkekkeke. Aje gile sd dah kenal cinta monyet wkekekkeke
Kasih emoticon dong gan biar ada feel nya gitu
Terakhir satu part lagi ya biar ma krenyes kentangnya. Ane pantengin terus ah tread ini so menarik sekali
Quote:Original Posted By redstone.rs1
Asekkk. Btw kiki cowok apa cewek gan???. Cie ada perhatian
Klo cewek pasti cinta pertama wkekkeke. Aje gile sd dah kenal cinta monyet wkekekkeke

Cewek gan, si rafa gak doyan cowok soalnya emoticon-Ngakak
Ane kasih bumbu-bumbu romance dikit lah gan, biar gak boring emoticon-Big Grin

Quote:Kasih emoticon dong gan biar ada feel nya gitu
Terakhir satu part lagi ya biar ma krenyes kentangnya. Ane pantengin terus ah tread ini so menarik sekali

siap gan, diedit dulu nanti chapter 4 nya emoticon-Jempol

Chapter 4.1 - The Left Eye

Ngelanjutin chapter 3, chapter ini nyeritain apa yang terjadi pada rafa setelah kejadian petasan tersebut dan bagaimana kisah the left eye. Tapi sama seperti chapter 3, chapter ini masih panjang. Entah kenapa waktu ane nulis cerita ini dulu ane terlalu banyak mengkhayal emoticon-Ngakak (S)
Jadi chapter ini ane bikin 2 part, dan kembali ane ucapkan selamat membaca... emoticon-Blue Guy Smile (S)

Quote: Semenjak kejadian malam itu, perlakuan semua orang padaku berubah termasuk zaki dan keluarganya. Mereka selalu mengunjungiku dan membawakanku buah-buahan, padahal aku sendiri belum memakan satupun buah-buahan yang mereka bawa selama ini. Setelah zaki menceritakan yang sebenarnya dan meminta maaf padaku malam itu, maka sampai dengan saat ini aku belum pernah berbicara dengan zaki lagi meski dia juga selalu ikut menjengukku. Tiap kali dia datang, dia hanya duduk dan diam disamping ibunya. Tapi tak apa, aku juga tak perduli.
Bedanya antara aku dan zaki waktu itu adalah jika zaki akhirnya divonis bisa sembuh oleh dokter, maka tidak bagiku. Kata dokter petasan tersebut benar-benar mengenai kornea mataku, sehingga kemungkinan besar mata kiriku ini akan menjadi buta. Ironis, hanya untuk mengungkapkan kebenaran aku harus kehilangan sebelah mataku.
Namun hanya seminggu setelahnya, seorang dokter kenalan ayahnya zaki menginformasikan ada seseorang yang bersedia mendonorkan matanya. Kata ayahnya zaki jika rafa mau maka beliaulah yang akan mengurus semuanya sehingga paman dan tante juga tidak perlu ikut khawatir, cukup menjagaku sampai dokter sudah siap mempersiapkan semuanya.
Kata paman, hidupku masih panjang. Dan aku masih terlalu muda untuk melewati semuanya apalagi hanya dengan sebuah mataku yang masih bisa berfungsi. Jadi paman memintaku untuk memikirkan tawaran yang diberikan oleh ayahnya zaki. Saat itu aku bilang kepada paman aku akan memikirkannya.

-0o0-
Kembali ke malam waktu kejadian itu…
Aku yang terjatuh setelah terkena petasan itu langsung tak sadarkan diri. Sesampainya di rumah sakit, tante tak henti-hentinya menangis. Sedangkan yang lainnya pun cemas menunggu kabar dari dokter.
Butuh waktu 10 jam sampai aku kembali siuman. Kata tante, keluarga zaki sedari aku di bawa ke rumah sakit mereka juga tidak pernah pergi dari ruang tunggu. Apalagi zaki waktu itu kata paman, tidak henti-hentinya dia menangis pada ibunya. Sedangkan ayahnya zaki lebih banyak diam, kalaupun berbicara hanya sesekali dan itu hanya kepada pamanku saja.

Sampai pada akhirnya aku siuman…
Tante : Rafa, rafa kamu udah siuman sayang?
Tante : Ayaaaah, rafa sudah siuman ayah (panggil tante pada paman)
Paman : Rafa, rafa ini paman
Ayah Zaki : Aku akan memanggil dokter
Paman : Iya terima kasih pak bram
Tak lama kemudian ayah zakinya datang bersama dokter, dokter kemudian memeriksa keadaanku. Memastikan kesadaranku sudah pulih sepenuhnya atau belum dan menanyakan apa yang aku rasakan sekarang.
Dokter : Sepertinya kondisi rafa sudah mendingan sekarang, saat ini kami sudah memberikan obat agar rasa sakit dari kepala sampai matanya berkurang dan ketika efek obatnya sudah habis saya harap ibu dan bapak (tante dan pamanku) tidak perlu panik
Rafa : Bagaimana kondisi mata saya dokter?
Dokter : (Dokter terdiam sesaat) kamu akan baik-baik saja rafa, sementara dalam beberapa hari ini kamu dirawat intensif dulu disini agar dapat dipantau terus kondisi matamu
Ayah Zaki : Menurut saya sebaiknya kita terus terang kepada anak ini
Paman : Pak bram!
Ayah Zaki : Abimana kamu melihat sendiri bagaimana anak ini memperjuangkan kebenaran yang dia yakini. Menutupi hal yang pada nantinya dia harus mengetahui kebenarannya itu hanya akan membuatnya lebih emosional nantinya. Lagipula itu matanya, dan dia berhak tahu kondisi matanya yang sesungguhnya

Dokter : Bukannya saya ingin ikut campur tapi melihat kondisi pasien alangkah lebih baiknya kita menunggu pasien dalam kondisi yang lebih baik
Ayah Zaki : Anak ini jauh lebih kuat dari yang anda bayangkan dokter
Rafa : Dokter, tolong beritahu saya sejujurnya bagaimana kondisi mata saya

-0o0-
(Suasana menjadi hening, paman hanya bisa terdiam mendengar permintaanku)
Tante : (Tante memegang tanganku sekuatnya) kamu yang kuat ya rafa
Dokter : (Dokter itu kemudian maju mendekatiku) namamu rafa kan?
Rafa : Iya
Dokter : Saat kamu dibawa kemari dan diobati, hasil pemeriksaan waktu itu. Dengar baik-baik kata saya, hasil pemeriksaan waktu itu didapat kalau mata kirimu benar-benar dalam kondisi parah sehingga persentase kemungkinan matamu bisa normal kembali adalah 10%
Rafa : 10%?
Dokter : Rafa tenang saja ya, itu hasil pemeriksaan awal. Kita akan terus memantau dan melakukan pengobatan agar persentase itu bisa naik. Banyak kasus seperti ini yang memiliki persentase kecil untuk sembuh akhirnya benar-benar bisa sembuh
Rafa : Paman, bisakah rafa istirahat? Rafa ngantuk

(suasana kembali hening, bahkan beberapa pasien yang juga ada di dalam ruangan itu pun terdiam melihat situasi yang terjadi pada kami)
Paman : Ya sudah rafa bisa istirahat dulu, nanti kalau ada apa-apa bilang kepada paman atau tantenya ya, biar mereka manggil dokter
Rafa : Iya
Tante : Rafa mau minum atau apa?
Rafa : Tante bisakah rafa tidur? Tante, paman dan semuanya bisa pulang. Nanti jika rafa butuh sesuatu rafa tinggal memencet bel ini kan?
Tante : Rafa gak mau ditemenin?
Rafa : Enggak tante… rafa mohon…
Paman : Ya sudah kamu istirahat, kalau ada apa-apa paman dan tante ada di luar ya
Rafa : Paman dan tante pulang aja malam ini, besok aja datang lagi
Paman : Baiklah kalau itu mau kamu, tapi kalau ada apa-apa telepon paman ya?
Rafa : Iya…

Paman tidak bisa berkata apa-apa lagi, kemudian mengajak tante beserta zaki dan keluarganya untuk meninggalkanku istirahat. Setelah aku pikir mereka semua sudah agak jauh dari ruanganku, aku akhirnya bisa meluapkan emosiku.
Quote:Rafa : Ibuuu…ibuuuu…ibuuuu….ayaahh…
Rafa : Mata kiri rafa kata dokter sulit untuk sembuh ibu, rafa…rafa…rafa nanti mungkin cuma bisa melihat dengan mata kanan rafa ibuuu…
(rafa akhirnya menangis sekuatnya)
Rafa : Ibbuuuu, rafa kangen ibu, rafa juga kangen ayah. Kenapa ibu dan ayah ninggalin rafa! Kenapaaaa!?
Rafa : Ibu…ayah… rafa sudah berusaha untuk jadi anak yang kuat, rafa sudah berusaha untuk tidak menangis. Tapi hati rafa sakit bu, hati rafa sakit…
Rafa : Rafa…rafa…rafa dibilang anak pembohong, rafa tak marah bu, rafa tak marah. Tapi mereka bilang ibu juga pembohong, rafa…rafa marah bu, rafa marah ibu dibilang pembohong!

(tiba-tiba zaki masuk ke dalam ruangan dan mendekatiku)
Zaki : Kamu memang pembohong, kamu meminta kami pergi katanya biar kamu bisa tidur. Tapi kamu cuma mau menangis kan!
Zaki : Kalau kamu cuma mau menangis, kenapa kamu meminta kami pergi!? Aku muak melihatmu yang sok kuat!
Rafa : Kamu kenapa masih ada disini?
Kemudian kulihat paman, tante dan juga orang tua zaki masih ada di depan pintu. Ternyata mereka memperhatikanku dari tadi.
Zaki : Sampai kapan kamu mau membuatku menjadi orang yang jahat? Iya kamu tidak pernah berbuat curang. Dari awal akulah yang menyebarkan semua rumor bohong tentangmu
Zaki : Aku makin kesal karena kamu malah cuek dan tidak pernah membela diri!
Zaki : Bukan kamu juga yang menyalakan petasan itu! Tapi aku yang menyalakannya dan meletakkannya di atas meja! Jadi semuanya itu salahku, bukan salahmu! Kamu puas!?
Rafa : Zaki…
Zaki : Aku benci sama kamu, aku benci! Kenapa kamu tidak menghindar waktu petasan itu kuarahkan kepadamu!? Sebegitu besarnya kah kamu ingin membuatku menjadi orang yang benar-benar jahat?
(untuk pertama kalinya aku melihat zaki menangis)
Zaki : Kamu tahu apa yang kurasakan setelah mendengar dokter bilang kalau kondisi matamu lebih parah dibanding mataku sekarang?
(keadaan hening sesaat)
Zaki : Maaf rafa, maafin aku…
Rafa : Iya…

-0o0-
5 tahun kemudian…

Tante tyas dan pamanku akhirnya dikaruniai seorang anak laki-laki sejak 4 tahun yang lalu. Tepat satu tahun setelah kejadian petasan itu. Paman memberi nama anaknya aris.
Tante : Ayah, pulangnya malam ini jangan malam-malam lagi ya. Sudah 3 hari ayah lembur
Paman : Iya ayah usahakan, tapi kalau ayah benar-benar gak bisa pulang cepat toh di rumah masih ada rafa kan mah.
Tante : Justru karena itu yah… (ucapan tanteku terhenti setelah melihatku memasuki dapur)
Paman : Rafa sarapan dulu sebelum berangkat
Rafa : Iya…
(paman kemudian memandang istrinya seakan-akan kesal kalau aku sempat mendengar perkataan istrinya)

Paman : Bagaimana sekolahmu? Kamu kenapa melihat paman seperti itu?!
(paman kaget melihat cara pandangku terhadap dirinya)
Rafa : Gelang yang paman pakai itu baru kan? Siapa yang memberikannya? Sudah berapa lama paman pakai?

Paman : Kenapa memangnya? Bagus ya? He he… gelang ini dikasih sama teman sekantor paman. Katanya oleh-oleh dari…
Rafa : Kamu yang ada disitu, kamu mau pergi sendiri atau aku yang akan mengusirmu?! (ucapku tegas sambil memakan sarapanku tanpa memperhatikan paman ataupun tante yang sama-sama langsung memandangku kaget)

Paman : Rafa maksudmu apa berkata seperti itu?
Tante : Ayahhh… (tante kemudian menggendong aris dan perlahan menjauhi dapur)
Rafa : Paman sebaiknya gelang itu dikembalikan
Paman : Ini oleh-oleh kalau dikembalikan rasanya…

Mendengar jawaban paman yang sepertinya ragu-ragu untuk mengembalikan gelang tersebut, aku kemudian menghampirinya dan mencabut gelangnya.
Paman : Rafa!!

Aku kemudian berjalan menuju gerbang depan rumah dan melemparkan gelang itu sejauh yang aku bisa. Setelah membuang gelang tersebut aku kembali masuk ke rumah kemudian berkeliling memasuki semua kamar dan ruangan yang ada dirumah sampai aku merasa tak ada sesuatu yang aneh aku kembali ke dapur.
Paman : Apa yang kamu lakukan?
Rafa : Kalau rafa jelaskan pun hanya akan membuat rafa semakin dijauhi di rumah ini kan? Yang jelas rafa melakukannya semata-mata demi keluarga ini.
(paman dan tante terdiam)
Rafa : Hanya gelang itu yang diberikan kepada paman kan?
Paman : Iya…
Rafa : Mulai hari ini dan seterusnya rafa akan pulang malam
Paman : Kenapa tiba-tiba? Kamu marah pada paman dan tante?
Rafa : Tidak… rafa hanya akan menghabiskan waktu di tempat teman untuk belajar bareng
Paman : Benarkah? Ah iya kamu sudah kelas 3 sekarang, kamu pasti sibuk mempersiapkan diri buat ujian nasional nanti ya
Rafa : Iya…

Benarkah begitu? Tentu saja tidak, aku hanya mencari alasan agar aku dibolehkan pulang telat ke rumah. Bagaimana aku bisa pulang dengan tenang? Bagaimana aku bisa merasa nyaman di rumah ketika sekarang paman dan terlebih lagi tanteku merasa takut setiap kali melihatku.

-0o0-
Sama seperti dulu di sekolah ku yang sekarang juga aku hampir jarang berinteraksi dengan teman-teman sekelasku. Tapi mungkin sekarang aku mempunyai seorang teman. Ah tidak, aku tidak menganggapnya temanku tapi dia yang mengaku-ngaku sebagai temanku. Kalau aku sebut namanya, kalian pasti akan kenal. Iya, dia adalah zaki.
Zaki : Rafa, hari ini ke main rumahku yuk?
Rafa : Aku udah ada acara
Zaki : Sejak kapan kamu punya acara? Ah kamu punya cewek ya sekarang?
(aku diam tak menjawab pertanyaannya, aku hanya malas terlalu banyak berbicara dengannya)
Zaki : Wuiiihh siapa rafa? aku kenal gak?
Rafa : Ayahmu memakai gelang di rumah?
Zaki : Gelang? Papahku? Hhhmmm, kayanya iya. Katanya oleh-oleh dari teman kantornya dari Kalimantan. Kenapa memang? Oh iya kalau ayahku dapat, pamanmu juga dapat gelangnya juga kan ya
Rafa : Sebaiknya minta ayahmu kembalikan atau buang gelangnya sekarang
Zaki : (sorot muka zaki mulai berubah) ada apa memang dengan gelangnya?
Rafa : Sudahlah lakukan saja seperti yang kubilang
Zaki : Iya aku akan melakukannya, tapi aku harus tahu ada apa sehingga aku bisa mencari alasan bagaimana mengatakannya pada papahku
Rafa : (aku terdiam sesaat kemudian melihat wajahnya, kupikir dia benar-benar cemas dan sangat ingin tahu) tadi pagi aku juga melihat pamanku memakai gelang itu dan aku juga melihat…
Zaki : Kamu melihat apa!?
Rafa : Kita bicara di luar, disini terlalu banyak orang

-0o0-
Kringg…krriinggg… (handphoneku berbunyi), aku melihat panggilan masuk dari pamanku. Aku kemudian mengangkatnya.
Rafa : Halo
Paman : Rafa, kelasmu belum mulai kan?
Rafa : Iya belum, sebentar lagi. Ada apa paman?
Paman : Itu…tentang gelang itu…apa yang sebenarnya kamu lihat?
Rafa : Paman benar ingin tahu?
Paman : Iya, ceritakanlah sejujurnya

Aku kemudian menceritakan apa yang aku lihat tadi pagi, cerita yang juga kuceritakan sama persis pada zaki. Tak ada yang aku kurangi dan tidak ada pula yang kulebih-lebihkan.
Rafa : Rafa melihat sesosok anak kecil berlari-lari mengelilingi rumah kemudian berdiri agak lama di samping paman sambil memegang-megang gelang itu. Sampai ketika anak kecil itu melihat aris yang lagi tidur dan mulai mendekati aris, rafa kemudian berusaha memintanya pergi dari rumah. Paman juga mendengarnya waktu itu

Paman : Iya paman mendengarnya, terus dia mau pergi? (suara paman mulai berubah panik)
Rafa : Ketika dia mendengar rafa berbicara seperti itu, dia akhirnya sadar rafa bisa melihatnya. Anak kecil itu…anak kecil itu terlihat marah memandang rafa. Dia seperti terusik dengan kemampuan rafa yang bisa melihatnya. Dan karena paman agak ragu untuk mengembalikan atau membuang gelang itu makanya rafa sengaja membuang gelang itu. Ketika gelang itu rafa buang, anak kecil itu juga ikut pergi.

Rafa : Kalau rafa kelewatan karena melakukan sesuatu tanpa memberi tahukan alasannya terlebih dahulu, rafa minta maaf
Paman : Tidak…tidak…yang kamu lakukan benar, kalau tantemu tahu yang sebenarnya dia akan semakin ketakutan. Paman juga harusnya berterima kasih atas apa yang telah kamu lakukan. Tapi kamu yakin setelah kamu buang gelang itu, anak kecil itu tidak akan kembali ke rumah?
Rafa : Entahlah, yang jelas sebelum rafa membuang gelang itu rafa sudah bilang kepada anak kecil itu agar pergi dan tidak kembali ke rumah. Rafa juga mengancamnya kalau dia kembali ke rumah maka rafa akan membakar gelang itu
Paman : Benarkah? Tapi kalau anak kecil itu kembali lagi ke rumah, tantemu dan aris…
Rafa : Karena itu paman sebaiknya pulang cepat malam ini. Tapi jangan pernah biarkan rumah saat ini kosong, karena apabila rumah paman kosong maka bisa jadi anak kecil itu akan berani masuk ke rumah lagi karena kita akan terlihat seperti ketakutan terhadapnya.
Paman : Tapi kamu tahu sendiri bagaimana penakutnya tantemu itu, lagipula paman benar-benar tidak bisa pulang sampai dengan sore nanti
Rafa : Paman bisa minta tolong adeknya tante atau mertua paman datang ke rumah dengan suatu alasan, mungkin itu lebih baik
Paman : Iya kamu benar, paman akan coba menghubungi mereka. Tapi rafa, di kantor banyak teman-teman paman yang juga memakai gelang itu. Apa paman juga harus bilang ke mereka tentang gelang itu?
Rafa : Terserah paman, tapi yang seperti paman pernah bilang kepada rafa. Kadang kebenaran itu tak harus selalu diungkapkan apalagi jika kenyataan itu hanya akan menyakiti perasaan orang lain. Lagipula juga belum tentu semua gelang itu punya penunggunya
(paman terdiam)
Rafa : Sudah ya paman, kelas rafa sudah mulai. Rafa harus masuk ke kelas
Paman : Iya… Rafa, terima kasih
Rafa : Iya

Bagaimana dengan zaki? Setelah aku menceritakan apa yang kulihat tadi pagi padanya. Dia langsung menelepon ayahnya. Aku sendiri tak tahu bagaimana caranya agar dia bisa membuat ayahnya mau melepaskan gelang itu.
Zaki : Rafa, kalau suatu saat nanti papah atau ibuku bertanya padamu apa aku baik-baik saja di sekolah, tolong bilang pada mereka aku baik-baik saja ya?
Rafa : Kenapa memang?
Zaki : Aku bilang pada papah kalau aku bisa melihat hal gaib, dan aku bilang ada sesuatu pada gelang itu sama seperti yang kamu ceritakan padaku
Rafa : Yaa!!! Apa yang kamu lakukan?
Zaki : Habis aku tak tahu bagaimana caranya agar ayah mau percaya padaku dan mau melepaskan gelang itu sekarang juga. Aku tak mau melihat ayah sesampainya di rumah nanti masih memakai gelang itu
Rafa : (aku menyerah setelah melihatnya benar-benar seperti sudah putus asa bercampur rasa cemas) benarkah kamu tak akan apa-apa setelah berbohong seperti itu? Kamu tahu kan setelah kamu bilang begitu…
Zaki : Iya aku tahu setelah aku bilang begitu aku harus bisa bersikap seakan-akan aku benar-benar bisa memiliki kemampuan melihat hal gaib, dan bisa saja perlakuan kedua orang tuaku akan berubah kepadaku. Tapi itu lebih baik daripada aku harus bilang kalau kamu yang sebenarnya punya kemampuan itu
Rafa : Tak apa, kamu bisa menceritakan sejujurnya
Zaki : Tidak, itu rahasia yang kamu jaga sampai saat ini. Dan ketika orang lain harus tahu kebenarannya maka itu karena kamu sendiri yang menceritakannya.
Rafa : (aku tersenyum) terima…
Zaki : Gak usah bilang terima kasih, cukup katakan padaku apakah setelah papah membuang gelang itu anak kecil itu tidak akan mengikuti papahku lagi?
Rafa : Kamu gak dengar baik-baik apa yang aku bilang tadi ya? Aku bilang aku melihat apa yang terjadi di rumah pamanku. Tapi aku belum melihat ayahmu, jadi mana mungkin aku tahu kalau gelang ayahmu itu juga ada penunggunya. Cuma karena aku berfikir bisa saja ada penunggunya makanya aku bilang padamu “sebaiknya” kamu minta ayahmu melepaskan gelang itu. Tapi kamunya langsung panik sendiri dan pergi menelepon beliau kan
Rafa : Lagipula kalau memang benar ada penunggunya pun, belum pasti sama kalau itu anak kecil, bisa saja itu perempuan atau laki-laki. Kan aku gak melihatnya langsung
Zaki : Kalau gitu, kamu ke rumahku ya?
Rafa : Ah gak bisa, sudah kubilang kalau aku ada acara
Zaki : Ayolah rafa, rafa ya ya???

Begitulah, hubunganku dengan zaki saat ini lebih akrab dibandingkan dulu. Dan jujur, dialah orang yang bisa kupercayai selain paman dan tanteku. Karena selain paman dan tanteku cuma dia yang tahu kalau aku bisa melihat hal-hal gaib seperti arwah penasaran atau hantu-hantu seperti anak kecil tadi dengan mata kiriku ini.

Bersambung...

Chapter 4.2 - The Left Eye

5 tahun sebelumnya…

Satu minggu setelah kejadian petasan itu, dokter akhirnya memberitahuku bahwa kondisi mataku sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Kornea mata kiriku benar-benar sudah rusak, dan artinya sejak saat itu aku harus berlapang dada bahwa mata kiriku menjadi buta.
Bagaimana bisa aku setabah itu? Diumurku yang masih sangat muda, setelah kehilangan kedua orang tuaku, kali ini aku harus menerima kenyataan bahwa aku juga harus kehilangan salah satu mataku. Tapi mau bagaimana lagi kalau ini sudah jalanku, jalan yang harus aku lalui. Toh meskipun aku menangis dan berteriak-teriak pun tak akan bisa mengembalikan semuanya. Lagipula yang terjadi pada mata kiriku juga karena perbuatan konyolku sendiri.
Entah itu perbuatan konyol atau perbuatan gegabah atau perbuatan gila atau bahkan perbuatan paling berani yang pernah aku lakukan hanya demi membersihkan nama baikku dan juga demi mengembalikan kepercayaan semua orang terhadapku. Yang jelas aku menyadari bahwa menunjukkan suatu kebenaran itu sangatlah mahal harganya. Sehingga tak jarang kita akan menemukan orang-orang yang lebih suka berbohong daripada harus berkata benar.

Tak lama setelah aku mengetahui mata kiriku buta, ayahnya zaki datang ke rumah dan membawakan kabar yang baik untukku. Kata beliau, temannya seorang dokter menginformasikan ada orang yang bersedia mendonorkan matanya padaku. Dan setelah mendengar informasi itu tak sampai beberapa hari aku memikirkannya, aku akhirnya memutuskan menerima tawaran yang diberikan ayahnya zaki itu.
Keesokan harinya aku langsung diminta ke rumah sakit tempat temannya ayah zaki itu bekerja agar diperiksa terlebih dahulu. Kata pamanku, ayahnya zaki benar-benar menghabiskan effortnya untuk membantuku, baik untuk semua pengobatan, semua urusan administrasi beliaulah yang mengurus semua. Kupikir pantaslah memang pamanku benar-benar menghormati ayahnya zaki. Selain orangnya yang sangat bertanggung jawab, orangnya juga sangat adil dan objektif dalam menyikapi semua masalah.
Beberapa hari kemudian setelah kata dokter kondisiku tak masalah dan persiapan untuk operasi sudah siap, maka besoknya aku langsung di operasi. Aku menghabiskan sehari penuh dalam keadaan tak sadarkan diri karena efek dari selesai operasi. Kata dokter yang mengoperasiku, operasi mataku berjalan sukses. Harusnya setelah aku siuman nanti aku sudah mulai bisa melihat kembali.

Beberapa hari kemudian…
Paman : Rafa? Bagaimana?
Saat itu di sampingku ada paman dan tante, juga ada zaki beserta ayah dan ibunya. Ketika perban itu dibuka, berbeda dengan sebelumnya dimana mata kiriku yang sebelumnya hanya bisa melihat kegelapan maka sekarang mata kiriku mulai bisa melihat cahaya.
Tante : Rafa?
Rafa : Rafa hanya melihat cahaya yang berwarna tante (ucapku sambil memandang ke sekelilingku hanya dengan menggunakan mata kiriku yang baru ini)
Dokter : Itu wajar rafa, mata kirimu masih harus beradaptasi dengan syaraf-syaraf yang ada di kepalamu. Ketika kamu bilang kamu sudah bisa melihat cahaya yang berwarna artinya mata kirimu sudah mulai meresponsif apa yang dilihatnya dan berinteraksi dengan syaraf-syaraf dan otakmu.
Ayah Zaki : Jadi bisa dibilang operasinya benar-benar sukses dok?
Dokter : Bisa dibilang seperti itu, namun kita harus memantau terus perkembangannya agar benar-benar bisa memastikan rafa bisa melihat lagi dengan mata kirinya yang sekarang
Zaki : Ah syukurlah…
Ibu Zaki : Kamu tahu rafa, zaki lah yang benar-benar menghawatirkan kondisimu dari saat itu sampai dengan sekarang. Ibu yakin zaki menyesali perbuatannya, dan atas nama zaki, ibu juga memohon maaf padamu
Rafa : Sudahlah tante, rafa tahu kok. Lagipula rafa juga sudah tidak ingin mengingatnya lagi. Rafa juga ingin berterima kasih pada om (ayah zaki) atas semua bantuannya

-0o0-
Masih 5 tahun sebelumnya…
Aku akhirnya benar-benar bisa melihat dengan menggunakan mata kiriku lagi setelah beberapa hari kemudian. Semenjak aku keluar dari rumah sakit, anak ini (zaki) selalu menemuiku. Aku hampir risih jika dia di dekatku, bukannya apa dia itu orangnya cerewet. Lebih cerewet dibandingkan dengan kiki.

Kiki? Bagaimana ya kabarnya sekarang? Aku ingin sekali menghubunginya, tetapi sayang aku sudah tidak mempunyai nomornya, begitu pula dengan teman-temanku ataupun guruku dulu karena handphoneku yang lama sudah hilang. Saat ini ketika aku mengingatnya aku pikir aku merindukannya.
Apa dia benar-benar bisa membaca suratku ya? (surat yang dititipkan rafa untuk kiki sebelum rafa pindah ke Surabaya). Ah, kalau dia benar-benar cermat harusnya dia bisa menemukan pesan tersembunyinya…

Kembali ke masalah tentang mata kiriku, kali ini aku akan menceritakan kepada kalian bagaimana bisa untuk pertama kalinya aku merasa ketakutan yang luar biasa bercampur penyesalan terhadap mata kiriku yang sekarang ini.
Saat itu aku sedang dalam perjalanan pulang dari sekolah dan hari ini kebetulan si zaki ingin main ke rumah pamanku.
Zaki : Hey rafa, rumah pamanmu masih jauh?
Rafa : Kamu mau ngapain sih ke rumah pamanku?
Zaki : Ya! Kan sudah kubilang ibuku lagi ke rumah saudaranya di Kediri. Papah juga biasanya pulang malam, kamu tahu sendiri jam berapa pamanmu sering pulang
Rafa : Ya sudah, kamu kan bisa nunggu mereka di rumah andreas atau yang lainnya
Zaki : Ah aku mau es krim itu, kamu mau? (ucapnya untuk mengalihkan pembicaraan)
(Kemudian kami mendatangi paman yang berjualan es krim keliling itu)
Zaki : Paman, aku beli es krim yang itu satu. Rafa kamu mau yang mana?
Rafa : Aku yang itu aja
Zaki : Nah yang itu juga satu ya paman
Ketika paman itu memberikan es krim itu padaku, paman itu kemudian memegang tanganku. Dan mengatakan sesuatu yang aku sendiri tidak mengerti, lebih tepatnya saat itu aku belum mengerti apa yang dikatakannya. Karena nantinya setelah puzzle misteri ini sudah lengkap kalian akan mengetahui semua keterkaitannya dengan misteri pada mata kiriku ini.

Paman Es : (Dia memandang kedua mataku tajam, terutama pada mata kiriku) hei nak, apakah kamu sudah bisa melihat sesuatu yang tidak biasa?
Rafa : Maksud paman apa? (ucapku sambil agak ketakutan)
Zaki : Hey apa yang paman lakukan!?
(kemudian paman itu melepaskan tanganku)
Paman Es : Ah tidak, bukan apa-apa. Maaf ya anak-anak, paman sepertinya sedang teringat anak paman.
Zaki : Memangnya anak paman kenapa?
Paman Es : Tidak kenapa-kenapa, hanya saja dia anak yang terpilih.

(kemudian paman itu pergi meninggalkan kami)
Zaki : Anak yang terpilih? Paman itu ngomong apa sih, aneh. Hey rafa, kamu tidak apa-apa?
Rafa : Iya, aku hanya merasa agak sedikit pusing setelah paman itu melihatku seperti tadi
Zaki : Iya dia memang agak keterlaluan tadi, mungkin mentalnya sedang terganggu, he he he. Sudahlah ayo kita ke rumahmu, hari ini panas sekali
Rafa : Ya

Kami kemudian kembali melanjutkan perjalanan sambil memakan es krim itu. Tak jauh kami berjalan aku merasakan pusing luar biasa pada kepalaku. Awalnya hanya pada kepalaku kemudian rasa sakit itu menuju ke mataku, mata kiriku.
Rafa : Aaaaaarrrrrrrggghhh…aaaaaarrrrgggghhhhh
Zaki : Rafa, rafa, rafa kamu kenapa?
Rafa : Aaaaarrrggghh saakkiiittttt
Aku masih merasakan rasa sakit pada kepalaku kemudian sampai ke mata kiriku, dan tak lama aku kemudian jatuh pingsan. Orang-orang yang saat itu melihatku kesakitan di tengah jalan langsung menghampiri kami dan kemudian membawaku ke tempat yang teduh.
Hanya 5 menit setelah aku tak sadarkan diri, aku kemudian tersadar. Entahlah apa sebenarnya yang terjadi padaku dalam waktu sesingkat itu. Hanya dalam waktu 5 menit, waktu yang sangat singkat bagi orang yang tiba-tiba kehilangan kesadarannya. Tapi bagiku, seandainya aku tahu sebelumnya apa yang akan terjadi setelah 5 menit itu lewat maka aku akan lebih memilih tidak sadarkan diri lagi selamanya.

Zaki : Rafaa, rafaaa kamu sudah sadar?
Rafa : Aku dimana?
Zaki : Ah syukurlah, aku hampir bingung harus bagaimana lagi. Aku belum tahu rumahmu dimana, aku juga tidak tahu nomor telepon paman dan tantemu, ayahku juga tidak mengangkat teleponku. Handphonemu juga habis baterai! (ucap zaki cemas)
Pak Amir : Kamu sudah baikan nak?
Rafa : Bapak siapa?
Zaki : Dia Pak Amir, dan orang-orang di sekitar tempat kamu pingsan tadi yang menolong kamu dan membawanya kesini
Rafa : Aku kenapa zak?
Zaki : Kamu tadi tiba-tiba kesakitan tak lama setelah kita beli es krim kemudian kamu pingsan. Kamu tidak ingat apa-apa?
Rafa : Aku hanya ingat kepalaku tiba-tiba sakit kemudian aku tidak tahu apa-apa lagi
Zaki : Ah ngomong-ngomong masalah es krim. Apa karena makan es krim kepala kamu jadi sakit? Apa ada racunnya ya? Ah aku tidak kenapa-kenapa, atau kamu punya pantangan makan es krim ya?
Rafa : Tidak, aku sering makan es krim kok. Tapi bukan karena setelah makan es krim itu kepalaku jadi sakit, kepalaku sudah mulai agak sakit setelah paman yang jualan es krim itu memandangku
Pak Amir : Paman penjual es krim?
Zaki : Ah iya benar aku ingat kamu bilang begitu. Pak amir apakah di sekitar sini sering lewat orang yang berjualan es krim keliling
Pak Amir : Iya setau saya sering lewat
Zaki : Bapak ingat muka orangnya?
Pak Amir : Tentu saja tidak, yang jualan es krim itu kan banyak dan lewat sekitar sini tidak cuma sekali dalam seharinya. Tapi memangnya orang itu berkata apa pada kalian?
Rafa : Tidak apa-apa pak
Zaki : Apanya yang…
Rafa : Ayo pulang zak, tanteku nanti mencariku
Zaki : Baiklah
Pak Amir : Rumah kalian dimana memang biar saya antar?
Rafa : Rumah paman saya tidak jauh dari tempat saya pingsan tadi. Jadi tidak perlu diantar pak, terima kasih
Pak Amir : Yang benar? Kamu juga sudah enakan?
Rafa : Iya tidak papa, saya juga sudah baikan. Sekali lagi terima kasih ya pak
Pak Amir : Ya sudah kalian hati-hati ya

Kami kemudian berpamitan pada pak amir dan pada orang-orang yang telah membantu kami tadi. Di perjalanan pulang ke rumah aku dan zaki akan kembali melewati taman tersebut, karena dari taman itu rumah pamanku sudah tidak terlalu jauh.
Zaki : Rafa kenapa tadi kamu tidak menceritakan yang sebenarnya ke pak amir tentang kata-kata paman itu?
Rafa : Sudahlah, lagipula belum tentu karena paman itu aku jadi pingsan. Tak baik berburuk sangka terhadap orang
Rafa : Zaki!!!!!
Zaki : Hah kenapa sih?!
Aku kemudian berlari mendekatinya, menarik tangannya dan membawanya lari bersamaku secepat mungkin yang aku bisa.
Zaki : Kamu kenapa sih????
Rafa : Sudah ayo kita cepat pergi dari situ dulu
Kami masih berlari sampai akhirnya kami tiba di rumah pamanku. Setibanya di rumah tanteku sudah menungguku di dapur, saat itu tante sudah menyiapkan makanan untuk makan siangku.
Tante : Kok agak telat rafa pulangnya hari ini?
Zaki : Haloo tantee
Tante : Zaki, oh jadi tadi kalian main dulu ya?
Rafa : Iya tante, tadi rafa sama zaki main dulu terus keasikan makanya telat pulang (jawabku sambil tersenyum)
Zaki : Main? (tanya zaki kepadaku)
Rafa : Zaki boleh main disini kan tante sampai nanti ayahnya jemput? Soalnya katanya ibunya lagi ke Kediri
Tante : Oh boleh banget kok, baru kali ini lho rafa bawa teman ke rumah
Zaki : Makasih tantee
Tante : Iya sama-sama, kalian kenapa ngos-ngosan gitu? Habis lari-lari ya?
Rafa : Iya tante tadi zaki ngajakin lari
Zaki : Hah? (tanya zaki padaku bingung)
Rafa : Tante, rafa ganti baju dulu ya
Tante : Iya sana, kalian belum makan kan? Nanti langsung keluar ya buat makan. Oh iya rafa, tante mau keluar dulu sebentar ke supermarket
Rafa : Iya tante

(Kemudian aku mengajak zaki masuk ke kamarku sedangkan tante pergi ke supermarket)
Zaki : Kamu kenapa sih? Pake acara bohong lagi? Terus kenapa gak bilang kalau tadi kamu sempat pingsan? Kan kamu biar dibawa dokter
Rafa : Sudahlah itu gak penting. Tadi waktu kamu mau lewat pohon besar di taman itu kamu melihat sesuatu gak di atas batang pohon besar di atas kepalamu?
Zaki : Iya, tapi gak ada apa-apa
Rafa : Beneran kamu gak liat apa-apa?
Zaki : Iya beneran, memangnya kamu liat apa?
Quote:Rafa : Aku melihat, aku melihat ada seorang perempuan berambut sangat panjang dan berbaju putih duduk di atas batang pohon itu
Zaki : Beneran?! (tanya zaki kaget)
Rafa : Iya benar, awalnya aku agak bingung karena aku melihatnya agak aneh. Tapi setelah aku tutup mata kananku, aku benar-benar bisa melihat perempuan itu dengan mata kiriku

Zaki : Rafa mungkin kamu cuma halusinasi, efek karena kamu habis pingsan tadi mungkin
Rafa : Enggak, aku sempat menutup dan membuka mataku beberapa kali tapi aku tetap bisa melihat perempuan itu. Sampai aku menarikmu perempuan itu baru memandangku
Zaki : Jadi kamu beneran bisa melihatnya?
Rafa : Iya beneran, aku berani bersumpah. Aku jadi teringat kata-kata paman penjual es krim itu
Zaki : Maksudmu waktu dia bilang, apa kamu sudah bisa melihat sesuatu yang tidak biasa itu?
Rafa : Iya
Zaki : Ah kayanya cuma kebetulan aja. Mungkin kamu kecapean, coba nanti kamu bawa istirahat. Kamu pasti gak melihat yang aneh-aneh lagi
Rafa : Mungkin, semoga saja seperti itu…

Begitulah awal mula bagaimana aku bisa melihat sesosok makhluk gaib dengan mata kiriku ini. Saat itu aku hanya bisa menebak-nebak apakah ada hubungannya dengan apa yang dikatakan paman yang berjualan es krim itu dengan mata kiriku ini. Apakah benar aku akan bisa melihat hal-hal yang tidak biasa, entahlah aku masih belum bisa menjawabnya.
Namun sebenarnya aku sadar bahwa jawaban yang lebih tepat bukan karena aku masih belum bisa menjawabnya tapi karena aku terlalu takut memikirkan kalau itu akan menjadi kenyataan. Sampai pada akhirnya aku benar-benar bisa memastikan bahwa mata kiriku ini memang dapat melihat sesuatu yang tidak biasa.
kira" nanti si rafa bisa melihat sosok wujud kedua orang tua nya ga gan?
asik ini baca nya.. tolong di apdet terus yaakk TS..
jangan kentangin daku..
Quote:Original Posted By air.hina
kira" nanti si rafa bisa melihat sosok wujud kedua orang tua nya ga gan?

wah rahasia, makanya nyimak terus aja ya dimari emoticon-Malu

Quote:Original Posted By mythzzz
asik ini baca nya.. tolong di apdet terus yaakk TS..
jangan kentangin daku..

siaaapppp grak!!! ini cerita udah ane tulis hampir setaun lalu jadi masih banyak stok chapternya emoticon-Big Grin

Part 5.1 - I'm Sorry I Can't Protect You

Malam itu sama seperti malam-malam sebelumnya, aku masih menghabiskan waktuku bekerja di salah satu supermarket yang tidak terlalu jauh dari sekolahku tapi masih bisa dibilang cukup jauh dari rumah pamanku. Karena aku memang sengaja agar paman dan tanteku tidak mengetahui kegiatanku ini.
Sambil bekerja jika tidak ada pelangggan yang datang aku pun menyempatkan diri belajar untuk menghadapi Ujian Nasional yang akan berlangsung bulan depan. Aku sudah bilang pada pamanku waktu itu bahwa alasanku akan telat pulang ke rumah karena ingin belajar kelompok di rumah temanku dan jika nanti hasil ujian nasionalku jelek maka aku akan ketahuan sudah berbohong pada mereka.
Zaki : Hey rafa
Rafa : Kamu mau ngapain kesini
Zaki : Mau beli rokok sama bir
Rafa : Ngapain kamu bawa buku sekolah kalau cuma mau beli rokok sama bir?
Zaki : Biar orang rumah percaya aku keluar buat belajar kelompok dan biar kamu percaya aku kesini buat beli rokok sama bir
(Kemudian aku membawakannya sebungkus rokok serta sebotol minuman beralkohol dan sengaja aku pilihkan yang kadar alkoholnya diatas 20%)
Zaki : Hey hey hey, kamu beneran ngasih aku beginian?
Rafa : Iya kan aku percaya sama omonganmu
Zaki : Kan becanda fa, aku gak bisa mabuk fa. Rokok juga kalau sebatang masih gak apa-apa
Rafa : Ya sudah kalau gitu sana pergi ke supermarket yang lain kalau tidak ada yang dibeli
Zaki : Beli es krim aja deh, maksudku kan sekalian bisa sekalian belajar bareng fa
Rafa : Aku lebih nyaman belajar sendiri
Zaki : Fa, jika kita satukan kedua kepala kita maka soal ujian nanti bakal bisa lebih mudah kita ngerjainnya

Tak lama ada seorang pelanggan yang datang, seorang laki-laki setengah baya yang jalannya menyeret kaki kirinya. Kalau dilihat kakinya seperti mengalami kecacatan, entah mungkin karena pernah mengalami kecalakaan atau karena hal lain.
Rafa : Ini saja pak? Ada kartu *** nya?
Pelanggan : Iya ini saja, gak ada nak, gak papa saya bayar langsung aja semua
Zaki : Om kakinya kenapa? Bekas kecelakaan ya?
Pelanggan : Hah? Ah…iya…
Rafa : Ini pak kembaliannya, terima kasih (ucapku sambil tersenyum kepada pelanggan itu)
Pelanggan : Terima kasih
(Tak lama pelanggan itupun keluar)

Zaki : Paman itu berbohong, kamu tahu?
Rafa : Mungkin
Zaki : Ketika orang berbohong biasanya ketika dia menjawab suatu pertanyaan dia akan membutuhkan waktu untuk menjawabnya
Rafa : Benarkah? (Aku tersenyum mendengarnya)
Zaki : Iya karena itulah aku sering ketahuan kalau berbohong sama papahku
Rafa : Hoo jadi karena itu akhirnya kamu bilang ke ayahmu kalau kamu bisa melihat hal gaib dan karena kamu yakin kalau berbohong hal yang lain kamu akan ketahuan?
Zaki : Iya, tepat sekali
Rafa : Tapi ucapan ayahmu sepertinya memang benar, orang itu memang sepertinya berbohong
Zaki : Beneran kan? Memang kamu lihat sesuatu yang aneh?
Rafa : Iya
Zaki : Apa yang kamu lihat?
Rafa : Aku melihat ada anak kecil yang menempel pada kaki orang itu, sepertinya mengikuti orang itu kemanapun orang itu pergi

Zaki : Kenapa kamu gak bilang ke orang itu?
Rafa : Untuk apa? Terkadang ada hal yang sebaiknya tak perlu diungkapkan

-0o0-
Setiap pulang ke rumah meskipun malam hari aku selalu melewati taman itu karena memang taman itulah akses terdekat dari rumah pamanku dan tentu saja pada jam-jam itu pastinya taman itu sudah sangat sepi. Dan lagi-lagi setiap kali aku melewati pohon besar itu aku selalu melihat perempuan berambut sangat panjang dan berbaju putih itu selalu ada bertengger di atas pohon sambil menggoyangkan kakinya.
Quote:Tahukah kalian bahwa makhluk itupun bisa tersenyum ke arah kalian? Aku berani bertaruh bahwa kalian tak akan pernah terpikirkan bahwa makhluk seperti itu juga bisa tersenyum. Untuk informasi kalian saja makhluk seperti mereka juga bisa tersenyum atau terlihat marah atau bahkan juga terlihat sedih.

Sama seperti malam ini, setiap aku pulang bekerja dan kembali ke rumah. Perempuan itu awalnya memang hanya duduk di atas pohon itu seperti biasanya, namun setelah melihat aku datang perempuan itu kemudian berpindah, berdiri di samping pohon dan kemudian tersenyum melihatku. Sejujurnya aku tak ingin melihatnya tersenyum seperti itu, tapi aku tak ingin membuatnya marah dan aku hanya bisa bilang padanya sambil mempercepat langkah kakiku.
Rafa : Lagi senang ya?

Tak lama aku berkata seperti itu perempuan itu kemudian tertawa, persis seperti yang kalian dengar suara kuntilanak yang ada di film. Terkadang aku bisa mendengar hal-hal seperti itu mungkin karena makhluk-makhluk seperti itu sudah menyadari bahwa aku bisa melihat mereka. Tapi tidak jarang juga meskipun aku bertatapan dengan mereka aku tetap tidak mendengar apa-apa.

-0o0-
Ujian Nasional semakin mendekati hari H nya, tinggal beberapa minggu lagi dari sekarang. Sekolah kami juga baru saja menyelesaikan tes try out yang memang biasanya dilakukan setiap tahunnya sebelum Ujian Nasional berlangsung.
Putri : Rafa kamu lagi sibuk?
Rafa : Ah tidak hanya sedang baca-baca saja
Putri : Benarkah? Kalau gitu bolehkah aku tanya soal-soal yang seperti ini?
Rafa : Boleh
Putri adalah salah seorang teman sekelasku, dia anak supel kupikir. Selalu gampang bergaul dengan siapa saja dan tidak pernah memilih-milih dalam berteman. Terkadang dia sering bertanya padaku soal-soal pelajaran sekolah.
Putri : Hoo iya ya jadi terasa lebih gampang kalau mengerjakannya seperti ini
(aku tersenyum kepadanya)
Putri : Rafa kamu biasanya ikut bimbingan belajar dimana? Kamu kok pinter banget sih?
Rafa : He he he, biasa aja kok
Putri : Kamu udah punya pacar rafa?
(aku lagi-lagi hanya tersenyum mendengar pertanyaannya)
Putri : Atau sudah ada orang yang kamu sukai?
(kali ini aku memandang wajahnya)

Putri : Kamu tau rafa, apakah ini kelebihanmu setiap kali kamu memandang seseorang kamu benar-benar menatap tajam ke arah mata mereka?
Rafa : (aku tersenyum) dan taukah kamu juga, kalau aku sudah menyukai orang lain?
Putri : (dia tampak terkejut) benarkah? Siapa orangnya? Apa aku kenal?
Rafa : Hhhmm enggak, kamu gak kenal. Dia teman SD ku.
Putri : Teman SD? Seriusan? Cinta pertama kamu dong?
Rafa : He he he, mungkin
Putri : Memangnya dia orangnya seperti apa?
Rafa : Dia? Hhhmm, dia itu sangat pengertian. Ketika dia tersenyum aku sangat menyukainya. Ketika dia kesal atau marah dia selalu menjulurkan lidahnya padaku dan itu lucu kupikir. Tapi dia sedikit cerewet

Putri : Waaah aku kayanya cemburu deh, he he he
Zaki : (tiba-tiba entah darimana dan bagaimana anak ini datang) hayo loh pada ngapain!? Pada pacaran ya???
Rafa : Udah an yuk put, kita ke kelas
Putri : Ya udah yuk
Zaki : Hey hey hey, kok langsung mau ke kelas sih!?

-0o0-
3 hari kemudian…
Zaki : Sudah 3 hari ya putri gak masuk sekolah
Rafa : Iya
Zaki : Gimana kalau pulang sekolah nanti kita ke rumah dia?
(aku hanya diam)
Zaki : Ayolah, kamu juga sering kan ngobrol dengan putri, masa di kondisi dia seperti ini kamu seakan-akan tak perduli
Rafa : Bukannya begitu
Zaki : Makanya ayo
Rafa : Ya udah
Bukannya seakan-akan tak perduli, tapi aku tahu persis bagaimana rasanya momen-momen ketika kita kehilangan orang tua kita apalagi dalam kondisi mendadak. Dua hari yang lalu orang tua putri mengalami kecelakaan dan menyebabkan kedua orang tuanya meninggal saat itu juga.
Setelah pulang sekolah aku dan zaki berangkat ke rumah putri. Kulihat rumahnya tampak sepi.
Zaki : Ada orang gak ya di rumahnya?
Rafa : Coba kamu telepon putri dulu
(Zaki kemudian mencoba menelepon putri)
Zaki : Gak aktif fa
Rafa : Kita langsung masuk aja deh, udah nanggung nyampe sini
Zaki : Iya
(Kemudian kami mengetuk pintu rumahnya putri)
Zaki : Putri…Putri…Assalamualaikum…Putri…
(Tak lama seorang laki-laki membuka pintu rumah itu)
Ardan : Kalian siapa ya?
Zaki : Kami teman sekolahnya putri kak, putrinya ada?
Ardan : Oh, putrinya ada di dalam ayo silahkan masuk
Zaki : Rafa, ayo masuk! Malah bengong
Rafa : Ah iya

Ardan adalah kakak laki-laki putri, sedangkan putri adalah anak bungsu di keluarganya. Kalau dilihat umur kakaknya terlampau 3-4 tahun lebih tua dibandingkan dengan kami.
Ardan : Putri, ada temen kamu, ayo keluar dulu
Putri : Iya kak
Ardan : Kakak berangkat kerja dulu ya, sudah gak papa kan kalau kakak tinggal?
Putri : Iya putri gak papa kok, kakak pergi aja
Ardan : Ya sudah, kalau ada apa-apa langsung hubungi kakak ya
Putri : Iya
Putri : Hey zaki, hey rafa
Ardan : Kakak tinggal dulu ya, put kasih minum teman kamu
Zaki : Oh iya gak papa kak
(Tak lama kemudian kakak putri pergi, dan sekarang di rumah putri hanya ada kami bertiga)
Zaki : Gimana keadaan kamu put?
Putri : Udah baikan kok
Zaki : Kami semua khawatir sama kamu, apalagi rafa selalu nyariin kamu pas kamu gak ada
Rafa : Hah?
Putri : He he he, rafa itu udah punya orang yang dia suka zak. Kamu gak tau ya?
Zaki : Masa sih? Emang iya fa? Siapa?
Putri : Ha ha ha, kamu kemana-mana selalu sama rafa tapi kok gak tau
Zaki : Tau nih, dia emang gitu put
Rafa : Putri, akhir-akhir ini kakak kamu ada kelihatan aneh gak kalau di rumah?
Putri : Aneh? Maksudnya aneh gimana?
Rafa : Ya kaya berbeda dari biasanya
Putri : Hhhhmm apa yaaa?
Putri : Memangnya kenapa rafa?
Rafa : Kakakmu kerja dimana?
Putri : Kakakku ngejalanin usaha orang tuaku, usaha tempat makan di kawasan jalan Dr. Soetomo. Memangnya kenapa dengan kakaku rafa?
Zaki : Aaahh put, ada minum gak? Aku haus. He he he
Putri : Ah iya, maaf lupa. Kalian mau minum apa?
Zaki : Apa aja put
Putri : Kamu rafa, mau minum apa?
Rafa : Ah, sama put, apa aja yang ada
Putri : Ya udah tunggu sebentar ya
(Kemudian putri pergi ke dapur meninggalkan kami di ruang tamu berdua)

Zaki : Kamu kenapa sih? Kita itu kesini buat jengukin putri bukan jengukin kakaknya
Rafa : Gak kok
Zaki : Gak apanya wong dari tadi sejak kita datang ke sini sampai kakaknya pergi, kamu ngeliatin dia terus
Zaki : Atau kamu melihat sesuatu yang aneh?
(Putri kemudian masuk ke ruang tamu)
Putri : Maaf ya lama, tadi nyuci gelas dulu
Zaki : Ah iya gak papa put
Putri : Makasih ya udah sengaja datang kesini
Zaki : Gak papa kok, sekali lagi kami turut berduka cita ya atas apa yang terjadi pada kedua orang tuamu
Putri : Iya terima kasih
Rafa : Kamu beneran tidak ingat ada yang aneh baik sesudah kejadian yang menimpa orang tuamu ataupun sebelumnya put?
Zaki : Rafa! Kamu kenapa sih?
Putri : Ah iya aku baru ingat rafa!
Zaki : Hah!? Beneran ada?
Putri : Malam itu, sebelum orang tuaku pergi keluar. Aku juga sudah ada di rumah terkecuali kakakku. Waktu itu aku liat ada seorang anak perempuan tiba-tiba nyamperin papahku, terus minta papahku biar gak pergi keluar

Zaki : Maksudnya gimana put?
Putri : Iya, cewek itu bilang bahaya kalau papahku keluar malam itu
Rafa : Bahaya kalau orang tuamu keluar malam itu karena anak perempuan itu mendengar hal-hal aneh di dekat orang tuamu?
(Sontak zaki dan putri melihat ke arahku)
Putri : Iii…ii..iiya, bagaimana kamu bisa tahu rafa?
Rafa : Apakah usia anak perempuan itu sebaya dengan kita? Dan rambutnya panjangnya sebahu?
Putri : Iya benar
Zaki : Kamu kenal dia fa?
Rafa : Kalau dugaanku benar, anak itu juga yang aku lihat waktu di malam sebelum orang tuaku meninggal. Persis seperti kejadian orang tuamu putri, orang tuaku meninggal karena kecelakaan setelah sebelumnya anak perempuan itu datang meminta ayah dan ibuku untuk tidak pergi keluar
Zaki : Tapi akhirnya ayah dan ibumu tetap keluar dan kejadian itu benar-benar terjadi?
Rafa : Iya
×