alexa-tracking

The Left Eye

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/56fb82311cbfaa2c378b456e/the-left-eye
[TAMAT] THE LEFT EYE
Kepada agans dan aganwatis, sebelumnya TS ucapin salam kenal. Gak lupa TS mohon izin khususnya kepada momod, juga pada agans serta aganwatis buat aplod ini cerita.

The important thing is TS rakyat baru di kaskus. Jadi jika TS belum terlalu familiar dengan kata-kata yang sudah lazim digunain di kaskus, mohon dimaafkeun emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin

Sebagai rakyat baru, biar terlihat sedikit eksis (eeetttt dahhh),,, TS mau share cerita fiksi horor-misteri. Bukan mau ikut-ikutan mumpung di thread yang lagi populernya cerita horor, tetapi emang genre cerita ini udah dibikin dari taun kapan. Jika dibandingin dengan thread cerita horor yang udah populer jauh lebih serem cerita penampakan mereka toh itu pengalaman pribadi mereka.

Intinya niat TS PURE buat nyoba nge-thread di kaskus aja emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin

Quote:


Update komen dari agan-agan
Quote:


Kelanjutan cerita akan TS usahakan apdet tiap hari senin

Gak lupa-lupa TS ngingetin,,,, Like once a wiseman said, pengunjung yang baik (mau yang silent reader juga) jangan lupa tinggalkan jejaknya ya emoticon-Big Grin

ane juga terima kok kalau dikasih emoticon-Rate 5 Star atau emoticon-Toast

yang penting semakin ramai ini thread maka semakin kepikiran TS buat terus ngelanjutin ini cerita, nyampe kelar biar gak ngentangin agans sekalian emoticon-Blue Guy Peace


Langsung aja deh masuk ke cerita ya emoticon-Malu



Luaaarr biassaaaa! Terima kasih TS ucapkan buat semua pembaca terutama yang baru-baru aja baca cerita TS ini. Meskipun sebenarnya cerita ini sudah lama sekali kelar emoticon-Big Grin

Kesan-kesan yang mereka tinggalin cukup membuat TS antusias dan senang.

Sampai-sampai membuat TS berimajinasi membuat cerita lanjutannya, tentu aja dengan beberapa tokoh tambahan.


Quote:


Jika berkenan dan jika agan-agan sekalian bener-bener suka dengan cerita ini, agan-agan sekalian bisa bantu TS untuk membuat cerita ini lebih dikenal lagi. Mungkin dengan melihat itu semua bisa membuat TS benar-benar termotivasi untuk membuat cerita lanjutan.

Terima kasih emoticon-Smilie

Chapter 1 - Intro

Namaku adalah Rafa, saat ini aku masih berstatus sebagai salah satu seorang siswa sekolah menengah atas di Jakarta. Ini adalah tahun ketigaku di sekolah, dimana yang lain sudah mulai sibuk untuk menyiapkan diri menghadapi Ujian Nasional sedangkan aku sibuk dengan rutinitas sehari-hariku sebagai karyawan di salah satu supermarket. Setelah pulang sekolah aku menjadi karyawan toko di supermarket setiap harinya.

Hal itu aku lakukan karena aku tidak ingin merepotkan pamanku dan keluarganya. Sudah cukup aku merepotkan mereka karena telah mengasuhku sejak kedua orang tuaku meninggal. Aku tinggal bersama pamanku (Abimana) dan istrinya (Tyas) beserta anak tunggalnya (Aris). Pamanku adalah kakak dari almarhumah ibuku, pamanku dan istrinya sangat sayang padaku karena dengan mengasuhku paling tidak mereka bisa merasakan mempunyai anak saat itu. Sampai akhirnya Aris lahir 3 tahun kemudian, pamanku dan istrinya masih tetap perhatian kepadaku.

Namun setelah aku menerima donor mata pada mata kiriku yang buta karena terkena petasan, perlakuan mereka terhadapku menjadi agak berbeda. Aku dianggap menjadi orang yang mengerikan bagi mereka. Iya, dengan mata kiriku yang baru ini aku dapat melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Aku bisa melihat arwah-arwah gentayangan.

Aku sendiri sebenarnya sangat takut pada awalnya dengan kemampuan mata kiriku ini, namun setelah sekian lama akhirnya aku merasa dengan mata kiriku ini membuatku dapat melihat isi dunia ini lebih luas dibandingkan dengan orang lain. Aku sudah sering melihat arwah orang yang baru saja meninggal, atau penunggu pohon besar yang ada di taman bermain di dekat rumah pamanku. Bahkan aku sudah sering melihat orang-orang yang diikuti oleh arwah gentayangan.

Namun dibalik kelebihan mata kiriku ini aku tidak bisa mendengar dan mengerti apa yang diinginkan oleh arwah-arwah yang aku lihat tersebut. Karena sejauh yang aku pahami setelah beberapa tahun menggunakan mata kiriku ini aku tahu bahwa setiap arwah-arwah yang bergentayangan itu masih memiliki alasan yang membuat mereka mati dengan tidak tenang. Mereka akan menghilang setelah masalah yang belum terselesaikan mereka itu tersampaikan.

Terkadang arwah-arwah yang kulihat setelah mengetahui aku dapat melihat mereka, mereka kemudian akhirnya mengikutiku kemanapun aku pergi sampai akhirnya aku mau membantu mereka untuk menyelesaikan masalah mereka yang belum terselesaikan atau pesan mereka terhadap orang-orang yang berharga bagi mereka sudah tersampaikan.

Memang sebenarnya hal ini membuatku risih karena mereka yang selalu mengikutiku sampai aku mau membantu mereka. Aku sudah sering meminta bantuan kepada orang-orang pintar yang katanya mempunyai kemampuan supranatural ataupun kepada para pemuka-pemuka agama untuk bisa membantuku menghilangkan kemampuan dari mata kiriku ini. Namun semuanya percuma karena semua yang mereka lakukan tidak pernah berhasil. Bahkan kalau kalian tahu ada beberapa di antara mereka yang diikuti oleh arwah-arwah yang gentayangan, mereka malah menolak untuk percaya karena mereka bilang kalau mereka diikuti mereka sudah tahu dari awal.

Karena itulah aku merasa percuma untuk melakukan hal-hal seperti itu lagi. Yang mengetahui kemampuanku ini hanya pamanku dan keluarganya. Pamanku melarang keras kepada istri dan anaknya kalau hal ini sampai tersebar kemana-mana bahkan ke kerabat sendiri. Hal itu dilakukan karena selain pamanku tidak ingin membuat keluarganya terlihat aneh di lingkungan tempat tinggalnya, hal itulah yang dia bisa lakukan paling tidak untuk menghormati adiknya, almarhumah ibuku.

Pamanku sendiri juga bukannya berpangku tangan dan berdiam diri saja melihat keanehan yang terjadi padaku. Pamanku sudah berusaha mencari tahu siapa sebenarnya identitas pemilik mata kiriku ini. Namun dari keterangan pihak rumah sakit sendiri memberitahukan bahwa pemilik asli dari mata kiriku ini adalah seorang wanita yang sudah meninggal dan wanita tersebut dalam surat wasiatnya mengatakan bahwa dia tinggal seorang diri dan tidak mempunyai keluarga.

Begitulah yang bisa kuketahui dari mata kiriku ini. Karena sampai sekarang pun aku masih belum mengetahui kenyataan yang tersembunyi dari mata kiri ini. Sampai nanti pada suatu saat aku bertemu dengan seorang perempuan yang memiliki kemampuan spesial sepertiku. Aku akhirnya mulai bisa menemukan benang merah pada hal yang tidak pernah aku ketahui sebelumnya.

Chapter 2 - Puisi Untuk Ibu

Ibu Guru : Anak-anak kalian tahu hari ini hari apa?
Rafa : Bu, rafa bu rafa tau hari ini hari rabu! (Ucapku sambil mengangkat tangan sebelum teman-temanku yang lain ikut menjawab)
Ibu Guru : emoticon-Smilie Betul rafa, hari ini hari rabu. Tapi rafa tau hari ini hari ini kita memperingati hari apa?
Kiki : Ibuuu, kiki tau bu! Hari ini hari ibu
Rafa : Iya bu, hari ini hari ibu tapi hari ini juga hari rabu bu, terus besok hari kamis.
Ibu Guru : Betul, 100 buat kiki! Iya anak-anak hari ini adalah hari ibu.
Rafa : Ibu guru, rafa juga dapat 100 kan?
Ibu Guru : Kalau rafa dapat senyum dari ibu emoticon-Big Grin
Rafa : Ah kenapa rafa gak dapat 100 kaya kiki bu?
Ibu Guru : Ha ha ha, itu karena rafa jawabannya kurang tepat. Ibu gak bilang salah kan sama jawaban rafa yang bilang hari ini hari rabu, besok itu hari kamis. Ibu baru bilang salah kalau besok itu kamu jawab hari jumat (seisi kelas menertawakanku) emoticon-Wakaka

Hari itu adalah hari rabu, tepat tanggal 22 Desember dimana Indonesia sedang memperingati hari yang diresmikan sebagai hari ibu. Begitulah suasana yang terjadi di ruang kelas 5 SD di tempat aku sekolah.

Pelajaran hari itu diisi dengan membuat puisi untuk ibu yang kemudian puisi-puisi yang kami buat itu akan dipilih oleh ibu guru dimana puisi yang terbaik akan dibacakan ketika hari pembagian rapor setelah ujian semester dilaksanakan akhir bulan nanti.

-0o0-


Malam harinya aku sedang sibuk di kamar untuk mengerjakan tugas pekerjaan rumah. Sedangkan ibu sedang memasak di dapur. Sebelumnya ayahku juga sudah pulang dari kantornya, ayahku biasanya pulang agak larut malam apalagi ketika tiap menjelang akhir tahun. Namun malam ini ayah bisa pulang lebih cepat.

Ayah :Rafaaa, kamu sudah mandi?
Rafa : Iyaa sudah yah, sudah shalat juga
Ayah : Kamu masih ngerjain PR ya? Mau ayah bantuin? (ucap ayah yang sekarang tiba-tiba sudah ada di kamarku)
Rafa : He he he, gak usah yah. Tinggal sedikit lagi kok.
Ayah : Cieeeee, pinter yah anak ayah.
Rafa : Iya dong, anak siapa dulu?
Ayah : Anak ayah kan?
Rafa : Anak ibu emoticon-Cool
Ayah : Ha ha ha, jadi gitu ya sini sini, awas ya gak ayah kasih uang jajan lagi (ucap ayah gemas sambil menggelitiki tubuhku)
Rafa : Ha ha ha, iya yah iya, ampuunn, rafa anak ayah juga deh

Tiba-tiba ibu berada di depan pintu kamarku
Ibu : Iya iya, rafa itu anak ayah juga anaknya ibu. Ayo makan dulu, udah siap makan malamnya
Rafa : Horeeee, makaaannn

-0o0-


Hari-hari berlalu semenjak makan malam itu, saat ini sudah memasuki minggu ke-4 bulan desember, dan hari terakhir ujian akhir semester. Dan besok lusa adalah hari terakhir di bulan desember atau hari dimana pembagian rapor dilakukan.

Ibu Guru : Ya, waktunya habis. Ayo anak-anak kumpulkan lembar jawaban ujiannya kedepan
Dino : Bentar bu, masih belum kelar, dikit lagi
Ibu Guru : Hayo dikumpulin sekarang, waktunya sudah habis. Oh iya jangan langsung pulang dulu ya. Karena habis ini ibu mau umumin puisi siapa yang menjadi puisi terbaik dan yang akan dibacakan nanti ketika pembagian rapor
Agung : Ah iya, puisi tentang hari ibu kemarin ya bu?
Ibu Guru : Iya betul agung, ibu sudah menentukan puisi mana jadi yang puisi terbaik di kelas ini
Agung : Siapa bu? Siapa bu?
Ibu Guru : Iya nanti ibu umumin, makanya kumpulin dulu lembar jawabannya
Teddy : Ini bu semua lembar jawaban ujiannya
Ibu Guru : Makasih ya teddy, nah sekarang ayo semuanya duduk terlebih dahulu

Kemudian seketika suasana kelas menjadi sunyi senyap, semua siswa di kelas sudah duduk di kursi masing-masing dan siap-siap mendengarkan pengumuman dari ibu guru.

Agung : Siapa bu? Puisi siapa bu?
Ibu Guru : Puisi yang ibu pilih sebagai puisi terbaik dan yang akan dibacakan waktu pembagian rapor nanti adalah puisi buatan kiki
Kiki : Yeeeeeee, horeeeeeeee (kemudian sengaja menjulurkan lidahnya kepadaku) emoticon-Stick Out Tongue
Ibu Guru : Dan puisi buatan rafa (ucap bu guru sambil tersenyum) emoticon-Smilie
Rafa : Hooorrrreeeeeeeee
Kiki : Ibu, kok jadi 2 orang sih?
Ibu Guru : Iya memang seharusnya ibu memilih 1 puisi dari 20 puisi yang ada, tapi ibu akhirnya menyerah karena memang ada 2 buah puisi yang menurut ibu sangat bagus. Yaitu puisi kamu dan puisi rafa
Kiki : Yaaaaahhh (huh coba liat kelakuannya, joget joget gak jelas gitu) emoticon-No Hope
Ibu Guru : Selamat ya buat kiki dan rafa, nanti kalian harus menyiapkan diri buat membaca puisi kalian waktu pembagian rapor nanti

-0o0-


Malam harinya…

Ibu : Rafa, kamu beneran gak mau ikut ibu sama ayah pergi?
Rafa : Enggak bu, rafa lagi ada yang dikerjain buat lusa nanti
Ibu : Memangnya kamu sibuk ngerjain apa buat lusa? Kan lusa cuma pembagian rapor?
Ayah : Ah iya lusa ya, kalau kamu bisa juara 1 lagi ayah janji kasih hadiah deh
Ibu : Ciyeeee, emang rafa yakin bisa juara 1 lagi?
Rafa : Khusus untuk semester ini rafa yakin, tapi boleh gak kalau rafa minta hadiahnya duluan?
Ayah : Duluan? Terus kalau kamu ternyata gak juara 1 gimana?
Rafa : Gak mungkin gak mungkin, rafa yakin kok emoticon-Cool Tapi kalau emang rafa gak juara 1 semester depannya lagi kalau rafa juara 1 rafa gak perlu dikasih hadiah deh. Gimana?
Ibu : Ciyeeee anak ibu yakin banget ya, he he he…
Ayah : Memangnya rafa mau hadiah apa?
Rafa : Rafa mau ayah sama ibu sama-sama datang lusa nanti buat hadir waktu pengambilan rapor. Sekali ini aja rafa pengen ayah sama ibu datang bareng-bareng
Ayah : Hhhhmm gimana ya? Ayah belum bisa mastiin rafa
Ibu : Memangnya kenapa rafa pengen ibu dan ayah bisa sama-sama datang. Kan biasanya juga ibu yang datang, lagian rafa kan tau sendiri ayah sibuk di kantor
Rafa : Makanya rafa minta tolong sekali ini aja, lagi tadi ayah juga janji mau kasih hadiah sama rafa kalau rafa juara 1. Rafa yakin semester ini bisa juara 1 jadi tolong ayah sama ibu sama-sama datang bareng. Setelah ambil rapor, ayah boleh deh langsung balik ke kantor lagi. Tolong ya yah?
Ayah : Ayah usahain ya sayang (ucap ayah sambil tersenyum kepadaku)
Rafa : Janjiii yaaaaaa? emoticon-Smilie
Ibu : Ya udah yuk yah, nanti kita kemaleman

Malam itu ayah dan ibu berencana pergi keluar karena ada acara pertemuan dengan kolega kantor ayah. Sekalian pulangnya ibu juga mau cari titipan barang pesanan paman. Namun sebelum ayah dan ibu berangkat tiba-tiba ada seorang anak perempuan seumuranku mendatangi ayah dan ibu.

Saat itu aku belum mengenal siapa anak perempuan tersebut, cuma yang kulihat dia berbeda dengan kebanyakan anak lainnya. Dia berbicara kepada ayah dan ibuku agar mereka tidak pergi kemana-mana malam itu.

Anak kecil : Om, tante jangan pergi keluar malam ini. Jangan keluar tante (ucap anak kecil itu sambil memegang tangan ibuku)
Ibu : Kamu siapa sayang? Memangnya kenapa tante sama om gak boleh keluar?
Ayah : Bu, anak siapa ini?
Ibu : Ibu juga gak tau yah, ibu baru aja liat anak ini. Sayang nama kamu siapa?
Anak kecil : Tante jangan pergi tante, om juga jangan pergi, jangan kemana-mana malam ini saja
Ibu : Iya iya, tante dengar tapi kenapa tante sama om gak boleh pergi? Rumah kamu dimana sayang?
Anak kecil : Jangan pergi tante! percaya sama aku tante, om…

Tak lama kemudian datang seorang ibu-ibu yang nampaknya orang tua dari anak kecil itu.

Ibu-ibu : Tinaaa, tinaaa, kamu ibu cariin. Ayo kita pulang!
Ayah : Maaf, ibu ini siapa?
Ibu-ibu : Ah iya, saya ibu dari anak ini. Saya mohon maaf atas perlakuan anak saya terhadap bapak dan ibu, anak saya akhir-akhir ini memang seperti ini
Ayah : Seperti ini bagaimana maksudnya bu?
Ibu-ibu : Anak saya sedang sering mengalami halusinasi yang aneh-aneh mungkin karena kecapean karena tugas sekolah
Ibu : Oh begitu, anak ibu sepertinya seumuran dengan anak saya rafa. Anak saya rafa sekarang kelas 5 SD
Ibu-ibu : Iya bu, anak saya sekarang juga kelas 5 SD
Anak kecil : Tante jangan pergi ya tante, malam ini tante sama om di rumah aja
Ibu : Iya sayang, tante sama om gak jadi pergi. Jadi kamu gak perlu khawatir ya, itu ibu kamu sudah ngajakin kamu pulang. Ibu mau masuk dulu kedalam?
Ibu-ibu : Terima kasih bu, tapi sudah larut malam, mungkin lain kali saja. Sekali lagi terima kasih tawarannya dan saya mohon maaf atas perlakuan anak saya
Ibu : Iya gak papa bu, ah iya nama anak ibu ini siapa?
Ibu-ibu : Namanya tina
Ibu : Nah tina, itu anak ibu namanya rafa, dia seumuran dengan kamu. Lain kali kamu main kesini lagi ya ketemu sama rafa.
Anak kecil : Tante jangan pergi, aku banyak mendengar suara perempuan menangis dan suara perempuan cekikian disekitar tante dan om. Aku belum pernah mendengar ada suara perempuan menangis dan cekikian sebanyak ini sebelumnya

Mendengar hal tersebut ayah dan ibuku langsung terkejut.

Ibu-ibu : Tinaa! Cukup tina, sadar! Tidak ada suara apa-apa disini selain suara kita. Maaf pak, ibu. Anak saya memang kata dokter sedang mengalami stress berat yang membuat dia sering mendengar suara-suara aneh di sekitarnya, tapi kata dokter itu hanya khayalannya saja
Ibu : Memangnya kalau boleh tahu anak ibu stress berat karena apa? Rasanya tidak mungkin kalau hanya stress karena pekerjaan sekolah
Ibu-ibu : Aahh kalau itu, kalau itu sebenarnya (ibu-ibu itu menjadi serba salah untuk menjawab)
Ayah : Sudah gak papa bu, gak usah dilanjutkan, kami mengerti. Tina, iya om sama tante gak jadi pergi kok, jadi kamu tenang saja ya. Ibu rumahnya dimana? Mau saya antar?
Ibu-ibu : Tidak perlu pak, terima kasih tawarannya. Ayo tina kita pulang

Kemudian anak kecil yang bernama tina itu akhirnya dibawa ibunya pulang. Dan menyisakan kesan yang mendalam pada kami saat itu.

Ibu : Ayah, kenapa ayah memotong pertanyaan ibu tadi?
Ayah : Ibu, terkadang ada sesuatu hal yang tidak perlu kita ketahui untuk menjaga perasaan orang lain. Kita cukup percaya dengan apa yang dikatakan ibu-ibu tadi itu saja
Ibu : Tapi yah, ibu jadi takut mendengar apa yang dibilang anak kecil tadi. Gimana kalau kita gak jadi pergi aja malam ini?
Ayah : Ibu, tadi dengar kan apa kata ibunya tina tadi. Kalau itu cuma halusinasinya tina saja. Gak akan ada apa-apa kok bu, hayo kita berangkat nanti kita pulangnya kemaleman, kasian rafa di rumah sendirian
Rafa : Ayah, ibu gak bisakah ayah sama ibu gak usah keluar malam ini?
Ayah : Rafa, gak akan ada apa-apa sama ayah dan ibu. Jadi kamu tenang saja ya, tadi anak kecil itu sepertinya sedang sakit jadi kebayang yang aneh-aneh. Ayah janji paling lambat cuma 2 jam diluar habis itu langsung pulang. Jadi rafa kunci rumah baik-baik terus langsung tidur ya, terus kalau ada apa-apa langsung telpon ayah atau ibu. Oke?
Rafa : Iya yah, janji ya cuma 2 jam?
Ibu : Iya sayang, ayah dan ibu janji cuma 2 jam. Kalau ada apa-apa langsung telepon ibu ya. Rafa jangan nakal, rafa harus bisa mandiri kalau ibu sama ayah lagi gak ada seperti ini di rumah. Rafa sayang kan sama ibu?
Rafa : Iya rafa sayang sama ibu
Ibu : (Ibu kemudian memelukku), ibu juga sayang sama rafa dan ayah juga sayang sama rafa. Ya udah ingat kata ayah sama ibu tadi ya, sekarang kamu masuk ke dalam dan kunci pintunya
Rafa : Iya bu, ayah sama ibu hati-hati ya…

-0o0-


Hari pembagian rapor tiba…

Kiki : Ibu guru, rafa beneran bakal tetap datang ya?
Ibu Guru : Iya, ibu sudah menghubungi pamannya, kata pamannya rafa bakal datang kok
Kiki : Ibu guru, kalau rafa jadi datang. Bolehkah yang baca puisi hari ini rafa aja?
Ibu Guru : Kenapa memang sayang?
Kiki : Gak papa bu, kiki cuma lagi gak pengen baca puisi aja. Kiki mau liat rafa baca puisi aja di depan. Boleh ya bu?
Ibu Guru : Beneran kamu gak mau?
Kiki : Iya bu, maafin kiki ya bu…
Ibu Guru : Ya sudah gak papa, kalau gitu kamu duduk dulu ya
Kiki : Iya bu

Tak lama kemudian rafa datang bersama paman dan tantenya. Ibu guru mendekati rafa dan pamannya.

Ibu Guru : Rafa sudah gak papa pak?
Paman rafa : Iya bu, rafa memaksa tetap datang ke sekolah hari ini. Padahal saya sudah memberi tahunya untuk istirahat saja dulu di rumah
Ibu Guru : Rafa, kamu sehat sayang?
(Rafa hanya diam)
Paman rafa : Semenjak kejadian itu, rafa masih jarang berbicara bu. Saya sudah mencoba mengajaknya berbicara tapi rasanya saat ini saya juga belum bisa memaksanya
Ibu Guru : Iya sepertinya begitu pak, saya mengerti. Sebenarnya hari ini sebelum pembagian rapor akan ada pembacaan puisi yang sudah dipilih sebagai puisi yang terbaik. Dan puisi rafa terpilih menjadi puisi yang terbaik. Tapi kalau melihat kondisi rafa, sepertinya kita langsung masuk ke pembagian rapor saja
Paman rafa : Iya gak papa bu
Rafa : Rafa tetap mau baca puisi rafa bu guru
Paman rafa : Rafa…
Ibu Guru : (Ibu Guru tersenyum), iya sayang, kalau gitu rafa tetap boleh baca puisi rafa. Sekarang rafa sama tante dan pamannya duduk dulu ya, nanti bu guru panggil
Rafa : Iya

-0o0-


Ibu Guru : Selamat pagi bapak-bapak dan ibu-ibu, hari ini seperti yang tertulis di undangan kami akan mengadakan pembagian rapor semester genap yang baru saja berlalu. Sebelumnya saya sebagai wali kelas memohon maaf jika waktu pelaksanaan agak terlambat dikarenakan sesuatu hal.
Ibu Guru : Pertama-tama untuk memulai pembagian rapor akan kami beritahukan 3 orang yang menjadi 3 besar di kelas ini. Saya sampaikan selamat kepada juara 3 yang jatuh kepada teddy
(Seisi kelas bertepuk tangan setelah pengumuman ini)
Ibu Guru : Kemudian untuk juara 2 saya sampaikan selamat kepada kiki
(Seisi kelas kembali bertepuk tangan setelah pengumuman juara 2 disampaikan)
Ibu Guru : Dan untuk juara 1 semester genap kali ini saya ucapkan selamat kepada rafa
(Kali ini seisi kelas bertepuk tangan lebih kencang dari 2 kali pengumuman sebelumnya)
Kiki : Selamat ya rafaa (ucap kiki yang saat itu mendekati rafa untuk mengucapkan selamat)

Rafa hanya terdiam, dan suasana kelas menjadi hening sampai ibu guru memecah keheningan dengan pengumuman selanjutnya.

Ibu Guru : Dan sebelum kita memulai pembagian rapor selanjutnya akan ada pembacaan puisi terbaik yang telah dipilih dari puisi-puisi yang dibuat anak-anak kelas 5A. Puisi tersebut dibuat ketika hari ibu yang telah berlalu beberapa hari yang lalu. Puisi terbaik yang dipilih adalah puisi dari buatan rafa. Silahkan rafa maju kedepan.

Rafa kemudian maju kedepan kelas

Ibu Guru : Kamu sudah siap sayang?
Rafa : Iya bu
Ibu Guru : Kamu gak bawa puisi kamu?
Rafa : Rafa sudah hafal bu
Ibu Guru : (Ibu Guru tersenyum) emoticon-Smilie , baiklah silahkan rafa

-0o0-


Quote:


-0o0-


Malam itu, malam ketika ibu memelukku sebelum pergi bersama ayah adalah malam terakhir dimana aku dipeluk ibu. Ibu dan ayah mengalami kecelakaan lalu lintas di perjalanan mau pulang ke rumah.

Saat malam itu aku sudah berusaha untuk tidak menangis sampai dengan hari ini, karena aku sudah berjanji pada ibu karena aku akan menjadi anak yang kuat, anak yang baik dan anak yang mandiri. Kejadian itu adalah awal mula dari kisah hidupku yang masih akan aku ceritakan pada kalian kelanjutannya. Kejadian dimana terakhir kalinya aku bisa melihat ayah dan ibuku dan kejadian yang dimana mempertemukanku pertama kali dengan anak perempuan bernama tina itu.
Mantap bro lanjutkan
Lebih cepat lebih baik
psych detective.. yakumo bukan ya
jadi keinget itu.
lanjut gan emoticon-Big Grin
Quote:


Makasih gan udah mampir dimari emoticon-Big Grin
Udah ada beberapa part gan tinggal di edit,
Tadi kebetulan lagi idle gak ada bos, jadi sempet-sempetnya ngedit 2 part awal emoticon-Ngakak
Quote:


nah itu ane malah belum tau gan emoticon-Ngakak
boleh lah nanti ane cari tau itu si yakumo.
Quote:


Genre nya apa gan nie cerita???
Quote:



horor, misteri maunya ane gan emoticon-Ngakak
tp biar lebih afdhol agan simpulin sendiri aja sambil baca.

nanti ane apdet lagi juga gan, stok masih banyak emoticon-Big Grinemoticon-Big Grin
Quote:


Fix triple kill. Eh update

Chapter 3.1 - I Don't Tell A Lie

Bagian part ini ane pikir terlalu panjang dibanding 2 chapter awal, karena ane mau nyeritain gimana hidupnya rafa setelah ditinggal kedua orang tuanya sampai gimana sih karakter si tokoh utamanya ini. Jadi chapter ini sengaja ane pisah jadi 2 part, dan selamat membaca emoticon-Smilie


Quote:

Chapter 3.2 - I Don't Tell A Lie

Zaki kemudian terjatuh setelah kudorong, dan seketika zaki jatuh sebuah petasan meluncur ke arah zaki dan mengenainya. Suasana langsung menjadi hening seketika, seakan tak percaya ada petasan yang tepat mengenai mata zaki sampai akhirnya para orang tua yang ada di dalam berlari menghampiri kami.

Zaki langsung dibawa ke rumah sakit terdekat. Setelah mendapatkan perawatan dari dokter dapat dikatakan bahwa petasan yang mengenai mata zaki bisa saja membuatnya buta apabila dalam beberapa hari mendatang kornea pada matanya tidak kunjung membaik.
Ayah Zaki : Zaki sebenarnya apa yang terjadi?
Zaki : Rafa tiba-tiba mendorong zaki pah, sewaktu zaki jatuh tiba-tiba ada petasan yang mengenai zaki
Ibu Zaki : Kamu kenapa mendorong zaki rafa!? (tanyanya padaku dengan marah)
Ayah Zaki : Ibu tolong diam sebentar!
Ibu Zaki : Tapi pah, dia mendorong zaki
Ayah Zaki : Kamu benar mendorong zaki? (beda dengan istrinya, beliau bertanya padaku dengan nada biasa tapi sorot matanya tajam memandang mataku)
Rafa : Iya rafa mendorongnya, tapi karena… (belum selesai aku berbicara, ayah zaki memotongnya dan kembali bertanya pada anaknya)
Ayah Zaki : Bagaimana bisa petasan itu mengenaimu?
Zaki : Sewaktu zaki terjatuh petasan itu tiba-tiba mengenai zaki pah
Ayah Zaki : Siapa yang memegang petasannya waktu itu?
Zaki : Zaki tidak melihatnya
Andreas : Saya melihatnya om, petasan itu ada di meja waktu menyala
Ayah Zaki : Di meja? Lalu siapa yang menyalakannya?
Zaki : (tiba-tiba zaki berbicara) rafa yang menyalakannya pah
Rafa : Bohong! Rafa ti… (kembali belum selesai aku berbicara, ayah zaki kembali memotongnya)
Ayah Zaki : Kamu yakin? Kamu tahu kalau kamu berbohong apa resikonya?
Zaki : Iii…ii…yaa yah zaki yakin, andreas kamu juga lihat kan kalau rafa yang menyalakan petasannya?
Andreas : Iii..yyaa om andreas juga melihatnya
Rafa : Andreas!!! Maksudmu a…
Ayah Zaki : Kamu yang menyalakannya petasannya?
Rafa : Bukan rafa om! Bukan rafa!
Paman : Pak maaf sebelumnya, bukan saya ingin membela keponakan saya. Tapi menurut saya kita juga harus mendengar dari penjelasan rafa juga
Ayah Zaki : Apalagi yang harus saya dengar? Dia mengakui telah mendorong anak saya dan teman-temannya juga bilang seperti itu. Di sini ada saksi yang juga mengatakan sebaliknya.
Paman : Tapi pak?

Ayah Zaki : Kalau benar keponakanmu tidak menyalakannya maka berikan buktinya? Dengar abimana, kamu sudah melihat sendiri bagaimana aku menyikapi masalah ini seobjektif mungkin. Kamu juga tahu sendiri bagaimana aku sehari-hari di kantor. Kalau kamu mengerti, sekarang aku tanya kepadamu apa yang akan kamu lakukan jika kamu di posisiku sekarang?
(paman terdiam)
Rafa : Paman, bukan rafa yang menyalakannya. Paman, tante, rafa bersumpah pada paman dan tante kalau rafa tidak berbohong (aku menangis di hadapan paman, kalau paman tidak percaya padaku lantas siapa yang mau percaya padaku lagi?)
Tante : Ayah, bunda yakin bukan rafa yang menyalakannya (ucap tante kepada paman)
Paman : Pak, saya tahu persis bagaimana bapak. Bagaimana bapak menyelesaikan suatu masalah seobjektif mungkin dan saya juga belajar seperti itu dari bapak. Tapi bukannya saya ingin membela keponakan saya, saya percaya apa yang dikatakan rafa
Ayah Zaki : Jadi kamu bilang anakku dan anaknya Hendra berbohong (ayahnya andreas)?
Paman : Saya bukan dalam posisi menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah sekarang pak. Saya hanya ingin memberi masukan kepada bapak
Ayah Zaki : Baiklah, apa itu?
Paman : Pertama, cobalah bapak cari tahu di sekolah bagaimana perlakuan anak bapak dan teman-temannya terhadap rafa. Rafa dituduh sebagai anak yang curang dan anak pembohong
Ibu Zaki : Maksudmu apa!?
Ayah Zaki : Ibu, diam! Benar itu zaki?
Ibu Zaki : Tapi pah kalaupun itu benar, pasti semua ada alasannya. Lagipula itu tidak ada kaitannya dengan masalah ini
Paman : Betul, seperti yang ibu bilang semua ada alasannya. Dengan kata lain semua yang terjadi pasti karena ada sebab dan akibatnya. Begitu pula dengan rafa yang mendorong zaki, rafa pasti punya alasannya
Paman : Rafa, kenapa kamu mendorong zaki?
Rafa : Karena dia bilang ibu rafa seorang pembohong
Zaki : Pah itu karena… (belum selesai zaki berbicara, paman memotongnya)
Paman : Saya tidak akan melanjutkan kenapa zaki berbicara seperti itu kepada rafa, bapak bisa mencari tahu sendiri kenapa
Paman : Kedua, asal bapak tahu, anak ini (paman memegang kepalaku) adalah anak terkuat yang pernah saya lihat. Disaat kematian ayah dan ibunya tidak pernah saya lihat dia menangis, hanya meneteskan air mata dan itupun hanya sekali sampai dengan saat ini. Tak pernah dia mengeluh kenapa ayah dan ibunya meninggalkannya
Paman : Sama ketika anak ini dituduh sebagai pembohong yang membuatnya dijauhi oleh teman-temannya bahkan guru-gurunya di sekolah pun tak percaya padanya. Tapi dia tidak pernah menangis, tidak pernah sama sekali
Paman : Tapi pak, baru hari ini. Baru hari ini saya melihat dia menangis dan mengatakan kalau dia yang bukan menyalakan petasannya. Bagaimana saya bisa tidak percaya melihatnya? Bagaimana saya bisa tidak percaya terhadap orang yang belum pernah berbohong kepada saya?

(Suasana sempat hening sesaat sampai ayah zaki membuka suara)
Ayah Zaki : Ikhsan, dani, apa kalian lihat siapa yang menyalakan petasannya?
Dani : Saya lihat om, rafa yang menyalakannya
Ayah Zaki : Kamu ikhsan?
Ikhsan : (Ikhsan terdiam sesaat dan kemudian memandangku) maaf rafa, aku benar-benar tidak tahu
Rafa : Ikhsan…
Ayah Zaki : Abimana, sekarang aku harus bagaimana? 3 orang anak mengatakan kalau keponakanmu yang menyalakannya dan 1 orang lagi tidak tahu. Kamu tahu kan permasalahannya memang bukan yang menyalakan petasan yang salah tetapi bahayanya menyalakan petasan jika tidak digunakan dengan hati-hati
Paman : (paman terdiam) saya minta maaf pak atas apa yang telah terjadi. Saya akan pulang mengantar istri saya dan rafa terlebih dahulu kemudian saya akan langsung kemari lagi dan bertanggung jawab atas semuanya
Rafa : Paman, rafa tidak bohong paman
Tante : Ayah…
Paman : Ayo kita pulang…

-0o0-

Sampai seminggu setelah kejadian itu, paman sampai dengan saat ini tidak banyak berbicara di rumah. Bagaimana dengan zaki? Yang kudengar kata dokter untungnya retina matanya tidak sampai dengan rusak. Namun masih harus dilakukan check up terus menerus sampai mereka bisa memastikan kondisi matanya benar-benar tidak apa-apa.
Paman : Hari ini zaki keluar rumah sakit, kita sebaiknya datang ke rumahnya malam ini
(aku hanya diam)
Paman : Kamu juga ikut rafa, bagaimanapun juga kamu masih subjeknya disini
Rafa : Subjek bukan berarti tersangka bukan? Baik rafa akan ikut, tapi jika paman berharap rafa akan meminta maaf seperti paman maka jangan pernah berharap.
Paman : Oke paman mengerti

Malamnya kami tiba di rumah zaki, dan seperti yang aku bilang aku bersedia ikut. Sama seperti waktu sebelum kejadian, malam ini juga ada andreas, dani dan juga ikhsan. Ketika aku ingin menginjakkan kakiku ke dalam rumah itu sebenarnya hatiku sangat ingin menolaknya, tetapi akal sehatku malah ingin aku berbuat sebaliknya.
Tidak seperti sebelumnya ketika aku disambut dengan ramah oleh kedua orang tua zaki, saat ini malah sebaliknya. Aku seperti orang transparan disitu, ada tapi seakan tidak ada. Disamping itu aku juga melihat zaki bersama yang lain-lainnya sedang berada di luar namun yang berbeda kali ini mereka sedang tidak bermain kembang api ataupun petasan lagi.

Aku kemudian menghampiri mereka keluar…
Rafa : Kenapa tidak ada yang main kembang api dan petasan lagi? Apa karena kalian takut kalau akan ada petasan yang akan mengenai kalian lagi?
Ikhsan : Rafa…
Rafa : Diantara semua yang ada disini, meskipun jawabanmu kemarin mengagetkanku tapi paling tidak aku yakin kamu tidak berbohong kalau kamu benar-benar tidak melihatnya. Ucapku kepada ikhsan.
Andreas : Maksudmu apa rafa?
Zaki : Maksud dia selain ikhsan, kita semua telah berbohong
Andreas : Apa!? Kalau gitu buktikan kalau kami berbohong!
Dani : Iya, buktikan kalau kami yang berbohong
Zaki : Dia tidak akan bisa membuktikan apa-apa, dia memang pembohong dan terlahir sebagai seorang pembohong

-0o0-

Aku kemudian mengeluarkan sesuatu dari tas yang aku bawa. Aku mengeluarkan sebuah petasan, petasan yang benar-benar mirip dengan petasan kemarin yang membuat aku jadi tersangka.
Zaki : Kamu mau apa!? (tanya zaki panik)
Rafa : Tenang aku hanya mau merekayasa kembali kejadian yang kemarin
Dani : Papaaaaaaaaaaaaahhhh (dani berteriak ketakutan dan seketika itu para orang tua yang berada di dalam rumah langsung berlari keluar mendekati kami)
Paman : Rafa, apa yang kamu lakukan!?
Tante : Rafa hentikan rafa (pinta tante kepadaku sambil menangis)

Rafa : Sekarang sama seperti yang kamu bilang ke semua orang kalau akulah yang menyalakan petasannya bukan? (ucapku kepada zaki)
Rafa : Maka aku akan benar-benar menyalakan petasan ini, tapi jangan salah setelah menyalakan petasan ini aku tidak akan meletakkannya di meja tapi aku akan tetap memegangnya dan mengarahkannya ke matamu
Zaki : Apaaa!?
Paman : Rafaaaa!!!
Rafa : Jika memang benar aku pelakunya maka sekarang aku akan membuktikannya, aku akan mengarahkan petasan ini ke matamu setelah kunyalakan. Dan jangan berharap kalau kali ini petasan ini hanya mengenai sedikit matamu seperti dulu namun kali ini aku akan mengarahkannya benar-benar mengenai matamu
Zaki : Papaaaaahh, ibuuuuuuuu (panggil zaki kepada orang tuanya sambil ketakutan)
Ibu Zaki : Paahh, tolong zaki paahh
(namun ayah zaki masih terdiam melihat apa yang kulakukan)

Rafa : Zaki, aku akan memberikanmu kesempatan. Kamu masih mau bilang aku pembohong atau kamu akan berkata yang sebenarnya?
Zaki : Maksudmu apa? Aku sudah bilang aku tidak berbohong
Rafa : Baiklah kalau begitu kamu mau aku yang memegang petasan ini atau kamu yang mau memegangnya? Silahkan ambil petasan ini dan arahkan kepadaku, kalau kamu tidak mau mengambilnya maka aku yang akan mengarahkannya kepadamu

(saat itu petasan itu sudah kunyalakan, melihat petasan yang sudah menyala tanpa ragu zaki mengambil petasan itu dan mengarahkannya kepadaku)
Rafa : Paman, jika sebuah kebenaran itu sangat mahal harganya. Lihatlah paman, rafa tak akan pernah ragu terhadap kebenaran emoticon-Smilie

Paman : Rafaaaaaaaaa awaaass…

Dan petasan itu akhirnya meledak dan mengenaiku. Aku pun langsung tersungkur kesakitan dan tak lama kemudian aku merasa sakit yang luar biasa pada mata kiriku. Iya, petasan itu benar-benar mengenai mata kiriku.
Asekkk. Btw kiki cowok apa cewek gan???. Cie ada perhatian
Klo cewek pasti cinta pertama wkekkeke. Aje gile sd dah kenal cinta monyet wkekekkeke
Kasih emoticon dong gan biar ada feel nya gitu
Terakhir satu part lagi ya biar ma krenyes kentangnya. Ane pantengin terus ah tread ini so menarik sekali
Quote:

Cewek gan, si rafa gak doyan cowok soalnya emoticon-Ngakak
Ane kasih bumbu-bumbu romance dikit lah gan, biar gak boring emoticon-Big Grin

Quote:

siap gan, diedit dulu nanti chapter 4 nya emoticon-Jempol

Chapter 4.1 - The Left Eye

Ngelanjutin chapter 3, chapter ini nyeritain apa yang terjadi pada rafa setelah kejadian petasan tersebut dan bagaimana kisah the left eye. Tapi sama seperti chapter 3, chapter ini masih panjang. Entah kenapa waktu ane nulis cerita ini dulu ane terlalu banyak mengkhayal emoticon-Ngakak (S)
Jadi chapter ini ane bikin 2 part, dan kembali ane ucapkan selamat membaca... emoticon-Blue Guy Smile (S)

Quote:

Chapter 4.2 - The Left Eye

5 tahun sebelumnya…

Satu minggu setelah kejadian petasan itu, dokter akhirnya memberitahuku bahwa kondisi mataku sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Kornea mata kiriku benar-benar sudah rusak, dan artinya sejak saat itu aku harus berlapang dada bahwa mata kiriku menjadi buta.
Bagaimana bisa aku setabah itu? Diumurku yang masih sangat muda, setelah kehilangan kedua orang tuaku, kali ini aku harus menerima kenyataan bahwa aku juga harus kehilangan salah satu mataku. Tapi mau bagaimana lagi kalau ini sudah jalanku, jalan yang harus aku lalui. Toh meskipun aku menangis dan berteriak-teriak pun tak akan bisa mengembalikan semuanya. Lagipula yang terjadi pada mata kiriku juga karena perbuatan konyolku sendiri.
Entah itu perbuatan konyol atau perbuatan gegabah atau perbuatan gila atau bahkan perbuatan paling berani yang pernah aku lakukan hanya demi membersihkan nama baikku dan juga demi mengembalikan kepercayaan semua orang terhadapku. Yang jelas aku menyadari bahwa menunjukkan suatu kebenaran itu sangatlah mahal harganya. Sehingga tak jarang kita akan menemukan orang-orang yang lebih suka berbohong daripada harus berkata benar.

Tak lama setelah aku mengetahui mata kiriku buta, ayahnya zaki datang ke rumah dan membawakan kabar yang baik untukku. Kata beliau, temannya seorang dokter menginformasikan ada orang yang bersedia mendonorkan matanya padaku. Dan setelah mendengar informasi itu tak sampai beberapa hari aku memikirkannya, aku akhirnya memutuskan menerima tawaran yang diberikan ayahnya zaki itu.
Keesokan harinya aku langsung diminta ke rumah sakit tempat temannya ayah zaki itu bekerja agar diperiksa terlebih dahulu. Kata pamanku, ayahnya zaki benar-benar menghabiskan effortnya untuk membantuku, baik untuk semua pengobatan, semua urusan administrasi beliaulah yang mengurus semua. Kupikir pantaslah memang pamanku benar-benar menghormati ayahnya zaki. Selain orangnya yang sangat bertanggung jawab, orangnya juga sangat adil dan objektif dalam menyikapi semua masalah.
Beberapa hari kemudian setelah kata dokter kondisiku tak masalah dan persiapan untuk operasi sudah siap, maka besoknya aku langsung di operasi. Aku menghabiskan sehari penuh dalam keadaan tak sadarkan diri karena efek dari selesai operasi. Kata dokter yang mengoperasiku, operasi mataku berjalan sukses. Harusnya setelah aku siuman nanti aku sudah mulai bisa melihat kembali.

Beberapa hari kemudian…
Paman : Rafa? Bagaimana?
Saat itu di sampingku ada paman dan tante, juga ada zaki beserta ayah dan ibunya. Ketika perban itu dibuka, berbeda dengan sebelumnya dimana mata kiriku yang sebelumnya hanya bisa melihat kegelapan maka sekarang mata kiriku mulai bisa melihat cahaya.
Tante : Rafa?
Rafa : Rafa hanya melihat cahaya yang berwarna tante (ucapku sambil memandang ke sekelilingku hanya dengan menggunakan mata kiriku yang baru ini)
Dokter : Itu wajar rafa, mata kirimu masih harus beradaptasi dengan syaraf-syaraf yang ada di kepalamu. Ketika kamu bilang kamu sudah bisa melihat cahaya yang berwarna artinya mata kirimu sudah mulai meresponsif apa yang dilihatnya dan berinteraksi dengan syaraf-syaraf dan otakmu.
Ayah Zaki : Jadi bisa dibilang operasinya benar-benar sukses dok?
Dokter : Bisa dibilang seperti itu, namun kita harus memantau terus perkembangannya agar benar-benar bisa memastikan rafa bisa melihat lagi dengan mata kirinya yang sekarang
Zaki : Ah syukurlah…
Ibu Zaki : Kamu tahu rafa, zaki lah yang benar-benar menghawatirkan kondisimu dari saat itu sampai dengan sekarang. Ibu yakin zaki menyesali perbuatannya, dan atas nama zaki, ibu juga memohon maaf padamu
Rafa : Sudahlah tante, rafa tahu kok. Lagipula rafa juga sudah tidak ingin mengingatnya lagi. Rafa juga ingin berterima kasih pada om (ayah zaki) atas semua bantuannya

-0o0-

Masih 5 tahun sebelumnya…
Aku akhirnya benar-benar bisa melihat dengan menggunakan mata kiriku lagi setelah beberapa hari kemudian. Semenjak aku keluar dari rumah sakit, anak ini (zaki) selalu menemuiku. Aku hampir risih jika dia di dekatku, bukannya apa dia itu orangnya cerewet. Lebih cerewet dibandingkan dengan kiki.

Kiki? Bagaimana ya kabarnya sekarang? Aku ingin sekali menghubunginya, tetapi sayang aku sudah tidak mempunyai nomornya, begitu pula dengan teman-temanku ataupun guruku dulu karena handphoneku yang lama sudah hilang. Saat ini ketika aku mengingatnya aku pikir aku merindukannya.
Apa dia benar-benar bisa membaca suratku ya? (surat yang dititipkan rafa untuk kiki sebelum rafa pindah ke Surabaya). Ah, kalau dia benar-benar cermat harusnya dia bisa menemukan pesan tersembunyinya…

Kembali ke masalah tentang mata kiriku, kali ini aku akan menceritakan kepada kalian bagaimana bisa untuk pertama kalinya aku merasa ketakutan yang luar biasa bercampur penyesalan terhadap mata kiriku yang sekarang ini.
Saat itu aku sedang dalam perjalanan pulang dari sekolah dan hari ini kebetulan si zaki ingin main ke rumah pamanku.
Zaki : Hey rafa, rumah pamanmu masih jauh?
Rafa : Kamu mau ngapain sih ke rumah pamanku?
Zaki : Ya! Kan sudah kubilang ibuku lagi ke rumah saudaranya di Kediri. Papah juga biasanya pulang malam, kamu tahu sendiri jam berapa pamanmu sering pulang
Rafa : Ya sudah, kamu kan bisa nunggu mereka di rumah andreas atau yang lainnya
Zaki : Ah aku mau es krim itu, kamu mau? (ucapnya untuk mengalihkan pembicaraan)
(Kemudian kami mendatangi paman yang berjualan es krim keliling itu)
Zaki : Paman, aku beli es krim yang itu satu. Rafa kamu mau yang mana?
Rafa : Aku yang itu aja
Zaki : Nah yang itu juga satu ya paman
Ketika paman itu memberikan es krim itu padaku, paman itu kemudian memegang tanganku. Dan mengatakan sesuatu yang aku sendiri tidak mengerti, lebih tepatnya saat itu aku belum mengerti apa yang dikatakannya. Karena nantinya setelah puzzle misteri ini sudah lengkap kalian akan mengetahui semua keterkaitannya dengan misteri pada mata kiriku ini.

Paman Es : (Dia memandang kedua mataku tajam, terutama pada mata kiriku) hei nak, apakah kamu sudah bisa melihat sesuatu yang tidak biasa?
Rafa : Maksud paman apa? (ucapku sambil agak ketakutan)
Zaki : Hey apa yang paman lakukan!?
(kemudian paman itu melepaskan tanganku)
Paman Es : Ah tidak, bukan apa-apa. Maaf ya anak-anak, paman sepertinya sedang teringat anak paman.
Zaki : Memangnya anak paman kenapa?
Paman Es : Tidak kenapa-kenapa, hanya saja dia anak yang terpilih.

(kemudian paman itu pergi meninggalkan kami)
Zaki : Anak yang terpilih? Paman itu ngomong apa sih, aneh. Hey rafa, kamu tidak apa-apa?
Rafa : Iya, aku hanya merasa agak sedikit pusing setelah paman itu melihatku seperti tadi
Zaki : Iya dia memang agak keterlaluan tadi, mungkin mentalnya sedang terganggu, he he he. Sudahlah ayo kita ke rumahmu, hari ini panas sekali
Rafa : Ya

Kami kemudian kembali melanjutkan perjalanan sambil memakan es krim itu. Tak jauh kami berjalan aku merasakan pusing luar biasa pada kepalaku. Awalnya hanya pada kepalaku kemudian rasa sakit itu menuju ke mataku, mata kiriku.
Rafa : Aaaaaarrrrrrrggghhh…aaaaaarrrrgggghhhhh
Zaki : Rafa, rafa, rafa kamu kenapa?
Rafa : Aaaaarrrggghh saakkiiittttt
Aku masih merasakan rasa sakit pada kepalaku kemudian sampai ke mata kiriku, dan tak lama aku kemudian jatuh pingsan. Orang-orang yang saat itu melihatku kesakitan di tengah jalan langsung menghampiri kami dan kemudian membawaku ke tempat yang teduh.
Hanya 5 menit setelah aku tak sadarkan diri, aku kemudian tersadar. Entahlah apa sebenarnya yang terjadi padaku dalam waktu sesingkat itu. Hanya dalam waktu 5 menit, waktu yang sangat singkat bagi orang yang tiba-tiba kehilangan kesadarannya. Tapi bagiku, seandainya aku tahu sebelumnya apa yang akan terjadi setelah 5 menit itu lewat maka aku akan lebih memilih tidak sadarkan diri lagi selamanya.

Zaki : Rafaa, rafaaa kamu sudah sadar?
Rafa : Aku dimana?
Zaki : Ah syukurlah, aku hampir bingung harus bagaimana lagi. Aku belum tahu rumahmu dimana, aku juga tidak tahu nomor telepon paman dan tantemu, ayahku juga tidak mengangkat teleponku. Handphonemu juga habis baterai! (ucap zaki cemas)
Pak Amir : Kamu sudah baikan nak?
Rafa : Bapak siapa?
Zaki : Dia Pak Amir, dan orang-orang di sekitar tempat kamu pingsan tadi yang menolong kamu dan membawanya kesini
Rafa : Aku kenapa zak?
Zaki : Kamu tadi tiba-tiba kesakitan tak lama setelah kita beli es krim kemudian kamu pingsan. Kamu tidak ingat apa-apa?
Rafa : Aku hanya ingat kepalaku tiba-tiba sakit kemudian aku tidak tahu apa-apa lagi
Zaki : Ah ngomong-ngomong masalah es krim. Apa karena makan es krim kepala kamu jadi sakit? Apa ada racunnya ya? Ah aku tidak kenapa-kenapa, atau kamu punya pantangan makan es krim ya?
Rafa : Tidak, aku sering makan es krim kok. Tapi bukan karena setelah makan es krim itu kepalaku jadi sakit, kepalaku sudah mulai agak sakit setelah paman yang jualan es krim itu memandangku
Pak Amir : Paman penjual es krim?
Zaki : Ah iya benar aku ingat kamu bilang begitu. Pak amir apakah di sekitar sini sering lewat orang yang berjualan es krim keliling
Pak Amir : Iya setau saya sering lewat
Zaki : Bapak ingat muka orangnya?
Pak Amir : Tentu saja tidak, yang jualan es krim itu kan banyak dan lewat sekitar sini tidak cuma sekali dalam seharinya. Tapi memangnya orang itu berkata apa pada kalian?
Rafa : Tidak apa-apa pak
Zaki : Apanya yang…
Rafa : Ayo pulang zak, tanteku nanti mencariku
Zaki : Baiklah
Pak Amir : Rumah kalian dimana memang biar saya antar?
Rafa : Rumah paman saya tidak jauh dari tempat saya pingsan tadi. Jadi tidak perlu diantar pak, terima kasih
Pak Amir : Yang benar? Kamu juga sudah enakan?
Rafa : Iya tidak papa, saya juga sudah baikan. Sekali lagi terima kasih ya pak
Pak Amir : Ya sudah kalian hati-hati ya

Kami kemudian berpamitan pada pak amir dan pada orang-orang yang telah membantu kami tadi. Di perjalanan pulang ke rumah aku dan zaki akan kembali melewati taman tersebut, karena dari taman itu rumah pamanku sudah tidak terlalu jauh.
Zaki : Rafa kenapa tadi kamu tidak menceritakan yang sebenarnya ke pak amir tentang kata-kata paman itu?
Rafa : Sudahlah, lagipula belum tentu karena paman itu aku jadi pingsan. Tak baik berburuk sangka terhadap orang
Rafa : Zaki!!!!!
Zaki : Hah kenapa sih?!
Aku kemudian berlari mendekatinya, menarik tangannya dan membawanya lari bersamaku secepat mungkin yang aku bisa.
Zaki : Kamu kenapa sih????
Rafa : Sudah ayo kita cepat pergi dari situ dulu
Kami masih berlari sampai akhirnya kami tiba di rumah pamanku. Setibanya di rumah tanteku sudah menungguku di dapur, saat itu tante sudah menyiapkan makanan untuk makan siangku.
Tante : Kok agak telat rafa pulangnya hari ini?
Zaki : Haloo tantee
Tante : Zaki, oh jadi tadi kalian main dulu ya?
Rafa : Iya tante, tadi rafa sama zaki main dulu terus keasikan makanya telat pulang (jawabku sambil tersenyum)
Zaki : Main? (tanya zaki kepadaku)
Rafa : Zaki boleh main disini kan tante sampai nanti ayahnya jemput? Soalnya katanya ibunya lagi ke Kediri
Tante : Oh boleh banget kok, baru kali ini lho rafa bawa teman ke rumah
Zaki : Makasih tantee
Tante : Iya sama-sama, kalian kenapa ngos-ngosan gitu? Habis lari-lari ya?
Rafa : Iya tante tadi zaki ngajakin lari
Zaki : Hah? (tanya zaki padaku bingung)
Rafa : Tante, rafa ganti baju dulu ya
Tante : Iya sana, kalian belum makan kan? Nanti langsung keluar ya buat makan. Oh iya rafa, tante mau keluar dulu sebentar ke supermarket
Rafa : Iya tante

(Kemudian aku mengajak zaki masuk ke kamarku sedangkan tante pergi ke supermarket)
Zaki : Kamu kenapa sih? Pake acara bohong lagi? Terus kenapa gak bilang kalau tadi kamu sempat pingsan? Kan kamu biar dibawa dokter
Rafa : Sudahlah itu gak penting. Tadi waktu kamu mau lewat pohon besar di taman itu kamu melihat sesuatu gak di atas batang pohon besar di atas kepalamu?
Zaki : Iya, tapi gak ada apa-apa
Rafa : Beneran kamu gak liat apa-apa?
Zaki : Iya beneran, memangnya kamu liat apa?
Quote:

Zaki : Rafa mungkin kamu cuma halusinasi, efek karena kamu habis pingsan tadi mungkin
Rafa : Enggak, aku sempat menutup dan membuka mataku beberapa kali tapi aku tetap bisa melihat perempuan itu. Sampai aku menarikmu perempuan itu baru memandangku
Zaki : Jadi kamu beneran bisa melihatnya?
Rafa : Iya beneran, aku berani bersumpah. Aku jadi teringat kata-kata paman penjual es krim itu
Zaki : Maksudmu waktu dia bilang, apa kamu sudah bisa melihat sesuatu yang tidak biasa itu?
Rafa : Iya
Zaki : Ah kayanya cuma kebetulan aja. Mungkin kamu kecapean, coba nanti kamu bawa istirahat. Kamu pasti gak melihat yang aneh-aneh lagi
Rafa : Mungkin, semoga saja seperti itu…

Begitulah awal mula bagaimana aku bisa melihat sesosok makhluk gaib dengan mata kiriku ini. Saat itu aku hanya bisa menebak-nebak apakah ada hubungannya dengan apa yang dikatakan paman yang berjualan es krim itu dengan mata kiriku ini. Apakah benar aku akan bisa melihat hal-hal yang tidak biasa, entahlah aku masih belum bisa menjawabnya.
Namun sebenarnya aku sadar bahwa jawaban yang lebih tepat bukan karena aku masih belum bisa menjawabnya tapi karena aku terlalu takut memikirkan kalau itu akan menjadi kenyataan. Sampai pada akhirnya aku benar-benar bisa memastikan bahwa mata kiriku ini memang dapat melihat sesuatu yang tidak biasa.
kira" nanti si rafa bisa melihat sosok wujud kedua orang tua nya ga gan?
asik ini baca nya.. tolong di apdet terus yaakk TS..
jangan kentangin daku..
Quote:

wah rahasia, makanya nyimak terus aja ya dimari emoticon-Malu

Quote:

siaaapppp grak!!! ini cerita udah ane tulis hampir setaun lalu jadi masih banyak stok chapternya emoticon-Big Grin

Part 5.1 - I'm Sorry I Can't Protect You

Malam itu sama seperti malam-malam sebelumnya, aku masih menghabiskan waktuku bekerja di salah satu supermarket yang tidak terlalu jauh dari sekolahku tapi masih bisa dibilang cukup jauh dari rumah pamanku. Karena aku memang sengaja agar paman dan tanteku tidak mengetahui kegiatanku ini.
Sambil bekerja jika tidak ada pelangggan yang datang aku pun menyempatkan diri belajar untuk menghadapi Ujian Nasional yang akan berlangsung bulan depan. Aku sudah bilang pada pamanku waktu itu bahwa alasanku akan telat pulang ke rumah karena ingin belajar kelompok di rumah temanku dan jika nanti hasil ujian nasionalku jelek maka aku akan ketahuan sudah berbohong pada mereka.
Zaki : Hey rafa
Rafa : Kamu mau ngapain kesini
Zaki : Mau beli rokok sama bir
Rafa : Ngapain kamu bawa buku sekolah kalau cuma mau beli rokok sama bir?
Zaki : Biar orang rumah percaya aku keluar buat belajar kelompok dan biar kamu percaya aku kesini buat beli rokok sama bir
(Kemudian aku membawakannya sebungkus rokok serta sebotol minuman beralkohol dan sengaja aku pilihkan yang kadar alkoholnya diatas 20%)
Zaki : Hey hey hey, kamu beneran ngasih aku beginian?
Rafa : Iya kan aku percaya sama omonganmu
Zaki : Kan becanda fa, aku gak bisa mabuk fa. Rokok juga kalau sebatang masih gak apa-apa
Rafa : Ya sudah kalau gitu sana pergi ke supermarket yang lain kalau tidak ada yang dibeli
Zaki : Beli es krim aja deh, maksudku kan sekalian bisa sekalian belajar bareng fa
Rafa : Aku lebih nyaman belajar sendiri
Zaki : Fa, jika kita satukan kedua kepala kita maka soal ujian nanti bakal bisa lebih mudah kita ngerjainnya

Tak lama ada seorang pelanggan yang datang, seorang laki-laki setengah baya yang jalannya menyeret kaki kirinya. Kalau dilihat kakinya seperti mengalami kecacatan, entah mungkin karena pernah mengalami kecalakaan atau karena hal lain.
Rafa : Ini saja pak? Ada kartu *** nya?
Pelanggan : Iya ini saja, gak ada nak, gak papa saya bayar langsung aja semua
Zaki : Om kakinya kenapa? Bekas kecelakaan ya?
Pelanggan : Hah? Ah…iya…
Rafa : Ini pak kembaliannya, terima kasih (ucapku sambil tersenyum kepada pelanggan itu)
Pelanggan : Terima kasih
(Tak lama pelanggan itupun keluar)

Zaki : Paman itu berbohong, kamu tahu?
Rafa : Mungkin
Zaki : Ketika orang berbohong biasanya ketika dia menjawab suatu pertanyaan dia akan membutuhkan waktu untuk menjawabnya
Rafa : Benarkah? (Aku tersenyum mendengarnya)
Zaki : Iya karena itulah aku sering ketahuan kalau berbohong sama papahku
Rafa : Hoo jadi karena itu akhirnya kamu bilang ke ayahmu kalau kamu bisa melihat hal gaib dan karena kamu yakin kalau berbohong hal yang lain kamu akan ketahuan?
Zaki : Iya, tepat sekali
Rafa : Tapi ucapan ayahmu sepertinya memang benar, orang itu memang sepertinya berbohong
Zaki : Beneran kan? Memang kamu lihat sesuatu yang aneh?
Rafa : Iya
Zaki : Apa yang kamu lihat?
Rafa : Aku melihat ada anak kecil yang menempel pada kaki orang itu, sepertinya mengikuti orang itu kemanapun orang itu pergi

Zaki : Kenapa kamu gak bilang ke orang itu?
Rafa : Untuk apa? Terkadang ada hal yang sebaiknya tak perlu diungkapkan

-0o0-

Setiap pulang ke rumah meskipun malam hari aku selalu melewati taman itu karena memang taman itulah akses terdekat dari rumah pamanku dan tentu saja pada jam-jam itu pastinya taman itu sudah sangat sepi. Dan lagi-lagi setiap kali aku melewati pohon besar itu aku selalu melihat perempuan berambut sangat panjang dan berbaju putih itu selalu ada bertengger di atas pohon sambil menggoyangkan kakinya.
Quote:

Sama seperti malam ini, setiap aku pulang bekerja dan kembali ke rumah. Perempuan itu awalnya memang hanya duduk di atas pohon itu seperti biasanya, namun setelah melihat aku datang perempuan itu kemudian berpindah, berdiri di samping pohon dan kemudian tersenyum melihatku. Sejujurnya aku tak ingin melihatnya tersenyum seperti itu, tapi aku tak ingin membuatnya marah dan aku hanya bisa bilang padanya sambil mempercepat langkah kakiku.
Rafa : Lagi senang ya?

Tak lama aku berkata seperti itu perempuan itu kemudian tertawa, persis seperti yang kalian dengar suara kuntilanak yang ada di film. Terkadang aku bisa mendengar hal-hal seperti itu mungkin karena makhluk-makhluk seperti itu sudah menyadari bahwa aku bisa melihat mereka. Tapi tidak jarang juga meskipun aku bertatapan dengan mereka aku tetap tidak mendengar apa-apa.

-0o0-

Ujian Nasional semakin mendekati hari H nya, tinggal beberapa minggu lagi dari sekarang. Sekolah kami juga baru saja menyelesaikan tes try out yang memang biasanya dilakukan setiap tahunnya sebelum Ujian Nasional berlangsung.
Putri : Rafa kamu lagi sibuk?
Rafa : Ah tidak hanya sedang baca-baca saja
Putri : Benarkah? Kalau gitu bolehkah aku tanya soal-soal yang seperti ini?
Rafa : Boleh
Putri adalah salah seorang teman sekelasku, dia anak supel kupikir. Selalu gampang bergaul dengan siapa saja dan tidak pernah memilih-milih dalam berteman. Terkadang dia sering bertanya padaku soal-soal pelajaran sekolah.
Putri : Hoo iya ya jadi terasa lebih gampang kalau mengerjakannya seperti ini
(aku tersenyum kepadanya)
Putri : Rafa kamu biasanya ikut bimbingan belajar dimana? Kamu kok pinter banget sih?
Rafa : He he he, biasa aja kok
Putri : Kamu udah punya pacar rafa?
(aku lagi-lagi hanya tersenyum mendengar pertanyaannya)
Putri : Atau sudah ada orang yang kamu sukai?
(kali ini aku memandang wajahnya)

Putri : Kamu tau rafa, apakah ini kelebihanmu setiap kali kamu memandang seseorang kamu benar-benar menatap tajam ke arah mata mereka?
Rafa : (aku tersenyum) dan taukah kamu juga, kalau aku sudah menyukai orang lain?
Putri : (dia tampak terkejut) benarkah? Siapa orangnya? Apa aku kenal?
Rafa : Hhhmm enggak, kamu gak kenal. Dia teman SD ku.
Putri : Teman SD? Seriusan? Cinta pertama kamu dong?
Rafa : He he he, mungkin
Putri : Memangnya dia orangnya seperti apa?
Rafa : Dia? Hhhmm, dia itu sangat pengertian. Ketika dia tersenyum aku sangat menyukainya. Ketika dia kesal atau marah dia selalu menjulurkan lidahnya padaku dan itu lucu kupikir. Tapi dia sedikit cerewet

Putri : Waaah aku kayanya cemburu deh, he he he
Zaki : (tiba-tiba entah darimana dan bagaimana anak ini datang) hayo loh pada ngapain!? Pada pacaran ya???
Rafa : Udah an yuk put, kita ke kelas
Putri : Ya udah yuk
Zaki : Hey hey hey, kok langsung mau ke kelas sih!?

-0o0-

3 hari kemudian…
Zaki : Sudah 3 hari ya putri gak masuk sekolah
Rafa : Iya
Zaki : Gimana kalau pulang sekolah nanti kita ke rumah dia?
(aku hanya diam)
Zaki : Ayolah, kamu juga sering kan ngobrol dengan putri, masa di kondisi dia seperti ini kamu seakan-akan tak perduli
Rafa : Bukannya begitu
Zaki : Makanya ayo
Rafa : Ya udah
Bukannya seakan-akan tak perduli, tapi aku tahu persis bagaimana rasanya momen-momen ketika kita kehilangan orang tua kita apalagi dalam kondisi mendadak. Dua hari yang lalu orang tua putri mengalami kecelakaan dan menyebabkan kedua orang tuanya meninggal saat itu juga.
Setelah pulang sekolah aku dan zaki berangkat ke rumah putri. Kulihat rumahnya tampak sepi.
Zaki : Ada orang gak ya di rumahnya?
Rafa : Coba kamu telepon putri dulu
(Zaki kemudian mencoba menelepon putri)
Zaki : Gak aktif fa
Rafa : Kita langsung masuk aja deh, udah nanggung nyampe sini
Zaki : Iya
(Kemudian kami mengetuk pintu rumahnya putri)
Zaki : Putri…Putri…Assalamualaikum…Putri…
(Tak lama seorang laki-laki membuka pintu rumah itu)
Ardan : Kalian siapa ya?
Zaki : Kami teman sekolahnya putri kak, putrinya ada?
Ardan : Oh, putrinya ada di dalam ayo silahkan masuk
Zaki : Rafa, ayo masuk! Malah bengong
Rafa : Ah iya

Ardan adalah kakak laki-laki putri, sedangkan putri adalah anak bungsu di keluarganya. Kalau dilihat umur kakaknya terlampau 3-4 tahun lebih tua dibandingkan dengan kami.
Ardan : Putri, ada temen kamu, ayo keluar dulu
Putri : Iya kak
Ardan : Kakak berangkat kerja dulu ya, sudah gak papa kan kalau kakak tinggal?
Putri : Iya putri gak papa kok, kakak pergi aja
Ardan : Ya sudah, kalau ada apa-apa langsung hubungi kakak ya
Putri : Iya
Putri : Hey zaki, hey rafa
Ardan : Kakak tinggal dulu ya, put kasih minum teman kamu
Zaki : Oh iya gak papa kak
(Tak lama kemudian kakak putri pergi, dan sekarang di rumah putri hanya ada kami bertiga)
Zaki : Gimana keadaan kamu put?
Putri : Udah baikan kok
Zaki : Kami semua khawatir sama kamu, apalagi rafa selalu nyariin kamu pas kamu gak ada
Rafa : Hah?
Putri : He he he, rafa itu udah punya orang yang dia suka zak. Kamu gak tau ya?
Zaki : Masa sih? Emang iya fa? Siapa?
Putri : Ha ha ha, kamu kemana-mana selalu sama rafa tapi kok gak tau
Zaki : Tau nih, dia emang gitu put
Rafa : Putri, akhir-akhir ini kakak kamu ada kelihatan aneh gak kalau di rumah?
Putri : Aneh? Maksudnya aneh gimana?
Rafa : Ya kaya berbeda dari biasanya
Putri : Hhhhmm apa yaaa?
Putri : Memangnya kenapa rafa?
Rafa : Kakakmu kerja dimana?
Putri : Kakakku ngejalanin usaha orang tuaku, usaha tempat makan di kawasan jalan Dr. Soetomo. Memangnya kenapa dengan kakaku rafa?
Zaki : Aaahh put, ada minum gak? Aku haus. He he he
Putri : Ah iya, maaf lupa. Kalian mau minum apa?
Zaki : Apa aja put
Putri : Kamu rafa, mau minum apa?
Rafa : Ah, sama put, apa aja yang ada
Putri : Ya udah tunggu sebentar ya
(Kemudian putri pergi ke dapur meninggalkan kami di ruang tamu berdua)

Zaki : Kamu kenapa sih? Kita itu kesini buat jengukin putri bukan jengukin kakaknya
Rafa : Gak kok
Zaki : Gak apanya wong dari tadi sejak kita datang ke sini sampai kakaknya pergi, kamu ngeliatin dia terus
Zaki : Atau kamu melihat sesuatu yang aneh?
(Putri kemudian masuk ke ruang tamu)
Putri : Maaf ya lama, tadi nyuci gelas dulu
Zaki : Ah iya gak papa put
Putri : Makasih ya udah sengaja datang kesini
Zaki : Gak papa kok, sekali lagi kami turut berduka cita ya atas apa yang terjadi pada kedua orang tuamu
Putri : Iya terima kasih
Rafa : Kamu beneran tidak ingat ada yang aneh baik sesudah kejadian yang menimpa orang tuamu ataupun sebelumnya put?
Zaki : Rafa! Kamu kenapa sih?
Putri : Ah iya aku baru ingat rafa!
Zaki : Hah!? Beneran ada?
Putri : Malam itu, sebelum orang tuaku pergi keluar. Aku juga sudah ada di rumah terkecuali kakakku. Waktu itu aku liat ada seorang anak perempuan tiba-tiba nyamperin papahku, terus minta papahku biar gak pergi keluar

Zaki : Maksudnya gimana put?
Putri : Iya, cewek itu bilang bahaya kalau papahku keluar malam itu
Rafa : Bahaya kalau orang tuamu keluar malam itu karena anak perempuan itu mendengar hal-hal aneh di dekat orang tuamu?
(Sontak zaki dan putri melihat ke arahku)
Putri : Iii…ii..iiya, bagaimana kamu bisa tahu rafa?
Rafa : Apakah usia anak perempuan itu sebaya dengan kita? Dan rambutnya panjangnya sebahu?
Putri : Iya benar
Zaki : Kamu kenal dia fa?
Rafa : Kalau dugaanku benar, anak itu juga yang aku lihat waktu di malam sebelum orang tuaku meninggal. Persis seperti kejadian orang tuamu putri, orang tuaku meninggal karena kecelakaan setelah sebelumnya anak perempuan itu datang meminta ayah dan ibuku untuk tidak pergi keluar
Zaki : Tapi akhirnya ayah dan ibumu tetap keluar dan kejadian itu benar-benar terjadi?
Rafa : Iya