alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/56e3369f9e740497338b456a/sepatu-basket
Sepatu Basket
halo agan-agan. di sini ane mau bikin cerita, nggak bikin sih, tapi ini semacam kisah cinta ane yang awalnya cukup unik,hehe. jadi ane bikin ini untuk semacam menyambut anniversary ke 8 sama cowok ane bulan Mei ntar. semua ane samarkan ya untuk nama2nya. entah walaupun dah lama banget, tapi ane sering keinget awal-awal kita ketemu dulu,,hihi. monggo...

Maret, 2008.
Waktu menunjukkan pukul 06.50. Kupacu motorku lebih kencang mengingat jarak yang harus kutempuh ke sekolah sekitar 3 kilometer lagi. Bayangan harus mengisi keterangan terlambat di hadapan guru piket serta ceramah yang menghiasi pagi membuatku ngeri. Pukul 07.00 tepat aku sampai di depan gerbang sekolah yang hampir ditutup oleh satpam. Masih banyak murid yang berlalu-lalang. Ada 2 gerbang di sekolahku, satu gerbang menuju tempat parkir kendaraan, satunya gerbang untuk murid-murid yang di antar. Posisi gerbangnya pun bersebelahan. Aku memelankan laju motorku di depan gerbang, tak sengaja mataku menangkap sepatu basket putih yang dipakai oleh seorang murid laki-laki. Aku tak melihat wajahnya, hanya melihat punggungnya. Dia diantar oleh seseorang, mungkin kakaknya atau kerabatnya yang lain. Penampilannya lebih trendi daripada murid laki-laki yang aku kenal di sekolahku, memakai sepatu basket putih, semacam kardigan hitam dengan potongan celana abu-abu slim fit dan penampilan fisik yang tidak begitu tinggi, mungkin hanya lebih 6 cm dari tinggiku dan badan yang kurus. Tapi, yang paling menyita perhatianku adalah sepatu basket putihnya. Kenapa? Karena aku yakin dia bukanlah salah satu anak dari ekstra kurikuler basket di sekolahku ataupun di kotaku. Bagaimana aku bisa yakin?

Aku, Vania, kelas 1 SMA saat itu, dan belum genap setahun aku menjadi murid SMA. Aku aktif mengikuti kegiatan OSIS dan banyak mengenal kakak kelasku, selain itu aku mengikuti ekstra basket di sekolahku dan lumayan diandalkan. Sejak SMP aku mengikuti sebuah klub basket di kotaku dan menjadi pemain dalam mewakili kotaku di sebuah kejuaraan antar kota. Kotaku adalah kota yang kecil dan tidak banyak yang bermain basket di sini, jadi aku cukup yakin bahwa si anak bersepatu basket putih di sekolahku itu bukanlah pemain basket. Lalu, apa masalahnya? Aku menyukai sepatu basket itu dan itu adalah sepatu basket yang aku inginkan.

Sepanjang hari aku memikirkan anak laki-laki itu. Bagaimana bisa di sekolah yang kecil ini aku belum pernah melihatnya sekali saja sampai tadi pagi? Aku tidak tahu wajahnya, tapi aku ingat sepatunya. Sepanjang istirahat siang aku memperhatikan kakak kelasku yang lalu lalang di depanku, aku memperhatikan kakinya. Hingga akhirnya mataku tertuju di segerombolan kaki, kaki yang memakai sepatu basket putih itu. Kaki yang menuju ke arahku, lalu mataku bergerak ke atas mencari pemilik sepatu itu. Seseorang yang tidak pernah aku lihat sama sekali sebelumnya, bahkan aku tak yakin dia berasal dari kotaku. Badannya kecil, rambut hitam lebat menyamping, alis mata yang tebal hampir menyatu, tatapan yang tajam dan garis wajah yang keras. Wajahnya putih dan bahkan menurutku tampan. Ada perasaan aneh dalam diriku waktu memandangnya, tapi aku tidak begitu menghiraukan karena saat itu aku masih mempunyai pacar yang duduk di bangku kuliah. Aku hanya penasaran darimana dia mendapatkan sepatu itu.

Seminggu berlalu, ternyata aku tidak bisa berhenti memikirkan sepatu itu dan pemiliknya dan aku pun belum tahu namanya, hingga akhirnya aku menceritakan ke sahabatku, Maya dan Mia.
“May, aku penasaran deh.” Aku memulai pembicaraan saat istirahat siang.
“Penasaran kenapa?” dia menjawab sambil mengerjakan salah satu tugas dari guru.
“Aku ketemu cowok, ganteng deh, haha.”
“Siapa? Nggak usah centil deh, udah punya cowok juga.”
“Tapi ini beda, May. Nah, itu aku nggak tau namanya.” Aku menjawab setengah melamun.
“Emang ketemu di mana? Biasanya kamu cuek deh sama cowok-cowok, terus jarang juga ngatain cowok ganteng.”
Aku pun menceritakan dari awal dan sahabatku Mia mulai memperhatikan ceritaku karena dia sejak tadi tidak berhenti mendadani rambutnya. Tapi baru setengah bercerita, Mia memotong ceritaku.
“HEH Va! Jangan bilang tuh cowok ciri-cirinya putih, matanya galak, anaknya kecil?!” bentak Mia setengah mencurigai.
“Iiiiyaa,,” aku mulai takut kalau-kalau Mia suka cowok itu.
“Iiiih Va, tuh cowok kampret tau nggak?!”
“Maksudnya? Kampret gimana?” Aku pun makin takut.

UPDATE!!!
PART II
PART III
Jarang" yg ngeliat orang dari pandangan awal tuh tertuju ke sepatunya emoticon-Big Grin
Quote:"Iiiih Va, tuh cowok kampret tau nggak?!”
“Maksudnya? Kampret gimana?” Aku pun makin takut.


kampret = kelelawar
Cowo kelelawar = Batman emoticon-Bingung (S)

Weh.. jangan2 cowo itu Bruce wayne muda.. emoticon-Belo emoticon-Belo

#ngaco_modeon
emoticon-Entahlah
Quote:Original Posted By red.sin


kampret = kelelawar
Cowo kelelawar = Batman emoticon-Bingung (S)

Weh.. jangan2 cowo itu Bruce wayne muda.. emoticon-Belo emoticon-Belo

#ngaco_modeon
emoticon-Entahlah


Wah mgkin kebetulan cz ane nge fans sama bruce wayne versi Bale 😁
Quote:Original Posted By zold91
Jarang" yg ngeliat orang dari pandangan awal tuh tertuju ke sepatunya emoticon-Big Grin


Based on true story emoticon-Big Grin
Quote:Original Posted By red.sin


kampret = kelelawar
Cowo kelelawar = Batman emoticon-Bingung (S)

Weh.. jangan2 cowo itu Bruce wayne muda.. emoticon-Belo emoticon-Belo

#ngaco_modeon
emoticon-Entahlah


bagi emot ijo ijonya gan emoticon-Betty
emoticon-Entahlah
Wah, ada cerita baru nie..
Ijin bangun stadion di mari ya.
Keep update sist...
walaah...dari sepatu naik ke hati ya ceritanya

Selonjoran dlu ah smbil nunggu lanjutannya
Cerita cinderella versi cowo nih kayanya emoticon-Blue Guy Peace
Ikutan nimbrung buat baca ya gan
emoticon-Cool
Wah anak basket nih, taun 2008 ane baru masuk smp. Kenal basket juga waktu smp.

Kalo di kota ane, sepatu basket yg lagi booming taun segitu kalo gasalah AND1 deh
emoticon-Entahlahemoticon-Entahlah

Emot yg lagi booming emoticon-Ngakak (S)
Quote:Original Posted By sarasnita


Based on true story emoticon-Big Grin


Oke, ditunggu updatenya van
PART II
“Dia namanya Doni, kakak sepupunya Soni anak kelas sebelah.”
“Nah, kamu kok malah tau? Darimana?”
“Iyalah tau, pas OSPEK kemarin kan si Soni ke rumahku bikin peralatan ini itu buat OSPEK, nah dia dateng ama si Doni itu. Si Doni itu nyebelin tau, nggak pernah ya aku dicuekin cowok kayak Doni, nggak ngajak ngobrol atau gimana, disuruh masuk rumah nggak mau, ditawarin minum cuma jawab “iya” tapi nggak pernah ngeliat muka aku! Kampret kan?!” Mia menceritakan dengan semangat.
“Mi, itu karena kamunya aja yang nggak biasa dicuekin cowok deh.” Maya menimpali.
“Iya Mi, kayaknya emang anaknya cuek deh, nah kan makin penasaran, masa iya, aku mesti tanya-tanya ke Satria, kan nggak gitu kenal.”
“Ya kan kamu temen angkatan dia banyak, tanya-tanya aja sama mereka, tapi inget, punya pacar loh kamu.” Maya mengingatkan.
“Duh.”
Temanku, Mia adalah anak yang perawakannya kecil, dengan rambut keriting seperti boneka Eropa, imut. Sedangkan Maya anak yang tingginya sekitar 160an cm dan berisi, cantik. Aku? Hanya sekitar 155 cm untuk pemain basket. Badanku tidak gendut tapi juga tidak kurus, punya mata sipit yang sering dikira keturunan atau orang Jepang. Aku tidak begitu cantik, cenderung cuek dengan penampilan dan tomboi. Jangan berpikiran rambutku cepak dan gaya anak-anak sok keliatan lesbi itu. Rambutku panjang dan terlalu lurus. Tomboi di sini adalah kebanyakan teman-temanku laki-laki, yah karena di klubku cuma ada 3 cewek. Sejak SD sampai SMA bahkan kuliah pun, jika ada anak laki-laki mengganggu atau terkadang melecehkan, aku bukannya lari mengadu ke mama, tapi langsung menghajar sebisaku dan membabi buta serta melontarkan kata-kata yang kupilih sekasar mungkin. Aku bahkan membanting kakak kelasku laki-laki sewaktu SD dan selalu langganan di kantor wali murid, tapi guru-guru SD ku tidak sampai memanggil orang tuaku karena prestasi akademik dan non akademik yang kuperoleh. Bahkan seorang laki-laki anak Polisi di kotaku pernah kubuat lebam matanya karena mengolok-olok, tapi aku heran, dia tidak melapor ke orang tuanya, padahal aku sempat takut. Emosiku yang berbahaya itulah yang membuat aku tak mempunyai banyak teman cewek, aku pun lebih nyaman ngobrol dengan laki-laki karena lebih nyambung dan lepas.
Kembali ke masalah sepatu. Sebenarnya, apa sih yang membuat sepatu itu istimewa? Sepatu itu bukanlah merk seperti Nike, Reebok atau AND1. Aku sendiri mempunyai sepatu Reebok seri Allen Iverson dengan warna putih dan hitam. Sepatu Doni merk Spalding, hampir putih polos, hanya ada huruf “S” di sisinya. Bentuknya sangat simple dan tidak terlalu banyak aksen sana sini. Dan jarang ada anak yang bukan pemain basket mempunyai sepatu basket saat itu karena bentuknya yang mungkin aneh.
Semakin hari, semakin penasaran. Aku mulai mengumpulkan informasi tentang Doni, awalnya hanya penasaran sebatas sepatu, tapi aku mulai penasaran tentang siapa dia. Ternyata dia asli anak kotaku, bahkan satu SMP denganku dan ikut ekskul Pramuka. Aku mulai mengingat-ingat wajahnya tapi sepertinya aku benar-benar belum pernah melihatnya. Aku mulai menjelajah membuka Friendster nya, kulihat foto-fotonya dan ada beberapa temannya yang kukenal sejak SMP, tapi aku benar-benar tidak pernah melihatnya. Akhirnya aku beranikan diri untuk minta nomor handphone Doni ke temanku di tim basket, Yoga. Aku mendapatkan nomornya dengan mudah tapi aku terlalu takut saat itu, terlebih aku masih mempunyai pacar, Rio namanya.
Hubunganku dengan Rio berlangsung 2 tahun dengan putus nyambung sana sini. Aku menyayanginya hingga di titik jenuh dan kesabaranku habis bertepatan dengan aku bertemu sepatunya Doni. Dia seorang yang Womanizer, istilah yang aku pakai ini bukan tanpa alasan. Dia menjalin hubungan dengan banyak teman cewek yang dianggap dia adik lah, temenlah, babulah, entah apa, intinya cewek-cewek di sekeliling dia itu bukan seperti hubunganku dengan teman-teman cowokku.
bukan gan..jawabannya ada di part 2
Quote:Original Posted By amarzyng
Wah anak basket nih, taun 2008 ane baru masuk smp. Kenal basket juga waktu smp.

Kalo di kota ane, sepatu basket yg lagi booming taun segitu kalo gasalah AND1 deh
emoticon-Entahlahemoticon-Entahlah



Emot yg lagi booming emoticon-Ngakak (S)




bukan gan..jawabannya ada di part 2
Quote:Original Posted By sarasnita




bukan gan..jawabannya ada di part 2


Hoooo yg punya iverson toh.... Kalo menurut ane itu terlalu polos sis hehe

Kalo dulu ane nyari sepatu kalo bisa yg warnanya sama kayak jersey ane
emoticon-Entahlahemoticon-Entahlah

Btw sering2 apdet ya sis, blm tau nih mau comment apaan kalo baru 2 chapter muehehehe emoticon-Big Grin
tumben ada penulis cewe nyasar di kaskus, biasanya di wattpad
Quote:Original Posted By anti.polisi
tumben ada penulis cewe nyasar di kaskus, biasanya di wattpad


nah wattpad itu apaan gan? ane kira kaskus cukup aman buat curhat emoticon-Malu (S)
Quote:Original Posted By sarasnita
nah wattpad itu apaan gan? ane kira kaskus cukup aman buat curhat emoticon-Malu (S)

wattpad aplikasi khusus buat ceritaemoticon-Malu. coba download di playstoreemoticon-Malu. Disana selain bisa baca cerita orang lain juga bisa buat cerita sendiriemoticon-Recommended Seller

*malah promosi emoticon-Ngaciremoticon-Peace
PART III

Cewek-cewek itu menunjukkan sikap menganggumi Rio dan Rio menikmati hal-hal seperti itu, bahkan salah satunya ada yang manggil dia “Beb” dan dia santai-santai aja. Si Rio ini cukup good looking dan fisik yang tinggi berisi, dia anak jurusan jasmani rohani syahrini. Sepertinya Tuhan menunjukkan jalanNya emoticon-Big Grin, siang itu sepulang sekolah aku dan Maya pergi ke kontrakan Rio, aku dan Rio sedang bertengkar dan aku mempunyai maksud untuk meminta maaf langsung dan membereskan masalah kita. Sampainya di sana, aku disambut kakak sepupunya.
“Mas, Mas Rionya ada? HP nya nggak aktif sih ditelfon.”
“Yah Va, baru aja pergi cari makan sama Yanti.”

Jedeeeer. Yanti itu awalnya temanku, lalu ku kenalkan dia ke Rio, tapi yang ada malah dia deket sama Rio dan Rio menganggap dia “adik”. Dan Yanti juga yang sering sms dengan panggilan “Beb”. Saat itu juga aku memutuskan untuk pergi pulang dengan Maya, diliputi perasaan dongkol dan merasa idiot. Aku memutuskan untuk tidak menghubungi Rio dan mengganggap dia hilang selamanya. Aku sudah benar-benar tidak ingin melanjutkan hubungan ini. Sengaja aku tidak menghubungi atau bahkan mengajak bertemu dengan Rio. Sudah bosan.

Hari itu malam minggu. Rio datang ke rumahku dengan wajah yang kurang enak dilihat. Aku tahu maksudnya, dan aku berpikir inilah waktunya.
“Masuk Ri, aku buatin minum dulu ya.” Aku memulai pembicaraan.
“Udah, nggak usah repot-repot. Gimana kabarmu? Kemana saja seminggu ini sampai nggak sms atau telepon?” Tanyanya dengan gusar.
“Oh, biasa Cuma basket aja, banyak tugas di sekolah. Kamu gimana kuliahnya?”
“Biasa-biasa aja. Aku nggak mau basa-basi, maksud kamu apa nggak ngasih kabar selama seminggu? Kenapa aku telepon juga nggak dijawab? Pacaran macam apa ini, mending kita putus aja Va!”
“Oh ya udah mungkin mending gitu sih.” Kataku dengan kalem dan ada sedikit rasa bahagia.
Terlihat raut wajah kaget si Rio, mungkin dia tidak menyangka kalau aku menyetujui pemikirannya.
“Maksud kamu, kamu setuju kita putus? Kenapa? Kamu mau pacaran kita yang sudah 2 tahun ini berakhir gitu aja?”
“Iya! Aku mau putus. Aku capek, aku mau istirahat”
“Moga ini yang terbaik Va, makasih, aku sayang kamu.”
Lega perasaan ini, aku sudah tidak tahan dengan sikapnya, dan dia tetap tidak sadar atas apa yang dia lakukan. Aku yakin ini yang terbaik.

Seluruh Maret aku habiskan waktuku mengamati Doni dan hal-hal konyol pun terjadi. Seperti melihatnya waktu olahraga (karena letak kelasku depan lapangan olahraga), mencari info kegiatan dia dari teman-temanku basket yang sekelas sama dia, bahkan aku rela menjadi humas OSIS yang mana bukan tugasku. Jadi semacam memberi pengumuman lomba atau kegiatan apa pun yang akan diadakan oleh OSIS dalam waktu dekat, hanya untuk melihatnya di kelas dan sedikit cari perhatian.

Hingga suatu hari, aku, Maya dan Mia berjalan menuju kantin, seperti biasa kita cekakakan sambil jalan, dan tiba-tiba, “Bruuk”. Aku menabrak seseorang dan kedua tanganku berada di dada orang tersebut. Maya dan Mia menjerit tertahan, bukan jeritan karena aku menabrak seseorang, tapi karena kaget dengan seseorang yang aku tabrak. Doni. Dari sekian banyak murid dan sekian banyak jalan menuju kantin, aku bertabrakan dengan Doni. Kebetulan? Entahlah. Aku Cuma bilang “EH!” dan dia pergi begitu saja. Dari sekian banyak laki-laki yang aku kenal, cuma Doni yang membuat wajahku merah dan jantungku berdegup kencang seperti main basket 1 quarter.
“Va, biasa aja deh, masa sampe kaya gitu tabrakan sama cowok? Kamu kan biasa tuh tabrakan sama cowok kalo main basket, sampe jatuh juga nggak apa-apa.” Maya menyadarkanku yang setengah melamun, setengah terpesona.
“Beda May, beda. Masa iya aku jatuh cinta?” Masih sambil melamun.
“Va, kamu kan sudah pacaran 11 kali, pengalaman dong.” Mia mengingatkan betapa berpengalamannya aku menghadapi cowok. Tapi aku akan menceritakan kenapa aku mempunyai mantan-mantan tersebut di lain waktu.

Aku belum berkenalan, berbincang pun belum. Hanya mengamati dari jauh, menanyakannya dari mulut ke mulut, mencari tau kegiatan yang dia lakukan setelah sekolah. Tapi terkesan murahan sekali, mencintai seseorang padahal kita belum mengetahui apa pun tentangnya. Dari Maret hingga awal Mei aku menahan untuk meneleponnya, bingung, mau bicara apa? Hingga satu kelasku tau kalau aku mengejar Doni, anak pendiam yang dingin ini. Sedangkan Mia yang paling anti di kacangin sama cowok heran, Cuma gara-gara sepatu basket bisa bikin ane konyol? Entahlah, cinta. Aku bukan orang yang mudah terkesan, bahkan cukup mempunyai harga diri untuk mengejar cinta seseorang dan memang belum pernah aku terobsesi seperti ini. Doni adalah semua pengecualian.
Mana apdetan nya gan??
×